SELIR BRONDONG SANG KAISAR [Bagian 9]

Posted: April 23, 2014 in Selir Brondong Sang Kaisar
Tags: , , ,

Emperor_gunting9Cerita sebelumnya: Dongxian (18 tahun) diangkat menjadi selir pria utama Kaisar Ai. Walaupun menjadi milik Kaisar, hatinya telah tertambat pada Ajudan Zheng, panglima kerajaan yang menjadi mentornya. Dalam perjalan bersama Kaisar ke pelosok negeri, Dongxian diangkat menjadi seorang bangsawan sekaligus pemimpin feodal provinsi Gao’an. Sayangnya, ketika kembali ke Istana, Dongxian dan rombongannya diserang penunggang kuda tak dikenal.

SUARA derap kuda dua orang penunggang yang mengejarku sudah semakin dekat. Aku hanya memikirkan untuk dapat segera tiba di benteng istana meninggalkan para pengejar itu. Salah satu penunggang kuda itu berhasil menjajarkan kudanya denganku. Aku menoleh mencoba mengenali penunggang kuda yang kini berada dekat denganku. Wajah yang kepalanya tertutup helm itu sama sekali tak kukenali. Tapi aku tahu dia mengincarku. Matanya jelas terlihat bernafsu menjalankan tugas: membunuhku.

Aku terkejut saat penunggang kuda itu mencabut pedangnya dan tanpa ragu mengayunkannya ke arahku. Aku berteriak sambil berusaha menghindar. Untungnya kuda yang kutunggangi berhasil kubuat menghindar darinya lebih jauh. Otakku langsung berpikir. Kawan-kawannya yang lain menggunakan pegangan pedang untuk melumpuhkan rombonganku, setidaknya membuat mereka terjatuh. Tapi orang ini memakai pedangnya berusaha untuk menebasku. Akulah yang menjadi sasaran mereka!

Permainan pedangku belum sempurna. Aku tak bisa mengendalikan kuda sambil menghunus pedang di atasnya. Yang bisa kulakukan hanyalah menghindar dari mereka. Tapi aku tak kurang akal, kugunakan anggota tubuhku yang lain untuk melakukan perlawanan. Ketika penunggang kuda itu lengah, aku mendekati kudanya dan kupukulkan ujung pegangan pedangku tepat pada ulu hatinya hingga dia mengaduh kesakitan. Tak hanya itu, dalam satu kesempatan aku berhasil menendangnya hingga dirinya kehilangan keseimbangan. Aku terus memacu kudaku. Sayang, ketika berhasil meninggalkan penunggang kuda pertama, penunggang kuda lainnya yang ikut mengejarku berhasil menjajarkan kudanya denganku. Aku yang lengah, tak kuasa menghindar ketika ujung pedangnya berhasil melukai lenganku.

Aku berteriak kesakitan. Berkali-kali aku mencoba menghindar saat penunggang kuda itu dengan liar mengayun-ayunkan pedangnya berusaha membunuhku. Aku melihat tumpukan semak-semak di depan. Kupacu kudaku berlari lebih cepat. Ketika aku sudah dekat dengan rerimbunan semak, aku menjatuhkan tubuhku pada semak-semak itu. Aku berguling sambil memegangi lenganku yang mengeluarkan banyak darah. Niatku adalah masuk ke dalam hutan belukar yang akan membuatnya kesulitan mengejarku dengan kudanya. Tapi apa daya, setelah berguling-guling, aku tak sanggup berdiri.

Mengetahui buruannya tak lagi berada di atas kuda, penunggang kuda itu berbalik arah menuju ke tempatku yang tergeletak tak berdaya. Aku pasrah. Inilah saat terakhirku di dunia. Aku sudah siap menjemput maut di tangan penunggang kuda itu.

Tetapi sesuatu terjadi. Penunggang kuda itu terlihat kaget saat terdengar beberapa derap kaki kuda mendekat dan terdengar teriakan seseorang. Buru-buru dia mencoba lari. Ternyata ada dua orang penunggang kuda menyerbu dirinya. Salah satu penyerbu itu langsung mengajaknya bertarung pedang. Penunggang kuda yang menyerangku terlihat kewalahan dan kabur dikerjar penyerbunya. Penunggang kuda satunya menghampiriku. Aku masih waspada karena tak mengenali siapapun yang ada di situ.

“Tuan Muda! Anda terluka!” teriaknya.

Samar-samar aku mengenali suara itu. Dia kemudian turun dari kudanya dan berlari ke arahku. Lalu dirinya berlutut sambil meraih tubuhku.

“Kau berdarah banyak sekali!” katanya.

“A.. Ajudan Zheng..” kataku lirih. Aku merasa lega walaupun kepalaku terasa sangat pening dan kesadaranku semakin menurun.

Ajudan Zheng dengan tangkas mengambil sebuah kain dan mengikat lenganku yang mengeluarkan banyak darah.

Aku mengaduh kesakitan, lenganku terasa berdenyut-denyut. Kesadaranku semakin melemah.

“Panglima! orang itu kabur!” Penunggang kuda yang mengejar penyerangku telah kembali.

“Biarkan saja! Bantu aku dulu mengangkat Selir Dongxian lalu bawa semua korban luka kembali ke istana!” perintahnya.

“Baik, Panglima!” ujarnya sambil turun dari kudanya.

“Bertahanlah! Kau kehilangan banyak darah. Jangan tertidur!” kata Ajudan Zheng sambil memapahku.

“Aku tak bisa menaruh Tuan Muda di depan. Tolong bantu ikatkan dia pada tubuhku supaya aku bisa leluasa menunggang kuda!” perintah Ajudan Zheng pada orang itu.

Dia mengangguk paham. Setelah aku dinaikkan ke atas kuda, disandarkannya tubuhku yang terkulai pada punggung Ajudan Zheng hingga benar-benar rapat. Dengan sebuah kain panjang, dia mengikat tubuh kami berdua untuk memastikan diriku tak akan terjatuh.

“Heaaa!!” teriak Ajudan Zheng memacu kudanya.

Aku menyandarkan kepalaku pada punggung Ajudan Zheng. Kesadaranku semakin menurun. Kupejamkan mata. Kudengar Ajudan Zheng sayup-sayup terus berteriak, “Bertahanlah Tuan Muda! Bertahanlah!”

Aku mencoba bertahan, namun sungguh… matipun tak apa-apa rasanya bila dalam keadaan memeluk Ajudan Zheng begini. Kemudian akupun tak sadarkan diri.

***

“Air…” ujarku serak.

Entah sudah berapa lama aku tertidur. Ketika aku membuka mataku, tenggorokanku terasa sakit dan badanku lemas. Aku tersadar karena lukaku di tangan terasa berdenyut-denyut nyeri.

“Air! Tuan Muda minta Air!” teriak seseorang.

“Dongxian sadar! Anakku sudah sadar!” kata suara seorang perempuan yang kukenali.

Tak lama, aku merasakan bulir-bulir air membasahi rongga mulutku. Segar rasanya. Mataku semakin jelas melihat. Seorang perempuan paruh baya menatapku khawatir. Matanya bengkak seperti habis menangis.

“I..ibu?” tanyaku.

“Anakku.. kau membuat ibumu ini khawatir,” katanya sambil terisak.

Aku melihat ke sekeliling ruangan. Aku sudah berada di  kamarku di Istana Weiyang. Tampak olehku ada ibuku, seorang berpakaian tabib, seroang pelayan pria dan ajudan Zheng.

“Nadinya sudah normal, demamnya pun sudah turun,” kata Tabib itu setelah memeriksa kondisiku.

“Tabib He, apakah anakku akan segera pulih?” tanya Ibu.

“Asalkan obatnya diminum teratur, Tuan Muda akan kembali seperti sedia kala,” kata Tabib He optimis.

Aku melirik ke arah Ajudan Zheng. Wajahnya terlihat lega. Aku mencoba tersenyum ke arahnya untuk mengucapkan terima kasih, namun aku masih terlalu lemah. Akupun kembali tertidur.

***

Dua hari kemudian, aku merasa lebih segar. Lukaku yang dibalut kain sudah tak begitu terasa sakit. Ramuan yang diberikan Tabib He benar-benar manjur mempercepat pemulihan tubuhku. Aku rupanya tak sadarkan diri selama dua hari. Ibuku sudah beberapa lama berada di Istana Weiyang tanpa kuketahui. Dia datang bersama adik perempuanku untuk mengunjungiku ke Istana bulan lalu. Tabib He melarang Ajudan Zheng membicarakan masalah berat dahulu terutama tentang kejadian rombonganku yang diserang oleh pasukan tak dikenal. Namun hari itu Ajudan Zheng ingin membicarakan semuanya. Dia lalu meminta persetujuan Tabib He dan ibuku.

“Baiklah. Tapi jangan buat dia kelelahan,” kata Tabib He sambil pamit.

Ibuku terlihat tak rela dan masih ingin terus menemaniku, tetapi tatapan galak Ajudan Zheng membuatnya menurut untuk keluar kamar.

Setelah kami cuma berdua berada di kamar, Ajudan Zheng duduk di sebuah kursi dekat ranjang. Ajaib. Aku melihatnya tersenyum lebar. Belum pernah kulihat senyum mengembang di wajahnya yang selalu tampak serius itu.

“Maaf Tuan, aku baru sadar bahwa kau terlihat sangat tampan saat tertawa!” pujiku.

Ajudan Zheng terkekeh. Dia kemudian menepuk lenganku. “Aku senang kau bisa pulih kembali. Maafkan aku karena terlambat memberikan pertolongan,” katanya sambil menghela nafas.

“Aku yang harusnya berterima kasih karena kau telah menyelamatkan aku. Beratus-ratus kali aku berkowtow rasanya tak akan cukup,” ujarku.

“Kau mau tahu apa yang terjadi?” tanya Ajudan Zheng serius.

“Berhari-hari ini aku menunggu ada yang mau bercerita padaku. Lalu bagaimana keadaan rombonganku yang lain? apakah mereka baik-baik saja?” tanyaku khawatir.

Ajudan Zheng terdiam beberapa lama. Kemudian dia mulai bercerita.

“Aku sudah mendengar kabar pengangkatanmu sebagai Bangsawan sekaligus Adipati di Gao’an menggantikan Guo Xie setelah kurir Kaisar tiba di istana. Kurir itu juga bilang kalau kau akan lebih dulu pulang kembali ke ibukota. Panglima Wang lah yang memperingatkanku bahwa kemungkinan kau dalam bahaya,” tutut Ajudan Zheng.

“Mengapa?” tanyaku heran.

“Guo Xie sudah dikenal reputasinya sebagai bangsawan korup. Dia memilik banyak pendukung, dan mungkin pendukungnya ada di istana ini pula. Dengan mudah dia akan menyuruh orang untuk membalas sakit hatinya,” jelas Ajudan Zheng.

“Maksud Tuan, Guo Xie adalah dalang penyeranganku?” tanyaku.

“Aku belum tahu pasti. Tapi Panglima Wang mengingatkanku agar tak mengambil resiko. Aku berinisiatif untuk mengawalmu tiba. Kami sudah memperkirakan lama perjalanan rombongan kalian dan berjaga-jaga sejak dua hari yang lalu di perbatasan ibu kota.”

Aku masih menyimak penjelasan Ajudan Zheng.

“Untunglah Permaisuri Fu memberikan izin untuk membawa beberapa pengawal setelah aku jelaskan pada beliau mengenai kekhawatiranku. Dan ternyata benar. Penyerang rombonganmu lebih dulu tiba dan menyerang mendahului kawalan kami,” lanjutnya.

“Rombongan kalian semua selamat. Hanya Menteri Ding saja yang terluka cukup parah. Tapi dia akan baik-baik saja,” kata Ajudan Zheng.

“Syukurlah,” ujarku.

Ajudan Zheng meneruskan.”Itulah sebabnya mengapa aku curiga. Penyerang rombongan kalian sepertinya bukan pasukan pembunuh terlatih. Mereka hanya melumpuhkan rombongan kalian, dan-”

“-menyerang diriku sebagai target utama…” kataku melanjutkan.

“Betul. Membunuh rombongan Kaisar hukumannya sangat berat. Mungkin mereka mencoba berpura-pura sebagai perampok dan membuatmu seolah-olah tewas dalam perkelahian,” ujar Ajudan Zheng.

Tiba-tiba kami berdua dikejutkan oleh teriakan seseorang di luar.

“Permaisuri Fu tiba!”

Pintu kamar kami terbuka lebar. Permaisuri Fu masuk ditemani dua orang dayangnya.

“Hormat kami Yang Mulia!” kata Ajudan Zheng sambil membungkuk dalam. Aku mengikutinya walau dalam gerakan perlahan di atas ranjang.

Permaisuri Fu mengangguk sekilas kemudian berkata, “Kudengar kesehatan Selir Dongxian sudah pulih, jadi aku berinisiatif untuk menjenguk.”

“Terima kasih Yang Mulia, Tabib He merawatku dengan sangat baik hingga kesehatan hamba pulih,” kataku.

“syukurlah,” kata Permaisuri Fu sambil tersenyum.

“Terima kasih pula karena memberikan pengawalan padaku saat kami tiba di ibukota,” kataku penuh hormat.

“Ya. Aku senang bahwa Panglima Zheng dengan sigap mengutarakan kekhawatirannya padaku. Ini tidak bisa ditolerir. Rombongan Kaisar diserang dan ada pejabat sekaligus selir di dalamnya. Aku sudah memerintahkan Panglima Wang untuk melakukan penyelidikan,” kata Permaisuri Fu.

“Terima kasih Yang Mulia! hamba akan ikut membantu!” kata Ajudan Zheng memberi hormat.

Permaisuri mengangguk. Dia menatap agak lama pada Ajudan Zheng seperti sedang menyelidiki sesuatu.

“Baiklah. Aku tidak bisa membiarkan terjadi apapun yang menyebabkan kekacauan di Istana ini. Oleh karena itu, penjagaan di Istana Weiyang akan aku tingkatkan setidaknya sampai Yang Mulia Kaisar tiba dan… Aku minta kau, Panglima Zheng, untuk tinggal di istana ini melindungi selir, kau mengerti?” ujarnya.

Aku terkejut.

“Hamba mengerti. Perintah Yang Mulia akan hamba laksanakan,” kata Ajudan Zheng.

Setelah itu Permaisuri Fu berpamitan meninggalkan diriku berdua dengan Ajudan Zheng. Aku menatap Ajudan Zheng bahagia.

***

Beberapa hari kemudian kesehatanku sudah semakin membaik. Hanya saja, luka di tanganku masih belum sembuh benar dan masih harus dibantu untuk belajar digerakkan supaya tidak bertambah kaku. Ibukulah yang selalu setia menemaniku. Bersama adikku, mereka dengan telaten merawatku walau kadang aku tak tahan dengan kecerewetan ibuku. Aku tak sempat mengobrol banyak dengan Ajudan Zheng yang sesekali menengokku untuk menanyakan kabar karena Ibuku selalu ada di dekatku.

Malam itu, saat semua orang telah terlelap, pintu kamarku terbuka. Aku terlonjak dari atas ranjang. Rupanya Ajudan Zheng yang datang sambil membawa sebuah nampan.

“Ini aku..” desisnya.

Aku bernafas lega.

“Maaf. Tadi siang Tabib He bilang bahwa hari ini pembalut lukamu harus diganti. Aku menyanggupi untuk melakukannya, namun sebaiknya aku menunggu malam untuk bertemu denganmu,” katanya.

Aku tersenyum senang. Kalimat sepanjang itu Ajudan Zheng ucapkan padahal hanya untuk menjelaskan bahwa dirinya merindukanku.

“Terima kasih,” kataku senang.

Ajudan Zheng tersenyum. Kemudian aku membuka pakaianku. Dengan penuh hati-hati, Ajudan Zheng membuka kain yang membalut lukaku. Setelah itu, dengan penuh ketelatenan Ajudan Zheng membasuh lukaku yang memanjang dengan ramuan obat, memastikan seluruhnya telah terbalur sempurna, lalu perlahan dia membalut luka itu dengan kain yang baru. Wajahnya berubah menjadi murung.

“Kenapa Anda terlihat sedih, Tuan?” tanyaku.

“Ah.. aku sedih melihat bekas luka ini. Seandainya aku datang lebih cepat…” sesalnya.

Aku terharu. Kemudian aku meraih wajah Ajudan Zheng mendekat padaku. Kucium bibirnya penuh kelembutan. Aku merindukan pria ini. Aku merindukannya.

Ajudan Zheng membalas ciumanku. Dibiarkannya tanganku saat aku berusaha membuka pakaiannya. Setelah kami berdua sama-sama telanjang, aku membimbingnya untuk bersandar pada dinding. Malam ini aku akan berterima kasih pada Ajudan Zheng dengan caraku, sekaligus memuaskan kerinduanku padanya.

Ajudan Zheng mengerang pelan saat aku menciumi leher dan mencumbu dadanya. Aku mendaratkan ciuman bertubi-tubi bergeser semakin ke bawah. Saat menemukan penisnya, kugenggam batang itu dan kumasukkan ke dalam mulutku untuk membuat Ajudan Zheng merasa senang. Kedua paha Ajudan Zheng menggeliat pelan saat aku semakin intens mengulum penisnya hingga kepalaku naik turun tepat di atas selangkangannya. Ajudan Zheng memegangi kepalaku. Dia menggeram sambil mendesah. Aku senang bisa membuatnya merasa nikmat.

Setelah cukup lama aku memberikan servis pada penisnya, Aku kemudian bangkit menghadap wajahnya. Kemudian aku menurunkan pinggangku dan mengarahkan penisnya yang tegak itu tepat pada anusku.

Aku memekik pelan saat penisnya kubiarkan melesak semakin dalam ketika kuturunkan pinggangku semakin ke bawah. Ajudan Zheng mendesah sesaat lalu mengatur nafasnya. Aku merangkul leher kokoh Ajudan Zheng dengan tanganku. Kucium bibirnya penuh nafsu saat aku mulai bergerak-gerak menaikturunkan pinggangku di atas selangkangannya.

Ajudan Zheng menggeram. Dia mencengkeram pinggangku dan menciumi leherku dengan buas.

“Hhh… hh…” aku terus mendesah sambil pinggangku tak berhenti naik turun hingga penisnya bergerak cepat menghujam anusku berkali-kali.

“Aarrgghh…” Ajudan Zheng mengerang mencoba mengendalikan birahinya yang memuncak. Aku semakin liar mencumbunya. Kukatupkan bibirku dan kujelajahi mulutnya dengan lidahku. Kedua telapak tangannya mencengkeram pantatku dan menahannya. Sambil menggeram dia kini mengambil alih permainan dan menghentak pinggangnya dengan cepat sehingga penisnya keluar masuk anusku dengan liar.

“Hmmmmppfhh…” aku memekik menahan rasa nikmat yang sangat intens sambil terus mencium bibirnya. Kurasakan diriku memancarkan cairan sperma saat sodokan penis Ajudan Zheng berhasil menghantarkanku menuju puncak orgasme. Hentakan pinggang Ajudan Zheng semakin cepat dan buas. Setelah beberapa kali, aku memekik saat dorongan kuat terakhirnya dibarengi oleh cairan sperma yang mengalir pada anusku. Kudengar Ajudan Zheng melenguh panjang. Dadanya naik turun dengan nafas tak beraturan. Kami berdua terengah-engah dan menjatuhkan tubuh di atas ranjang.

Aku memeluk Ajudan Zheng dan dia mengecup keningku lama dan mesra.

***

“Ayo makan sesuap lagi, Nak..” rayu ibu sambil menyodorkan sesendok bubur ke arah mulutku.

Aku menggeleng. “Sudah bu! aku sudah kenyang!” protesku.

“Kau selalu makan sedikit sekali! Membuatku khawatir! bagaimana bisa cepat sembuh?” keluh Ibu.

Aku masih berusaha menolak suapan sendok ibuku pagi itu saat Kasim Li datang mengunjungiku.

“Ah, Selir Dongxian sudah sembuh rupanya. Maafkan aku karena aku baru bisa menjengukmu. Aku mengucapkan selamat atas diangkatnya Anda menjadi Adipati Gao’an yang baru,” katanya sambil membungkuk hormat tanpa bisa menyembunyikan nada kalimatnya yang seperti mengejek.

“Terima kasih, Tuan,” jawabku.

“Nah. Aku mengira kau pasti akan memerlukan staf di sana, jadi aku memberanikan diri untuk mengajukan beberapa nama yang mungkin bisa membantumu dalam hal pekerjaan. Jadi aku harap kau bisa membantuku untuk merekomendasikan nama-nama ini pada Yang Mulia Kaisar,” katanya sambil memberikan sebuah gulungan kertas.

Aku menerima gulungan kertas itu. Kuamati nama-nama yang ada di situ dan menyadari bahwa ini adalah usaha Kasim Li menempatkan orang-orangnya dalam pemerintahan.

“Maafkan aku Tuan. Saya akan memilih orang-orang yang saya percayai,” kataku sambil menyerahkan kembali gulungan itu pada Kasim Li.

Kasim Li tampak gusar. Dia menatapku kesal dan berkata, “Berani sekali kau! tak tahukah kau bahwa dirimu berhutang budi padaku? akulah yang memilihmu untuk dibawa ke istana!”

Ibuku terlihat ketakutan. “Dongxian… ada apa ini..?”

Aku menatap tajam Kasim Li menantangnya. “Aku tak meminta untuk dipilih,”

Kasim Li tampak semakin gusar.

“Kalau kau lupa, Aku masih memegang rahasiamu!” sahutnya.

“Aku tak peduli,” sahutku dingin.

“Dongxian… apakah kau berbuat kesalahan? mengapa Tuan Kasim sangat marah? oh… jangan sampai kau mengkhianati Kaisar dan memberikan Marga buruk untuk keluarga kita… (*)” rengek Ibuku.

“Baiklah. Kalau itu memang maumu. Aku akan terus mengawasimu. Ingat itu!” kata Kasim Li sambil keluar dai kamarku.

“Dongxian…?” tanya ibu sekali lagi. Matanya sudah hampir menangis.

“Sudahlah ibu, tenang saja. Tak apa-apa..” ujarku mencoba menenangkan.

Aku menghela nafas. Aku berharap semoga hal ini tidak semakin rumit saat Kaisar kembali ke Istana…

-bersambung-

Abang Remy linguini

(*) Zaman dahulu, jika seseorang dianggap mengkhianati Kaisar, selain pelakunya dihukum, nama Marga keluarganyapun oleh Kaisar diganti dengan nama Marga yang buruk dan memilik arti yang jelek sebagai hukuman untuk keturunannya.

Suka cerita ini? klik http://wp.me/p2Jz37-5I untuk cara pemesanan Novel berjudul HEART STATION karya penulis yang sama di nulisbuku.com

Advertisements
Comments
  1. arif says:

    pertamax

  2. nurcahyobudi says:

    premium!!!

  3. mark says:

    Mantab………teruskan dan lanjutkan

  4. arya kusuma says:

    Saya pemilik blog http://www.ceritagaypilihan.blogspot.com, mohon maaf yang sebesar – besarnya atas kelancangan saya memposting cerita Anda, tanpa seijin dari Anda. Niat saya hanya ingin menyebarluaskan karya – karya Anda itu, agar lebih banyak lagi yang tahu akan karya Anda yang begitu mempesona ini. Kalau tujuan saya buruk, nggak mungkin saya akan mencantumkan nama Anda & alamat blog Anda sebagai sumbernya, sebagaimana blog / fp yang lain yang tidak mencantumkan nama & blog Anda. Dan saya tidak tahu kalo Anda amat berkeberatan kalo karya Anda dimuat oleh blog / fp yang lain. Untuk itu, saya telah menghapus semua cerita Anda di blog saya. Semoga tidak ada lagi yang terlewati ( tak terhapus ). Apabila memang masih ada cerita Anda di blog saya, mohon untuk menginformasikannya ke alamat emai saya di arya_kusuma27@yahoo.com, nanti pasti saya hapus.
    Sekali lagi, saya mohon maaf atas kelancangan dan ketidaktahuan saya ini. Terima kasih.

  5. richard says:

    niceee.. ditunggu yaa next chapternya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s