HS-1HEART STATION
By: Abang Remy Linguini

Mungkin ada yang penasaran, novel Heart Station itu ceritanya apa ya? Penulis akan posting di sini, siapa tahu ada yang berminat buat beli novelnya. 😀

PART 1 – DI PAKUAN EXPRESS

Ya, awal tahun 2008. Pindah ke rumah sendiri. Berpisah dari orangtua, pindah kerja pula ke Jakarta. Meninggalkan kenyamanan kerja di Bogor rupanya membuatku terkaget-kaget dengan suasana ibu kota.
Sarana transportasi utama yang kugunakan sekarang adalah Kereta Rel Listrik (KRL) jurusan Bogor – Jakarta Kota. Seminggu pertama aku mencoba membiasakan diri menggunakan KRL ekonomi. Namun kondisi badanku menjadi drop. Akhirnya di minggu ke-2 kuputuskan untuk naik express di pagi hari dan ekonomi saat pulang kerja. (kombinasi yang cukup menguntungkan dalam menghemat uang transport). Minggu-minggu awal, aku selalu berpindah-pindah gerbong ketika naik. Sampai suatu hari aku naik di gerbong 6. Disitulah Aku melihat pria yang menarik perhatianku. Sosoknya yang menurutku tampan, telah mengganggu konsentrasiku tiap pagi, dan membuatku memutuskan untuk seterusnya, hari-hari kedepan akan selalu naik di gerbong 6.
Rupanya individualitas yang tinggi di gerbong kelas berpendingin udara menyebabkan aku sulit mencari celah untuk membuka percakapan dengan si Iqbal (panggilanku buatnya). Aku hanya cukup puas memandangnya dari jauh ketika kita berdiri berjauhan. Berdebar kencang saat dia berdiri didekatku. Salah tingkah saat duduk disebelahku. Tak sabar ingin berkenalan.
Hari-hari berikutnya akhirnya kesempatan mengobrol pun tiba. Dimulai dari perasaan senasib karena kereta tertahan di Stsiun Pasar Minggu selama lebih dari setengah jam. Obrolan pun dibuka.Si Iqbal (panggil terus saja begitu) menyapaku terlebih dahulu. Dia mengeluh karena akan terlambat sampai kantor.
Jujur, saat itu aku masih takjub dan tidak memerhatikan omongannya, karena hari itulah aku dapat memandang wajahnya puas. Setelah berkenalan dan melanjutkan perjalanan, aku merasa hari-hariku ke depan akan lebih menyenangkan.
Sambil berdiri menyandar di tiang peron tengah, aku menyambutnya dengan senyuman saat dia berjalan menghampiriku. Akhirnya kami naik, dan sepanjang perjalanan kami mengobrol dengan seru mengenai segala hal. Dari obrolan hari itu aku tahu kalau dia berusia tiga tahun lebih tua dariku, telah menikah dan dikaruniai anak perempuan berusia dua tahun.
Ketika kereta telah mendekati tujuan akhir, gerbong bertambah sepi. Kami sama-sama duduk di kursi yang kini telah kosong. Dia bertanya padaku apakah aku telah memiliki calon pendamping, atau pacar. Dia juga bertanya mengapa aku belum menikah padahal usiaku beberapa tahun lagi menginjak kepala tiga dan telah memiliki rumah sendiri serta kerja yang mapan.
Dengan mengecilkan suaraku aku berkata: “Saya kurang tertarik dengan cewek…”
Kulihat perubahan ekspresi wajahnya menjadi bingung dan salah tingkah, begitu pula gerak-gerik badannya. Aku hanya bisa tersenyum geli melihatnya bersikap seperti itu. Dengan ekspresi ingin buru-buru pergi dia mengalihkan pembicaraan, namun ketika sampai di stasiun kota dia langsung pergi dengan hanya memberiku senyuman sekilas.
Hari berikutnya aku tidak melihatnya. Hari selanjutnya aku melihatnya naik di gerbong berbeda. Aku tahu dia berusaha menghindariku.

Jum’at 1 Februari

Hujan besar terparah membuat Jakarta tergenang banjir, hujan juga menyebabkan kereta tertahan di stasiun Manggarai sampai 1 jam.
Aku tidak melihat Iqbal di gerbong yang sama. Dalam hawa dingin aku duduk memejamkan mata sambil mendengarkan lagu dari ponsel seri musik milikku. Tiba-tiba aku terbangun dikejutkan dengan pukulan koran di paha.
“Nih korannya jatuh… ” ujar sebuah suara. Ternyata Iqbal sudah duduk didekatku.
Kulepas earphone-ku, menerima koran dari tangannya dan mengucapkan terimakasih dengan senyuman. Kami duduk berdua dalam diam. Sesekali Iqbal melongok ke Jendela melihat derasnya hujan di luar. Aku tahu… dia sedang dilanda penasaran. Jadinya aku harus tetap bersikap tenang.
“Ngg.. gimana rasanya…?” tanyanya pelan.
Aku menoleh tak mengerti.
“Rasanya jadi… yah..” lanjutnya lebih pelan
“Rasanya…? biasa aja… cuma reaksinya yang gak biasa,” jawabku.
“Maksudnya?” tanyanya tak mengerti.
“Reaksi orang ketika tahu biasanya menjauh,” sindirku
Iqbal terdiam.
“Aku mau tanya,” ujarku.
“Menurut ente cewek itu cantik gak?” tanyaku menunjuk satu gadis manis diantara tiga penumpang di kursi khusus.
“Cantik,” jawab Iqbal
“Ente tertarik gak sama dia?” tanyaku lagi
“Kalo belum punya istri, terus kenal lebih dekat mungkin iya.. tapi secara fisik, dia itu cantik yang bukan tipeku,” jawabnya sambil tidak melepaskan pandangan dari si gadis.
“Yah begitulah,” ujarku
“Kita sih sama aja, gak mungkin kan ane naksir setiap cowok yang ane temuin?” lanjutku lagi.
Iqbal menatapku. Aku tertawa menenangkan.. “Sorry bro, ente cakep, tapi sayang bukan tipe ane.” (Bohong banget!!) lalu aku melanjutkan mendengarkan musik.
Aku tahu ucapanku membuat dia makin penasaran. Ketika akhirnya kereta bergerak melanjutkan perjalanan menembus hujan lebat, kami kembali duduk dalam diam.

1 Februari, Stasiun Kota, 9:30

Ketika akhirnya sampai di Stasiun Kota, suasana stasiun sangat ramai. Kebanyakan karena banyak orang tidak berani keluar menembus lebatnya hujan. Banjir menggenangi jalan raya, percuma saja keluar dengan payung karena tetap akan basah kuyup.
Aku berdiri di pintu timur memandang hujan lebat di luar, Iqbal berdiri disebelahku diam. Hawa dingin membuat perutku lapar, hingga aku memutuskan untuk makan di restoran cepat saji di dalam stasiun.
“Kemana?” tanya Iqbal saat melihatku pergi.
“Makan di A-W. Laper… tanggung sekalian telat masuk kantor. mau ikut?” tanyaku.
Iqbal ragu-ragu. “Um.. udah sarapan,” jawabnya.
“Ya udah… yakin nih? dingin lho.. ane traktir kopi mau?” pancingku. Sejenak Iqbal masih ragu, tetapi akhirnya dia berjalan mengikutiku.
Setelah memesan menu paket dan secangkir kopi, kami berdua duduk di dekat jendela dengan pemandangan halte busway yang jalanannya juga tergenang. Saat aku makan Iqbal memerhatikanku sambil tersenyum hampir tertawa.
“Kenapa? heran? makan ane sih memang kayak gini. selalu dua potong ayam,” ujarku.
“Tapi kok gak ngegendutin ya?” tanyanya heran.
“Metabolisme tinggi,” jawabku sambil me-neruskan makan.
Setelah makan obrolan kami berlanjut dengan membandingkan kelakuan anaknya dengan keponakanku yang berusia setahun lebih. Aku tahu, saat itu Iqbal menganggapku sebagai mahkluk aneh, mainan baru, alien, atau apapun yang belum pernah dia temui. Rasa penasarannyalah yang akan terus aku manfaatkan.
Tidak terasa sudah jam sebelas dan obrolan hari itu berakhir dengan saling bertukar nomor telepon dan alamat rumah masing-masing. Kecanggungan itu kini sirna, kami berdua menjadi akrab kembali dalam setiap perjalanan kereta. Dan aku sekarang menjadi seperti sahabat baik Iqbal.

Selasa, 12 Februari

Istirahat makan siang aku berjanji menemani Iqbal membeli printer dan beberapa perangkat komputer di Mangga Dua Mal, karena aku punya kenalan di situ (Lantai 5. Jangan di cari ya…) jadinya lumayan bisa dapat harga pertemanan.
Sebagai terima kasih Iqbal mentraktir aku di KFC, Lokasinya yang memojok di lantai 1 dan agak sepi dibanding restoran cepat saji lain, menjadi alasanku supaya kita bisa mengobrol santai.

Enaknya kalau teman sudah tahu kondisi kita, lirik-lirik cowok di depan dia sudah tidak perlu malu lagi. Nah, saat kita makan mataku “checking out” cowok keren yang lewat di sebelah meja kita. Setelah dia berlalu kulihat Iqbal menatapku heran dengan dahi berkerut.
“Kenapa?” tanyaku sambil menghirup 7up (aku selalu mengganti coca-cola dengan 7up).
“Kayaknya cowok tadi enggak terlalu cakep,” protesnya.
“Enggak kok, keren,” ujarku santai .
“Gue penasaran, lo pikir gue gak keren? tipe cowok kayak gimana sih yang lo suka?” cecarnya lagi sambil berbisik.
Ini dia saatnya, rupanya kelakuanku sudah menyinggung ego-nya dia. Mungkin karena dia terlalu sering dianggap keren? hehehe…
Aku tidak menjawab malahan bangkit dari tempat duduk. Saat itu terjadi sesuatu yang tidak terduga. Iqbal dengan reflek meraih pergelangan tanganku sambil bertanya, “Mau kemana?”
Aku kaget dengan reaksi Iqbal, sepertinya Iqbal pun begitu. dia buru-buru melepaskan tanganku. Aku jawab, “Mau cuci tangan… ng.. sekalian cuci jam tangan. Tangan ente berminyak. Kenapa? mau nitip?” jawabku sekenanya sambil melihat arlojiku yang sedikit berlumur minyak.
Tanpa menunggu jawaban Iqbal aku menuju wastafel. Tapi terus-terang, walaupun bersikap cool… jantungku tetap saja berdebar.

*****
Sabtu Pagi, 2 Minggu kemudian

Mencari rumah Iqbal (yah, sebenarnya rumah mertuanya..) tidak sulit karena di situ memang rumah ketua RT (dengan jelas ada pengumuman di dinding rumahnya).
Aku berdiri di depan rumah Iqbal sambil memegang bungkusan berisi boneka Garfield besar. Dia tidak tahu hari ini aku akan datang, itu sebabnya dia sedikit terkejut namun tetap menyuruhku masuk.
Aku dikenalkan dengan istrinya yang cantik, anaknya yang lucu, yang pada awalnya gadis kecil berambut ikal itu malu-malu saat bertemu denganku. Namun dia menjadi lebih ramah setelah boneka Garfield yang kubawa berpindah ke tangannya.
Di teras saat kami mengobrol, Aku memangku anaknya. Sementara istri Iqbal di dalam tidak menemani kami mengobrol. Sat itu aku berpikir, Di teras hanya aku, Iqbal dan anaknya… aku berharap bisa ganti-in mama kamu nak.. Ujar ku dalam hati. Hehehe…
“Sori gak pemberitahuan dulu. Gapapa kan?” tanyaku
“Gapapa,” ujarnya
“Istri ente udah tahu… tentang… kondisi ane?” tanyaku pelan
“Enggak… dia enggak tahu,” jawab Iqbal
Bagus.. itu memang yang aku harapkan. Dia mulai menyembunyikan sesuatu dari istrinya.
“Oh ya, sebenernya ane dateng cuma mau bilang kalo di perumahan tempat ane, udah mulai bangun tahap dua. Ente bisa liat-liat sekalian ke rumah ane? gimana?” tanyaku.
“Hmm… iya juga sih. Gue dah gak betah nih tinggal ma mertua…” bisik Iqbal.
Kalau aku memaksa, dia akan curiga… Jadi Let It Be… aku tidak memaksanya untuk kerumah, tapi aku yakin pancinganku mengena.
“Eh, kapan lu mulai sadar kondisi lu beda?” tanyanya
“Ssst.. kalo ngomong, ya?” protesku sambil melihat ke kanan dan kiri.
“Enggak ada orang… istri gue lagi nonton TV,” Iqbal berkata menenangkan
Nonton TV jam segini? MTV Ampuh?
Tidak mau mengambil resiko, aku tetap merendahkan volume suaraku.
“Dari SMU.”
“Waktu itu ane sadar, pacaran sama cewek kok hambar-hambar aja. Enggak ada getaran trus lama-lama pacaran cuma buat status.”
Si kecil mulai tidak betah dipangkuanku dan memaksa turun. Akhirnya kubiarkan dia bermain di lantai dengan boneka barunya itu.
“Bukan karena pengalaman masa kecil?” tanya Iqbal hati-hati. Aku cuma tertawa. Pasti dia memikirkan headline berita kriminal di koran.
“Enggak lah, lagian kalo mau tahu, ane masih perjaka… eits.. setengah perjaka deh.. soalnya yang atas udah enggak,” ujarku geli.
Dahi Iqbal kembali berkerut. “Sama cowok kamu dulu?” Tanya Iqbal dengan volume suara normal.
“Ck.. suara..!” ujarku mengingatkan. “Iya!” lanjutku.
Iqbal terdiam. Aku memerhatikan si kecil memukul-mukul boneka garfieldnya.
“Gimana rasanya…” Iqbal bertanya hampir menggumam, ikut-ikutan memperhatikan si kecil.
“Apa?” tanyaku sambil menoleh.
Lama Iqbal terdiam sampai akhirnya dia meneruskan..
“Di… karaoke…”
Aku menahan tawa karena pemilihan kata yang dia gunakan.
“Good.” jawabku
“Ber.. karaoke?” tanyanya lagi
“Nice. Like it!” jawabku lagi hampir-hampir tak bisa menahan tawa. apalagi saat melihat wajah Iqbal yang sangat serius.
“Kenapa? Mama-nya Kayla enggak pernah ngasih kalo ente minta?” tanyaku sambil tersenyum.
Iqbal terdiam, ragu-ragu untuk menjawab.
“Pernah.. tapi gue gak tahu ya… kelihatannya dia enggak ngasih sepenuh hati,” keluhnya. Aku cuma tertawa kecil.
“Tahu enggak pepatah.. Tidak ada yang lebih mengerti cowok selain cowok juga?” tanyaku tanpa meminta jawaban.
Iqbal cuma melongo.

Minggu Sore Jam 15:00

Tadi siang Iqbal sudah meneleponku untuk datang. Berkali-kali aku melongok ke Jendela yang gordennya menutupi sebagian besar jendela, menunggu Iqbal datang. Huh.. dari tadi yang terlihat di luar cuma Pak RT komplek yang rumahnya di seberang rumahku sedang mengarit rumput liar di halamannya.
Iqbal pun datang dengan motornya. Aku menunggu dia mengetuk pintu, lalu aku keluar dengan sikap tidak mengizinkan dia masuk.
“Eh.. langsung aja deh… takut kantor pemasarannya tutup,” ujarku sambil menutup pintu.
Iqbal keheranan sambil mencoba melongok ke dalam rumahku sebelum pintunya benar-benar tertutup.
“Kenapa sih? lu nyembunyiin cowok ya di dalem?” tanya Iqbal penasaran.
“Hush..! mana berani ane kalo tetanggaan sama RT. Enggak, ruang tamunya lagi berantakan,” jawabku sambil memakai sandal gunungku dan berjalan ke pagar.
“Ga usah naek motor deh. deket kok,” ajakku lagi
Iqbal kelihatan masih penasaran ingin melihat rumahku. Setelah meletakkan helmnya dia mengikuti aku.
Aku menyapa Pak RT yang sekarang sedang memindahkan rumput-rumput yang telah dicabuti ke sebuah kantung plastik. Dalam perjalanan, kami mengobrol tentang blok rumahku yang bentuk rumah-rumahnya mulai dirubah dari kondisi awal oleh pemiliknya masing-masing.
Iqbal juga bertanya budget yang aku keluarkan untuk merapikan dapur dan membuat pagar. ANYWAY…. Iqbal bertanya “Tetangga lo ga curiga?”
Aku tahu apa yang dia maksud.
“Belum… sebelah ane, tentara, masih bujangan. Di deretan Pak RT juga ada. Selama bukan satu-satunya yang masih lajang, ane tenang…”
Setelah sampai di Kantor pemasaran, kami bertemu si Rachman cowok berkacamata yang biasa menunggu kantor pemasaran perumahan. Iqbal bertanya ini-itu soal perumahan dan cara pembayarannya.
Saat kami selesai, kami kembali ke rumahku. Saat tiba didepan pintu, aku berdiri di pintu seakan-akan menghalangi dia masuk dan tidak mengundangnya ke dalam.
“Ya udah. kalo mau pulang.. hati-hati ya..” ujarku setengah mengusir
“Lo ngumpetin apa sih? Gak sopan amat ga nyuguhin tamu yang dateng,” protesnya sambil mencoba melongok ke Jendela.
“Enggak ada apa-apa… cuma lagi berantakan…” cegahku
Iqbal makin penasaran. “Gue mau lihat dalem rumah lo.”
Aku mengalah “Ya udah.. sori berantakan.”
Aku lalu aku membuka pintu.
Ruang tamuku memang sedang berantakan, hanya ada karpet dengan gundukan baju diatasnya yang akan kusetrika. Aku cepat-cepat membereskan keping DVD yang berserakan tak jauh dari TV yang telah padam dan… DVD Player belum aku matikan.
“Lo lagi ngapain pas gue dateng?” tanyanya masih berdiri di dekat pintu. “Lagi nonton BF ya?” lanjutnya dengan nada menginterogasi.
“Kalo iya emang kenapa? ga ada siapa-siapa ini,” jawabku sambil menyingkirkan gundukan baju dengan kakiku lebih ke sudut.
“Gay?” tanyanya.
“Emang musti? gue ga punya (Bohong !!)..”
Kemudian aku melanjutkan “Yang pasti bukan girl on girl action.”
“Liat dong film apa aja? lo beli dimana?” Tanyanya sambil merebut beberapa bungkus cover DVD dari tanganku.
“Di Glodok. Kadang-kadang kalo lagi istirahat.”
“Lo lagi nonton yang ini ya?” tanyanya sambil mengangkat cover DVD yang tidak ada isinya.
“Kenapa? pengen liat?” tanyaku.
“Boleh… boleh…” ujarnya sedikit bersemangat.
Setelah kurapatkan gorden (untung Pak RT tidak curiga). Aku melanjutkan film yang tadi kuputar. Aku kesal karena tak tahu Iqbal ini sedang horny atau tidak saat menonton, serius banget nontonnya. Aku beranjak “Ane ambil minum dulu ya..”
Saat aku kembali dengan dua kaleng minuman dingin, Film sudah masuk ke anal scene. Iqbal masih serius menonton.
“Sakit gak ya?” tanyanya tanpa menoleh dari layar TV.
Aku terdiam. lalu menjawab. “Gak tahu… belom pernah… katanya sih buat yang “dikasih” pertamanya pasti sakit.”
Lalu aku melanjutkan “Tapi katanya lagi… buat yang “ngasih” rasanya luar biasa..”
Iqbal menoleh.
“Oh, belum pernah nyoba toh ama Mamanya Kayla,” gumamku sambil tersenyum
“Gak berani minta. Takutnya dia ketakutan, nangis-nangis atau apa,” ujarnya
“Ya itu sebabnya di Indonesia anal sex is still one of the men’s most popular sexual fantas,” ujarku sok tahu.
“Kok?” tanya Iqbal bingung.
“Kalo enggak enak, kenapa sekarang 2 dari 3 film bokep selalu ada anal scene nya?” tanyaku mencoba ber-statistik. Iqbal tidak menjawab.
Lima menit telah berlalu. Sekarang giliranku berkonsentrasi penuh pada film yang kutonton tanpa memedulikan Iqbal.
Aku tidak menyadari saat Iqbal mulai bergeser mendekatiku. Saat dia sudah dekat dengan badanku, aku baru sadar dia kadang-kadang memerhatikan aku lama sekali, lalu beralih lagi ke film. Namun aku biarkan.
Iqbal semakin bergeser, sampai akhirnya kurasakan telapak tangannya memegang bahuku. Aku masih diam. Tiba-tiba Iqbal memelukku sambil berusaha menciumku.
“ENTE KENAPA SIH?” ujarku galak sambil mendorong Iqbal.
Nafas Iqbal tidak beraturan, dia rupanya masih shock dengan perbuatan dia sendiri.
“Sori.. sori…” Iqbal berkata tanpa berani memandangku.
“Gue.. kayaknya harus pulang…” masih tidak mau memandangku, kini dia mencari-cari sesuatu.
“Nih…” ujarku sambil menyodorkan kunci motornya.
Iqbal meraih kunci itu, bergegas keluar sambil mengambil helm yang dia letakkan di teras. Aku hanya memandang Iqbal dari jendela yang kini mulai menyalakan motornya dan akhirnya meninggalkan halaman rumahku.
Aku mengutuk diriku sendiri. Kenapa tidak kubiarkan dia melanjutkan? tapi aku harus bersabar. Aku tidak mau kalau sampai kejadian, dia menyesali dan akhirnya tidak mau bertemu aku lagi. Malamnya aku mendapat sms singkat dari Iqbal: “Gue bener-bener minta maaf”. Aku tak membalas. Yang Iqbal tidak tahu adalah bahwa aku akan pergi ke Semarang besok senin selama seminggu. Artinya sementara ini dia tidak akan melihatku di gerbong 6.
Semarang, Pertengahan Maret.
Laporan-laporan keuangan yang harus kuperiksa di kantor cabang cukup membuat pikiranku teralihkan dari terus memikirkan Iqbal. Ponselku hanya kuaktifkan satu, nomor resmi yang diketahui semua orang di kantor kecuali Iqbal. Sedang nomor yang kuberikan pada Iqbal sengaja tidak aku aktifkan.
Kadang-kadang aku hampir tergoda untuk menyalakan ponselku yang satu itu. Tapi segera ku simpan jauh-jauh. Makin hari, kesibukanku tidak dapat membuatku melupakan Iqbal. Bahkan saat hari ke-4 aku di Semarang dan mengikuti RAKER 2008, sama sekali aku tidak bisa berkonsentrasi mengikuti jalannya rapat.
Hari Jum’at pagi di Semarang aku berpamitan dengan jajaran direksi untuk kembali ke Jakarta. Sabtu malam aku putuskan untuk menyalakan ponselku.
Empat SMS Notifikasi masuk. Nomor XXXXXX menghubungi anda jam XX:XX silakan hubungi kembali no. tsb. Tiga diantaranya dari nomor Iqbal.
Aku sadar bila notifikasi itu datang, maka ponsel Iqbal akan diberi tahu bahwa nomorku telah aktif kembali. Satu jam kemudian SMS kembali masuk. Dari Iqbal: “Gue kangen.”
Aku balas “Ane juga.”
Iqbal membalas lagi “Gue ke rumah ya?”
Aku tahu SMS terakhir itu tidak butuh jawaban.
30 Menit kemudian motor Iqbal datang. Aku membuka pintu. Iqbal sudah duduk bersila dilantai teras sambil menyalakan rokok, tapi tidak seperti biasanya kalau melihat dia merokok, kali ini aku tidak protes, aku kemudian mengikuti duduk disebelahnya.
“Dari luar kota?” tanyanya pelan. Aku cuma mengangguk
“Pantesan kulitnya lebih gosong.”
Aku tertawa pelan sambil berkata “Lupa bawa sunblock.”
Kami pun tertawa bersama. Lalu kembali terdiam.
“Boleh masuk?” tanyanya pelan.
“Enggak harus dijawab kan?” ujarku sambil bangkit dari duduk.
Iqbal pun beranjak hendak masuk, tapi aku tahan. “Kenapa?” tanyanya heran
“Buang dulu rokoknya…”

*****

Ada yang bilang Second time is a charm, Yah! Itu yang terjadi denganku saat itu. Pertama kali bercinta dengan Iqbal tidaklah terlalu enak!
Setelah Iqbal membuang rokoknya, kami berdua masuk. Sepersekian detik setelah pintu menutup Iqbal langsung memeluk dan mencium aku. Lanjut? enggak juga. Mulutnya masih bau rokok.
“Ente ngabisin rokok berapa batang hari ini?” tanyaku sambil melepaskan bibirku.
“Gak ngitung.. soalnya sambil mikirin elo,” jawabnya sambil kembali berusaha menciumku.
“Duh… sikat gigi dulu gih!” aku menghindar sambil kini berusaha melepaskan pelukannya.
“Elo ini!” ujar Iqbal kesal.
“Kamar mandinya di mana?” akhirnya dia menurut.
“Sebelah situ, kalau mau pake sikat punya ane silakan, kalo mau yang baru ada di laci.”
Iqbal dengan wajah kurang senang pergi ke arah yang aku tunjuk.
“Kalau mau… sekalian aja buka bajunya di dalem,” sahutku.
Iqbal pun menoleh sambil tersenyum.
Entah memang karena mulutnya berbau rokok, atau itu cuma alasan yang aku buat-buat, karena bohong banget kalau aku bilang tidak grogi saat itu. Tapi akhirnya aku ke kamar saat masih terdengar Iqbal menggosok gigi.
Aku ingat saat itu jantungku berdebar tidak karuan, telingaku berdenging saking gugupnya. Aku duduk di pinggir ranjang. Ketika tidak terdengar lagi suara dari kamar mandi, aku menunduk. Mataku melihat kaki Iqbal menghampiriku. Dia telah melepas jaket dan celana jeans nya hingga tinggal boxer short coklat kotak-kotak dan kaus dalam putih model t-shirt. Iqbal pun duduk di sebelahku. Aku belum berani memandang matanya.
“Jadi…” Iqbal berkata.
“Jadi…. apa?” tanyaku.
“Jadi… gue cowok tipe lu sekarang?” godanya.
Aku tidak menjawab, sambil tersenyum aku kemudian mencium bibirnya…. Uh.. seingatku rasanya segar.. wangi mint pasta gigi. Mungkin terbiasa berhubungan intim dengan istrinya, Iqbal merebahkan aku di ranjang sambil terus menciumku. Lalu tangannya menarik kausku hingga terlepas, aku pun menarik kaus dalamnya dan melemparnya. Hmm.. just like I imagine it would be.. badannya atletis. Iqbal terus mencumbuku, cuma sepertinya dia terbiasa mencumbu cewek, dia tidak sadar kalau buat ke cowok, tak apa sedikit kasar.
Aku merasa ada yang semakin membesar pada selangkangannya yang menekan pahaku. Aku lalu mendorong Iqbal untuk telentang hingga kepalanya bersandar di bantal. Kini aku yang berada di atasnya, balas mencumbu dia.. ini yang kunanti-nantikan dari dulu. Kulihat Iqbal menutup matanya. “Gak sopan!” pikirku. Tapi mungkin saat itu dia agak canggung atau sedikit risih dicumbu oleh cowok. Gapapa deh.
Cumbuanku bergeser terus ke bawah. Feeling ku mengatakan Iqbal sedang menahan diri mengeluarkan “suara kenikmatan” mungkin karena malu. Sampai di bawah, kuturunkan boxer-short nya. Aku lihat Iqbal menatapku sambil menggigit bibirnya sendiri. Namun dia membiarkanku melanjutkan.
Empat dari sepuluh teknik seks oral yang pernah kubaca di majalah Cosmopolitan, rupanya cukup membuat Iqbal sedikit hilang kendali. Badannya naik turun, nafasnya makin berat, namun dia tetap memejamkan matanya (eye contact please..!)
Sampai akhirnya dia keluar… kudengar waktu itu dia melenguh panjang. Terpaksa aku sudahi memberi dia servis blowjob, padahal aku tidak mau secepat itu. Aku juga sebenernya ingin malem itu having anal intercourse dengannya, tapi aku khawatir, habis keluar, yang kedua kurang maksimal. Aku kemudian rebahan disampingnya. Kulihat Iqbal pun sedikit kecewa.
“Sori.. biasanya ga secepat itu,” katanya.
“Berarti ane hebat dong..” hiburku.
Iqbal menoleh ke arahku, lalu mencium bibirku lagi dan mencumbuku.
“Gantian ya..?” tanyanya.
Tanpa menunggu jawaban dia kini berada di atasku memberikan cumbuan dari leher terus bergeser ke bawah. Saat dia menurunkan celana pendekku, kulihat dia ragu-ragu untuk memulai. Aku tahu kalau saat itu kalau aku bilang tidak usah juga tidak apa-apa, maka moodnya Iqbal makin hilang. Jadi kubiarkan saja sampai dia siap.
Saat itu dia mulai mencoba mengikuti apa yang barusan aku praktekkan. Kurang enak! iramanya tidak beraturan dan giginya terlalu banyak ikut bermain. Tapi pikiranku kupusatkan pada kenyataan bahwa akhirnya aku bisa bercumbu dengan Iqbal, well.. itu membuat the sex is ten thousands much better.
Iqbal tersenyum puas saat dia merasa telah membuat aku keluar. Dia kemudian rebahan disampingku.
“Kita jadian?” tanyanya sambil menatap langit-langit.
“kayak ABG aja,” sungutku.
“Jadian gak?” Iqbal berkata terdengar kurang sabar.
“Iya…” jawabku lagi sambil tersenyum. Duh enggak romantis banget sih ngucapinnya?
Malam itu kubiarkan Iqbal pulang, dia tidak punya alasan bagus untuk meyakinkan orang di rumahnya kalau dia sampai tidak pulang. Aku tidak perduli jika Iqbal menjalani dua kehidupan sekarang. Ini yang aku mau, ini juga yang dia mau.

Rabu 2 April
Lokasi : Peron Tengah Stasiun KRL, Tiang terujung.
Kerasnya suara pengumuman kedatangan Kereta mengalahkan lagu yang kudengar lewat earphone. Sambil melipat koran se-ceng yang sebentar lagi nasibnya akan menjadi alas duduk tempat lesehan di gerbong, aku melihat ke sebelah kanan… dimana Iqbal akan datang ke arahku sambil tersenyum… bersama-sama akan menaiki gerbong nomor enam. Diantara kerumunan cuma dia yang kulihat.

SUKA CERITA INI DAN TAK SABAR MENUNGGU LANJUTANNYA?
HEART STATION DALAM BENTUK NOVEL??
Klik http://wp.me/p2Jz37-5I UNTUK CARA PEMESANAN
ATAU INVITE PIN BB PENULIS 7E730313 UNTUK DIBANTU PESAN

http://nulisbuku.com/books/view_book/1107/heart-station

Bersambung

 

 

Advertisements
Comments
  1. regular walker says:

    Udah beli….kemudian kececer….kemudian nyokap baca….kemudian….bzzzzzzz

  2. lentera hijau says:

    akhirnya, ketemu juga penulis heart station. dulu cerita ini aku baca di sebuah forum beberapa tahun lalu waktu awal2 masih curious, sampe hilang tidak berkelanjutan. kayanya bakal pesan ini buku, like your story, keep tweeting bangremy. salam

  3. Digo says:

    Bang bikin cerbung vampir gay dong, kayak twilight tapi ala bang remy

  4. Ardi says:

    Telat banget kaya nya baru baca…kereeeeeeen bener…mau mau novelnya…dan salam kenal buat bg remy

  5. Zen says:

    good story… berasa kenyataan karena ceritanya di sekitaran jakarta.

  6. alfa says:

    Hi Remy!
    Nama gw Alfa dan gw tertarik untuk baca novel Heart Station. Terus terang, gw baru baca bagian 1 (saja!) dan sepertinya itu menarik sekali. Eh,,,dulu juga gw ANKER alias anak kereta lho, setiap hari commute dari Bogor ke Jakarta sejak 2003-2006. Banyak kenangannya, dan ada temen gerbong yg gw suka juga dulu, but somehow gw gak berani macem2,, sayang sekali gak bisa lanjut menjalin cerita romance seperti Remy n Iqbal.
    Oiya, maksudnya gw nulis comment ini mau nanya aja apa Remy jual versi elektroniknya juga atau nggak? soalnya domisiliku sejak 2006 di luar Indonesia, jadi lebih mudah mengirim versi elektroniknya daripada hard copynya, kecuali jika Remy bersedia mengirimkan hard copynya ke LN. Kalo memang bisa (ada versi elektronik/kirim hard copy ke LN), lalu bagaimana proses trasaksinya, Hopefully, you don’t mind me asking this.
    Thanks, semoga Remy mau menjawab ini,, dan semoga suatu saat kita bisa ketemu di gerbong kereta lah at least hehehhe,,, (mohon maaf bahasa dan kalimatku aneh)

  7. NRaditheo says:

    Cerita disini sama yang di novel sama persis ga si?

  8. firman says:

    bang remy kalo mau pesan buku heart station gmana, reply to email gue y bng.. Makash udh bkin crta yg real dan bkin trhanyut

  9. DarkSider says:

    Penasaran sama penulisnya. Mungkin Penulisnya fans berat film Ratatouille, pake nama Linguini Remy. Jujur sebagai pengguna KRL pengen banget baca endingnya. :):):)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s