HEART STATION (Bagian 5B)

Posted: August 21, 2014 in Heart Station
Tags: , , ,

HS-5BHEART STATION
By: Abang Remy Linguini

Mungkin ada yang penasaran, novel Heart Station itu ceritanya apa ya? Penulis akan posting di sini, siapa tahu ada yang berminat buat beli novelnya. πŸ˜€

PART 5B – SANG PENGUNTIT

Aku sendiri heran, mengapa buih-buih soda minuman rootbeer yang melayang-layang pada gelas kaca yang berada didepanku itu menjadi sangat menarik untuk kuperhatikan. Mungkin karena aku masih belum berani menatap Iqbal lama-lama yang kini sedang duduk dihadapanku. Aku tidak sedang berselera makan, bahkan saat memesan di kasir beberapa saat yang lalu, aku lupa meminta mbak pelayan untuk menukar rootbeer dengan seven up kesukaanku.

Sebelum turun dari kereta Iqbal meminta waktu untuk berbicara dengannya. Barusan aku menelepon kantor dan bilang kalau aku akan datang agak telat pagi ini. Sudah lima menit lebih kami berdua diam.

“Elu kurusan Rem..” kata Iqbal akhirnya. Aku cuma tersenyum lemah. “Agak diem lagi…” tambahnya.

“Yah.. seperti yang ente liat. Gue lagi enggak jadi diri sendiri belakangan ini. Nge-geng.. lesehan…” aku mendengus sambil tertawa kecil “…bahkan sekarang sering pake kata ‘Gue’ bukan ‘Ane’ lagi.” Aku melanjutkan.

Iqbal terdiam sambil memandangku. Aku sedikit marah karena aku merasakan tatapan kasihan yang terpancar dari pandangan Iqbal, namun aku tidak berdaya melawannya. Kemudian aku mengalihkan perhatian.

“Gimana Kayla? Mbak Dini? sehat?” tanyaku basa-basi.

“Sehat. Alhamdulillah.. Dini sering nanyain kamu.”

Aku tersenyum senang. Namun beberapa saat kemudian kami berdua kembali terdiam. Aku yang tidak nyaman dengan suasana seperti ini akhirnya memutuskan untuk pergi.

“Kalau enggak ada yang kita omongin, gue mau langsung ke kantor.” ujarku sambil mengambil ranselku dari kursi sebelah.

“Rem.. Tolong duduk bentar dulu.” Kata Iqbal yang nadanya terdengar lebih seperti perintah daripada memohon. Aku mengurungkan niatku dan meletakkan kembali ranselku di sebelah. Kami terdiam kembali.

“Rem.. gue minta elo berangkat pagi bareng gue lagi.”

“Apa ini artinya…”

Iqbal menggeleng.

“Trus… kenapa gue harus?” tanyaku.

Iqbal menarik nafas panjang. Dia menatap mataku lama sekali hingga aku mengalihkan pandanganku.

“Tau gak? sejak kita…” aku tidak berani mengucapkan kata putus,”… gue ngerasa gue berubah. Cuma gue enggak tahu! gue berubah lebih baik atau malah lebih buruk…”

“Gue juga! elu enggak merhatiin gue sekarang enggak lagi ngerokok? atau ngunyah permen karet?” Potong Iqbal.

Benar juga! aku tidak menyadari saat di gerbong tadi Iqbal yang biasanya tidak tahan kalau tidak merokok hingga harus mengunyah permen karet, hari ini dia tidak melakukannya.

Aku benar-benar putus asa karena pembicaraan kami tidak mengarah ke manapun. Aku tidak tahu apa yang diinginkan oleh Iqbal.

“Gue udah punya suasana baru. Gue suka, dan gue enggak berpikir buat ninggalin.” Kataku akhirnya.

“Nge-geng? Lesehan di gerbong? temen-temen baru?” tanya Iqbal.

Aku mengangguk.

“Ini yang elu mau?”

“Gue sendiri gak tau apa yang gue mau sekarang ini.” sahutku Lemah.

“Lu enggak mau nyoba…. dari awal?”

Aku memberanikan diri menatap langsung ke matanya. “Dari awal? gue ngebayangin kalo gue bakalan ngerasa enggak nyaman. Gue takut… setiap kali kita berpisah jalan di stasiun… gue bakalan ngerasain berulang-ulang apa yang gue rasain waktu di kebun raya.”

Iqbal tidak bereaksi.

Memang ini yang aku khawatirkan. Kalau aku menerima ajakan Iqbal untuk berangkat bersama kembali pagi-pagi aku bakal selalu dihantui perasaan ketakutan, ketakutan yang tidak masuk akal, setiap kali aku melihat Iqbal pergi berpisah jalan denganku di Stasiun aku akan selalu bertanya-tanya, apakah aku akan bertemu lagi dengannya besok? Bagaimana kalau dia memutuskan kalau besok dia tidak mau bertemu lagi denganku dan menghilang begitu saja seperti halnya dia menghilang saat di Kebun Raya? Aku tidak mau mengalami perasaan seperti itu lagi. Kalau kita berdua tidak lagi bersama, buat apa bersama-sama? pikirku.

Namun ternyata hatiku tak sekeras dulu, Keinginanku yang lebih besar untuk bersama Iqbal sanggup membuatku menyingkirkan segala kekhawatiranku. Aku berjanji untuk memikirkannya dua-tiga hari ke depan. Kalaupun nantinya aku bersedia, aku pasti tidak akan pergi begitu saja dari teman-teman segengku, pasti aku akan berpamitan dulu pada mereka.

****

Pikiranku penuh malam itu saat mengendarai motorku dari stasiun menuju ke rumah. Seperti biasa aku harus melewati komplek perumahan yang cukup luas. Komplek satu dan dua dipisahkan oleh sungai ciliwung dengan lembahnya yang dalam, dan hanya dihubungkan oleh satu jembatan saja. Daerah sekitar jembatan itu dikelilingi oleh hutan bambu yang tumbuh lebat sehingga apabila malam tiba suasananya menjadi sangat gelap.

Motorku terguncang-guncang saat melewati jalan yang rusak di komplek pertama. Tak jauh dibelakangku ada sebuah motor bergerak dengan kecepatan yang sama. Aku melihat melalui spion. Rupanya lampu depan motor itu telah diganti dengan lampu putih menyilaukan, sehingga aku tidak bisa melihat motor maupun pengendaranya dengan jelas. God! Aku membenci semua orang yang mengganti lampu motor mereka dengan jenis lampu putih itu! tidak tahukah mereka bahwa tindakan mereka itu sangat berbahaya dan mengganggu pengendara lain? Seperti jumlah kecelakaan lalu-lintas masih kurang banyak saja! gerutuku dalam hati.

Aku mencoba menepikan motorku memberi jalan pengendara itu untuk mendahuluiku, namun saat kecepatanku melambat, dia melambat pula! hingga ketiga kalinya aku melakukan itu, kesabaranku mulai hilang. Aku menghentikan motorku di tengah jembatan. Sebenarnya hal ini sungguh beresiko. Bagaimana kalau orang itu adalah perampok? namun aku memberanikan diri untuk menghadapinya kalau dia berani turun. Benar saja! si pengendara motor itu ikut menghentikan motornya. Aku turun dan membuka Helmku namun tidak berani mendekatinya. Lalu kulihat orang itu turun dari motor kemudian membuka helmnya. Astaga! dibantu penerangan dari lampu jalan yang hanya berpijar lemah, aku melihat wajah yang beberapa hari ini selalu kulihat. Si cowok yang mirip Tommy Tjokro! Apa dia sengaja mengikutiku dengan motornya? aku mendadak khawatir.

Tanpa bicara dia menghampiriku. Tidak sadar aku mundur ke trotoar dan tubuhku tertahan oleh pagar besi jembatan. Aku menoleh kebelakang. Brrr… aku merinding melihat permukaan gelap air sungai yang jauh dibawah. Si cowok kini sudah ada didepanku, aku tidak bisa mundur lebih jauh lagi.

“Kenapa kamu malah berhenti??” tanyanya.

*****

“Kenapa kamu malah berhenti??” tanyanya.

“Kenapa ente ngikutin?” aku balik bertanya.

“Mau tau rumah kamu dimana!”

“Kenapa enggak nanya?”

“Takut kamu enggak ngasih tahu!”

“Kenapa nyangka begitu?”

“Kamu ngehindar terus!”

“Itu karena kamu nyeremin!”

“Nyeremin gimana?”

“Ente kayak psikopat!”

Kalimat terakhir itu mengakhiri aksi sahut-sahutan kami berdua di atas jembatan. Kami terdiam sementara sebuah motor sengaja melambatkan jalannya saat lewat dengan pengendaranya yang menatap heran ke arah kami berdua.

“Ente kayak temen SD ku aja dulu!” kataku sambil kembali mengenakan helm.

Entah kenapa tiba-tiba terlintas kembali memoriku sewaktu SD. Saat aku kelas tiga ada anak baru pindahan yang sangat pendiam. Dia tidak mau bergabung dengan teman-teman yang lain. Suatu hari saat aku pulang ke rumah sendirian, aku melihatnya diam-diam mengikutiku dengan malu-malu. Saat kutanya, dia menjawab ingin main ke rumah tapi tidak berani bertanya padaku.

“Kenapa?” tanyaku waktu itu.

“Habis kamu enggak pernah sendirian…” katanya.

“Sekarang aku sendirian!”

“Tapi kan kemaren-kemaren enggak!”

Situasinya persis seperti hari itu, kita berdua bersahut-sahutan di pinggir jalan. Akhirnya aku membiarkan anak itu tetap mengikuti di belakang kemudian aku mempermainkannya dan berputar-putar dahulu sebelum benar-benar ke rumahku. Sampai dirumahku pun anak itu hanya diam saja saat aku ajak ngobrol sebelum akhirnya dia pulang. Mulai keesokan harinya dia tidak pernah lagi bicara denganku dan aku pun tidak lagi memedulikanya. Anak itu hanya satu tahun saja sebelum dia pindah sekolah tepat kenaikan kelas.

Saat aku hendak menyalakan kembali motorku, kulihat cowok itu tertawa.

“Kenapa ente ketawa?” tanyaku.

“Kamu masih inget ya? Kata si cowok itu.

Ingat? Tidak juga sih. Aku tidak ingat lagi wajah anak itu. Bahkan Namanya!.

“Aku Erwin! temenmu yang pindahan waktu kelas tiga SD Rem!” Katanya lagi masih sambil tertawa.

Aku membuka kembali helmku. Aku mencoba mengingat-ingat wajahnya namun aku sama sekali lupa. Tapi Erwin? Ya! aku baru ingat kalau nama anak itu adalah Erwin.

****

Walaupun aku tetap menolak permintaan Erwin agar aku membolehkannya ke rumahku malam itu, aku setuju untuk mencari tempat mengobrol. Akhirnya kami memilih sebuah tenda pinggir jalan yang menjual Pecel lele dan ayam goreng.

Aku meneguk air jeruk hangatku hingga habis setengahnya. Erwin memerhatikanku sambil tersenyum-senyum.

“Kenapa?” tanyaku setelah meletakkan gelas.

“Enggak… kamu haus apa doyan Rem?” tanyanya.

“Bukan! gue stress diikutin mulu sama ente!”

Erwin tertawa.

“Tau gak Rem? waktu kamu bilang kalau aku kayak temen SMA kamu, aku pikir kamu masih inget sama aku… ternyata kamu cuma basa-basi ya?”

“Iya.. sori… gue bener-bener enggak inget. Apalagi ente sekarang udah keren kayak gini.”

Kami lalu saling bertukar cerita. Erwin kini bekerja sebagai programmer komputer di sebuah perusahaan asing.

“Programmer?” tanyaku tak percaya.

“Iya. Emang kenapa?”

“Enggak kenapa-napa sih, cuma tampang ente enggak cocok jadi programmer! Eh.. pernah ada yang bilang gak? kalo ente mirip…”

“Tommy Tjokro! iya! udah banyak yang bilang begitu.” Potong Erwin. Aku tertawa.

“Yah, padahal aku berharap loh temen se-gengmu yang cowok itu beneran nitip salam sama aku…” Kata Erwin sambil menerawang.

Aku terkejut dengan ucapannya dan langsung menatapnya heran. Erwin yang ditatap seperti itu akhirnya menoleh.

“Ups.. sori Rem! kamu enggak nyaman ya kalau aku bilang aku ini… ng.. (Erwin menoleh kanan-kiri memastikan tak ada yang mendengar) Gay?” Kata terakhir diucapkannya dengan pelan.

Aku menelan ludah sebelum berkata gugup. “Enggak kok..! enggak… ehm! sejak.. eh… sejak kapan?”

“Mungkin sejak kelas tiga SD kali ya? You know Rem? I was secretly in love with you that day..” Ujarnya sambil tertawa.

Aku salah tingkah dan buru-buru meneguk air jeruk yang tinggal setengahnya itu. Kurasakan wajahku memanas. Pasti dia melihat wajahku kini bersemu merah.

“Sori Rem.. kamu enggak fobia kan?” tanya Erwin. “Aku terlalu ceplas-ceplos ya?”

Aku menggeleng. Dalam hati aku bertanya-tanya, apakah gaydar itu benar-benar ada? kalau ada, mengapa cowok satu ini tidak bisa mendeteksi seorang gay yang jelas-jelas berada di sampingnya.

Aku meneguk lagi air jeruk itu padahal aku sendiri sudah tidak terlalu haus.

“Ng.. ente lagi deket sama seseorang sekarang?” tanyaku.

“Baru putus 2 bulan lalu.” Giliran dia meneguk es teh manisnya sambil melihat entah apa didepannya.

“Makanya, sebenernya aku tertarik sama temen satu geng-mu itu. Tapi kayaknya aku enggak ada harapan ya? kayaknya dia cuma belagak jadi gay.”

Mendengar kata-katanya, mau tidak mau harga diriku seolah dikelitiki. Benar tidak sih? kalau ini cuma soal selera? kenapa dia selama ini membuntuti aku kalau ternyata dia tidak tertarik? Akhirnya aku tergoda untuk mengajukan sebuah pertanyaan yang akan kusesali kemudian.

“Emang menurut ente temenku itu keren banget ya?” pancingku.

Erwin hanya diam menatapku.

“Kok diem?”

Erwin tersenyum lalu berkata, “Sebenernya kamu juga enggak kalah keren Rem… cuma buat apa? sedangkan aku lebih milih buat tertarik ke seseorang yang kupikir tadinya lebih pasti aja… kayak temenmu itu.. Tapi ternyata…”

“Gue juga sama kayak ente!!” sahutku. Bodoh! Bodoh! Bego! aku mengutuk diriku sendiri dalam hati. Buat apa aku berkata seperti itu? Ternyata harga diri yang telah diremehkan membuatku melakukan hal-hal yang tidak kupikirkan masak-masak.

Anehnya Erwin tidak menunjukkan reaksi yang berlebihan seperti yang aku duga. Dia kini malah tertawa.”Akhirnya kamu ngaku juga Rem… ternyata kamu enggak berubah ya dari dulu.. selalu pengen bersaing sama orang lain…”

“Ma.. maksud ente apaan?”

“Aku harus yakin dulu dong sebelum lanjut… makanya aku pancing kamu dengan bilang suka sama temen kamu itu…” katanya lagi.

Kemudian dengan mimik lucu Erwin menaruh kedua lengannya di kedua sisi kepalanya dengan jari telunjuk yang teracung hingga menyerupai antena. Lalu dia berkata geli, “….gaydar!!”

Aku duduk dengan lemas menyesali emosiku yang telah terpancing oleh permainan yang dilakukan Erwin. Apakah ini karma? karena aku juga dulu pernah melakukannya pada Iqbal dengan pura-pura tidak tertarik untuk mengetahui reaksinya. Kini giliran aku yang merasa telah terjebak!

Β 

Sabtu pagi jam 9.20

Aku memerhatikan ujung-ujung sepatu kets Puma ku sendiri saat sedang duduk sambil berpikir di sebuah bangku panjang yang ada di stasiun kereta Pondok Cina. Seorang pria tua kumal duduk agak jauh dariku dibangku yang sama. Sesekali dia meremas gelas-gelas plastik yang sepertinya telah dia kumpulkan dalam sebuah karung butut yang berlubang disana-sini hingga menimbulkan suara ‘Plok’ berkali-kali. Aku memandang pria tua itu dan dia balik menatapku galak. Aku tidak yakin kalau pria itu orang gila, akan tetapi akhirnya aku memilih untuk menyingkir dan duduk di bangku yang ditempati beberapa orang mahasiswa.

Pagi ini aku ada janji dengan Iqbal untuk jalan-jalan di daerah Depok sekaligus memberitahu dia bagaimana keputusanku tentang ajakannya untuk berangkat bersama kembali pagi-pagi. Aku belum pernah turun di stasiun Pondok Cina ini sebelumnya. Aku tahu kalau di situ ada sebuah Mall karena aku melihat gedung tempat parkir yang berbatasan langsung dengan dinding stasiun, tetapi aku tidak tahu Mall apa itu. Kemudian Iqbal meneleponku.

“Halo?”

“Elu dimana?”

“Udah nyampe…” kataku

“Kan dah gue bilang! tungguin gue di stasiun. Kita berangkat sama-sama.”

“Tadi pas gue nyampe ada kereta datang, karena kosong ya udah gue naik aja.” kataku beralasan. Padahal aku masih belum nyaman kalau harus berangkat bersama Iqbal.

“Ya udah.. tungguin! gue baru sampe Depok lama.”

“Iya.. gue enggak kemana-mana!” Aku menutup pembicaraan.

Sepuluh menit kemudian dari pengeras suara terdengar pengumuman bahwa kereta ekonomi dari arah selatan akan masuk. Pasti ini kereta yang ditumpangi oleh Iqbal! Kenapa sih mesti naik kereta kalau hanya ke Pondok Cina? kenapa enggak naik motor aja sih? Aku terus menerus bertanya dalam hati namun tidak punya keberanian untuk mencoba menanyakannya pada Iqbal nanti.

Penumpang yang turun di stasiun ini tidak terlampau banyak. Kebanyakan dari mereka adalah Mahasiswa yang kampusnya tidak jauh dari situ seperti UI atau Universitas Pancasila. Oleh karena itu aku dengan mudah bisa menangkap sosok Iqbal yang turun dari kereta. Dia memakai kemeja lengan pendek kotak-kotak oranye dengan celana khaki serasi dengan sepatu kets coklat yang dia pakai. Bayangkan! di usianya yang awal tiga puluhan itu dia masih menarik perhatian beberapa mahasiswi yang ikut turun bersamanya untuk memperhatikan atau sekadar curi-curi pandang ke arahnya. Tetapi sepertinya Iqbal tidak menyadarinya, tak lama setelah turun dia langsung merogoh saku kemejanya dan mengeluarkan sebatang rokok yang kemudian dinyalakannya. Dia kelihatan mencari-cari aku, ketika Iqbal melihatku dia langsung berjalan menuju tempatku duduk.

Aku tadinya menyangka Iqbal akan ikut duduk didekatku begitu sampai, namun dia malah lewat begitu saja didepanku. Begitu sadar aku tidak mengikutinya, dia menoleh dan berkata, “Ngapain masih duduk di situ? cepetan!”

Aku bersungut-sungut kesal namun akhirnya aku bangkit dan mengikuti dia juga.

Aku benar-benar tidak tahu tempat ini saat aku mengikuti Iqbal menyusuri jalan setapak sempit di belakang stasiun menuju sebuah bangunan yang tampaknya adalah bagian belakang sebuah Mall.

“Lewat sini! kalo lewat dalam masih tutup.” ajak Iqbal ketika dia melihatku berusaha membuka sebuah pintu kaca.

Kemudian aku mengikuti Iqbal mengambil jalan di sisi gedung. Setelah sampai di jalan raya, baru aku sadari bahwa gedung disampingku ini adalah DETOS alias Depok Town Square. Diseberangnya berdiri Margo City yang biasa kulihat di acara musik live di sebuah stasiun televisi.

“Oh…!” kataku baru tersadar sambil menunjuk-nunjuk paham.

“Jangan norak deh!” kata Iqbal.

“Ya gue kan belum pernah ke sini!”

Iqbal geleng-geleng kepala melihat tingkahku dan kemudian dia berlalu hendak menyebrang jalan. Aku berlari kecil mengikutinya.

****

“Seminggu?” tanya Iqbal. Aku mengangguk sambil tanganku sibuk memotong-motong chicken steak cordon bleu dengan pisau dan garpu. Kita berdua adalah pelanggan pertama di sebuah restoran yang walaupun namanya restoran mereka meminta kita membayar terlebih dahulu seperti layaknya kedai ayam goreng cepat saji.

“Lama amat?” Protes Iqbal.

“Kan gue harus pamitan dulu sama temen se-geng gue yang baru…” kataku.

“Lu mau ngaku dulu?”

“Enggak lah! gue bilang aja udah balikan sama mantan…. eh… sori.. kalo emang kita udah balikan…” ralatku buru-buru.

“Habis itu?”

“Ya, mulai senin depannya gue bareng lagi sama ente…” lanjutku.

Iqbal tampak berpikir keras. Kemudian dia berkata, “oke seminggu… tapi ada syaratnya!”

Aku berhenti mengunyah karena heran. “Syarat? syarat apaan?” tanyaku bingung.

Tapi Iqbal tidak menjawab dia malahan memakan menu pesanannya dengan lahap sambil tersenyum-senyum penuh misteri.

****

“Ini??” kataku tak percaya. Iqbal mengangguk. Wajahnya diliputi senyum kemenangan.

Setelah kami selesai makan, kita berdua berada di lapangan pelataran mall tempat wahana flying fox berada. Iqbal benar-benar keterlaluan! padahal dia tahu persis aku takut ketinggian. Apalagi harus meluncur di seutas tali dari atas tempat itu.

“Kalau elu berani naik ini, syarat lu yang seminggu gue terima!”

“Ente gila ya?” protesku.

“Terserah…”

Aku berpikir agak lama. Yah.. mungkin tidak terlalu menakutkan, pikirku.

“Tapi ente ikut juga ya?”

“Iya… gue duluan malah!” kata Iqbal sambil berjalan menuju seorang cowok yang bertugas menerima uang.

“Loh kok empat puluh ribu? bukannya tiketnya cuma sepuluh ribu?” tanyaku heran melihat Iqbal menerima kembalian selembar sepuluh ribuan.

“Iya… gue sekali. Elu naik tiga kali..” ujar Iqbal santai.

“Tiga kali??” sahutku tak percaya. Iqbal tersenyum jahat.

Setelah aku dan Iqbal dipasangkan helm dan pengaman tubuh lainnya, kami berdua naik ke atas menara. Kakiku gemetar, perutku yang baru diisi seakan ingin dimuntahkan kembali karena khawatir. Iqbal kemudian meluncur lebih dulu. Neraka sebanyak tiga kali itu akhirnya bisa kulalui, pada luncuran pertama aku sempat membentak si cowok flying fox karena berusaha mendorong-dorong aku yang belum siap, namun pada luncuran ke tiga aku menjadi terbiasa.

****

Akhirnya kami berdua kembali pulang setelah berkeliling mall. Aku benar-benar mengalami hari yang menyenangkan dengan Iqbal. Sampai di penitipan motor Iqbal mengambil motornya dan hendak berpamitan. Tapi aku merasa tidak bisa membiarkan Iqbal pergi begitu saja. Tidak setelah pertemuan hari ini! Kemudian aku melompat dan duduk diboncengan motor Iqbal. Iqbal keheranan.

“Loh.. motor lu gimana?” tanyanya.

“Gampang.. besok gue naek angkot kemari..” kataku. “pokoknya anterin gue pulang…”

Iqbal tidak menjawab, dia menyalakan motornya dan dia membiarakan aku memeluk pinggangnya erat-erat selama perjalanan ke rumahku.

*****

Mungkin ini yang disebut seks setengah hati atau bahkan seks yang tidak ‘main hati’ seperti judul sebuah lagu. Setelah aku dan Iqbal tiba dirumahku, aku memang mengajaknya bercinta dan Iqbal tidak menolak. Sesuatu yang kuharapkan akan mengembalikan hubungan kami seperti dulu ternyata tidak tercapai. Aku merasa permainan Iqbal agak kasar. Sepertinya dia masih meletupkan sedikit demi sedikit kemarahannya padaku. Iqbal hanya memberiku kecupan singkat di pipi saat dia berpamitan pulang. Tak ada kata hanya deru suara motornya yang terdengar menjauh.

Aku turun dari angkutan umum saat tiba di stasiun minggu pagi ini. Setelah menerima uang kembalian dari supir, aku berjalan menuju tempat penitipan motor. Tempat penitipan itu tidak dipenuhi barisan motor seperti hari kerja. Aku menjawab dengan penjelasan yang singkat saat si Bapak pemilik penitipan bertanya padaku mengapa aku baru mengambil motornya hari ini. Saat aku bersiap menyalakan motorku, aku menangkap sosok seseorang yang beberapa hari terakhir selalu membayangi tindak-tanduk aku, Erwin berdiri di samping motornya di salah satu sudut sambil nyengir ketika aku melihatnya. Aku meletakkan kembali helm dan menghampirinya.

“Ngapain ente hari minggu ke mari?” tanyaku.

“Jalan-jalan…” katanya santai

“Jauh amat? kan di Bogor banyak tempat buat jalan-jalan!” sindirku.

Erwin menarik nafas sebelum menjelaskan.

“Oke… aku ngaku. Sebenernya hari ini aku niat nyari rumah kamu. makanya aku mulai dari stasiun. Eh.. enggak nyangka! aku ngeliat motor kamu masih ada. Pikirku sih, pasti cepat atau lambat kamu bakalan ngambil ke sini.”

Aku terdiam beberapa saat lalu berkata “Win.. ada yang harus gue omongin. Kita cari tempat buat sarapan aja.”

Di sebuah tenda tempat menjual bubur ayam aku kemudian menceritakan secara garis besar kisahku pada Erwin. Bagaimana kini aku sedang berusaha mengurai simpul-simpul benang kusut hubungan antara aku dan Iqbal.

“Sori Win, gue gak bisa ngasih sesuatu lebih dari sekadar teman.” Kataku tegas. Aku sendiri heran dengan ketegasanku itu.

Erwin diam tangannya sibuk mengaduk teh manis panasnya dengan sendok yang sepertinya sangat tidak perlu untuk dia lakukan.

“It’s OK Rem… toh aku bisa selalu kembali ke mantan…. biarpun dia sering selingkuh kesana kemari…”

“Win… ente jangan gitu…” kataku.

“Really! it’s Okay! cuma aku enggak bisa janji kita akan terus jadi teman juga!”

“Kalo ente emang enggak mau ketemu gue lagi, itu resiko yang harus gue tanggung….” ujarku.

Erwin menatapku sambil terdiam. Kemudian dia merogoh kantung kemejanya dan mengeluarkan selembar uang duapuluh ribuan dan meletakkannya di atas meja sebelum dia beranjak pergi tanpa mengatakan apa-apa. Aku hanya bisa mengawasi sosoknya yang menghilang dengan motornya lalu aku meneruskan kembali menyantap bubur ayamku.

****

Senin pagi itu walau aku belum naik kereta yang sama dengan Iqbal bukan berarti aku tidak bisa datang lebih pagi untuk mengobrol dengannya. Saat itu kami sedang duduk di bangku panjang stasiun.

“Gue seneng ada temen ngobrol lagi.” Katanya sambil mengepulkan asap rokoknya.

“Stasiun itu tempat umum tahu! orang sebenernya enggak boleh ngerokok disini!” protesku sambil mengibaskan lenganku menghalau asap rokoknya.

Iqbal tertawa kecil, “Lu perhatiin ga? stasiun kereta sekarang itu disponsorin sama rokok! lu liat tuh papan nama stasiunnya.” katanya sambil menunjuk.

Memang benar apa yang dikatakan Iqbal, kini mulai dari stasiun Bogor hingga manggarai telah disponsori oleh sebuah produk rokok. Sepertinya hal ini menjadi semacam pembenaran bagi para perokok hingga mereka merasa sah-sah saja mengepulkan asap di area stasiun yang sebenarnya merupakan tempat umum.

Tak lama kemudian dari pengeras suara terdengar pengumuman, “Informasi KRL Pakuan sudah melintas stasiun Cilebut.. para penumpang yang akan mempergunakan KRL Pakuan dipersilakan menunggu di peron dua atau peron tengah.”

“Gue duluan ya?” kata Iqbal. Aku mengangguk. Kemudian Iqbal melempar batang rokok yang sudah habis setengahnya itu dan merogoh permen karet dari saku celananya.

“Yakin enggak mau bareng…?” tanya Iqbal sambil membuka kertas pembungkus permen karet. Aku menggeleng. Kemudian sambil tersenyum Iqbal berdiri dari duduknya dan berjalan menuju peron tengah.

Aku tak lepas-lepas mengawasi Iqbal sejak dia masih berdiri menunggu, kemudian saat dia berdesakan masuk ketika kereta tiba hingga akhirnya kereta itu menghilang di kejauhan. Lalu aku membuka koranku dan mulai membacanya. Sepuluh menit kemudian aku melihat di kejauhan Indra dan Yeyen sudah datang dan Yeyen melambaikan tangannya padaku. Aku mulai bertanya dalam hati. Bagaimana caranya aku memberitahukan pada mereka ya?

Ternyata hari senin itu aku belum memiliki keberanian memberitahu teman-teman baruku kalau aku akan kembali naik kereta dengan jadwal sebelumnya. Aku juga tidak melihat Erwin di gerbong yang sama.

“Kamu sedang apa?” tanya Pak Ricky membuyarkan pikiranku. Dia adalah komisaris beberapa anak perusahaan yang kebetulan sedang ada di Jakarta untuk membahas bisnis dengan bossku. Pria Ambon ini memang masih gagah di usianya yang nyaris setengah abad. Dengan cirikhas orang Indonesia timur yaitu berkulit gelap bertubuh tinggi tegap dan memiliki senyuman termanis serta lengan yang berbulu menjadikannya sosok berwibawa dan ehm.. membuatku sedikit horny juga!

“Sedang ngetik pak..” jawabku.

“Temani beta sarapan di Hotel ya?” pintanya.

“Wah.. makasih pak, tapi saya sudah sarapan…” aku menolak. Kemudian Pak Ricky berlalu dari mejaku kelihatannya agak kecewa.

Aku menyesali tindakan bodoh menolak ajakannya itu. Padahal aku sadar dia menaruh minat padaku soal pekerjaan. Dengan aku menolak tawarannya berarti aku telah menyia-nyiakan kesempatan besar untuk meningkatkan karirku di perusahaan. Lalu aku memberanikan diri untuk berinisiatif menawarkan diri menemaninya makan siang.

Hotel tempat Pak Ricky menginap memang tidak jauh dari Kantor, bahkan beberapa pimpinan dari daerah apabila ada rapat rutin di kantor pusat ini sudah pasti menginap di Hotel tersebut.

Aku menyuap sesendok nasi saat Pak Ricky bertanya padaku. “Masih betah dibelakang meja?”

Aku mengangguk.

“Pak Har belum ada suruh kamu keluar kota kah?” tanya Pak Ricky lagi dengan logat ambonnya yang Khas. Pak Har yang dibicarakannya adalah atasanku.

Aku menggeleng lalu balik bertanya, “Gimana pak, rencana pembukaan kantor cabang baru?”

“Secepatnya… Beta juga harus ikuti deadline sesuai rencana kerja toh?”

Aku mengangguk-angguk paham. Kemudian Pak Ricky terlihat seperti berpikir sesuatu.

“Kalau kamu Beta tugasi ke luar Jakarta mau?” tanyanya tiba-tiba.

Aku terkejut dengan tawarannya hingga aku buru-buru menelan makanan yang masih kukunyah.

“Ke-kemana Pak?” tanyaku.

“Kamu tahu kan, kita ada rencana buka cabang di Biak dan Ternate. Beta mau kamu ke sana dan kasih laporan progress ke Beta. Gimana?”

“Berapa lama Pak?”

“Sekitar dua bulan. Kamu ke Biak dua minggu lalu ke Jayapura koordinasi dengan pimpinan pusat. Lalu kamu ke Ternate dua minggu juga lalu ke Ambon koordinasi dengan pimpinan pusat di sana juga. Kalau laporan kamu bagus, mungkin beta akan kasih rekomen buat Pak Har soal jabatan kamu.” Ujar Pak Ricky.

Aku merasa senang sekaligus gemetar dengan tawaran kesempatan ini. Ini saatnya aku bisa menunjukkan kemampuanku di perusahaan.

“Saya siap Pak!” ujarku mantap.

“Kalau begitu, nanti beta koordinasi dengan Pak Har dulu ya? trus beta minta kamu pelajari data perusahaan nanti malam. Kamu bisa nginap di hotel kah?”

Aku mengangguk. Aku memang terbiasa menyimpan satu stel pakaian kerja, kalau-kalau terpaksa menginap di Hotel jika ada lembur. Tapi kemudian aku teringat Iqbal….

****

Aku melempar ranselku ke atas ranjang Hotel. Pak Ricky memintaku ke kamarnya setelah jam sembilan malam. Dia hendak menjelaskan padaku profil perusahaan miliknya sebagai gambaran untuk aku mengawasi perkembangan di sana. Aku melihat arlojiku, sudah hampir setengah enam sore. Kemudian aku meraih ponselku dan mencari-cari nomor Iqbal. Aku meneleponnya dan memintanya datang ke Hotel sebelum dia pulang. Suaraku yang bergetar akibat kesedihan yang melanda tidak dapat kusembunyikan di telepon hingga Iqbal bertanya. Tetapi aku tidak memberikan penjelasan padanya.

Ketukan pelan terdengar dipintu kamar. Melalui lubang intip aku melihat Iqbal berdiri di luar. Aku membuka pintu kamar dan mengajaknya masuk.

“Mata lu kenapa merah? lagian kok tiba-tiba nginep di hotel? banyak kerjaan lagi ya?” tanya Iqbal. Aku tidak menjawab dan menundukkan kepalaku.

“Eh..? elu abis nangis? kenapa? cengeng banget!” Iqbal bertanya dengan nada bergurau, namun aku masih tidak menjawabnya.

Kemudian aku merangkulnya dan mencium bibirnya sangat lama seolah-olah aku tidak akan pernah bisa lagi menikmati kelembutan bibirnya itu. Iqbal walaupun masih terheran-heran membalas ciumanku dan bahkan tanpa bertanya apapun lagi, dia membiarkan aku melepaskan sederetan kancing kemejanya.

*****

Tentu saja aku sudah menduga reaksi Iqbal yang tidak menyetujui rencanaku ke luar kota selama dua bulan. Namun dia mengerti bahwa ini semua adalah pilihanku yang terbaik. Dia juga mendukung walau mungkin terasa berat baginya kalau keputusanku ini adalah demi karirku di perusahaan. Mungkin juga ini baik untuk hubungan kita berdua, karena kata orang, kamu gak akan sadar apa yang kamu punya sebelum kamu kehilangan, mungkin rasa rindu yang menumpuk akan membuatku semakin mencintai Iqbal… Cinta? benarkah aku sudah benar-benar jatuh cinta padanya? aku tak pernah sekalipun mengucapkan kata itu pada Iqbal walau aku mengakui hubungan kami sangat dalam, namun aku tak pernah mau menganggapnya sebagai Cinta.

“Cuma dua bulan kan?” tanyanya lagi meyakinkan.

“Iya cuma dua bulan!” jawabku yang sedang kembali berpakaian bersiap-siap untuk ke kamar Pak Ricky.

“Jangan selingkuh ya?” Gurau Iqbal.

“Ente juga ya!” sahutku tak mau kalah.

“YM an?”

Aku menggeleng tidak yakin.

“Kenapa?”

“Gue denger kabar, sambungan Internet disana kurang bagus… laporan keuangan aja ngirim via email ke pusat suka lama…”

“Tapi kalau sempet bilang ya?” pinta Iqbal lagi. Aku mengangguk.

Aku berjanji pada Iqbal hari Rabu adalah hari terakhir aku naik bersama teman se-gengku. Aku putuskan untuk tidak menyia-nyiakan lebih banyak lagi waktu karena aku ingin selalu bersama Iqbal dihari-hari terakhir sebelum keberangkatanku.

Aku merasa seperti seekor ular yang sudah menebar bisa kemana-mana. Kini aku seolah harus memberikan penawar racun pada orang-orang disekitarku. Inilah yang sedang kulakukan sekarang.

“Udah balikan lagi?” tanya Yeyen.

“Iya.” jawabku.

“Jadi elo enggak bakalan bareng kita lagi?”

“Iya.” jawabku makin merasa tak enak.

Indra, Koh Liong dan Ci Reany hanya diam, namun mereka memperhatikanku dengan serius.

“Kenapa sih? gue juga bakalan kangen se-geng sama ente semua! tapi hubungan gue sama… pacar (aku tidak mengakui pada mereka kalau aku gay), buat gue sekarang lebih penting…” Jelasku.

“Yah Rem… gue bakalan kangen sama elo deh! elo yang hobby bercanda dan hobby nyela…!” kata Indra.

“Gue juga Dra! gue malahan… ngerasa udah mulai naksir ente…” kataku bercanda. Indra melotot yang lain tertawa.

“Tapi kita udah biasa berlima!!” protes Yeyen.

Aku tersenyum lalu berkata, “Makanya… gue udah nyiapin pengganti…”

Indra dan Yeyen berpandangan tak mengerti. Aku kemudian menoleh ke arah sudut tempat Erwin sedang duduk dan memanggilnya dengan lambaian tangan.

“Rem! lu ngapain manggil dia?” tanya Indra Khawatir. Aku tidak menjawab. Erwin yang semula ragu akhirnya berdiri dari duduknya dan dengan susah payah melewati penumpang lain menuju ke arah kami.

“Semua… kenalin ini Erwin temen gue waktu di SD. Mulai sekarang dia ikut geng kalian ya? tolong terima dengan baik..” kataku sambil masih terus tersenyum. Kulihat the geng masih ragu-ragu dan membuat Erwin makin salah tingkah. Namun Koh Liong akhirnya memecah kecanggungan, “Win… welcome to the club ya?” katanya. Erwin akhirnya bisa tersenyum.

“Jadi… sebenernya kamu suka sama dia apa enggak sih?” tanya Yeyen pada Erwin sambil menunjuk ke arah Indra. Indra yang ditunjuk melotot kesal pada Yeyen. Kami semua tertawa. Ah… aku yakin mereka akan baik-baik saja.

****

Kamis Pagi. Aku duduk di bangku panjang disamping Iqbal yang sedang merokok. Hari ini kami tidak mengobrol soal apapun. Aku menoleh pada Iqbal sambil tersenyum Iqbal pun membalas senyumanku. Kemudian kembali terdengar pengumuman agar penumpang Kereta Pakuan menunggu di peron tengah.

“Yuk.” ajak Iqbal. kemudian Aku mengikutinya berjalan menuju peron tengah menunggu kereta yang akan kami naiki bersama.

Β 

Β 

Β 

Epilog:

Malam itu aku sedang memilah-milah pakaian yang akan kubawa. Baru saja aku pulang dari rumah Pak RT untuk memberitahukan bahwa aku berencana ke luar kota selama dua bulan.

“Gimana sama motor kamu?” tanya Pak RT khawatir.

“Saya titip di rumah orang tua pak! Pak RT gak usah khawatir…”

“Rumah?”

“Nanti Babe saya bakalan sering-sering kemari pak.”

“Oh… ya udah… hati-hati di jalan ya? jangan lupa oleh-oleh!”

“Beres Pak!”

Aku menjejalkan sebuah kaus ke dalam travel bag. Lalu aku teringat sesuatu dan meraih ponselku mencari-cari sebuah nomor. Aku menunggu nada panggil diangkat dengan sedikit cemas.

“Halo? hei… apa kabar? udah lama ya?”

…………..

“Kabar gue baik. Iya nih Gue ada rencana ke Biak, terus Jayapura, Ternate sama Ambon…”

…………..

“Iya sih… deg-degan juga…”

…………..

“Ooo… kalau mau ke Ambon dari Ternate gampang toh?”

…………..

“Wah… enak dong! boleh dong maen… anterin gue jalan-jalan ya?”

…………..

“Beres bro! tunggu aja traktirannya… thanks ya.. sampe ketemu di sana ya?”

Aku menutup teleponku sambil tersenyum. Ah… siapa bilang perjalanan ke Ambon akan membosankan kalau ada PAUL menungguku di sana?

APAKAH REMY AKAN BERMAIN API KEMBALI DENGAN PAUL?
SUKA CERITA INI DAN TAK SABAR MENUNGGU LANJUTANNYA?
HEART STATION DALAM BENTUK NOVEL??
Klik http://nulisbuku.com/books/view_book/1107/heart-station
ATAU INVITE PIN BB PENULIS 7E730313 UNTUK DIBANTU PESAN

Advertisements
Comments
  1. Galih says:

    Sempat kaget , ,siapa lg coba . .eh ternyata Programer sekantor toh . . .hehehehehehe . .lanjut bro

  2. Didit says:

    Bang remy abang sebenarnya kerjanya dimana sih?

  3. dari teman sd kok jd teman sma?

    • Coba simak lagi kalimatnya kak.. “Waktu kau bilang gue mirip temen SMA” itu artinya Remy cuma asal jeplak bilang mirip temennya padahal enggak. Si erwin ge er dikira masih inget.

  4. andra wijaya says:

    kykny klau di bikin film bgus ni bang….. hahahahah

    salut sma susunan kta ktanya bang. kyk bhsa sehri hri cmn gk brlebihan…

  5. Ray says:

    Abaaaaang, sumpah ceritanya keren abis πŸ™‚
    Hadeeeeuuuuh, si abang mah meni suka bermain api euy :p
    Tapi keknya pesonanya emang luar binasa nih, ampe banyak serangga yang tergoda dan kesetrum #eh πŸ˜€

    Btw penasaran banget nih sama sosok Iqbal, dilf gitu ya? #oops
    Semangat terus bang Remy, ditungggu karya-karya selanjutnya! πŸ™‚

  6. Ridi says:

    Cerita.a bgus , pengen beli nvel.a, klo maw beli lgsung , dmana tmpt.a ?
    Klo pesen mah tkut tmen2 tau

  7. Sparkyu says:

    Suka bgt…Jeongmal joha…critny bnar” daebak!

    Ko’ aq jd ngebayangin sosok Remy tu ky’ idola aq ya?

  8. Aurell says:

    Aqu suka baca2 crita disini, mskipun ini blog khusus cowok tpi suka aja. Jln crta nya menarik untuk di baca, oh ya bang, A husband: untold stories nya dong yg ke 7, ga sabar pngen tau klanjutan kisah dion n angga ^_^

  9. leon says:

    Cerita nya buat emosi….
    Buat jd teringat seseorg yang jauh di papua sana….
    Alasan nya cari kerja nyatanya ninggalin org yg sayang ama dia di medan…utk org lain….
    Mirip bgt ama dia…
    Apa hidup di dunia kek gini gak da setianya y???
    (Λ˜ΜΆΜ€ β–Ώ ˘̢́”)
    Tp ceritanya bagus sih…gak bosan2 gw update situs ini….great …
    Ntar kl yg love my dad and merantau ada end nya novelnya gw beli deh mas…penasaran….

  10. Niall says:

    Makasih yaa bang udah bikin aku yang jones dan kesepian ini jadi tambah ngerasa jones and kesepian sehabis baca ceritanya abang… T.T

    Pacar oh pacar di manakah engaku berada…
    *Teriak di atas genteng

  11. Rizky Finusa says:

    Moga aja si Remy bkalan slingkuh ma Paul… πŸ˜€

  12. toto says:

    terima kasih udah bikin cerita yg sangat sangat bagus..

    gak menye menye, bikin ketagihan buat ngulang ngebacanya..

    saya sudah baca 2X, mungkin bisa nambah.

    btw, gak semua isi novel mau di taroh disini kan? jadi gak percuma ntar kalau beli novelnya.

  13. altidi says:

    udah pesen via nulisbuku heart station ini, abis cerita nya buat penasaran banget.. keren deh buat koko remy.. πŸ˜€ tapi kok buku nya belum dateng-dateng ya? udah gak sabar nih pengen baca lanjutan nya..

  14. sandi says:

    Gimana ya.. Cerita2 nya bagus2 banget… jadi kebawa suasana… apalagi yg menatap bintang dilangit luwuk… sempet mewek ane bang… haaha…

    baaang klo beli bukunya gimana? πŸ˜€

  15. Rice says:

    Nyata !! Satu kata yang pantas diucapkan.. Seolah terhanyut dalam ceritanya, mengalami pengalaman baknya Remy dalam cerita.. Penulisnya cerdas, bahasa ringan tapi buat penasaran.. Bisa menghadirkan sosok Iqbal yang luar biasa tercetak nyata dalam ingatan, sosok pria yang sangat diidamkan.. Menyajikan intrik yang berbeda, saat setiap pemeran baru dihadirkan.. Sukses buat sang penulis, Remy.. 😊

  16. yashin says:

    jujur semakin lama aku gak suka sama karakter iqbal..ntahlah jenis cowok pengekang sementara dia ingin hidup sebebas bebasnya dan melanjutkan kehidupan normalnya yg diterima org lain sebagai suami dan ayah,
    Remi juga mnurut ku udah tua tapi labil,,jujur rada ilfeel,padahal walaupun Remi kasar tp dia lbh cocok hidup bersosialisasi sama teman geng dan hidup lbh banyak bcanda tertawa lepas,sedangkan tanpa dilarang2 terus oleh iqbal…
    memang terkadang manusia selalu terjebak dalam kata cinta dan terus melakukan kbodohan,itulah menurutku yg Remi lakukan

  17. dhynzafar says:

    Cuma bisa baca aja gk berani beli bukunya. Takut orng temen atau bahkan kluarga tau. Sadar diri bukan seorng penyimpan rahasia ulung.

  18. virgo mardian says:

    aku ingat betul nama perumahan itu dan kalau sore aku sering ke jembatan sungai itu,,hanya untuk memandangi air sungai yg mengalir dengan tenang…sering juga aku ke perumahan yg itu,,,walaupun cuma lewat

  19. Setiarna says:

    Ceritanya bagus bang, jadi pengen novelnya.

    Bisa minta no hp atau pin bb-nya ga bang? Supaya gampang kalo mau nanya soal novelnya

  20. rasyid says:

    bagus cerita yg ini bang….ok sukses ya…smg laris bukunya…

  21. bHee says:

    I love the story. ❀ ❀
    ceritanya ngalir dengan cukup bagus. suka.
    dan tulisannya, beneran cowok banget. (baca : dikit berantakan berantakan, unconsistensy)
    dan karena cowok banget. aku suka dengan karakternya yang beneran lugas dan khas cowok. I mean bukan karakter yang didesain oleh penulis cewek yang pastinya bakal is a sweet one.

    ohya, btw. bang remy di cerita ini kayaknya gay with demonic charm deh. bisa ngegaet sapa aj yg dia mw kayanya. ahahaha. XDD.

    love the stiry. cuamn yang disayangkan adalah knapa harus di post 5 chapter sih bang. kan bukunya ada 10 chapter. mubazir abis bagiku. mending d post cuman 3 chapter aj. biar yang laen pada penasaran. ahahahaha.

    and looking forward for book here.
    ^^V

  22. dw says:

    Bang ini fakta apa fiksi ya?

  23. dw says:

    Seriusan bang? Kisah abang dan iqbal beneran? Sweet banget. Saya pengen setidaknya sekali mengalami romansa kayak abang dan iqbal. Setidaknya sebelum menikah, huft

  24. Yuzalby says:

    Cerita Ñýά muantap, ane org depok salam knal. Smua, btw ΔΈΒͺΔ½Ε‘ baca cerita Ñýά si remi bikin gregetan,
    Ahhhhhhhh,, mantap pokoknya.

  25. Kar says:

    Akhirnya setelah beberapa bulan nunggu update cerita ini, yang pasti bakal bikin semua yang baca penasaran dan nanggung.

    Gw beli juga bukunya di nulisbuku.com yang pastinya musti diumpetin baek-baek nih haha

    Anyway thanks bang Remy udah bikin penasaran euy ~

  26. misakii says:

    aku tadi cari di gramed tapi gaada 😦 sedih, akhirnya aku beli novel lain walaupun temanya msh sama sih πŸ˜€

  27. kiki says:

    Baaaang, aku mau pesen novelnya gimana nih ? Aku udah invite bbm tp blm di accept bang remy .

  28. kenji says:

    keren ceritanya bang,,,lucu liat hubungan iqbal sama remy…apalagi saat cemburuan cemburuan gitu, kek anak kecil xixixi

  29. Arya tama says:

    Bagus dah ceritanya , sem0ga laris ya bukunya πŸ™‚ , 08996767147 sms/telpon ya , aku jg mau cerita ku seperti cerita buku ini . Good !

  30. Sakura says:

    Fujoshi hadir. Two thumbs up for the story bang Remy. Nice. Terus berkarya.

  31. Deny says:

    Harapan saya seandainya di filmkan
    Cast
    Remy : Dion wiyoko
    Iqbal : Aryo bayu
    Hasan: Egi john foreisythe
    Fajar : Evan sanders
    Erwin : Richard kevin
    Indra : Mike lewis

  32. Feranda says:

    Sumpahh
    Jatuh cinta sama sosok Iqbal di cerita ini 😍😍😍😍😍😍

  33. iqbAl says:

    mw pesen novel nya dong..gmn caranya

  34. TrueLove___ says:

    Salam bang remy linguini
    Saya sudah pesan novel anda melalui email nulisbuku.com . tpi pihak dri sana bilang “sudah tidak terbit” .
    Apakah sudah habis ato gmna ya !!

  35. Tepha says:

    Erwin itu sebenarnya teman sma atau teman sd nya Remy?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s