HEART STATION (Bagian 5A)

Posted: August 13, 2014 in Heart Station
Tags: , ,

HS-5A

HEART STATION

By: Abang Remy Linguini

Mungkin ada yang penasaran, novel Heart Station itu ceritanya apa ya? Penulis akan posting di sini, siapa tahu ada yang berminat buat beli novelnya. 😀

 

PART 5A – SANG PENGUNTIT

Sudah dua minggu sejak Iqbal memutuskan untuk tidak melanjutkan hubungan denganku. selama dua minggu itu pula aku mengungsi tinggal di rumah orang tua, berangkat dan pulang kerja dari sana dengan menggunakan busway. Benar-benar minggu yang berat buat aku untuk menjalaninya.

Sekarang aku mau cerita tentang jadwal berangkatku yang baru. Karena aku tidak ingin bertemu Iqbal, mulai senin itu aku berangkat mengikuti jadwal kereta berikutnya yaitu jam tujuh lewat sebelas menit. Dua puluh menit lebih lambat dari jadwal aku dan Iqbal biasa berangkat. Mundurnya jadwal seperti ini tidak membuatku terlambat masuk kantor, cuma kalau biasanya aku agak santai dulu di kantor sebelum jam kerja tiba dan bisa keluar untuk memilih-milih sarapan, kini aku terpaksa membuat sarapan sendiri di rumah.

Pak RT pun agak keheranan melihat aku yang berangkat lebih siang. “Rem.. kok tumben? kesiangan?” tanyanya ketika melihatku mendorong motorku keluar dari rumah.

“Enggak pak RT! sengaja kok.. bosen kepagian terus..” Jawabku.

“Fauzi nanyain Remy tuh… saya jawab aja lagi ngungsi ke rumah babenya..”

“Oh… dia kapan pindah ke mari pak?”

“Katanya sih enggak jadi, rumahnya mau dikontrakin dulu barang satu atau dua tahun..”

Itu artinya Fauzi batal menjadi tetanggaku setidaknya untuk saat ini.

Aku pun kemudian berangkat menuju stasiun. Aku memastikan tiba di stasiun setelah Kereta yang biasa dinaiki Iqbal telah berangkat. Matahari pagi sudah mulai terasa menyengat. Aku lupa karena terbiasa berangkat di pagi hari yang dingin, aku selalu mengenakan sweater atau kardigan vest selain jaket yang rutin aku pakai. Besok-besok aku tidak perlu memakainya lagi! pikirku.

Bicara soal karma, aku yang biasanya tidak menyukai orang-orang yang membentuk geng di kereta harus menerima kenyataan kalau aku akhirnya terseret masuk ke dalam sebuah geng. Untunglah, geng yang kumasuki bukanlah tergolong 3B (ingat? Babun Babun Berisik di kelas ekonomi waktu bareng dengan Hasan?). Masuknya aku pun karena sebuah peristiwa yang tidak disengaja. Saat aku mengantri membeli karcis ekspres dengan antrian yang mengular, di depanku ada seorang cewek cantik semampai berambut panjang lengkap dengan pakaian kerjanya. Dia menyerahkan selembar uang lima puluh ribuan untuk membeli karcis yang harganya sebelas ribu rupiah.

“Ada seribuan mbak?” tanya si mas penjual karcis.

“Aduuuuh… kembalian aja deh pak!” keluh si cewek.

“Enggak ada recehan mbak…”

“Ya udah.. bentar!” si cewek kemudian membuka tas tangan coklatnya dan mulai mengaduk-aduk isinya. Cukup lama sekali dia melakukan itu hingga beberapa orang dibelakangku mulai mengeluh tak sabar.

“Mbak.. minggir aja dulu!” protes seorang bapak beruban.

“Iya.. sabar!” kata si Cewek mulai kelihatan cemas.

Aku yang kebetulan memegang uang pas untuk membeli karcis, merogoh kantung celanaku mengambil selembar seribuan dari dalamnya dan kemudian uang sejumlah dua belas ribu itu kuloloskan ke loket.

“Nih pak.. karcisnya satu lagi ya?” kataku.

Aku mengambil dua karcis ekspress itu dan menyerahkan salah satunya pada si cewek. Kamipun keluar dari antrian.

“Eh.. thank you ya… ntar seribunya aku ganti..” kata si cewek.

“Enggak usah…” tolakku sambil tersenyum. Kemudian aku berjalan menyusuri peron tengah di sebelah si cewek.

“Baru ya naik kereta? kok aku enggak pernah liat situ sih?” Si cewek bertanya padaku.

“Enggak.. biasanya sih naik yang tujuh kurang sepuluh.” Jawabku sambil berhenti tepat di gerbong enam akan berhenti… kebiasaan!. Si cewek yang jalan terus tidak menyadari aku berhenti, tak lama dia menoleh ke arahku. “Hei! ngapain di situ? ikut aja sama aku…” panggilnya.

Aku semula ragu namun kuikuti juga si cewek.

“Mending ikut aku di gerbong dua.. orangnya asik-asik!”

“Loh? emang udah pada kenal?” tanyaku tidak mengerti.

“Temen satu gerbong… biasa nge-geng!” kata si cewek ringan. Oh My God! si cewek ini anggota geng kereta rupanya! Aku mendadak ingin kabur dan menolak ajakan si cewek, namun sudah kepalang tanggung dan aku merasa tidak enak.

Sesampainya di titik dimana gerbong dua akan berhenti, si cewek melambai pada seorang cowok ganteng berkulit putih sekitar umur 25-an (aku yakin dia masih ada blasteran bule!) tipikal eksekutif muda sama sepertiku, hanya saja dandanannya lebih trendy. Aku tidak akan terkejut kalo dia ternyata seorang model.

“Jeung! elo lama amat?” kata si cowok pada si cewek. Hmm… ternyata gesturnya si cowok ini rada kemayu. Entah bakat alam atau hanya pura-pura, aku tidak tahu.

“Eh.. siapa nih cowok? gebetan elo ya? cap-cus juga jeung…” katanya sambil memperhatikan aku dari ujung rambut sampai ujung kaki.

“Heh! kalo mau jadi banci pake istilah tuh yang bener dong! cap-cus… enggak sinkron!” protes si cewek.

“Maklum jeung baru belajar… baru meletek! aih..! popcorn kali meletek??” cerocos si cowok.

Aku tertawa kecil mendengar celotehan si cowok. Seru juga nih cowok! pikirku dalam hati. Kalau aku bergaul dengan orang-orang ini mungkin bisa membuat aku melupakan Iqbal sementara waktu.

“Sorry coy! ada yang baru belajar jadi gay!!” kata si cewek padaku tidak berusaha agar tak terdengar si cowok. Aku tertawa gugup saat mendengar kata-katanya.

“Kenalin dong jeung ke ekke?” kata si cowok.

“Eh.. iya.. aku juga belom kenalan… aku Yeyen… trus kutu loncat ini namanya Indra..”

“Hush! kutu loncat! orang kutu busuk! eee… kok kutu busuk…?” Kata si Cowok yang bernama Indra itu mengulurkan tangannya.

“Remy…” aku memperkenalkan diri.

Tak lama terdengar pengumuman bahwa kereta akan masuk ke stasiun. Aku, Yeyen dan Indra bersiap untuk naik. Saat pintu hidrolik gerbong terbuka, aku dan penumpang lain berebut masuk. Yeyen sudah menyelinap masuk terlebih dahulu, disusul olehku dan agak lama dibelakangku Indra dengan susah payah akhirnya berhasil masuk dengan terlebih dahulu mengomel pada seorang bapak-bapak “Aduh… jangan pake dorong-dorong dong Bo!!” protesnya lengkap dengan gaya kemayunya.

Kemudian aku melihat Yeyen melambai ke arah kami, dia sudah ada di pojok sedang menggelar koran mengambil tempat untuk aku dan Indra. Aku kemudian menyelip di antara penumpang lain yang siap-siap lesehan di lantai gerbong menuju tempat Yeyen.

“Duduk sini Rem!” ajaknya. Sebenarnya aku tidak biasa lesehan karena sangat bertentangan dengan prinsipku, apalagi di KRLmania.com aku selalu memposting keluhanku terhadap para penumpang yang hobi lesehan di lantai gerbong. Aku dan Iqbal sama-sama biasa berdiri dalam gerbong, dan paling beruntung kita baru dapat duduk setelah kereta berhenti di stasiun manggarai.

“Huuh.. baju ekke jadi kusut deh!” Indra berkata sambil bersungut-sungut. Kemudian dia melepas sepatunya dan duduk di sebelah Yeyen. Aku pun duduk mengikuti mereka.

“Ci! kenalin nih anggota baru… namanya Remy.” Kata Yeyen pada seorang wanita yang duduk di bangku. Wanita yang dipanggil Cici oleh Yeyen itu berusia sekitar 30-an, cantik, langsing dengan rambut model bob yang diwarnai coklat muda. Dia kemudian manatapku lalu tersenyum. Aku membalas senyumannya.

“Rem, ini namanya Ci Reany… nah kalo yang ini namanya Koh Liong.. temen satu kantornya Ci Reany… mereka berangkat dari stasiun Bogor.” kata Yeyen sambil memperkenalkan aku pada seorang pria manis berkacamata berusia hampir 40 tahun. Pria yang dipanggil Koh Liong itu menurunkan kacamatanya menatapku dengan alis bertaut. “Orang tua kamu siapa yang chinese?” Tanyanya.

“Ibu saya koh… kalo bapak masih turunan arab..” ujarku berseri-seri.

“Gue sih enggak pernah salah kalo nebak, iya enggak?” katanya pada Ci Reany dengan nada menyombongkan diri. Ci Reany hanya mencibir.

Dari pembicaraan kami, aku akhirnya tahu kalau Yeyen bekerja di Project Design. Indra seorang marketing executive di sebuah perusahaan produsen ponsel dan Koh Liong dan Ci reany bekerja di sebuah perusahaan keuangan. Dari urut-urutannya yang turun pertama adalah Yeyen di Gondangdia, kemudian Indra di stasiun Gambir disusul Koh Liong dan Ci Reany di Stasiun Juanda. Dan akulah yang paling belakangan turun di stasiun kota.

“Halo.. iya say… bentar lagi. Baru nyampe di.. (Indra menjulurkan kepalanya mencoba melihat ke luar) Pasar minggu…” Indra berbicara dengan seseorang dengan nada yang tidak kemayu lagi. Kemudian dia menyudahi percakapannya.

“Huuhh.. cerewet banget sih?!” sungutnya.

“Elo kalo ngomong ama cewek lo tiba-tiba bisa jadi normal lagi…” Kata Yeyen.

“Biasa.. Jaim Bow…” Indra membalas sambil menggoyang-goyangkan bahunya.

Yeyen kemudian menoleh ke kanan dan ke kiri seolah-olah mencari seseorang.

“Enggak ada! tadi aku lihat dia di gerbong lima..” Kata Ci Reany tanpa melepaskan pandangan dari buku yang dibacanya.

“Aneh… padahal biasanya kalo senen dia naek sama-sama di sini.”

“Apal banget jadwalnya jeung??” komentar Indra.

Aku yang penasaran mereka membicarakan apa, akhirnya bertanya juga. “Nyari siapa sih?”

“Tommy Tjokroooh…” Kata Indra sambil mendesah.

Aku yakin betul pasti bukan Tommy Tjokro anchor Metro TV yang mereka bicarakan.

“Nyamber aja! Gantengan dia lagi!” kata Yeyen

“Rem, Jeung Yeyen ini ngefans ama cowok yang mirip Tommy Tjokro. Tapi gak berani negor duluan, secara kita udah nge-geng kale…”

“Ajak ngobrol aja padahal sih, susah amat…” Kata Ci Reany.

“Gimana mau diajak ngobrol, wong kalo dia ada pada cekikian semua ngeledekin aku…” Sungut Yeyen kesal.

“Dia turun di mana sih?” tanya Yeyen penasaran.

“Waktu kita turun di Juanda sih dia enggak ikut turun, berarti dia turun di Kota.” Kata Koh Liong.

“Ooo… Eh, Rem! elo kan turun di Kota juga, kalo lo ketemu tuh cowok, bilang ke dia salam dari aku ya?” Pinta Yeyen.

“Aku kan enggak tau orangnya yang mana.. enggak janji ah…” ujarku.

“Ekke juga titip salam ya Bow..” kata Indra centil. Aku tertawa.

****

Koh Liong dan Ci Reany bepamitan padaku saat mereka turun di Juanda. Aku duduk memerhatikan gerbong yang isinya sudah hampir kosong. Sendirian seperti ini memang tidak enak, apalagi aku sudah biasa ditemani Iqbal.

Saat Kereta hampir masuk stasiun Kota, seperti biasa penumpang yang dari gerbong-gerbong di belakangku mulai eksodus ke gerbong paling depan yaitu gerbong satu dan gerbong tempatku berada yaitu gerbong dua. Aku iseng-iseng memerhatikan satu persatu orang yang lewat di depanku. Hmm.. cantik, lumayan… Hmm.. cakep juga nih cowok.. Wah.. enggak menarik! Waduh… buncit amat perutnya! Aku berkomentar pada setiap penumpang yang kuperhatikan. Ketika itu lewatlah seorang cowok muda bekemeja biru langit dan bercelana hitam. Wah… ganteng juga pikirku. Mirip siapa ya? Mirip Tommy Tjokro deh.. pikirku tak sadar. Eh?? Tommy Tjokro? jangan-jangan orang ini lagi?

Tanpa sadar aku memerhatikan cowok itu terlalu lama, sampai-sampai si cowok yang berdiri menunggu di dekat pintu gerbong itu menoleh ke arahku dengan dahi berkerut. Aku buru-buru mengalihkan perhatian. Ketika semua pintu gerbong terbuka, cepat-cepat aku bangun dari tempat dudukku dan keluar. Aku menoleh mencoba mencari sosok si Tommy Tjokro yang tiba-tiba menghilang, namun dia tidak terlihat. Saat aku merogoh kantungku mencari karcis yang akan kuserahkan pada petugas di pintu stasiun, aku mendengar suara seseorang menegurku.

“Kamu kenal aku bukan?” tanya suara itu. Aku menoleh dan kulihat si Tommy Tjokro sudah berdiri di depanku.

“Kalo emang kenal, dimana ya? soalnya aku gampang lupa…” tanyanya lagi.

Aku diam sambil memegang karcisku tak tahu harus berkata apa.

*****

“Ng.. enggak, tadi kupikir temen SMA… tapi gue salah… sorry” Kataku gugup mencari alasan.

Si Tommy tanpa berbicara apapun lagi langsung pergi, tapi dia tetap memerhatikan aku dengan pandangan menyelidik selama beberapa saat.

Keesokan harinya di gerbong dua, aku menceritakan pertemuan dengan si Tommy Tjokro pada teman segengku.”Gitu aja? gak ngomong apa-apa lagi?” Tanya Yeyen penasaran. Indra mencondongkan badannya dan menatapku antusias.

Aku menggeleng, “enggak.. begitu gue bilang kalo dia mirip temen gue tapi ternyata bukan, dia langsung ngeloyor pergi…”

“Salam aku elo sampein?” tanya Yeyen.

“Enggak lah.. enggak sempet. Entar dia mikir apa lagi… lagian belum tentu dia cowok yang ente maksud kan?”

Ci Reany berdeham lalu berkata, “Jangan kentara ya.. tapi cowok itu duduk di ujung tuh..”

Aku, Indra dan Yeyen langsung menoleh ke arah yang dimaksud Ci Reany, si Tommy yang kemarin kulihat memang sedang duduk di situ, menyadari tiga pasang mata menoleh tiba-tiba padanya dia menatap ke arah kami curiga sehingga kami bertiga langsung mengalihkan pandangan.

“AKU BILANG JANGAN KENTARA… BEGO!!” Geram Ci Reany.

“Tunggu-tunggu! sekarang kan hari Selasa… biasanya dia di gerbong dua tuh hari senin, kamis ama Jumat!” Yeyen berkata dengan tampang orang yang berpikir keras.

“Gantian hari sama kemaren kali Jeung… kan kemaren senen dia gak di sini…” Kata Indra.

“Hmm.. tapi dari tadi sih gue perhatiin tu orang nglirik berkali-kali ke mari…” kata Koh Liong.

“Masa sih?” Yeyen berkata antusias, “Jangan-jangan dia udah mulai naksir aku…” lanjutnya.

“Diana naksir ekke lagi Jeung!” sambung Indra.

Aku tertawa, namun otakku berpikir. Mungkinkah seseorang yang biasanya menganggap orang-orang ini tidak pernah ada mendadak menjadi memperhatikan? Rasa Ge-er mulai menjalar di pikiranku. Jangan-jangan si cowok ini merhatiin aku lagi! tanpa sadar aku tersenyum-senyum sendiri.

“Heh.. lo kenapa senyum-senyum?… Dra! lo nyari apaan sih??!” Yeyen mendadak membentak Indra yang tanpa seijinnya mengaduk-aduk tas jinjing yang dibawa Yeyen.

“Nah.. ketemu!” Indra berkata sambil mengangkat sebuah benda yang sepertinya adalah kotak makan plastik kecil.

“Itu buat ngemil aku di kantor Dra!” protes Yeyen sambil berusaha merebut kotak itu dari tangan Indra.

“Pelit amat sih Jeung? mending sama-sama makan di sini, french-fries gorengan elo kan wueanak tenan…”

Akhirnya walau sedikit tak rela Yeyen membiarkan kentang gorengnya dimakan sama-sama (sebagian besar dimakan Indra). Aku mencomot beberapa batang dan mulai memakannya. Saat Yeyen sibuk mengobrol sesuatu dengan Indra, aku penasaran dan mencoba menoleh ke arah si cowok mirip Tommy Tjokro itu. Aku kaget saat melihat ke arahnya , si cowok sedang menatap tajam ke arahku. Tidak menyangka akan tertangkap basah, aku yang masih mengunyah kentang goreng menjadi tersedak dan terbatuk-batuk.

“Eh.. lo kenapa Rem?” tanya Yeyen Cemas. Aku tidak bisa menjawab dan masih terbatuk-batuk. Yeyen kemudian mengambil botol plastik air mineral dan menyuruhku meminumnya.

“Makanya kalo makan tuh jangan langsung ditelen… elo kan bukan buaya..” Kata Indra. Mendengar kalimat yang dilontarkan Indra aku mendadak tertawa karena aku tahu dari mana kutipan itu dia dapat.

“Ente nonton Coklat Stroberi?”

“Lima kali! gosh… Marsha Timothy… gue rela deh jadi normal lagi kalo doi jadi pacar gue…” Kata Indra sambil menerawang.

“Heh! elo lupa? elo kan punya pacar cewek?” Sahut Yeyen.

“Eh.. iya ya? sebenernya gue tu gay bukan sih?” tanya Indra tak yakin.

“Lu Gay jadi-jadian!!” Kata Yeyen.

Aku tertawa bersama mereka, walaupun jantungku masih deg-degan akibat tatapan tajam si cowok tadi.

Setelah tinggal aku sendirian lagi di Gerbong tanpa teman-teman, aku bersiap memasang earphone ponsel walkman ku. Lumayan deh mendengarkan lagu sampai stasiun kota daripada bete. Si cowok itu sekilas kulihat masih betah duduk di tempatnya. Kemudian aku berkonsentrasi pada layar ponselku mencari-cari playlist lagu yang akan kuputar. Ketika aku menoleh ke depan, Si cowok ternyata sudah duduk di seberangku, lagi-lagi berkali-kali tanpa sungkan dia menatapku tajam. Aku menjadi jengah juga ditatap seperti itu, tapi aku tidak berani memprotes dan hanya berpura-pura tidak menyadari saja. Aku kemudian mengeluarkan ponselku yang tadi telah kumasukkan ke dalam ransel dan berpura-pura mengetik sesuatu padahal diam-diam aku mengambil gambarnya. Kereta tiba di stasiun kota dan kami sama-sama keluar tanpa saling berbicara.

****

“Mana? Mana?” Yeyen bertanya dengan semangat sambil merebut ponselku. Hari Rabu ini aku menunjukkan foto si cowok yang berhasil kuambil gambarnya. “Kirim ke aku dong…”

“Ke ekke juga dong..” pinta Indra.

“Ntar kalo cewek lo liat mau bilang apa?” Yeyen mengingatkan.

“Oh iya. Enggak jadi deh…”

Hari ini juga si cowok itu ikut lagi di gerbong yang sama. Yeyen pun kembali bingung karena menurut dia hari Rabu bukan termasuk jadwal si cowok itu naik gerbong dua. Ci Reany pun berkata kalau dia sendiri agak heran dengan si cowok itu yang saat di stasiun Bogor selalu mencuri-curi pandang ke arahnya dan Koh Liong.

“Pengen ikutan geng kali?” tebak Indra.

“Mungkin, tapi dianya malu-malu.” Kata Ci Reany.

“Pokoknya Rem, lo harus sampein salam dari aku!!” Tuntut Yeyen

Tentu saja aku tidak bilang pada mereka kalau si cowok kemarin memandangku dengan tatapan misterius. “Iya-iya… kalo bisa ya..”

“Salam dari ekke juga!!” Kata Indra tak mau kalah.

****

Setelah stasiun Juanda aku sendirian lagi. Entah kenapa aku jadi berdebar-debar tidak nyaman dengan adanya si Cowok itu. Benar saja! si cowok itu kini berpindah tempat dan duduk tepat di sebelahku. Cukup lama aku berpikir untuk memulai percakapan, setelah keberanianku terkumpul aku menoleh ke arahnya.

“Mmm.. mas! sori nih… aku dititipin salam sama…”

“Kenapa sih kalian hobby nge-geng? aku enggak suka sama orang yang suka berkumpul begitu…” tanpa terduga si cowok memotong kalimatku. Aku menelan ludah kaget.

“Eh, apa?”

“Iya! kalian tuh enggak membaur!” cecarnya. Astaga! galak betul nih cowok. Pikirku dalam hati. Sayang, belakangan hari ini aku sedang tidak menjadi Remy yang dulu. Kini aku memilih menjadi orang yang tidak emosian dan tidak mendominasi orang lain lagi seperti yang biasa kulakukan. Maka itu walau aku tergoda untuk “nyolot” aku berusaha keras menahan diri.

“Ya.. pendapat orang kan beda-beda, lagian aku cuma mau sampe-in amanah dari temen aja.” Kataku tenang.

“Amanah apa?” tanya si cowok.

“Aku dititipin salam sama temenku se-geng yang cewek. Salam buat Mas katanya. Ng… sebenernya dari temenku yang cowok juga..” kataku sambil nyengir.

Si cowok terdiam cukup lama sambil menatapku.

“Oh.. salam balik deh.. buat temenmu yang cowok…” katanya sambil bangkit dari duduknya menuju pintu gerbong.

Rasa Ge-er ku yang dari kemarin sempat menjalar mendadak lenyap.

****

“Gulingan!” kata Indra takjub.

“Gilingan!” Yeyen mengkoreksi.

“Beneran dia bilang gitu? salam balik buat ekke?” Indra bertanya lagi masih tak percaya pada apa yang kuceritakan. Aku mengangguk.

“Gila! gue cuma bercanda lagi… yah… gimana dong? emang gue cowok apaan?” Indra kini berkata dengan nada khawatir biasa, kemayunya hilang entah kemana.

“Lagian elo pake ngegaya bencess segala sih.. ditaksir beneran ama cowok langsung jiper lo!” Kata Yeyen.

“Kan buat seru-seruan aja bo! cewek-cewek di kantorku pada seneng sama gaya gue belagak bencess.”

“Lo sih suka cari perhatian!”

“Bukan suka cari perhatian… tapi seneng jadi pusat perhatian…” Bantah Indra.

“Udah terima aja.. katanya elu pengen belajar jadi gay..” Koh Liong berkata sadis.

“Haha..” aku tertawa kering. Tapi terus terang aku merasakan harga diriku sedikit terkoyak, sekali lagi aku memperhatikan Indra, memang dia lebih tampan dari aku. Pantas saja, kalau si cowok itu lebih memilihnya kalau memang benar cowok itu serius. Hmm.. tapi kan ganteng itu relatif! egoku mulai muncul. Indra boleh saja ganteng dengan tipikal kebule-buleannya, tapi kan aku tipikal oriental! Pasti ini hanya soal selera! Pikirku tak mau kalah.

“Gimana dong? gimana dong?” Indra berkata cemas sambil mengibaskan tangannya seperti burung mengepakkan sayapnya, bergantian dia memandang aku dan Yeyen. Beberapa orang di gerbong tersenyum geli melihat tingkahnya. Si Cowok itu hari ini juga berada satu gerbong dengan kami.

“Ya elo jangan kemayu lagi! jantan dikit kek!” Kata Yeyen.

“Susah Jeung! udah kerasukan..” keluh Indra.

“Huh.. susyah ya jadi cewek jomblo sekarang? Udah jumlah cowok lebih dikit, yang bagus-bagus pada jadi gay, sisanya cuma cowok brengsek atau cowok enggak jelas kayak di sebelah..” Yeyen berkata sambil mendelik ke arah Indra.

“Enggak jelas apaan bo? emang ekke mahluk halus?”

“Tuh kan! balik lagi bencess nya!”

Hasilnya, hari kamis itu aku kebagian sial mendapatkan tugas berat dari Indra. Indra memintaku untuk menjelaskan pada si cowok kalau kemarin dia hanya main-main mengirim salam dengannya.

“Plis..? plis-plis-plis…” Ratap Indra sambil memonyongkan bibirnya.

Aku tidak dapat menolak permintaan teman baruku ini, aku anggap saja ini sebagai sebuah ujian inisiasi masuk geng.

“Just tell him… I am totally straight!!”

“Susah percaya lagi Dra! apalagi ngeliat gaya lo…” Sahut Yeyen.

****

Sambil mengetuk-ngetukkan kakiku, aku berharap-harap cemas. Apakah hari ini si cowok itu akan pindah tempat lagi disampingku? Sebab bila dia tidak pindah, aku tidak akan repot-repot menghampirinya dan memberikan penjelasan padanya sesuai dengan yang Indra minta.

Si cowok akhirnya pindah juga di sampingku. Sama seperti kemarin, dia tidak berkata apa-apa hanya duduk diam disebelahku hingga kembali membuat aku sangat tidak nyaman. Aku merasakan ada sesuatu tentang cowok ini yang auranya bisa membuat udara sekitarnya seakan menekan paru-paruku hingga aku sulit bernafas. Sikapnya yang jutek membuatnya seolah diselubungi dinding tak nampak yang membuatnya tidak dapat disentuh oleh siapapun. Jangan-jangan orang ini psikopat? tebakku dalam hati.

Aku berdeham mencoba meluruskan pita suaraku sebelum memulai percakapan. “Ng.. sori mas, soal kemaren… temenku… yang cowok… cuma becanda waktu nitip salam. Ng.. jangan salah sangka ya?” Aku kemudian menghela nafas cukup kuat seakan lega baru saja meletakkan benda yang sangat berat.

Reaksi si cowok setelah mendengar perkataanku hanyalah menoleh dengan kedua tangannya yang masih terlipat di dada. Dia menatapku dengan pandangan aneh seperti menyelidik. Aku melihat wajahnya dan berfikir mungkin seperti inilah tampang Tommy Tjokro saat sedang jutek.

“Aku juga enggak serius…” ujarnya pendek. Kemudian dia kembali menatap ke depan.

Astaga… benar-benar nih cowok! huih… pantasan saja tak ada yang mau negor dia di kereta. Aku membayangkan satu atau dua orang penumpang yang pernah menegurnya sekadar mengajak bicara akan langsung dipelototinya dengan galak hingga mereka akan kapok untuk mencobanya lagi.

Aku tidak tahan berlama-lama disampingnya. Walau kereta akan tiba di stasiun kota masih beberapa menit lagi, aku beranjak dan berjalan menuju pintu yang ada di gerbong satu. Dan Oh My God! si cowok itu tak lama kemudian juga berdiri dan berjalan dibelakangku. Saat aku mendekati pintu dan berpegangan pada salah-satu gantungan, aku merasakan udara yang kembali menekan. Aku yakin betul si cowok berdiri tepat dibelakangku dan perasaan kuat memberitahu otakku kalau dia sedang menatapku tajam. Jantungku berdebar kencang! ini jelas bukan karena aku naksir padanya, melainkan ketakutan. Ya! aku mulai takut padanya. Apalagi saat kami berpisah jalan setelah keluar dari stasiun, setelah agak jauh aku menoleh ke belakang dan melihat cowok itu sedang berdiri memandang ke arahku selama beberapa saat sebelum akhirnya dia berbalik arah.

****

Sore harinya saat aku pulang kerja, aku baru mendapatkan tempat duduk setelah kereta masuk di stasiun Depok. Gerbong kereta kelas ekonomi yang tadinya sesak oleh penumpang, kini menjadi agak kosong. Aku mengelap keringatku dengan sapu tangan dan mengeluarkan botol plastik air minum karena kehausan setelah bersusah-payah menahan desakan penumpang lain dalam gerbong. Saat aku minum mataku tertumbuk pada sosok seseorang yang sedang duduk di pojokan yang sedang melihat ke arahku. Aku yang kaget, tersedak oleh air yang kuminum hingga terbatuk-batuk. Jantungku berdebar kencang. Sejak kapan cowok itu ada? mungkinkah kebetulan dia naik kereta dan gerbong yang sama denganku sore ini? Aku bertanya-tanya namun rasa takut mulai menjalar kembali. Aku berusaha mengabaikan kehadirannya yang membuat perjalanan kereta yang hanya tinggal dua stasiun lagi menjadi terasa sangat lama.

Saat aku turun, aku menoleh ke tempat dia duduk. Ternyata dia juga hendak turun. Setengah berlari aku menyusuri peron menuju pintu keluar, aku menoleh ke belakang dan melihatnya sedang berdiri tak bergerak melihat ke arahku. Bukankah seharusnya dia turun di stasiun Bogor? aku tidak habis pikir. Buru-buru aku menuju tempat penitipan motor. Sial! Aku merasa dibuntuti!

*****

Indra meraup kacang mede cukup banyak dari kantung plastik yang erat digenggamnya sementara Yeyen menatapnya jengkel. Jumat pagi itu Indra berhasil menemukan sekantung kacang mede yang Yeyen pikir telah disembunyikan dengan baik olehnya. Hari berpakaian bebas rupanya tidak hanya diberlakukan oleh kantorku di hari Jumat. Indra hari itu tampak santai namun trendy dengan kemeja krem kotak-kotak dan celana kargo coklat susu yang dikenakannya. Sementara Yeyen memakai kaus polo biru gelap dan celana bahan hitam dan rambut yang biasanya terurai hari ini dia kuncir kuda. Bahkan Koh Liong dan Ci Reany yang memakai batik pun tampak lebih kasual hari itu. Aku sendiri memakai jeans bootcut dan kaus putih film Nagabonar pemberian adikku saat premire peluncuran ulang film tersebut. Namun aku sedikit menyesal memakai kaus itu, rupanya kalimat “Apa kata dunia?” yang tertulis di belakang kaus membuat beberapa orang di stasiun meledekku dengan membaca kalimat itu keras-keras sambil mengikik.

“Rheakshinya githu ajha?” tanya Indra tak jelas karena mulutnya sibuk mengunyah kacang mede.

Yeyen menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah Indra. “Kalo kebanyakan bisa jerawatan loh…” kata Yeyen. Indra mendadak berhenti mengunyah. Perlahan dia gulung kembali plastik kacang mede itu dan menyerahkannya kembali kepada Yeyen. Dan dengan sekali tegukan ludah dia menelan sisa kacang mede yang masih tersisa di mulutnya. Rupanya membayangkan wajahnya yang mulus itu menjadi jerawatan sangat menakutkan bagi Indra.

“Iya.. dia bilang dia juga enggak serius.” Kataku. Aku tidak menceritakan pada mereka kalau aku merasa dibuntuti dan bahwa dia naik gerbong yang sama denganku saat aku pulang kemarin sore.

“Lha? kalau gitu dia serius enggak nanggapin salam dari aku?” tanya Yeyen.

Aku mengangkat bahu.

“Belum tentu lah Jeung! bisa aja dia malu hati dan langsung bilang cuma becanda.” Kata Indra.

Yeyen mengangguk-angguk.

“Tapi hari ini dia enggak ada tuh…” Indra berkata sambil menoleh kesana kemari memastikan kalau cowok itu memang tidak ikut satu gerbong yang sama.

Aku juga berkali-kali memastikan kalau hari ini si cowok tidak ada di gerbong ini. Tapi anehnya aku merasakan selalu diawasi oleh seseorang. Aku mencoba mencari diantara para penumpang mencoba menangkap basah seseorang yang mengawasiku, namun tidak kutemukan.

“Secara pribadi sih, gue enggak bakalan lagi negor-negor tuh cowok. Gue ngerasa ada yang nakutin sama dia selain tampangnya yang jutek itu!” kataku.

Indra dan Yeyen menatapku serius.

“Ganti topik yuk…” kata Indra tiba-tiba setelah kami terdiam beberapa saat. “Lo sekarang ngaku aja deh Rem… apa alasan elo yang sebenernya tiba-tiba ganti jadwal. Gue yakin bukan karena lo bosen dateng kepagian. Iya kan? cerita dong..”

Ci Reany dan Yeyen seperti baru mendengar gosip terhangat memandangku antusias menunggu jawaban, bahkan Koh Liong yang terlihat serius membaca koran Tempo-nya mendadak terdiam sementara matanya dipicingkan melihat ke arahku.

Indra Sialan! kutukku dalam hati. Topik inilah yang sangat kuhindari untuk dibicarakan. Aku terdiam beberapa lama.

“Tuh kan.. dia mikir… pasti ada apa-apa!” kata Indra bersemangat.

“Hmm… dugaan aku sih kayaknya elo lagi ngehindarin seseorang. Bener gak?” Tebak Yeyen sok tahu.

Aku terpaksa mengangguk lemah. Indra menepuk tangan dan mengacungkan kedua lengannya yang terkepal ke udara seolah-olah dia telah memenangkan sesuatu. Aku kemudian menceritakan kisahku yang telah kumodifikasi sedemikian rupa dan tidak menyebutkan kalau yang kuceritakan itu adalah seorang pria.

“Kasihan banget sih elo Rem?” Kata Yeyen penuh simpati. Yah! kepandaianku bersilat lidah telah membuat mereka percaya bahwa aku sama sekali tidak bersalah dan seolah-olah aku telah menjadi korban dari sebuah ketidak-adilan hubungan percintaan. Rupanya sifat manipulatif belum sepenuhnya dapat aku singkirkan.

Indra menggigit jarinya dan ikut memandangku penuh simpati. “Cewek itu bener-bener gak tahu diri! kalo gue jadi cewek itu udah pasti gue gak bakalan mutusin elo Rem…” Hiburnya.

“Kalo elo cewek.. atau kalo elo gay!” kata Yeyen.

Aku langsung menggigit lidahku diam-diam mencoba mengingat-ingat jangan-jangan tadi aku keceplosan bicara mengaku gay. Ucapan Yeyen yang blak-blakan memang sering membuatku terkaget-kaget.

****

Aku memejamkan mataku sambil mendengarkan musik melalui earphoneku. Hari ini aku merasa lega tidak melihat si cowok itu sehingga waktu yang tersisa sampai tiba di stasiun kota kumanfaatkan untuk sekadar mengistirahatkan pikiranku. Namun ketenangan itu hanya sementara. Aku merasakan seseorang duduk di sebelahku. Aku kembali cemas namun tidak berani membuka mata. Entah mengapa setiap tarikan nafas orang yang duduk disebelahku itu membuatku merasa sangat terganggu hingga aku melepas earphone dan membuka mata lalu menoleh ke arahnya.

Bukan si cowok menakutkan yang kulihat duduk disebelahku melainkan wajah seseorang yang terasa sudah sangat lama tidak aku lihat. Wajah yang kurindukan beberapa minggu terakhir ini. Wajah Iqbal yang sedang memandang lurus ke depanlah yang kini ada disebelahku.

“Elu cepet juga ya dapet temen baru? gue emang selalu kagum sama bakat elu yang satu itu.” katanya tanpa menoleh ke arahku. “Tapi gue heran… katanya elu paling anti nge-geng…” lanjutnya lagi.

Ah… kenapa aku mendadak jadi cengeng begini? pikirku saat merasakan mataku memanas dan pandanganku memburam.

SUKA CERITA INI DAN TAK SABAR MENUNGGU LANJUTANNYA?

HEART STATION DALAM BENTUK NOVEL??

Klik http://wp.me/p2Jz37-5I UNTUK CARA PEMESANAN

ATAU INVITE PIN BB PENULIS 7E730313 UNTUK DIBANTU PESAN

http://nulisbuku.com/books/view_book/1107/heart-station

Advertisements
Comments
  1. dzakarria abdullah says:

    selamat datang kembali Iqbal

  2. rahardian says:

    penasaran sama fauzinya aja ….

  3. sandy says:

    Makin seru nih….

    Kpn kelanjutannya nih?

  4. Maro says:

    Semakin seru, semakin penasaran, tp bukunya blm dateng 😦

  5. Bima says:

    Rem, bisa beli ebook-nya gak? Gw d luar indo skarang ini.

  6. Steve says:

    Emang sampe brp chapter bang?

  7. putra says:

    bagus ceritanya 🙂
    kalo boleh minta emailnya donk ?
    aku pengen kirim cerita nih
    salam kenal

  8. Eko97 says:

    Makin nyesek aja ceritanya… Mau beli bukunya dong..

  9. yannov says:

    ngga ada ebook novelnya ya.. lebih praktis kan ??? bisa amanin tuh pohon dihutan sana !!!

    • Dan pohonnya lalu digunakan untuk membuat tisu toilet…

      • yannov says:

        se’ga’a bisa ngurangin lah. ebook bisa ditaro di gadget kan ??? jadi lbh asik kan bacanya. saran aje sih gua mah. hahaaa !!

      • Sempat dipikirkan seringkali namun bentuk ebook sangat mudah tersebar dan dibajak. Mungkin nanti kalau sudah siap dan lengkap dengan password berbeda..

      • Bima says:

        Iya Rem, tlg consider ya 🙂 zaman dah canggih, para fans lo yg di luar negeri jg pgn baca dgn mudah. Mungkin bisa dibikin sperti jurnal ilmiah gitu aja, yg gk bisa dicopy, hanya bisa baca di-web dgn akses khusus.

  10. Yudistira says:

    Aku terjebak dicerita ini
    Pengen lanjutin baca tapi blom rilis
    Pengen beli novelnya tapi ga punya duit

    Nasib mu nak!!

  11. Anggara says:

    Bang remy, masih sama bang iqbal kah sampe skrg?

  12. delvyn says:

    Bang remi zaman kapan nih cerita aslinya? Heheheheheh ko masih ada walkman… Hahahahah

  13. AlFath says:

    ceritanya apakah sama yg di bf? kalo iya sama, aku udah baca sampe page 98. tapi gak tau itu udah berakhir apa masih ada lanjutannya, soalnya nanggung banget.

  14. escan says:

    cara mesennya gmn ya bang….? bagus novelnya, bkin penasaran.. harganya brp bang..?

  15. hady ryanto says:

    ko lama bang lanjutanya

  16. elderaino says:

    dear remy, kalo beli buku nya wrapping nya seperti apa? gak bakal keliatan kan ya buku nya? trus sender nya siapa? dari nulis buku? maap banyak tanya

  17. Prince of Javanesia says:

    aku cinta Iqbal…

  18. dirko says:

    Ceritanya KERENNNNNNNNNNNN

    Rahardian… >> Salam Kenal

  19. Yuzalby says:

    Kerennnn,,, tapi gedeg bgt ma remy Ɣªήğ egois n kekanak”n kasian iqbal, tp sifat remy n klakuan Ñýά dalam cerita ini g sdikit bikin sya tertawa terbahak apa lagi pas adegan bli blanjaan bnyak Ɣªήğ banting botol saus krna cemburu, n adegan nendang papan pas adegan ngecat bikin sya tertawa, tp sifat Ñýά ª∂a̲̅ Ɣªήğ g sya suka pada remy, matanya jelalatan g kasian ma iqbal.
    Pokok Ñýά bgus bgt buat cerita Ñýά “heart station”

  20. adi says:

    bang gmn cara pesan novelnya? harganya brp? sy pngen beli

  21. Agha says:

    Telat banget gw baru baca….. dan jadi mengharu biru
    Cara beli bukunya??

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s