SELIR BRONDONG SANG KAISAR [Bagian 10]

Posted: April 27, 2014 in Selir Brondong Sang Kaisar
Tags: ,

Emperor_gunting-10Cerita sebelumnya: Dongxian (18 tahun) diangkat menjadi selir pria utama Kaisar Ai. Walaupun menjadi milik Kaisar, hatinya telah tertambat pada Ajudan Zheng, panglima kerajaan yang menjadi mentornya. Setelah diangkat menjadi bangsawan, Dongxian diserang oleh orang-orang tak dikenal hingga terluka. Hal ini membuat Permaisuri Fu memutuskan untuk menyelidiki dalam di balik peristiwa itu.

RUPANYA kabar penyerangan terhadap rombonganku membuat Kaisar mempercepat jadwal kunjungannya dan segera kembali ke istana. Kebersamaanku dengan Ajudan Zheng selama ini di istana Weiyang akan segera berakhir.

Aku tahu. Seharusnya aku lebih bijaksana dalam bertindak. Peringatan Permaisuri Fu bahwa Istana Weiyang memiliki telinga, kini kuabaikan. Hampir tiap malam Ajudan Zheng mengunjungi kamarku. Entahlah, mungkin aku terlalu gegabah dan menuruti keinginanku untuk selalu dekat dengan Ajudan Zheng sehingga aku tak memedulikan pandangan orang-orang di sekitarku.

Seharusnya mereka curiga bahwa ada kedekatan khusus antara aku dan Ajudan Zheng, akan tetapi mereka diam-diam saja. Bahkan ibuku yang cerewetpun sepertinya tidak pernah mencoba mencari tahu apakah aku dan Ajudan Zheng memiliki hubungan spesial. Padahal, seorang ibu biasanya memiliki naluri yang kuat.

Ajudan Zheng mengecup pundakku ketika kami berdua sedang di ranjang.

“Aku pamit dulu,” ujarnya.

“Baiklah,” kataku sambil bangkit.

“Kau tidur saja. Tak usah mengantarku,” kata Ajudan Zheng sambil berpakaian.

“Tidak apa-apa,” kataku sambil ikut bangkit dan berpakaian.

Ajudan Zheng mendadak diam. Wajahnya tertunduk. “Sebenarnya, aku merasa bersalah terhadap Kaisar… Bagaimanapun kau seorang selir-” katanya.

“Sudahlah.. jangan membuat perasaanku kacau, Tuan. Biarkanlah semua berjalan apa adanya,” ujarku sambil memeluknya.

Ajudan Zheng menghela nafas.

“Kaisar sebentar lagi akan kembali. Aku sebaiknya tak lagi menemui Tuan Muda,” katanya.

“Justru aku ingin memanfaatkan waktu tersisa,” kataku.

Ajudan Zheng tak berkata apa-apa. Dia kemudian memelukku sangat erat. Lalu pamit keluar kamar.

***

Kaisar tiba tiga hari kemudian. Semua pejabat penting dan menteri berkumpul di istana utama untuk mengadakan upacara penyambutan. Biasanya selir tak diharuskan mengikuti acara penyambutan. Hanya permaisuri sajalah yang berhak hadir sebagai istri kaisar yang sah. Namun, statusku saat itu bukanlah hanya sebagai seorang selir melainkan juga pejabat penguasa feodal sehingga secara aturan, aku harus turut serta.

Kaisar masuk ke istana diiringi beberapa pengawalnya. Kami semua yang berdiri di sepanjang jalan menuju singgasana memberi hormat kepada Kaisar. Setelah duduk di atas singgasananya, Kaisar mulai berbicara.

“Kedatanganku dipercepat karena adanya penyerangan terhadap Adipati Gao’an saat mereka dan rombongan kembali ke istana,” ujar Kaisar Ai.

Semua orang yang hadir langsung berbisik-bisik. Aku melihat Permaisuri Fu yang duduk di sebelah Kaisar tetap bersikap tenang walau tak dapat menyembunyikan sedikit ketegangan di wajahnya.

“Bagaimana keadaanmu Adipati Dongxian?” tanya Kaisar padaku.

“Yang Mulia, hamba sudah sembuh. Syukurlah saat itu kami diselamatkan oleh Panglima Zheng dan pasukannya atas perintah Yang Mulia Permaisuri. Hamba sempat terluka, namun Tabib He merawatku dengan sangat baik hingga hamba pulih seperti sedia kala,” kataku penuh hormat.

Kaisar Ai mengangguk-angguk. Dia menoleh kepada Permaisuri Fu dan berkata, “Permaisuri memiliki inisiatif yang sangat besar, aku sangat berterima kasih.”

“Itu sudah menjadi kewajiban hamba, Yang Mulia. Hamba juga sudah meminta dilakukan penyelidikan atas penyerangan tersebut. Hamba bersyukur Tian masih melindungi Adipati Dongxian dan yang lainnya hingga mereka semua selamat,” kata Permaisuri Fu bijak.

“Baik. Nanti malam aku akan mengadakan pertemuan. Sekretaris Luo akan memberitahukan siapa saja yang aku undang. Kalian semua bubarlah,” kata Kaisar Ai sambil berdiri. Seluruh orang yang ada di aula itu memberi hormat.

***

Entah apa yang akan dibicarakan dalam pertemuan nanti malam oleh Kaisar. Yang pasti aku merasa sedikit cemas. Sesuai dengan firasatku bahwa aku sepertinya akan diundang, saat aku kembali ke Istana, seorang kurir memberitahuku bahwa aku harus ikut dalam pertemuan tersebut.

“Firasatku tidak baik,” kataku pada Ajudan Zheng sesaat sebelum kami berangkat menuju istana utama.

“Tenang saja. Tidak usah berpikir macam-macam,” kata Ajudan Zheng yang ternyata juga diundang ke pertemuan itu.

Kemudian kami berkuda menuju kediaman Kaisar. Rupanya pertemuan itu benar-benar tertutup. Tak banyak orang yang kulihat ikut hadir. Seorang pengawal memberitahukan kami supaya langsung menuju sebuah ruangan yang letaknya di belakang aula utama.

Rupanya di dalam sudah ada Sekretaris Luo dan Ajudan Wang. Kami saling memberi hormat saat tiba lalu duduk menunggu kedatangan Kaisar.

Beberapa lama kemudian Kaisar datang. Kami semua memberikan penghormatan sampai dirinya menyuruh kami kembali duduk.

“Ada dua hal yang membuatku kembali ke Istana sesegera mungkin. Pertama, aku mendapat kabar bahwa pemberontak dari Gunung Utara sedang menyusun rencana penyerangan terhadap beberapa daerah perbatasan. Aku kembali untuk mengatur siasat dengan penguasa perbatasan yang sekiranya sangat rapuh untuk diserang,” kata Kaisar.

Aku melihat Ajudan Zheng terkesiap sedikit mendengar nama itu disebut. Kaisarpun sepertinya mengetahui itu dan meliriknya. Pemberontak dari Gunung Utara adalah penyebab Ajudan Zheng kehilangan istrinya.

“Kedua… terkait penyerangan atas Adipati Dongxian. Aku bersyukur Permaisuri telah memerintahkan Panglima Wang untuk melakukan penyelidikan. Dari informasi yang kudapatkan, sepertinya Guo Xie dan pengikutnya tidak tinggal diam untuk membalas sakit hatinya pada Adipati yang baru…” lanjut Kaisar.

Semua yang hadir di ruangan itu terkejut kecuali Ajudan Wang.

“Benar Yang Mulia. Semua bukti sudah mengarah kepada seseorang yang memang dikenal cukup dekat dengan Bangsawan Guo Xie. Kami beruntung bisa menangkap salah satu penyerang rombongan Tuan Dongxian dan menginterogasinya,” kata Ajudan Wang.

BRAK!! Tiba-tiba pintu ruangan terbuka. Dua orang pengawal membawa seseorang yang amat kukenali dalam keadaan terikat dan sambil meronta-ronta: Kasim Li.

“Ini kesalahan! Ini Kesalahan! hamba tak bersalah, Yang Mulia…” rengek Kasim Li. Dia memandangi kami semua yang berada dalam ruangan.

“Aku sudah tahu bahwa hubunganmu sangat dekat dengan Bangsawan Guo Xie. Sangat dekat sampai-sampai kalian berdua berjanji untuk tidak saling membuka jati diri bila kejahatan korup kalian terungkap!” kata Kaisar Ai.

Kasim Li masih terisak sambil berlutut.

“Namun kau ceroboh. Guo Xie menutup rapat-rapat mulutnya, namun kau malah panik ketika kurirku tiba di istana dan kau mendengar bahwa Guo Xie dan pengikutnya telah tertangkap. Seharusnya jika kau tak bertindak gegabah dengan menyerang Dongxian, keterlibatanmu tak akan kuketahui,” lanjut Kaisar lagi.

Aku menelan ludah. Kasim Li ternyata adalah teman sekongkol Guo Xie dan menyewa perampok bayaran untuk menyerangku. Aku dan Ajudan Zheng saling berpandangan.

“Ampuni Hamba Yang Mulia… Hamba tak bersalah…” rengek Kasim Li terus-menerus.

“Bawa dia di ke penjara. Aku masih perlu tahu siapa lagi yang terlibat!” perintah Kaisar.

“Tidak! Tidak! Hamba harus memberitahu Yang Mulia sesuatu! Tidak!” Kasim Li meronta-ronta saat kedua pengawal hendak menyeretnya keluar.

Aku terkesiap. Yang aku takutkan pun terjadi. Kasim Li akhirnya meraung kencang sambil menatapku penuh dendam.

“Selir Dongxian berselingkuh dengan Panglima Zheng! Mereka berdua BERSELINGKUH, YANG MULIA!!” teriaknya sebelum akhirnya menghilang bersama kedua pengawal itu.

Sekretaris Luo dan Ajudan Wang membelalak menatap ngeri tak percaya pada kami berdua lalu beralih menatap Kaisar. Aku dan Ajudan Zheng berusaha bersikap tenang. Anehnya, Kaisar Ai sama sekali tak terpengaruh dengan ucapan Kasim Li. Dia masih bersikap tenang dan berkata singkat.

“Pertemuan malam ini selesai. Kalian semua pulanglah!” perintah Kaisar lalu pergi meninggalkan ruangan.

Dengan gugup aku kembali ke istana. Ajudan Zheng dan aku tak saling bicara. Sebelum berpisah di persimpangan jalan, kami hanya saling bertatap sekilas.

“Hea!” hela Ajudan Zheng meninggalkanku dengan kudanya.

***

Di dalam kamar aku tak bisa tidur. Bahkan aku tak sempat berganti pakaian saking gugupnya. Hukuman mati telah menungguku. Mungkin juga keluargaku akan diberikan hukuman yang sama, atau kekhawatiran ibuku akan terjadi: keluarga kami dikutuk oleh nama marga yang buruk selama turun-temurun.

Aku makin panik saat pengawal di luar kamarku berteriak lantang. “Kaisar Tiba!”

Pintu kamarku tiba-tiba menjeblak lebar. Kaisar Ai berjalan cepat masuk ke dalam kamar dan menyuruh pengawal menutup pintu.

Aku segera berkowtow ketakutan tak berani menatap wajahnya.

“Yang Mulia…” kataku.

“Apakah benar yang dikatakan oleh Kasim Li?” tanya Kaisar pelan. Dia masih berdiri di hadapanku.

“Yang Mulia…” ujarku tertahan. Aku tak berani meneruskan kalimatku karena kalut.

Ucapanku yang serba tanggung membuat Kaisar tak sabar. Dia menarik lenganku hingga wajahku sangat dekat dengan wajahnya. Saat itulah kulihat kemarahan di wajahnya.

“Seandainya kau berbohong, aku pasti akan mempercayaimu. Tapi kau malah ragu menjawab pertanyaanku!” ujarnya tajam.

Tak ada lagi yang aku sembunyikan, “Itu.. benar Yang Mulia. Hamba bersalah,” ujarku sambil meneteskan airmata.

“Mengapa kau lancang, hah? Mengapa kalian berdua lancang? tak tahukah siapa aku ini? Kalian mempermalukan aku!” geramnya.

Aku tak menjawab.

Kaisar Ai kemudian mendorong tubuhku ke atas ranjang.

Dia kemudian menindihku. Wajahnya kemudian mengendus-endus leherku hingga aku merasakan hembusan nafasnya.

“Panglima Zheng pasti sangat terluka ketika melihatku menyetubuhimu malam itu, bukan? dia tak bisa berbuat apa-apa saat aku menikmati tubuhmu…” katanya sambil terus menciumi leherku.

Aku menggigit bibir. Lenganku terasa sakit karena Kaisar menariknya ke belakang dan menekuknya pada punggungku hingga bekas lukaku terasa pedih kembali.

“Itukah sebabnya kau ingin membunuhku, hah? demi cintamu pada Panglima Zheng?” tanya Kaisar.

Aku tak menjawab dan masih meringis.

“Aku ingin tahu perasaan Panglima Zheng malam ini jika dia tahu bahwa orang yang dia cintai harus melayaniku malam ini…” kata Kaisar. Lalu dengan kasar dia merenggut pakaianku dan berusaha membukanya paksa.

“Ampun Yang Mulia..” kataku memohon.

Kaisar tak memedulikan permohonanku. Dia terus merenggut paksa seluruh pakaianku hingga aku benar-benar telanjang.

Kaisar lalu membuka pakaiannya sendiri. Dengan kasar dia menarik bahuku ke belakang. Kudengar dengusan nafasnya yang penuh amarah.

“Akh! Yang Mulia..” jeritku tertahan saat Kaisar mulai menyetubuhiku.

“Kau milikku! Selirku tak bisa disentuh oleh orang lain! kau milikku!” dengusnya penuh emosi.

“Akh.. Ngh..” aku memekik berkali-kali dan tubuhku terlonjak-lonjak saat Kaisar dengan kasar menghujamkan penisnya tanpa belas kasihan.

Kaisar terus menggeram sambil mencengkeram bahuku. Dia melakukan itu untuk menyiksaku sebagai hukuman. Aku hanya bisa pasrah melewati siksaan tersebut. Air mataku kembali mengalir.

Aku terkulai lemah di atas ranjang saat Kaisar selesai. Kemudian dia berpakaian dan keluar dari kamarku. Malam itu aku merasa sangat hancur.

***

Keesokan harinya, aku seperti tak lagi memiliki harapan. Hari ini adalah hari di mana penentuan kapan hidupku akan berakhir. Setidaknya demikian yang aku rasakan. Tak ada satupun anggota keluargaku kuberitahu mengenai insiden semalam. Aku dan Ajudan Zheng dipanggil menghadap Kaisar dan para Menteri. Melihat Ajudan Zheng yang tak kurang suatu apapun membuatku lega. Tampaknya Kaisar tak berbuat apa-apa terhadapnya sebagai hukuman.

“Panglima Zheng. Kau kenal dengan orang yang bernama Xiong Kui?” tanya Kaisar sambil menatap sebuah gulungan kertas.

“Tidak, Yang Mulia,” jawab Ajudan Zheng.

“Seperti namanya*, orang ini bertubuh besar dan kejam. Kalau kau mau tahu, dia adalah pimpinan pemberontak Gunung Utara yang menyerang desa tempat tinggalmu,” kata Kaisar.

Aku melihat Ajudan Zheng membelalak. Tangannya gemetar. Aku tahu penyebabnya. Komplotan orang itulah yang menyebabkan istrinya terbunuh.

“Tampaknya Xiong Kui akan menyerang daerah perbatasan di Jianye. Oleh karena itu, aku akan mengembalikan komando padamu sebagai Panglima untuk membawa pasukan ke sana,” kata Kaisar.

“Siap, Yang Mulia!” kata Ajudan Zheng sambil memberi hormat.

Aku terkejut. Ini tak mungkin! kataku.

“Dan kau Dongxian. Aku ingin kau berjaga di Gao’an membawa pasukan. Walau seperti yang kau katakan bahwa kemungkinan Gao’an diserang sangat kecil dengan benteng alam yang melindunginya, aku tak mau mengambil resiko,” kata Kaisar dingin.

“Si..siap Yang Mulia!” kataku gugup.

Kaisar Ai tersenyum puas.

Jadi ini hukumannya. Hukuman mati terlalu ringan untuk kami berdua. Aku tak akan pernah lupa kata-kata Ajudan Zheng waktu itu. Semangatnya telah hilang bersama arwah istrinya. Memberikannya komando menyerang pemberontak sama saja artinya memberikan kesempatan padanya untuk bunuh diri! apalagi dia kini berhadapan dengan orang-orang yang menyebabkan kematian istrinya. Aku melirik Ajudan Zheng. Kepalanya masih tertunduk. Tubuhnya masih gemetar sambil menatap kosong lantai. Aku tak tahu apa yang dipikirkannya saat ini…

-bersambung-

NANTIKAN EPISODE FINAL SELIR BRONDONG SANG KAISAR. KAPAN? ENGGAK TAHU. KALAU DITENTUKAN KAPAN DAN TERPAKSA POSTING MALAH ENGGAK BAGUS AND SEDIKIT KAYAK BAGIAN 10 INI. HEHEHE.. SABAR YA… JANGAN PAKSA MIMIN. :p

Abang Remy linguini

(*) Xiong berarti beruang.

Suka cerita ini? klik http://wp.me/p2Jz37-5I untuk cara pemesanan Novel berjudul HEART STATION karya penulis yang sama di nulisbuku.com

Advertisements
Comments
  1. Mylor says:

    ini kapan beres nya? I need some horny story!

  2. Wind says:

    Keren bang, wah udah mo tamat ya? Huwaaaa

  3. certain fan from a certain universe says:

    Jangan dipaksain bang … Nunggu season finale itu ada sensasi tersendirinya ….wkakakaka

  4. colby says:

    bagus euy….cara kaisar ngasi hukuman top dah..bukan dengan hukuman mati..tapi secara halus menyuruh mereka berdua bunuh diri…ajudan zheng ke medan perang sementara dong xian ke daerah yang jauh letaknya dari ajudan zheng..

    btw..yang terbongkarnya konspirasi kasim Li kayaknya terlalu cepat ketahuan yah..apa memang di sengaja?

  5. Andde Andde Lummut Komentator Abal2 dan Bowo juga Dufei Komentator Ecek2 says:

    kayaknya enak ngentot’in Selir Dongxian…

  6. herky says:

    saya tunggu min kelanjutan ceritanya…
    BTW cerita “Bercinta dengan kakak ipar part 2” bagian selanjutnya kapan nh min…. seru bgt ceritanya, mengharukan

  7. mark says:

    Kangen cerita polisi…….tapi dong xiang juga seru….jangan lama ya min

  8. vincent says:

    Bang,, ceritanya bisa yang kaya Bapak sma anak gt.. kalo ga temen sekantor.. ini cuma buat ide aja si untuk seri selanjutnya.. hehehe

    Smanget ya Bang!!!! GANBATE!!!!

  9. arif says:

    yg paling kutunggu lanjutan cross story mas bima dll itu.

  10. ordinaryme says:

    ga sabar nunggu yg terakhir.. udh smua crita disini abis dibaca.. malah hampir yg kedua kali hehe..

  11. ayank84 says:

    ini kapan tamatny di posting,sumpah cerita2nya keren,saya suka endingnya ga ketebak

  12. Kenny says:

    Saya sangat menikmati semua cerita disini, salah satunya Selir Brondong Sang Kaisar.

    Keep writing Abang ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s