HS-2Mungkin ada yang penasaran, novel Heart Station itu ceritanya apa ya? Penulis akan posting di sini, siapa tahu ada yang berminat buat beli novelnya. 😀

PART 2 – PANTAI ANYER

Jum’at pagi, rombongan besar terakhir sudah turun di Stasiun Juanda sehingga isi gerbong hanya tinggal kurang dari seperempatnya. Aku sedang sibuk membalas SMS teman dari kantor lama sementara Iqbal duduk disebelahku.
“Jadi kapan berangkatnya?” tanya Iqbal.
“Besok pagi jam 9,” aku menjawab sambil mengetik pesan singkat di ponsel.
“Sendirian?” tanya Iqbal lagi.
“Kayaknya sih sendirian. Ya.. kalo enggak paling sekamar ama yang masih singel juga,” jawabku sambil mengetik. Iqbal terdiam.
“Kira-kira kalo sekamar ama siapa?” tanyanya lagi.
Aku menghentikan kesibukanku mengetik dan langsung menutup flip ponselku. Kemudian aku menoleh ke arah Iqbal dengan sedikit kesal.
“Ente cemburu?” tanyaku pelan memastikan tidak terdengar oleh penumpang lain.
“Enggak!” kata Iqbal ketus.
“Ck..” aku mendecak kurang sabar lalu membuka flip ponselku dan mulai mencari-cari nomor kontak.

“Nelepon siapa?” tanya Iqbal sambil berusaha melihat layar ponselku.
Aku tidak menjawab dan menunggu nada tersambung.
“Halo? Mbak Dini ya? Remy nih… Kayla lagi ngapain mbak?” tanyaku dengan nada riang. Iqbal melotot kesal.
“Enggak. belom turun nih. biasa… ngantri masuk stasiun kota,” kataku lagi.
“Bukan kok.. bukan laporan.. Mas Iqbal enggak larak-lirik cewek kok di gerbong.. hehe… tenang aja mbak,” lanjutku.
“Iya… besok aku mau ke Anyer mbak. 3 hari dua malem.. acara family gathering kantor.”
“……..”
“Rugi sih… soalnya yang lain pada bawa keluarga, aku yang masih singel jatahnya cuma sendiri..”
“……..”
“Hahaha… iya… iya… mbak. Tenang aja oleh-olehnya pasti dibawain. Udah dulu ya mbak.. dah…” kataku kemudian menutup telepon.
“Gak usah sok akrab deh sama Dini!” kata Iqbal kesal.
“Gak pake sok juga emang udah akrab.” jawabku santai.
Ya, hubungan aku dan Mbak Dini, istrinya Iqbal, memang dekat. Mungkin karena zodiak kita sama. Pernah kita janjian belanja di Botanical Square Mall, aku dan Mbak Dini sibuk mengobrol dan belanja sementara Iqbal kita cuekkin. Mbak… sorry ya, kita berbagi suami.
“Ya udah! bilang dong lu sekamar ama siapa?” tanya Iqbal.
“Ya gak tahu!! itu kan tergantung panitia di sana! ane belum nanya!” sahutku.
Seorang Bapak-bapak yang duduk di bangku seberang melirik ke arah kami, sepertinya dia agak terganggu dengan percakapan kami. Tidak mau menarik perhatian lebih banyak orang lagi, kami menggeser duduk kami agak berjauhan.
“Mungkin ama Paul,” kataku.
Dahi Iqbal semakin mengerut. Dia tidak suka kalau aku membicarakan Paul, Nyong Ambon anak divisi teknik yang masih keturunan Belanda dari kakeknya itu memang ganteng. Kepada Iqbal Aku sudah pernah membicarakan tentang dia yang suka datang ke ruanganku mengajak makan siang.
“Mungkin juga sama Tian atau Rudy,” sambungku.
“Anak IT yang chinese itu?” tanya Iqbal.
Mendengar kalimatnya yang terlalu menekankan kata chinese membuatku langsung merasa sebal.
“Ente lupa ya nyokap ane juga chinese?”
“Sorry,” kata Iqbal lagi.
“Lagian Ente juga demen kan ama wajah oriental?” ujarku.
Walau Ayahku orang sunda keturunan Arab, ibuku memang keturunan chinese asal cirebon, mungkin karena anak cowok lebih ikut ke Ibu, maka gen orientalnya menurun padaku. Sementara adik perempuanku lebih terlihat mirip ayah, hingga orang sulit percaya kami bersaudara.
“Enggak usah ikut aja kenapa sih?” tuntut Iqbal.
“Ya, gak mungkin lah! Kan bos-bos ane bakalan dateng semua. Apa kata mereka kalau anak baru aja udah enggak mau ikutan acara kantor?” protesku.
Iqbal kembali terdiam. Lalu dia melanjutkan, “Kan kita bisa jalan-jalan sendiri..”
“Kayak tempo hari kita ke Bandung?” tanyaku kesal.
Iqbal dan aku memang pernah jalan-jalan ke Bandung tepatnya ke Tangkuban perahu. Dia bisa meyakinkan istrinya untuk tidak curiga padanya pergi saat akhir pekan entah apa yang dia bilang. Kami berangkat dengan mobil yang disewa Iqbal lewat jalur Cipularang dan berencana pulang memutar jalur lewat puncak dan menginap di hotel.

Sayang, weekend yang semula kupikir akan romantis jadi berantakan. Dimulai dari Iqbal yang ingin mencicipi Bakso Setan di dekat restoran dengan hiasan patung gurame di daerah puncak pass. Saat itu sudah lewat jam 6 sore. Dia yang tidak begitu suka dengan Bakso memaksa makan satu porsi. Saat menyetir ditengah jalur ke arah Bogor, perut Iqbal mulai bermasalah. Dia bahkan menepikan mobil dua kali untuk muntah, karena usaha pertamanya untuk mengosongkan isi perutnya gagal.
Kami berdebat dan aku menyalahkan dia karena makan bakso terlalu banyak. Karena sepanjang jalan bertengkar, aku menolak rencana semula untuk menginap di hotel. Iqbal yang kesal pun akhirnya meneruskan perjalanan kembali ke Bogor.
“Ya kita gak usah ke Bandung lagi,” katanya.
Kereta telah berhenti di stasiun dan pintu-pintunya sudah terbuka. Aku berdiri dan langsung turun tidak berniat lagi meneruskan perdebatan dengan Iqbal.

Malam harinya aku sibuk berkemas-kemas membawa pakaian dan perlengkapan seperlunya. Setelah perdebatan tadi pagi Iqbal belum mengirim sms atau meneleponku. Sepanjang hari di kantorpun aku sulit konsentrasi.
Aku masih kesal pada Iqbal yang menurutku kecemburuannya sangat tidak masuk akal. Tapi aku juga sedikit menyesal sudah memancing kemarahannya dengan menyebut-nyebut nama Paul.
Ah… jadi kangen sama Iqbal. Apalagi alunan lagu Metronome-nya Jolin Tsai dari CD yang kuputar membuatku makin merasa melankolis. Tidak mau makin senewen, aku mematikan CD player, memasang alarm, dan langsung tidur.

*****
“Terima kasih,” kataku sambil mengambil name-tag dari mbak panitia travel.
“Bus No. 1 yang itu ya?” tanyaku.
Setelah mendapat jawaban Ya dari mbak panitia, aku menenteng tas-travel ku menuju Bus yang ditunjukkan. Setelah memasukkan tas travel di bagasi, aku naik dan mencari-cari tempat duduk bagian pojok yang sekiranya tidak akan tersorot cahaya matahari dalam perjalanan nanti.
Aku membuka ponselku. Tidak ada telepon ataupun balasan SMS dari Iqbal. Padahal pagi tadi aku sudah mengirim SMS padanya memberitahukan kalau aku jadi berangkat.
Kututup kembali ponselku. Lalu aku memasang Kacamata hitam dan menjejalkan earphone ke telinga. Beberapa saat aku bersandar, Lina, si centil anak divisi finance itu tiba-tiba sudah berdiri didekat kursiku.

“Eh.. Remy. Aku duduk sama dikau ya?” tanyanya genit.
Aku menoleh, dan tanpa menjawab aku meletakkan tas ranselku di bangku kosong sebelahku. Lina kemudian pergi sambil bersungut-sungut.
Lima belas menit kemudian Bus mulai jalan. Bus bernomor satu ini cukup kosong. Aku sama sekali tidak mendengarkan saat si Mas Tour Guide hitam-manis itu mulai memberikan sambutan.
Empat jam kemudian setelah kami transit untuk makan siang, Kami akhirnya tiba di Hotel tempat kami menginap. Aku menunggu penyerahan kunci kamar di Lobby sambil menyeruput Welcome drink. Saat namaku dipanggil aku menghampiri si Mas hitam-manis dan mengambil kunci kamarku. Rupanya aku dapat kamar sendiri. Saat menuju lift aku melihat Paul sedang memprotes sesuatu yang kedengarannya seperti “tidak mau sekamar dengan Tian dan Rudy”
“Jadi beta tidur di extra bed?” protes Paul.
“Iya… kamu waktu itu bilang gak mau ikut. Trus berubah pikiran. Ya udah.. Tempat yang ada kamar Double tempat Tian dan Rudy, kamu tidur di extra bed!” Kata Bu Rulita, panitia dari perusahaan.
“Tapi kenapa beta seng sekamar saja deng…..” Kata-kata Paul terpotong saat pintu lift menutup.
Sampai dikamar aku segera mengganti celana jeansku dengan celana selutut. Sore itu juga acara game dimulai. Sekali lagi aku memeriksa ponselku. Hanya ada satu SMS dari Mama yang menanyakan apakah aku sudah sampai. Tidak ada SMS dari Iqbal. Setelah membalas SMS Mama, kuletakkan ponsel di meja dan menyambar kamera digitalku lalu aku menuju Pool 2 tempat game dilaksanakan.
Games berlangsung seru walaupun aku tidak begitu menikmatinya karena masih terus memikirkan Iqbal. Ketika acara bebas, aku memilih untuk menolak ajakan Tian, Rudy dan Paul untuk jalan-jalan di pantai. Lagipula Sudah gelap, lebih baik aku mandi dan bersiap-siap untuk acara makan malam.
Makan malam pukul 7. Semua peserta tour dan keluarga sudah berkumpul di ruang yang ditentukan. Ruang pertemuan itu sangat indah. Diterangi cahaya lampu aku bisa melihat meja-meja yang bertilam taplak cantik dengan gelas-gelas bening diatasnya. Setelah mengambil makanan, aku bergabung di meja Tian, Rudy dan Paul disusul kemudian Lina dan Eva, sekertaris Bosku.
Sambutan acara dan pembagian hadiah berlangsung meriah. Ditengah acara, Rudy mengusulkan untuk menonton Film DVD yang dibawanya di kamar anak-anak gadis. Jadilah kita satu meja keluar ruangan terlebih dahulu.

Aku kembali ke kamar untuk menaruh sesuatu dan berjanji akan menyusul mereka ke kamar para cewek. Saat kulihat ponselku yang sengaja kutinggal di kamar, aku melihat ada dua kali panggilan tak terjawab dari Iqbal. Saat aku hendak meneleponnya, aku mengurungkan niat dan meletakkan ponselku kembali dan pergi ke kamar anak perempuan.
Sudah hampir jam satu malam. Aku tidak kuat lagi menahan kantuk dan pamit kembali ke kamar. Anak-anak cewek sudah tewas tertidur, sementara Tian, Rudy dan Paul masih asyik menonton.
“Eh.. ane balik ke kamar ya?” kataku.
Tian cuma melambaikan tangannya tanpa menoleh sementara Rudy cuek.
“Rem.. gue ikut elo deh… Tian, kunci kamar gue bawa ya? entar kalo udah lu ketok aja.” Tiba-tiba Paul ikut beranjak dan memakai sandal jepitnya.
Tian kembali melambaikan tangannya.
Saat kami menelusuri lorong, (kamarku dan kamar cewek ada di lantai yang sama) aku cuma diam.
Saat di depan kamarku aku berkata, “Sampe besok ya?” lalu aku memasukkan kunci berbentuk kartu itu ke lubangnya.
“Rem, gue numpang dulu pake kamar mandi lo ya? gak tahan nih,” kata Paul.
“Kenapa tadi ente enggak pake kamar mandi anak cewek?” tanyaku sambil membuka pintu.
“Beta seng enak ah,” ujarnya lagi. Akhirnya kupersilakan dia masuk.
“Wah enak ya kamar lo? sendirian lagi!” Paul berkata sambil melongok ke kamar tidur.
“Katanya udah gak tahan,” kataku me-ngingatkan.
“Oh iya..” kata Paul. Kemudian dia masuk ke kamar mandi.
Beberapa saat kemudian Paul selesai.
“Udah?” tanyaku sambil membukakan pintu.
Paul tidak menjawab, kelihatannya dia ingin mengatakan sesuatu.
“Rem.. ng..” katanya.
“Duh.. Paul! kalo ada yang mau diomongin besok aja deh! ane dah ngantuk nih!” kataku sambil mendorongnya Keluar kamar.
Aku mengunci pintu kamar dan mengambil ponselku. Lalu aku menjatuhkan tubuhku diatas ranjang sambil membuka Flip ponsel dan melihat ada dua kali lagi Misscall dari Iqbal.
Kenapa gak sms aja sih kalo mau ngomong sesuatu? keluhku dalam hati. Lalu aku meletakkan ponselku di meja dan tertidur.

Keesokan pagi aku terbangun jam setengah tujuh. Aku lalu mandi lalu menuju ruang yang sama dengan semalam untuk sarapan. Saat makan kami berencana untuk berenang ke pantai. Kami mengobrol dengan seru kecuali Paul yang pagi ini kelihatan lebih banyak diam. Selesai makan kami segera ke pantai. Ternyata pantai sudah sangat ramai oleh pengunjung hotel bercampur dengan para penjual dan penjaja papan selancar sewaan serta calo banana boat.
Tian, Rudy dan Paul langsung menyebur ke laut, sementara aku masih sibuk mengabadikan suasana pantai dengan kameraku. Awan mendung menyelimuti pantai di kejauhan. Tiba-tiba muncul pelangi melingkar dengan indah. Aku mengambil beberapa gambarnya sampai aku tersadar… Ada pelangi berarti ada HUJAN!! pikirku.
Benar saja tiba-tiba hujan turun dengan deras. Aku segera melindungi kameraku dan berlari kembali ke kamar hotel. Aku segera membuka kausku yang basah dan mengambil handuk dari kamar mandi. Saat aku menggosok-gosok rambutku dengan handuk kudengar bel kamar berbunyi.
Aku segera menghampiri pintu dan mengintip dari peep-hole. Ternyata di luar Paul berdiri dan badannya basah kuyup. Aku lalu membukakan pintu untuknya. Dia terlihat menggigil kedinginan.
Aku memerhatikan Paul, kausnya yang basah membuatnya melekat di kulitnya sehingga menonjolkan lekukan otot-otot tubuh Paul yang aku yakin sering dilatihnya di Gym.
“Pinjem handuk Rem,” kata Paul sambil masih menggigil.
Kemudian Paul ke kamar mandi dan keluar lagi dengan membawa handuk.
“Kenapa ente gak minjem handuk di kolam renang?” tanyaku sambil menyalakan teko pemanas air. Saat itu aku hanya memakai celana pendek dan handuk di pundakku.
“Yang jaganya seng ada.. trus beta seng lihat Rudy sama Tian, mereka yang megang kunci. Jadinya beta kemari,” kata Paul sambil menggosok rambutnya, lupa menahan logat Ambonnya.
“Mau kopi?” tanyaku.
“Boleh,” jawab Paul.
Tidak berapa lama kemudian dia tiba-tiba melepas kausnya.Melihat tubuhnya yang atletis, mau tidak mau membuat jantungku berdetak cepat. Aku berusaha bersikap santai sambil meletakkan cangkir kopi di meja dan duduk disebelahnya.
“Beta jemur disini dulu ya sebentar. seng napa toh?” tanya Paul meletakkan kausnya di sandaran kursi. Kemudian dia melingkarkan handuk di pundaknya.
“Gimana? Divisi teknik ada proyek di Ambon?” tanyaku berbasa-basi tidak berani menatap Paul.
“Iya nih.. sebentar lagi kita ada proyek bikin Plaza di sana,” jawab Paul sambil memain-mainkan cangkirnya.

Paul memang arsitek di divisi teknik dan properti perusahaan. Cowok 26 tahun itu Baru sebulan lalu kembali dari proyek di Papua. Nah, saat sebulan itu dia sering sekali menyapaku, mengajak makan siang dan ngobrol. Hubungan kami sebatas teman saja sebab walaupun ganteng, aku tidak ingin coba-coba dengannya.
“Rem, gue mau ngomong sama lo,” kata Paul tiba-tiba serius. Logat ambonnya kembali hilang.
“Ngomong apa?” tanyaku mencoba memberanikan diri menatap Paul.
“Gue harus ngomong ke elu sebab bulan depan gue mulai ngerjain proyek di Ambon,” katanya.
“Seserius itu ya?” tanyaku.
“Rem.. lu mungkin gak nyadar kenapa gue ramah banget sama lo sejak gue balik dari Papua dan kenalan sama lo,” kata Paul.
Aku hanya diam.
“Waktu kita sering ngobrol, gue… gue… gue tahu mungkin gue gak ada harapan. Tapi kalo gue enggak bilang, gue bakalan nyesel seumur hidup!” nada suara Paul makin meninggi.
Aku masih terdiam.
“Rem.. gue suka sama elo…” lanjut Paul dengan pelan.
“Hah?” tanyaku. Jantungku kembali berdetak kencang.
Paul mendekatkan wajahnya padaku hingga aku bisa melihat jelas wajah tampannya. Tanpa kuduga Paul mulai menciumku. Handuknya yang melingkar di pundaknya terjatuh saat Paul berusaha memelukku. Selama beberapa saat ciuman Paul benar-benar membuatku melayang.
Sampai aku teringat pada Iqbal, aku mendorong Paul.
“Paul… Sorry..” kataku sambil memperbaiki handuk yang kupakai.
“Gue tau lo juga Gay kan Rem? gue pernah liat lo buka website gay di monitor lo…” tuntut Paul.
“Bukan gitu Paul…” kataku sambil berdiri.
Lama kami terdiam hingga akhirnya Paul mengerti.
“Gue… dah gak ada harapan ya?” tanyanya lemah.
Aku cuma mengangguk.
“Udah ada orang yang lo sayang?” tanya Paul lagi.
Aku mengangguk lagi.
Sambil menghela nafas Paul memungut kembali handuknya. “Tadinya gue berharap, sebelum gue ke Ambon…..” Paul tidak melanjutkan kata-katanya.
“Kayaknya Rudy dengan Tian sudah balik ke kamar. Makasih handuk sama kopinya ya,” sambung Paul sambil meletakkan handuk di sandaran kursi dan mengambil kausnya. Kaus basah itu digantungkan di pundaknya dan Paul berdiri dari tempat duduknya.
“Paul… sorry ya…” kataku.
Paul tidak menjawab. Aku hanya bisa menatap punggung kekar Paul saat dia keluar kamarku.
Saat makan siang tiba, hujan sudah benar-benar berhenti. Matahari kembali bersinar terik. Hampir 15 menit aku terlambat sampai ruang makan. Aku tidak melihat Paul saat aku makan bersama geng singel. Kami cepat-cepat makan karena ingin berjalan-jalan kembali di pantai.
Ketika aku keluar ruang makan, aku lihat Paul sedang berbicara dengan Bu Liene, Boss ku. Entah apa yang dibicarakan, Paul terlihat serius.
Pantai kembali terlihat ramai. Terpal-terpal tenda tempat para penjual masih basah bekas hujan tadi pagi. Aku kembali berjalan menyusuri pantai, sementara anak cewek, Rudy dan Tian sudah kembali berenang di laut.
Kudatangi salah satu tenda tempat menjual cinderamata berupa kerang-kerangan. Aku memilih-milih untuk kubawakan oleh-oleh untuk Mbak Dini. Sempat bingung dengan dua pigura berhiaskan kerang, akhirnya aku bertanya pada penjualnya.
“Pak… kira-kira bagusan yang mana ya?” tanyaku tidak yakin.
“Yang ada kerang besarnya pasti Dini suka…”
Aku terkejut saat mendengar suara yang kukenal. Aku menoleh dan kulihat Iqbal sudah berdiri didekatku dengan kacamata hitamnya. Dia tersenyum.
Kalau saja aku tidak segera sadar ini tempat umum, pasti aku akan langsung memeluknya saat itu juga.

******
Aku dan Iqbal duduk di atas pasir bernaungkan terpal, sepertinya tempat itu hari ini tidak dipakai berjualan oleh yang punya.
“Kapan datang?” tanyaku.
“Udah satu jam, check-in dulu trus makan siang.” Kata Iqbal.
“Pake apa ke sini?” tanyaku sambil memain-mainkan pasir.
“Kemarin gue pinjam mobil temen buat nganter Kayla menginap sama mamanya ke rumah nenek Kayla yang di Sukabumi. Trus gue ke sini..” Terang Iqbal.
“Mbak Dini gak nanya-nanya kalo gak langsung pulang?” tanyaku khawatir.
Iqbal cuma menggeleng.
“Semalem sorry ya, telpon ente gak diangkat…” kataku.
“Gapapa… gue tau kalo lu masih marah.” Kata Iqbal.
Kami terdiam, lalu aku melihat jam tanganku.
“Kayaknya game nya udah mau mulai..” kataku sambil berdiri.
“Enggak bisa gak ikut ya?” tanya Iqbal kecewa.
“Ane udah daftar ikut tarik tambang sama games laen… Kita ketemu di kamar ente aja nanti malem ya? No berapa?” tanyaku.
“4401 B Nakula Tower.” Kata Iqbal. “Trus gue ngapain dong?” Tanya Iqbal.
“Gamesnya di Pool dua, kalo mau liat, sambil berenang aja di Pool Bar, kan ane juga bisa ngeliatin ente..” Kataku sambil tersenyum nakal.

Makan malam hari ini rupanya digabung dengan acara Barbeque dan show Organ tunggal. Acara berjalan lebih lama dari Kemarin. Sesekali aku melihat jam tanganku dan sangat berharap bisa menyelinap keluar. Saat aku mengambil potongan sosis dan ikan panggang, aku melihat Rudy dan Tian sedang bicara. Paul malam itu tidak kelihatan.
“Dipercepat?” tanya Tian pada Rudy.
“Iya.. semalem dia ngomong gitu.” Kata Rudy.
“Ngomongin apa sih?” tanyaku saat menghampiri mereka.
“Ini.. si Paul. Tadi katanya dia minta sama Bu Liene supaya dia bisa berangkat ke ambon dipercepat.” Kata Rudy.
“Oooo… kapan berangkatnya?” tanyaku. Aku sedikit banyak merasa sebagian keputusan Paul dikarenakan aku.
“Minggu depan.” Kata Rudy lagi.
Aku hanya terdiam sementara Rudy dan Tian kembali mengobrol.
“Eh, Rem.. entar nonton di kamarku yuk… anak-anak cewek pada mau datang…” Kata Tian.
Sadar kalau mungkin Paul tidak mau bertemu denganku, aku menolak. Lagipula aku ada janji dengan Iqbal malam ini.
Sekitar tiga puluh menit kemudian aku berhasil menyelinap keluar. Sayup-sayup dari ruang makan masih kudengar suara si penyanyi yang wajahnya mirip Dewi Perssik itu menyanyikan lagu Ketahuan-nya band Matta.
Aku membunyikan bel kamar 4401B. Beberapa detik kemudian Iqbal membuka Pintu, Saat itu dia memakai kaus putih dan celana pendek.
“Lama banget…” keluhnya.
“Nonton Dewi Perssik dulu… lumayan enak nyanyinya.” Kataku. Iqbal tidak mengerti.
“Boleh masuk gak nih?” tanyaku.
Iqbal cuma tersenyum, dia menghilang sebentar ke balik pintu sebelum akhirnya dia muncul kembali dan menyerahkan sesuatu padaku. Aku menerimanya dengan keheranan.
“Tolong pasangin di pintu.” Kata Iqbal.
Aku hanya tersenyum dan menggantungkan tanda “DO NOT DISTURB” pada pegangan pintu. Kemudian aku masuk ke kamar Iqbal dan menutup pintunya.

*****
Hari terakhir di Anyer. Iqbal berniat check-out pagi hari ini dan langsung kembali ke Bogor. Saat sarapan aku harus menjawab pertanyaan Rudy dan Tian kenapa tadi malam aku tidak membukakan pintu kamarku saat mereka membunyikan Bel.
“Ane tidur sambil denger lagu… makanya ga kedengaran.” Kataku sambil menyuap sesendok bubur ayam menu sarapan pagi itu.
Hari itu sebelum kami check-out, kami akan ikut acara naik banana boat gratis. Aku dan teman-teman bergegas ke pantai. Saat kami keluar, aku berpapasan dengan Paul yang baru datang untuk sarapan. Dia tidak menyapa kami.
Setelah memakai pelampung aku berjalan menuju banana Boat. Panitia memanggil-manggil untuk segera menaiki salah satu banana boat itu. Giliran kami setelah menunggu 2 grup yang naik terlebih dahulu.
“Ayo enam orang lagi!!” teriak si Mbak Tour guide di pengeras suaranya.
Tian naik lebih dahulu, disusul Eva lalu Rudy kemudian Lina. Barulah aku naik.
“Gak usah malu-malu!! peluk aja peluk!!” Kata teman-teman sekantor kami yang lain berseru menggoda di pinggir pantai.
Awalnya Eva ragu memeluk Tian. akhirnya dia melakukannya juga. Begitu juga Rudy memeluk Eva dan Lina memeluk Rudy. Aku yang dibelakang Lina memeluk pinggangnya.
“Lebih kenceng juga gapapa kok Rem..” Kata Lina genit. Aku cuma tersenyum masam.
“Nah… gitu kan seru… suit suit!” seru karyawan lain sambil tertawa-tawa.
“Ayo! satu orang lagi… satu orang lagi… siapa mau naik!!” teriak si Mbak Tour Guide.
Tak ada yang mau naik sampai akhirnya terdengar suara.
“Aku aja!”
Kami semua menoleh, Paul berlari-lari di ombak menuju Banana Boat kami. Dia lalu duduk di belakangku.
Paul kemudian merapatkan tubuhnya dan melingkarkan tangannya di pinggangku.
“Gapapa kan?” pintanya.
Aku mengangguk dan tersenyum. “Siap !!!” teriak Paul.

Banana Boat mulai bergerak seiring dengan mesin speedboat yang melaju. kami bergembira mengendarai Banana Boat, aku tidak menyangkal menikmati pelukan Paul. Paul… Paul… seandainya saja kita bertemu dalam situasi yang memungkinkan, mungkin aku akan senang bila kamu jadi pacarku. Tapi aku masih sayang sama Iqbal, di luar hubungan kami yang rumit karena Iqbal sudah memiliki keluarga. Sedangkan aku juga tidak mau kalau aku memiliki komitmen dengan Paul artinya aku harus siap dengan hubungan jarak jauh, sesuatu yang sangat tidak aku sukai.
Sayang liburan kali ini harus berakhir… kami akhirnya pulang kembali ke kantor.

SUKA CERITA INI DAN TAK SABAR MENUNGGU LANJUTANNYA?
HEART STATION DALAM BENTUK NOVEL??
Klik http://wp.me/p2Jz37-5I UNTUK CARA PEMESANAN
ATAU INVITE PIN BB PENULIS 7E730313 UNTUK DIBANTU PESAN

http://nulisbuku.com/books/view_book/1107/heart-station

Bersambung

 

Advertisements
Comments
  1. abep says:

    .emng ini kisah nyata bang ?

  2. Bar says:

    Remy Ama Iqbal Ajah,,, Plis !!! Jangan Ama Yang Laen,,, Gak Suka Banget…

  3. blackshappire says:

    paling suka part ini….
    untuk chapter berikutnya klo ga salah uda mulai ada konfik ma iqbal ya, sangat disayangkan sebenernya

  4. lexi says:

    secara keseluruhan aku suka,,,jadi pngen bli novelnya…tapi kaya’nya enakan langsung beli sama orangnya..sekalian sharing…siapa tau kisahku bisa di bantu nulis….heheheeee

    • dhio says:

      Tau nih broo, pinnya sudah saya invite tapi belom di acc, lebih enak juga kalo beli langsung sama orangnya / penulisnya,
      Siapa tau bisa saling share,
      Dan siapa tau juga bisa bikin acara semacem acara meet n great gitu, entah itu kapan dan dimana ..
      Hehehe

  5. Yuzalby says:

    Seruuu, cerita na bgus

  6. dhio says:

    Saya suka smw cerita novel2 nya bang remy
    Pengen ngoleksi semua novel karyanya bang Remy,
    Ehh tau2nya kontak bang Remy udah gak ada di kontak saya,
    Saya di dc ya bang ??

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s