A HUSBAND: UNTOLD STORIES – Chapter 1 Boy Escort

Posted: May 13, 2014 in A Husband: Untold Stories
Tags: , ,

Husband-chap1REALISTIS saja. Aku memilih untuk menikah dan meninggalkan dunia gay karena keinginanku. Apalagi istriku cantik dan bisa memuaskanku di ranjang. Setelah memutuskan menikah, aku tak lagi berhubungan dengan pria. Baik itu berpacaran resmi, ataupun hanya sekedar berhubungan intim. Lima tahun berlalu. Aku dikaruniai seorang anak perempuan yang lucu. Selama lima tahun menikah itupun aku ‘bersih’ dari hubungan sesama pria. Sulit, namun aku berusaha sekuat tenaga menahan diri.

Banyak godaan? tentu saja. Aku sengaja tak menceburkan diri menjelajahi sisi kaum gay baik dari aplikasi chatting maupun sosial media khusus kaum homoseksual. Walaupun demikian, godaan itu selalu ada. Mulai dari yang mengajak kenalan di tempat fitness, atau malah rekan sekantorku yang coba-coba menggoda. Karir yang bagus, rumah tangga solid, dan kehidupan yang nyaman rasanya tak rela kukorbankan bila harus bermain api kembali dengan berselingkuh.

Sebenarnya bisa saja aku melakukan hubungan seks satu malam dengan pria manapun yang kusuka. Banyak pula yang menawarkan diri. Tapi kebanyakan dari mereka mengharapkan hubungan yang lebih serius. Sori, aku tidak lagi tertarik menjalin hubungan percintaan seperti pacaran yang beresiko membongkar orientasi seksualku. Apalagi kalau aku harus membagi waktu antara keluarga dan pacar. Sampai suatu hari, aku tergoda. Aku ingin merasakan kembali sensasi nikmatnya hubungan sesama pria. Bukannya aku ingin meninggalkan istriku. Tidak sama sekali. Hanya saja, kadang aku berfantasi sebagai selingan ingin menyetubuhi pria yang muda dan tampan, serta mengambil kendali dalam sebuah permainan seks yang liar.

Temanku Tony, yang sampai sekarang masih asik dengan dunia gay, menawariku untuk memakai jasa pelacur pria atau istilah kerennya boy escort. Dia yang seusia denganku, dulu pernah menjadi teman huntingku mencari para gay bottom yang bisa kami pakai berdua untuk melakukan aksi threesome. Tentu saja mereka tak keberatan melayani aku dan Tony dengan pesona yang kami miliki.

“Elo hobinya tipe apa, bro? brondong?” tanya Tony di ujung telepon.

“Iya. Kalau bisa yang masih gres biar enak bantingnya di ranjang. Hahahah..” kataku.

“Busyet. Sadis lu bro! Udah nggak tahan ya?”

“Pokoknya cariin lah. Lo kan udah kenal selera gue. Gue percaya sama pilihan elo,” kataku.

***

Beberapa hari kemudian Tony menelepon. Rupanya dia sudah mendapatkan calon yang kuinginkan. Setelah mengatur waktu agar aku leluasa mencari alasan tak pulang ke rumah selama semalam, aku membooking sebuah kamar di hotel yang lumayan. Toh, aku tak ingin peristiwa bersejarah pertama kalinya setelah bertahun-tahun ‘kurayakan’ di sebuah hotel murahan. Aku kemudian menunggu Tony di cafetaria hotel.

Tak lama Tony pun datang. Dia bersama seorang pria muda berkulit bersih dan berdandan rapi. Wajahnya manis dengan warna bibir yang merah muda segar. Saat itu pula aku langsung membayangkan ingin melumat bibir itu sepuasnya.

“Yon, kenalin. Namanya Fadli. Baru 19 tahun,” kata Tony sambil mengenalkan aku pada pemuda itu.

Aku menjabat tangan Fadli sambil mengamati wajahnya. Keduanya lalu duduk. Kulihat Fadli sedikit canggung.

“So? gimana?” tanya Tony. Nadanya terdengar bangga karena telah memilihkan orang yang menurutnya telah sesuai dengan seleraku.

“Nice, bro… enggak salah gue percayain semuanya sama elo,” kataku sambil terus memandangi Fadli. Pemuda itu semakin terlihat salah tingkah namun tersipu malu.

“Nah! kalian silakan have fun, gue cabut dulu,” kata Tony sambil pamit.

Kami bertiga kemudian bangkit. Fadli mengikutiku menuju lift hotel. Selama di dalam lift aku mendiamkan pemuda itu.

Ketika kami keluar lift dan berjalan menuju kamarku, Fadli buka suara.

“Om, eh, Mas Dion pasti banyak yang suka ya? enggak nyangka dikenalin Om Tony sama yang gagah dan ganteng kayak Mas. Kirain bakalan ketemu sama kakek tua,” kata Fadli sumringah.

“Hmm..” aku merespon singkat sambil menyelipkan kartu kunci kamarku pada selot elektronik hingga menyala berwarna hijau.

Saat kami berada di dalam kamar, aku menyuruhnya duduk di atas ranjang sementara aku menggulung lengan kemejaku dan menyodorkan sebotol air mineral padanya.

“Makasih, Mas,” kata Fadli sambil tersenyum.

“AC nya cukup dingin?” tanyaku.

“Iya Mas, cukup kok,” jawab Fadli.

Aku kemudian pergi ke wastafel dan mencuci tanganku. Fadli terdiam agak lama lalu kudengar dia bertanya kembali.

“Mas… Mas udah punya BF? kayaknya beruntung banget kalau bisa punya BF kayak Mas..” sahutnya.

Aku memandang wajahku sendiri di cermin. Aku menyeringai sambil mendengus. “Buat apa punya BF kalau cuma untuk diajak ML?” jawabku.

Lalu aku menghampiri Fadli yang masih duduk di atas ranjang.

“Maksud Mas?”

“Maksud saya.. selama masih ada yang mau dibayar, ngapain harus repot-repot berpacaran?” kataku.

Wajah Fadli langsung berubah. Jelas sekali dia merasa tersindir dengan ucapanku. Tapi aku tak peduli. Aku sudah membayar anak ini, dan dia harus memuaskanku malam ini.

Lalu aku menunduk dan mulai mencium bibir Fadli. Kudengar dia menggumam menikmati ciumanku. Kutekan bibirnya yang sejak tadi membuatku tergoda dengan bibirku. Selama beberapa saat kubiarkan anak ini berpikir aku melakukan ciuman dengan perasaan romantisme. Lama kelamaan nafsuku tak bisa kubendung. Kutekan kuat-kuat mulutnya sambil kupegangi wajahnya. Kulumat bibir Fadli dan dengan gemas kugigit bibirnya hingga Fadli memekik dan memukul tanganku mencoba melepaskan diri.

Aku melepaskan ciumanku sambil terengah-engah. Fadli memandangku kesal campur takut. Dia mengusap bibirnya sambil memprotes.

“Pelan-pelan dong mas!” ujarnya.

Mendengar protesnya, aku menjadi naik darah. Kutarik rambutnya ke belakang dengan jemariku dan kudekatkan wajahku pada wajahnya.

“Kamu saya bayar bukan buat protes! ngerti?” kataku.

Kudengar Fadli meringis kesakitan sambil memegangi lenganku. Matanya kini menatapku dengan pandangan memohon belas kasihan. Dengan terpaksa dia akhirnya mengangguk.

“Nah.. sekarang nikmatin aja. Saya nafsu banget lihat kamu… hmm..” ujarku kemudian sambil mulai menciumi pipi dan lehernya sementara tanganku tetap menggenggam rambutnya.

Kulihat Fadli memejamkan mata sambil menggigit bibirnya. Aku mendengus nafsu melihat lehernya yang mulus dan harum cologne khas pria itu dan mulai mengisapnya perlahan lalu semakin lama-semakin kuat.

“Mas… jangan keras-keras…” rintihnya.

Tapi aku tak peduli. Bila perbuatanku sampai menimbulkan bekas, itu adalah resiko dirinya. Aku kemudian terus mencumbu pemuda ini sambil membuka kausnya. Putingnya yang kemerahan itu terlihat sangat menggoda. Kontras dengan kulitnya yang terang.

Fadli kembali memekik dan mendesis saat aku melumat putingnya bergantian. Rupanya cumbuanku begitu intens hingga kurasakan tubuh Fadli menggeliat, meronta, dan menegang sambil kudengar dirinya mengerang nikmat campur sakit. Tangannya berusaha mendorong bahuku setiap kali dirinya merasa tekanan lidahku dan gigitanku pada putingnya terlampau keras dan bernafsu. Dan itu menggangguku.

Aku menampar pipi Fadli karena merasa terganggu dengan tangannya yang terus mendorongku hingga aku tak leluasa melumat putingnya.

“Bisa diam, nggak?!” aku menghardik galak.

Kulihat Fadli hampir menangis. Tapi aku lagi-lagi tak peduli.

“Sakit mas..” ujarnya.

“Sakit? kalau sakit kenapa punya kamu ini bangun, hah?” aku membentaknya sambil meremas kuat-kuat penisnya yang masih tertutup celana jeans.

“Auuh.. aw.. sakit mas..” Fadli mengaduh kesakitan saat kulakukan itu.

Kemudian kutarik lengan pemuda itu dan kubuka ikat pinggangku berniat untuk mengikatnya.

“Jangan mas..” Fadli memohon.

Aku mengabaikan permintaannya dan segera kuikat pergelangan tangannya pada kepala ranjang hotel yang kebetulan sebagian terbuat dari beberapa batang besi.

Fadli terlihat pasrah dan kembali hampir menangis menatapku. Tangannya yang terikat membuat ketiaknya yang ditumbuhi bulu-bulu halus itu terekspos jelas bersama tubuhnya yang ramping namun otot-ototnya cukup kencang itu.

Kubuka kemejaku dan kuhimpit kaki Fadli dengan kedua pahaku agar dirinya tak leluasa bergerak. Aku lalu melanjutkan aksiku menggarap kedua putingnya. Kini aku leluasa menjilat-jilat dan mengisap puting merah muda dan segar itu tanpa dorongan tangannya. Punggung Fadli melengkung berusaha memberontak ketika gigitanku membuatnya kesakitan. Fadli meringis mengerang dan tubuhnya gemetar tiap kali dia tak berdaya saat putingnya kuaniaya. Semakin pemuda itu mengerang, semakin bernafsulah diriku.

“Udah maas. udaaah… ampuuun….” erang Fadli yang terdengar sangat mengiba.

Kuputuskan untuk menghentikan aksiku melumat putingnya.

“Denger.. sekarang kamu isap kontol saya. Ngerti! saya lepasin kamu, tapi kalau kamu ngisapnya enggak benar, saya ikat lagi kamu. Paham?!” kataku.

Fadli buru-buru mengangguk.

Aku kemudian melepaskan ikatan sabuk kulitku dari pergelangan tangannya. Kulihat Bagian tangannya menjadi kemerahan akibat tertarik-tarik saat meronta ingin melepaskan diri.

Fadli kemudian bangkit. Aku mendekatinya dan membuka celanaku lalu mengeluarkan penisku yang sudah mengeras itu dari dalamnya. Kusodorkan batang penisku pada wajah Fadli sambil kurenggut kembali rambutnya.

“Isap! ayo isap!” perintahku.

Takut aku semakin marah, Fadli langsung melahap batang penisku dan berusaha memenuhi keinginanku.

“Ouh.. yeah… mantap juga mulut kamu…” kataku.

Isapan mulutnya membuatku keenakan. Pintar juga anak ini memberi servis oral. Tapi lama kelamaan isapannya semakin tidak bersemangat. Aku terpaksa menekan kepalanya dan mendorong pinggangku maju mundur hingga batang penisku masuk seluruhnya ke dalam mulutnya berkali-kali.

Kulihat Fadli kewalahan dan gelagapan. Suaranya seperti orang tercekik dan kehabisan nafas. Tangannya meronta-ronta ingin kepalanya dilepaskan dari genggaman tanganku hingga akhirnya dia berhasil mencakar pahaku.

“Akh! brengsek!” aku memaki sambil menampar wajahnya.

Kulepaskan dia dari sumpalan penisku. Fadli terbatuk-batuk sambil terengah-engah. Bibirnya basah oleh air liur. Matanya memerah dan berair.

“Kamu benar-benar minta diikat lagi, ya? hah?” geramku marah.

“Ampun Mas.. jangan.. aku nggak bisa nafas..” rengeknya.

Tanpa belas kasihan kudorong lagi tubuh Fadli ke atas ranjang. Kuikat kembali tangannya pada besi. Kulihat Fadli sudah mulai menangis.

Aku melepas seluruh celanaku hingga telanjang. Kupaksa kembali Fadli mengulum penisku sambil menghimpit kepalanya pada dinding hingga dia nyaris kehabisan nafas.

Tubuh Fadli gemetar. Kakinya menendang-nendang liar sementara tangannya menjadi kaku dan tegang karena berusaha menghirup oksigen yang terhalang oleh perbuatanku. Melihatnya panik kehabisan nafas membuat nafsuku semakin memuncak. Kutahan lebih lama penisku di dalam mulutnya sambil terus menekan kepalanya.

“Oouuhh..” erangku.

Aku kemudian melepaskan kepala Fadli dari siksaanku. Wajahnya memerah. Tatapan ketakutan terpancar dari matanya. Takut sekaligus marah.

“Makanya! isap yang benar!” aku menghardiknya sambil menampar pipinya kembali beberapa kali. Fadli mulai menangis.

“Jangan cengeng! jangan nangis!” bentakku.

Kutarik celana Fadli dan melepasnya hingga dia telanjang bulat. Saat itulah aku bisa melihat penisnya yang sedikit lebih gelap dari kulit sekitarnya. Bulu-bulu kemaluannya terpotong rapi.

“Akkh!! pelan-pelan mas!” erangnya saat aku mulai melumat batang penisnya.

“Mmm… Mm…” gumamku penuh semangat sambil terus mengulum batangnya dan menggumul penis Fadli dengan lidahku.

Tubuh Fadli gemetar saat aku melumat bagian di antara kedua belah pantatnya dengan lidahku. Dagu dan bagian mulutku yang mulai ditumbuhi bulu kasar kugosok-gosok pada kulitnya sementara aku terus menjilati lubang anusnya. Perbuatanku membuat Fadli menggelinjang sambil merintih.

Kuhentikan gerakanku sebentar dan mengambil sebuah pelumas dari dalam laci. Fadli menatap ngeri saat kutuangkan cairan pelumas itu pada jemariku.

“Nggh….” gumam Fadli saat aku mengurut pintu lubang anusnya dengan jariku yang berpelumas. Kutekan dan kupijat sambil terus kujilati batang penisnya.

Fadli yang tak berdaya hanya bisa melengkungkan punggungnya sambil terus menggeliat-geliat dan mengeluarkan erangan. Aku yakin, selain merasakan kesakitan, dirinya juga merasakan keenakan. Aku terus melakukan gerakan yang merangsang penisnya hingga batang itu benar-benar menegang.

“Jangan Mas.. nanti saya keluar duluan…” pintanya memelas. Sebagai seorang pria bayaran tentu tak sopan kalau dia sampai orgasme lebih dulu daripada pemakai tubuhnya. Tapi aku tak memedulikan itu. Kulumat batang penisnya sambil menarik-narik kantung zakarnya dengan bibirku sementara aku mulai memasukkan satu jari ke dalam anusnya.

Fadli terus memekik, mengerang, menggeliat hingga ranjang itu bergoyang-goyang. Apalagi saat aku berhasil menyusupkan dua jari ke dalam anusnya dan memijat bagian prostatnya, tubuh Fadli makin tak terkendali.

“Houuh.. Mas.. aku mau keluar…” pekiknya khawatir. Dia benar-benar tak ingin keluar lebih dulu, tapi itulah yang aku inginkan.

Tak lama Fadli gemetar. Spermanya memancar berkali-kali sementara punggungnya melengkung. Kudengar dirinya mengerang panjang. Aku tersenyum puas. Saat itulah aku akan meminta giliranku. Kuambil lagi botol pelumas itu dan sekarang kuoleskan cairannya pada batang penisku.

Fadli masih terengah-engah namun sadar bahwa diriku tak berniat menggunakan kondom.

“Mas.. pake kondom dong, please..”

Aku mendengus mengabaikan protesnya. Aku terbiasa bermain cinta dengan istriku tanpa kondom karena rasanya lebih enak. Dan setelah bertahun-tahun aku tak pernah berhubungan dengan pria, aku tak ingin momen pertamaku ini kunikmati dengan penghalang seperti kondom. Setelah kurasakan penisku cukup terlumasi, kuangkat kaki Fadli dan meletakkannya pada pundakku. Kugenggam batang penisku dan kuarahkan tepat pada lubang anusnya yang basah oleh pelumas.

“Akh! Maaass! pelan-pelan…” pintanya sambil merengek.

Aku terus mendorong penisku ke dalam anusnya. Kupejamkan mataku menikmati sensasi yang sudah lama tak kurasakan: menyetubuhi anus seorang pria.

Fadli mendesis dan meringis sambil meronta. Nafsuku sudah di ubun-ubun. Kuhajar anusnya berkali-kali dengan penisku yang melesak keluar masuk. Sambil menggeram aku meremas dadanya sama seperti aku biasa meremas payudara istriku. Fadli berteriak kesakitan. Kulihat ada bekas kemerahan jejak jari-jariku pada dadanya.

“Ssh… sssh..” desisku sambil terus menyetubuhinya.

“Akh… Mas..! Sakit..!” erangnya. Tangannya mengepal berusaha melepaskan diri dari ikatan.

Aku lalu melepaskan ikatan tangan Fadli. Baru saja dia bernafas lega, aku langsung menarik tubuhnya kembali merapat padaku. Kali ini kulingkarkan kakinya pada pinggangku.

Fadli mengerang kesakitan saat aku menghujamkan kembali penisku ke dalam anusnya. Aku menunduk menahan tubuhnya agar tak bergerak-gerak liar. Kurasakan pahanya menegang dan bergetar lama tanda dirinya kesakitan. Mungkin anak ini belum sering dipenetrasi sehingga sulit merasa nyaman, atau mungkin juga aku yang tak sabaran. Namun jepitan anusnya pada penisku mendatangkan sensasi luar biasa yang sudah lama tak kurasakan.

Kupejamkan mata sambil terus menyodok-nyodok anusnya. Kudengar diriku sendiri mengeluarkan erangan berkali-kali menikmati tubuh Fadli. Eranganku ditimpali erangan Fadli yang terdengar sedikit tak nyaman. Tak ingin mendengar suaranya, aku langsung membungkam mulutnya dengan mulutku. Kumasukkan lidahku ke dalam mulutnya dan menggumul lidahnya sambil kurenggut rambutnya kembali. Suara erangan tertahan kudengar dari mulut Fadli “hmmph… hmmmphh..”

Aku lalu bangkit dan menahan tubuhnya dengan meletakkan kedua telapak tanganku pada dadanya. Fadli meringis kesakitan sambil mencengkeram lenganku yang sesekali bergeser mencekik lehernya. Eranganku makin keras, pinggangku semakin bergerak cepat, tubuh Fadli semakin terlonjak-lonjak. Nafasku semakin memburu.

Sadar diriku akan mencapai orgasme dan tak berniat mencabut penisku dari dalam anusnya, Fadli kemudian berkata.

“Mas.. jangan ke..akh! jangan keluarin di… dalam..” ujarnya terbata-bata. Rupanya dia masih khawatir karena aku tak menyarungkan kondom pada penisku.

“Diam!” perintahku sambil mencengkeram rahangnya. Fadli meringis.

Aku semakin mempercepat gerakanku. Dengan tiga hentakan terakhir, tubuhku gemetar saat kutumpahkan cairan spermaku di dalam anusnya berkali-kali. Kulengkungkan punggungku sambil mengetatkan rahangku berusaha menahan sensasi nikmat yang menjalar ke seluruh tubuhku.

“Akh.. Mas..!”

Kudengar Fadli ikut mengerang panjang campur meringis. Otot-otot pada anusnya berdenyut-denyut seakan tak sabar ingin mengeluarkan batang penisku dari dalamnya. Denyutan itu seolah memaksa penisku mengeluarkan semua isinya. Aku menjatuhkan tubuhku di atas tubuhnya sambil terengah-engah dan bergulir ke samping Fadli setelah penisku melunak dan keluar sendiri dari dalam anusnya.

Kudengar Fadli terisak pelan dan perlahan bangkit dari ranjang memunguti pakaiannya dan pergi ke kamar mandi. Tubuhku yang tadinya berpeluh berangsur-angsur kering. Dari kamar mandi terdengar suara kucuran air Fadli sedang membersihkan diri. Setelah giliranku selesai mandi, kulihat Fadli yang sudah selesai berpakaian sedang duduk di sofa. Diam dengan wajah yang marah. Karena pembayaran atas ‘jasa’nya sudah kutitipkan melalui Tony, aku menyerahkan dua lembar seratusribuan padanya saat dia pamit.

“Ini. Untuk ongkos taxi,” kataku.

Fadli terdiam. Dia meraih uang itu dan tanpa berkata apa-apa berjalan menuju pintu. Aku yang suka dengan wajah tampannya berusaha menahannya untuk memberikan kecupan sekali lagi sebagai perpisahan. Namun Fadli memberontak dan mendorongku.

“Jangan pegang! dasar sakit jiwa!” makinya.

Fadli kemudian membanting pintu kamar meninggalkanku. Aku tertawa kecil melihat tingkahnya.

Beberapa lama kemudian saat aku bersiap menyalakan mobilku hendak pulang, Tony menelepon.

“Gila lu bro! lu apain tuh anak? dia sampe marah-marah sama gue di telepon bilang enggak mau ketemu elo lagi.. ck..ck..ck..”

Aku terbahak mendengar ucapan Tony.

“Biasalah men… udah lama nih, jadi pelampiasan nafsu gue kebablasan,” kataku.

“Nafsu sih nafsu, ntar kalo gitu terus, mana ada yang mau lagi dipake sama elo?” protes Tony.

Aku tertawa. Setelah kuyakinkan Tony bahwa hal itu tak akan terulang lagi, aku menjalankan mobilku dan kembali pulang ke istri dan anakku.

-End of Chapter 1- Abang Remy Linguini

Advertisements
Comments
  1. Mantap Bang Remy, cerita yg ini bakal diposting ke BF juga nggak? Mention aku ya di forum. Thanks 😉

  2. Andde Andde Lummut Komentator Abal2 Dufei Komentator Ecek2 says:

    bdsm yak? Ataw bsdm 😀 hehehe

  3. myth says:

    Horny, wild and sadistic, wild mr remy very wild

  4. arif says:

    raaaaaawr

  5. ian says:

    Ya Tuhan…..teganya dikau pd istri dan anakmu….bayangkan sakit dan hancurnya hati istrimu…terutama anakmu ketika tau ayah yang dibanggakan ternyata…….semoga anak perempuanmu kelak tidak mengalami hal yang sama yang dialami ibunya….krn jika itu terjadi….semua total adalah karma dari perbuatanmu sendiri…

  6. Sakura says:

    Bdsm. Dominant-Submissive. Sadis. 😦

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s