A HUSBAND: UNTOLD STORIES – Chapter 2 Angga

Posted: May 19, 2014 in A Husband: Untold Stories

Husband-chap2Cerita sebelumnya: Setelah menjalani pernikahan dan berkeluarga selama lima tahun dan tak lagi berhubungan dengan pria seperti yang dia lakukan sebelum menikah, Dion memutuskan untuk mengikuti keinginan terpendamnya untuk bercinta dengan seorang pria. Sayang, karena terlalu bersemangat, Dion secara sadis berhubungan intim dengan pria bayaran. Siapakah korban Dion berikutnya?

“KOPINYA Mas,” kata seorang pemuda sambil meletakkan secangkir kopi hitam di atas meja. Dia mengenakan kaus polo hitam bersematkan pin bertuliskan Angga di dadanya.

Aku yang sedang asyik menggunakan tablet, mengalihkan pandanganku dari layar tablet dan mengucapkan terima kasih. Angga mengangguk sambil tersenyum.

“Duduk sini dulu, Ga!” kataku sambil menyuruhnya duduk di depanku.

Siang itu aku sedang istirahat untuk makan di sebuah kafe. Angga adalah salah satu dari beberapa anak muda yang memiliki kafe non-waralaba ini. Letaknya cukup jauh dari kantorku, namun karena makanannya enak dan suasananya nyaman, aku masukkan kafe ini ke daftar tempat yang wajib kukunjungi seminggu sekali untuk makan siang.

“Minta ditemenin kena extra-charge lho, Mas!” kata Angga. Sambil tertawa dia mengambil sebatang rokok putih dan menyalakannya.

Aku menghirup pelan-pelan kopi yang disuguhkan Angga. “Kamu memang paling tahu takaran pas kopi hitam buat saya,” pujiku.

Angga terkekeh. “Biasanya sih memang saya yang bikin, Mas! tapi hari ini enggak. Jadi ngegombalnya ketahuan deh,” katanya.

Aku terbahak.

“Kamu enggak kuliah?” tanyaku.

“Hari ini kosong,” jawabnya.

Aku diam sambil menatapnya. Terus terang, Angga adalah tipe pria muda yang membuatku bernafsu. Aku mengenalnya sudah beberapa lama. Sepertinya dia tahu aku seorang yang tertarik dengan pria karena dia sudah terbuka kepada teman-temannya bahwa dirinya seorang gay.

Seringkali aku mendengar teman-temannya bercanda meledeknya yang sedang naksir seorang pria. Dan sepertinya Angga tahu, kalau aku suka memerhatikannya. Sebelum aku akhirnya memakai jasa Fadli, si cowok bayaran, aku sering berfantasi sedang mencumbu Angga yang tampan itu.

“Kenapa Mas? kok ngelihatinnya gitu sih?” goda Angga.

“Saya boleh mampir ke tempat kamu?” tanyaku.

Angga terdiam. Dia mengamatiku sambil mengisap rokoknya dalam-dalam. Kemudian dia berkata pelan.

“Aku enggak gratis loh, mas..”

Mendengar ucapannya, aku langsung mengetatkan rahangku. Kamu pikir aku tidak bisa membayarmu, hah? ujarku dalam hati. Emosiku langsung tersulut. Pikiranku langsung teringat saat aku menyiksa Fadli di atas ranjang. Akan aku buat lebih dari itu pada anak ini, pikirku.

Angga tertawa. “Aduh Mas Dion, jangan langsung marah gitu dong!” katanya.

“Maksud kamu? saya baru tahu kalau ternyata kamu butuh duit juga?” sindirku.

Angga mendekatkan wajahnya padaku sambil berkata, “Bayaran itu semacam jaminan biar kita enggak pakai perasaan. Nanti kalau Mas ketagihan gimana?”

Emosiku langsung mereda dan ikut tertawa bersama Angga.

Percakapan itupun berlanjut hingga ke tahap mengatur jadwal. Angga menyuruhku agar tak memakai kendaraan ke tempatnya karena dia tinggal di tempat kost yang kurang terjamin keamanannya.

“Mas naik taxi atau apa gitu. Kalau tetap nekad bawa mobil, saya enggak jamin walaupun enggak hilang, mobil mas masih dalam keadaan utuh,” kata Angga via pesan instan.

Akhirnya malam itu aku meninggalkan mobilku di kantor dan menggunakan taxi untuk menuju tempat Angga. Ketika hampir tiba di tempat, aku meneleponnya.

“Di mana?” tanyaku.

“Mas sudah sampe mana?”

“Sudah deket halte busway yang kamu bilang.”

“Oh, oke. Mas tunggu sebentar di depan restoran situ, yang sebelahnya ada jalan masuk, nanti aku jemput,” kata Angga.

Setelah turun dari taxi, aku berdiri menunggu di tempat yang disebutkan Angga. Tak sampai lima menit, Angga muncul. dia datang dengan kemeja kotak-kotak biru pucat lengan panjang yang digulung sampai siku dengan dalaman kaus putih, serta celana pendek denim coklat. Di jari tangan kirinya terselip sebatang rokok.

“Ayo Mas,” ajaknya begitu melihatku.

Aku mengikuti Angga menyusuri sebuah jalan yang semakin jauh dari jalan raya dengan lampu-lampu pinggir jalannya. Terus terang aku agak khawatir menerima undangan Angga. Apa kata orang-orang di situ bila melihat dua orang pria masuk ke dalam sebuah kamar kost begitu saja.

“Aman nggak?” tanyaku pada Angga.

Angga tertawa. “Cuek aja, Mas! lagian kost di sini bebas kok. Orangnya enggak saling peduli,” katanya.

Kami tiba di sebuah gedung yang memang dibangun sebagai tempat kost. Aku mencoba mengabaikan orang-orang yang tinggal di situ yang sedang berada di pinggir jalan dan terus mengikuti Angga.

Angga mengajakku ke lantai dua. Dia menyuruhku masuk dan kemudian dia mengunci pintunya.

“Kamu tinggal sendiri?” tanyaku sambil mengamati kamar kost Angga. Di situ terdapat sebuah ranjang berukuran besar, dua lemari kayu dan sebuah meja tempat menaruh televisi LED sembilanbelas inci miliknya.

“Berdua teman,” jawab Angga.

“Apa? satu ranjang?” tanyaku.

Angga terkekeh. “Ngebayangin apa toh, Mas? biar satu ranjang juga kalau enggak ada rasa gimana?”

“Temenmu kemana?” tanyaku.

“Dia tahu aku ada tamu, jadinya ngungsi dulu sementara,” jawab Angga.

Angga kemudian mencoba merapikan kamarnya yang sedikit berantakan setelah meminta maaf. Aku menggulung lengan kemejaku sambil menerima sebotol air mineral yang diserahkan Angga.

“Mas mau mandi dulu?” tanyanya.

“Kalo boleh sih enggak usah. Kenapa emang? bau ya?” tanyaku sambil mengendus ketiakku sendiri.

Angga tertawa. “Terserah mas Dion sih, tapi nanti kalau mandi wangi khasnya Mas Dion ilang dong?” katanya.

Saat Angga menyalakan pendingin udara, aku menariknya dan merangkulnya. Angga tersenyum sambil menatapku.

“Udah nggak sabar ya, Mas?” godanya.

“Iya,” kataku sambil menghirup kulit lehernya yang wangi sambil memejamkan mata.

“Kok baru sekarang sih mas ngajaknya? padahal kayaknya aku udah kasih kode lumayan lama. Baru meletek lagi ya, Mas?” tanya Angga.

“Hah? meletek?” tanyaku tak mengerti.

“Gini loh Mas. Kita udah kenal lama, tapi Mas menahan diri. Aku tahu Mas udah berkeluarga. Tapi pasti ada sesuatu yang bikin Mas sekarang nekad… um… siapa korban pertama Mas setelah sekian lama?” tebak Angga.

Aku menatapnya heran. Bagaimana mungkin Angga bisa menerka demikian tepat bahwa aku baru saja kembali mencoba berhubungan dengan pria setelah sekian lama?

“Kamu ini paranormal ya?” tanyaku sambil memencet hidung Angga yang mancung.

“Yah. Sebenernya sih aku senang akhirnya Mas Dion ngajak aku. Soalnya pasti Mas Dion gampang cari cowok yang mau ML sama mas…” kata Angga. Dia mengusap kedua lengan atasku dan memandanginya kagum dengan hasil latihanku di pusat kebugaran.

“Mmm.. bener. saya enggak mau sembarangan. Makanya saya ngajak kamu… udah lama ngebayangin bisa ngerasain tubuh kamu nih…” gumamku sambil menciumi telinga Angga.

Angga memejamkan mata sambil menggeliatkan kepalanya. “Jangan kasar-kasar ya mas?” desisnya. Aku yang tadinya berniat untuk menyiksanya seperti aku menyiksa Fadli, terpaksa menurutinya karena kupikir Angga akan berani menyetop permainan ini jika dia menganggapku terlalu kasar.

Tanganku semakin liar bergeriliya. Kubasahi kedua ibu jariku dengan ludah lalu kuselipkan ke dalam kausnya, menyusuri perutnya semakin ke atas, merasakan bulu-bulu teramat halus di atas pusarnya. Ketika akhirnya jemariku menemukan kedua putingnya, ibu jariku yang masih basah oleh ludahku kutekan perlahan pada masing-masing putingnya sambil kuputar perlahan-lahan.

“Ngh…” Angga menggelinjang menikmati perbuatanku. Tubuhnya sedikit condong ke belakang agar aku leluasa mempermaikan putingnya.

“Mas..” desahnya. Tangannya kini merangkul leherku. Dia menggigit bibirnya sendiri sambil memejamkan mata. Kudekati wajahnya dan kuselipkan lidahku ke dalam mulutnya sambil terus memutar-mutar ibu jariku. Angga terus mendesah hingga akhirnya dia tak tahan. Dibukanya kemeja dan kausnya lalu dengan cekatan dia membuka kemeja kerjaku. Setelah kami tak lagi mengenakan atasan, Angga merangkulku dan mencium bibirku dengan bernafsu. Kutekan pinggangnya hingga aku leluasa menggumul lidahnya di dalam mulutnya hingga Angga mengeluarkan gumaman gumamam tertahan.

Setelah bercumbu cukup lama. Angga meraih kedua ibu jariku. Dan memasukkannya ke dalam mulutnya. Dia lalu mengulum kedua ibujariku di dalam mulutnya hingga terasa hangat dengan gerakan seperti sedang mengulum penis. Nafsuku terbakar melihat adegan itu. Kugerak-gerakkan ibujariku di dalam mulutnya. Angga melakukan itu agak lama, lalu dia mengeluarkan ibujariku yang telah basah dan mengarahkannya kepada kedua putingnya. Angga kembali mendesis dan menggeliat ketika aku memainkan putingnya lagi.

Angga rupanya hendak membalas perbuatanku. Kali ini dia menunduk dan mulai menjilati putingku. Aku mengerang keenakan saat Angga melakukan itu. Dia cukup mahir menggunakan mulutnya untuk membuat putingku basah dan mengeras karena terangsang.

Kupegangi kepala Angga yang bergerak liar di dadaku. Naik turun mencumbu dada dan putingku bergantian. Sesekali kukecup rambutnya untuk menyemangatinya. Angga lalu membimbingku ke dekat ranjang. Dia duduk di atas ranjang sementara aku berdiri di depannya. Setelah dia melepas celananya, dia menurunkan celana panjangku dan mulai memberikan servis oral pada penisku.

Sesuai permintaannya, aku membiarkan Angga melakukan apa yang dia mau dan tak memaksannya dengan kekasaran. Rupanya Angga benar-benar mahir. Aku harus menahan eranganku sendiri saat lidahnya yang terampil bergeriliya di sepanjang batang penisku yang sudah basah dan hangat oleh liurnya. Sesekali dikulumnya penisku hingga seluruh batang itu masuk ke dalam mulutnya. Angga sepertinya sangat menikmati batang penisku dan memanjakannya sepenuh hati.

Beberapa lama kemudian, giliranku yang ingin mengeksplor tubuhnya lebih lanjut. Kudorong Angga hingga dia telentang di atas ranjang. Nafas Angga terengah-engah. Wajahnya seperti ingin tahu apa yang akan kulakukan berikutnya.

“Ouw Massss…” erangnya saat aku mengangkat kakinya tinggi-tinggi dan mulai menjilati daerah di antara belahan pantatnya dengan rakus.

Kudengar Angga meringis saat kugunakan lidahku untuk menusuk-nusuk lubang anusnya. Ditariknya salah satu lenganku dan dimasukkannya jari-jariku ke dalam mulutnya. Saat aku beralih mengulum penisnya, Angga memekik sambil mengisap jariku kuat-kuat. Semakin aku bersemangat mengulum penisnya, mulutnya pun semakin kuat mengisap jariku.

Angga menatapku takjub dengan kehebatanku mengoral penisnya. Dia meletakkan telapak tanganku di dadanya dan memintaku meremas-remasnya sambil terus mengoral penisnya. Tubuhnya mulai berkeringat. Sesekali dia meremas sprei dengan jemarinya ketika rangsanganku semakin intens dibarengi dengan erangannya.

Tiba-tiba Angga bangkit. Dia menarikku ke atas ranjang dan menyuruhku bersandar di atas bantal. Rupanya Angga ingin mencoba posisi di atas. Sebenarnya aku tak menyukai gaya ini di mana aku yang biasa agresif mengendalikan permainan tak betah bila harus diam saja sementara partner seks menggunakan ‘tongkat’ ku untuk kesenangannya. Tapi kali ini, aku biarkan Angga melakukan apa yang dia mau. Pesona pemuda ini benar-benar sudah membiusku.

Angga kemudian meraih sebotol pelumas. Dia mengocok batangku dengan telapaknya yang telah dilumuri pelumas memastikan penisku dalam keadaan keras dan siap tempur. Angga lalu berdiri lalu perlahan mulai menurunkan badannya sambil salah satu lengannya menggenggam penisnya sendiri. Tangan satunya kemudian meraih batang penisku dan diarahkannya tepat ke lubang anusnya. Angga meringis ketika tubuhnya semakin ke bawah, penisku mulai melesak masuk ke dalam anusnya perlahan-lahan.

Pahaku menegang. Tak kusangka anus Angga masih terasa kuat menjepit penisku dan berdenyut-denyut mengurutnya sehingga membuatku terangsang kembali.

“Aah…” desahku saat Angga berhasil memasukkan seluruh batang penis itu ke dalam anusnya. Kulihat Angga meringis sambil gemetar. Tangannya sebelah bertumpu pada lututku saat dia mencondongkan tubuhnya ke belakang. Sementara itu tangan satunya mulai mengocok penisnya sendiri. Angga terdiam sesaat mencoba menyesuaikan diri dengan benda asing itu di dalam anusnya. Aku menikmati setiap denyutan dinding anus Angga sambil menggumam dan meletakkan lenganku di bawah kepalaku. Menjadi pasif sesekali rupanya enak juga, pikirku.

Kemudian Angga mulai menggoyang pinggulnya. Mulai dengan perlahan, kemudian semakin cepat hingga gerakan memutar. Penisku serasa dipijat dan diurut sedemikian rupa ketika Angga menaik-turunkan pinggulnya hingga batang penisku terasa divakum oleh anusnya.

Angga terlihat meringis. Entah kesakitan atau keenakan. Dari mulutnya tak henti-hentinya dia mendesah, mengaduh, melenguh sambil memuji penisku.

“Ouh.. enak mas.. uhh.. uuh… kontol mas.. uuh..” desahnya. Tubuhnya sesekali gemetar ketika dia berhasil mengarahkan penisku pada g-spotnya. “Ouuuuh…..” desahnya sambil semakin cepat mengocok penisnya. Sepertinya Angga sudah menemukan posisi enak dimana batang kerasku berhasil menekan g-spot di dekat prostatnya. Akupun berinisiatif menggoyangkan pinggulku sehingga penisku berkali-kali menghentak ke dalam anusnya hingga desahan Angga semakin liar.

“Ouw Mas! aah! aah!! enak.. hhhh…” erangnya berkali-kali sambil tubuhnya meliuk-liuk dan terlonjak keenakan.

“AAaaaah…” Angga mengerang panjang ketika dia mencapai orgasme yang sangat intens hingga dirinya hampir menangis. Spermanya tumpah ke atas perut dan dadaku. Angga meringis panjang dan tubuhnya bergetar. Saat dirinya limbung, aku buru-buru bangkit dan meraih tubuhnya. Dalam keadaan lemas Angga merangkul tubuhku pasrah. Saat itu pula aku menggendong tubuh Angga sambil mencium mulutnya dengan batang penisku masih berada di dalam anusnya. Kusandarkan tubuhnya ke tembok dan dia merangkul pinggangku dengan kedua kakinya.

Aku menjilati leher Angga sambil kuhentak-hentakkan pinggangku dan terus menusuk anusnya dengan penisku berkali-kali. Angga yang lemas dan pasrah hanya bisa mendesah bersabar hingga aku terpuaskan. “Ouw.. mas… aah… hhh.. terus mas…” desahnya.

“Kamu bikin mas horny, sayang.. hh.. hh… bikin Mas keluar.. jepit terus.. mas mau keluarin di pantat kamu… hh..” racauku di telinganya.

“Iya mas.. hh… keluarin mas..” gumam Angga sambil tubuhnya terlonjak-lonjak dan tangannya merangkul leherku.

“Mas mau keluar.. hh.. mas mau keluarin…. aaak… hhh….” erangku panjang ketika giliranku mencapai klimaks.

Angga meringis dan gemetar sambil mengetatkan pelukannya pada tubuhku ketika dirasakannya semburan spermaku mengalir di dalam anusnya. Dia merintih sambil terengah-engah. Sambil tertatih, aku berjalan menggendong Angga dan menjatuhkannya ke atas ranjang. Angga masih merangkulku dan kami saling berciuman sambil mengatur nafas kami kembali.

***

Setelah selesai membersihkan diri, kulihat Angga yang lebih dulu selesai berpakaian sedang memencet-mencet tombol remote tv nya. Aku mengambil dompetku dan mengeluarkan beberapa lembar uang dari dalamnya dan meletakkannya di meja. Angga tak memedulikan perbuatanku dan matanya terus asyik menatap layar TV. Kemudian aku menghampirinya dan mengecup pipinya.

“Pulang sekarang?” tanyanya.

“Iya. Tahu sendiri kan, saya nggak bisa lama-lama,” jawabku sambil mengancingkan lengan kemejaku kembali.

Angga tersenyum. “Yaudah, hati-hati di jalan ya? makasih udah mau mampir…” katanya sambil balas mengecup pipiku. Ah, entah mengapa dengan Angga aku bisa menjadi lembut padahal sama saja dengan Fadli, aku juga membayarnya. Apa mungkin yang dikatakan oleh Angga benar, bahwa aku harus berhati-hati jika bermain dengannya kalau tak mau ketagihan dan malahan memakai perasaan?

Tapi dalam hatiku aku merasa… ini bukanlah terakhir kali aku bermesraan dengan Angga.

-End of Episode 2-

Advertisements
Comments
  1. *pertamax*

    keren bang…

  2. arif says:

    keduax

  3. nurcahyobudi says:

    bang temen sekamarnya angga tuh si fadli yak?

  4. caetsith says:

    HOT.. Hot.. hot… bangett bang remy!!!
    ekstra pedasss eunk, bikin seuhah seuhah 😀
    seblaknya bi onah lewaattt………

  5. Angga says:

    Bikin inget pacar gwa ajh!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s