A HUSBAND: UNTOLD STORIES – Chapter 6 Tony

Posted: July 8, 2014 in A Husband: Untold Stories
Tags: , , ,

Husband_06Cerita sebelumnya: Dion, seorang pria berkeluarga, memutuskan untuk kembali berpetualang di dunia gay. Pria demi pria ditemui untuk melampiaskan nafsu homoseksualnya yang dia pendam selama berumah tangga. Apa mau dikata, pesona seorang pria bernama Angga membuatnya kembali bermain hati.

“YA TUHAN… goblok betul…” ujar Tony ketika aku menceritakan kejadian saat aku berada di luar kota dan bercinta dengan pria bernama Hazgil yang merupakan kenalannya.

“Ton! mulut elu tuh…” sahutku gusar.

“Diem..! elu emang goblok!” potong Tony.

Aku mengempaskan punggungku kembali ke sandaran kursi. Pasrah menerima hinaan Tony walau perasaanku bersusah payah meredam kemarahan.

Kemarahan Tony wajar. Dia tak habis pikir aku bisa salah menyebut nama orang setelah bercinta dengan Hazgil. Terlebih lagi, Tony menyayangkan sikapku yang tidak komit pada janji awalku yang tidak akan memakai perasaan dalam berhubungan dengan pria.

“Denger, ya! gue selalu bilang ke orang-orang supaya pakai otak sebelum bertindak. Tapi buat kasus elo, jangan pakai otak elo.. biarin kontol elo aja yang mikir!” semprot Tony.

Aku melotot memperingatkan Tony bahwa kita sedang berada di tempat umum. Tapi rupanya kemarahan Tony tak bisa membuatnya mengecilkan suaranya.

“Tapi gue enggak bisa ngilangin Angga dari otak gue!” aku mendesis marah.

“Jangan korbanin kehidupan keluarga elo yang udah nyaman itu, bro! have fun ya have fun ajalah… apalagi elo ngebahayain privasi elo demi cowok yang enggak jelas,” kata Tony.

Ucapan Tony yang meremehkan Angga membuatku bersusah payah menahan tanganku yang ingin meninju wajahnya.

“Lalu elo maunya gimana? pacaran sama dia? bukannya elo sendiri bilang enggak mau pacaran, hah? gimana cara bagi waktunya sama anak bini elo? udahlah.. udah bukan zamannya elo cinta-cintaan lagi kayak abege, bro..” sesal Tony.

Aku menghela nafas. Kuambil minuman dinginku dan meneguknya berkali-kali tanpa benar-benar mencicipi rasanya.

Kulihat Tony mengeluarkan kartu namanya dan menulis sesuatu di baliknya dengan pena. Setelah itu dia menjatuhkan kartu itu di meja tepat di depanku.

“Besok gue mau main sama satu cowok di hotel itu. Dia mau main sama gue asalkan gue bersedia cari teman threesome buat double fuck dia. Gue harap elo bisa nolongin gue sekaligus cari hiburan buat ngelupain cowok itu, oke? just like the old time…” kata Tony.

Aku tersedak minumanku ketika Tony menyebutkan kata threesome alias permainan bercinta bertiga. Dulu aku dan Tony sering menggarap brondong untuk kami pakai bergantian dalam sesi threesome. Aku tak menyangka Tony mengajakku dalam permainan itu kembali.

Tony rupanya tak menunggu penjelasanku. Dia lalu pamit pergi dari kafe tempat kami mengobrol. Aku memungut kartu yang diberikan oleh Tony. Di belakangnya tercatat sebuah nama hotel dan nomor kamar. Aku menimang-nimang kartu itu gelisah sambil memikirkan tawaran Tony.

***

Aku mencoba mengikuti saran Tony untuk tidak memakai otak dan mencoba bersenang-senang. Malam itu kebetulan malam Sabtu. Selepas dari kantor aku langsung menuju hotel tempat Tony dan pria yang dikenalnya akan bersenang-senang.

Saat aku mengetuk pintu kamar hotel dan ternyata yang membukakan pintu adalah seorang pria yang tak kukenal, kupikir aku salah alamat. Pria muda yang membuka pintu itu sangat tampan. Matanya kecoklatan dan kulitnya lebih terang dari kebanyakan orang Indonesia. Kupikir pastilah pria ini berdarah campuran. “Tony Honey, he’s here!” sahutnya antusias kepada seseorang di dalam kamar.

“Great! suruh dia masuk, Rich..” kata suara yang kukenali sebagai suara Tony dari dalam kamar. Aku menuruti ajakan pemuda yang dipanggil Rich oleh Tony itu untuk masuk ke dalam kamar hotel yang cukup mewah itu.

Tony keluar dari kamar mandi dengan mengenakan mantel mandi. Pemuda blasteran itu melompat kembali ke atas ranjang dan mengambil tablet iPadnya sambil tersenyum-senyum. Dia hanya mengenakan kaus singlet ketat berwarna biru pucat dan celana pendek.

“Richard…We’re going to fuck dan kamu update status di path kasih tau semua temen-temen kamu?” protes Tony pada pria bernama panjang Richard itu.

“Ya iyalah beb… biar temen-temen gue ngiri gue malem ini threesome..!” balas Richard. Dia kemudian melempar iPadnya dan bangkit menghampiriku.

“Richard.. Nama kamu siapa?” tanyanya sambil menjabat tanganku.

Aku yang salah tingkah berada di kamar ini bersama mereka, mau tak mau harus menjawab.

“Uhm. Dion..” sahutku.

“Nice! tonight we’re going to have fun! threesome fun! yay!” pekiknya antusias.

Tony kemudian menghampiriku dan berkata senang aku bisa datang. Lalu dia mengangsurkan sebuah benda kecil padaku.

“Apa ini?” tanyaku memandangi sebutir pil yang diberikan Tony.

“Viagra bro.. sekali-kali kita main berapa ronde lah.. bantuin gue.. anak itu hiper banget soalnya..” kata Tony.

“Ah! gue ogah minum ginian,” tolakku.

“Yaelah bro… khawatir banget sih? Viagra doang kok!” kata Tony gusar sambil memberikan sebotol air mineral padaku.

Dengan ragu aku akhirnya menelan pil pemberian Tony. Karena kapasitasku kali ini hanyalah membantu, aku membiarkan Tony dan Richard bermain lebih dulu sementara aku mengamati mereka sambil duduk di sebuah kursi.

Kulihat Tony melepas mantel mandinya dan rebahan di atas ranjang bertelanjang bulat. Aku mengagumi Tony yang sepertiku masih menjaga kebugaran tubuhnya yang masih terlihat liat dan berotot seperti saat aku masih bujangan dulu. Kemudian Richard naik ke atas tubuh Tony dan menghimpit pinggang Tony dengan kedua pahanya. Dia melepas kausnya dan membiarkan tangan Tony meraba-raba liar dadanya. Sesekali Richard mendesah sambil menoleh ke arahku. Menggodaku.

Kudengar Richard melenguh. Mendesah. Tubuhnya meliuk saat tangan Tony yang terkenal dengan gerakannya yang tak terduga itu berhasil menemukan titik-titik rangsang di tubuhnya. Kudengar Tony menggeram dan Richard meringis saat telapak tangan Tony meremas dada Richard kuat-kuat. Saat itulah Richard melepas celana pendeknya dan mencondongkan tubuhnya pada Tony.

Tiba-tiba aku merasa tubuhku memanas. Aku berkeringat dan pikiranku tak bisa berkonsentrasi. Pertunjukkan liar Tony dan Richard membuat aliran darahku mengalir semakin cepat memompa deras pembuluh darah pada penisku. Aku yakin ini adalah efek dari obat yang diberikan oleh Tony tadi. Tony makin bersemangat mencumbu Richard. Richard susah payah mengimbangi cumbuan bertubi-tubi Tony pada leher dan dadanya. Richard menggeliat, mengerang panjang, dan melenguh nikmat tiap kali Tony menciuminya.

Dengan gemas Tony memukul pantat Richard berkali-kali dan meremasnya. Richard memekik dan merintih setiap kali Tony melakukan itu. Tak lama kulihat Richard gemetar saat Tony membenamkan wajahnya pada dada Richard dan kepalanya bergerak-gerak. Aku tahu, saat itu Tony sedang melumat kedua puting Richard hingga cowok itu menggeliat-geliat liar sambil mengerang menikmati lidah maut Tony pada putingnya. Aku meneguk ludah melihat pemandangan itu. Perlahan kubuka kemejaku dan menurunkan celanaku.

Tony semakin liar membantai Richard. Dia lalu mengambil botol pelumas dan melumuri jari-jarinya dengan gel bening kental dari dalam botol itu. Lalu Tony menggunakan jemarinya itu untuk membuka lebar-lebar pantat Richard. Kulihat jari tengahnya mencoba memasuki lubang anus Richard berusaha membuatnya siap untuk menghadapi masuknya benda yang lebih besar ke dalamnya.

“Akkh.. beb… uuuh…” desah Richard saat Tony berhasil memasuki anusnya dengan jari-jarinya.

Richard melengkungkan tubuhnya agar Tony leluasa bermain dengan jarinya sementara lidahnya masih terus melumat puting Richard. Aku kemudian menghampiri mereka. Richard tersenyum senang menatapku yang kini sudah berdiri di samping ranjang dekat dengan mereka. Tony melihatku sambil tersenyum nakal. Richard lalu bergerak mendekatiku yang telah berdiri telanjang dengan penisku yang telah tegang. Dibukanya mulutnya dan Richard mulai memasukkan batang penisku ke dalam mulutnya.

“Aah…” desahku. Jilatan Richard membuatku merasakan rangsangan berlipat-lipat akibat obat yang diberikan oleh Tony. Saat itulah aku sadar bahwa itu bukanlah Viagra melainkan obat perangsang. Tony sialan! tapi aku tak kuasa protes. Efek obat itu membuatku lebih menuruti nafsuku dibanding nalar.

Richard melenguh, mendesah, dan mengerang nikmat menikmati cumbuan Tony sambil mulutnya tak henti mengoral penisku. Lalu tangan Richard mengambil pelumas dan cepat-cepat melumuri penis Tony dan mengarahkan kepalanya tepat pada lubang anusnya.

Richard memekik saat penis Tony mulai menembus pertahanan anusnya. Mulutnya membuka seksi sambil matanya terpejam. Tampak sekali dia sangat menginginkan penis Tony masuk ke dalam anusnya. “Oooh.. Beb…” desahnya.

Melihat bibir Richard yang merekah basah, aku tak kuasa menahan diri untuk menunduk dan melumat bibirnya kuat-kuat. Richard melenguh. Dia lalu mendekati telingaku dan menyuruhku bergabung dengan penis Tony di dalam pantatnya.

Bagaikan dihipnotis, aku mengikuti permintaan Richard. Aku berinisiatif mengambil botol pelumas dan melumuri penisku yang belum pernah kurasakan setegang ini sebelumnya. Kemudian aku beringsut naik ke atas ranjang dan berlutut di belakang Richard. Kuusap punggung Richard saat Tony melebarkan kakinya agar aku leluasa masuk ke dalam permainan mereka berdua.

Awalnya aku sempat ragu untuk memasukkan penisku ke dalam pantat Richard yang tampaknya sudah kewalahan menerima batang penis Tony. Namun Richard menoleh dan menatapku seolah menyuruhku agar tak ragu-ragu. Aku belum pernah bersama Tony melakukan penetrasi ganda pada pria selama kami melakukan threesome. Biasanya kami melakukannya bergantian menghajar pantat korban kami.

“Aaaaahhh…” erang Richard panjang. Aku tak tahu apakah erangan itu ekspresi kesakitan atau kenikmatan. Aku menunduk melihat penisku mulai bergesekan dengan Penis Tony yang bergerak sedikit demi sedikit mengimbangi gerakan penisku memasukki anus Richard. Tak ada tanda-tanda anus Richard terluka atau berdarah hingga aku meneruskan aksiku. Aku menahan nafas. Berada di dalam lubang sempit berjejalan bersama penis sahabatku ternyata menimbulkan sensasi luar biasa. Belum lagi, saat Tony menggerakkan penisnya hingga tercipta gesekan nikmat pada urat syaraf penisku.

“Okay.. hh… I’m ready.. hhh.. fuck me.. fuck me…” pinta Richard dalam desahan suaranya.

Aku dan Tony kemudian mengikuti keinginan Richard dan kami sama-sama menghajar anusnya bersamaan tanpa ampun.

“Ngghh… OH MY GAAAAAADDD!!!” teriak Richard kencang.

Kudengar diriku sendiri menggeram dan Tony melenguh sambil meracau. Kedua batang penis kami yang basah oleh pelumas seolah berebutan berbagi tempat menghajar lubang anus Richard yang ketat itu. Kupegangi pinggang Richard yang terus meracau dan berteriak-teriak. Tubuhnya bergerak-gerak terombang-ambing oleh serbuan kami berdua.

Cukup lama kami berada di posisi itu. Richard meminta untuk mengganti posisi. Dia lalu berbalik menghadapku. Diangkatnya kakinya tinggi-tinggi ke atas pundakku sementara giliran Tony yang memegangi pinggangnya. Kami menghajar kembali anus Richard bertubi-tubi. Aku menggeram, keringat membasahi tubuhku. Richard terus berteriak-teriak sambil menyemangati kami berdua. Matanya menatap sendu padaku sementara tangannya mulai mengocok penisnya sendiri.

“Aaah… i’m gonna cum… cum inside me… cum with me!!” pekik Richard.

Aku yang memang hendak meledak dalam orgasme akhirnya tak kuasa menahan diri. Rupanya Tonypun demikian. Tak berapa lama, Richard berteriak panjang sambil menyemburkan sperma yang tumpah ruah di atas perutnya. Aku menggeram panjang ketika kusemprotkan isi buah zakarku ke dalam anusnya bersamaan dengan Tony yang juga mencapai puncak kenikmatan.

“Haaah.. haaaah….” Richard terengah-engah kelelahan setelah nafsunya terpuaskan di atas tubuh Tony. Penisku keluar lebih dulu dari anusnya disusul oleh milik Tony.

Richard lalu bangkit dan mengecup pipi kami berdua sebelum akhirnya menghambur ke dalam kamar mandi.

Aku menjatuhkan tubuhku ke samping Tony yang sama-sama terengah-engah. Anehnya, aku masih merasa terangsang walaupun permainan telah usai.

“Gila lu Ton! lu kasih apa ke gue? masih ngaceng gini!” protesku.

Tony terbahak. “Nikmatin aja bro… masih lanjut nih..”

Setelah Richard selesai membersihkan diri, giliran Tony
menyusul diriku membersihkan diri. Awalnya aku tak ingin melanjutkan permainan, tetapi penisku yang tegang sedang tak ingin kompromi.

Gilanya, Tony mulai kembali mencumbu Richard. Kali ini permainan mereka lebih santai dan tidak monoton. Keduanya berlutut di atas ranjang saling berangkulan dan berciuman. Tak lama Richard mengambil posisi membelakangi Tony dan membiarkan dirinya dipenetrasi Tony kembali. Aku mendekati mereka. Anehnya, Tony malah menarik tanganku dan menyuruhku mendekapnya dari belakang. Tony menatapku aneh. Aku ingin menolak namun pengaruh obat itu membuatku semakin pusing. Aku menurut ketika Tony mencium bibirku sambil terus melakukan penetrasi pada Richard. Terus terang, walau aku sering melakukan threesome, aku belum pernah bercumbu dengan Tony. Dia sudah kuanggap sahabatku sendiri. Ini adalah ciuman pertamaku dengan Tony.

Aku pasrah saat Tony menggenggam penisku dengan tangannya yang basah oleh pelumas. Diarahkannya kepala penisku ke lubang anusnya.

“Ton…” protesku. Tapi dalam pengaruh obat, aku tak bisa menolak.

Kudengar Tony mengerang ketika aku mulai melakukan penetrasi pada anusnya untuk pertama kali. Tony kini berada di tengah di antara aku dan Richard. Ketika pinggulnya bergerak, penisku ikut keluar masuk di dalam penisnya. Ini salah… aku tak pernah berniat menyetubuhi sahabatku sendiri. Tony menjebakku. Aku semakin pusing, namun badanku tak henti menyetubuhi Tony.

“Hh… akhirnya… akhirnya gue bisa ngerasain tubuh elo Yon… setelah selama ini.. hh…” desah Tony.

Aku tak menjawab. Ketika goyangan kami makin intens dan meledak dalam orgasme kedua, aku lalu tak sadarkan diri.

***

Aku tebangun pagi hari dan panik karena masih berada di kamar hotel dalam keadaan telanjang. Di sebelahku masih ada Tony yang tertidur pulas dalam keadaan telanjang pula. Tak ada tanda-tanda Richard di kamar itu. Aku buru-buru mencari ponselku. Istriku mengirim tak kurang dari 10 pesan menanyakan keberadaanku dan meneleponku berkali-kali. Aku lalu mencari pakaianku dan mengenakannya.

Kulihat Tony menggeliat dan mengerjapkan matanya terbangun. Aku yang marah lalu melemparnya dengan bantal keras-keras.

“Kurang ajar lo! lo ngejebak gue!” sahutku marah.

“Yon.. sabar yon..” kata Tony.

“Apa maksud elo, hah? gue pikir kita ini temen! temen nggak saling manfaatin!” teriakku.

“MAAF! TAPI GUE ENGGAK PERNAH BENER-BENER NGANGGAP ELO SEKEDAR TEMEN!” sahut Tony.

“A..apa?” tanyaku tak paham.

“Gue selama ini suka sama elu, Yon! gue nurutin semua permintaan elo hunting cowok bareng.. tapi elo enggak pernah ngelihat gue lebih dari sekedar temen.. gue cemburu! apalagi setelah nikah pun elo malah suka sama orang lain! bukan ke gue! cuma ini caranya gue bisa nikmatin tubuh elo..” kata Tony.

“Itu masalah elo! elo tahu sendiri gue enggak ada rasa sama elo!” sahutku.

“Brengsek, lo!” maki Tony.

“Lo yang brengsek! sekarang gimana gue mau jelasin ke istri gue semalaman ke mana, hah??! elo SEMBRONO!!” kataku sambil keluar kamar hotel.

“YON! TUNGGU! GUE BISA BANTUIN ELO JELASIN KE BINI ELO!” pinta Tony.

Tapi aku tak memedulikan Tony lagi. Selama perjalanan pulang aku sibuk memikirkan alasan logis. Kutelepon istriku berkali-kali namun berkali-kali pula dia me-reject panggilanku dan tak membalas pesanku.

Sabtu pagi. Jalanan lancar sehingga aku tiba di rumah dengan cepat. Aku melihat istriku menggendong putri kami menuju mobil membawa tas pakaian cukup besar.

Saat aku menghampirinya, istriku tak menghentikan langkahnya. Dia terus saja masuk ke dalam mobilnya setelah meletakkan anak kami yang tertidur pulas di jok belakang.

Aku terpaksa memukul kaca mobilnya untuk menghentikan istriku menyalakan mobilnya. Akhirnya dia menurut. Dia menatapku marah dan semakin terlihat marah melihat wajah dan pakaianku yang acak-acakan.

“Sayang.. mau ke mana? aku bisa jelasin!” kataku.

“Aku sama Cilla mau ke rumah Mama. Jemput kami berdua kalau mas punya alasan dan bisa meyakinkan aku untuk balik ke rumah…” sahut istriku dingin.

Istriku tak memberiku kesempatan menahannya. Dia lalu memacu mobilnya cepat-cepat dan meninggalkanku.

“Shit!! SHIT!!!” makiku ketika aku tak bisa mengejar mobilnya.

Aku menggebrak kap mobilku kuat-kuat. Tak tahu harus ke mana, dalam perasaan galau aku memacu mobilku menuju sebuah tempat: Kos Angga.

***

DUG! DUG! DUG! aku menggedor pintu kamar Angga keras-keras. Beberapa penghuni kos menatapku heran namun tak berani bertanya.

Tak lama pintu kamar terbuka. Angga menatapku heran sambil terkejut.

“Loh.. Mas Dion? kok enggak bilang mau datang…?” tanya Angga gugup.

Aku lalu menghambur masuk dan memeluknya.

“Ke.. kenapa Mas? ada apa?” tanya Angga heran.

Aku tak menjawab. “Ga! please! saya butuh kamu…” ujarku sambil terus mendekapnya.

Saat itulah aku sadar ada orang lain di kamar Angga. Tepatnya, ada seseorang di kamar mandi. Pastilah teman sekamarnya sedang berada di situ saat itu juga.

“Teman kamu di sini? maaf, tapi saya enggak tahu harus ke mana lagi..” kataku.

Angga mengangguk takut-takut.

Saat itulah seseorang keluar dari kamar mandi. Sosok yang aku kenal… Fadli.

-bersambung-

Advertisements
Comments
  1. abep says:

    yg slalu ada tu Sebotol air mineral !!

    oke ,kali ini sprti dua inti ML ,coba klo eps ini cukup 3some aja ,ntar di eps ujung mu tamat baru sama tony ,,

    tpi bagus lah mulai bnyk konflik ,tony ,istri ,angga dan fadli .wahh ..
    kita tunggu lanjutannya..

  2. Dhafa says:

    Waaah makin seru nih….pgn tahu endingnya…jgn2 tar 3some lagi ma angga ma fadli….

  3. Dhafa says:

    Itu ada yg salah…..kami menghajar anus tony….seharusnya richard bukan tony bang 4emi 🙂

  4. Prince_Ho says:

    I love the story.. Can’t wait the next episode.. 🙂

  5. trulyzhen says:

    menggelikannya saya menunggu “periode” saya untuk membaca cerita ini. LOL!

    ML scene nya barusan… saya menggelinjang qaqa! hahaha. konfliknya mulai. wooogh ga sabar nunggu lanjutan cerita harem ini :3

  6. bc says:

    Do check my blog. This is my first attempt in doing this 🙂 beautifulcreature812.blogspot.com

  7. daniel ferdiansyah says:

    Semangkin menarik ceritanya. Saya harap tak ada habisnya cerita ini. Di tunggu kelanjutannya.

  8. light says:

    keren nih ceritanya….cepet update ceritanya dong bang heheheh

  9. sandy says:

    LanjutNnya kpn keluar nih?

  10. vrans says:

    Kren bingittttt,,, lanjutan nya jgn lma2 yee,,,

  11. hikaru says:

    authooor…pliiis updatenya doong….ga sabar nih baca lanjutannya hehehe keren bingits sih

  12. GodDamn! says:

    Wah, saya baru tahu ada blog ini. Saya sangat tertarik dengan kisah “gay” yang ada di blog ini, menurut saya ceritanya sangat menarik dan memikat mata untuk terus membacanya, bukan dari bagaimana si penulis menceritakan lekukan indah dari setiap jengkal tubuh pria, melainkan alur dan daya imajinasi penulis yang saya suka. Dari setiap cerita yang di suguhkan dengan berbagai judul membuat saya selalu tersenyum di akhir dan mengangguk takjub. Alur yang di buat pun tidak mendayu-dayu, serta tata bahasa yang ringan, namun tidak terkesan asal-asalan. Di setiap ceritanya penulis ini benar-benar -sepertinya- memutar otak untuk membuat konflik yang menarik dan klimaks yang diluar perkiraan. Saya sangat salut dengan tulisan-tulisan empunya blog ini yang bisa memanjakan otak dan sedikit membuat “bangun” adek saya. Dan, yang terakhir walau pun ada beberapa typo dalam tulisan, saya bisa memaklumi karena yang namanya manusia pasti tak akan pernah sempurna, di akhir kisah pun tetap -sekali lagi- penulis berhasil membuat saya harus berkata; “oh, ternyata begini, oh ternyata begitu.” dan benar-benar terkesan.

    NB. Maaf bukannya saya sok tahu atau sok paling jago dalam hal menulis, tapi beginilah cara saya menyampaikan ketertarikan terhadap tulisan yang saya baca. Well, terima kasih sudah membuat adek saya pegal setiap kali membaca cerita di blog ini.

  13. Alex says:

    Foto cowo yang jadi “cover” di tiap chapter cerita ini siapa sih? Hot ya haha

  14. abep says:

    bukan ny tiap dua minggu lanjut cerita ,tpi smpe skrang belum ada .knapa bang ?

  15. greensun says:

    OH MY GAAAAAAAAAAAAT!!!

  16. noname says:

    Baang yg ini kapan next chapternya?? udah penasaraaan …. hohoho

  17. Surya says:

    Next chapternya dong… Penasaran… Hehe

  18. sandi says:

    gilaaaaa…. ngecret 2x.. hahahahah

  19. ozi says:

    bang yg ini gak ada lanjutannya
    udah gak sabar ini nunggunya
    sayang kalau gak di terusin

  20. anonim says:

    Bang remy yg husband d lanjut dongg kepengen tauuu kelanjutannya pleaseee

  21. Unknown boy says:

    Mana nih lanjutannya bang remy

  22. arifsaiful says:

    Selamat malam. Wah. Barusan marathon baca cerita2 abang. Ini kayak surga cerita ehem ehem yang seger banget. Makasih abang. Anu, yang di cover atas itu siapa ya bang namanya? Bikin cenut2 aja hehe. Lanjutkan abang.

    Favoriteku Selir Brondong sama Bang Rosyid wkwkwk

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s