HS-3HEART STATION
By: Abang Remy Linguini

Mungkin ada yang penasaran, novel Heart Station itu ceritanya apa ya? Penulis akan posting di sini, siapa tahu ada yang berminat buat beli novelnya. 😀

PART 3 – BRONIS GERBONG SATU

Seperti yang kubilang di awal cerita, pagi-pagi aku naik kereta express, sedangkan sore pulang kerja aku memilih menggunakan kereta kelas ekonomi. Selain menghemat ongkos, kereta ekonomi sore hari membuat Waktu tempuh sampai rumah malah lebih cepat kalau aku bisa mengejar jadwal jam setengah enam lewat sepuluh.
Iqbal hampir tidak pernah pulang naik kereta yang sama denganku. Karena dia pulang jam 6 sore, dia naik kereta ekspress jam 6:21. Paling-paling kalau kita habis jalan-jalan sepulang kerja, kita pulang menggunakan bus.
Pengalamanku naik kereta ekonomi, setiap gerbong itu pasti dipenuhi 3B alias Babun-babun Berisik. Julukan itu kuberikan kepada penumpang yang bergerombol, membentuk geng, dan janjian naik gerbong yang sama serta sangat ramai kalau berbicara. Satu geng disini bukan berarti harus orang yang seusia. Bisa saja satu kelompok 3B terdiri dari Cewek SPG yang selalu memakai jeans katrok plus kaus milik adiknya (kekecilan), bapak-bapak setengah baya yang genit dan suka mengambil kesempatan memegang-megang si cewek SPG, Cowok SPB yang kadang-kadang juga pacarnya si cewek SPG, atau kadang ibu-ibu yang kelihatan sudah berumur juga ikut gabung. Pokoknya dalam satu geng itu rupa-rupa deh bentuknya.
Hmm… ternyata penilaianku sedikit salah. Kalau kamu sedikit jeli ketika naik gerbong kereta ekonomi, diantara para 3B pasti terselip cewek-cewek bening dan brondong-brondong cakep yang masih fresh, walaupun termasuk golongan minoritas. Berbeda sekali dengan kereta ekspress dimana jarang sekali ada penumpang cewek bening dan brondong fresh. Karena kebanyakan sudah berumur, berkeluarga dan sudah bekerja lama (tidak termasuk aku lho….) dan mapan yang mampu membeli tiket express setiap hari.
Stasiun atas angin tempat aku menunggu kereta sore hari, jaraknya lebih dekat dengan kantor dibandingkan dengan stasiun Kota tempat aku turun saat berangkat kerja. Lagipula kereta ekspress tidak berhenti di stasiun ini. Biasanya aku memilih menunggu di peron tempat gerbong nomor dua akan berhenti. Ya, kalau naik kereta ekonomi aku selalu naik di gerbong kedua.
Nah, diantara brondong-brondong fresh itu, ada salah satu cowok yang menarik perhatianku, dia salah satu anggota dari kelompok yang terdiri dari 5 orang cowok. Geng itu selalu naik di gerbong satu.

Bagaimana ya mendeskripsikan cowok itu? Dengan t-shirt gaul, jins slim fit, sepatu kets dan rambut pendek bergaya messy look, dipadukan dengan wajahnya yang tampan, sangat mudah bagi si cowok itu menjadi pusat perhatian dan lirikan cewek-cewek yang menunggu di peron. Aku jadi teringat salah satu iklan softdrink yang lagunya seperti ini: “You’re my sunshine…”
Aku yakin sekali, cowok itu sadar diri kalau dia keren, dan menikmati menjadi pusat perhatian. Kadang-kadang diantara teman se-geng nya, si Broniez (Brondong Manis – sebut begitu saja ya) ditempel seorang cewek (sejenis SPG) yang sepertinya adalah pacar si Broniez.
Sebenarnya tidak ada niatan untuk masuk ke salah satu geng itu. Sebab kupikir lebih baik mendengarkan musik daripada menjadi orang yang berisik. Apalagi ingin berkenalan dengan si Broniez.. bagiku sudah cukup deh jadi pengamat saja, tidak perlu memaksa mengikuti dia naik di gerbong satu. Seperti sore itu saat aku duduk di salah satu bangku panjang peron, si Broniez lewat didepanku bersama ceweknya dan teman-temannya. Tanpa sadar aku menggumamkan lagu “you’re my sunshine….” sampai-sampai seorang ibu yang duduk tak jauh disebelahku menoleh heran.
Kereta akhirnya datang. Aku naik di gerbong dua, si broniez di gerbong satu.

Sore itu aku melihat kabar di Krlmania.com bahwa gara-gara ada yang menarik tuas rem darurat dan membuat kereta itu mogok, maka seluruh kereta terlambat masuk Jakarta. Akibatnya penumpang yang hendak pulang ke Bogor bertumpuk-tumpuk di stasiun, resah menunggu kedatangan kereta.
Sudah jam setengah tujuh lewat, langit sudah gelap namun kereta tak kunjung datang. Iqbal meneleponku.
“Halo?” jawabku.
“Ada di mana?” tanya Iqbal.
“Masih di stasiun Jayakarta”
“Udah, lu ke stasiun kota aja..”
“Sama aja… yang ekspress juga belum ada kan?” kataku.
“Iya… kalo enggak kita naik bus aja..” saran Iqbal.
“Tanggung ah.. kayaknya keretanya mau datang. Udah dulu ya..” kataku menyudahi pembicaraan.
Benar saja, dari arah selatan kereta ekonomi menuju Jakarta akhirnya datang. Kereta itu hendak menuju stasiun kota terlebih dahulu sebelum akhirnya kembali ke bogor. Beberapa orang termasuk aku memilih turun dari peron hendak naik di seberang, rupanya gerbong itupun telah dijejali penumpang dari stasiun-stasiun sebelumnya yang rela mengikut gerbong sampai Kota terlebih dahulu.
Melihat gerbong yang padat, aku mengurungkan niat dan hendak kembali naik ke peron. Tapi, Astaga!! baru aku sadar. Karena aku tidak pernah meloncat dari peron, aku tidak pernah mengukur kalau tinggi peron itu nyaris sebahuku. Aku mencoba naik, namun gagal bahkan kakiku terantuk beton peron. Saat aku mulai panik dan malu karena belum berhasil naik, seseorang mengulurkan tangannya. Aku meraih tangannya dan dia membantuku naik tanpa aku sempat melihat wajah si penolong.
Setelah diatas peron aku menepuk-nepuk debu di ranselku. “Makasih ya,” ujarku. Ucapanku tertahan setelah melihat wajah tampan si penolong yang sedang tersenyum. Rupanya yang barusan mengulurkan tangan membantuku adalah si Broniez….

“Kakinya sakit gak Koh?” tanya si Broniez. Rupanya dia memerhatikan aku yang meringis saat terantuk tadi.
“Eh.. enggak kok.” jawabku berbohong. Padahal rasanya sakit sekali, tapi aku menahan keinginanku untuk mengusap bagian yang terantuk itu, yang aku yakin satu jam lagi pasti akan membengkak.

“Gak usah maksain naik yang itu Koh, bentar lagi ada bantuan kereta kosong dari Dipo bukit duri..” lanjut si Broniez. Aku hanya mengangguk-angguk.
Saat itu empat teman si Broniez sedang mengobrol sementara cewek si Broniez sedang asyik memainkan ponsel. Cewek SPG itu buru-buru mengalihkan perhatiannya kembali ke ponselnya saat aku tersadar kalau dia sedang mencuri-curi pandang ke arahku.

Kereta kosong yang disebut si Broniez memang akhirnya datang. Aku bergegas menuju pintu masuk gerbong dua.
“Koh! disini aja! bareng kita..” ajak si Broniez menunjuk pintu gerbong pertama. Teman-temannya sudah masuk lebih dulu.
Aku menggeleng lalu mengucapkan terima kasih sekali lagi sebelum akhirnya masuk ke dalam gerbong.
Hari berikutnya aku tidak melihat si Broniez ikut geng nya. Hari berikutnya lagi dia lewat didepanku sambil melambaikan tangan sebagai isyarat menyapaku, aku membalas lambaiannya sementara ceweknya sibuk dengan ponselnya tetapi matanya sesekali melirik ke arahku. Begitulah, aku dan si Broniez hanya sebatas bertegur sapa saja setiap sore.
—–
Siang itu Iqbal mengajakku ke Mangga dua Square untuk menemaninya mencari ponsel CDMA yang sedang diskon harga. Luasnya Mangga dua square membuatku bingung. Aku menyarankan Iqbal untuk langsung mencari ke Lantai dimana sentra HP dan elektronik berada walaupun Iqbal sebenarnya ingin lebih dahulu melihat ke supermarket di basement.
Kami mendatangi salah satu counter ponsel dan bertanya-tanya soal ponsel yang diincar Iqbal. Saat aku sedang asyik mengamati dummy ponsel itu, dari belakangku terdengar suara yang sepertinya kukenal.
“Koh.. kalo mau liat HP disini aja… banyak pilihan… harga spesial deh buat Koko…”
Aku menoleh, ternyata si Broniez yang memanggil. Dia duduk di counter seberang sambil tersenyum ke arahku.
Aku beranjak dari kursi meninggalkan Iqbal yang sedang berbicara dengan si mbak counter ponsel.
“Oh.. ente kerja di sini?” tanyaku sambil menarik bangku plastik dan duduk di atasnya.
“Iya Koh.” Jawab si Broniez.
“Emang kalo counter tutupnya jam brapa?” tanyaku lagi.
“Yah.. jam lima juga udah beres-beres…” jawabnya.
Aku mengangguk-angguk paham.
“Turun stasiun mana?” tanyaku.
“Bojong gede. sama ama Koko… Kan kalo pagi-pagi saya suka liat Koko nunggu di ujung. Kalo saya sih naek yang ekonomi sebelum ekspress…”
Aku heran kalau ternyata dia memerhatikan aku. Aku tidak pernah mengamati penumpang-penumpang yang naik ekonomi saat mereka hendak naik.
“Tapi kalo sore ane gak pernah liat ente turun sama-sama di Bojong?”
“Biasanya sih saya turun di cawang, maghriban dulu… baru nyambung lagi” kata si Broniez.
“Iya ya… kalo ngikut terus enggak pernah dapet maghrib.” ujarku agak malu.
“Lho.. koko muslim?” tanya Broniez heran. Hal itu sering ditanyakan padaku.
“Iya, emang kenapa? gak boleh?” Pancingku.
“Eh.. enggak kok..” si Broniez salah tingkah.
Aku nyaris tertawa. Akhirnya aku alihkan pembicaraan.
“Nanti sore biasa? nunggu di Jayakarta?” tanyaku.
Si Broniez mengiyakan.
“Koh, nih kartu nama saya.. No. HP juga ada di situ.. nanti kan bisa kontak-kontakan kalo ada kabar gangguan kereta.” Broniez menyerahkan kartu namanya.
Aku menerima kartu nama itu. Tertulis nama counter handphone dan namanya sendiri di situ. Oh.. si Broniez ini ternyata bernama HASANUDDIN.

——-

“Hasan ya?” tanyaku, “Ane Remy..” aku mengulurkan tanganku dan si Broniez yang bernama Hasan itu menjabatnya.
“Let’s go..” Iqbal ternyata sudah berdiri di sampingku sambil menenteng bungkusan berisi ponsel.
Iqbal memandangi si Hasan dengan dahi berkerut.
“Ya udah San, ntar ane sms-in nomer ane deh…” Kataku sambil mengikuti Iqbal yang sudah melangkah duluan.
Hasan hanya mengangguk sambil tersenyum.
Aku berlari kecil merendengi jalan Iqbal. “Siapa?” tanyanya.
“Kenalan di kereta..” jawabku sambil mengantongi kartu namanya.
Iqbal terdiam.
“Thanks ya udah nemenin nyari HP, ntar sore gue traktir makan dulu. Pulangnya kita naik bus aja.” Iqbal berkata tanpa memandangku.
“Enggak usah nraktir, cuma nemenin beli HP aja kok…” tolakku.
“Pokoknya entar sore kita makan trus pulang naik bus!” kata Iqbal lagi dengan nada yang meninggi. Langkahku terhenti karena bingung dengan sikap Iqbal namun Iqbal terus berjalan meninggalkan aku sehingga sekali lagi aku harus mengejarnya.
Akhirnya sore hari itu aku tidak bertemu dengan Hasan.

—–

Keuntungan mempunyai adik seorang jurnalis adalah, aku sering kebagian kaus-kaus merchandize yang didapat adikku saat premiere film, peluncuran produk ataupun event-event tertentu. Karenanya saat hari jum’at dimana kantor membolehkan karyawannya memakai pakaian bebas, aku sering berangkat kerja dengan kaus tersebut. Seperti jum’at ini aku memakai kaus hitam salah satu film yang akan keluar.
Sorenya aku agak telat sampai stasiun. Hasan sudah ada di situ cuma ditemani seorang temannya. Saat dia melihatku aku mengangkat tangan kananku tanda menyapa, dia pun membalas dengan mengangkat tangannya.
“Kereta belum lewat ya?” tanyaku setelah sampai didekat Hasan.
“Blom, kayaknya agak telat mas.” Jawabnya. Tumben, hari ini dia memanggil aku Mas.
“Lho… temen-temen 3B nya mana?” tanyaku tidak sadar kalau Hasan pasti tidak akan mengerti.
“3B? Bukan Bintang Biasa?” tanya Hasan keheranan.
“Maksud ane, temen-temenmu… kok enggak bareng….” Aku menjelaskan nyaris tertawa. Bukan Bintang Biasa? Babun-babun berisik tahu! ujarku dalam hati.
“Yang lain ada acara, saya sama temen saya Dion aja yang pulang..” Jawab Hasan sambil menunjuk cowok kurus berjanggut kambing. Cowok yang ditunjuk menganggukkan kepala sambil tersenyum padaku. Aku balas tersenyum.
Kereta akhirnya datang. Rupanya gerbong dua kereta itu adalah gerbong 3G: Gerbong Gelap Gulita.
“Mas.. ikut gerbong satu aja! gerbong dua gelap tuh..!” Ajak Hasan sambil melompat ke pintu.
Semula aku agak ragu, tapi gerbong satu yang diterangi lampu membuat aku mengikuti ajakan Hasan. Akhirnya aku berlari ke pintu masuk gerbong satu. Sampai didalam aku celingukan mencari Hasan. Ternyata dia berdiri di Pojokan, tangannya memberi isyarat supaya aku mendekat. Aku menghampirinya.
Dalam perjalanan kami berdua mengobrol.
“Urang sunda… tapi teu tiasa nyarios sunda…” ujarku menjelaskan. Artinya kira-kira : saya orang sunda tapi enggak bisa ngomong sunda. Hasan tertawa mendengar penjelasanku. Dia juga orang sunda asli Bogor.
“Kalo dirumah sih manggil kakak-ku, teteh. Trus kalo dipanggil sama adek sih A’a..” kataku lagi.
“Ya udah… mulai sekarang saya panggil Akang aja ya? Kang Remy…” Kata Hasan sambil tertawa. Aku pun ikut tertawa.. Akang! Gak pantes banget… tapi biarin deh.
“Kang Remy kerja di PH ya?” tanya Hasan.
“PH?” aku balik bertanya tidak mengerti.
“Iya… di tempat produksi film atau sinetron..” Hasan menjelaskan.
Oh, ternyata yang dimaksud Hasan dengan PH adalah Production House.
“Buktinya akang kalo tiap Jum’at suka pake kaus-kaus film, padahal filmnya sendiri belom tayang..” Hasan berkata sangat serius dengan nada menyelidik.
“Oh.. ini?” tanyaku sambil menarik kausku. Aku makin heran kalau ternyata si Hasan sering memerhatikan aku tiap Jum’at.
“Ini dapet dari Adek, dia yang sering ikut premiere film, kan dia staf redaksi tabloid. Kemaren aja ane nemenin dia nonton film kereta hantu ini trus kenalan sama produsernya, pak Gope Samtani…” jelasku.
Kalimatku terpotong saat Hasan tiba-tiba mencengkeram sebelah lenganku sambil berkata, “Akang kenal Pak Gope produser film itu??” tanyanya antusias.
“Ya.. eh, cuma dikenalin aja sih…” jawabku gugup.
“Akang enggak diajak maen sinetron atau apa gitu?” Wajah Hasan yang sangat serius benar-benar membuatku ingin tertawa.
“Enggak lah… tampang kaya ane gini?” kataku sambil tertawa.
“Akang suka merendah…” Kata Hasan entah kenapa berbicara dengan nada sebal.
“Haha.. serius banget, bukannya setahu ane kalo mau main film itu harus ikut casting dulu? bukan ketemu langsung ama produser…”
Hasan terdiam, matanya menerawang entah dia memikirkan apa.
“Tapi pak Gope itu baik loh, sama dengan pak Raam Punjabi, ane lihat sendiri waktu nemenin adek wawancara dia…” Kataku sambil mencoba mengingat-ingat saat diminta adikku menemaninya mewawancara Raam Punjabi.

“AKANG KENAL RAAM PUNJABI??” Hasan tiba-tiba mencengkeram lenganku lagi, kali ini matanya membelalak.
“Ya, enggak kenal langsung lah! cuma kenalan doang! ane gak yakin mereka masih inget kalo ketemu ane lagi.. ente kenapa sih??” tanyaku heran.
Namun akhirnya aku mulai mengerti, si Hasan ini kelihatannya terobsesi ingin menjadi Artis….

******
Walaupun aku tidak bisa memenuhi keinginan Hasan mendapatkan no handphone para produser, sebagai gantinya aku berjanji untuk cari tahu dari adikku info-info mengenai masuk ke dunia hiburan.
Kereta sebentar lagi masuk stasiun Cawang. Hasan mengajakku bersiap-siap turun untuk shalat maghrib terlebih dahulu. Setelah kami shalat Maghrib di Musholla Stasiun yang lembab, kami duduk di lantai dekat pintu masuk musholla untuk memakai sepatu.
“Cewek ente kemana?” tanyaku sambil mengibaskan sebelah kaus kakiku.
“Cewek? oh… Wanti? bukan.. dia bukan cewek saya kang.” Kata Hasan sambil membuka ikatan tali sepatu ketsnya.
“Masa sih? kok kayaknya sering bareng ente di stasiun?” Tanyaku lagi.
“Ah… enggak kok Kang! dianya aja yang ngikutin melulu.. dari saya nya sih belum ada komitmen..” Hasan berkata sambil menjejalkan kaki kanannya ke dalam sepatu.
“Kasihan tahu, kalo cewek digantung gitu…” pancingku.
“Dianya yang mau kok kang! saya sih enggak maksa dia kok..” Hasan sudah mulai terdengar kesal membahas ini.
“Ya udah, nanti keburu disamber orang laen, ente baru nyesel…” kataku.
“Gapapa… dia juga suka larak-lirik cowok laen kok! emangnya saya enggak sadar kalo si Wanti itu juga sering ngelirik Akang?”
“Eh.. jangan bawa-bawa ane ya? ane gak mau nyampurin urusan ente berdua..” Kataku bercanda sambil mengangkat kedua tangan.
“Hahaha… si Akang! bisa aja..” Hasan berkata sambil memukulkan lengannya tepat pada bagian aku terantuk beton peron lebih dari seminggu lalu.
“Aduh…” aku meringis sambil mengusap betisku.
“Lho.. emang mukulnya kenceng ya Kang?” tanya Hasan.
“Enggak.. ini kena yang waktu itu kebentur peron…” jelasku.
“Kok enggak di urut?”
“Habisnya enggak biru sih, cuma bengkak aja….”
“Justru itu yang lama sembuhnya kang! coba saya lihat!” Hasan berkata penasaran, tanpa menunggu persetujuanku dia menggulung celanaku sampai ke lutut.
“Wah… ini sih harus di urut kang! darahnya enggak jalan! harus merah dulu, baru sembuhnya cepet..” Hasan berkata sambil sebelah tangannya memegang betisku dan matanya serius memerhatikan.
“Ente ahli pijit ya?” tanyaku.
“Cuma tahu dikit-dikit sih… kan kakek jago urut cimande…” kata Hasan sambil tertawa.
Aku cuma mengangguk-angguk.
“Akang bawa motor?” tanya Hasan.
“Iya, dititip di penitipan deket stasiun.”
“Ya udah, kita ke rumah saya aja dulu, akang anterin saya pulang, trus nanti saya urut kaki akang.” Usulnya.
“Eh… apa enggak ngerepotin?” tanyaku kurang yakin.
“Yah.. itung-itung upah nganterin saya kang! kan enggak perlu naek ojek!” Hasan berkata sambil tertawa.
Aku tersenyum masam dianggap ojek oleh Hasan.

Kereta pun datang, kami melanjutkan perjalanan. Kereta selepas jam tujuh memang lebih kosong sehingga kami mendapat tempat duduk setelah kereta tiba di stasiun Depok lama. Temannya si cowok berjanggut kambing berpamitan pada kami saat turun di stasiun itu. Entah kelelahan atau apa, Hasan tidak lagi bersemangat mengobrol. Dia yang duduk disebelahku malahan tertidur, dalam keadaan terlelap kepalanya menyandar ke bahuku. Kucoba mendorong kepala Hasan, tapi tak berapa lama kepala Hasan kembali menyandar ke bahuku. Pada usahaku yang ketiga mendorong kepala Hasan, seorang Ibu setengah baya yang duduk di sebelahku berujar. “Kasihan dik, kayaknya kecapean. biarin aja..” Aku tersenyum singkat pada si Ibu. Setelah kulihat sekeliling ternyata tidak ada yang memedulikan kami, kubiarkan Hasan tidur menyandarkan kepalanya ke bahuku.

Aku merasa sikap Hasan seperti seorang Adik yang bermanja-manja pada kakaknya. Apa memang begitu? karena aku juga tidak tahu. Aku tidak pernah bermanja-manja pada kakak perempuanku. Tapi itu dikarenakan usia kami yang cuma terpaut satu tahun. Adik perempuanku pun begitu, dia tidak pernah bermanja-manja padaku juga pasti karena usia kami hanya terpaut dua tahun.
Aku melirik ke arah Hasan. Wajah tampannya saat dia terlelap sangat manis sekali.

———-

“San.. bangun! bentar lagi nyampe..” aku mengguncang-guncang bahu Hasan mencoba membangunkannya.
“Hah.. apa? Oh.. udah mau nyampe?” Ujar Hasan celingukan.
Aku menyandangkan ranselku di bahu dan berdiri hendak bersiap turun. Hasan mengikutiku. Setelah kami turun, aku berjalan menuju tempat penitipan sepeda motor, sementara Hasan masih menunggu di dekat pintu masuk stasiun.
“Yuk Naik!” kataku saat motor matic-ku menepi di samping Hasan.
Hasan langsung naik dibelakang, dan tanpa ragu dia memeluk pinggangku.
“Eh, jangan kenceng-kenceng! gak bisa nafas nih!” candaku.
“Lewat mana?” tanyaku.
“Sampai depan belok kanan, nanti saya kasih tahu gangnya kalo udah nyampe.” Kata Hasan.
Hampir sepuluh menit kemudian setelah menyusuri jalan raya, Hasan menepuk bahuku dan menunjuk pada sebuah gang. Aku mengikuti petunjuk Hasan.
Rumah Hasan letaknya agak jauh di dalam gang, selain itu gangnya cukup sempit dan jalan yang berkelok-kelok. Aku yang baru pertama masuk gang itu agak kesulitan membawa motorku saat ada tanjakan dan turunan yang cukup curam.

Akhirnya kami tiba di rumah Hasan. Rumahnya cukup mungil, salah satu dari deretan rumah yang berhimpitan sepanjang gang. Hasan turun terlebih dahulu dan membuka pintu pagar teras rumahnya. Teras yang tertutup kanopi itu lantainya hampir seluruhnya dikeramik, tanpa sedikitpun menyisakan tanah tempat tumbuhan kecuali beberapa pot tanaman dipojokan.

“Yuk Kang, masuk..” ajak Hasan.
Aku mendorong motorku masuk ke teras dan meletakkan helmku diatasnya.
“Assalamualaikum!” teriak Hasan. Tapi dari dalam rumah tidak ada jawaban.

Aku mengikuti Hasan masuk. pintu depannya yang agak rendah, membuatku sedikit membungkuk saat masuk. Di dalam ternyata ada seorang pria yang sudah tua, sedang menonton televisi dengan volume suara yang cukup kencang.

“Aki! pelanin suaranya!” teriak Hasan dalam bahasa sunda. Namun si Kakek tidak menggubrisnya.
“Itu Kakek Saya. kupingnya kurang denger kang…” Kata Hasan. Aku cuma mengangguk-angguk.
“Duduk kang..”
Aku menuruti Hasan dan duduk disofa tua ruang tamu itu.
“Ibu mana Neng?” Tanya Hasan sambil melongok ke sebuah kamar.
“Nganterin cucian A’..” kata suara perempuan dari dalam kamar.
“Tolong bikinin air Neng, ada tamu..” Kata Hasan lagi.

Tak berapa lama seorang gadis berusia sekitar sembilan atau sepuluh tahun keluar dari kamarnya, sekilas dia melihat kearahku sebelum menghilang ke sebuah ruangan yang sepertinya dapur.
Hasan muncul sambil membawa sebuah piring kecil dengan cairan diatasnya. Setelah dekat baru tercium olehku bau minyak gosok dan biji pala.
“Di sini aja kang, celananya gulung aja.” Kata Hasan.
Aku menaikkan sebelah kakiku ke atas sofa dan menggulung celanaku hingga lutut. Dengan cekatan Hasan membalurkan minyak gosok itu pada kakiku.

“Tahan ya kang… Bismillah…” gumam Hasan.
Aku menghentakkan kakiku sambil mengaduh kesakitan saat Hasan mulai memijat bagian kakiku yang sakit.
“Tahan sebentar kang! jangan gerak-gerak..” Hasan memijat sambil menahan kakiku.

Aku menggigit bibirku, ujung mataku mulai berair sementara aku hanya bisa meringis kesakitan. Saat pijatan Hasan kembali menyengat, aku memukul-mukulkan tanganku ke sofa. Rupanya suaraku yang mengaduh kesakitan menarik perhatian si Kakek yang beranjak dari kursi menonton TV nya.
“Lalaunan (pelan-pelan) San!” kata Si Kakek sambil memerhatikan kakiku.
“Ieu tos lalaunan Ki! (ini udah pelan-pelan Kek!)” Kata Hasan.
Aku cuma meringis sambil nyengir malu.

Sepuluh menit yang serasa sejam pun berlalu, aku sampai tidak sadar gadis tadi sudah meletakkan teh manis hangat di atas meja. Kakiku kini berdenyut-denyut. Bagian yang terantuk kini memerah dan kembali membengkak.Teh Manis itu kemudian buru-buru kuhirup.
“Ya.. darahnya udah jalan lagi kang, emang sih sakit dulu, tapi nanti cepet sembuhnya…” Kata Hasan menenangkan.
Aku yang masih kesakitan, masih sedikit kesal dengan Hasan, tidak memedulikannya. Aku menurunkan gulungan celanaku lagi.
“Assalamualikum…” Kata suara seorang perempuan dari teras.
Seorang Ibu berusia 50 tahun-an masuk membawa keranjang plastik kosong.
“Ada tamu San? siapa? temen?” Tanyanya Ramah.
“Iya Bu, temen di Kereta. Hasan abis urut kakinya.” Kata Hasan sambil meletakkan piring kecil di atas meja.
Aku menyalami si Ibu dari tempatku duduk, karena aku merasa kakiku agak sulit digerakkan.
“Ibu ke dalem dulu ya…?” kata si Ibu. Aku mengangguk.
“Coba gerakkin kakinya. Bisa jalan enggak Kang?” tanya Hasan.
Aku mencoba bangun, Tapi segera terduduk kembali karena kesakitan.
“Wah… parah juga ya? kelamaan sih enggak diurut.” kata Hasan.
“Jadi gimana?” Kataku.
“Kayaknya naek motor juga enggak bisa ya? lagian di luar kayaknya juga mau hujan..” gumam Hasan.
“Besok Sabtu akang libur kan?” Tanyanya.
“Iya.” Jawabku.
“Ya udah… Akang nginep aja di sini…” ujar Hasan riang.
Aku melongo.

*****

Ketika akhirnya hujan deras benar-benar turun, aku sudah ada di kamar Hasan. Saat makan malam tadi Hasan menolak mentah-mentah ide Ibunya yang mengusulkan agar aku tidur sekamar dengan kakeknya. “Aki bau balsem!” Hasan memberi alasan. Dia juga tidak setuju aku tidur di sofa. Jadilah aku akan berbagi tempat tidur dengan Hasan di ranjang berukuran Queen size yang kini sedang kududuki.
Aku memerhatikan kamar Hasan, sebelah sisi dindingnya ditempeli poster sebuah band lokal dan digantungi tiga foto berpigura dirinya dalam berbagai pose (kelihatan narsisnya). Dua foto diantaranya diambil di studio, sedang satu foto adalah foto dia berdiri di dekat air terjun sedang bertelanjang dada, aku mengagumi tubuh langsing atletis Hasan di foto itu. Di dinding seberang terdapat Lemari pakaian kecil dan sebuah meja yang sepertinya meja belajar dia sejak masih di sekolah. Diatasnya bertumpuk beberapa majalah dan tabloid remaja.
Aku menunggu Hasan yang sedang mandi sampai lima menit kemudian dia masuk ke kamar telah berganti pakaian dengan kaus dan celana training dengan rambutnya yang masih basah. Entah kenapa sesaat aku berharap akan melihat Hasan masuk hanya dengan mengenakan handuk yang terlilit di pinggang. Mungkin karena aku baru saja melihat foto Hasan di air terjun dan penasaran ingin melihatnya secara langsung.

“Kang, mandi dulu. Kamar mandinya udah kosong tuh.” Kata Hasan.
Aku mengangguk. Sambil beranjak aku membawa handuk yang sebelumnya sudah diberikan Hasan.
Setelah mandi aku kembali ke kamar Hasan dengan memakai kausku sendiri. Hasan kembali sedang memegang pring kecil berisi ramuan obat gosok.
“Ganti baju aja Kang, tuh saya udah siapin salin.” Tunjuk Hasan pada kaus merah berkerah dan celana selutut di atas ranjang.
Aku meraih pakaian itu. Sepertinya pakaian itu sudah lama tersimpan dalam lemari karena berbau kamfer yang cukup menyengat. “Baju ente San?” tanyaku.
Hasan tidak menjawab, dia sibuk mengaduk obat gosok itu dengan jarinya. Kemudian aku membelakangi Hasan dan bertukar pakaian. Setelah selesai, aku menoleh dan melihat Hasan sedang menatapku lalu buru-buru dia kembali mengalihkan perhatiannya pada piring kecil itu lagi.
“Kang… sebelum tidur saya gosokin obat ini lagi ya? tadi kan kena mandi…” Kata Hasan.
“Apa enggak ngotorin sprei?” tanyaku.
“Gapapa… akang pake sarung aja.” Jawab Hasan.
Dia lalu menyuruhku duduk di atas ranjang sementara dia berjongkok dibawah mengoleskan kembali obat berbau biji pala itu pada kakiku. Ada perasaan aneh saat tangan Hasan memegang kakiku hingga jantungku berdetak lebih cepat. Lama aku terdiam sampai akhirnya aku memecah kesunyian.
“Eh, ente serius pengen jadi artis ya?” tanyaku tanpa bermaksud mengejeknya.
Hasan mengangguk. Dia telah selesai dengan obat gosoknya, mengambil kain dan membersihkan tangannya, lalu duduk di sampingku.
“Akang liat sendiri kan kondisi keluarga saya? saya sih cuma berpikir akan lebih cepet dapat uang kalo bisa ikut di iklan atau sinetron. Untuk kuliah saya gak ada biaya…” Katanya.
Hasan kemudian menarik sebuah majalah dari tumpukan, membuka beberapa halaman dan menyerahkan padaku. Rupanya Majalah yang diberikan Hasan adalah majalah terbitan tahun lalu yang memuat daftar semifinalis sebuah kontes pemilihan model. Salah satu fotonya adalah foto Hasan.
“Cuma sampe semifinalis…” katanya pelan.
“Udah nyoba ikut casting?” tanyaku tanpa melepaskan pandanganku dari majalah.
“Udah sih, tapi enggak bisa sering-sering. Kan harus jaga counter.. gimana juga saya enggak mau dipecat.”
Aku meletakkan kembali majalah itu di atas meja. Jarum di jam meja kecil sudah menunjuk ke angka sepuluh lewat lima belas. Aku benar-benar sudah mengantuk. Setelah memakai sarung aku rebahan. Hasan ikut rebahan disampingku. “Sori ya jadi sempit…” kataku. Hasan tertawa kecil, kemudian dia memeluk gulingnya dan memunggungiku. Ditengah suara hujan aku memejamkan mataku dan akhirnya terlelap.

Lewat tengah malam aku terbangun karena kakiku kembali terasa sakit. Aku merasa tubuhku menggigil kedinginan namun juga keringatan karena kepanasan. Pasti ini karena demam akibat diurut, pikirku. Kemudian aku baru merasakan bahwa sebelah tangan Hasan melingkar di pinggangku seolah sedang memelukku. Aku menoleh dan mendapati wajah Hasan yang sedang tertidur lelap sudah sangat dekat dengan wajahku. Duh, seperti di kereta tadi, wajah Hasan yang tampan itu benar-benar sangat manis saat terlelap, apalagi ditambah bibirnya yang kemerahan, ingin sekali aku menciumnya. Aku berfikir bagaimana reaksi dia kalau dia tersadar sedang tidur sambil memeluk aku. Aku menatapnya lagi cukup lama dan tanpa berfikir panjang aku kemudian mengecup dahinya. Hasan bergerak pelan namun tetap terlelap, dan aku kembali memejamkan mataku.

*****

Paginya aku terbangun karena cahaya di luar jendela sudah sangat terang. Hasan sudah tidak ada di sampingku. Saat kurasakan kakiku tidak begitu sakit lagi, aku buru-buru turun dari ranjang dan melepas sarungku.

“Eh, udah bangun Dik..” Sapa Ibu Hasan saat aku keluar kamar. Dia membawa segelas teh manis panas dan meletakkannya di meja.
“Hasan udah berangkat, tadi dia bilang enggak tega bangunin adik shalat subuh soalnya kayaknya masih demam.. Gimana? udah baikan?” tanyanya.
“Udah bu, kakinya juga udah enggak sakit lagi.” Kataku.
“Diminum dulu teh manisnya, Ibu ke belakang dulu ambil pisang goreng.” Kata Ibu Hasan sambil berlalu.

Aku menghirup teh manis itu, segar sekali. Saat itulah aku baru memerhatikan dengan jelas sebuah foto keluarga yang berbingkai agak kusam tergantung di dinding ruang tamu. Dalam foto itu ada Ibu Hasan yang terlihat lebih muda sedang menggendong bayi perempuan. Di sampingnya berdiri seorang pria yang sepertinya Ayah Hasan. Disamping Ayah Hasan, seorang remaja tampan yang wajahnya mirip Hasan berdiri sambil tersenyum. Dan seorang anak laki-laki berusia sekitar sepuluh tahun dengan wajah tanpa ekspresi berdiri di samping Ibu Hasan, yang aku sangat yakin anak laki-laki itu adalah Hasan saat masih kecil. Melihat wajah Ayahnya aku paham darimana ketampanan Hasan didapat.

“Itu foto sewaktu Bapaknya Hasan masih hidup…” Suara Ibu Hasan membuyarkan lamunanku. Dia meletakkan piring berisi pisang goreng panas di samping gelas teh manis.
“Kapan meninggalnya Bu?” tanyaku hati-hati.

Akhirnya ibu Hasan menceritakan kejadian kalau Ayah dan Kakak Hasan yang bernama Aryan menjadi korban kecelakaan bus 9 tahun lalu saat hasan berusia 11 tahun. Betapa Hasan sangat menyayangi kakaknya, namun Hasan tidak menangis melihat kakaknya meninggal.
“Hasan itu waktu kecil pendiam dan pemalu. Kemana-mana selalu ikut kakaknya. Bahkan kalau tidur juga selalu sama kakaknya.”
Aku diam mendengarkan.
“Ibu ingat dia mengamuk saat ibu berniat sumbangin baju-baju kakaknya. Akhirnya beberapa baju kakaknya masih dia simpan… termasuk yang dipake sama dik Remy…” Kata Ibu Hasan lagi.

Aku kaget mendengar penjelasan Ibu Hasan. “Ibu juga sempet heran, biasanya kalau ada saudara yang nginap pun, Hasan enggak bakal ngebolehin orang lain pake baju kakaknya… Tapi Ibu semalam tidak mau nanya sama Hasan, takut dia marah…”

Entah kenapa, cerita Ibu Hasan dan aku yang memakai baju almarhum kakaknya membuatku merinding. Setelah kuhabiskan teh manisku, tanpa mandi terlebih dulu, aku segera berganti pakaian dan pamit pulang.
Dalam perjalanan ke rumah sambil mengendarai motor aku masih berpikir soal apa yang sebenarnya ada di pikiran Hasan. Sampai-sampai ketika aku sudah dekat dengan pekarangan rumahku, baru aku sadar motor Iqbal sudah berada di depan pagar rumahku.
Aku menghentikan motorku di luar pekarangan. Baru kulihat Iqbal yang sedang duduk di teras sambil merokok. Sadar aku memakai baju yang sama dengan hari kemarin, aku lebih memilih diam saat aku masuk pekarangan rumahku.
Aku berdiri bersandar di pilar teras rumahku menunggu sepatah kata keluar dari mulut Iqbal. Namun dia masih tetap diam sambil merokok yang membuatku merasa tersiksa.
“Kenapa semalem teleponnya enggak diangkat?” tanya Iqbal dengan nada dingin tanpa melihatku.
Aku baru sadar belum mengecek ponselku dalam ransel sejak semalam.
“Di-silent.” kataku.
Iqbal kembali terdiam.
“Kemana semalaman?” tanya Iqbal lagi.
Aku tahu tidak ada gunanya berbohong. Akhirnya aku jawab. “Semalam nginap di rumah Hasan..” kataku.
“Kenalan elo di kereta itu?” tanya Iqbal.
Aku mengangguk sebelum meneruskan, “Dia ngurut kaki ane, trus karena hujan akhirnya ane nginep di rumahnya—”
“—Jangan ketemu-ketemu dia lagi…” potong Iqbal dengan nada masih sedingin es.
“Kita enggak ngapa-ngapain kok!” protesku kesal. Aku langsung melirik ke kanan-kiri ku memastikan tidak ada orang yang mendengar percakapan kita. Untunglah hari sabtu itu masih jam setengah tujuh belum ada tetanggaku yang terlihat.
“Jangan nemuin dia lagi!” kata Iqbal.

Dibentak begitu aku menjadi semakin marah. Keihatan sekali kalau Iqbal berpikir telah terjadi sesuatu antara aku dan Hasan.
“Oya? gimana kalo ane minta ente jangan nemuin istri ente lagi..?” Kataku, yang sedetik kemudian kusesali telah melontarkan kalimat itu pada Iqbal.
Iqbal tidak menjawab. Dia menatapku cukup lama dengan tatapan bercampur antara kemarahan dan kekecewaan. Dia kemudian melemparkan batang rokoknya, berdiri dan melewatiku begitu saja menuju motornya. Sebelum dia naik motornya dia sempat berkata, “Kayaknya lu udah enggak sabar ya ngasih pertanyaan kayak gitu ke gue?”
Aku diam tidak mau meminta maaf. Sampai akhirnya suara motor Iqbal menjauh, aku kembali ke pekarangan untuk memasukkan motorku ke dalam. Dalam rumah aku terduduk dan berpikir soal hubungan aku dan Iqbal. Situasi ini tidak membuatku sampai menangis. Kata orang-orang terdekatku hatiku memang sekeras batu, jarang sekali merasa tak enak tentang apapun. Tapi tetap saja keadaan ini membuatku sangat gelisah.
Aku membuka ranselku dan mengambil HP ku. Kulihat Misscall dari Iqbal sebanyak 3 kali, dan sebuah sms baru… dari Hasan.
Kubaca isi SMS itu: “Kang! besok ikut jalan-jalan ke Salabintana yuk!”

*****

Udara pagi di hari minggu ini cukup cerah. Mungkin karena bulan ini sudah mulai masuk musim kemarau. Aku menunggu di bawah rindang pepohonan yang letaknya tak jauh dari Tugu Kujang di jantung kota Bogor.
Aku mengiyakan ajakan Hasan untuk jalan-jalan ke tempat wisata Salabintana di daerah Sukabumi, karena aku merasa saat ini aku tidak punya kewajiban untuk memberi tahu Iqbal tentang apapun yang kulakukan, karena (kupikir) kami sedang “marahan” (duh istilahnya…)
Hasan berjanji akan menjemputku dengan mobil temannya di tempat ini pada jam yang sudah kami sepakati. Tapi limabelas menit sudah berlalu, tidak satupun mobil yang menepi didekat tempatku menunggu. Aku kemudian duduk di undakan lalu melepas earphone-ku karena lagu yang kudengar sudah mulai membosankan.
Tak lama sebuah minibus carry hijau tua agak jelek berhenti didepanku. Dari jendela mucul kepala Hasan.
“Sorry kang! mobil bokapnya si Dion ini agak lama diservis dulu…” katanya sambil nyengir.
Di belakang kemudi kulihat Dion si cowok janggut kambing, dia tersenyum menyapaku sekilas. Di deretan kursi tengah duduk Wanti “cewek” nya si Hasan, cowok cepak yang setahuku bernama Yadi dan si Botak temen satu geng Hasan yang namanya belum aku tahu, duduk di jok belakang.
“Eh cuma segini? temen se-geng ente ada yang enggak ikut ya?” tanyaku.
“Iya si Fajar tadi pagi tiba-tiba ngebatalin, ada sodaranya yang sakit…” kata si Botak.
Kemudian aku naik setelah sebelumnya Wanti dan Yadi menggeser tempat duduknya. Aku melemparkan Ranselku ke jok paling belakang bersama ransel-ransel lainnya.
“Kita beli jajanan dulu ya? asinan di gedong dalam sama roti unyil..” Kata Hasan sambil menoleh ke belakang.
“Ente mau jualan jajanan khas Bogor di sana?” sindirku yang disambut gelak tawa teman-temannya kecuali si Wanti yang mulai sibuk lagi memainkan ponselnya.
Kami mampir dulu ke tempat-tempat dimana makanan itu dijual sebelum melanjutkan perjalanan ke arah Sukabumi. Di perjalanan aku hanya menyaksikan keakraban geng Hasan sambil sesekali ikut menertawakan candaan mereka. Dari kota Sukabumi, kami melewati jalan yang terus menerus menanjak sebelum akhirnya kami tiba di pintu gerbang Taman Wisata Salabintana. Aku menurunkan kaca jendela mobil dan hawa sejuk pegunungan sudah mulai terasa. 5 Menit kemudian kami tiba di tempat parkir. Kami semua turun dan membawa perbekalan kami lalu mencari tempat yang enak untuk menggelar tikar.
Aku memerhatikan sekeliling taman wisata yang didominasi pohon cemara dan pinus itu. Suasananya lebih rapi dan teratur dibandingkan beberapa tahun yang lalu. Hanya saja sepertinya penjual asongan dan orang-orang yang menawarkan sewa tikar semakin banyak. Dan… sinyal ponsel kini sudah kuat, ini kusadari saat memeriksa ponselku (sebenernya ingin mengecek ada tidaknya telepon atau sms dari Iqbal)
“Akang udah pernah ke sini?” Tanya Hasan sambil membuka ikatan tikar lipat yang sedari tadi dibawanya. Seorang perempuan yang mengikuti kami dari parkiran dan tidak henti-hentinya menawarkan tikar sewaan, akhirnya ngeloyor pergi.

“Udah pernah sih sekali, tiga tahun lalu sama temen-temen kantor lama.” Jawabku. Aku membantu Hasan melebarkan tikar dan menggelarnya di atas rumput. Wanti mengeluarkan perbekalan untuk makan siang kita, namun sepertinya telinganya sangat awas mendengarkan percakapan kami.

“Wah.. dapet PW (posisi wuenak) nih..!” Kata Hasan puas sambil melihat sekeliling. Kami memang memilih tempat paling tinggi di bawah sebuah pohon rindang, namun agak tertutup oleh semak-semak. Teman-teman Hasan yang lain sedang bermain bola sepak yang dibawa si Botak.

Wanti memanggil teman-teman Hasan yang lain untuk makan siang. Piknik seperti ini ternyata sungguh mengasyikkan.
Selesai makan si Botak mengusulkan untuk pergi ke sungai. Aku tahu untuk menuju sungai itu harus menuruni lereng curam lalu melewati kebun teh yang lumayan luas. Namun siang itu matahari bersinar terik. Aku lebih suka menikmati hawa segar pegunungan dibawah kerindangan pohon, maka ajakannya aku tolak.
Hasan entah kenapa juga tidak mau ikut, sedangkan Wanti yang melihat Hasan tidak ikut, juga menolak pergi. Namun Dion, Yadi dan si Botak memaksanya sampai Wanti dengan wajah kurang ikhlas ikut bersama mereka.
Akhirnya tinggal aku berdua dengan Hasan. Aku rebahan di atas tikar. Koran yang tadi kubeli kugunakan untuk menutup mataku. Hasan ikut rebahan dan meletakkan tangannya di bawah kepalanya.
“Akang udah punya pacar?” Tanya Hasan.
Jika yang dimaksud adalah Iqbal, dan dia bukan cewek, maka aku jawab: “Belum.”
Hasan terdiam, aku masih memejamkan mataku dibalik koran.
“Yang suka berangkat bareng sama Akang?” tanya Hasan hati-hati.
Oh my God! pikirku. Apa dia tahu soal si Iqbal? Apa emang sejelas itu ya, kelihatan ada hubungan antara aku dan Iqbal?
Aku tidak menjawab.
“Iya kang, tadinya saya pikir akang cuma berteman aja sama temen akang itu, tapi saya suka merhatiin akang… wajah akang kelihatan… lain deh cerianya setiap akang lihat dia datang… apalagi pas ketemu juga di Mangga Dua Square waktu itu…” lanjut Hasan.
Sadar tidak ada gunanya lagi menutupi, akhirnya kutanya Hasan.”Terus kalaupun bener emang kenapa? ente mau nyebarin gosip ke satu stasiun?”
“Yah, Akang… masa adik sendiri mau nyusahin kakaknya?” kata Hasan.
“Adik?” tanyaku tak mengerti, kuturunkan koran yang menutupi mataku.
“Iya.. kan Akang udah saya anggap kakak sendiri…” Ujar Hasan riang.
“Ooh..” jawabku. Aku kini menutup mata dengan sebelah lenganku. Terus terang perasaanku was-was juga “ketangkap basah” seperti ini. Namun aku berusaha bersikap tenang.
“Akang udah pernah ciuman sama dia?” tanya Hasan lagi.
Apaan sih nih anak? pikirku. Pake nanya-nanya ciuman lagi… bukan cuma pernah ciuman aja kali!
“Udah..” jawabku.
“Beda ga sih rasanya dibandingin ciuman sama cewek?” tanyanya.
“Ya beda lah… beda cewek aja rasanya lain..” kataku sekenanya.

Walaupun aku menutup mataku dengan lengan, aku merasa ada sesuatu yang mendekat kewajahku. Aku membuka mataku. Yang sempat kulihat sekilas adalah bibir Hasan yang kemerahan sebelum akhirnya menyentuh bibirku….

Satu detik… dua detik… tiga detik… sampai lima detik Hasan menciumku. Bibir hasan ternyata lembut seperti… es krim! Hanya itu yang terpikirkan olehku saat itu.
Kemudian dia menghentikan ciumannya dan tersenyum simpul.
“Oh.. gitu ya rasanya…” katanya.
Sesaat aku masih shock dengan apa yang terjadi, lalu aku buru-buru terbangun dan melihat sekeliling. Ternyata tidak ada satupun pengunjung yang melihat.

“Ente udah gila ya? Ngapain tiba-tiba nyium?” kataku kesal.
“Penasaran aja…” Kata Hasan sambil kembali rebahan.”Lagian gapapa kan kalo adik nyium kakaknya..” lanjutnya.
“Gapapa kalo kita masih balita!! Lagian kan kita bukan kakak-adik!” potongku.
“Kok akang sampe marah gitu sih?” tanyanya.
“Kalo penasaran ciuman sama cowok, kenapa enggak praktekin aja sama si botak temen ente itu??” kataku makin marah.
Hasan melihatku dengan wajah keheranan. Lalu dengan begonya malah bertanya, “Oh, jadi menurut akang kalo ciuman sama si Awan lebih kerasa bedanya? emang cowok selera akang itu yang seperti si Awan ya?”
“Maksud ane enggak gitu….” kataku menahan emosi.
“Saya kan udah tahu kalo akang itu homo (busyet deh!)… makanya saya berani nyoba nyium akang, soalnya selama ini cewek-cewek ga ada yang nolak tuh kalo saya cium…” Ujar Hasan.
Aku terdiam. Anak ini rupanya harus dihadapi dengan kepala dingin.
“Sekarang ane mau tanya. Kenapa ente penasaran? ente ga takut dicap… homo?” tanyaku memakai istilahnya.
Hasan menggeleng. Lalu dia bercerita tentang kakaknya yang sudah meninggal. Aku tidak mengaku sudah mendengar cerita itu dari ibunya, maka kubiarkan dia bercerita sampai selesai.
“Gitu kang… Saya suka kangen sama kakak saya. Saya kepengen punya orang yang bisa saya anggap jadi kakak. Cuma, kadang-kadang kalo saya inget kakak saya, yang saya bayangin kakak saya meluk saya… cium saya… begitu.”

“Apa waktu kecil kakak ente pernah….” tanyaku hati-hati.
Seakan mengerti apa yang kumaksud, Hasan buru-buru menyangkal. “Enggak kok kang! Kang Aryan enggak pernah ngapa-ngapain saya!”
“Trus ente pernah ngapa-ngapain cewek?” godaku.
“Akang mau tau aja.. penasaran ya?” Hasan menjawab balas menggoda.

Aku tertawa. Kemudian Hasan melanjutkan. “Saya kadang masih mimpi ketemu kakak saya. Cuma yang terakhir saya agak heran, soalnya saya mimpi kakak saya meluk saya… rasanya hangat banget. Trus tiba-tiba dia nyium bibir saya… yang lebih bikin saya heran… ternyata yang nyium saya itu kang Remy…”

“Hah??” kataku tak percaya dengan yang barusan kudengar.
“Ente… mimpi dicium ane?” tanyaku.
“Mimpi sih mimpi… tapi enggak ampe basah kok kang… makanya saya sekarang sebenernya lagi bingung.” Kata Hasan menerawang.

Obrolan kami terpotong oleh ponselku yang berbunyi. Please… please dong… dari Iqbal… harapku. Ternyata yang menelepon adalah adikku.
“Halo..?”
“A’! mau ikut nonton premiere ga?” kata adikku.
“Hari minggu gini?” tanyaku.
“Iya nih.. mendadak ada telepon dari kantor. Disuruh Ikut press screen…” Kata adikku.
“Film siapa?”
“BCL! Aku Ada Kamu Ada… atau apa gitu judulnya… katanya ngefans sama BCL? ntar dia ada loh!”
“Ya.. ogud lagi ada di salabintana…” sesalku.

“Ngapain ke salabintana??” tanyanya.
“Ya maen lah… jadi hari ini gak bisa…”
“Kalo selasa ini bisa enggak? ada film baru lagi tuh, si Marcel-Mischa sama Chelsea judulnya Summer Breeze.”
“Mau! Mau! ng… minta tiketnya buat tiga orang bisa kan?” tanyaku sambil melirik Hasan.
“Bisa sih… emang mau ngajak siapa? si Lina temen A’a yang genit itu?”
“Bukan lah! ada temen mau ikut…”
“Ya udah… ntar go-ut mintain. ‘Dah ya…”
Aku menutup ponselku. “San.. ntar slasa ikut nonton premiere ya? mau kan?”
“MAU!” Kata Hasan bersemangat.

*****

Sebenarnya aku agak heran dengan Hasan. Dia tidak lagi membicarakan kejadian saat dia menciumku di salabintana bahkan sejak kami pulang. Seakan-akan ciuman itu tidak berkesan untuknya. Sialan! padahal malamnya aku masih terbayang kelembutan bibir yang rasanya seperti es-krim itu. Masa sih dia enggak terkesan dengan ciuman pertama dia dengan cowok? apa yang kemarin itu bukan yang pertama ya? Pikirku sambil mengaduk-aduk softdrink dengan sedotan. Selasa sore itu sambil berpikir aku sedang duduk di restoran AW stasiun kota. Aku berjanji bertemu Hasan di stasiun untuk sama-sama ke bioskop tempat premiere berlangsung.

“A! tempatnya di EX plaza indonesia ya.. Naek busway aja dari Kota turun di Bundaran HI. jam 8 harus udah ada di sana, cepetan! go-ut disuruh bawa kamera gede nih! bantuin foto ya!” begitu pesan adikku pagi tadi di telepon.

Aku termenung, inilah restoran yang sama tempat aku dan Iqbal pertama kalinya makan bersama. Ah, jadi ingat lagi dengan Iqbal, di hari hujan itu kami saling bertukar cerita. Kenapa sih ente enggak nelepon duluan! Ane kan gengsi! runtukku dalam hati. Mana udah dua hari ini Iqbal enggak kelihatan. Enggak tahu dia naek di gerbong mana, mungkin dia berangkat naik kereta yang berikutnya.
“Ngelamunin apa Kang?” Suara Hasan mengejutkanku. Dia lalu duduk di depanku.
“Eh… enggak. Dah makan blom? kalo blom pesen gih..” Tawarku.
“Enggak ah.. dah kenyang..” tolaknya. “Akang laper berat ya? kok ayamnya dua?” tanyanya heran melihat dua potong ayam goreng yang belum kusentuh.
“Enggak usah komen deh…” kataku kesal. Aku jadi teringat lagi Iqbal pernah bertanya hal yang sama soal kebiasaanku makan dua potong ayam.
“Ya ampun… ente niat bener sih pergi?” tanyaku terheran-heran baru tersadar melihat pakaian yang dikenakan Hasan. Dia memakai kaus junkies hitam berbalut jaket bertudung berwarna hijau bergaris, celana jeans model pensil dan sepatu kets. Lebih dari dandanan dia biasanya.
“Kalo tambah topi ini gimana?” tanyanya sambil memakai topi ber-glitter emas.
“Berlebihan banget deh…” komentarku sambil tertawa.
Hasan cemberut tapi menurut untuk melepas topinya. “Ya udah.. nih titip di tas akang, tas pinggang saya kekecilan.” Katanya sambil meletakkan topi itu di meja. Kemudian dia juga berkomentar “Yee… akang juga niat banget tuh! Ganti celana jeans segala! Pake sweater lagi!”
Aku tertawa. Memang benar, kalo untuk acara-acara seperti ini, males banget keliatan seperti pulang dari kantor.Apalagi bakalan dihadiri oleh Artis dan Sosialita… Bisa Jomplang penampilan ane!

Setelah aku selesai makan, kami menuju halte busway. Sebenarnya jam-jam pulang kerja seperti ini besar kemungkinan aku berpapasan dengan Iqbal. Tapi sejak tadi makan aku tidak melihat sosok dia diantara keramaian stasiun.

Yang kukhawatirkan terjadi, saat kami menuruni underpass berbentuk lingkaran menuju halte busway, di ujung sana Iqbal sedang menuruni tangga setelah keluar dari halte. Entah kenapa hari ini dia telat sampai stasiun, padahal sudah hampir jam tujuh. Ketika kami berpapasan, Iqbal melirik sesaat ke arahku dan kemudian dia melihat Hasan dan terus berlalu seolah-olah tidak mengenaliku. Aku pun bersikap sama, dan terus berjalan. Hasan yang dari tadi sibuk dengan ponselnya baru melihat Iqbal setelah dia sudah agak jauh.

“Eh… eh… Kang! itu bukannya… kok enggak ditanya?” Kata Hasan bingung bolak-balik melihat antara aku dan Iqbal seakan memastikan bahwa itu benar-benar dia.
“Nanti di bus Ane ceritain..” kataku. Dan Hasan tidak bertanya lagi.

Enaknya busway dari stasiun Kota adalah kita berangkat dengan bus yang penuh sebatas tempat duduk saja. Tidak ada yang berdiri. Makanya aku dan Hasan mengambil tempat duduk paling ujung. Dia diam saat aku menceritakan soal Iqbal yang marah dengan kedekatan kami, tentu saja aku bercerita tidak menyebutkan nama, karena tidak mau orang yang duduk disebelahku tahu.
“Sori ya kang… dia jadi marah…” Kata Hasan sambil menunduk.
“Dianya aja yang cemburuan…” bantahku.

Tempat yang kita tuju sudah tiba. Rupanya diluar hujan baru saja berhenti, karena kulihat aspal jalan yang basah. Sesampainya di EX, kami langsung menuju teater XXI. Aku yang sudah pernah kesini, tahu persis tempatnya. Di luar Lobby, Kulihat adik perempuanku melambaikan tangan ke arah kami. Saat sudah dekat, adikku langsung menyerahkan kamera berlensa panjang (aduh.. ga tau jenisnya.. gaptek deh soal kamera!!).

“Nih, kalungin ya. entar aku kontak dulu panitianya… Lho.. siapa nih?” tanya Adikku sambil tersenyum ke arah Hasan.
“Halo Teh!, apa kabar? Hasan…” Kata Hasan sambil mengulurkan tangannya.
“Halo juga… bisa ketemu juga nih akhirnya.” kata adikku menjabat tangannya.
“Lho, emang Kang Remy sering cerita ya?” tanya Hasan.
“Iya…” kata adikku lalu dia berkata padaku tanpa bersuara ‘Yang pengen jadi artis itu ya?’ aku mengangguk.

Setelah adikku menelepon mbak Panitianya, kita bertiga masuk. Seorang cewek manis berkacamata menghampiri adikku. “Mbak Windy ya? nih tiketnya.. bertiga kan? sama fotografer (dia melihatku dengan kamera yang terkalung dileher) trus.. ini siapa?” tanyanya sambil melihat Hasan.
“Oh.. ini yang lagi magang…” kata adikku menjelaskan. Si mbak Panitia walaupun kelihatan ragu, menerima penjelasan adikku.
“Ya udah, buat mbak Windy press rilis sama CD foto nya di amplop.” kata Mbak Panitia.

Kami bertiga masuk ke dalam Lobby Teater. Beberapa poster besar film Iron Man sangat menyita perhatian. Di tengah lobby, reporter satu TV swasta sedang mewawancara si kembar Marcel-Mischa sementara disebelahnya Chelsea O. diwawancara reporter lainnya. Lobby itu sangat ramai dipenuhi orang-orang yang berpakaian glamor, dari mulai artis, artis wannabe, pemain sinetron, artis senior, sampai teman-temannya artis yang dandanannya tidak kalah dengan si artis itu sendiri (hehe… julukan ini khusus aku yang berikan). Kulihat Hasan, aku merasa penampilannya sesuai sekali dengan acara ini. Dia memang sepertinya cocok sekali masuk komunitas selebritis pendatang baru. Kuperhatikan Tiga orang cewek ‘temennya artis’ yang berambut panjang dan berkulit mulus berbisik-bisik memerhatikan Hasan. Dua cowok ABG juga mencuri-curi pandang ke arah Hasan (pasti mereka gay.. heheh..) sementara Hasan sendiri cuek saja berdiri menyandar pada sebuah pilar.

“San, kalo mau kenalan gue saranin sama orang itu… dia casting director.” Kata adikku sambil menunjuk seorang pria yang tengah mengobrol dengan salah satu artis.
“Beneran Teh? Kenalin dong!” kata Hasan bersemangat.
Aku melihat adikku dan Hasan menghampiri orang itu, mereka berkenalan, mengobrol dan akhirnya Adikku meninggalkan Hasan dan sang Casting Director mengobrol berdua.

“Yuk A, temenin interview dulu, A’a yang foto. Si Hasan biarin aja ngobrol.” Ajak Adikku. Aku yang masih mengkhawatirkan Hasan, akhirnya mengikuti adikku mewawancara para pemain film Summer Breeze.

Jam setengah dua belas film berakhir. Kami menunggu supir jemputan adikku (yups… adikku itu dari kantornya ada fasilitas antar jemput ke rumah kalau sudah malam…) sambil menenteng goodie-bag masing-masing.
Dalam perjalanan, kami sudah sangat mengantuk. Adikku menelepon rumah, dia masih tinggal dengan orangtua kami.
“Hallo.. Pah? udah.. udah sampe Cibubur… Si A’a juga mau nginep di rumah… bentar.. San! lu nginep di rumah aja ya? udah malem…” Tanya adikku. Hasan mengangguk. “Iya.. temennya si A’a juga mau nginep.. ya udah ya… Assalamualaikum…” Tutup adikku.
Tak lama setelah keluar gerbang tol, kami tiba dirumah orang tuaku. Rumah yang sampai setahun lalu masih ikut kutempati, sebelum akhirnya tinggal di rumahku sendiri. Sampai di rumah kukenalkan Hasan pada kedua orangtuaku.

Sudah jam dua belas lewat, namun aku memutuskan tetap mandi dengan air hangat. Hasan pun demikian. Kami bertukar pakaian, aku memang menyimpan beberapa baju dan kaus di sini kalau-kalau harus terpaksa menginap. Hmm… Hari ini aku akan sekamar lagi dengan Hasan. Dia tidak mau tidur sendiri di kamar tamu, alasannya takut tidak ada yang membangunkannya pagi-pagi.
“Jadi ini dulu kamar Akang ya?” tanya Hasan yang duduk dipinggiran ranjang.
“Iya… sampe sekarang juga enggak dirubah.. Ane kalo nginep ya tidurnya di kamar ini..” kataku.
“Enggak mirip ya?” tanya Hasan.
“Siapa?” tanyaku.
“Akang sama Teh Windy.. enggak kayak adik-kakak..” Jelasnya.

Aku tersenyum. Adikku memang kelihatan turunan arabnya seperti Papa, sedang aku kelihatan chinesenya mengikuti Mama.
Kemudian Hasan bercerita tentang obrolannya dengan sang casting director yang menyuruh Hasan datang ke kantornya.
“Beneran?” tanyaku tak percaya. “Asyik dong! selamat ya..”

Hasan mengangguk-angguk senang.
Seandainya malam itu aku tidak begitu mengantuk, ingin rasanya terjaga beberapa lama utnuk memandangi lagi wajah Hasan yang sedang terlelap. Namun akhirnya kita berdua tidur.
Beberapa menit kemudian aku terbangun sekilas dan melihat Hasan belum tertidur.
“Ente kenapa belum tidur? besok kan berangkat kerja..” tanyaku sambil menguap.
“Enggak bisa tidur kang..” katanya.
“Kenapa? liat hantu?” tanyaku asal-asalan.
Hasan tidak menjawab dia malahan meraih telapak tanganku dan meletakkan di atas dadanya. Kurasakan jantungnya berdetak cepat.
“Enggak tahu kenapa kang, tidur berdua sama akang begini bikin saya deg-degan…” Katanya dengan nada heran.
“Ente terlalu semangat kali pas premiere tadi… makanya sampe kepikiran..” kataku sambil menarik telapak tanganku (Takut ane horny… heheh).

Hasan tidak menjawab. Tanpa kuduga dia malahan melepas kausnya dengan cepat. Kemudian Dia berbalik menghadapku dan dalam keremangan lampu kamar itu dapat kulihat tubuh langsing-atletis miliknya.

Selama beberapa saat aku menatap mata Hasan. Jantungku sepertinya ikut-ikutan berdetak cepat. Kemudian Hasan memulai duluan mencium mulutku. Lidahnya kini menyusup kedalam mulutku. Aku membalas ciumannya sambil memegangi wajahnya dengan telapak tanganku. Kini giliran lidahku yang menyusup dalam mulutnya. Hasan ternyata seorang pencium yang ulung Aku nyaris kehabisan nafas hingga aku bertanya-tanya apakah Hasan sudah sangat berpengalaman?

Tangan Hasan menjelajahi punggungku dan kemudian dia membantu melepas kaus yang kupakai. Kini tak ada lagi sesuatu yang menghalangi diantara tubuh kami. Dan Aku sangat bersyukur bukan hanya pakaianku yang masih kutinggal disini, karena aku yakin sekotak kondom yang kusembunyikan masih ada dipojokan laci mejaku…

*****

Aku menguap lebar-lebar berkali-kali sampai seorang cewek berkuncir kuda yang duduk disebelahku dalam busway melirik ke arahku dan menahan tawa. Pagi ini aku berangkat menggunakan Busway menuju kantor karena rumah orang tuaku jauh dari stasiun kereta. Sebelum aku berangkat Hasan bilang kalau dia tidak akan masuk kerja hari ini, melainkan langsung pulang ke rumahnya. Udara dingin dalam busway membuatku makin mengantuk, namun kepalaku masih dipusingkan dengan pertanyaan-pertanyaan yang seolah tidak ada jawabannya.

Bagiku Hasan adalah sebuah misteri besar. Apakah semalam itu adalah yang pertama untuk Hasan? Karena kalau begitu betapa beruntungnya aku. Namun yang aku ingat semalam, tidak ada keraguan sedikitpun pada diri Hasan untuk melakukannya denganku. Tak ada sepatah kata pun keluar dari mulut kami berdua, dan aku yakin itu bukan karena kami takut suara aktivitas kami sampai terdengar ke luar kamar. Bahkan saat aku mulai menyelidiki kedalaman diantara kedua belah pantatnya, Hasan merangkulku erat-erat, wajahnya dia benamkan padaku hingga yang kurasakan hanya nafasnya yang hangat dan berhembus cepat. Sempat terpikir bahwa Hasan melakukannya dengan terpaksa sampai akhirnya dia “keluar” sebelum aku.

Beberapa lama aku memejamkan mata, lagu yang sedang kudengar terhenti karena ada panggilan masuk. Kulihat layar ponselku dan melihat panggilan yang ternyata dari Iqbal.
“Halo?” kataku.
“Halo… elo di gerbong mana?” tanyanya.
“Ane naek busway…”
“…… udah dong. enggak usah ngehindar terus….” katanya.
“Siapa yang ngehindar?? ente tuh yang kemarin pura-pura enggak kenal…” Jawabku kesal sambil menguap lagi.
“Oke, oke… sorry… Kita kayaknya harus ngomong… Nanti sore ketemuan ya?”
“Buat apa kalo akhirnya cuma berantem?” tanyaku sambil mendelik pada cewek berkuncir kuda yang kelihatan sekali memasang telinganya untuk menguping.

“Elo tuh…”
“Udah deh… nanti sore enggak bisa. Semalem kurang tidur…” potongku.
“……..”

Aku lalu menarik nafas. Pikiranku memang sedang kacau saat ini padahal telepon dari Iqbal selalu kutunggu-tunggu, namun aku rasa dia menelepon di saat yang tidak tepat, saat dimana telah terjadi sesuatu antara aku dan Hasan.

“Oke… ane butuh waktu buat mikir sekarang ini… tapi ane janji… bakalan ngasih kabar.” Aku menutup pembicaraan.

Hari ini tidak ada kabar sama sekali dari Hasan. Aku juga tidak memiliki keberanian untuk mengirim SMS atau menelepon lebih dulu. Kurang tidur dan banyak pikiran membuat kondisi badanku turun. Kuputuskan hari Kamis esok aku akan mengambil cuti.
****
Aku belum bisa tidur nyenyak walau hari ini aku ada di rumah. Itu karena tepat diseberang rumahku, sebelah rumahnya pak RT, yang sudah setahun ini rumah tersebut kosong tidak diisi oleh penghuninya, sepertinya mulai dirapihkan. Maka itu sepanjang hari kudengar suara-suara berisik dari situ.
Satu jam lalu pak RT mampir melihat keadaanku. Dia tahu hari ini aku tidak masuk kerja karena kurang sehat. Dia juga sekalian memberikan undangan pertemuan warga.

“Kita bahas masalah keamanan nanti. Kita malu kalau sampai terjadi apa-apa di sini! bukan apa-apa.. percuma aja sepertiga perumahan ini tentara kalo keamanan enggak terjaga!” kata Pak RT bersemangat.
“Iya pak, saya nanti dateng…” kataku. “Omong-omong pak, rumah sebelah bapak siapa yang lagi ngerjain?” tanyaku.
“Yang punya rumah… dia ngerjain sendiri gak pake tukang bangunan. Kayaknya lagi bikin dapur. Kamu belum ketemu orangnya?” tanya pak RT.
Aku menggeleng. Malas sekali bertemu orang yang bikin suara berisik sepanjang hari.

Aku berbaring lagi di ranjang. Aku belum menepati janjiku memberi kabar pada Iqbal. Dari Hasan pun aku belum mendapat kabar. Kemudian aku mendengar seseorang mengetuk pintu di depan. Saat kubuka pintu Hasan sudah ada di depan.
“Sakit kang?” tanyanya melihatku yang memakai kaus, celana training dan rambutku yang melayang.
Aku mengangguk dan menyuruhnya masuk. Kami duduk di atas karpet ruang tamu.
“Minum?” tanyaku. Hasan menggeleng. Baguslah.. aku juga malas ke dapur mengambil minuman.
“Kalau haus ambil sendiri di kulkas ya…” kataku. Aku tidak heran Hasan bisa menemukan rumahku karena aku pernah memberitahu nama perumahan dan blok tempat aku tinggal.
“Ente enggak masuk kerja?” tanyaku.
“Saya udah berhenti kerja di Jakarta. mulai minggu depan saya ikut jaga warnet temen di deket rumah.” Katanya.
“Kenapa?”
“Sebenernya… Om casting director kemarin ngehubungin saya. Dia bilang sih, mau masukkin saya ke manajemen. Konsekuensinya harus selalu siap kalo tiba-tiba ada casting…” Jelasnya Aku mendengarkan.

“Jadi.. yah, dari pada di pecat gara-gara sering enggak masuk, mendingan keluar aja. Untung temen nawarin bantuin dia di Warnet. Dia juga ngertiin kalo sewaktu-waktu saya enggak masuk.” lanjutnya.
Aku masih diam mendengarkan. Suara berisik orang yang sedang memalu dinding terdengar sayup-sayup dari seberang.

“Kang… soal yang kemarin malam…. maafin saya ya?” Kata Hasan.
“Kenapa ente harus minta maaf?” tanyaku.
Agak lama Hasan terdiam.

“Ya, karena… saya pikir bakalan ada perasaan yang berubah sehabis… ya sehabis yang kemarin itu! Ternyata setelah mikir dua hari ini, saya enggak bisa mengganggap akang lebih dari sekedar sebagai kakak…” Akhirnya Hasan melanjutkan. Wajahnya tertunduk.
Aku tidak bisa berkata apa-apa.

“Tapi saya pikir lagi, kalau kita masih ketemuan. Kayaknya cuma bikin akang jadi susah aja… Sekarang aja Akang jadi sakit begini… Akang belum baikkan kan sama… Bang Iqbal?” tanyanya hati-hati.
Aku tidak menjawab.

“Akang masih sayang sama bang Iqbal?” tanyanya lagi makin pelan.
Aku mengangguk. Kami kembali terdiam. Suara gedoran diikuti bunyi tembok runtuh dari rumah seberang kembali jelas terdengar.

Hasan akhirnya menghela nafas. “Ya udah… saya mau pergi dulu kang. Cepet sembuh ya! Mudah-mudahan kita bisa ketemu lagi kapan-kapan.” Ujarnya yang pada kalimat terakhir terkesan sekali basa-basinya.

Dia bangkit dari duduknya dan aku mengikutinya. Sesaat Hasan seperti bingung harus berbuat apa antara hendak memeluk atau bersalaman. Akhirnya dia menjabat tanganku sambil tersenyum.

Aku melihat Hasan pergi sampai sosoknya menghilang di tikungan jalan. Bagiku Hasan masih merupakan sebuah misteri besar.
Akhirnya hari itu aku bisa tertidur dengan lelap.

Jum’at pagi ini rasa kangenku pada Iqbal sudah sangat menggunung, ingin rasanya segera berbaikan dengannya. Namun aku tidak tahu apa yang harus kubicarakan. Dari tadi aku bolak-balik bingung memutuskan antara menelepon atau mengirim SMS pada Iqbal. Akhirnya jam 10 aku mengirim e-mail untuk Iqbal. Karena tidak biasanya aku kehilangan kata-kata, akhirnya kuputuskan untuk mengirim bait lagu Hingga Akhir Waktu nya Nine Ball yang memang beberapa hari ini ada dalam playlist mp3 ku. (Norak ya? enggak tahu kenapa bisa se-mellow ini…)

-Tak’kan pernah ada yang lain di sisi… segenap jiwa hanya untukmu…
dan takkan mungkin ada yang lain di sisi, kuingin kau di sini, tepiskan sepiku bersamamu…-

Sampai jam setengah dua belas siang, Iqbal tidak merespon e-mail ku baik lewat telepon maupun SMS. Sekali lagi sebelum aku berangkat shalat Jumat aku memeriksa ikon amplop di YM ku yang masih tidak menyala merah.

*****

Lantai dua Mesjid dekat kantor masih belum dipenuhi orang. Aku mengambil tempat di pojok. Aku tidak memerhatikan saat pengumuman jumlah kas mesjid dibacakan, karena aku duduk sambil menundukkan kepala. Beberapa lama kemudian orang yang habis shalat sunnah disebelahku mengajakku bersalaman. Aku terkejut saat melihat cincin yang dikenakan pada lengannya karena cincin itu sangat kukenali. Aku langsung menoleh memastikan kalau dugaanku benar, dan ternyata Iqbal lah yang duduk di sampingku. Aku memang pernah berkata pada Iqbal kalau aku shalat jumat suka duduk di lantai dua. Ternyata hari ini dia sengaja shalat di masjid dekat kantorku. Selama di masjid itu aku dan Iqbal tidak berkata apa-apa namun aku merasakan senyumku tidak henti-hentinya mengembang.

Sabtu pagi itu aku terbangun oleh SMS yang dikirimkan Iqbal. Dia akan datang hari ini. Saat aku hendak bersiap-siap mandi, dari depan terdengar ketukan pintu. Aku bingung… apa Iqbal datang secepat itu? padahal dia bilang akan datang agak siang.

Aku lalu membuka pintu. Dihadapanku ada seorang pria berwajah manis berambut cepak dan hanya mengenakan celana tentara yang digulung selutut. Badannya yang terlatih secara militer dengan dada bidang dan perut rata itu mengkilap karena keringat. Lengannya dikotori oleh debu adukan semen.
“Maaf mas… saya yang tinggal di seberang, tetangga baru mas… boleh minta air se-ember?” tanyanya sambil mengelap keringat di dahinya.
Sekali lagi Aku cuma bisa melongo.

SUKA CERITA INI DAN TAK SABAR MENUNGGU LANJUTANNYA?
HEART STATION DALAM BENTUK NOVEL??
Klik http://wp.me/p2Jz37-5I UNTUK CARA PEMESANAN
ATAU INVITE PIN BB PENULIS 7E730313 UNTUK DIBANTU PESAN

http://nulisbuku.com/books/view_book/1107/heart-station

-Bersambung-

 

Advertisements
Comments
  1. jupe says:

    Bang. lagu you’re my sunshine itu bukannya lagu iklan bebelac yaa? heheheh

  2. Bar says:

    Jujur Kecewa Banget,,, Aku Udah Cinta Mati Banget Ama Iqbal,,, Tapi Napah Iqbal Kok Disingkirin ??? Benci Ama Tokoh-Tokoh Yang Ngeganggu Hubungan Remy Ama Iqbal,,, Plis Satukan Remy Ama Iqbal !!!

  3. Bar says:

    Bang Rosyid Ditinggal Istri Lanjutin Dong…

  4. Ray says:

    Nama penulisnya siapa?

  5. Ray says:

    Kalau yg punya blog?

    • Semua yang nulis dan yang ngurus blog saya sendiri: abang remy linguini. Enggak terima cerita penulis lain. *bales komentar di jalan*

      • andrea RB says:

        Hahaha. Ntah knp abis baca crta heart station ini bawaanny pngen ikutan coment aja,soalnya crtany lbih real ktmbng yg lain dan lucunya sayup2 smpai. Ati2 kang, kejedot lgi kakinya. Hasan nya jauh nih di sumbar #eh

  6. gue says:

    bang remy 😉 kapan nih “Bang Rosyid Ditinggal Istri part2” di posting? sy suka ceritanya

  7. Ray says:

    🙂 aku baru tahu blogmu.

  8. Maro says:

    Ane udh beberapa kali buka blog ini, & baca beberapa judul cerita. Tp Hart Station yg membuat ane merasa terhanyut d dlmnya, krn tempat” yg ada dlm ceritanya familiar sekali, spt station kota (dulu sering main ksana), AW (pernah makan dsana jg). Serta tata bahasany yg mudh bgt d cerna n d resapi. Pokokny good bgt deh. Jd pengen ketemu sma penulisny hehehe *penasaran.com

  9. Maro says:

    BTW, Hart Station smp part brp sih tamatnya Bang?. Thanks Bang, ane jd mulai suka baca novel lg nih (kelamaan sibuk krj):-P

  10. raihan says:

    Ya ampun sampe kbawa kdalem cerita.. sampe2 ngebayangin orangnya dan seolah2 kita yang jalanin… semangt buat abang.. ditunggu part berikutny…

  11. regular walker says:

    Bikin novel romance lagi lah bang…walo ada resiko kegep sama nyokap lagj…. Gue pasti tetep beli…;)

  12. @julian_bougru says:

    baca cerita-cerita dari bang remy gak pernah bikin saia bosen, selalu inspiratif dan selalu jago buat milih bahasa-bahasa yg gak fulgar namun menarik. meski terkadang kalo baca cerita hasll pengalaman pribadi bang remy selalu bikin sirik karna perasaan selalu beruntung bisa dapatin n rasain apa aja yang dipengenin…. ;’)

  13. Fadil says:

    Baaang a husband untold stories nya kpan lanjut???? udah penasaran bgt ini bang 😦

  14. Zosev says:

    Suka banget ceritanya… 🙂

  15. yashin says:

    wah seru banget..untung aja Hasan gak sampe berubah..hubungan saudara lbh penting daripd nafsu.
    ingat Hasan ingat teman kerjaku,ditempat dia kost Ada juga yg ngekost namany Hasan yg orangnya cakep rada mirip Rizky Nazar aku sering nginap disana dan ntah knp si Hasan itu slalu ngeliat dan senyum rada malu gitu ma aku..padahal aku yg malu liat dia Karena aku suka berisik nyalain lagu rock 90.an kenceng2,,dan kata teman aku dia sering nanya tentang aku..untung aja aku bitchy

  16. beenimnida says:

    Bang remy.. Hiks kok aku baca juga spoilernya si bang?

  17. kenjiro says:

    Awalnya suka sama karakter Remy (entah fiksi atau nyata), tp di part ini sifat Ego nya Remy benar2 keliatan dan lumayan bikin kecewa, but ceritanya menarik.

  18. Kalo saya lbih suka critanya lbih ramping, bagus sih romance nya ga melulu di sex sperti kbanyakan crita gay lainnya, tapi kayaknya agak bosan karna alur critanya jauh dr skedar remy dan iqbal, terlalu banyak bahas si hasan, klo kenyataan pasti si iqbal dah kesel bgt tuh d cuekin karna hasan, pdahal kan statusnya emng udah jadian.
    Lanjut baca lagi ah, seru sih critanya, hehehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s