A HUSBAND: UNTOLD STORIES – Chapter 4 Angga

Posted: June 19, 2014 in A Husband: Untold Stories
Tags: , , ,

Husband-Chap4Cerita sebelumnya: Setelah hidup setia menikah dan berkeluarga, Dion tak tahan untuk kembali berhubungan intim dengan sesama pria. Pria pertama bernama Fadli. Sayangnya, Fadli menjadi korban keganasan Dion di ranjang saat mereka bercinta. Kemudian Dion berhubungan dengan Angga. Pria muda pemilik kafe ini sanggup membuat Dion bercinta lebih lembut di ranjang. Belakangan Dion menghubungi Angga kembali. Padahal awalnya dia bertekad hanya akan berhubungan singkat dengan pria yang ditemuinya.

BOLEH ngerokok di sini, Mas?” tanya Angga sambil menurunkan kaca jendela mobil. Malam itu aku bertemu dengan Angga setelah aku meneleponnya beberapa hari lalu untuk memintanya bertatap muka. Terus terang, aku tidak lagi mengunjungi kafe tempat Angga bekerja saat makan siang sejak kami bermesraan.

Aku tak menjawab pertanyaan itu. Kuharap Angga mengerti. Aku tak ingin mobilku bau asap rokok karena istriku pasti akan bertanya siapa yang merokok mengingat diriku bukanlah seorang perokok aktif. Bisa saja kubilang ada temanku yang tak bisa menahan diri untuk merokok, memang. Tapi aku lebih suka untuk tidak berbohong.

Angga rupanya mengerti ketidaksetujuanku dalam diam. Dia kemudian membuka pintu mobil dan keluar. Saat itu kami berdua sedang berada di sebuah parkiran restoran yang berada di tepi sebuah bukit di pinggir kota. Aku mengajak Angga untuk makan di situ, namun rupanya suasana kaku meliputi kebersamaan kami hingga tak ada satupun yang tampak bersemangat untuk turun dari dalam mobil ketika tiba.

Kuperhatikan Angga berjalan menuju pagar yang membatasi tempat parkiran dan lereng curam perbukitan. Dia menyalakan rokoknya dan bersandar pada pagar besi panjang sambil melihat lampu-lampu kota di kejauhan.
Aku kemudian mengikutinya turun dari dalam mobil dan menghampirinya.

Angga menghembuskan asap rokoknya jauh-jauh. Dia kemudian berujar tanpa melepaskan pandangannya ke kejauhan.

“Aku pikir Mas Dion bertekad buat enggak ketemuan lagi.”

Aku diam.

Angga kemudian terkekeh. “Jangan bilang kalau Mas sekarang mulai naksir sama aku,” katanya.

Aku menatap matanya. Menantang Angga dalam diam membiarkan dia menebak yang ada dalam pikiranku.

“Menurut kamu?” tanyaku.

Angga kemudian menjadi salah tingkah dan berdeham sebentar. Tangannya yang grogi akhirnya menjatuhkan rokoknya dan diinjaknya hingga padam.

“Kita enggak bisa ke kost.. ada teman..” ujar Angga datar sambil berjalan menuju mobil.

Aku mengikuti Angga yang telah lebih dulu masuk ke dalam mobil. Di dalam mobil, aku tak langsung menyalakan mesin melainkan menatap wajah Angga lekat-lekat. Sungguh, pesona pria muda ini rupanya telah membuatku merasakan sesuatu yang tak bisa kujelaskan. Angga kemudian balas menatapku. Kutarik kerah bajunya hingga wajahnya berada sangat dekat dengan wajahku. Kupagut bibirnya dan menciumnya. Kudengar Angga menggumam lirih. Matanya terpejam dan dia membalas ciumanku sama panasnya. Kuletakkan telapak tanganku pada lehernya sambil kubuat suara-suara menggumam saat kunikmati setiap bagian bibirnya dengan mulutku. Angga meletakkan tangannya pada pinggangku, mencoba menarikku semakin dekat pada tubuhnya. Dia menginginkanku! Angga menginginkanku bukan karena akan mendapat bayaran! Setidaknya begitulah yang kurasakan.

Dengan sedikit terengah aku melepaskan ciumanku dari bibir Angga. “Ayo pergi dari sini,” kataku.

“Jangan ke hotel, Mas… aku khawatir kamu jelasin tagihannya ke istri mas,” kata Angga.

Aku tersenyum. Tentu saja aku tahu sebuah tempat di mana kami tak perlu menyewa hotel untuk sekadar melepas syahwat.

“Saya tahu satu tempat. Kamu santai aja,” kataku menenangkan Angga. Aku juga paham resiko “petualangan” seperti ini. Walau istriku bukan perempuan cerewet dan posesif yang akan bertanya ini dan itu (aku teringat seorang teman yang bahkan jumlah kilometer pada motornyapun dicatat istrinya), tapi aku paham naluri perempuan. Jika terlalu banyak hal yang akan menjadi pertanyaan, lebih baik aku hindari.

Sepanjang perjalanan kami tak bicara. Angga meletakkan telapak tangannya pada pahaku selama beberapa saat, lalu meremasnya. Aku tersenyum.

“Kamu nakal, ya?” kataku.

Angga balas tersenyum. Dia tak menghentikan aksinya dan terus meremas pahaku dengan pijatan lembut namun tepat sasaran menstimulasi syaraf-syaraf di sekitarnya hingga membuat penisku semakin menegang.

Aku menarik nafas panjang menahan gejolak nafsu sementara mataku masih berkonsentrasi pada jalan raya. Angga makin agresif. Dia berusaha melepaskan ikat pinggangku setelah menarik-narik keluar ujung kaus polo yang kukenakan.

“Sabar Ga…” protesku. Tapi aku tak berusaha menghentikan perbuatannya.

Kubetulkan posisi duduk agar lebih nyaman sambil kubuka pahaku lebih lebar. Tangan Angga mulai menjelajahi daerah selangkanganku dan meremas penis yang masih tersembunyi di balik celanaku. Aku melenguh sambil mencengkeram setirku lebih kencang saat Angga melakukan itu. Jemari Angga dengan lincah menurunkan resleting celanaku dan segera menemukan batang penisku untuk digenggamnya.

“Huff..” ujarku resah. Sulit sekali menjaga konsentrasi mengemudi sementara bagian vitalku sedang dirangsang oleh tangan Angga.

Syukurlah siksaan itu sementara berakhir ketika kami tiba di lokasi yang aku tuju. Aku berusaha menguasai diri dan membetulkan pakaianku. Sementara Angga tersenyum-senyum geli melihatku salah tingkah.

Tempat yang aku tuju adalah sebuah rumah tua tak terpakai yang berhalaman sangat luas. Pagarnya ditutupi seng yang tinggi sementara hanya ada sebuah pintu masuk seukuran mobil yang dijaga oleh seorang pria paruh baya bertampang galak. Tepat di depannya ada sebuah warung kecil yang menjajakan makanan ringan dan minuman seduh hangat.

Ketika mobilku hendak masuk, pria itu mengetuk kaca jendelaku dengan tampang tak ramah. Aku menurunkan kaca mobil dan menghadapinya dengan tenang.

“Maaf Bos! bukan tempat parkir umum!” ujarnya ketus.

Aku membalas perkataan pria itu dengan mengucapkan sebuah nama. “Gue temen Tony, mau parkir di sini. Ada tempat?”

Mendengar nama Tony kusebut, mendadak pria tua itu berubah ramah. Dengan sigap dan sikap hormat, dia mempersilakan aku masuk.

“Oh, teman Bos Tony? silakan bos.. silakan..” ujarnya.

Aku menjalankan mobilku kembali dan mengangsurkan selembar uang seratus ribuan pada orang itu. Saat aku menyusuri lapangan parkir yang berupa tanah berbatu dan berumput itu, kuredupkan lampu mobilku dan berjalan sangat pelan mencari tempat yang nyaman untuk parkir. Kulihat dalam kegelapan beberapa mobil terparkir di sudut-sudut gelap. Seandainya orang awam yang tak mengerti tempat ini, pastilah mereka akan menyangka bahwa ini adalah tempat parkir biasa. Tapi jika dilihat lebih seksama, mobil-mobil itu berisi pasangan-pasangan manusia yang sedang bercinta melepas nafsu mereka di dalamnya. Ada gerakan yang tampak jelas, ada pula yang samar. Hampir semua mobil yang ada di situ membiarkan mesin mobilnya dalam keadaan hidup untuk sekedar mengaktifkan pendingin udara yang mengurangi suhu pergumulan panas di dalamnya.

Aku memarkir mobilku di sebuah sudut tepat di bawah sebatang pohon yang tak jauh dari bangunan tua gelap tak terpakai itu.

“Jadi, sekarang kita main mobil goyang nih?” goda Angga sambil terkekeh.

Aku balas tertawa. Setelah kupadamkan lampu, aku bersyukur masih bisa mendapatkan cahaya dari lampu jalanan sehingga diriku masih bisa melihat wajah Angga yang tampan.

Kuusap wajahnya dengan telapak tanganku. Angga memejamkan matanya dan menggosokkan pipinya pada tanganku seolah menikmati belaianku. Kudekatkan wajahku kembali padanya dan kucium dirinya dengan penuh perasaan. Tanpa nafsu. Angga menatapku agak heran karena merasakan ciuman yang tak seperti biasanya. Saat itu aku menggunakan mobil MPV ku yang memang biasa kupakai untuk keperluan pribadi. Jok bagian belakang mobil sengaja kulepas untuk tempat menggantung pakaian-pakaian kerjaku agar tetap rapi, sehingga ada cukup ruang di belakang untukku dan Angga memadu kasih.

Kucium lagi bibir Angga, kuselusuri tubuhnya dengan jemariku hingga dia menggelinjang.

“Pindah ke belakang, ya?” tawarku.

Angga mengangguk.

Kemudian kami bergantian melangkahi bagian tengah jok mobil depanku menuju bagian belakang. Angga buru-buru melepas kausnya, begitupun diriku.

Kusibak pakaian-pakaianku yang menggantung agar tak mengganggu aktivitas kami. Angga bersandar sambil duduk dan menatapku sayu. Aku menghampirinya dan memeluknya erat. Kami menggumam dan mendesah saat saling memagut bibir dan membiarkan tangan-tangan kami liar saling menjelajahi tubuh lawan.

“Umm.. kenapa.. umm… Mas masih mau ketemu aku?” tanyanya disela-sela ciumanku.

Aku tak menjawabnya selama beberapa saat. Kulepaskan kecupanku dan menatapnya. “Enggak tahu.. mungkin saya sekarang sudah jatuh hati sama kamu…” tantangku.

Angga terlihat terkejut dengan pernyataanku. Tapi tak seperti yang kuharapkan bahwa dia akan berkata hal yang sama, Angga malah terdiam.

Kucium lagi lehernya hingga Angga mendesis. Tubuhnya beringsut hingga berbaring di atas karpet mobil. Hembusan pendingin udara tak kuasa mendinginkan tubuh kami berdua yang mulai memanas dan berkeringat. Aku mendekap Angga erat-erat dan membiarkan kedua kakinya mengapit pinggangku. Dilengkungkannya punggungnya saat sambil mendesis-desis nikmat ketika kuhujani bertubi-tubi dada dan perutnya dengan kecupan.

Tak sabar, kulucuti pakaian Angga. Angga pun membantuku melepas seluruh pakaianku. Tempat yang sempit di belakang mobil ini membuatku tak leluasa mencoba berbagai macam gaya. Tapi inilah sensasinya. Kami bisa langsung menikmati sajian utama tanpa harus bersusah payah melakukan pemanasan. Sajian utama yang lama dan intens.

Kuambil botol pelumas yang sudah kusiapkan. Cepat-cepat kubasahi penisku sambil menatap mata Angga. Aku melihat rasa tak sabar di wajahnya. Tatapan pasrah dan berserah padaku bahwa dia menjadi milikku malam ini. Kugenggam penisku dan mengarahkannya pada lubang anus Angga. Angga memekik pelan. Salah satu tangannya mencoba meraih benda apapun untuk berpegangan. Mulutnya terbuka seperti menahan perih, namun dia tetap membiarkanku melanjutkan aksiku dan semakin ketat menghimpit pinggangku dengan pahanya.

“Ah.. Mas….” desahnya.

Perlahan aku terus mencoba membobol pertahanan Angga. Anusnya mulai terasa mencengkeram penisku hingga aku melenguh keenakan. Kujilati leher Angga dan kuciumi hingga pemuda itu menggeliat liar di bawah tubuhku. Saat aku berhasil memasukkan seluruh batang penisku, Angga meraih leherku dan menciumi lembut bibirku sambil berusaha membiasakan diri kembali dengan benda asing yang tertancap di anusnya.

“Sabar ya mas? jangan digerakkin dulu..” pintanya sambil mengecup pipiku beberapa kali. Aku mengiyakan permintaannya. Otot anus Angga yang awalnya berkedut-kedut hebat memprotes benda tak diundang sebagai perlawanan untuk mengeluarkannya, lama kelamaan berangsur mereda. Saat kurasakan Angga telah rileks, aku mulai menggerakkan pinggangku dan mengangkat pantatku hingga penisku bergerak keluar.

“Hmmpphh..” erang Angga sambil mencakar pundakku dengan ujung jemarinya.

“Ngghh…” pekiknya saat penisku menghujam kembali masuk ke dalam lubang anusnya. Kali ini kulihat bukan pekik kesakitan, tapi aku yakin itu adalah sebuah sensasi nikmat yang ditimbulkan dari tusukan batang penisku.

Saat kumakin mempercepat gerakanku. Angga meremas-remas dadaku dan menatapku sambil menggigit bibirnya. Dia menggumam seolah-olah memuji permainanku dan gerakanku menyetubuhinya. Sesekali Angga mendesah, melenguh, dan mencium bibirku. Tubuhnya terlonjak-lonjak di bawah tubuhku. Basah oleh keringat seperti tubuhku yang terlihat mengilap oleh pantulan lampu jalanan yang menerobos masuk jendela belakang mobilku.

“Aku sayang kamu, Ga…” ujarku tanpa kupikirkan.

Angga tertegun sesaat namun tak merespon pernyataanku.

Ketika gerakanku semakin intens, kulengkungkan punggungku dan kutahan lengan Angga hingga aku leluasa mengulum putingnya keras-keras. Angga memekik hingga jepitannya terasa kuat mencengkeram pinggangku dan penisku. Tak lama kurasakan penis tegang Angga melontarkan cairan kental dan membasahi perut kami berdua. Angga terengah-engah namun masih mengimbangi permainanku yang belum mencapai klimaks.

“Ung.. unggh.. ummh..” gumam Angga sambil melumat bibirku dan menjambak rambutku. Dia membuat otot-otot anusnya menjepit semakin keras batang penisku membantuku mencapai klimaks.

Aku mendesah, melenguh, dan mengerang dengan tubuh bersimbah peluh.

“Ayo mas.. keluarin mas… hhh… Angga kangen disemprot Mas..” ucapnya cabul sambil menatap mataku.

Aku terus mempercepat gerakanku. Dan tiga hentakkan terakhir membuatku menyerah akan pertahanan diriku sehingga kulepaskan juga cairan isi buah zakarku di dalam anus Angga berkali-kali.

“Aaaakh….” erangku sambil merangkul Angga kuat-kuat. Tubuhku bergetar. Dan ketika permainan itu usai, aku terkulai lemas di atas tubuhnya. Angga mengusap-usap punggungku seolah sedang memuji pekerja keras yang berhasil mencapai tujuannya.

***

“Makasih Mas udah nganterin,” kata Angga ketika aku menghentikan mobilku di muka jalan menuju kostnya.

Aku mengeluarkan dompetku karena sesuai perjanjian, aku membayar Angga untuk pelayanan yang dia berikan.

Saat kuserahkan berlembar-lembar uang itu, kulihat Angga seperti bingung menahan diri. Aku berharap dia tidak menerimanya. Entah apa yang kupikirkan, tapi sepertinya aku menginginkan sesuatu yang lebih dari hubungan kami berdua. “Ayo tolaklah! maka aku akan memberikan lebih banyak untukmu jika kau jadi milikku..” pikirku dalam hati.

Tapi betapa kecewanya diriku ketika Angga perlahan menerima uang yang kuberikan walau dia terlihat sedikit ragu.

“Um.. makasih Mas.. kalau mau ketemu lagi, hubungi aja,” ujar Angga salah tingkah sambil keluar dari dalam mobilku.

Aku menatap sedih Angga yang berjalan menjauhi mobilku. Tak menyangka bahwa aku bisa terpikat padanya dan merasakan kecewa ketika aku berharap lebih banyak, pemuda itu tak membalasnya.

-Bersambung-

Advertisements
Comments
  1. ar says:

    Pertamax
    Nanggung bgt Chapter 4 hrs’a agak panajang 😊
    Ditunggu Chapter 5 nya

  2. ilyas says:

    Mantap, lanjutkan.
    Pengenlah digenjot ka Dion.

  3. arif says:

    nunggu kelanjutan ceritanya dan cover chapternya.
    😛

  4. falcon says:

    ni fiksiya??kok kaya cerita asli aje..

    penulisny jempolll dah…<3

    ditunggu part 5 ny mas

  5. trulyzhen says:

    suka banget sama chapter ini. Hubungan itu mau Hetero atau homo tetep pake perasaan, bukan cuma genjotan d;_;b

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s