A HUSBAND: UNTOLD STORIES – Chapter 3 Boy Next Door

Posted: May 24, 2014 in A Husband: Untold Stories

Husband-chap3Cerita sebelumnya: Setelah hidup setia menikah dan berkeluarga, Dion tak tahan untuk kembali berhubungan intim dengan sesama pria. Pria pertama bernama Fadli. Sayangnya, Fadli menjadi korban keganasan Dion di ranjang saat mereka bercinta. Kemudian Dion berhubungan dengan Angga. Pria muda pemilik kafe ini sanggup membuat Dion bercinta lebih lembut di ranjang. Apakah Dion akan menemukan pria baru?

TONY pernah menyarankan agar aku menginstall aplikasi gay-chat pada ponselku. Bukannya aku tak pernah mempertimbangkannya. Akan tetapi memasang aplikasi pada ponsel yang diam-diam sering diintip oleh istriku dan juga dipinjam anakku untuk bermain game itu sangat beresiko. Tapi suatu hari, ketika aku sendirian di rumah, aku tergoda untuk memasang salah satu aplikasi yang dahulu saat aku belum menikah tidaklah sepopuler sekarang.

Berbeda dengan situs underground gay yang saat sempat populer, bertatap muka dan berkenalan dengan sesama penyuka pria kini sangat mudah. Kau tinggal mendaftar di aplikasi, memasang foto, dan bisa mendeteksi orang-orang yang berminat sama denganmu di dalam satu area. Semakin oke dirimu, entah itu wajah atau tubuh, semakin besarlah kesempatanmu mendapatkan teman kencan.

Aku tak gegabah dengan mengunggah foto wajahku malam itu. Kupikir aku masih cukup percaya diri dengan foto tubuh setengah telanjang yang kupangkas bagian leher ke atasnya agar wajahku tak dikenali. Benar saja, tak beberapa lama banyak profil-profil bermunculan yang mengajak kenalan. Sebagian besar tak kugubris atau malah kudiamkan setelah kurasa tak cocok saat berkirim pesan.

Tapi ada seorang pemuda yang mengajakku kenalan. Dia bilang usianya masih 17 tahun. Dadaku berdesir dan nafsuku mulai menggelegak. Darah muda. Darah muda sangat mengusik otakku. Akun yang bergambar pemandangan itu awalnya kudiamkan karena tak ada foto yang bisa kulihat. Tetapi rupanya dia gigih mengajakku kenalan dan mengirimkan fotonya. Awalnya dia memuji tubuhku dan betapa inginnya dia ‘fun’ denganku.

“Ini fotoku Mas, asli, tanpa editan..” katanya.

Memang wajah anak ini sangat menarik. Alisnya tebal dan bibir yang sepertinya enak sekali bila kulumat.

Setelah dia berhasil meyakinkan diriku bahwa dirinya tak berniat macam-macam dan dengan terang-terangan menyebutkan alamat rumahnya yang kebetulan kuketahui lokasinya, aku mengizinkan dia untuk datang ke rumahku.

“Mm.. oke juga. Tapi saya mau pastiin dulu. Fun aja, dan kamu harus rahasiakan rumah saya.” Entah nafsu setan mana yang membuatku nekad mengajak anak itu ke rumahku.

“Oke, Mas.. saya ke sana naik motor…” balasnya.

***

Lima belas menit kemudian, kudengar suara motor berhenti tepat di depan pagar rumahku. Aku bergegas keluar dan membuka pintu pagar dan menyuruhnya masuk dengan motornya. Dia membuka helmnya dan anak ini yang sepertinya masih SMA wajahnya setampan foto yang dia kirimkan padaku.

“Halo Mas? saya Nico..” Ujarnya sambil tersenyum dan mengulurkan tangan.

“Hmm.” Aku menyambut uluran tangannya tanpa mau menyebut namaku.

Kupersilakan dia masuk sambil mengunci pintu rumahku.

“Rumah Mas bagus juga. saya pernah sih jalan-jalan ke dareah ini, enggak nyangka ada pemilik rumah yang gantengnya kayak Mas,” ujar Nico.

Aku tak menjawab. Kuraih pinggang ramping remaja ini dan mulai menciumnya. Nico mendesah sambil membalas ciumanku yang tiba-tiba itu.

“Jangan pemanasan lama-lama.. saya maunya langsung..” bisikku.

“Hmmf..” balas Nico sambil mengangguk-angguk setuju.

“Kita main di mana mas?” tanya Nico sambil menciumi leherku.

“Di sofa aja. Saya enggak mau ada jejak di kamar tidur,” kataku dingin.

Nico setuju. Kemudian aku membimbingnya ke sofa. Kulucuti kaus dan celana jeansnya. Setelah kuletakkan sebotol pelumas dan kondom di atas meja, aku membuka pakaianku sendiri. Kulihat Nico yang sudah duduk di atas sofa tersenyum mengagumi tubuhku sambil bergumam semangat. Nico yang agresif langsung memeluk badanku dan menjilati putingku. Namun saat itu aku sedang tak ingin berlama-lama. Kudorong Nico hingga tubuhnya telentang di atas sofa. Anehnya walau kuperlakukan agak kasar, Nico malahan terlihat bersemangat.

Kuserbu tubuh remaja itu dan mulai kuhujani dengan kecupan. Nico melengkungkan tubuh telanjangngnya sambil mendesah. Dia menghimpit pinggangku dengan kedua pahanya. Tapi cumbuan itu tak berlangsung lama. Seperti yang kubilang, aku menginginkan permainan langsung tanpa pemanasan yang panjang. Kuraih botol pelumas dari atas meja dan langsung menuangkannya pada tanganku.

Awalnya Nico menggeliat sambil mendesah ketika kupijat anusnya dengan jariku yang licin berpelumas. Tak lama kemudian saat aku hendak menusukkan jariku ke dalam anusnya, Nico menolak.

“Mas.. langsung aja…” pintanya.

Aku memandangnya sesaat. Kemudian aku mengambil kondom dan menyarungkannya pada penisku. Nico memekik saat aku paksa dirinya berbalik badan. Dia memeluk sebuah bantal dan mengangkat pantatnya agak tinggi. Melihat bongkahan pantatnya yang mulus itu, aku memukul pantat Nico beberapa kali. Nico terlonjak sambil mendesah.

“Yesss Mas.. ahh.. hukum aku mas… hukum aku…” desahnya sambil memalingkan wajahnya ke arahku.

Setelah puas membuat kulit pantatnya kemerahan, aku segera mendekat dan menusukkan penisku ke dalam anusnya. Nico memekik panjang sambil memeluk bantal sofa itu erat-erat.

“Aaaaah.. kontol mas.. uuuh… terus mas…” ujar Nico.

Rupanya anak ini benar-benar binal dan haus dengan tusukkan penis. Aku sempat menduga bahwa dia pastinya sering dipakai oleh banyak pria, namun tak sesuai dengan mitos bahwa lama-kelamaan akan menjadi longgar, pantat Nico masih terasa ketat menjepit batang penisku.

Tak seperti biasanya, aku membiarkan Nico aktif bergerak. Pantat anak ini bergoyang liar sambil terus mendesah dan melenguh keenakan seolah penisku adalah sebuah ‘joystick’ game yang digunakan untuk kepuasannya.

“Huuf.. mas.. kontolnya enak banget mas.. ah.. hh.. hh…” desah Nico sambil menatapku dengan matanya yang sayu. Mulutnya sesekali membuka sambil memejamkan mata seolah sangat menikmati penisku yang bermain dalam anusnya.

Aku yang bertumpu pada sofa di atas punggungnya, hanya bisa memandangi Nico yang menggeliat-geliut keenakan sambil mengangkat pantatnya sesekali. Aku menggeram saat Nico semakin cepat bergerak di bawahku. Kupegangi bahunya yang melonjak-lonjak liar. Suara erangan dan desahan terdengar dari mulut kami berdua. Tubuh kami mulai berkeringat.

“Ah.. yeah.. terus mas.. oouuh…” kata Nico berkali-kali.

Aku yang gemas kemudian menggigit bahu Nico yang aku yakin akan meninggalkan bekas pada kulitnya. Nico memekik dan meringis. Tapi anehnya dia semakin bersemangat.

Aku lalu membalik tubuhnya. Nico mengaduh singkat dan memejamkan matanya saat aku melanjutkan penetrasi pada pantatnya. Kali ini akulah yang mengambil alih dominasi permainan.

Nico mengetatkan jepitan pahanya pada pinggulku sambil terus mendesah. “Yang keras mas.. yang cepet.. ahh.. hhh… anjing! enak banget… hhh…”

Mendegar perkataannya aku lalu mencengkeram rahangnya dengan tanganku.

“Jadi kamu suka dikasarin ya? hah? suka??” Aku membentak Nico.

Nico mengangguk tak bisa membalas karena mulutnya terkunci oleh genggaman tanganku.

“Yang kuat mas.. terus…” pintanya saat aku terus menusuk anusnya berkali-kali.

“Buka mulut kamu! keluarin lidahnya!” perintahku.

Nico menurut. Perlahan dia membuka mulutnya dan dengan takut-takut dia julurkan lidahnya keluar.

Saat itulah aku langsung menyedot lidah remaja itu dengan mulutku dan menariknya penuh nafsu sambil menggeram. Nico menjerit tertahan karena sedikit kesakitan tak menyangka bahwa aku akan menyedot lidahnya sekuat itu. Setelah puas mempermainkan lidahnya, aku melepas sedotan mulutku dan meludah sekali ke dalam mulut Nico.

Nico terengah-engah mengimbangi permainan panasku. Tubuhnya terlonjak-lonjak sambil terus mendesah. Kemudian aku mendekatkan wajahku pada wajahnya dan menatapnya. Kedua mulut kami terus mengeluarkan desahan. Nico menatap mataku nanar dan bernafsu. Sesekali dia mencium bibirku dan menjilati leher dan beringsut untuk mengulum puting dadaku.

Lalu Nico berbisik. “Mas.. bilang kalau mau keluar.. keluarin di mulutku mas.. keluarin di mulut.. akh..”

“Hh.. kamu mau mas keluarin di mulut, hah? iya??” tanyaku.

“Iya mas.. aku mau telan pejuh mas.. pengan rasain pejuh mas… oouhh.. pasti enak mas…” godanya.

Perkataan Nico membuat nafsuku sampai diubun-ubun. Kupercepat gerakanku agar penisku semakin siap menembakkan isinya. Ketika aku hampir orgasme, aku berteriak pada Nico.

“Mas mau keluar.. mas mau keluar.. ooouww…” sahutku sambil mencabut batang penisku dari anus Nico.

Nico segera beringsut dan dengan sigap melepas kondom yang basah oleh pelumas dari penisku. Segera setelah terlepas, dia melahapnya. Tubuhku gemetar karena hendak mengeluarkan hasil produksi buah zakarku ke dalam mulut Nico. Nico mengatupkan bibirnya dan menggunakan lidahnya untuk merangsang penisku.

“Akkh….” tubuhku menegang sambil kutarik kepala Nico saat spermaku terlontar berkali-kali ke dalam mulutnya. Kudengar Nico menggumam dan mulutnya terus berusaha menampung cairan spermaku agar tak tumpah dari mulutnya. Nico kemudian melempar tubuhnya ke atas sofa. Bibirnya masih terlihat basah saat dia mulai mengocok penisnya sendiri. Kulihat dia mengerang, mendesah, dan tak lama kemudian penisnya memuncratkan sperma yang tumpah ruah di dadanya.

***

Permainan yang langsung panas dan intens itu berakhir. Aku melepas kepergian Nico yang tampak tersenyum puas. Dia melambaikan tangannya setelah sempat berucap bahwa dirinya bersedia kapan saja dipanggil bila aku mau.

Setelah basa-basi mengiyakan, aku melihat motornya menghilang di ujung jalan. Aku sendiri kemudian menuju mobil dan menghidupkannya. Aku butuh udara malam dan merenungkan apa yang terjadi.

Sudah tiga orang pria yang kutemui dan menjadi alasan ketidaksetiaanku pada istriku. Aku mendengus saat kuhentikan mobilku pada parkiran sebuah minimarket. Kubuka ponselku dan menghapus aplikasi gaychat yang ada. Kemudian aku meraih kantung plastik kecil berisi sisa-sisa perselingkuhan di rumahku sendiri berupa botol pelumas dan kondom bekas serta sisanya yang tak terpakai. Aku berniat membuangnya di bak sampah yang letaknya tak jauh dari minimarket itu sekalian membeli sesuatu untuk menyegarkan tubuhku.

Setelah selesai dengan urusanku membuang sampah dan membeli minuman, aku duduk di mobilku sambil menyesap minuman dingin dari botol perlahan-lahan. Tiba-tiba aku memikirkan seseorang.

Kuambil ponselku dan mulai mencari-cari sebuah nama: Angga.

Aku menghela nafas sambil mendengarkan nada sambung telepon yang terhubung ke ponsel milik Angga. Menunggu jawaban.

“Halo?” ujar sebuah suara di ujung sana.

Aku menatap ke luar kaca mobilku tak tahu harus berkata apa.

“Mas? Mas Dion…?”

“….”

-End of Chapter 3-

Advertisements
Comments
  1. Prasetyo Adhi says:

    Terkesan buru2 nih kayaknya…

  2. caetsith says:

    Perasaan kok kurang hot seperti biasanya ya bang. Hhhe πŸ˜€
    Perjuangan cinta mas dion pun dimulai….

  3. ryan says:

    itulah akibatnya kalau gay cenderungan cuma memikirin nafsu saja lama2 ya sama juga admin yng bosan nulis adekan sex mulu..bosan. gak harus kali dalam tiap chapter ada adekan Ml nya.ditunggu chapter berikutnya yng lebih menarik

  4. arga says:

    yang ke 4nya ga ada ya ?
    yang ke 3 hampir sama kaya pengalamanku,
    aku SMA dia udh kerja sama bgt

  5. Sailendra says:

    Cerita yg ini kesannya seperti nonton video bokep aja..
    Kurang menarik..
    Sudah kebaca lanjutannya,
    pasti chapter 4 nya adegan ML ama remaja lagi..gak seperti “Mentap Bintang di Langit Luwuk” ceritanya bikin merinding..
    Tapi suksek lah tuk upayanya..

  6. Matius says:

    Sukses dah buat ceritanya..
    Lebih diperkuat aja jalan ceritanya,adegan sex emang diperlukan tp jangan mendominan isi cerita…

    Trus lanjutan “selingkuh dengan kakak ipar” kok gak dilanjutin??

  7. idhien says:

    Ini si nico kya’y yg ml ama bpak’y s steve deh…πŸ˜„πŸ˜„πŸ˜„πŸ˜„

  8. ilyas says:

    Ini kelanjutannya mana? Udh ampir 3minggu gak da lanjutannya min.

  9. lucky says:

    min , sudah 18 juni kok blom ada yang baru ya? hehhe… sudah gak sabar…

  10. gusti says:

    Hmm gw rasa penulisnya pengen memberi “jiwa” buat karakter dion di tulisan ini.
    Penulis mau cerita ini punya jiwa bukan cumasekedar bokep durasi 10 mmenitan dr hasil download yg gak ada ceritanya dan cuma sex.
    Good work!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s