SELIR BRONDONG SANG KAISAR [Bagian 8]

Posted: April 21, 2014 in Selir Brondong Sang Kaisar
Tags: , ,

Emperor_gunting8Cerita sebelumnya: Dongxian (17 tahun) dipilih dari sekian banyak pemuda di Negeri Han untuk dijadikan selir Kaisar. Setelah diangkat menjadi selir utama, Dongxian harus berpisah oleh Ajudan Zheng yang dicintainya, Panglima yang menjadi mentornya selama di istana. Hal itu membuat Dongxian hendak berbuat nekad untuk mencoba menghabisi Kaisar di perjalanan. Sayangnya, aksi Dongxian menyembunyikan pisau diketahui Kaisar setelah mereka bercinta.

SELURUH rombongan kerajaan meninggalkan Chenchiang pagi -pagi sekali. Tujuan kami adalah ke arah barat menuju Provinsi Gao’an. Kaisar tak pernah lagi membahas kejadian di kamar ketika dia menemukan pisau belati yang kusembunyikan. Pikiran buruk dan kecemasan melandaku selama berhari-hari perjalanan. Apalagi Kaisar sepertinya menjaga jarak denganku. Beliau yang biasanya bertanya ini dan itu mengenai ketatanegaraan dan ilmu pertahanan untuk sekedar mengujiku, dalam perjalanan kali ini dirinya lebih banyak diam.

Pikiran jelekku sangat beralasan. Aku ingat betul bahwa kecuali pengawal, tak seorangpun di istana diperbolehkan membawa senjata tajam di tubuhnya. Bila tertangkap, maka stempel sebagai pemberontak atau mata-mata akan melekat pada pelakunya. Apabila alasannya membawa senjata dianggap kurang kuat, orang tersebut bisa dipenjara atau dihukum mati. Padahal aku sendiri tahu mengenai ritual hubungan intim Kaisar yang mengharuskan pasangannya masuk ke kamar dalam keadaan telanjang. Tapi Kaisar sempat bilang bahwa kita harus sejenak melupakan protokoler istana dalam perjalanan ini. Apakah menyembunyikan senjata tajam termasuk perbuatan yang bisa dimaklumi?

Provinsi Gao’an dipimpin oleh seorang bangsawan yang sudah sangat tua bernama Guo Xie. Menurut catatan logistik kekaisaran, Gao’an menerima persediaan senjata paling banyak dari pusat dibandingkan daerah lainnya. Selain itu, Guo Xie rajin membuat proposal untuk menyelesaikan benteng pertahanan besar yang sedang mereka kerjakan.

Agak sulit mencari tahu kebenaran penggunaan dana proposal yang dibuat Guo Xie. Kelihatan betul bangsawan itu dikelilingi oleh pendamping setianya yang berusaha menutup-nutupi sesuatu. Seluruh rombongan kekaisaran dijamu oleh pesta tiap malam. Dikerahkannya puluhan wanita cantik untuk menemani para pengawal kekaisaran dan asisten Kaisar.

Di tengah hingar bingar suasana pesta di sebuah aula besar, Kaisar yang duduk di sebuah kursi paling besar di ruangan itu memanggilku. Aku menghampiri Kaisar dengan gugup. Aku masih berpikiran bahwa Kaisar sedang menimbang-nimbang hukuman apa yang akan dia berikan padaku akibat insiden malam itu. Tapi rupanya Kaisar hendak membicarakan hal lain. Dia memperingatkanku agar tak terjebak oleh permainan Guo Xie.

“Kau mabuk?” tanya Kaisar. Dia berkata dengan suara yang hanya bisa didengar oleh kami berdua.

“Tidak Yang Mulia! Hamba dalam keadaan sadar!” tegasku.

“Bagus. Kau lihat semua pengikut Guo Xie? tak ada dari mereka yang benar-benar mabuk. Mereka sudah diperintahkan agar tak terhanyut dalam pesta karena kemungkinan akan membocorkan rahasia pimpinan mereka,” kata Kaisar.

Aku mengangguk paham.

“Bagaimana hasil pengamatanmu?” tanya Kaisar Ai sambil menyesap minumannya dan menyapu seluruh ruangan dengan pandangannya.

“Ampun Baginda. Gao’an adalah daerah yang relatif aman dan terlindung. Negeri ini memiliki benteng alami berupa pegunungan tinggi dan tebing terjal yang sulit ditembus oleh musuh jika menyerang. Hamba tidak mengerti untuk apa Adipati Guo membangun benteng yang besar di sini. Selain itu, hamba belum pernah melihat di mana benteng itu berada,” desisku.

Kaisar Ai mengangguk-angguk sambil mengusap janggutnya tanda dia sedang berpikir. Matanya masih berkeliling ruangan. Kulihat sekilas Guo Xie mengawasi kami berdua sambil berbisik-bisik dengan seseorang di sebelahnya, lalu mereka tiba-tiba terbahak-bahak seolah sedang mabuk berat.

“Carilah di antara mereka yang bisa kau korek informasinya,” perintah Kaisar.

“Baik, Yang Mulia,” ujarku.

Tugas mencari informasi di antara pengikut setia Guo Xie adalah sesuatu yang gampang-gampang sulit. Sulit, karena mereka nampak begitu solid menyembunyikan korupsi di provinsi ini. Bahkan aku belum mendapatkan laporan keuangan mereka yang sepertinya selalu ditunda-tunda untuk diserahkan. Gampang, karena diantara pendukung setia, akan selalu ada satu orang yang memiliki rasa sakit hati. Sekarang tinggal mendeteksi saja mana orang yang memiliki dendam pribadi kepada Guo Xie.

Perhatianku langsung tertuju pada Cui Hu. Saat Guo Xie menyambut kami dan memberikan sambutan, pria berumur itu lebih banyak diam dalam kelompok. Sesekali dia tampak tak peduli dan melirik kesal pada Guo Xie walau berada dalam pihak yang sama. Di pesta inipun demikian. Cui Hu terlihat menjauh dari anak buah Guo Xie yang lain dan memilih menyendiri sambil meminum araknya setengah hati (dia tetap patuh menjaga dirinya agar tak mabuk).

Kudekati pria itu. Awalnya Cui Hu merasa salah tingkah didekati olehku yang sejak awal terlihat sebagai kaki tangan Kaisar. Dia menjadi sangat waspada dengan usahaku bergabung di mejanya menemaninya sendirian.

“Kulihat anda seperti memikirkan sesuatu! ayolah! Gao’an memiliki arak terenak dan aku membuktikannya malam ini! tapi mengapa anda seperti tak bersemangat meminumnya? apakah anda meragukan arak buatan kalian sendiri?” tanyaku sambil berpura-pura mabuk.

“Eng.. Tuan Muda.. maafkan saya, tapi memang saya sedang tak ingin mabuk,” jawab Cui Hu gugup.

“Ayolaah… malam ini begitu indah, mengapa dihabiskan dengan bersikap murung?” sahutku sambil menuangkan minuman pada cangkirnya.

Cui Hu awalnya ragu. Mungkin karena melihat diriku seperti sedang mabuk berat, atau mungkin karena memang suasana hatinya sedang kesal, dia akhirnya menenggak minumannya berkali-kali hingga mabuk.

Pertahanan Cui Hu roboh. Aku mengorek kehidupan pribadinya. Rupanya dia sakit hati karena anak gadisnya diperistri oleh Guo Xie.

“Tua bangka itu mengambil anak gadisku yang paling cantik hanya untuk dijadikan istri muda! padahal.. padahal anakku sudah dijodohkan dengan Liu Chunlin, orang yang akhirnya menjadi sarjana nomor satu negeri ini…” ujar Cui Hu sambil tersedu.

Rupanya Guo Xie memanfaatkan dana pembangunan benteng untuk memperkaya dirinya dan pengikutnya serta mengambil banyak wanita untuk diperistri dan berfoya-foya. Dalam keadaan mabuk pula akhirnya Cui Hu memberitahukan di mana seluruh laporan keuangan yang ditutup-tutupi itu berada. Dokumen-dokumen itu disimpan di rumah salah satu bawahan Guo Xie yang paling setia. Setelah informasi itu kuberikan pada Kaisar, beliau langsung menyuruh tentaranya menggeledah rumah yang dimaksud.

Guo Xie dan para pengikutnya kalang kabut. Mereka langsung melampiaskan kekesalannya pada Cui Hu yang sudah terkapar tak sadarkan diri. Mereka juga berkicau berusaha membela diri masing-masing ketika sadar nyawa mereka terancam. Guo Xie marah bukan kepalang melihat pengkhianatan bawahannya yang membuka satu persatu kebusukan Adipati Gao’an itu di depan Kaisar.

Pagi harinya, Guo Xie dan para pengikutnya langsung dijebloskan ke penjara untuk menunggu proses pengadilan. Istri dan keluarga mereka meraung-raung meminta ampun pada Kaisar. Tapi keputusan Kaisar Ai memang sudah mutlak dan disambut gembira sebagian besar rakyat Gao’an yang selama ini ditindas oleh Adipati Guo. Semua orang yang terlibat dengan Guo Xie diselidiki. Berhari-hari aku sibuk mengumpulkan bermacam-macam data dana yang diselewengkan oleh Guo Xie. Semua laporan carut marut mengenai benteng yang katanya hendak dibangun, ternyata hanyalah sebuah menara rapuh di bagian selatan tak jauh dari rumah-rumah mewah yang dibangun untuk istri-istrinya. Semua orang memuji hasil kerjaku termasuk para penasehat Kaisar yang selama ini mendampingi. Walaupun demikan, aku masih merasa khawatir karena aku sendiri memiliki dosa yang belum jelas hukumannya.

Semua orang bersuka cita. Semua orang berbahagia. Rakyat yang diperas oleh Guo Xie selama ini, datang berbondong-bondong ke puri tempat rombongan kekaisaran menginap sambil membawa hasil bumi dan ternak untuk disumbangkan sebagai bentuk ucapan terima kasih. Kaisar memerintahkan agar seluruh sumbangan itu dimasak untuk dimakan bersama sebagai pesta rakyat bertepatan dengan tanggal 15 saat bulan purnama. Saat yang lain larut dalam pesta, aku sengaja mengurung diri dalam sebuah paviliun sambil memeriksa catatan keuangan Guo Xie. Aku berbuat demikian karena ingin menghindar dari Kaisar. Apa daya, usahaku sia-sia karena Kaisar Ai sendiri yang datang ke paviliunku.

BRAK! pintu ruanganku menjeblak keras dan Kaisar Ai datang sambil tertawa-tawa dan membawa botol minuman.

Buru-buru aku bangkit dan berlutut di hadapannya. “Selamat malam Yang Mulia,” sahutku sambil ber-kowtow.

“Selirku! apa yang kau lakukan? mengapa tidak ikut berpesta?” sahut Kaisar dengan suara keras. Kemudian dia menyuruh pengawalnya keluar dan meninggalkan kami berdua.

“Ampun baginda, hamba hendak menyelesaikan pekerjaan dulu,” kataku tanpa berani menatapnya.

Kaisar berjalan menghampiriku. Dia menarik lenganku hingga aku berdiri. Ditatapnya wajahku. Aku bisa mencium bau arak dari mulutnya. Kaisar Ai sepertinya sedang mabuk.

“Kau tahu malam apa ini? sekarang malam purnama pertama dan aku harus bercinta…” geramnya.

Aku meneguk ludah. “Ya.. Yang Mulia… Anda sedang mabuk..” kataku.

“Permaisuri Fu tak ada di sini, begitu pula ratuku yang lain. Berarti, selirkulah yang harus memuaskanku malam ini,” geramnya lagi sambil mendekapku.

Kaisar melempar botol minumannya. Dia kemudian memeluk tubuhku dan menciumi leherku. Aku berusaha menepis lengannya namun tenaga Kaisar lebih kuat. Tangannya merobek bajuku hingga aku memekik. Ditariknya bajuku dengan paksa dan penuh nafsu. Nafas Kaisar memburu.

“Kuharap kau tak menyembunyikan senjata lagi malam ini,” geramnya sambil terus berusaha melepas seluruh pakaianku.

Kaisar terus mendorongku ke arah meja. Cumbuannya semakin kasar.

“Hentikan dulu semua pekerjaanmu! Hari ini kau harus layani aku!” ujarnya sambil mendorong semua dokumen yang ada di atas meja ke lantai.

“Yang Mulia… hamba tak ingin melanggar tabu. Malam purnama pertama adalah hak permaisuri…” kataku mengingatkan.

Kaisar tak menggubris protes dari mulutku.Tak ada pilihan lain bagiku selain mengikuti keinginannya.

Kaisar memaksaku untuk rebah di atas meja. Dengan terburu-buru dia membuka jubahnya dan pakaiannya. Aku menatap matanya yang memandangku dengan ekspresi kemarahan.

Dia menindihku kembali sambil terus mencumbu wajah, leher, dan dadaku. Mungkin karena pengaruh arak, cumbuan Kaisar terasa lebih beringas dan kasar. Kaisar lalu menarik kakiku hingga kedua pahaku merapat pada perut dan dadanya. Dilingkarinya kedua kakiku pada pinggangnya. Aku berusaha menyeimbangkan tubuhku dengan berpegangan pada meja.

Aku memekik kesakitan saat tanpa aba-aba Kaisar langsung menghujamkan penisnya pada anusku. Tubuhku menggeliat protes. Lenganku mencengkeram erat pinggiran meja tulis.

“Ngg… Yang Mulia..” erangku. Aku menggigit bibirku menahan sakit. Gerakan Kaisar semakin kasar. Kudengar dia menggeram sambil terus mempercepat gerakannya. Aku melengkungkan punggungku dan mencengkeram lengannya sambil dia terus melakukan penetrasi kasar berkali-kali.

Aku meringis kesakitan. Sementara itu Kaisar mengerang, melenguh dan menggeram seolah-olah sedang menghukumku. Tak cukup puas melakukannya di atas meja, Kaisar kemudian mengangkat tubuhku dengan penisnya yang masih menancap pada anusku. Tubuhku dibantingnya dan kemudian Kaisar melanjutkan gerakannya di atas ranjang. Lebih cepat dan lebih liar.

Aku mengerang hampir menangis. Kaisar menggeram dan membekap mulutku dengan mulutnya dan menciumku paksa. Lidahnya dia biarkan liar menjelajah rongga mulutku hingga aku merasakan dadanya menekan dadaku. Aku melebarkan kakiku untuk mengurangi rasa sakit akibat penetrasi bertubi-tubi yang dilakukan Kaisar. Lama kelamaan, tenagaku terkuras. Tubuhku melemah, kurasakan air mata meleleh dari mata kananku. Saat itulah Kaisar berbisik di telingaku.

“Tak pernah ada yang pernah menolakku sebagai seorang Kaisar. Semua yang kupilih dengan rela menyerahkan jiwa dan raganya padaku.. Tapi mengapa engkau, selirku… hanya raga saja yang kau berikan. Ke mana jiwamu?” tanyanya.

Aku tak menjawab. Aku memejamkan mataku berusaha menghindari tatapannya.

“Rupanya aku terlambat… terlambat memiliki jiwamu…” gumam Kaisar. Dia lalu menyelesaikan permainannya. Tubuhku terlonjak beberapa kali dan akhirnya terkulai lemas tanpa bergerak. Tubuh Kaisar bergulir ke sisiku dan dirinya langsung tertidur pulas.

Aku tak berdaya. Aku merasa seakan-akan hanyalah tinggal nyawa dalam sebuah tubuh yang tak lagi berguna. Ajudan Zheng.. Maafkan diriku. Yang tersisa dariku hanyalah jiwa yang mencintaimu…

***

Esoknya, dengan sisa tenaga yang ada, aku menyelesaikan seluruh tugasku. Kaisar menerima laporanku dengan puas. Aku tak bisa menyembunyikan rasa sedih dari wajahku, namun tampaknya Kaisar tak memedulikan itu. Di hadapan seluruh penasihat dan pejabat kerajaan, Kaisar Ai berbicara mengenai masa depan Gao’an dan merevisi kebijakan-kebijakan yang ada.

“Dan oleh karena itu, aku, Kaisar Ai mengangkat Dongxian sebagai Bangsawan Hou dan menjadi Adipati di Gao’an mulai hari ini!” katanya lantang.

Aku terkejut bukan main. Seluruh orang kerajaan yang berkumpul di ruangan itu ikut terkejut. Aku yang baru saja genap berusia delapanbelas tahun, sudah diangkat menjadi pemimpin salah satu provinsi paling makmur di negeri ini.

“Yang Mulia! Hamba tidak pantas! Hamba tidak pantas!” ujarku gugup sambil berlutut dan ber-kowtow berkali-kali di hadapan Kaisar.

“Sekretaris Luo, apakah kau sudah mencatat keputusanku?” tanya Kaisar pada salah satu stafnya.

“Sudah, Yang Mulia,” kata Sekretaris Luo sambil menyerahkan gulungan kertas yang dipegangnya kepada Kaisar.

Setelah Kaisar Ai membubuhkan stempel, diserahkannya kembali gulungan itu.

“Suruh kurir untuk mengirimnya ke Istana. Adipati Dongxian akan tinggal bersamaku selama beberapa hari lalu kembali ke istana lebih dulu,” lanjut Kaisar.

Aku tak kuasa menolak saat Kaisar menyuruhku berdiri untuk dinobatkan sebagai adipati baru. Kaisar menyerahkan medali kenegaraan sebagai tanda bahwa diriku adalah penguasa feodal baru provinsi Gao’an. Seluruh hadirin bersorak menyambut keputusan Kaisar.

***

Kaisar kembali mendatangiku malam harinya. Dalam keadaan setengah mabuk, dia tertawa gembira.

“Mari kita merayakan diangkatnya kau sebagai Adipati Gao’an yang baru…” katanya sambil merangkulku dari belakang.

“Kau harus melayaniku hingga purnama ketiga, setelah itu kembalilah lebih dulu ke istana,” gumamnya sambil mulai mencium leherku.

“Yang Mulia… hamba merasa benar-benar belum pantas dengan jabatan baru itu…” kataku pelan.

“Hmm… kau cerdas, jujur, kuat, dan teguh pendirian. Kau meragukan keputusanku?” gumam Kaisar.

Aku tak menjawab. Lalu kubiarkan Kaisar melakukan apapun yang dia mau karena menginginkan tubuhku kembali malam itu.

***

Aku berangkat meninggalkan Gao’an dua hari kemudian. Ditemani beberapa pengawal dan dua orang staf kerajaan, kami pergi setelah berpamitan pada Kaisar yang akan terus melanjutkan perjalanan.

Sesungguhnya aku merasa bahagia karena bisa segera bertemu kembali dengan Ajudan Zheng. Tapi bagaimana caranya menyampaikan hal pengangkatanku sebagai adipati di Gao’an padanya? Bayangan diriku harus tinggal di daerah yang jauh dari istana membuatku kembali resah.

Aku duduk di dalam sebuah kereta kuda. Sebenarnya aku malas menggunakan kereta ini karena jumlah rombongan kami hanya sedikit. Perjalanan kembali ke istana akan lebih cepat jika kami semua mengendarai kuda.

Setelah berhari-hari perjalanan, akhirnya salah satu pengawal memberitahukanku bahwa ibu kota telah dekat.

“Kita akan tiba sebelum malam, Tuan Muda!” sahutnya.

Kami meneruskan perjalanan. Namun tiba-tiba pengawal yang berkuda di depanku berteriak.

“Pemberontak! Pemberontak! Awas Serangan!!” teriaknya.

Aku yang panik langsung melihat ke luar. Bunyi derap kaki kuda semakin cepat meninggalkan debu-debu di belakang kami. Saat itu sudah sore. Apabila yang dikatakan pengawal itu akurat, seharusnya kami sedikit lagi sudah tiba di ibu kota.

Selain derap kaki kuda rombongan kami, rupanya ada belasan suara kuda lagi mendekat dengan cepat. Mereka membaur ke dalam rombongan. Aku terkejut saat salah satu penunggang kuda berpakaian serba hitam itu mengeluarkan pedangnya dan memukulkan pegangannya pada pengawalku yang berkuda paling depan hingga terjatuh dari kudanya. Kuda yang ditunggangi pengawal itu menjadi panik ketakutan dan ringkikannya membuat dua kuda penarik keretaku menjadi semakin tak terkendali.

Aku berinisiatif untuk keluar dari kereta sambil meraih pedangku. Kusir kereta berteriak memperingatkan agar aku tak keluar.

“Tuan! berbahaya! biar kami lindungi!” teriaknya.

Aku mengabaikan peringatannya. Rupanya rombongan kami tercerai berai. Setelah melumpuhkan pengawal satunya dan dua orang staf menteri yang terjungkal dari kudanya masing-masing, empat penunggang kuda lainnya memburu kereta kami.

Aku lalu naik ke sebelah kusir dan naik ke salah satu kuda penarik kereta.

“Ayo naik!” perintahku pada kusir.

Kusir kereta kemudian membuang cemetinya dan naik ke kuda penarik satunya. Dengan sekali tebasan pedang, aku memutus tali pengikat antara kuda dengan kereta dan memacu kudaku berlari lebih cepat.

“Hea!!” teriakku.

“Berpencar!!” perintahku pada kusir. Kami kemudian berpisah arah. Dua penunggang kuda mengejar kusir kereta sementara dua lainnya terus memburuku. Aku bingung. Siapakah yang mencoba menyerangku ketika aku kembali ke istana.

Kutolehkan kepalaku ke belakang, dan kulihat kedua penunggang kuda itu semakin mendekat…

-bersambung-

Abang Remy linguini

Suka cerita ini? klik http://wp.me/p2Jz37-5I untuk cara pemesanan Novel berjudul HEART STATION karya penulis yang sama di nulisbuku.com

Advertisements
Comments
  1. Andde Andde Lummut Komentator Abal2 dan Bowo juga Dufei Komentator Ecek2 says:

    suruhan Kaisar….

  2. ilyas says:

    Kenapa novel nya yg ini kurang mantap, kurang gereget. Haha

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s