A HUSBAND: UNTOLD STORIES – Chapter 5 Hazgil

Posted: June 24, 2014 in A Husband: Untold Stories
Tags: , , , ,

Husband_05Cerita sebelumnya: Setelah hidup setia menikah dan berkeluarga, Dion tak tahan untuk kembali berhubungan intim dengan sesama pria. Pria pertama bernama Fadli. Sayangnya, Fadli menjadi korban keganasan Dion di ranjang saat mereka bercinta. Kemudian Dion berhubungan dengan Angga. Pria muda pemilik kafe ini sanggup membuat Dion bercinta lebih lembut di ranjang. Belakangan Dion menghubungi Angga kembali. Sayang, Dion yang menyatakan perasaan pada Angga malah tak mendapat respon darinya. Akankah hal ini membuat Dion berhenti mengharapkan Angga?

“KENAPA lu? kayak orang kurang darah,” tegur Tony saat dia mendapati diriku sedang melamun.

Saat itu harusnya menjadi pertemuan penuh pembicaraan seru seperti biasanya antara aku dan Tony. Aku suka mendengar petualangan Tony dari pelukan seorang lelaki ke lelaki lainnya yang kadang dibumbui oleh permainan liar. Tapi malam itu aku sama sekali tak bersemangat mendengar ceritanya. Yang kupikirkan hanyalah sikap Angga terakhir kali kita bertemu.

Terus terang, ada sedikit rasa ego yang terluka dengan penolakan Angga. Aku yang memiliki rasa percaya diri tinggi selalu merasa tak akan ada lelaki yang berani menolak diriku, apalagi ketika aku mengutarakan rasa tertarikku pada seseorang.

“Ya Tuhan!” sahut Tony.

“Kenapa lu?” ujarku kesal melihat ekspresi Tony.

“Gue kenal elu udah lama, meen..! Kalo tampang elu kayak gitu biasanya ada cowok yang elu suka, kan?” tebak Tony.

Aku tak menjawab.

“Wogh! beneran! siapa orangnya, bro??” ulik Tony penasaran.

Aku semakin kesal didesak begitu oleh Tony.

“Alaaah! apaan sih? gue lagi mikir bentar lagi mau seminar di luar kota! kalau elu punya kenalan di sana, boleh lah kasih tau gue kontaknya,” kataku mengalihkan perhatian.

Tony tak bertanya lebih lanjut. Dia menyandarkan punggungnya sambil menatapku penuh selidik. Tony menghela nafas. Dia mengeluarkan ponselnya dan mengirimkan sebuah nomor HP pada ponselku.

“Namanya Hazgil. Masih muda walau udah enggak masuk brondong. Tapi gue yakin ini selera elu,” kata Tony.

Aku menyimpan nomor ponsel itu dan berterima kasih pada Tony.

“Dia bukan cowok bayaran. Gue cuma kasihan, di tempat elo nanti seminar itu jarang cowok keren katanya. Jadi waktu gue kasih foto elu, dia tertarik banget. So, jangan malu-maluin gue pake cara nyiksa segala!” sahut Tony memperingatiku.

Aku terkekeh malu.

***

Semua peselingkuh pasti akan selalu mengidamkan momen dirinya “terpaksa” pergi keluar kota entah itu untuk tugas ataupun seminar dan pelatihan. Kapan lagi bisa jauh dari pasangan resmi dengan alasan tanpa dibuat-buat sambil bisa mencari waktu untuk sekedar bersenang-senang dengan orang baru, kan? Lima tahun menikah aku selalu menahan diri bila harus tugas keluar kota. Kini aku berniat memanfaatkan momen ini sebaik-baiknya.

AKu menghubungi pria bernama Hazgil itu. Dia adalah pemuda keturunan Manado dan Timur Tengah. Tampan, dan memang benar apa kata Tony, Hazgil masuk kriteria cowok seleraku setelah dia mengirimkan fotonya padaku. Aku berharap bisa sejenak melupakan kemumetan pikiranku yang tidak bisa mengenyahkan Angga dari otakku saat bertemu dengan pria ini.

“Ketemu di mana mas, enaknya?” tanyanya melalui SMS.

“Saya tinggal sekamar berdua teman. Jadi sepertinya kamu enggak bisa mampir ke hotel,” balasku.

“Kalau gitu Mas mampir aja ke rumah kontrakkanku. Aku tinggal sendiri kok,” tawarnya.

“Oke. Kasih tau alamat kamu, biar saya cari sendiri ke sana pakai ojek,” balasku lagi.

“Sip, Mas! ditunggu ya nanti malam!”

***

Aku harus mencari alasan untuk bisa keluar kamar hotel tanpa dicurigai teman sekamarku. Walau tampaknya teman sekamarku menggodaku bahwa aku akan pergi mencari selingkuhan dan tak keberatan menggunakan kamar hotel, tapi tentu saja tawaran itu kuabaikan. Bagaimana mungkin menjelaskan pada temanku bila memang aku berselingkuh, aku malah membawa seorang pria ke kamar.

“Kalau dapet yang oke, bagi-bagi bro..” goda Ilham temanku saat aku pergi keluar kamar.

Aku kemudian mengikuti petunjuk jalan yang diberikan Hazgil padaku untuk menuju rumah kontrakannya. Setelah sepuluh menit menumpang ojek motor, aku tiba di depan rumah yang disebutkan oleh Hazgil. Untuk memastikan hal itu, aku menghubunginya lewat telepon.

“Udah sampai. Kamu di dalam?” tanyaku.

“Oh! tunggu bentar mas! aku bukain pintu dulu!” sahutnya.

Beberapa detik kemudian, seorang pria keluar dengan hanya mengenakan kaus dan celana pendek longgar. Hazgil memang tampan seperti foto yang dia kirim. Dia mengajakku masuk setelah kami berbasa-basi berkenalan sambil berjabat tangan.

Rumah kontrakan Hazgil terdiri dari ruang tamu kecil, dua kamar tidur serta kamar mandi dan dapur. Dia bercerita betapa senangnya bisa bertemu denganku karena dia tak pernah mendapat kenalan pria yang menurutnya tampan di daerah ini.

“Maaf ya, mas.. kalau emang aku mau fun, ya mending sama yang tampangnya bagus gitu loh… tapi susah banget di sini!” kata pegawai sebuah bank swasta itu memberi alasan.

Aku tertawa sambil menerima sebuah botol air mineral dari tangannya.

“Eh, tapi aku belum mandi Mas. Aku mandi dulu, ya?” kata Hazgil.

Aku mengangguk.

“Mau mandi bareng?” tawarnya sambil menarik sebuah handuk.

Aku menggeleng, “Kalau mandi lagi, saya nanti ngantuk.”

Hazgil menghela nafas kecewa. Terus terang saat itu aku sedang tidak bersemangat dan tampaknya hal itu terbaca oleh Hazgil.

Aku memainkan ponselku menunggu Hazgil selesai mandi. Ketika keluar dari kamar mandi, dia membuka handuknya dan menunjukkan padaku bahwa dirinya mengenakan sebuah celana dalam seksi yang menutupi hanya bagian vitalnya saja sehingga bagian pantatnya terekspos jelas.

“Ini hadiah dari teman pas dia jalan-jalan ke Taiwan. Katanya untuk membangkitkan fantasi. Mas suka? seksi gak?” tanyanya.

Aku hanya tersenyum lemah. Hazgil tampak kecewa. Jika saja aku sedang bersemangat, pastilah pemuda ini sudah kubanting ke atas ranjang dan kulumat hingga habis.

Hazgil yang cemberut naik ke atas ranjang dan mulai memain-mainkan tabletnya berusaha mengabaikanku. Aku melirik tubuhnya yang telungkup serta bongkahan putih pantatnya yang seksi menonjol. Walau kurang bersemangat, pemandangan itu berhasil membuat otakku memompa darah pada penisku hingga menegang.

Merasa tak enak sudah mengabaikan Hazgil, aku perlahan merangkak di atas ranjang. Kubuka kausku dan mulai menggodanya.

Awalnya kuciumi pipinya. Hazgil tak bereaksi. Dia masih cemberut sambil mengamati layar tabletnya sambil bermain game. Aku melanjutkan gerakanku dengan menjilati telinganya. Kurasakan tubuh Hazgil menggigil pelan. Tampaknya dia sudah mulai terpengaruh oleh aksiku. Perlahan diletakkannya tabletnya dan mulai memejamkan matanya sambil mendesah.

Kuciumi leher pemuda tampan itu hingga dia pasrah dan terus mendesah. Kuhimpit tubuhnya perlahan hingga dadaku menekan bahunya sambil tanganku menjelajahi bagian tubuhnya yang lain.

Kuraih wajah Hazgil mencium bibirnya. Pelan. Lembut. Dan sialnya, kubayangkan diriku sedang mencumbu bibir Angga. Hazgil menggumam. Tak menyangka diriku menciumnya penuh perasaan. Pemuda itu mengusap punggungku dan meremas rambutku saat aku terus menciumi bagian tubuhnya.

Kudaratkan kecupan-kecupan mautku semakin ke bawah. Kulumat putingnya bergantian. Rupanya itu adalah bagian sensitif tubuh pemuda itu hingga dia mengerang cukup keras saat aku menggigitnya dengan lembut berkali-kali sambil kuputar lidahku di atasnya.

Cumbuanku semakin bergeser ke bawah. Punggungnya yang mulus tak luput dari kecupan bibirku. Kutepuk pantat Hazgil mesra dan meremasnya beberapa kali. Hazgil merintih dan mengerang sebagai respon dari perlakuanku. Kujelajahi bongkahan pantatnya yang putih mulus itu hingga aku gemas dan menggigitnya lembut beberapa kali. Gigitanku membuat Hazgil menggelinjang lebih liar. Kubuka lebar kedua belah pantatnya dan kudapati lubang anus berwarna merah muda yang terlihat rapat dan berdenyut-denyut. Kukeluarkan lidahku dan mulai menjilati bukaan anusnya yang berdenyut itu sehingga basah oleh liurku.

Hazgil mengerang keras saat kulakukan rimjob padanya. Kuremas pantatnya dan kutepuk beberapa kali sambil kuangkat sebelah pahanya agar aku leluasa menyapu lidahku maju mundur pada garis belahan pantatnya berkali-kali.

Hazgil merintih panjang keenakan. Kemudian aku beralih pada penisnya. Kuturunkan penutup celana dalam seksinya hingga penisnya menyembul. Tanpa ampun kulahap batang penisnya hingga Hazgil semakin liar menggelinjang. Erangan, desahan, dan rintihan yang keluar dari mulut pemuda itu membuatku semakin bersemangat. Kali ini aku tak menginginkan dia mengulum penisku atau apapun untuk merangsang tubuhku. Perbuatanku hanya berpusat bagaimana caranya merangsang pemuda ini sejadi-jadinya.

Aku kemudian merangkul tubuh Hazgil dari belakang setelah kulepas celanaku hingga hanya menggunakan celana dalam saja. Kugoda dia dengan menekan penisku yang sudah mengeras pada pantatnya sambil kuciumi punggungnya.

“Mas.. kamu hebat banget sih..” pujinya dalam gumaman.

Saat itu aku mengangkat lengannya hingga aku leluasa kembali melumat putingnya dari belakang tubuhnya sambil tetap memeluk Hazgil. Tanpa kusadari, tangannya meraih sebungkus pelumas dan mengeluarkan isinya pada telapak tangannya. Dia lalu mencari-cari penisku dan mengeluarkannya dari dalam celanaku dan mengusapnya berkali-kali dengan tangannya yang berlumur cairan bening pelumas. Sensasi bercumbu dengan masih menggunakan celana dalam ini memang membuatku terangsang.

“Akh..” erangku saat Hazgil mengocok penisku dengan tangannya yang basah oleh pelumas. Pemuda ini sudah tak sabar. Dirinya benar-benar telah terangsang dengan cumbuanku dan ingin segera menikmati penisku di dalam anusnya. Itulah sebabnya dia langsung mengarahkan kepala penisku pada lubang anusnya sambil mengangkat sebelah pahanya agak tinggi. Setelah yakin tepat sasaran, Hazgil tiba-tiba menggerakan tubuhnya ke bawah hingga dalam sekali hentakan, batang keras milikku langsung menerobos ke dalam terowongan anusnya.

Hazgil memekik panjang dengan perbuatannya sendiri. Dia menelan ludahnya berkali-kali sambil terengah. Aku sendiri melenguh panjang tak menyangka bahwa Hazgil membawa penisku langsung tepat sasaran menusuknya. Kini kurasakan penisku berada dalam anusnya yang ketat, berdenyut-denyut memijat seolah minta dipuaskan setelah sekian lama. Tak ada pilihan lain, aku mulai menggoyang pinggulku bergerak seirama dengan tubuhnya yang terombang-ambing di atas ranjang. Mulutnya mengeluarkan rintihan demi rintihan serta desahan menikmati setiap gerakan penetrasi batang penisku dalam rongga kenikmatan anusnya.

“Hoooh.. uuuh.. Mas.. terus..” rintihnya sambil mendekap lenganku pada dadanya dan menciuminya. Hazgil meringkuk pasrah pada dominasi diriku atas tubuhnya. Dia merelakan dirinya menjadi pencapai orgasme diriku malam itu.

Aku lalu mengganti posisi. Kubuka pahanya lebar-lebar dan melakukan penetrasi dari atas sambil kulingkarkan kakinya pada pinggangku.

Mulut Hazgil membuka sambil matanya terus menatapku takjub. Dia mengerang dan mendesah sambil mengocok penisnya.

“Mas.. aku mau keluar… tapi kutahan… mas masih lama?” desahnya.

“Keluarin aja duluan..” sahutku.

Hazgil menggeleng. “Aku mau keluarin bareng sama mas.. hh… mas… kita keluar bareng…”

Aku tak menjawab. Aku memiliki kemampuan mengontrol orgasmeku dengan cukup baik untuk bisa bertahan lama. Tapi kali itu, aku mengiyakan permintaan Hazgil agar tak menahan diri.

Hazgil kemudian beringsut dan membenamkan wajahnya pada dadaku dan melumat putingku.

“Akhhh!!” erangku. Perlakuannya membuatku tak kuasa menahan orgasmeku lebih lama lagi.

“Ayo mas.. kita keluarin bareng… aku nggak tahan…” rintihnya lagi.

Kupercepat gerakan pinggangku. Kuhentakkan berkali-kali penisku di dalam pantat pemuda itu agar aku bisa mencapai klimaks segera.

“Saya.. mau keluar.. hmpph..” ujarku.

“Ouh.. oh.. ayo mas.. keluarin.. Aaaakhh!!” erang Hazgil. Bersamaan dengan tumpahnya cairan spermaku di dalam anusnya, Hazgil melontarkan cairan spermanya berkali-kali di antara tubuh kami. Aku tak kuasa menahan tubuhku. Dengan terengah-engah kujatuhkan badanku di atas tubih Hazgil dengan penis yang masih menancap pada anusnya.

Aku mengecup dahi Hazgil sambil kuusap-usap kepalanya. Pemuda itu tersenyum melihat kemesraanku.

“Makasih, Ga…” kataku tanpa sadar.

Aku menyadari bahwa telah membuat kekeliruan saat raut wajah Hazgil mendadak berubah keheranan saat aku memanggil nama orang lain kepadanya…

-Bersambung-

Advertisements
Comments
  1. trulyzhen says:

    MAKIN SUKA SAMA CERITANYA!! AAAAAAAA~
    kudu ngasih #autopuk nih ke protagonisnya.

    tadi abis googling2 juga. dan ceritanya abang nih yg penyampaian sama isinya paling bagus.

    saya mulai ngefans sama penulisnya, mau cium penulisnya kyaaa~ eh tapi saya cewek -w- *langsung kena anemia*

  2. adi says:

    kang remy, yg bf ga diapdet lagi?

  3. ockidhan says:

    ga bosen sama semua ceritanya… ini antara jatuh hati sama penulis atau sama semua cerita yang di tulis ya???

    tiap hari selalu buka safari cuma mau liat update tulisan terbaru dsni…

    i’m in love with u

  4. arif says:

    pernah kayak gitu.. -_-

    he mentioned someone else’s name.

  5. nano putra says:

    kok sekarang pendek2 yah

  6. yuzz says:

    ulalaaaaa~~~

    *kejar ampe blog

  7. dhafa says:

    cuma satu kata KEREEEEEEEEEENNNNNNN

  8. Tsu no YanYan says:

    duilehh yang jatuh cinta, maen sama siapa ingetnya siapa~

  9. abep says:

    tiap episod ada ML nya ya ,,hhaha
    ,brsambung ! ,oke ,di tunggu lanjutan nya ..

    akun pnulisnya mana nh ,pngen tau ,email dong..

  10. greensun says:

    OMG part yg ini keren banget..emosinya kerasa di tiap kalimatnya..huwaaaawww!!

  11. anton says:

    A HUSBAND: Untolds story the series, tokoh utamanya ngingetin sama someone yg selalu jauh dimata dekat dihati

  12. ziqi says:

    Bisa g ngirim tulisan kesini? Pengalaman pribadi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s