HEART STATION (Bagian 4)

Posted: August 6, 2014 in Heart Station
Tags: , , , ,

HS-4HEART STATION
By: Abang Remy Linguini

Mungkin ada yang penasaran, novel Heart Station itu ceritanya apa ya? Penulis akan posting di sini, siapa tahu ada yang berminat buat beli novelnya. ๐Ÿ˜€

PART 4 – SI CEPAK/SI BOTAK

SI CEPAK
Minggu pagi itu walaupun aku belum mandi aku sudah nongkrong di depan rumah calon tetangga baruku. Gimana enggak semangat? sejak aku tahu kalau calon tetangga baruku yang tentara itu segagah ini, aku jadi sering ke tempat dia. Apalagi dia yang sedang merapikan rumah barunya itu sering banget bekerja cuma mengenakan celana loreng hijau aja. Lumayan kan ada pemandangan bagus? enggak perlu ngintip! cukup ajak ngobrol.

Aku duduk diatas tumpukan batako sambil memain-mainkan pasir bahan bangunan. Sementara si Fauzi (Aku kasih nama itu ya, soalanya muka ama bodinya mirip banget Fauzi Baadila… itu kata aku lho…)

“Yonkes?” tanyaku.
Si Fauzi yang sedang mengaduk semen dengan cangkulnya menoleh, “Iya.. aku dinas di Batalyon Kesehatan….” Kemudian penjelasan lainnya seperti soal kepangkatannya di TNI tidak aku simak karena terpesona oleh bodinya.”… gitu mas”
Aku mengangguk-angguk pura-pura mengerti.
“Umur ente berapa sekarang?” tanyaku.
“26. Mas sendiri?”
“Ng.. taun ini 28.” jawabku.
“Kata Pak RT belum nikah ya mas?” tanyanya sambil tersenyum. Kini dia memindahkan adukan semen itu ke dalam ember. Kemudian si Fauzi masuk ke dalam dan tidak terlihat.
“Belum ada yang cocok… Ente sendiri? udah ada calon?” tanyaku dengan nada dikeraskan memastikan Fauzi mendengar pertanyaanku dari dalam.
“Belom mas! baru putus tiga bulan… katanya ndak tahan kalo jarak jauh. Dia tinggal di kampung mas…” Jawab Fauzi dari dengan suara keras juga.

“Ente sekarang tinggal di mana?” tanyaku lagi.
“Masih di mess Mas! nanti kalo dapurnya udah ketutup aku pindah sini.” Jawabnya masih dari dalam.

Aku tahu Mess yang dimaksud Fauzi. Letaknya sekitar 1 Km dari perumahanku tepat di sebelah markas komando.

Beberapa lama kemudian terdengar dari dalam Fauzi sedang mengerjakan sesuatu dengan semennya. Aku ingin sekali melihat ke dalam cuma kok kayaknya niat banget ngikutin dia? Jadinya aku tetap duduk di luar menunggu dia selesai.

Lima menit kemudian Fauzi keluar membawa ember adukan semen yang sudah kosong. Dia kemudian menyambar kaus putih yang tergantung di pegangan pintu dan memakainya. Yups! itu tandanya tontonan sudah selesai, aku akan balik ke rumah.

“Ane balik dulu ya…” kataku sambil berdiri dan menepuk-nepukkan tanganku untuk membersihkan debu semen yang menempel.
“Kok buru-buru mas? ngopi-ngopi dulu… aku udah mesen tuh di warung…” Kata Fauzi keheranan.
“Wah, makasih deh.. ane mau mandi dulu nih. Ada janji ke mall,” kataku. Padahal bukannya ada janji, aku berencana ingin belanja bulanan minggu ini. Cuma enggak mungkin dong terang-terangan bilang mau belanja. Tapi tenang aja! abis dari mall juga bakalan balik lagi, kan ada tontonan seger di rumah.

SI BOTAK

Siangnya aku berada di sebuah supermarket di Botanical Square Mall. Sambil mendorong troli belanjaan menuju kasir, aku melewati bagian elektronik. Aku teringat ucapan Iqbal terakhir kita ke sini berbelanja bersama istri dan anaknya, dengan nada serius dia berkata: “Elo tuh ibaratnya kayak ini…” sambil menunjuk ke sampel sebuah alat berbentuk kotak berupa lampu terang yang dikelilingi jaring kawat beraliran listrik. Alat itu digunakan untuk memancing dan membunuh serangga.

“Bug Zapper?” tanyaku.
“Iya… persis!. lu menarik cowok datang mendekat… tapi akibatnya, Zap! nasibnya kayak lalat-lalat ini…” sambungnya kini menunjuk beberapa bangkai lalat yang mati tak jauh dari alat itu.

“Ente nyindir?” tanyaku.
“Enggak, cuma perumpamaan aja.” jawabnya santai.
“Bikin perumpamaan yang bagusan dikit kek! kenapa enggak diibaratkan bunga yang menarik kumbang-kumbangโ€””
“โ€”Lu kan bukan cewek!” potong Iqbal sambil tertawa tidak memedulikan wajahku yang cemberut.

Sekali lagi saat mengantri aku memeriksa belanjaan di troli kalau-kalau ada yang kelupaan. Setelah selesai transaksi, aku mendorong troli ke tempat penitipan barang.
Saat aku menunggu ranselku diambilkan, di sebelahku muncul cowok botak (enggak botak-botak amat sih, cuma rambutnya disisakan satu senti) berkulit bersih dan bertampang keren. Dia memakai t-shirt biru tua bertuliskan nama sebuah klub bola basket, celana selutut dan sandal gunung. Dia kelihatan kesulitan menjinjing plastik belanjaan yang sebenarnya tidak terlalu besar, karena lengan kanannya tidak dapat dia gerakkan akibat terbalut perban dan disangga oleh kain ke bahunya.

Ketika si Mbak penjaga penitipan barang menyerahkan bungkusan kotak besar J-co donuts pada si Botak, Ponselnya berdering. Dia kebingungan antara menjawab telepon atau menerima bungkusan tersebut dengan tangan kiri, akibatnya bungkusan belanjaannya terjatuh dan ponselnya terlepas dari tangannya.

Dengan reflek aku menangkap Nokia N-73 miliknya sebelum terhempas ke lantai. Si Botak yang panik terlihat lega melihat ponselnya terselamatkan. Kutekan tombol answer pada ponsel yang masih berdering tersebut sebelum kuserahkan pada si Botak.

“Thanks..” Katanya sambil tersenyum. Aku membalas dengan sedikit anggukan. Sebelum aku pergi aku sempat memungut kantung belanjaan miliknya dan menaruhnya di meja penitipan barang sementara si Botak berbicara di ponselnya.

“Lu kesini dulu kek!, bantuin bawain… banyak banget nih…” katanya pada seseorang di telepon.

Aku kemudian mendorong troliku menuju pintu keluar dimana ada tempat pemesanan taxi. Untuk belanja bulanan seperti ini aku memang tidak pernah membawa motorku mengingat repotnya membawa barang sebanyak ini. Setelah kutanya pada cowok dari penyedia taxi, ternyata aku harus menunggu antrian karena armada taxi yang terbatas.

Aku berdiri menunggu di lobby dengan troli yang penuh kantung belanjaan. 10 menit berlalu sebuah mobil Xenia putih menepi tak jauh dari tempatku berdiri. Saat kaca jendela terbuka, wajah keren si botak keluar sambil tersenyum. Di sebelahnya seorang cewek cantik seusia dia duduk dibelakang setir.

“Mas! tadi makasih ya… lagi nunggu jemputan ya?” tanyanya.
“Eh.. enggak. Lagi nunggu taxi.” kataku.
Kemudian si botak terlihat berbisik-bisik dengan cewek disebelahnya sebelum dia menoleh lagi ke arahku.
“Mas! Kita antar aja sampe rumah ya?” tawarnya.
“Wah, enggak usah! ngerepotin aja!” tolakku.
“Gapapa Mas! itung-itung daripada ngeluarin uang buat servis Handphone…” katanya sambil tertawa.

Setelah kupertimbangkan sejenak, akhirnya aku menyetujui ikut mobil si Botak. Setelah aku memuati jok belakang mobil dengan belanjaanku, aku kemudian duduk di jok tengah.

“Kenalan mas, sorry gak bisa salaman… gue Nuzul. Ini adik gue Fifi..” katanya.

“Halo! Gue Remy…” kataku ikut menggunakan kata gue. Fifi tersenyum padaku lewat spion.
“Tangan ente emang kenapa?” tanyaku penasaran.
“Keseleo pas main basket…” katanya.
“Bukan keseleo, tapi patah!” potong Fifi.
“Cuma retak dikit aja kok! suka berlebihan…” Protes Nuzul kesal. Aku tertawa.
“Dari posturnya kayaknya Mas juga pasti sering main basket ya?” tebak Nuzul.
“Dulu pas SMU aja. Sekarang sih badmintonan aja pulang dari kantor.” kataku.

Ternyata Nuzul dan Fifi sangat menyenangkan, sepanjang perjalanan kami menjadi cepat akrab. Mereka berdua masih tercatat sebagai mahasiswa di salah satu universitas di Bogor. Nuzul di tahun terakhir sedang menyusun skripsi.
Akhirnya kami tiba di rumahku. Aku mengucapkan terima kasih berkali-kali sambil menurunkan barang belanjaan. Nuzul dan Fifi menolak halus tawaranku untuk mampir.
“Punya kartu nama, mas?” tanya Nuzul saat mereka sudah hendak berangkat.
“Oh.. ada.. ada..” kataku sambil membuka dompet dan mengambil kartu namaku.
Aku kemudian menyerahkan kartu namaku pada Nuzul.
“Oke deh… kan ntar kalo udah ujian sidang tinggal nanya sama mas, ada lowongan ga dikantor..” katanya sambil memerhatikan kartu namaku.
“Sip! oke deh, thanks ya Zul! Fi!” kataku sambil melambaikan tangan pada mobil mereka yang berlalu.
Aku lalu menumpuk kantung belanjaanku ke teras. Saat itu aku baru tersadar kalau motor Iqbal sudah terparkir di halaman, tetapi aku tidak melihat di mana dia berada.
Tak lama terdengar suara dua orang tertawa keras dari arah rumah Fauzi. Suara itu Dua-duanya kukenali, satu suara Fauzi dan satu lagi suara tertawa Iqbal.
Sedang apa Iqbal di rumah Fauzi? tanyaku dalam hati.

SI CEPAK

Aku menjejalkan dengan keras sekantung apel merah ke dalam vegetable box di kulkasku. Sementara itu Iqbal mengeluarkan isi sebuah kantung plastik belanjaan besar. Tadi setelah melihatku datang, dia buru-buru membantuku membawa belanjaanku masuk.

“Gue baru sadar, lu kalo belanja bulanan banyak juga ya?” tanyanya sambil berusaha menumpuk beberapa bungkus mi instan.

Aku tidak menjawab melainkan kini sedang mendorong beberapa kaleng 7up lebih ke sisi dalam kulkas dan menimbulkan bunyi cukup keras.

“Lu kenapa lagi?” tanya Iqbal heran sementara tangannya memegang botol saus tomat.
“Tumben… mau ke sini enggak bilang. Malah langsung ke tetangga lagi…” Kataku sambil mengatur beberapa cup yogurt.

Iqbal tidak menjawab. Dia malah kelihatan makin terheran-heran melihat belanjaanku. “Sampo… kondisioner… Hand body… Bener-bener ngalahin istri gue… Lipbalm? Masker? Body scrub?? enggak salah? kok keluarga lu enggak ada yang curiga sih?” tanyanya heran.
“Mereka malahan suka ikutan pake! termasuk Bokap!” kataku sambil menyambar sachet masker yang dipegang Iqbal.
“Pantes.. gak mungkin kalo kulit lu smooth dari sononya…”
“Tapi ente suka kan?” kataku.

Aku kembali menyusun belanjaanku ke dalam kulkas. Kini giliran seplastik nugget beku dan french fries kumasukkan ke freezer.
“Dia gimana menurut ente?” tanyaku mengembalikan pembicaraan.
“Dia siapa?” tanya Iqbal sambil memeriksa kantung belanjaanku yang lain dengan dahi masih berkerut.
“Tetangga…” kataku.
Iqbal akhirnya mengalihkan perhatiannya dari belanjaanku. Dia tertawa kecil, “Jadi sekarang gantian nih… lu yang cemburu…” godanya.
“Enggak! cuma aneh aja tiba-tiba akrab sama dia. Apalagi tadi gak pake baju gitu dianya…”
“Berarti lu suka merhatiin dia ya? lu kali yang suka… gue sih enggak nafsu sama badan kayak kuli gitu.” balasnya.

Aku tidak menjawab.
“Tapi… emang sih mukanya kayak artis siapa gitu… yang di acara jalan-jalan suka bilang Ajiiiib…” lanjut Iqbal menjentik-jentikkan jari sambil berusaha mengingat-ingat.
“BAADILA!” sahutku kesal.
“Iya.. Fauzi Baadila..” Katanya. (Tentu saja nama Fauzi yang kuceritakan bukan nama sebenarnya).
“Lu tadi pulang naik taxi?” tanyanya sambil mengeluarkan sekarton susu cair.
“Enggak. Tadi dianterin sama Nuzul pake mobilnya.”
“Siapa tuh Nuzul?”
“Cowok yang ane temuin di supermarket. HP nya ane selametin waktu mau jatuh. Trus dia nganterin ane … Sebagai Rasa Terima Kasih…” Jawabku.

Iqbal terdiam sesaat lalu mulai mengibas-ngibaskan tangan seolah-olah dia dikerubungi serangga. “Kok.. tiba-tiba banyak nyamuk ama lalat sih di sini? kayaknya lu butuh alat pembunuh serangga…” sindirnya.
Sindirannya tidak aku pedulikan.Beberapa saat kemudian Iqbal mengajakku makan. “Gue laper nih… cari makan dulu yuk.. tinggalin aja sebentar belanjaan lu.”
“Oke… bentar.. ane masukkin dulu ini…” Kataku.
“Kita ajak aja si Fauzi ya, kali aja dia juga laper…” goda Iqbal lagi.
BRAK!! aku membanting botol saus keras-keras.

*****

Senin malam ini baru saja aku selesai mandi dan berganti baju setelah pulang kerja. Saat aku hendak menyalakan TV, aku mendengar suara motor berhenti di dekat rumah. Tak lama kemudian seseorang mengetuk pintu di depan.
Aku membukakan pintu dan kulihat Fauzi sudah rapi sekali dengan kaus berbalut jaket kulit hitam dan celana jeans.
“Wah.. mau kemana nih ente? rapi bener.” Tanyaku.
“Mas, ada acara enggak malem ini?” Fauzi balik bertanya. Namun sepertinya dia tidak butuh jawaban setelah melihatku hanya memakai kaus butut dan celana training.
“Temenin aku ya mas! Kita kencan..” Katanya lagi.
“Eh.. apaan? kencan?” Tanyaku gelagapan.

****

Yang dimaksud dengan kencan oleh Fauzi adalah kencan ganda alias double date. Rupanya dia berkenalan dengan seorang cewek yang bersedia pergi dengannya asalkan teman ceweknya juga di ajak.
“Gitu mas! si Lis enggak mau aku ajak kecuali temen se-kostan dia juga diajak.”
“Aneh…” kataku.
“Yah.. tolongin aku lah mas! Temennya itu masih jomblo. Aku udah bilang bersedia ngenalin…”
“Apaan? ente mau ngejodohin ane?” Potongku.
“Bukan… cuma mau ngenalin aja kok..” Kata Fauzi dengan nada cemas.

Tetapi akhirnya lima belas menit kemudian, aku sudah berganti pakaian dan siap berangkat. Saat motorku hendak kukeluarkan, Fauzi berkomentar, “Mas! rapi bener sih?”

Padahal aku saat itu cuma mengenakan kemeja lengan panjang dibalut sweater rajutan berwarna hijau tua dan celana khaki. Mungkin karena aku memakai sepatu kulitku jadi kelihatan tidak kasual.
“Masa sih?” tanyaku, “emang mau kencan dimana?”
“Kita jemput dua cewek itu di tempat Bansus (bandrek susu) deket air mancur..” Kata Fauzi.
“Bilang kek!” gerutuku sambil kembali ke kamar.

Akhirnya aku mengganti bajuku dengan polo-shirt oranye, jeans dan sepatu kets. Tidak lupa aku juga memakai kardigan abu-abu ku sebagai pengganti jaket (teuteup…).
“Wah si Mas ini, bener-bener harus ganti baju tho? Tau gitu tadi aku ndak usah komentar…” Kata Fauzi geli.

Untunglah, hujan yang mengguyur kota Bogor beberapa malam terakhir ini tidak turun malam itu. Sekitar 20 menit kemudian kami tiba di air mancur, sebuah Bundaran jalan yang merupakan pertemuan simpang tiga yang mengarah ke Istana Bogor. Biasanya tempat itu ramai oleh para ABG dan anak muda yang sekadar nongkrong atau berpacaran. Beberapa tahun lalu aku masih sering kemari selepas kuliah malam bersama teman satu geng di kampus. Rupanya langit yang cerah membuat tempat itu cukup ramai walau malam ini bukan malam minggu.

Kami memarkir motor tak jauh dari tenda Bansus. Aku menghentikan motor matic-ku tak jauh dari motor milik Fauzi. Kemudian aku dikenalkan pada dua orang cewek imut -kalau tidak mau dibilang pendek dan mungil!- setipe dengan cewek-cewek model SPG yang naik kereta ekonomi, yang bahkan tangannya tidak mampu menjangkau palang besi untuk sekadar bergelantungan dalam gerbong.

Salah satu dari cewek itu langsung dihampiri Fauzi. Wajahnya bundar dan cukup manis, kulitnya agak gelap dengan model rambut sebahu dan poni samping. Dia malam itu memakai jeans ketat, kaus kekecilan berwarna pink dan kardigan hitam.

“Mas! kenalin.. ini Lis..” Kata Fauzi sambil menunjuk cewek itu. Aku menjabat tangan cewek yang bernama Lis itu sambil berkata “Remy…”

“Nah, yang ini temen satu kost nya Lis, namanya Yuli…” Kata Fauzi lagi kali ini menunjuk seorang cewek yang sedari tadi bertingkah agak canggung dan berdiri tidak mau jauh-jauh dari Lis. Baru kuperhatikan cewek yang bernama Yuli ini. Dia berwajah oval dengan kulitnya yang pucat tanpa make-up tebal. Rambut panjang sepunggung dan berponi. Badannya lebih tinggi dan lebih langsing dibanding Lis, sehingga mini-shirt kuning cerah dengan sweater putih bertudung yang tidak dikancingkan serta celana jeans slim-fitnya itu sangat cocok dikenakan olehnya.

Sempat aku bertanya dalam hati mengapa Fauzi tidak memilih Yuli yang secara keseluruhan lebih menarik dibanding Lis? pasti itu karena Fauzi lebih dulu mengenal Lis sebelum bertemu Yuli. Aku yakin di hari Fauzi berkenalan dengan Yuli, dia pasti agak menyesal berkenalan dengan Lis terlebih dahulu. Tanpa sadar aku tersenyum sendiri memikirkan kemungkinan-kemungkinan itu.

“Mas, kok senyum-senyum aja sih? suka yaaa…?” Goda Fauzi.
“Apaan sih ente… Hai… Gue Remy..” kataku sambil mengulurkan tanganku pada Yuli. (lagi-lagi aku memakai kata Gue) Yuli menjabat tanganku cepat-cepat, wajahnya tertunduk tidak mau menatapku, tapi sekilas walaupun dibawah lampu penerangan jalan raya kulihat wajahnya agak bersemu merah.

“Kita mau makan di sini?” usul Fauzi.
Namun ketika kami masuk ke dalam kios Bansus, ternyata bangku-bangku telah terisi penuh.
“Yah… kayaknya lama…” kataku.
“Trus kita makan dimana? Warung tenda?” tanya Fauzi merujuk suatu tempat di pinggiran Jalan Raya Pajajaran dimana berjejeran tenda-tenda yang menjual aneka makanan, dan hanya buka pada malam hari saja.

“Bosen ah! keseringan!” protesku tidak memedulikan Fauzi dan dua cewek itu yang menatapku heran.
“Wah… mas ini rupanya kalau pacaran itu sering banget ya kencan wisata kuliner malem-malem? enak banget ya jadi pacar mas?” Kata Fauzi dengan nada kekaguman yang terdengar janggal.

Aku kemudian melirik ke arah Yuli dan kulihat raut wajahnya berubah. Sadar bahwa kalimat terakhirku mungkin menimbulkan pengertian yang tidak-tidak, aku buru-buru meralatnya karena tidak mau dicap sombong dan sok tahu.
“Eh, maksud ane… makanannya gitu-gitu aja… paling indomie keju, pisang keju, Pisang bakar, roti bakar…”

Wajah ketiga orang itu masih memandangku aneh, hingga buru-buru kutambahkan,”Ane tahu tempat yang lebih asik, lebih enak dan lebih murah…”

Kulihat wajah Fauzi berubah menjadi lebih lega. Lis tersenyum-senyum sedangkan Yuli malahan menatap ke arah jalan, entah apa yang dia lihat.
“Yuk ah, berangkat sekarang!” Ajakku buru-buru menyudahi percakapan yang membuat canggung itu.

******

Tempat yang kusebutkan memang jauh dari standar kafe tenda yang berdiri kokoh dan terang benderang. Tempat itu hanyalah sebuah gerobak dilengkapi tenda sederhana berupa terpal dengan sebuah meja dan bangku kayu panjang. Berbeda dengan kafe tenda yang menawarkan kehangatan, di tempat ini bila hujan kita pasti akan kedinginan dan kaki kita tetap kebasahan. Letaknya yang bukan di jalan utama juga membuat tempat ini jauh dari hiruk-pikuk orang dan kendaraan.

Terlepas dari segala kesederhanaannya, aku sangat menyukai makanan yang ada di sini. Sebenarnya menu yang disajikan di sini tak jauh dari sajian menu kafe tenda yaitu Indomie Keju, Pisang Keju, Pisang Bakar… namun di sini dijual asinan jagung bakar terenak yang pernah aku makan. Selain itu kukira cara memasak yang masih tradisional mungkin menambah kelezatan makanan-makanan tersebut.

Aku pernah mengajak Iqbal makan di sini setelah kami bosan makan di kafe tenda maupun di restoran-restoran di Mall, dan hasilnya kini dia menjadi salah satu penggila asinan jagung bakar juga.

Setelah kami sampai dengan membonceng pasangan kami masing-masing dimana sepanjang perjalanan kami tadi, Yuli masih agak malu-malu merangkul pinggangku dan sesekali memilih berpegangan pada pinggiran jok motor, aku disambut sapaan ramah ibu tua pemilik warung asinan jagung bakar yang sudah mengenaliku.

“Wah.. si A’a.. tumben rame-rame… Temen A’a anu kasep tea (yang ganteng itu) enggak ikut?” tanya si Ibu dengan polosnya sehingga membuatku tercekat.

Aku melirik ke arah mereka bertiga, wajah mereka menatapku keheranan.
“Oh.. enggak Bu, biasa… ama ISTRI nya lagi enggak dibolehin jalan-jalan…” Jawabku dengan menekankan pada kata ISTRI.
Kulihat Fauzi manggut-manggut sepertinya dia mengerti kalau yang dimaksud itu adalah Iqbal yang sudah dikenalnya. Sedangkan dua cewek itu kelihatannya sudah tidak memerhatikan ucapan si Ibu dan mulai mencari tempat untuk duduk.

Saat kami mengobrol sambil makan menu pesanan masing-masing, aku akhirnya tahu bagaimana Fauzi mengenal Lis. Dia bertemu saat Lis hendak pulang dari pabrik garmen tempatnya bekerja dan mengajaknya berkenalan. Sedang Yuli yang teman satu kost Lis bekerja sebagai staf administrasi di sebuah kantor koperasi. Sifat Yuli yang pendiam bertolak belakang dengan Lis yang ramai. Walau tidak banyak berkomentar, Yuli tetap memerhatikan saat aku bercerita tentang diriku, tempat kerjaku dan lain-lain.

Akhirnya kami harus menyudahi kencan kami malam itu, aku bersikeras mengantar Yuli hingga tempat kostnya walau dia merasa tidak enak. Di jalan saat kami berboncengan, entah mengapa Yuli yang saat bertemu sangat canggung, kini tidak ragu-ragu memeluk pinggangku erat-erat. Fauzi dengan motornya menjajari motorku. Dia membunyikan klakson dua kali hingga aku menoleh, dan kulihat Fauzi mengacungkan jempolnya sementara Lis tersenyum-senyum geli sebelum akhirnya motornya melaju mendahului motorku, meninggalkan aku yang kesal dengan godaan mereka.

“A… mau tanya dong…” kata Yuli. Dia kini memanggilku A’a.
“Tanya apaan?”
“Sorry… A’a… muslim apa bukan?” tanyanya hati-hati. Aku sudah sangat terbiasa dengan pertanyaan ini disebabkan wajah orientalku.
“Alhamdulillah muslim…” jawabku.
“Berarti enggak ada ganjelan dong…” Kata Yuli semakin erat memelukku.

Ganjelan? apa maksudnya? pikirku panik. Dalam hati aku mengutuk Fauzi sejadi-jadinya karena sudah melibatkan aku pada situasi yang tidak kusukai ini. Aku hanya bisa menarik nafas dalam-dalam.

SI BOTAK

Sejak pertengkaran kami yang terakhir, aku berjanji pada Iqbal untuk selalu terbuka padanya tentang apa yang kulakukan, jadi pagi berikutnya di kereta aku menjelaskan soal kejadian semalam.
“Ya gitu… si Fauzi ngejodohin ane”

Iqbal hanya mengangguk-angguk tanpa berkomentar sementara mulutnya sibuk mengunyah permen karet. Akhir-akhir ini kulihat kecanduannya pada rokok makin menjadi-jadi. Seringkali dia masih mengisap batang rokoknya berkali-kali sebelum rela dibuangnya padahal orang-orang sudah berebut masuk ke dalam kereta. Kini dia mulai mengunyah permen karet selama perjalanan dalam kereta karena katanya tidak tahan kalau tidak merokok terlalu lama.

“Ente ngedengerin enggak sih?” tanyaku kesal. “Lagian kok kecanduan ente ama rokok tambah parah sekarang?”
“Gue makin parah sejak kenal sama lu… stress…” katanya santai. “Tapi kan gue enggak pernah ngerokok kalo deket lu.. iya kan?”
“Enggak ngerokok apaan?” dengusku kesal. Aku berhak merasa kesal karena terakhir kali kita sedang bercinta, Iqbal terasa sekali sedikit terburu-buru menyudahi permainan dan langsung keluar dari kamar dengan alasan ingin minum, tetapi saat aku lihat dia ternyata sedang merokok di dapur.

“Ceweknya cantik gak?” tanya Iqbal mengalihkan pembicaraan.
“Lumayan sih… tapi kan ane gak tertarik…”
Seorang Ibu melirik ke arahku dengan tatapan heran.
“Ya jangan keliatan ngasih harapan lah…” saran Iqbal.
“Nomor HP sih belum tuker-tukeran, walaupun kayaknya si Yuli itu udah enggak tahan pengen ditanya berapa nomor HP nya…”
Iqbal kembali mengangguk-angguk.”Ya udah… bilang aja sama si Fauzi lu belom siap kalo dijodohin… apa perlu gue sms dia?”

Aku menatap heran pada Iqbal karena kalimatnya yang terakhir. “Emang ente udah tahu nomor HP nya si Fauzi? ane aja belum tukeran nomor HP ama dia!”
Iqbal berhenti mengunyah permen karetnya, raut wajahnya berubah. “Udah… waktu pertama ketemu. Tapi dia duluan yang nanya nomor HP gue! katanya tolong diajak kalo ada proyekโ€””
“โ€”Proyek apaan?! proyek ngerokok bareng?!” potongku cepat.

Tapi anehnya Iqbal tidak marah, malahan dia terlihat menahan tawa. Dia kemudian meraih ponsel nya dan mengetikkan sesuatu. Tak lama ponselku bergetar karena ada SMS masuk, dari Iqbal, dia menulis: “Gw seneng kalo elo lagi cemburu.”
Aku menatap Iqbal jengkel sementara dia tersenyum-senyum menatap keluar jendela kereta sambil masih mengunyah permen karetnya.

****

Saat aku hendak keluar makan siang, ponselku berbunyi. Di layarnya muncul nomor tak dikenal. Aku kemudian menjawab panggilan masuk itu.
“Halo?”
“Halo mas? Nuzul nih, sori ganggu sebentar, sibuk enggak mas?” tanya suara di seberang.
“Enggak kok, baru mau makan siang. Ada apaan Zul?”
“Gua mau minta tolong mas, tapi enggak bisa cerita di telepon gini. Mas sampe rumah jam berapa?” Suara Nuzul mulai terdengar cemas.
“Sekitar jam setengah delapan. Emang kenapa Zul?”
“Nanti gua ke rumah mas ya? boleh kan?”
“Boleh aja sih… tapi emang sepenting itu ya?”
“Darurat mas! ya udah… makasih ya mas!”

Nuzul memutuskan sambungan sebelum aku sempat berkata lagi. Masalah darurat apa? aku tak habis pikir.

*****

Aku memacu motorku agak cepat. Gara-gara kereta datang telat, aku baru sampai di stasiun jam delapan kurang lima menit. Saat tadi ku telepon, Nuzul bilang dia sudah menunggu di rumah.
Sesampainya di rumah, kulihat Xenia putih Nuzul sudah terparkir di jalan. Aku menghentikan motorku dan mendorongnya ke teras. Nuzul sudah duduk di situ.

“Sorry Zul, keretanya telat.”
Nuzul menggeleng “Gapapa mas!”
“Yuk masuk dulu ZUL! eh.. tangan ente udah sembuh? kok bisa nyetir?”
“Masih agak kaku sih Mas, tapi udah sembuh sih!” katanya sambil menggerak-gerakkan lengan kanannya.

Aku memasukkan kunci dan membuka pintu rumahku kemudian kunyalakan lampu ruangan tamu dan menyuruh Nuzul duduk di atas Karpet (kuingatkan lagi, di ruang tamuku hanya kugelar karpet saja).

Aku membuka pintu kulkas hendak mengambil minuman. “Mau minum apa? ini?” tanyaku sambil mengangkat kaleng 7up.
“Makasih mas, enggak minum soda…” tolak Nuzul.
“Ya udah, ini aja ya?” kataku sambil menyerahkan kaleng ramping jus jeruk pada Nuzul.
“Makasih…” katanya sambil menerima kaleng itu.
“Ada apaan sih? kayaknya ente cemas banget?” Aku duduk bersila tak jauh dari Nuzul.

Lama Nuzul tidak menjawab, dia malahan memain-mainkan kaleng jus jeruk yang dia pegang.
“Ng.. gini mas, sebenernya ini masalah cewek..”
“Cewek?”
“Iya… ada cewek di kampus yang ngejar-ngejar gua terus, sering ngirim sms, nelepon tengah malem… subuh-subuh…”
“Teroris?” tanyaku sambil tersenyum. Nuzul menatapku tidak mengerti.
“Cewek kayak gitu ane sebut teroris… pengalaman pribadi…” Aku menjelaskan.
“Gua enggak tahu gimana cara ngehadapinnya, Mas mau bantuin kan?” tuntutnya.
“Bantuin apaan dulu nih? kalo aneh-aneh ane enggak mau ah!”

Nuzul kembali tertunduk. “Tadinya gua pengen ngenalin mas ke dia… siapa tahu dia tertarik sama mas. Kan akhirnya dia enggak gangguin gua lagi. Selanjutnya terserah mas mau ditolak atau apa gitu…”
“Permintaan ente terlalu berat…” Kataku. Aku heran, baru kenal nih anak permintaannya udah macem-macem. Untung lu keren! jadi agak termaafkan.
“Gua enggak tahu lagi mas, temen-temen gak ada yang mau bantuin. Mereka bilang cewek itu cantik tapi galaknya minta ampun!”

Aku tidak mau terjebak lagi dengan perjodohan lain yang hanya akan membuatku kesal. Aku berfikir keras, apakah aku harus mengakui keadaanku pada Nuzul? Kalaupun iya tidak ada ruginya. Aku baru kenal dengan Nuzul. Paling banter kalau dia Homophobic akan menjauh dengan sendirinya. Oleh karena itu aku berdiri dan beranjak ke pintu.

“Sorry Zul, ane gak bisa bantu. Soal ngerayu cewek ane gak bisa… ane GAY!” kataku sambil membuka pintu depan, maksudnya aku paham kalau dia buru-buru ingin pulang.

Mata Nuzul membelalak tidak percaya, namun wajahnya malah menyiratkan sebuah antusiasme. Dia buru-buru menghampiriku di pintu dan mendorong pintu itu sehingga kembali menutup.
“Beneran Mas? Bagus dong!” Katanya bersemangat.
“Kok? bagus?” kataku tak percaya.

*****

“Iya! bagus! Mas Remy bisa pura-pura jadi pacar gua!” Nuzul berkata dengan nada tinggi. Matanya berkilat-kilat sementara lengannya mencengkeram bahuku sehingga aku mundur terpojok ke dinding.
“Ente jangan macem-macem ya! ide apaan tuh?!” Protesku sambil mengacungkan jari telunjukku.
“Mas! Ide bagus! cewek itu pasti kapok ngedeketin gua! gua udah enggak tahan ama tuh cewek…” Nuzul mengguncang-guncang bahuku seperti orang yang mulai kurang waras.

Aku lalu mencengkeram lengan kanan Nuzul yang aku yakin belum sembuh benar dan mulai memelintirnya. Nuzul mengaduh kesakitan. “Aduh… duh.. Mas! Sakit! Lepasin…”
“Enggak! sebelum ente berhenti kayak orang kesurupan!”
“Iya… iya… Lepasin Mas!” Pintanya.

Akhirnya aku melepaskan lengannya. Bukannya pergi, Nuzul malah kembali duduk di karpet sambil memijat-mijat lengan kanannya.

“Ngapain ente duduk lagi? kan ane udah bilang ane gak mau!”
Nuzul tidak menjawab. Wajahnya berubah murung dan dia menundukkan kepalanya.
“Mas… gua juga mau bilang sesuatu.” Katanya. “Gua rasa… gua juga Gay…”

Kedua alisku bertaut. Tapi aku mencoba tidak berkomentar atas pengakuannya. Aku kemudian duduk disebelahnya tidak berkata apa-apa memberikan kesempatan pada Nuzul untuk melanjutkan ceritanya.
“Gua… sejak kuliah kayaknya udah mulai enggak tertarik sama cewek.” Katanya dengan suara pelan. “Apalagi sejak ikut tim basket kampus…. perasaan gua ada yang aneh pas ngeliat… ngeliat cowok… terutama pas di kamar ganti… ngeliat temen….” Kata Nuzul terputus-putus.

Tidak ingin melihat Nuzul menyiksa dirinya dengan bercerita, segera kuhentikan kalimatnya dengan pertanyaan.
“Keluarga ente ada yang udah tau?”
Nuzul menggeleng.
“Temen?”
Nuzul menggeleng lebih keras.

Aku menghela nafas dalam-dalam. tanpa sadar aku menggaruk-garuk kepalaku sendiri kebingungan harus berbuat apa. Melihat wajah tampannya tersaput murung begitu, lama-lama aku menjadi tidak tega.
Aku menghela nafas lagi sebelum akhirnya berkata. “Ya udah… ceritain rencana ente… Tapi ane enggak janji bakalan ngikut!”

****

Janji tinggallah janji. Aku tidak kuasa menolak permintaan Nuzul. Malam berikutnya selepas pulang kerja, aku langsung menuju starbucks di Botani Square Mall. Disana sudah menunggu Nuzul dan seorang Cewek cantik bermata tajam.

Sepertinya Nuzul sengaja memilih tempat di luar dan di pojokan dimana lokasi outdoor itu tidak terlalu terang dan tersembunyi di antara pot-pot berisi tanaman yang menjulang. Lagipula, karena Mal sudah hampir tutup tidak ada pengunjung lain di situ.

“Sorry telat…” kataku. Nuzul dan si Cewek duduk berhadapan, aku mengangguk sedikit pada si Cewek namun dia malahan menatapku dengan pandangan menyelidik. Kuperhatikan sekilas, walaupun terkesan jutek, sebenarnya cewek ini cantik juga. Rambut Ikalnya diurai begitu saja, bibirnya penuh, hidungnya mencuat dan alis matanya yang tebal membingkai sempurna bola matanya yang bundar bercahaya.

“Sini Mas…” Kata Nuzul memberi isyarat agar aku duduk di sampingnya. Dengan canggung aku duduk di sebelah Nuzul, Tangan Nuzul menarik lenganku sehingga badanku tertarik ke arahnya. Tanpa kuduga dia memberikan kecupan di pipiku. Hei! ini tidak ada dalam skenario! teriakku dalam hati.

“Keretanya telat lagi ya Mas?” tanya Nuzul dengan nada mesra.
“Eh.. i.. iya.” Kataku gugup.
Si cewek kembali menatapku penuh selidik. Kini tangan Nuzul menggenggam tanganku dan meremas-remasnya.
“Nah.. Lu dah liat kan? ini boyfriend gua!” Katanya pada si Cewek. Nuzul merapatkan bahunya padaku.

“Tapi tolong! Gua enggak mau ini tersebar… gua sayang sama boyfriend gua tapi gua belum berniat buat terbuka.. lu paham? lu yang maksa gua buat ngaku sama lu…” Kata Nuzul Galak.
Wajah si cewek mulai mengendur. Kini dia seolah-olah ingin menangis.

“Enggak ada yang perlu gua jelasin lagi kan?” tanya Nuzul tajam. Lengannya kini menarik daguku dan bibirnya kembali memberikan kecupan pada pipiku. Lebih lama.

Air mata si cewek nyaris tumpah dari matanya yang berkaca-kaca. Akhirnya dia bangkit sambil menggebrak meja sambil berkata “Lu Jahat!!” akhirnya si cewek pergi meninggalkan kami berdua.

****

Nuzul tidak henti-hentinya tertawa sejak dari starbucks hingga kami berada di lorong menuju tempat parkir.

“Ente seneng banget..” kataku sambil berjalan di belakang Nuzul. “Soal ente nyium pipi ane, kayaknya enggak ada dalam skenario..”
“Biar lebih meyakinkan Mas! sekalian!” kata Nuzul masih terus tertawa.
“Dasar!” gerutuku.
Namun Nuzul akhirnya terdiam. Saat kami hendak melewati pintu kaca menuju tempat parkir, Nuzul berkata serius.
“Mas, makasih banyak ya, bantuannya…”
“Ente kan janji traktir…” kataku. Aku berdiri sambil memasukkan kedua lenganku ke dalam saku celana.

Entah ada angin apa Nuzul kemudian merangkulku, kali ini dia tidak menciumku di pipi melainkan bibirnya menciumku… cukup lama… sampai akhirnya dia melepaskan bibirnya dia berkata kembali… “Mmm.. Makasih banyak ya Mas!” katanya sambil tersenyum simpul.
Aku yang tidak menyangka Nuzul berbuat demikian hanya bisa bersandar ke dinding tanpa mengeluarkan kedua lengan dari saku celanaku.

SI CEPAK

Aku tidak bisa tidur malam itu. Berkali-kali aku mengganti posisi, menepuk bantal, memadamkan lampu namun kemudian menyalakannya lagi, tak ada satupun yang bisa membuatku terlelap. Jauhin Nuzul! Jauhin Nuzul! perintahku sendiri diotakku. Jadilah orang egois! jangan terlibat masalah dengan orang lain! perintah otakku lagi. Lalu aku melempar bantalku ke dinding dan turun dari ranjang. Aku melihat jam dinding yang menunjukkan waktu sudah lewat dari jam sebelas malam. Segelas susu panas pasti bisa membuatku tertidur, pikirku. Kemudian aku beranjak ke dapur dan membuatnya.

Ketika melewati ruang tamu, aku melihat Fauzi duduk di teras rumahnya yang belum beres direnovasi dengan gelas dan piring kecil di sebelahnya. Lalu aku membuka kunci pintu depan dan keluar menuju teras. Fauzi menoleh ke arahku dan kupanggil dia dengan isyarat tangan.

—–

Aku dan Fauzi duduk di teras rumahku. Gelas berisi bandrek dan piring berisi ubi rebus milik Fauzi ikut berpindah dengan pemiliknya.

“Ada yang jual bandrek juga ya disini?” tanyaku.
“Iya, lumayan, anget-anget Mas! Buat ngeganjel perut.”
“Ente gak tidur di mess?”
“Tanggung lah, aku dah bawa tikar kok. Besok kan sabtu, jadi bisa langsung dilanjut.”
Aku mengangguk-angguk.
“Oya Mas, gimana kelanjutannya sama Yuli?” Tanya Fauzi.
“Ane kan udah bilang. Ane belum ada niat buat berhubungan sama cewek sekarang. Dan ane enggak mau dijodohin gitu.”
“Tapi si Yuli kayaknya kecewa loh Mas, dia tanya no HP mas, tapi kan aku aja ndak tahu…”
“Itu tanggung jawab ente! Ane kan enggak ngasih harapan sama dia…”
Fauzi terdiam.

“Ente udah mau ngecat ya?” tanyaku karena melihat beberapa kaleng cat yang diletakkan di teras rumah Fauzi.
“Iya Mas. Besok mau ngecat dalamnya dulu.” Jawabnya sambil menghirup minumannya.
“Ane bantuin deh besok, kalo sekadar ngecat sih bisa lah…” kataku.
“Wah makasih Mas, berarti ada tambahan bantuan lagi nih…”
“Lagi? emang siapa lagi yang mau ikut ngecat besok? Pak RT?” Tanyaku.
“Bukan… Mas Iqbal temen mas itu loh! Kemarin aku telepon dia soal orang yang mau cari tanah… trus dia bilang mau ke tempat Mas Remy, aku bilang sabtu ini mau ngecat dulu. Terus Mas Iqbal nawarin bantuan…” Jelas Fauzi.
“Yay… eh, Bang Iqbal bilang mau bantuin?” tanyaku tak percaya.
“Iya.”

Aku merasa aliran darahku mengalir deras ke kepala hingga terasa panas. Apa maksudnya Iqbal menawarkan bantuan seperti itu? Kenapa dia tidak bilang? Aku kemudian memandang gelas berisi susu hangat yang kini tinggal separuhnya dan langsung kehilangan selera untuk menghabiskannya, sebab aku yakin tak ada satupun yang bisa membuatku terlelap malam ini.

****
Aku memutar topi petku kebelakang. Sabtu pagi itu walaupun aku masih mengantuk akibat tidak bisa tidur semalam, aku tetap bersemangat untuk membantu Fauzi mengecat rumahnya. Kaus hijau pucat tanpa lengan dan celana jeans lama yang sudah kupotong selutut aku pakai sebagai seragam untuk mengecat. Aku kemudian keluar rumah memakai sandal jepitku menuju rumah Fauzi.
“Weis… udah siap nih!” Kata Fauzi ketika melihatku datang. Saat itu dia sedang membuka tutup salah satu kaleng cat. Sayangnya hari ini dia mengenakan kaus singlet, jadi bodinya yang atletis itu tidak terlihat semuanya. Tapi lumayan lah buat menambah semangat.

“Sebelah mana dulu?” tanyaku sambil berjongkok berhadapan dengan Fauzi yang sedang mengencerkan larutan cat.
“Terserah mas, tapi kayaknya gampangan ruang tamunya dulu.”
“Oke! mana kuasnya?” tanyaku sambil menoleh kanan kiri.

Fauzi menunjuk ke tempat dekat tumpukan zak semen yang belum terpakai. Di situ tergeletak satu kuas cat besar.

Saat aku mulai mengecat kudengar suara motor yang kukenal berhenti di halaman rumah Fauzi. Motor Iqbal. Tanpa menoleh aku mendengar Iqbal dan Fauzi bercakap-cakap dan yang jelas kutangkap adalah saat Fauzi berkata, “Tuh.. si Mas Remy udah mulai ngecat.”

Aku tetap serius mengecat walau kusadari Iqbal menghampiri dan kemudian berdiri di sebelahku. “Rapi juga lu ngecatnya.” Komentar Iqbal. Aku tidak menanggapi dan meneruskan mengecat.

Selama beberapa saat kami terdiam.
“Gue udah ngeduga sih….” Kata Iqbal lagi.
“Udah ngeduga apaan?” tanyaku akhirnya karena penasaran.
“Waktu si Fauzi telepon gue kemarin dan bilang mau ngecat, gue udah ngeduga elu pasti bakalan bantuin dia. Makanya gue nawarin bantuan sekaligus ngawasin elu supaya jangan larak-lirik si Fauzi… paham?” Kata Iqbal dengan suara yang dipelankan.

“Oh.. sekarang ente berubah jadi pengawas?”
“Iya. Sayang ya? si Fauzi pake singlet sekarang…” sindir Iqbal sambil memerhatikan Fauzi melalui jendela kaca.

Aku mengabaikan perkataan Iqbal dan melanjutkan pekerjaanku. Kemudian Iqbal keluar menghampiri Fauzi. Aku melihat dengan ekor mataku Iqbal menerima sekaleng cat dan kuas yang diserahkan Fauzi.
Kemudian Iqbal berdiri membelakangiku. Dia rupanya hendak mengecat tembok sisi sebelah itu. Baru beberapa saat dia mulai mengecat, Fauzi masuk ke dalam membawa kaleng catnya sendiri.

“Lho, mas Iqbal? Kausnya enggak takut kena cat? kayaknya masih bagus kausnya.” kata Fauzi.

“Oh? iya ya?” Iqbal berkata sambil memerhatikan polo shirt putihnya. Lalu dia membuka polo shirtnya dan menggantungnya di pintu sehingga dia cuma memakai celana selututnya saja. Aku melihat ke arah Iqbal sedikit kesal. Kemudian Fauzi menuju dinding tengah diantara dinding bagianku dan bagian Iqbal. Saat melewati Iqbal, Fauzi sempat-sempatnya memuji Iqbal.

“Waaah… Enggak nyangka badannya Mas Iqbal ‘jadi’ juga ya? sering fitness ya Mas?” Fauzi berkomentar sambil tangannya memijat-mijat lengan Iqbal seperti seorang pelatih memijat petinju di atas ring saat hendak pergantian ronde. Iqbal nyengir.

Aku kemudian menendang sebatang papan yang tergeletak di lantai tak jauh dari tempatku berdiri sehingga menimbulkan suara cukup keras. Fauzi dan Iqbal menoleh ke arahku.
“Sori.. enggak sengaja ketendang..” kataku cuek.

Sepuluh menit kemudian kami masih mengecat bagian masing-masing. Sesekali aku melirik ke arah Iqbal. Bodi Iqbal yang sedang telanjang memang sering aku lihat, tapi melihat bodinya yang mulai berkilat karena berkeringat baru hari ini. Dan itu membuatku sedikit Horny. Tetapi yang membuat aku kesal, kudapati Iqbal sesekali mencuri-curi pandang ke arah Fauzi. Huh! enggak nafsu ama badan kuli apaan? ini diliatin terus! gerutuku dalam hati.

“Duh.. panas banget ya?” celetukku tiba-tiba.
“Istirahat dulu aja mas! minum dulu.. sori ya, enggak ada kipas angin..” kata Fauzi.
“Tanggung ah, baru sepuluh menit…” lalu aku melepas kaus tanpa lenganku dan menggantungnya di pegangan pintu.”… nah, sekarang mendingan!” lanjutku sambil melirik ke arah Iqbal. Kulihat Iqbal melihatku dengan wajah seolah berkata ‘please deh!’

“Waaah… hasil badmintonan mas Remy, boleh juga ya?” kata Fauzi kagum. Aku cuma tersenyum simpul.

Iqbal menggeleng-gelengkan kepalanya kemudian melanjutkan mengecat. Lima menit kemudian ponsel Fauzi berbunyi.
“Halo?” katanya. Aku mendengarkan pecakapan Fauzi.
……..
“Musti ke sana? gak bisa diantar aja?”
……..
“Gimana sih…? kan tadi aku udah bilang apa aja yang dipesan…”
……..
“Ya udah! ya udah! aku ke sana!” Fauzi mengakhiri percakapan.

Fauzi kemudian mengantongi ponselnya. “Sori nih mas… aku mau ke toko material dulu. Katanya batako yang aku pesan enggak sesuai harganya nih… gapapa ditinggal sebentar?” tanyanya.
Aku menggeleng, “Pergi aja Zi, enggak apa-apa kok. Kita berdua aja yang ngelanjutin ngecat.” kataku. Iqbal mengangguk-angguk setuju.
“Ya udah… aku ndak lama Mas! makasih ya..” Fauzi menyambar kaus lorengnya dan pergi.
Sepeninggal Fauzi aku dan Iqbal tidak berbicara selama beberapa menit. Kemudian Iqbal bertanya, “Si Fauzi kira-kira lama enggak ya?”
“Emang kenapa?” tanyaku tanpa melihat ke arah Iqbal.
“Gue mau ngaku sama lu, ngeliat lu kerja trus keringetan gitu, bikin gue… horny.” Kata Iqbal.

Aku berhenti mengecat dan menoleh ke arah Iqbal. “Ane juga mau ngaku… sama…” kataku sambil tersenyum.
“Fauzi masih lama enggak ya?” tanya Iqbal sambil mendekat ke arahku.
“Ya… kalo enggak cepet-cepet, dianya keburu datang…”

Tanpa dikomando, aku dan Iqbal langsung meletakkan kaleng cat kami masing-masing dan bergegas menuju rumahku. Ketika sampai pintu aku hendak membuka topi petku namun Iqbal melarang. “Jangan… gue mau lu tetep pake topi itu…” Katanya serius.
Aku menuruti permintaan Iqbal dengan tidak melepas topiku, sambil tertawa geli aku menyusul Iqbal masuk rumahku dan menutup pintu.

****

Setelah kami selesai Iqbal dan aku telah memakai kembali celana pendek masing-masing namun masih di atas ranjang. Iqbal bersandar ke dinding sambil merokok. Aku yang sedang memain-mainkan jari-jari kakiku, sesekali mengibaskan tangan saat asap rokok Iqbal melewati wajahku.

“Ane mau cerita sesuatu tapi ente jangan marah ya?” tanyaku.
“Cerita apaan?” tanya Iqbal.
“Kemarin malem, si Nuzul.. cowok yang ane kenal di supermarket… dia nyium ane.” Aku bercerita hati-hati.

Iqbal mengisap rokoknya dalam-dalam dan menghembuskannya lalu bertanya,”Pipi apa bibir?”
“Mm… dua-duanya..”
“Lu enggak nolak?” tanya Iqbal tenang.
“Dianya tiba-tiba gitu….” lalu aku menjelaskan tentang situasi yang aku alami bersama Nuzul dan permasalahan yang dia hadapi.

Lama Iqbal terdiam kemudian dia berkata kembali.”Lu emang baik… tapi gue minta lu jangan ketemu si Nuzul lagi, please! bukan apa-apa. Gue khawatir si Nuzul naruh harepan sama lu! soalnya dari cerita lu, dia kayaknya belum pengalaman..”

Aku mengangguk-angguk setuju dengan permintaan Iqbal. Kekhawatiran yang dirasakan Iqbal memang kurasakan juga. “Iya.. ntar ane ngomong sama dia…”

Kemudian kami terdiam.
“Gue juga mau ngaku sama lu… lu juga jangan marah ya?” kata Iqbal.
Aku menoleh pada Iqbal dan menatapnya heran.
“Mmm… besok rencananya kita sekeluarga mau ke Kebun Raya… trus, waktu si Fauzi nelepon kemaren, gue enggak sengaja ngajak dia duluan sebelum mamanya Kayla ngajak lu. Makanya, nanti kalo mamanya Kayla nelepon lu ngajak ikut, lu pura-pura baru denger ya?” Pinta Iqbal polos.

“Ente perhatian bener ya sama si Fauzi sampe ngajak-ngajak ke kebun raya segala?” sindirku.
“Sori.. enggak sengaja, keceplosan…”
“Ck!” aku mendecak kesal. Kemudian aku meraih ponsel dan mencari-cari satu nomor dan menghubunginya.
“Lu nelepon siapa?” tanya Iqbal keheranan.

Aku tidak menjawab, sambil mendelik kesal ke arah Iqbal aku menunggu nada sambung diangkat.

“Halo? Hei.. lagi ngapain?”
“…….”
“Oh… eh! ente besok ada acara gak?”
“…….”
“Enggak, ane mau ngajakin piknik ke kebun raya sama temen ane… mau ikut?”
“…….”
“Bagus deh! berarti besok ane telepon lagi ya, Ya udah ya ZUL! oke! dah..!”

Aku menutup Flip ponselku dan meletakkannya lagi di meja. Kemudian aku turun dari ranjang. Iqbal menatapku keheranan. “Lu ngajak si Nuzul?” tanyanya.
“Iya… ente bisa ngajak si Fauzi, ane juga bisa ngajak si Nuzul!” kataku tak mau kalah.

Kemudian terdengar ketukkan pintu dan suara Fauzi memanggil. “Mas.. Mas Remy… ada di dalem?”
“Iya ada!” teriakku. Kulihat Iqbal menjatuhkan badannya ke atas ranjang sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

SI CEPAK / BOTAK

Memang malamnya Mbak Dini, Istrinya Iqbal, meneleponku dan mengajakku ikut ke kebun raya.

“Kok mendadak sih mbak?” tanyaku berpura-pura.
“Iya. Aku pikir Bang Iqbal dah ngasih tau Remy tadi pas ke rumah… Tadi ada bisnis jual tanah ya? buang-buang waktu aja deh!” gerutu Mbak Dini di ujung sana.
“Iya sih kayaknya… tadi soalnya dia ngobrolnya sama tetangga…”
“Ikut ya Rem! bantuin mbak Foto-in Kayla! dia pertama kalinya nih ke Kebun Raya, apalagi udah berapa hari ini enggak turun hujan, mbak pengen liat dia main bebas.”
“Mmmm… iya deh mbak! Oke… ntar aku tunggu deh di pintu gerbang.”
Kemudian aku menutup teleponku.

Paginya aku menunggu di Gerbang masuk utama Kebun Raya Bogor. Aku duduk menunggu yang lain datang di deretan anak tangga yang menjulang dimana ujung paling atasnya terdapat patung singa. Sambil menunggu aku melihat sekeliling. Tidak ada yang berubah di sini sejak terakhir kali aku datang libur lebaran tahun lalu. Perbedaannya hanyalah harga tiket yang sudah naik. Tadi pagi aku berangkat sendiri. Sepertinya Fauzi langsung berangkat dari Mess soalnya kulihat rumahnya kosong sejak malam minggu. Aku berangkat menggunakan Bus umum karena aku tidak mau repot-repot mencari tempat parkir motor.

Pada kemana sih? Kok belum ada yang datang? pikirku.

Lima menit kemudian aku melihat Iqbal dan Mbak Dini Istrinya tengah menuntun Kayla diantara mereka. Aku melambai pada mereka. Mbak Dini menunjuk ke arahku memberi tahu Kayla sehingga anak itu dengan riang berlari ke arahku. Aku berlari kecil menuruni anak tangga menyongsong Kayla yang datang ke arahku kemudian kugendong dia.

“Maaf ya Rem, kita telat. Abisnya kita nyari-nyari dulu kamera digital soalnya Mbak lupa naruhnya dimana…” Kata Mbak Dini.

“Gapapa kok Mbak…” Kataku. Kayla yang sedang kugendong menepuk-nepuk pipiku gemas dan aku kemudian mencium pipinya sehingga anak kecil itu tertawa geli. Iqbal diam saja, dia saat itu sedang merokok.

Tak lama kemudian yang lain ikut datang. Pertama Fauzi datang bersama Lis. Mereka juga datang dengan angkutan umum. Saat aku menyapa mereka, Lis memberiku senyum yang dipaksakan. Sebagai teman Yuli mungkin dia merasa berempati pada gagalnya perjodohan antara kami berdua. Kemudian Nuzul datang, dia diantar Fifi adiknya dengan Xenia Putih miliknya dan kemudian mobil itu pergi.

“Loh.. Fifi enggak ikut sekalian?” tanyaku pada Nuzul.
“Dia mau ke rumah temannya..” Nuzul menjelaskan.

Akhirnya kukenalkan semua orang yang baru pertama kali berjumpa di tempat ini. Orang-orang yang masing-masing menyimpan rahasia dan persoalannya sendiri. Canggung? tentu saja! Iqbal dan aku menyimpan rahasia terhadap Mbak Dini, Iqbal memandang Nuzul dengan tatapan menyelidik seakan-akan mencari sesuatu pada diri orang yang kuakui telah menciumku. Nuzul mungkin masih berharap sesuatu dari ciuman yang dia berikan padaku, Lis yang masih menyimpan amarah padaku karena tidak menggubris perjodohan dengan temannya-bahkan dia merasa berdosa terhadapnya juga karena dia bisa bersenang-senang piknik di sini sedangkan temannya tidak, dan Fauzi yang mungkin terheran-heran mencoba menduga seperti apa bentuk hubungan di antara kami.

“Hmm.. gimana dengan bekal makan siang? ada yang bawa?” tanyaku di tengah kecanggungan. Kami semua saling berpandangan seakan-akan kehilangan sesuatu yang sangat penting.
“Wah… enggak ada yang mikir buat bawa bekal ya?” Kataku sambil sedikit meringis.

Semua berebutan mengajukan usul. Aku menolak halus ide Iqbal yang mengusulkan agar kita semua makan siang di Cafe Dedaunan yang letaknya di dalam Kebun Raya, karena aku yakin tidak semua orang yang datang ke sini dapat berkompromi dengan harga makanan di cafe itu. Akhirnya aku mengusulkan untuk pergi ke restoran fastfood ayam goreng yang letaknya berada di Bogor Trade Mall tidak jauh dari pintu masuk kebun raya.

“Ya udah, ane yang ke sana beli.” Kata aku.
“Loh, kan gak ada motor, mas?” tanya Fauzi.
“Deket kok, jalan juga bisa.” Ujarku sambil tersenyum.
“Eh.. gua ikut mas! nanti takut berat bawanya…” Tiba-tiba Nuzul mengajukan diri untuk menemaniku. Aku melirik ke arah Iqbal, dia tidak bereaksi namun matanya menatapku aneh. Sesaat aku ragu, namun akhirnya kuterima juga tawaran Nuzul.
“Ng.. iya deh… thanks ya Zul.”

Di sepanjang trotoar menuju mall tempat restoran fastfood itu aku berfikir keras mencoba mengartikan tatapan aneh Iqbal. Sampai-sampai aku tidak memedulikan Nuzul yang berjalan di sampingku.

“Mas? mas? ngelamunin apaan sih?”
“Eh.. oh.. enggak Zul.. enggak apa-apa…” Kataku pelan tanpa mau menatapnya.
Nuzul kemudian terdiam sementara kami masih terus berjalan menyusuri trotoar. Kemudian Nuzul berkata, “Mas, marah sama gua ya? gara-gara gua cium waktu itu?”
“Marah? enggak. Kalo ane marah ngapain ane ngajak ente piknik begini?” Aku balik bertanya.

Nuzul tiba-tiba tersenyum senang nyaris tertawa. Aku memandangnya dengan dahi berkerut, “Ente kenapa?” tanyaku.
“Berarti gua ada harapan dong?” kata Nuzul.
“Harapan?” tanyaku khawatir dan berharap ini tidak seperti yang aku takutkan.
“Iya.. eh! mas, kita nyebrang dulu!” Kata Nuzul sambil tiba-tiba melangkah melintasi jalan raya menuju seberang. Aku buru-buru menyusulnya.

Aku tidak bisa bertanya lebih lanjut maksud perkataan Nuzul karena kita sudah masuk ke dalam mall dan dia terus berjalan menuju restoran fastfood itu. Aku juga tidak bisa bertanya karena banyak orang di sekitar kami. Akhirnya setelah mengantri di kasir dan menunggu di meja karena pesanan kami cukup banyak, aku bisa bertanya kembali pada Nuzul.

“Harapan apa maksud ente?” kataku sambil merendahkan suara. Di meja sebelah kami duduk dua orang cewek ABG yang sedang makan.
“Yah, mas tahu sendiri, gua belum punya pengalaman punya.. ng..(dia melirik ke meja sebelah) …pacar!”
“Jangan bilang lo berharap sesuatu dari ane… ane gak bisa.” kataku.
“Mas! gua enggak pernah bisa seterbuka ini… gua merasa udah nemuin orang yang tepat buat bisa berbagi…” Kata Nuzul. Dia memain-mainkan plastik bertuliskan nomor meja yang tadi diberikan si kasir.
“Tapi bukan berarti ente siap berhubungan dengan orang pertama yang tahu kalo… (giliran aku melirik ke meja sebelah) …tahu kondisi ente sebenernya…” aku berbicara nyaris berbisik.
“Mas gimana sih? gua yakin kalo waktu itu mas juga ngebales… waktu gua cium.”

Aku baru mau menjawab ketika si cowok pelayan restoran mengantarkan pesanan kami. Lalu Nuzul mengambil salah satu dari dua bungkusan plastik besar dan langsung beranjak ke luar. Aku menghela nafas dan menyusul Nuzul keluar.

“Zul! tunggu!” Kataku mengejar Nuzul yang berjalan cepat di trotoar. Nuzul tidak melambatkan jalannya hingga aku harus setengah berlari agar dapat menyusulnya.
“Siapa sih Mas? pasti si tentara itu ya? Fauzi?” Tanya Nuzul tiba-tiba sambil menghentikan langkahnya hingga Aku nyaris menabraknya.
“Atau Pak Iqbal itu?” cecarnya lagi tanpa memberi kesempatan padaku menjawab. “Kalau memang bener salah satu dari mereka, Mas sakit!!”
“Sakit? maksud ente apaan?” kataku mulai tak sabar.
“Iya! mas sakit! ngapain sengaja bikin acara ketemuan kayak gini? apa enggak mikirin perasaan ceweknya mereka mas?” Kata Nuzul.
Aku tertegun mendengar perkataannya. Lalu aku mencoba meyakinkannya “Enggak ada satupun Zul! enggak ada…”
Nuzul menatapku ragu.

Aku benar-benar tidak menyukai suasana seperti ini. Setelah makan siang yang penuh kecanggungan dan obrolan yang berisi basa-basi dan percakapan tak penting, (sampai-sampai kulihat Mbak Dini sesekali kebingungan melihat kami yang seperti sedang main diam-diaman) kami beristirahat di sebuah lapangan. Aku menemani sambil mengambil foto Kayla yang sedang bermain bola di lapangan. Aku mengejarnya kesana kemari sambil terus menerus membujuknya agar melihat ke arah kamera digital yang kupegang. Mbak Dini berteduh di salah satu pohon besar yang berjejer di pinggir lapangan, dia duduk di atas tikar plastik yang banyak dijual sambil memerhatikan aku dan Kayla yang sedang bermain di lapangan. Iqbal duduk bersandar agak jauh dari istrinya itu sambil terus merokok, Kulihat Fauzi dan Lis sedang mojok dan asyik mengobrol di sebuah pohon yang letaknya lebih jauh dari tempat Mbak Dini. Sedang aku melihat Nuzul duduk di samping Mbak Dini sambil membaca sebuah novel. Nuzul memasang wajah masam, sesekali dia melirik ke arahku, kemudian dia melihat ke jam tangan neonnya, kelihatannya dia tidak sabar ingin segera pergi dari tempat ini.

Setelah hampir setengah jam, Mbak Dini memanggil Kayla. Gadis kecil itu berlari ke arah ibunya itu sambil membawa bola di tangannya. Aku menyusul Kayla dan duduk di samping Mbak Dini, kemudian aku mengelap dahiku yang berkeringat dengan sapu tangan.

“Waduh… Kayla enggak ada capeknya mbak…” Kataku.
“Gimana Rem? banyak fotonya?” tanya Mbak Dini. Aku menyerahkan kamera digital padanya dan Mbak Dini mulai melihat hasil jepretanku pada layarnya.
“Banyak yang bagus kok Mbak, pilih aja..”
“Oya Rem, Mbak pernah ke Rumah kaca khusus tanaman anggrek di sini, tapi Bang Iqbal belum pernah tuh, bisa tolong ajak ke sana gak? Mbak agak malas nemenin…” pinta Mbak Dini.

Aku melirik ke arah Iqbal, dia tidak bereaksi. Sepertinya dia juga malas kalau hanya berdua ke sana.

“Ng.. iya mbak.. kalo Bang Iqbal nya mau sih…” kataku sambil melihat reaksinya, “…apalagi aku penasaran, koleksi Anthurium di situ udah nambah belom ya?”
Rupanya pancinganku soal Anthurium mengena. Iqbal sekilas walau masih terlihat gengsi, membuang rokoknya dan berdiri. Kemudian tanpa memedulikan aku dia mulai berjalan.
“Zul, mau ikut?”

Nuzul menggeleng tanpa melepaskan perhatiannya pada buku yang dia baca. Aku tidak memaksanya.
“Bawa nih Rem, fotoin buat Mbak anggrek yang bagus ya?” pinta Mbak Dini sambil menyerahkan kamera digitalnya.
“Oke mbak!” aku menerima kamera itu dan segera menyusul Iqbal.

Aku berjalan dibelakang Iqbal, kami berdua tidak berbicara apapun. Sampai tiba di persimpangan Iqbal sesaat kebingungan memilih jalan kemudian memutuskan mengambil jalan yang berlawanan arah menuju rumah anggrek.
“Jalannya ke sini..” kataku. Iqbal menoleh dan mengikutiku.

Akhirnya kami sampai di rumah kaca khusus tanaman anggrek itu. Bangunan itu memanjang dengan pintu masuk tepat berada ditengah-tengah. Letaknya yang tertutup taman dan lebih rendah dari tanah sekitarnya membuat tempat ini jarang dikunjungi orang-orang yang datang ke kebun raya.

Sebelum masuk, kami berdua harus membayar tiket masuk terlebih dahulu. Di lantai dasar terdapat pot-pot bibit anggrek yang akan di jual. Ruangan bergaya kolonial itu dihiasi pula gambar-gambar anggrek. Di salah satu sudutnya terdapat foto-foto dengan masing-masing piguranya yang merupakan foto kepala Kebun Raya dari mulai jaman Belanda hingga saat ini.
Dan beberapa pot berisi tanaman yang sedang populer saat ini yaitu Anthurium atau pohon gelombang cinta. Yang paling menarik perhatian adalah sebuah pot berisi anthurium besar dengan daun-daunya yang lebar dan menjulang tinggi. Cukup lama Iqbal memandang tumbuhan itu sambil terkagum-kagum sampai akhirnya dia berkata, “Berapa kira-kira harganya ya?”

Aku menoleh ke arah Iqbal dengan takjub. Dia yang merasa aneh kutatap seperti itu, akhirnya bertanya “Kenapa?”
“Enggak… kirain dari tadi lagi sariawan…” kataku.

Kemudian Iqbal mengajakku ke ruangan di sayap kiri bangunan. Kami disambut dengan udara hangat dan lembab dengan siraman butir-butir air halus yang keluar dari pipa-pipa besi bermoncong seperti shower yang tergantung di atas langit-langit. Ruangan sayap kiri ini terdiri dari tanaman epifit sejenis anggrek yang tidak berbunga. Kami tidak berlama-lama di ruangan itu dan langsung menuju ke ruangan di sayap kanan bangunan.

Ruangan sebelah kanan ini penuh dihiasi berbagai macam anggrek yang bunganya berwarna-warni. Sama seperti ruangan sebelah kiri, ruangan sebelah kanan ini pun terasa lembab dan hangat. Aku terkagum-kagum dengan indahnya bunga anggrek yang bergelantungan di potnya dan sesekali mengambil fotonya. Iqbal berdiri memandangi sebuah kolam tepat di ujung ruangan dengan hiasan bebatuan yang ditanami berbagai macam pohon anggrek, semburan air di situ lebih kencang ditambah dengan adanya pancuran membuat lantai disekitarnya sangat basah. Aku menghampiri Iqbal dan berdiri di sampingnya, kemudian aku mengantungi kamera digital milik mbak dini karena khawatir rusak terkena siraman air.

“Ente bener soal Nuzul..”
Iqbal menoleh ke arahku.
“Anak itu emang mengaharap sesuatu yang lebih sejak kejadian di cafe itu…” lanjutku.
Iqbal masih diam.
“Trus dia tanya sebenernya ane sudah ada hubungan dengan siapa…”
“Elu jawab apaan?” tanya Iqbal akhirnya.
“Ane enggak ngaku…”

“Kenapa elu enggak jujur aja sih bilang sama dia? Itu kan sama aja elu masih ngasih harapan” protes Iqbal.

Aku tidak menjawab. Kemudian Iqbal mengajakku naik ke lantai dua. “Di sini basah banget, kita lihat dari atas yuk?” Iqbal memerhatikan kemejanya yang kini mulai kelihatan lembab.

Lantai dua rumah kaca ini terdiri dari ruangan yang lebih luas dengan dinding yang hanya dihiasi oleh beberapa foto anggrek. Di kanan kiri pintu terdapat balkon yang menjorok dengan dikelilingi pagar dari besi, sehingga pengunjung dapat melihat tanaman anggrek dari atas masing-masing ruangan.

Di atas balkon ini rupanya siraman butiran air lebih terasa. Aku bersandar dan melihat ke bawah. Di bawah tidak ada siapapun. Aku tersenyum memikirkan sesuatu hingga Iqbal bertanya. “Kenapa senyum-senyum?”

“Udah pernah ngerasain wet kiss belum?” godaku.
“Wet kiss?” tanya Iqbal.
“Iya… kita ciuman ditengah kabut basah kayak gini… kan wet kiss tuh…” kataku geli.

Iqbal menoleh ke kanan dan ke kiri lalu bertanya padaku, “Di sini?”
Aku mengangguk. Kemudian aku mendekati Iqbal dan mencium bibirnya tepat dibawah siraman butiran butiran air halus. Cukup lama kami berciuman di atas balkon itu sampai terdengar suara benturan di pagar besi balkon. Aku terkejut dan menoleh ke arah pintu dan sekilas kulihat sosok Nuzul dari belakang terburu-buru pergi menuruni tangga.

“Eh… itu Nuzul kan?” tanyaku tak yakin. Aku beranjak hendak pergi menyusulnya, namun Iqbal menahan lenganku. “Jangan dikejar… biarin aja…” katanya.
“Tapi…” kataku bimbang.
“Ngapain elu ngejar dia? ngasih penjelasan? kan yang dia lihat juga udah cukup jelas…” Kata Iqbal.

Aku melepaskan tanganku yang dipegangi oleh Iqbal dan buru-buru pergi menuju pintu.
“Kalo elu masih ngejar dia… kita berdua selesai sampai di sini…” Kata Iqbal tajam.
Aku menghentikan langkahku dan menoleh ke arahnya.

Aku tidak menyangka Iqbal akan berkata seperti itu. Kakiku mendadak susah digerakkan. Tanganku terkepal dan perlahan aku membalikkan badanku ke arahnya.

“Apa?” tanyaku.
Iqbal tidak mengulangi perkataannya, tangannya terkepal dan ditekankan ke pagar besi. Rahangnya dia katupkan erat-erat seperti menahan amarah.
Aku bingung harus berbuat apa, akhirnya dengan perasaan kacau aku memutuskan meninggalkan Iqbal dan menyusul Nuzul.

“Remy!!” Aku tidak menggubris panggilan Iqbal, sampai di luar aku mencari-cari kira-kira ke arah mana Nuzul pergi. Aku memutuskan mengambil salah satu jalan setapak yang tertutupi tumbuhan di kanan-kirinya. Akhirnya kudapati Nuzul sedang duduk di salah satu Gazebo yang terlindung oleh semak rimbun. Sesaat kukira dia sedang menangis, namun rupanya hanya wajahnya saja yang terlihat kemerahan. Dia duduk diam sementara tangannya memegang HP. Matanya lurus menatap ke depan tidak memedulikan aku yang menghampiri dan kemudian duduk di sebelahnya. Sampai kira-kira satu menit kami hanya terdiam. Akhirnya Nuzul memulai percakapan.

“Kenapa mas bohong? kenapa mas bilang enggak ada hubungan dengan salah satu dari mereka?” tanyanya.
Lama Aku tidak menjawab, “sori..” cuma itu yang akhirnya bisa kuucapkan sambil memandangi jari-jari kakiku sendiri.
“Yah… gua juga sadar mas, kita baru kenal… harusnya gua enggak terlalu berharap… bener kata mas.” lanjut Nuzul pelan.

Angin berhembus menggoyangkan pepohonan dan mengenai tubuhku. Entah mengapa aku merasa lebih dingin dari yang seharusnya kurasakan. Perasaan bersalahlah yang kukira menyebabkan aku seperti saat ini. Akulah yang menyebabkan Nuzul terlibat dalam situasi ini karena keegoisanku dan sifat kekanak-kanakanku yang hanya ingin membuat Iqbal kesal. Tenggorokanku kering. Aku merasa menjadi orang yang sangat jahat.

“Ane berharap kita bisa temenan Zul…”
“Gua juga berharap begitu mas… tapi gua ngerasa enggak bakalan sanggup ngeliat orang yang kita sukai… bersama orang lain. Mas ngerti kan?”
Aku mengangguk. Kemudian Nuzul melompat dari tempat duduknya. Dengan senyum yang dipaksakan dia memandangku. “Oya… Pak Iqbal Jangan ditinggalin kelamaan mas! gua sekarang mau pulang duluan. Barusan gua telepon Fifi supaya jemput.”
“Zul…” panggilku tak tahu lagi harus berkata apa.
“Yah… gua pergi dulu ya mas? kita berdua ketemu karena kebetulan. Kalau emang kita masih berjodoh…. sebagai teman, pasti kita akan ketemu lagi secara kebetulan juga…” Nuzul berkata sambil tersenyum sementara tangannya menepuk-nepuk tanganku. Lalu dia pergi meninggalkanku sendiri di Gazebo dan memandang sosoknya yang menghilang dibalik rindangnya pepohonan.

****

Aku berlari terengah-engah menuju rumah anggrek, karena aku sudah keluar dan harus membayar lagi jika hendak masuk kembali, aku memutuskan bertanya pada cewek penjual tiket.
“Mbak, temenku yang pake kemeja kuning masih ada di atas?”
Si cewek penjual tiket saling berpandangan dengan rekan cowoknya. Akhirnya si Cowoklah yang menjawab. “Kayaknya udah pergi enggak lama abis Mas keluar tadi…”
“Oh, gitu… makasih ya!” kataku.

Aku kembali berlari menuju lapangan tempat kami beristirahat, aku berdiri di tengah lapangan berputar-putar berusaha mencari sosok-sosok yang aku kenal. Tapi tidak ada Iqbal, tidak ada Mbak Dini, Kayla bahkan Fauzi dan Lis… Aku melihat ke arah yang aku yakini sebagai tempat Mbak Dini tadi berteduh. Yang tertinggal hanya selembar tikar plastik hitam yang bergerak-gerak tertiup angin. Dengan gemetar aku mengambil handphone ku dan dalam kegugupan aku mencari-cari nomor HP Iqbal. Jantungku berdetak kencang mendengarkan nada sambung yang menunggu untuk dijawab. Namun setelah dering ke empat, tiba-tiba langsung terdengar nada sibuk. Iqbal telah menolak menjawab panggilan telepon dariku!. Aku memandang layar HP ku dengan tatapan kosong.

Tak lama ponselku berbunyi. Sebuah SMS masuk dari Iqbal. Aku membukanya dan membaca isi SMS itu.

“Gue anggap lo udah menentukan pilihan waktu di rumah anggrek.”

Dengan lemah aku mengantungi HP ku, kakiku kembali tidak dapat bergerak. Aku berdiri di tengah lapangan di bawah terik sinar matahari, namun yang kurasakan hanya rasa dingin yang menusuk di hati. Walaupun aku kini berada di tengah keramaian lapangan, aku merasakan perasaan lain… Tiba-tiba aku merasa sangat kesepian…

*****

Dari balik selimut yang menutupi wajahku aku dapat mendengar walau samar-samar adik perempuanku sedang berbincang dengan mama diluar kamar. Dia belum berangkat kerja karena dia berangkat agak siang. Aku memutuskan mengambil cuti hari seninnya karena merasa tidak enak badan dan memilih menginap di rumah orangtuaku.

“Kenapa sih si A’a?” tanya adikku.
“Enggak tahu… enggak cerita. Tadi malam abis minta dipijit sama mama, dia langsung tidur.”
“Ada masalah apa sih?” adikku kini mulai berbisik.
“Putus sama pacarnya kali?”
“Iya kali…”

Akhirnya kudengar mereka menjauh dari pintu kamarku. Aku kemudian melempar selimutku dan turun dari ranjang. Aku bercermin, kudapati wajah kuyu terpantul disitu. Rambut berdiri, Mata membengkak dengan kantungnya yang menghitam akibat tidak dapat tidur semalam. Saat aku mengecek ponselku, tidak ada telepon maupun sms dari Iqbal. Huh.. aku benar-benar kesepian.

SUKA CERITA INI DAN TAK SABAR MENUNGGU LANJUTANNYA?
HEART STATION DALAM BENTUK NOVEL??
Klik http://wp.me/p2Jz37-5I UNTUK CARA PEMESANAN
ATAU INVITE PIN BB PENULIS 7E730313 UNTUK DIBANTU PESAN

http://nulisbuku.com/books/view_book/1107/heart-station

-bersambung-

 

Advertisements
Comments
  1. Bar says:

    Plis GUA Mohon Jangan Ampe REMY Ama IQBAL Putus !!! GUA Cinta Mati Banget Ama IQBAL… GUA Paleng Suka Ama Scene-Scene REMY-IQBAL…

  2. raihan says:

    Makin seru ja….

  3. raihan says:

    Ternyata harga novelnya murah ya… endingnya… kalian baca ja… sungguh kisah nyata yg bener2 nyentuh… feel bahagia, sedih, ketakutan.. ada semua… salut buat bang remy…. salah satu novel yaoi the besr yang perbah kubaca… 1000 jempol buat abang…

  4. regular walker says:

    Spoiler gak sih bang kalo gue bilang gue paling suka bagian yang lelompatan perbatasan bogor depok?…adorable!!!!

  5. rian says:

    Novelnya ada jual gak, biar gak penasaran tiap nunggu bersambung, adminnya kalau bisa dikontak ksih tahu lah gimana mau beli novelnya thanks

  6. @julian_bougru says:

    Cerita kali ini bener2 serasa kebawa jd tokohnya, secara saia beneran orang bgr, jd lokasi n tempat yg diceritain bener2 nampak jelas difikiran bang ๐Ÿ˜€

  7. arifnathanael says:

    Aku udh kirim email ke nulisbuku.com , buat pesen novel heart station nya.. tpi kok belum di bls ya??

  8. Arif Valerious says:

    Aku udh pesen novel heart station nya lwat nulisbuku.com
    tapi kok belum di bls ya??

  9. @julian_bougru says:

    Hmmm.. Baca cerita heart stations ini bener2 serasa jd tokohnya deh, secara saia beneran orang bogor, jd buat smua hal dan tempat yg diceritain bener2 serasa menyeret saia masuk kdlm ceritanya deh ๐Ÿ˜€

  10. Dhafa says:

    Dari awal udah suka banget ma cerita ini…complicated,brasa jadi salah satu tokohnya,di bogor pula ..pas bangets…

  11. Dhafa says:

    berharap nantinya Remy jadian ma Fauzi…hehehehehehe ngarep juga sama aparat soalnya akunya hehehehehee

  12. herky says:

    ditoko buku ada gak min novel nya???? penasaran nh…

  13. Maro says:

    Udh pesan bukunya, udh transfer, tinggal nunggu bukunya datang. Tp kelamaan…, udh ga sabar pengen tau kelanjutanya. Yg aku harapkan natural, tdk terkesan lebay jdnya.

  14. Galih says:

    Kayak nya hidup di posisi sang PU mantap ya , , di kelilingi manusia2 yg Wow . . . Coba disini ada satu aja yang model gth wah ane da yg jd org pertama daftar . . Hehehehe . .dr pertama baca udah panas dingin badan . . .sukses da buat sang penulis

  15. Anggara says:

    Ini update lagi tiap brp hari sekali bang remy?

  16. Arif Valerious says:

    Ngga sabar nih, novelnya dateng nya msh lama..
    huhu

  17. erwin says:

    udah pernah baca jaman dulu banget, udah pernah ketemu sm remy juga .. dulu judulnya kalo ga salah how to get a straight man . rem ym lo dah jarang aktiv yeee

  18. Andde Andde Lummut Komentator Abal2 Dufei Komentator Ecek2 says:

    bagus. Tanya: ari part 1 – 3 kamana?

  19. Uggy says:

    Gue suka nhe cerita….
    Ditunggu kelanjutannya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s