SELIR BRONDONG SANG KAISAR [Bagian 7]

Posted: April 18, 2014 in Selir Brondong Sang Kaisar

Emperor_gunting7Cerita sebelumnya: Dongxian (17 tahun) dipilih dari sekian banyak pemuda di Negeri Han untuk dijadikan selir Kaisar. Walau dirinya telah diangkat menjadi selir utama, perasaanya yang lebih kuat terhadap Ajudan Zheng tak bisa disembunyikan. Sayangnya, hubungan terlarang mereka diketahui oleh Kasim Li sehingga mereka tak bisa berbuat banyak. Belakangan Dongxian ditugaskan menemani Kaisar dalam perjalanan jauhnya sehingga dirinya harus berpisah cukup lama dengan Ajudan Zheng.

KEBERSAMAAN aku dan Ajudan Zheng hanya tinggal hitungan hari sebelum aku pergi menemani Kaisar dalam tugasnya mengelilingi Negeri. Sejak pertemuan terakhir malam itu di kamar Kaisar, aku belum pernah bertemu kembali dengannya. Seandainya aku memiliki kekuasaan untuk memprotes keputusan Kaisar, pasti sudah kulakukan dan kudatangi kediaman Kaisar sekarang juga.

Ajudan Zheng lain lagi. Dia yang biasanya sangat pintar menyembunyikan emosinya sehingga terlihat tenang, semakin hari semakin nampak gelisah. Perubahan sikapnya itu membuatku sedikit senang. Dibalik kekakuan wajahnya, ternyata dirinya cemas juga memikirkan akan berpisah denganku. Beberapa kali dia tampak tak bersemangat menjelaskan hal-hal mengenai pertahanan di perbatasan dan supply senjata dari Istana.

Bagaimana dengan Kasim Li? Diapun tampak sibuk mempersiapkan segala sesuatunya yang harus aku bawa. Menurutnya, aku akan didampingi oleh beberapa asisten dan juga membawa kereta kuda sendiri.

“Tugasmu tak hanya menemani Yang Mulia Kaisar, tapi juga harus mengamati semua hal yang beliau kerjakan dan memberikan pendapat,” kata Kasim Li.

“Saya mengerti. Panglima Zheng sudah memberitahuku semua rincian tugas yang harus kulakukan,” ujarku.

“Inilah sebenarnya guna pelatihan yang kau dapatkan. Tak semua bangsawan di perbatasan itu layak menempati posisi mereka sebagai Hou. Tingkat keamanan di perbatasan berbeda-beda. Kaulah harus bisa mempelajari mana pejabat yang terlalu tua, mana yang harus diberikan prioritas senjata pertahanan, mana yang harus memberikan pajak mereka paling besar kepada negara,” lanjut Kasim Li.

Aku mengangguk paham.

“Nah. Karena semua tampaknya sudah siap, jangan lupa menghadap Permaisuri Fu sebelum berangkat karena beliau memintamu secara khusus bertemu dengannya,” pungkas Kasim Li.

“Baik, Tuan.”

***

Ketika kesibukan di Istana Weiyang mulai mereda, aku kembali ke kamarku. Aku memerhatikan sebuah kotak kecil berukir yang berada di meja. Perlahan kubuka penutupnya dan melihat di dalamnya ada sebuah belati yang tersarung dengan gagangnya yang berkilau.

Kuraih belati itu dan mengamatinya sambil terus berpikir. Saat itulah aku dikejutkan oleh sebuah suara. Buru-buru aku menyembunyikan belati itu pada sabuk di balik jubahku.

“Tuan Dongxian,” kata Ajudan Zheng yang ternyata sudah ada di dalam kamarku.

Aku berbalik menghadapnya sedikit terkejut.

“Maafkan saya, saya menunggu di sini sampai semua orang pergi,” katanya sambil berjalan ke arahku.

Aku menghampirinya. “Terima kasih,” ujarku.

“Untuk apa?” tanya Ajudan Zheng.

“Terima kasih telah menemaniku selama ini. Terima kasih pula karena dari wajahmu aku tahu dirimu sama tak relanya bila kita berpisah,” kataku.

Ajudan Zheng menunduk salah tingkah sambil berdeham sedikit. Pria ini amat kaku. Tak bisa menyuarakan isi hatinya padaku. Tapi ekspresi wajah dan tingkah lakunya sudah mengatakan semuanya.

“Ehm, aku.. aku juga begitu,” ujarnya gugup.

Aku kemudian berinisiatif untuk memeluknya. Ajudan Zheng kemudian merangkul pinggangku. Rupanya dia merasakan sesuatu di dalam jubahku. Dia lalu memaksa untuk melihatnya.

“Apa ini? mengapa kau selipkan belati di dalam jubahmu? kau tahu kan? selain petugas keamanan semua orang tak diperbolehkan membawa senjata di tubuhnya dalam istana!” katanya sambil mencabut belati itu.

“Itu…” kataku gugup.

“Kau mau dianggap sebagai mata-mata?!” hardik Ajudan Zheng.

Kemudian dia membanting belati itu di atas meja. “Apa yang mau kau lakukan dengan itu?” tanya Ajudan Zheng.

Aku menatapnya. Diam tak mau menjawab.

Rupanya Ajudan Zheng menangkap maksud lain dari diamnya diriku sehingga dirinya seperti menyadari sesuatu.

“Apakah kau akan…?” tanya Ajudan Zheng sambil membelalakkan matanya.

“Aku tak bisa berpikir hal lain! Kupikir jika tidak sedang dalam istana, aku bisa menyelundupkan pisau itu ke dalam kamar!” sahutku.

“Apa Kau ingin mati?!” bentak Ajudan Zheng.

“Aku tak punya alasan lagi untuk hidup. Aku tidak tahu apakah bisa bertemu kembali dengan keluargaku. Dan kini aku harus berpisah dari anda dan selamanya menjadi milik Kaisar…” kataku.

“Anak bodoh..! bukankah aku pernah bilang padamu? selama nyawa belum terlepas dari raga, kita masih bisa mengubah nasib…” kata Ajudan Zheng sambil mendekapku.

Wajahku kubenamkan pada bahunya.

“Dulu semangatku hilang ketika istriku meninggal. Aku tak mau merasakan hal yang sama lagi jika terjadi apa-apa denganmu,” bisiknya.

Aku mendekapnya semakin erat. “Maafkan aku.”

***

Hari itu aku kembali mengunjungi Permaisuri Fu. Setelah berbasa-basi dan pelayan meninggalkan kami berdua, aku menunggunya dalam diam untuk mendengarkan apa yang akan dia ucapkan.

Permaisuri Fu kemudian bangkit dari duduknya. Dia mengambil sebuah kotak yang diletakkan seorang pelayan saat kami berdua berbincang-bincang.

“Ini adalah obat-obatan Kaisar. Walau asisten istana berkata akan memastikan Yang Mulia menjaga kesehatannya, aku yakin mereka tidak akan berani memaksa beliau rutin meminumnya. Untuk itu, aku percayakan hal ini pada engkau, Selir Dongxian,” ujar Permaisuri Fu sambil mendorong kotak itu ke arahku.

Aku kemudian ber-kowtow sambil berujar,”Hamba Selir hina ini merasa terhormat mendapat kepercayaan dari Yang Mulia Permaisuri.”

“Kau tahu, Selir Dongxian? ada pepatah mengatakan, Tiga ce* dari kepalan, ada suratan dewa. Takdirku sejak kecil sudah ditentukan oleh keluargaku untuk menjadi istri penguasa negeri ini. Siapapun dia orangnya. Aku tak bisa berbuat banyak, hanya saja aku memilih untuk mengabdikan hidupku pada Kaisar. Membantunya, menguatkan semangatnya, dan selalu mendukungnya. Aku tak pernah bertemu dengan pria lain. Mungkin naif rasanya bila aku bilang akhirnya aku mencintainya. Tapi itulah kenyataannya,” jelas Permaisuri.

Aku diam mendengarkan.

“Aku memutuskan untuk menerima beliau apa adanya. Bila dia ternyata menyukai wanita lain… atau pria… aku tetap mendukungnya. Jadi aku meminta padamu untuk merawat beliau dengan baik,” katanya tegas.

“Hamba akan laksanakan permintaan Permaisuri,” kataku sambil membungkuk.

Permaisuri Fu adalah seorang bangsawan yang dididik sejak kecil hingga menyerap seluruh tradisi negeri ini dan membentuknya menjadi sosok yang anggun dan berwibawa. Tak salah memang bila dirinya menjadi seorang Permaisuri. Perkataan bahwa dirinya mencintai Kaisar walaupun sebenarnya mereka dijodohkan, seolah memberi peringatan padaku bahwa aku tak boleh menjalankan niat burukku mencelakai Kaisar. Aku tahu aku egois. Aku mengasihani diriku yang terpisah dari Ajudan Zheng, pria yang kucintai sementara Kaisar memiliki istri yang mencintainya. Apa jadinya bila aku menukar kebahagiaanku tanpa memedulikan perasaannya?

Hari keberangkatan tiba. Aku dan Ajudan Zheng saling membungkuk memberi hormat untuk berpamitan. Tujuan pertama kami menuju provinsi Chenchiang di tenggara. Berhari-hari dalam perjalanan kami, Kaisar tak nampak berinisiatif untuk dekat denganku. Semua orang tahu, statusku adalah seorang selir yang artinya aku adalah ‘istri’ beliau yang dibawa dalam perjalanan. Tapi rupanya Kaisar menganggapku lebih dari sekadar seorang pendamping. Dia mengujiku beberapa kali dengan pertanyaan mengenai keadaan di Chenchiang. Kaisar meminta pendapatku apakah bangsawan di provinsi itu masih pantas menduduki jabatannya atau tidak. Kaisar juga menanyakan pendapatku mengenai perlu-tidaknya istana mengirimkan persediaan tambahan. Dengan ilmu yang kudapat untuk melakukan segala perhitungan, aku memberikan masukan kepada Kaisar.

Tampaknya Kaisar cukup puas dengan jawabanku dan segera mengeluarkan kebijakan baru atas masukan dariku. Hal itu membuat beberapa pejabat di daerah yang selama ini diuntungkan atas kebijakan lama tampak segan dan tidak menyukai diriku. Tapi aku tak peduli. Aku di sini menjalankan tugas untuk kepentingan Negara dan Kaisar.

Aku sudah dua minggu lebih berada di Chenchiang. Selama itupun aku tidur terpisah dengan Kaisar yang memiliki kamar khusus serta pengawalan tersendiri. Walau aku menyanggupi permintaan Ajudan Zheng dan perkataan Permaisuri Fu untuk tidak meneruskan rencana bodohku melukai Kaisar, aku tetap membawa belati itu bersamaku.

Malam itu aku terkejut saat seseorang mengetuk kamar penginapanku. Saat kubuka, ternyata Kaisar Ai sudah berada di luar kamarku. Aku buru-buru berlutut memberi hormat.

“Maafkan Hamba, Yang Mulia! Hamba tidak tahu Yang Mulia akan datang sehingga tidak berpakaian pantas,” kataku.

“Bangunlah. Kau tidak sedang berada di Istana. Lupakan sejenak mengenai protokoler Istana,” perintah Kaisar sambil melangkah masuk.

Aku menuruti perintahnya dan buru-buru menutup pintu kamar. Aku lihat di luar ada dua atau tiga orang pengawal berjaga-jaga.

“Hari ini aku sangat lelah,” kata Kaisar sambil merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Baru aku sadar, dirinya hanya memakai baju dengan jubah tidurnya sehingga tampak santai.

“Apakah Yang Mulia membutuhkan sesuatu? Biar kupanggilkan pelayan untuk menyiapkan air panas atau yang lain,” kataku berinisiatif.

“Tidak usah. Kemarilah! aku hanya ingin beristirahat,” ujarnya sambil memanggilku.

Dengan ragu aku menghampirinya. Kaisar lalu menyuruhku berbaring di dekatnya. Aku menuruti keinginannya dengan gugup. Aku berbaring dengan kaku di sampingnya. Kudekap dadaku dengan dua tanganku dan mataku menatap kosong langit-langit kamar.

“Aku berterimakasih padamu atas pendapat-pendapatmu. Senang rasanya ada orang yang benar-benar bekerja dan tak hanya menjilat,” ujarnya.

“Terima kasih, Yang Mulia! hamba melakukan itu untuk kepentingan negara!” ujarku tegas.

Kaisar tak menjawab. Dia mengulurkan jubahnya dan meletakkan tangannya di atas dadaku. Aku bisa merasakan matanya menatap wajahku namun aku tak berani membalas tatapannya.

Kurasakan Kaisar mulai menciumi wajahku. Aku tetap diam saat dia melakukan itu. Tangannya berusaha merangkul pinggangku dan mendekatkan tubuhku padanya, namun aku tetap diam. Aku tahu ini semacam pemberontakan. Penolakan keinginan Kaisar di atas ranjang bisa membuahkan hukuman mati. Tapi aku tak peduli. Yang kupikirkan hanyalah Ajudan Zheng. Aku akan menolak permintaannya walau aku harus mati.

Setelah berusaha membangkitkan gairahku namun tak berhasil, Kaisar memandang wajahku yang diam dengan ekspresi tak rela. Dia mendengus sesaat dan kembali telentang menjauhkan tubuhnya dariku. Aku berusaha menahan diri dan tetap tenang walau sebenarnya diriku merasa kalut dan takut. Tak lama kemudian Kaisar tertidur pulas. Selama hampir sejam aku tetap berusaha terjaga. Tak ingin Kaisar melakukan sesuatu padaku saat aku tidur. Namun karena kelelahan seperti dirinya, akupun ikut tertidur.

***

Paginya aku terbangun. Sadar bahwa semalaman aku tidur bersama Kaisar membuatku terlonjak khawatir bahwa Kaisar telah berbuat sesuatu padaku. Tetapi rupanya dugaanku salah. Pakaianku tetap utuh. Kaisar sudah tak ada lagi di sisiku namun aku mendapati potongan kain jubah yang dikenakan Kaisar semalam berada di bawah punggungku.

“Sudah bangun?” tanya Kaisar. Dia duduk agak jauh dari ranjangku sambil memandang ke arah lukisan yang ada di dinding. Dia memegang cangkir teh yang harumnya membuatku terbangun.

“I..iya.. maafkan Hamba yang tidak sopan membiarkan Yang Mulia bangun lebih dulu,” kataku.

Saat itu aku melihat Kaisar masih mengenakan jubahnya. Tetapi bagian lengan kirinya terbuka lebar seperti terpotong. Aku buru-buru meraih kain yang bermotif sama dengan jubah Kaisar.

“Ya.. Yang Mulia.. Mengapa anda merobek jubah anda?” tanyaku bingung.

“Kau terlihat begitu damai saat tertidur. Aku tidak sampai hati membuatmu terbangun,” jawab Kaisar.

Aku tertegun kebingungan.

“Yang Mulia… anda tak perlu.. eh..” ujarku gugup.

Tiba-tiba aku merasa egois. Aku tersentuh dengan perlakuan Kaisar yang begitu lembut. Entah apa yang ada di pikirannya hingga selir biasa seperti aku pantas dia perlakukan seperti itu. Aku langsung menjatuhkan tubuhku dan bersujud di hadapannya. Tak ada kata-kata yang bisa kuucapkan.

Kaisar kemudian menghampiriku. Dia mengangkat tubuhku sehingga dadaku menekap pada tubuhnya. Kali ini aku pasrah dengan tindakannya. Kaisar mencium bibirku. Awalnya aku tak tahu harus berbuat apa. Namun akhirnya aku membalas kecupannya. Bahuku bergetar. Aku tak bisa menghilangkan bayangan Ajudan Zheng dari kepalaku. Tapi aku berusaha fokus pada Kaisar.

Kaisar mulai melepas pakaianku. Dia kembali mencium bibirku. Setelah beberapa saat, Kaisar melepas ciumannya dan menatap mataku.

“Aku tak mengerti, pertama kali aku melihatmu aku sudah merasa terikat denganmu. Entahlah…” katanya.

Kubiarkan Kaisar saat dia kembali mendekapku. Didorongnya tubuhku kembali ke atas ranjang. Ditindihnya aku dengan hati-hati. Kubantu Kaisar melepas jubah yang bagian lengannya sudah terpotong. Kembali aku menggumam saat Kaisar mencium leherku. Kurangkulkan lengangku pada lehernya yang kokoh. Kulit kami saling bergesekan ketika kami berdua selesai melepas pakaian kami. Telapak tangan Kaisar yang kasar mengusap pahaku beberapa kali hingga dengan refleks aku menekan pinggangnya dengan kedua kakiku.

Kulengkungkan punggungku agar Kaisar leluasa meraihku dalam pelukannya. Lengannya yang kuat bertumpu pada ranjang sedangkan lengan satunya merangkul pinggangku semakin erat. Aku dan Kaisar masih terus berciuman. Tak ada kata-kata yang keluar selain gumaman-gumaman dari mulut kami.

“Hhh…” aku mendesah saat Kaisar menciumi dadaku.

Kaisar kemudian membalik tubuhku. Ditindihnya perlahan punggungku sambil telapak tangannya meraih pundakku dan meremasnya.

“Ungh..” aku mengerang saat Kaisar mulai melakukan penetrasi menggunakan penisnya. Tapi tak seperti malam pertama kami, kali ini dia melakukannya dengan lembut dan lebih berhati-hati. Saat aku menggeliat karena merasa sakit, Kaisar menghentikan gerakannya. Dia menciumi punggungku dan mengusapnya hingga aku merasa rileks.

Setelah aku bisa mengatur nafasku, Kaisar melanjutkan usahanya. Aku mengerang karena merasakan pedih namun aku terus menguatkan hatiku agar Kaisar tanpa ragu mendorong penisnya semakin dalam. Kugigit bibirku saat penis Kaisar sepenuhnya berhasil dia tanamkan.

Kaisar diam selama beberapa lama agar aku terbiasa dengan penisnya yang kini sudah menancap pada anusku. Kutolehkan kepalaku hingga aku bisa memandang wajahnya. Kuberikan dia tatapan sayu sebagai persetujuan kepasrahanku padanya. Kaisar kemudian mencium bibirku penuh nafsu. Dan aku membalas cumbuannya sambil menggumam.

“Akh!” Aku memekik saat Kaisar mencengkeram bahuku dan menarik penisnya keluar walau tak seluruhnya dan dihujamkannya lagi dengan cepat.

“Nggghh… Yang Mulia…” suaraku bergetar seiring dengan tubuhku yang terlonjak-lonjak ketika pinggul Kaisar mulai bergerak mengantarkan penisnya keluar masuk di dalam anusku.

Kaisar tahu, erangangku bukan lagi suara kesakitan. Kurasakan penisku sendiri mulai menegang ketika perlahan rasa pedih itu sirna berganti sensasi menyenangkan saat batang penis Kaisar bergerak dalam sebuah alunan irama kebutuhan pemuasan nafsu yang menggejolak dalam tubuhnya.

Mengetahui diriku juga terangsang, Kaisar semakin mempercepat gerakannya.

“Ah…” desahku sambil mendongakkan kepala. Telapak tangan Kaisar semakin kuat mencengkeram dua bahuku. Aku kembali menoleh. Kulihat wajah Kaisar begitu bersemangat. Dari bibirnya keluar geraman dan erangan sementara gerakan pinggulnya semakin ganas.

Aku mulai kehabisan nafas. Peluhku membasahi tubuh. Kulihat badan Kaisar pun sudah mengilap karena keringat. Aku sangat terangsang menikmati hentakan demi hentakan penisnya dalam anusku. Aku mengejan, mengerang, mendesah dan menggeliat setiap kali Kaisar berhasil menghujamkan penisnya dalam-dalam hingga tubuhku terus terlonjak-lonjak.

Kaisar lalu mengangkat tubuhku sedikit hingga tercipta sebuah ruang antara perutku dan permukaan ranjang. Hal ini membuatnya leluasa menggenggam penisku dan mulai mengocoknya.

“Ung.. Baginda…” Aku mengerang memprotes dirinya yang tanpa peringatan mulai mengocok penisku. Aku berusaha meraih telapak tangannya mencoba membuatnya mengocok penisku lebih lambat dan pelan. Namun Kaisar tak menggubrisnya. Dikocoknya terus penisku yang sudah sangat tegang itu. Mulutku mengeluarkan erangan-erangan yang memenuhi ruangan. Kaisar menggeram sambil mempercepat kocokannya saat mengetahui diriku sudah hampir mencapai orgasme. Dua rangsangan yang dirasakan tubuhku, satu dari tekanan tanpa ampun pada prostatku oleh batang penis Kaisar dan genggaman tangannya pada penisku membuat aku merasakan ledakan orgasme yang sangat intens. Aku mengerang panjang sambil melengkungkan punggungku yang tegang saat kusemprotkan cairan sperma berkali-kali ke atas sprei.

“Ouuuhhh…..” pekikku panjang.

Setelah itu tubuhku lemas. Sambil terengah-engah wajahku tersungkur ke atas ranjang. Kutarik sprei sambil terus menahan pinggangku yang masih terus bergerak-gerak karena penetrasi Kaisar yang tenaganya seolah tak ada habisnya. Aku terus mendesah-desah sebagai pemberitahuan kepada Kaisar bahwa aku masih menikmati permainannya.

Beberapa lama kemudian Kaisar semakin mempercepat gerakannya. Ditariknya rambutku saat tubuhnya dia condongkan pada tubuhku hingga aku bisa merasakan kedua putingnya yang keras menekan punggungku.

Kaisar menggeram. Aku melenguh panjang saat Kaisar menarik rambutku semakin kuat dan telapak tangan satunya meremas pundakku hingga terasa sakit. Dengan tiga hentakan akhir yang sangat kuat, Kaisar menggeram panjang dan memuntahkan cairan spermanya berkali-kali. Tubuhnya bergetar. Nafasnya memburu. Kami berdua terjatuh di atas ranjang sambil terengah-engah. Diciuminya punggungku ketika Kaisar mulai bisa mengontrol nafasnya. Aku yang keletihan tak kuasa menahan kantuk dan kembali tertidur.

***

Entah sudah berapa lama kami berdua tertidur. Lagi-lagi Kaisar bangun lebih dulu dan sudah berpakaian. Jubahnya yang sobek tak lagi dia kenakan.

“Bersiaplah. Hari ini kita akan menyelesaikan kunjungan dan pergi ke tempat lain,” kata Kaisar.

Aku melihat diriku yang masih telanjang. Setelah bisa menguasai diri, aku meraih pakaianku. Betapa terkejutnya aku saat menyadari bahwa diriku sebelumnya masih menyembunyikan belati di dalam pakaianku, namun kini belati itu entah berada di mana.

Sadar dengan kebingunganku, Kaisar kemudian berkata, “Aku bersyukur kau tak jadi membunuhku semalam. Pisau itu kugunakan untuk memotong jubahku.”

Aku terkejut.

“Yang Mulia.. pisau itu…” aku tak bisa meneruskan kalimatku. Saat itulah kulihat pisau itu telah tergeletak di atas meja. Pandanganku beralih pada Kaisar. Aku yakin dia bisa melihat ketakutanku.

-bersambung-

(Abang Remy Linguini)

ce: satuan panjang Cina. Kira-kira 30 sentimeter.

Suka cerita ini? klik http://wp.me/p2Jz37-5I untuk cara pemesanan Novel berjudul HEART STATION karya penulis yang sama di nulisbuku.com

Advertisements
Comments
  1. Ariez10 says:

    Bagus Mas ceritanya, alur nya gak bikin bosen, dan yg sya suka cerita nya ga dibuat buat / berlebihan,, lanjutkan mas, sangat ditunggu kelanjutannya..

  2. arif says:

    hm.. hm..

  3. mark says:

    Semakin penasaran dan sangat romantis

  4. imalove says:

    Suka bngt ma critanya ….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s