SELIR BRONDONG SANG KAISAR [Bagian 11 – TAMAT]

Posted: May 11, 2014 in Selir Brondong Sang Kaisar
Tags: ,

Emperor_gunting-TamatCerita sebelumnya: Dongxian (18 tahun) diangkat menjadi selir pria utama Kaisar Ai. Walaupun menjadi milik Kaisar, hatinya telah tertambat pada Ajudan Zheng, panglima kerajaan yang menjadi mentornya. Setelah diangkat menjadi bangsawan, Kaisar malah mengetahui perselingkuhan Dongxian dengan Ajudan Zheng. Merekapun dipaksa untuk berpisah. Bagaimanakah nasib Dongxian dan Ajudan Zheng?

(PART 1)

SEPERTI seorang pesakitan, aku merasa aksesku di istana Weiyang mulai dibatasi. Mungkin juga karena aku akan segera dipindahkan ke Gao’an bersama ribuan pasukanku hingga keberadaanku di istana hanyalah tinggal menghitung hari. Hari demi hari staf istana dan para pelayan dikurangi. Melihat kondisiku yang kurang menguntungkan, aku memutuskan untuk memulangkan ibu dan adikku kembali ke Yunyang. Ibuku memang tak kuberitahu mengenai skandal yang terjadi antara aku dan Ajudan Zheng. Bila kukatakan yang sebenarnya, mungkin ibuku akan langsung meninggal meratapi kebodohan anaknya yang berselingkuh dari Kaisar. Tapi aku tahu, ibuku bukanlah wanita bodoh. Kurasa dia sudah tahu semuanya yang terjadi denganku dalam istana ini, namun ibuku memilih bersikap tenang.

Hari itu aku melepas ibuku dan adik perempuanku pergi. Kubekali mereka dengan empat ratus ons emas serta beberapa pengawal untuk memastikan mereka tiba dengan selamat. Aku harus memulangkan mereka sebelum Kaisar tiba-tiba membuat keputusan seperti menghukum keluargaku. Lagipula, aku merasa leluasa dan lebih tenang jika menghadapi Kaisar sendirian tanpa terbebani harus melindungi keluargaku.

“Kau jagalah baik-baik dirimu. Jangan buat Kaisar marah… kasihanilah kami keluargamu..” kata ibu sambil memelukku.

“Baik Ibu. Sampaikan salamku untuk ayah dan kakak-kakak semua. Mudah-mudahan aku bisa segera mengunjungi kalian,” kataku.

Saat aku hendak memeluk Xiaofeng adik perempuanku, dia menatapku galak.

“Aku curiga! mengapa kakak mengirim kami pulang? pasti ada apa-apanya!” teriak Xiaofeng.

“Sudahlah Xiaofeng! turuti saja kata kakakmu,” bujuk Ibu.

“Kau ini! dulu Ayah pernah cerita. Kau lahir tanggal lima bulan lima pasti membawa sial pada keluarga! seharusnya kau dibuang saja saat lahir. Aku tahu, tak mungkin kau bisa seberuntung itu! jika kau sudah tumbuh setinggi pintu, pasti kau akan mencelakakan kami semua!” hardik Xiaofeng.

“Katakan pada ayah. Nasibku itu ditentukan oleh Tian ataukah pintu? Jika suratan takdirku diatur oleh Tian, bilang padanya tak perlu khawatir. Jika nasibku tergantung pintu, suruhlah Ayah meninggikan pintu di rumah agar aku tak membawa celaka. Kau sudah tahu kan seberapa tinggiku?” ujarku tajam.

Xiaofeng terdiam. Mulutnya terkatup rapat seperti hendak beragumen namun tak bisa mengeluarkan kata-kata.

“Ayolah Xiaofeng, kita pulang.” Ajak ibu pergi.

Aku memberikan pelukan terakhir pada Ibuku sebelum dia naik kereta. Sempat kulihat dia terisak namun berusaha dia sembunyikan agar aku tak melihatnya.

***

Aku mengetahui kabar bahwa Kaisar memerintahkan Ajudan Wang ikut dalam pasukan yang dipimpin oleh Ajudan Zheng. Sepertinya Kaisar melihat kemampuan intelejen Ajudan Wang dan menempatkannya sebagai penasehat Ajudan Zheng dalam menghadapi para pemberontak di Jianye. Aku memanggil Ajudan Wang datang untuk meminta padanya menjaga keselamatan Ajudan Zheng.

“Panglima Wang. Aku tahu hubungan kita tidak terlalu dekat. Tapi kudengar Tuan menjadi penasihat Panglima Zheng di Jianye. Benarkah demikian?” tanyaku.

Ajudan Wang tak segera menjawab. Dia menatapku sama seperti tatapan-tatapan dia sebelumnya saat aku pertama kali diboyong di atas kereta Kasim Li menuju istana. Tatapan yang meremehkan.

“Itu benar, Tuan.” jawab Ajudan Wang.

Bruk! aku berlutut di hadapan Ajudan Wang. Dia yang terkejut buru-buru menghampiriku dan memintaku agar bangun.

“Hamba yang hina ini meminta Panglima Wang untuk menjaga keselamatan Panglima Zheng…” kataku.

“Sudahlah Tuan.. Sudah…” kata Ajudan Wang buru-buru mengangkat tubuhku.

Kulihat Ajudan Wang menghela nafas.

“Dengar. Aku tak peduli dengan apa yang terjadi antara kau, Yang Mulia Kaisar, dan Panglima Zheng. Yang aku ketahui adalah, aku menganggap Panglima Zheng seperti adikku sendiri. Tanpa Tuan mintapun, aku sudah pasti akan menjaganya. Apalagi keadaannya tak seperti dulu saat istrinya masih hidup…” jelas Ajudan Wang.

“Terima kasih Tuan! Terima kasih!” kataku sambil kembali berlutut dan ber-kowtow di hadapan Ajudan Wang.

“Bangunlah Tuan Dongxian. Anda sekarang seorang penguasa feodal. Tak pantas berlutut pada prajurit sepertiku…” kata Ajudan Wang melunak.

Ajudan Wang mengangkat tubuhku.

“Anda masih begitu muda. Keberuntungan besar sekaligus cobaan yang juga tak kalah berat sedang anda alami. Aku tak tahu, mungkin dewa sedang bermain-main dengan nasib anda sekarang. Tapi aku doakan agar semua selamat dan semuanya berjalan dengan lancar…” ujarnya.

Aku terdiam.

“Aku permisi dulu. Kami semua harus segera bersiap untuk berangkat,” kata Ajudan Wang pamit.

“Terima kasih Panglima!” Ujarku sambil memberi hormat.

Ajudan Wang balas memberi hormat dan tersenyum padaku sebelum pergi.

***

Ajudan Zheng sama sekali tidak berpamitan padaku. Akupun memilih untuk tidak mengikuti acara pelepasan pasukan Ajudan Zheng semata-mata tak ingin membuatnya tertekan apabila melihat kesedihan di wajahku. Diam-diam aku sempat mengintip saat Ajudan Zheng meninggalkan ibukota. Sorot matanya tegas memimpin barisan dan terlihat penuh semangat. Semangat untuk bertempur dan seolah siap tak akan kembali lagi.

Setelah upacara selesai, Permaisuri Fu rupanya datang mengunjungiku. Terus terang, sejak skandal hubunganku dengan Ajudan Zheng aku sama sekali belum bertemu dengan Permaisuri. Alasan utamanya karena aku merasa bersalah dan khawatir dengan reaksinya melihat selir Kaisar yang dia percayai ternyata berselingkuh dengan pria lain.

Tak perlu berbasa-basi dan menunggu lama, aku langsung bersujud meminta ampunan kepada Permaisuri Fu.

“Hamba selir hina telah sangat lancang berbuat skandal. Hamba pantas mati… pantas mati…” Kataku sambil bersujud.

Permaisuri Fu terdiam cukup lama.

“Bangunlah Tuan Dongxian,” perintahnya.

Aku menuruti keinginan Permaisuri Fu dan duduk di hadapannya. Aku masih sangat malu menatapnya sehingga kepalaku terus tertunduk.

“Perbuatan kalian sungguh tak terampuni. Aku sendiri heran mengapa Baginda Yang Mulia tak langsung menghukum mati kalian saat itu juga. Aku tak tahu rencana beliau, namun aku jamin hal ini tidak akan berlangsung lama…” kata Permaisuri Fu sambil bangkit dari duduknya.

“Aku sendiri awalnya kesal sekali padamu. Di satu sisi, kau telah mengkhianati Kaisar dan aku tak bisa memaafkanmu. Tapi di pihak lain, aku lega. Kau tidak mencintai Kaisar seperti halnya Kaisar mencintaimu namun tidak memanfaatkannya. Aku sudah dengar bagaimana kau membantu beliau saat inspeksi dan bahkan menolak permintaan Kasim Li yang ingin menempatkan pejabat korup di pemerintahan. Aku hargai itu semua. Kejujuranmu kepada Kaisar dan ketulusanmu membuatku memaafkanmu…” kata Permaisuri Fu.

Aku menunduk dan mengucapkan terima kasih pada Permaisuri.

Tiba-tiba Permaisuri melemparkan sesuatu ke atas meja. Sebuah pisau.

Aku terkejut melihat pisau itu.

“Bagaimanapun Kaisar memiliki harga diri. Seluruh pejabat mendesak beliau untuk menghukum kalian berdua. Para menteri cukup lega begitu tahu Panglima Zheng dikirim ke medan pertempuran bunuh diri. Tapi dirimu?” kata Permaisuri Fu.

Aku diam tak bisa berkomentar. Kutatap mata Permaisuri Fu dan pisau itu bergantian.

“Aku dengar Kaisar akan menyuruh pasukan mengejarmu ke Gao’an dan membunuhmu di perjalanan…” Kata Permaisuri Fu.

“A..apa?” tanyaku terkejut.

“Benar. Dan aku langsung berpikir. Buat apa susah-susah melakukan itu jika aku bisa mempersingkat waktu dan membunuhmu saat ini juga?” kata Permaisuri Fu tajam.

“Bunuhlah hamba Yang Mulia! Bunuhlah..” kataku putus asa.

“Tidak. Aku sudah berjanji untuk mengampunimu. Dongxian… aku ingin kau selamat. Saat berangkat nanti, bakarlah semua jalan yang kau lalui. Putuskan jembatan! hapuslah jejak pasukanmu… Ini akan mengindikasikan bahwa kau benar-benar akan bertempur dan tak ingin kembali ke Istana, kau mengerti?” Kata Permaisuri Fu.

Aku mengangguk ragu.

Permaisuri Fu kemudian mengambil pisau itu dan menyerahkannya padaku.

“Bawalah ini. Keluargaku menganggap ini sebagai salah satu pelindung. Aku tahu bahwa mungkin kau tak akan bersatu lagi dengan Panglima Zheng dan bahkan akan kehilangan nyawa, namun setidaknya aku ingin kau berusaha,” kata Permaisuri Fu.

“Hamba mengerti Yang Mulia.. hamba mengerti..” ujarku sambil terisak.

***

Sesuai perintah Permaisuri. Saat aku dan pasukanku bergerak menuju Gao’an, seluruh akses jalan menuju daerah itu aku putus dan bakar. Prajuritku yang berjumlah ribuan menuruti perintahku agar menghapus jejak perjalanan kami dan melakukan apapun agar menghambat siapa saja yang berusaha menyusul kami.

Perjalanan jauh kami akhirnya berakhir. Seluruh rakyat Gao’an yang tenteram dan damai menyambutku dan pasukan. Mereka tahu bahwa aku adalah pemimpin baru mereka yang memberikan harapan.

Sesuai dengan perkiraanku, Gao’an adalah daerah yang terlindung secara alami oleh bukit terjal dan jurang dalam sehingga relatif aman dari kemungkinan berbagai macam serangan. Entah mengapa Kaisar terburu-buru menempatkanku di sini dan tidak menyuruhku bertempur di tempat para pemberontak beraksi.

Keadaan yang tenang di Gao’an membuatku mengkhawatirkan keadaan Ajudan Zheng di Jianye. Apakah dirinya dan Ajudan Wang berhasil mengalahkan para pemberontak? aku sudah mengutus beberapa orang kurir secara diam-diam untuk pergi ke Jianye mencari tahu kabar di sana.

Beberapa minggu kemudian kurirku kembali. Wajahnya pucat dan tersirat penuh kekhawatiran.

“Tuan.. hamba membawa kabar yang kurang baik…” katanya.

“Ceritakanlah,” kataku tak sabar.

“Pemberontak bernama Xiong Kui itu rupanya telah memiliki pasukan yang sangat banyak. Pasukan kerajaan bertempur berhar-hari hingga mereka kelelahan. Akses makanan ditutup oleh pemberontak sehingga walaupun mereka kalah secara jumlah, kondisi pasukan Panglima Zheng yang kelaparan membuat mereka sangat lemah Tuan…”

Aku terkejut.

“Lalu bagaimana keadaan mereka?” tanyaku.

“Panglima Zheng sedang mengatur cara agar pasukannya tak kekurangan makanan sambil meminta tambahan pasukan kepada Kaisar.. itu adalah kabar terakhir yang hamba tahu sebelum kembali ke sini…”

Ajudan Zheng masih hidup. Tapi mendengar cerita dari kurirku, keadaan mereka tak menguntungkan.

“Aku akan pergi ke Jianye!” kataku.

Awalnya seluruh pasukan tak menyetujui keputusanku untuk pergi ditemani oleh beberapa orang pengawal saja. Namun ini adalah misi tak resmi yang sebenarnya melanggar perintah Kaisar. Entah apakah kekhawatiran Permaisuri Fu bahwa pasukan Kaisar akan menyusulku tak terbukti, ataukah mereka memang tak bisa mencapai daerah ini karena jalan yang kurusak, tapi keadaan di Gao’an sangat damai dan tak ada tanda-tanda pasukan kerajaan akan menyerang. Maka itu aku putuskan untuk meninggalkan Gao’an setelah aku berikan kuasa sementara pada wakilku dan pergi menuju Jianye.

Betapa terkejutnya aku setibanya di Jianye Berhari-hari kemudian. Perkemahan pasukan dipenuhi mayat dan tentara yang terluka.

“Di mana Panglima Zheng? Di mana Panglima Wang?” teriakku kepada orang-orang.

“Maaf tuan, hamba Yang Zi. Komandan pasukan,” kata seorang tentara.

“Apa yang terjadi? bagaimana dengan pertempuran kalian melawan pemberontak?” tanyaku tak sabar.

“Maaf tuan, kami sudah sangat kelelahan karena kurangnya makanan dan pasukan dari pusat belum tiba… Kami semua tetap bertempur menghalau pemberontak yang semakin merangsek ke dalam kota… Panglima Zheng dan Panglima Wang bertempur bersama-sama namun…”

“Namun kenapa? ada apa??” tanyaku.

“Pertempuran itu amat sengit, Tuan. Kami menderita kekalahan dengan banyaknya korban jiwa. Di antara korban, kami hanya bisa menemukan Panglima Wang yang terluka sangat parah…”

Tanganku gemetar. “Di mana dia?”

“Mari Tuan, aku antar..” kata Yang Zi sambil memintaku mengikutinya.

Sesampainya di sebuah barak pengobatan, aku bisa mengenali Ajudan Wang yang terluka sangat parah. Tangannya penuh luka dan wajahnya terkena sabetan senjata tajam cukup dalam.

“Ajudan Wang… Ajudan Wang…? bagaimana keadaanmu?” sapaku sambil menyebutkan panggilannya selama menjadi seorang mentor.

Dengan gemetar dan perlahan Ajudan Wang menolehkan kepalanya menatapku. Bibirnya gemetar mencoba mengatakan sesuatu.

“Tu.. Tuan Dongxian… Maafkan aku…” katanya parau.

“Ajudan Wang.. apakah kau bertempur dengan Ajudan Zheng dan selalu bersama-samanya?” tanyaku pedih. Aku tak bisa menahan airmataku melihat keadaannya yang payah.

“I..iya tuan.. Panglima.. Panglima Zheng…” kata Ajudan Wang terbata-bata. Dia tiba-tiba meraih tanganku dan menggenggamnya erat-erat.

Aku menggigit bibirku menanti jawaban darinya.

(PART 2)

“APA yang terjadi dengan Ajudan Zheng, Panglima?” tanyaku tak sabar.

Ajudan Wang tak menjawab. Dia malah menangis semakin keras.

“Maafkan aku, tuan.. aku.. aku telah membunuhnya…” raung Ajudan Wang.

Tentu saja aku sulit mempercayai perkataan Ajudan Wang. Bagaimana mungkin mereka berdua yang berada di pihak yang sama bisa saling membunuh?

Ajudan Wang butuh beberapa lama untuk menenangkan emosinya. Setelah tangisnya reda, dia memaksakan diri untuk bangkit dan bersandar pada dinding. Diapun mulai bercerita.

“Waktu itu, kami sedang bertempur di jembatan. Hari itu tiba-tiba hujan turun dan aliran sungai menjadi deras. Kami berdua bertempur saling melindungi satu sama lain. Panglima Zheng mengenali Xiong Kui yang berada tak jauh dari kami. Karena dia begitu bernafsu ingin membalas dendam, Panglima Zheng mendekati Xiong Kui. Sialnya, aku yang lengah, diserang oleh salah satu anak buah Xiong Kui..” tutur Ajudan Wang.

Aku menyimak dengan seksama cerita Ajudan Wang.

Ajudan Wang kemudian melanjutkan. “Panglima Zheng menjadi serba salah. Dia kemudian kembali dan membantuku, membatalkan niatnya menyerang Xiong Kui. Penyerangku akhirnya berhasil dilumpuhkan sementara aku terkapar di atas jembatan.”

“Saat itulah… saat Panglima Zheng hendak memeriksa kondisiku, dia diserang salah satu pemberontak hingga terluka. Tangannya terluka… diapun terkapar di sebelahku. Situasi kami sangat tidak menguntungkan. Saat itulah Xiong Kui melihat kondisi kami. Dia memanfaatkan situasi hendak membunuh Panglima Zheng. Aku yang menyadari Panglima Zheng dalam bahaya, berusaha menolongnya. Aku.. aku.. terpaksa mendorong Panglima Zheng ke sungai agar pedang Xiong Kui tak sampai membunuhnya…” Ajudan Wang kembali terisak.

“Apa?” tanyaku memastikan.

“Tuan… Xiong Kui mungkin tak berhasil menghujamkan pedang pada Panglima Zheng, tapi akulah yang membunuhnya! aku…! aku masih ingat tatapan matanya yang terkejut saat aku mendorongnya! Setelah itu Xiong Kui menarik pasukannya. Aku selamat, sedangkan Panglima Zheng entah bagaimana nasibnya…” kata Ajudan Wang tak bisa lagi menahan tangisnya.

“Sudahlah Ajudan Wang.. tindakan anda sudah benar… Kita berdoa saja agar Ajudan Zheng selamat…” kataku pelan mencoba menghibur diri walau aku tak yakin dengan apa yang aku katakan.

Kemudian aku meninggalkan Ajudan Wang untuk beristirahat. Yang Zi mendekatiku. Kekhawatiran nampak jelas di wajahnya. Aku sendiri merasa sangat sedih dan kehilangan semangat.

“Tuan… sekarang di antara kami hanya tuanlah yang memegang kuasa tertinggi… Panglima Wang tak bisa memimpin kami dengan kondisinya. Bagaimana pendapat tuan?” tanyanya.

Aku menatap Yang Zi. Seperti yang lainnya, semangat bertempur telah lenyap dari wajahnya. Letih, putus asa, kelaparan.

“Biarkan aku berpikir dulu, Yang Zi. Kita bicarakan besok. Sementara ini, prioritaskan dulu mereka yang membutuhkan obat dan makanan. Kita berdoa saja… berdoa agar bantuan pasukan dan makanan segera tiba…” kataku pasrah.

Yang Zi mengangguk. Kemudian dia pamit setelah mengantarku ke sebuah tenda. Rupanya tenda itu adalah tenda yang ditempati Ajudan Zheng. Aku mengenali helm yang biasa dia kenakan. Entah mengapa dia tidak memakainya saat pertempuran terakhir. Aku meraih helm itu dan mengusapnya dengan perasaan pedih. Bagaimana keadaanmu Ajudan Zheng? Apakah kau masih hidup? tanyaku dalam hati.

***

Keesokan paginya, aku memanggil Yang Zi dan pimpinan pasukan lainnya. Jumlah kami tinggal sedikit. Di atas kertas kami tak akan bisa memenangkan pertempuran melawan pemberontak pimpinan Xiong Kui. Bagiku pertempuran ini sama saja dengan bunuh diri. Tapi rupanya mereka telah pasrah. Mereka lebih rela tewas dalam pertempuran daripada harus mati kelaparan.

Saat menginspeksi pasukan, aku berjalan memeriksa barisan prajurit yang tersisa. Aku memberikan semangat kepada mereka bahwa apapun yang terjadi, kita akan terus melawan pemberontak dan mengakhiri perbuatan kriminal mereka. Kuperingatkan bahwa Xiong Kui tidak akan tinggal diam dan akan terus menghancurkan desa demi desa dan mengancam keluarga mereka semua jika tidak dihentikan.

Saat itulah, kudengar derap kaki kuda yang banyak semakin lama semakin dekat. Aku mengawasi arah datangnya suara itu. Lama-lama kulihat pasukan berkuda yang sangat banyak mendekati barak kami. Panji-panji dan umbul-umbul berlambangkan negeri Gao’an mulai terlihat jelas. Ternyata mereka adalah pasukanku.

Seorang prajurit muda melompat dari kudanya dan langsung berlutut di depanku dan memberi hormat. Aku mengenalinya sebagai Zhao Peng, pemimpin pasukannya yang sangat bersemangat.

“Ampuni kami, Tuan! tapi kami tak sampai hati berdiam di Gao’an dan membiarkan tuan pergi sendirian. Itulah sebabnya saya memutuskan untuk menyusul tuan ke Jianye membawa pasukan dan perbekalan,” sahut Zhao Peng.

Aku menghargai keputusannya dan berterima kasih pada Zhao Peng karena telah berinisiatif menyusulku. Sisa pasukan yang berada di Jianye langsung bersorak menyambut kedatangan pasukanku. Semangat mereka kembali tumbuh.

Strategi baru kupersiapkan. Dengan pasukan yang ada aku harus mengakhiri pertempuran ini dan kembali ke ibukota. Jika dibiarkan berlarut-larut maka kami akan kembali kehabisan bahan makanan dan akan kalah dalam pertempuran dalam beberapa hari.

Keesokan paginya seluruh pasukan telah menunggu di seberang sungai. Aku bisa melihat pasukan Xiong Kui dengan umbul-umbulnya di kejauhan. Mereka berkumpul di sisi sungai satunya. Aku tak bisa membiarkan pasukanku terjebak di jembatan lebar yang menghubungi kedua sisi sungai itu dan bertempur di situ. Aku harus mendesak pasukan Xiong Kui dan bertempur di padang rumput tempat pasukan mereka berkumpul.

“Tunggu aba-aba mereka!” perintahku pada penabuh genderang, mencegahnya menandai serangan.

Tak lama terdengar genderang perang dari arah pasukan Xiong Kui. Saat penabuh genderang hendak menjawab aba-aba itu, aku menahannya lagi.

“Tunggu! jangan dibalas dulu!” perintahku.

Yang Zi dan Zhao Peng menatapku heran, namun mereka berdua diam tidak memprotes.

Lalu terdengar lagi genderang bertabuh di kejauhan. Lagi-lagi aku melarang penabuh genderang untuk membalas. Aku tahu. Hal ini membuat gemas pasukanku dan membuat semangat mereka semakin tinggi. Di pihak lain, tabuhan genderang perang Xiong Kui yang sama sekali tak kubalas membuat mereka bertanya-tanya.

Genderang perang ketiga lalu terdengar. Aku yakin, pasukan Xiong Kui sudah kehilangan semangat dan semakin heran karena kami tak membalas aba-aba mereka. Sedangkan emosi pasukanku sudah semakin tersulut. Saat itulah aku berteriak.

“Tabuh genderangnya!”

Seluruh pasukanku turun dari lereng bukit dengan semangat tinggi saat mendengar genderang berbunyi. Aku ikut menyerbu didampingi oleh Yang Zi dan Zhao Peng. Walau jumlah kami berimbang, semangat kami jauh lebih tinggi dibandingkan pasukan Xiong Kui. Kami bertempur dan berhasil memukul mundur pasukan Xiong Kui hingga mereka lari tunggang-langgang ke hutan.

“Tuan! perintahkan kami untuk mengejar mereka!” teriak Zhao Peng saat melihat para pemberontak itu kocar-kacir lari masuk ke dalam hutan.

“Tunggu sebentar!” sahutku sambil turun dari atas kuda.

Kemudian aku memerhatikan jejak roda dan kaki kuda pasukan Xiong Kui yang melarikan diri. Saat kulihat betapa kacaunya jejak itu serta bendera yang dibuang serampangan, aku bisa meyakinkan diri bahwa mereka mundur karena ketakutan dan bukan sebuah jebakan.

“Baik! kejar mereka!” perintahku.

Zhao Peng dan Yang Zi kemudian memerintahkan pasukan untuk mengejar para pemberontak di dalam hutan. Pertempuran itu akhirnya kami menangkan.

Seluruh prajurit bersorak-sorai di barak bersukacita dengan kemenangan kami. Prajurit yang terluka dan tewas berhasil kami bawa sementara para pemberontak yang selamat dikawal oleh pasukan dalam keadaan terikat. Xiong Kui tewas dalam pertempuran. Ketika dia sedang berusaha melawanku, sabetan pedang dari Yang Zi mengakhiri hidupnya. Hal itu juga yang membuat pasukannya kabur ketakutan.

“Tuan! kami sangat berterima kasih atas pertolongan anda,” kata Yang Zi sambil berlutut memberi hormat. Ajudan Wang yang masih tak bisa menghilangkan kesedihannya karena hilangnya Ajudan Zheng, memberikan selamat dan mengucapkan terima kasihnya padaku sambil bercucuran airmata.

Aku memerintahkan agar seluruh pasukan yang tewas diperiksa dan yang terluka segera diobati. Saat aku berjalan berkeliling ikut memeriksa pasukan yang terluka, aku dikejutkan oleh sebuah suara.

“Tato beruang! ada penyusup! dia menyamar menjadi prajurit!” teriak salah seorang prajurit yang bertugas memeriksa pasukanku yang luka.

“Awas Tuan! Awas!!”

Kemudian aku bisa melihat orang yang tadinya kupikir sedang sakit itu mendorong prajurit di sebelahnya dan merampas pedangnya. Sambil menggeram, pria berbadan besar itu berlari ke arahku. Kedua prajurit yang mendampingku berusaha melindungi tubuhku. Namun gerakan orang itu lebih cepat. Hal terakhir yang kuingat adalah saat kulihat ujung pedang itu melesak ke dalam perutku hingga aku kehilangan keseimbangan dan terjatuh tak sadarkan diri.

***

Ada banyak hal yang ingin aku ceritakan kepadamu, wahai Ajudan Zheng. Tahukah anda? aku berhasil mengalahkan Xiong Kui dan pasukannya. Aku ingin bercerita banyak hal. Tapi aku tak bisa menemukanmu di dalam kegelapan ini.

Aku sendiri. Kukira aku akan bertemu kau setelah aku mati. Ternyata tidak. Apakah setelah matipun kita tidak bisa bersama? Apakah kau masih hidup? Ah.. kalau memang demikian, betapa sialnya nasibku. Rupanya aku yang pergi meninggalkanmu lebih dulu. Tapi sungguh… rasanya aku belum rela. Aku merasa kau belum meninggal karena semangat hidupku masih ada. Ya.. ya… aku tahu. Aku harus terus bertahan bukan? setidaknya sampai aku mengetahui keadaanmu… biarkan aku tetap hidup… Biarkan aku tetap hidup.

Kemudian, setelah aku merasa sangat lama melayang-layang di dalam kegelapan. Aku bisa merasakan kembali aliran darah menghangat pada ujung-ujung kaki dan tanganku. Aku tidak dapat bergerak. Tubuhku terasa lemas dan sakit.

“Kakak sudah bangun! Kakak sudah sadar!” teriak seorang gadis.

“Dongxian anakku! Dongxian! kau sudah bangun?” sahut sebuah suara yang kukenali sebagai suara ibu.

Ah.. Tian memang Maha Pengasih. Dua kali aku terluka, dua kali pula saat aku tersadarkan diri, masih diberikan kesempatan melihat keluargaku.

Hal itu tak berlangsung lama. Aku terbangun sebentar lalu kembali merasakan sakit pada perutku dan kembali tak sadarkan diri. Kali ini aku cuma tertidur dengan perasaan lega. Aku masih hidup.

***

Berhari-hari kemudian kesehatanku mulai pulih. Dibantu oleh ibu dan keluargaku yang lain, aku belajar menggerakan tanganku, kemudian melatihku kembali berjalan. Luka yang kualami sangat serius. Rupanya mereka sempat mengira bahwa aku akan meninggal.

Ibuku bercerita. Tak lama setelah kemenangan pasukan kami, rupanya tersiar kabar bahwa Kaisar Ai telah mangkat. Tak ada yang tahu penyebabnya. Di istana terjadi perebutan kekuasaan. Permaisuri Fu terpaksa menyingkir dari istana. Semua selir ditahan. Khawatir dengan keselamatanku yang sedang terluka, Ajudan Wang dibantu oleh Yang Zi dan Zhao Peng mengumumkan bahwa aku telah meninggal. Lalu mereka mengatur agar aku disamarkan sebagai prajurit yang terluka dan ikut diantarkan ke desa masing-masing. Ajudan Wang yang tahu dari mana asalku tak mengembalikan aku ke Gao’an melainkan mengantarku ke Yunyang. Untunglah, karena semua pejabat yang setia pada Kaisar Ai rupanya ditangkap oleh penguasa baru.

“Ibu sangat berterima kasih pada Panglima Wang. Walau kau harus kehilangan gelar dan tak lagi menjadi selir, setidaknya kau bisa berkumpul lagi bersama kami,” kata ibu sambil mengusap matanya yang basah dengan kain.

“Semua salah ibu! semua salah ibu! Kalau saja ibu tak berambisi menjadikanmu selir!” teriak ibuku sambil memukul-mukul kepalanya sendiri.

“Sudahlah bu… yang penting keluarga kita selamat. Berdoalah agar istana tak melacakku hingga kemari…” kataku berusaha menenangkan ibu.

Berbulan-bulan kemudian, aku semakin sehat. Aku bersemangat ingin sembuh karena ingin mencari kabar Ajudan Zheng. Setiap hari aku berlatih berjalan dan akhirnya walau ditentang sebagian besar keluargaku, aku kembali belajar berkuda.

Saat aku benar-benar pulih, ibuku tak kuasa melarangku pergi.

“Apakah.. apakah kau ingin mencari orang yang bernama Zheng itu?” tanya ibu hati-hati.

“Bagaimana ibu bisa tahu?” aku balik bertanya.

“Ada malam-malam saat kau demam dan mengigau memanggil-manggil nama Ajudan Zheng dalam tidurmu… jadi ibu pikir orang itu sangat berarti buatmu..” kata ibu.

Aku kemudian memeluk ibu.

“Maafkan aku ibu! anakmu ini belum lega bila tak mengetahui kabar Ajudan Zheng! Aku merasa Tian memberikan kesempatanku hidup untuk mencarinya.. bertemu dengannya…”

“Ibu mengerti nak… walau ibu tak ingin kau pergi dan menunggu hingga benar-benar sembuh, tapi ibu tak kuasa melarang…”

“Terima kasih, bu!” kataku.

“Mampirlah kapan-kapan.. jangan lupakan keluargamu…” pesan ibu.

***

Walau masih kurang sehat, aku memulai perjalananku menuju provinsi Wei, daerah kelahiran Ajudan Zheng. Bagaimanapun juga, aku harus memulainya dari situ. Siapa tahu jika memang dirinya selamat, dia akan kembali pulang ke tanah leluhurnya.

Ketika tiba di Provinsi Wei, aku diterima oleh salah seorang pemuka warga di rumahnya. Penduduk desa ini sangat ramah. Walau mereka pernah diserang oleh gerombolan Xiong Kui hingga desa mereka luluh lantak, mereka telah membangun kembali daerah itu dari kehancuran.

Aku mengaku sebagai salah satu prajurit yang melawan gerombolan Xiong Kui dalam peperangan. Rupanya mereka gembira saat kuberitahu bahwa kami berhasil mengalahkan pasukan Xiong Kui dan membunuhnya.

Chen Yafu yang merupakan kepala desa di daerah itu begitu senang dan memutuskan untuk mengadakan pesta syukuran. Tak terhitung berapa banyak orang yang harus kehilangan keluarganya akibat perbuatan Xiong Kui di desa ini. Ketika aku menanyakan kabar Ajudan Zheng dalam suatu pesta, mendadak semua tetua desa diam dan menaruh curiga padaku.

“Mengapa kau menanyakan kabar Zheng Jiageng?” tanya seorang tetua padaku.

“Kumohon.. aku hanya ingin tahu kabarnya. Panglima Zheng adalah pimpinan pasukan kami. Beliau tak bisa melihat kemenangan kami karena dirinya hanyut di sungai sebelum pertempuran usai!” kataku.

Semua tetua saling berpandangan. Chen Yafu kemudian membuat keputusan. Setelah pesta selesai, dia ingin berbicara denganku secara pribadi.

Di dalam sebuah kamar, aku duduk di hadapan Chen Yafu. Diapun kemudian menanyakan kembali alasanku mencari Ajudan Zheng.

“Maafkan aku, Tuan Chen. Aku telah berbohong. Namaku sebenarnya adalah Dongxian. Aku dulu pernah menjadi selir kaisar di istana,” kataku.

“Dongxian?” tanya Chen Yafu terkejut. Sepertinya dia mengenali namaku.

“Kau sungguh bernama Dongxian?” tanyanya lagi.

Aku mengangguk.

“Dulu aku dan Ajudan Zheng sangat dekat. Dia menjadi mentorku di istana. Sayangnya, dia ditugaskan di Jianye terpisah jauh olehku dan kabarnya saat pertempuran dirinya terjatuh ke dalam sungai…” jelasku panjang lebar.

Chen Yafu tak berkata apa-apa. Dia kemudian menghampiriku dan mengamati wajahku.

“Aah.. tampan, dan di matanya terdapat kedalaman yang membuat siapapun yang menatapnya akan merasa tersentuh…” kata Chen Yafu.

“Ma.. maksud Tuan Chen?” tanyaku bingung.

“Zheng Jiageng pernah bercerita tentang seorang pemuda yang dia kenal. Pemuda itu bernama Dongxian dan memiliki tanda-tanda seperti yang tadi kusebutkan…”

‘Ja.. jadi? Ajudan Zheng masih hidup dan kembali ke sini?” tanyaku tak sabar.

Chen Yafu mengangguk. Dia mengusap janggut putihnya lalu menghela nafas dan mulai bercerita.

“Zheng Jiageng hanyut di sungai dan selamat. Di sebuah desa dia memulihkan diri dari lukanya dan berusaha kembali ke Jianye. Sayangnya, saat tiba di sana pertempuran telah usai. Dia langsung kehilangan semangat saat mendengar dirimu telah tewas… Lalu dia kembali ke sini dalam keadaan hancur tanpa bercerita apapun mengenai pertempuran kalian. Jiageng hanya menceritakan bahwa telah kehilangan alasan hidup dua kali dan ingin mati saja,” tutur Chen Yafu.

“Oh Tuhan.. apakah…? apakah..?” aku tak kuasa melanjutkan pertanyaanku. Airmataku mulai menetes. Kabar palsu kematianku rupanya dipercaya oleh Ajudan Zheng.

“Dia begitu hancur. Katanya dia sangat mencintaimu dan berusaha menjaga nyawanya agar bisa bertemu kembali dengan kau. saat itulah dia tak punya keinginan hidup lagi. Tapi untunglah.. putranya menyelamatkannya…”

“Pu..Putranya?” tanyaku.

Chen Yafu mengangguk. “Satu hal yang tidak diketahui Zheng Jiageng, saat mendengar istrinya tewas dia tak mengetahui bahwa istrinya sempat melahirkan seorang putra dan dirawat oleh kami semua. Jiageng sama sekali tak tahu karena setelah penyerbuan itu dia tak ingin kembali ke desa. Khawatir mengganggu pikiranya, kubiarkan saja kabar mengenai putranya tersimpan rapat hingga dia kembali ke sini…”

“Lalu.. di mana mereka?” tanyaku.

“Zheng Jiageng, walau kehilangan dua orang yang membuatnya tak ingin hidup, selamat karena ada alasan lain agar dirinya tak bunuh diri: anaknya. Jiageng sekarang tinggal di lereng gunung berdua dengan putranya. Dia tak ingin keberadaanya diketahui oleh siapapun..” jawab Chen Yafu.

Airmataku tak terasa meleleh dengan deras. Ajudan Zheng masih hidup! Pria yang kucintai masih hidup!

***

Kabut dan udara dingin yang menusuk dalam perjalanan menanjak menuju lereng gunung sama sekali tak kurasakan. Hatiku terlalu bahagia hingga membuat tubuhku terasa hangat. Tak sabar rasanya bertemu dengan Ajudan Zheng kembali. Aku mengikuti petunjuk jalan yang diberikan Chen Yafu malam itu juga hingga akhirnya aku tiba di lereng gunung pagi hari saat matahari baru saja terbit.

Dibalik hutan pinus, rupanya ada sebuah padang rumput luas. Di ujungnya terdapat sebuah rumah kayu yang mengepulkan asap dari cerobongnya. Latar belakang rumah itu yang berupa gunung menambah indahnya pemandangan di situ. Aku berdiri sejenak mengagumi tempat tinggal yang didiami oleh Ajudan Zheng. Tak lama kemudian seorang anak kecil berlarian mengejar serangga pagi yang menempel pada ujung-ujung rumput yang embunnya membeku.

Anak kecil itu terkejut melihatku. Wajahnya sangat menggemaskan dengan pipinya yang kemerahan. Diapun berlari kembali ke rumahnya.

Saat itulah aku melihatnya. Menggotong kayu bakar dengan semangat. Wajahnya yang tampan terlihat muram namun berusaha tersenyum saat anak kecil itu menghampirinya.
Dia heran saat anak kecil itu berkata sesuatu dan menunjuk ke arahku. Ajudan Zheng lalu menatapku dari kejauhan. Dia tampak terkejut seperti melihat hantu.

Memastikan bahwa dirinya tak salah lihat, Ajudan Zheng berjalan menghampiriku. Aku berjalan mendekat ke arahnya. Begitu dirinya mengenali bahwa aku adalah Dongxian, Ajudan Zheng menjatuhkan kayu bakar yang digenggamnya dan lari menghambur ke arahku.

Aku terisak sedih bercampur bahagia. Saat kami sudah sangat dekat, tanpa berkata apa-apa Ajudan Zheng mengusap wajahku. Dia lalu memelukku erat sambil menangis. Aku membalas pelukannya.

“Maafkan aku karena telah membuatmu khawatir..” kataku.

Ajudan Zheng masih menangis. Lalu dia menggenggam wajahku dengan telapak tangannya dan menciumku sangat lama…

-TAMAT-

***

EPILOG:

“Paaaaaahhh! barang-barang nenek sudah datang tuh!” teriakku saat sebuah mobil pickup tiba di halaman rumah.

“Apa sih Steve? pake teriak-teriak segala?” protes Papa sambil turun dari lantai atas.

“Kenapa barang mendiang nenek ditaro di sini semua sih, Pah?” tanyaku.

“Papa kan anak paling tua, ya barang-barang nenek papa yang simpan,” kata Papa sambil keluar dari rumah diikuti olehku dibelakangnya.

“Barang tua dan berdebu! huh! giliran rumah nenek dijual, Om Hendra bisa ambil perabotan dan barang elektroniknya, masa Papa malah dapat rongsokan?” kataku menggerutu.

“Udahlah Steve.. biarin aja deh. Perjanjiannya emang begitu kok..” kata Papa sambil memeriksa barang-barang yang diturunkan oleh supir pickup dan asistennya.

“Taro langsung di kamar belakang ya, pak!” perintah papa sambil menunjuk kamar yang dimaksud.

KLOTAK! sebuah benda seperti buku yang sudah terlihat tua terjatuh dari tumpukan barang yang dibawa oleh asisten supir pickup.

“Maaf pak!” kata asisten supir itu.

“Udah enggak apa-apa.. terusin aja bawa masuk..” kata Papa sambil memungut buku itu dan menepuk-nepuk debunya.

“Apa itu, Pah?” tanyaku.

“Kalau enggak salah ini buku tentang nenek moyang keluarga kita, Steve,” kata papa sambil membuka buku itu.

“Gambar siapa itu?” tanyaku sambil menunjuk sebuah gambar pria di halaman pertama buku itu.

“Hmm… kalau enggak salah, namanya Zheng Jiageng. Moyang kita dulu panglima perang di zaman Dinasti Han,” jelas papa.

“Nah, cowok yang di halaman sebelahnya? moyang kita juga?” tanyaku menunjuk lukisan remaja tampan yang hanya terbalut kain dengan latar belakang gunung.

“Namanya Dongxian. Papa juga enggak tahu, kenapa nenek moyang kita digambarinnya dua pria ya?”

“Jangan-jangaan.. nenek moyang kita homo ya, pah? heheh..” candaku.

“Hush! kamu itu Steve! Tapi memang enggak ada yang pernah cerita jelas sih, lukisan mereka aja masih ada tuh..” jelas Papa.

“A… APAA?? Lukisan dari zaman Dinasti Han?? Ki.. kita kaya dong pah??” kataku sambil terbelalak.

“Kamu ini! lukisan itu replika lah! dibuat salinannya untuk masing-masing keturunan. Punya nenek itu paling dibuatnya tahun 1950-an..” kata Papa sambil memukul kepalaku dengan buku itu.

Aku mengaduh lalu cemberut sambil mengusap-usap kepalaku.

Papa lalu mengambil lukisan itu. Lukisan replika pria muda tampan yang terbalut kain dan puisi mengenai daerah Yunyan yang pemandangan pegunungannya sangat indah. Ah… jika memang benar mereka sepasang kekasih, pasti ceritanya romantis sekali… pikirku sambil mengamati lukisan yang dibuka papa.

Setelah beberapa lama kemudian, Papa yang lebih dulu masuk ke dalam rumah memanggilku.

“Papa mau siap-siap dulu ya? mau pergi kerja,” kata Papa.

“Pah! masih lama kan? kita… ehm.. dulu yuk?” ajakku genit.

“Kamu itu! enggak puas kamu tadi malem papa udah ngeluarin dua kali?” protes Papa.

“Yah papaaaah.. kan masih pengen…” pintaku manja.

Papa menghela nafas. Walau sepertinya tak berminat, aku tahu papa cuma pura-pura karena tonjolan di selangkangannya semakin membesar tak bisa disembunyikan.

“Nanti papa telat!” protesnya.

“Kalau gitu kita mandi bareng aja pah.. yuk?” kataku sambil menarik lengan papa.

-TAMAT LAGI-

Abang Remy linguini

Suka cerita ini? klik http://wp.me/p2Jz37-5I untuk cara pemesanan Novel berjudul HEART STATION karya penulis yang sama di nulisbuku.com

Advertisements
Comments
  1. caetsith says:

    Hyahahaha… ternyata ternyata, gay itu keturunan ya bang. Hhe

    Happy Ending.. yihaaa!! Love Bang Remi… :*

  2. mantap ceritanya bg, menyentuh banget..
    aku udah ikuti smua cerita abg dari awal.

    ceritanya sungguh bagus, ga cuma bercerita ttg sex tapi juga ada makna dibalik itu semuanya..
    awesome

    keep working.

  3. henry says:

    Disambungin semua ya cerita2 disini, like a real small world. Good job! Ditunggu kisah2 berikutnya…

  4. wildan says:

    Sangat menyentuh :3

  5. ayank84 says:

    luar biasa istimewa keren banget coba kalo dijadiin buku pasti best seller hehehe tp gw ga suka yg epilog nya bapak sama anaknya sendiri ml,kenapa ga anaknya jatuh cinta sama pengangkut barangnya,,thanks ya cerita2nya keren

  6. ordinaryme says:

    so touchy!! speechless!

  7. certain fan from a certain universe says:

    Gak sia sia nungguin finalenya …keren….menunggu kisah selanjutnya dari remy linguini’s gayniverse… Keep up the good work….

  8. arif says:

    :))
    dasaaar

  9. choiyoungun says:

    sebelum na maaf ne
    ini cerita asli dari novel atau karangan kamu
    cz mira pena baca ff kaisar ai dan dong xian tp versi korea(kyumin couple) punya
    tp alur cerita beda

    tolong dibalas

  10. Alom Love says:

    Inilah cerita yg terakhir yg kubaca…
    Dan banyak cerita yg sempat membuat Aq menesteskan Air mata Akan Kisah…!!!

    Semoga Penulis Blog Ini Akan Terus Berkarya…!!!

    Cinta Sejenis Bukan Dosa dan Hukuman tapi semua karena Takdir… Nenek Moyang sebelum zama sudah ada cinta sesama jenis…!!!!

  11. ferry says:

    Keren ceritanya

  12. yudha says:

    Ceritanya gk trlalu orisinal,,byak dicomot dari litaratur2 cina klasikk,,tapi so far so goodlah

  13. Andi says:

    Saya menyukai cerita-cerita Anda, sangat menarik. Semuanya sudah saya baca. Yang hebat adalah bagaimana adegan intens dapat dipadukan dengan kisah cinta mengharukan tanpa mengurangi ‘kepanasan’… Keep going.
    Semoga dapat terus berkarya 🙂

  14. ebith wasana says:

    Setelah selesai baca, berasa bangun dr mimpi. Bener2 dbuat hanyut dan masuk dlm alur cerita..trims

  15. Andre says:

    Awalnya kurang berminat bacanya, soalnya aku kurang suka cerita tentang dinasti2 kerajaan, Tp setelah diikuti sampai akhir, ternyata bagus banget ceritanya, kamu luar biasa.

  16. lala says:

    Tadinya aga males bacanya, karena judul nya agak ganggu menurut saya. Cuma karena kayanya soal kisah kerajaan jepang gitu jadinya menarik. And like this series are one of best I’ve ever read! Like seriously! Bagus banget, cara nulis nya juga bagus, ceritanya ngga maksa dan ngga dipanjang2in! Thank you for creating such a beautiful story and keep it up 😉

  17. yogaPutra says:

    Ini baru namanya cerita,, bagus gak bertele-tele, simpel, menyentuh, semoga karya kedepannya makin bagus, d̶̲̥̅̊ı tunggu ya Mas karya selanjutnya.. Good job 🙂

  18. anas says:

    ini cerita terahir yg ku baca gara2 judulnya kurang menarik …..tapi isinya behhhh ajipppp cuma sedikit koreksi ya kurang hot aja saat bercinta kurang klimax,karena ini cerita sex,tapi secara keseluruhan ceritanya sangat inspiratif buat para gay jangan gonta ganti pasangan ml pake cinta itu lebih nikmat

  19. ardiana alasamim says:

    awalnya ragu tuk baca ini tapi akhirnya meleleh ,apalagi pas baca yg terakhir ini sampe gak kerasa mata air berjatuhan

  20. Yuzalby says:

    Kerennn ihhh,, diangkat selir utama, akhrnya jd pjabat n ikut brperaang n berjuang demi cinta, untung ajudan g bunuh diri jd Bïśα ktmu lg n hdup bersama di bukit
    ̸ǦǿǾǿƌ (y)(y) ceritanya ane suka

  21. gatotkaca says:

    ini cerita beneran keren. inget my 7 years love story, inget kho ping hoo jg. sex nya gak berlebihan. every character created with a purpose. awesome ! you are obviously genius !

  22. Film Felipe says:

    Keren banget!!! ngak nyangka bakal disambung, kepengen dong cerita lagi mengenai steve dan kehidupannya. ditunggu karya selanjutnya.

  23. kenji says:

    bagus banget ceritanya,,,aku membayangkan benar2 berada pada masa kerajaan…kisahnya sangat memancing emosi…keren, aku suka..

  24. Anton says:

    Aduhhh ini cerita bener2 romantisnya komplit,,,,,,,,dari awal aku baca semua sampai sekrang yang tamat,buat ajudan zheng ada e-mail ngga,,atau klau ngga fb ada ngga?hahahaha mat berbhngia ya

  25. sasunaru says:

    Aku fujhosi , suka deh cerita” disini .. Pengen sequel nya dong yg terahir gimna kehidupan mereka di tepi hutan ,kayanya seru deh

  26. Sammuel says:

    waw waw waw, aku bacanya ampe tissunya habis lho sekotak, nanggis mulu. ceritanya bagus, tapi kalo di kasih gold star sih masih 3 goldstar yah, karena, masih banyak misteri yang belum selesai di kuak, boleh ngak aku minta ijin dari penulisnya untuk buat cerita sequelnya. kalo boleh aku akan mulai menulis cerita sequelnya dengan judul baru yang mungkin bisa sepanhjang 20 episode. bahkan bisa lebih, tapi aku nulisnya lama, janjiku pasti lebih panas dari pada sebelumnya, karena akan kumasukkan banyak tokoh baru!”

  27. Curious says:

    Mau nanya. Bukannya selir lebih tinggi dari kasim ya kedudukannya? Kok kasim li ga hormat sm dongxian? Karna setauku yg namanya selir itu ada peringkat2nya. Nah di peringkatnya dongxian itu berarti dongxian bagian dari keluarga kerajaan. Setauku klo kaya gitu berarti menteri2 hormat sm dia apalagi kasim dan pelayan dan prajurit2. Hehe sorry ga maksud ngajarin. Cm penasaran aja, thankyou.

    • Kalau dirimu baca literatur tiongkok, ada beberapa kisah di mana kasim punya kekuasaan tinggi karena sangat dipercaya.

      • Curious says:

        Lebih tinggi dari selir? Karna setau aku setingkat dongxian itu secara resmi dia bagian dari keluarga kerajaan dan perlakuan ga layak spt ga sopan gt2 termasuk pengkhianatan dan setara hukuman mati. Iya bukan sih? Sorry nih bawel. Masih oenasaran parah soalnya😂

      • Ya makanya gugel aja… banyak baca. Aku kasih rekomen ya. Cari di toko buku Kisah Kebijaksanaan Klasik Tiongkok. Di situ ada cerita kekuasaan kasim yang begitu tinggi sampai2 kaisarpun didikte. Saya terinispirasi dari situ. Jangan liat drama kerajaan korea mulu kak.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s