SELIR BRONDONG SANG KAISAR [Bagian 6]

Posted: April 10, 2014 in Selir Brondong Sang Kaisar

Emperor_gunting6Cerita sebelumnya: Dongxian (17 tahun) dipilih dari sekian banyak pemuda di Negeri Han untuk dijadikan selir Kaisar. Beberapa peristiwa menyebabkan dirinya terpilih oleh Kaisar untuk menemaninya. Sementara itu, kedekatan Dongxian dengan Ajudan Zheng membuatnya merasa serba salah ketika Kaisar memutuskan dirinya menjadi Selir Pria utama.

KEPUTUSAN Kaisar untuk memindahkanku ke Istana Weiyang membuat orang-orang yang berada di sekelilingku ikut sibuk. Kasim Li terlihat bersemangat untuk mengatur kompleks Istana yang tidak pernah ditempati oleh siapapun itu agar bersih dan tertata rapi. Aneh, menurutku seharusnya Kasim Li bersedih karena dia kehilangan mandat Kaisar untuk mencari selir pria ke seluruh negeri. Tapi mungkin juga dia merasa lega. Usianya sudah cukup tua untuk melakukan perjalanan jauh berkeliling dari desa ke desa. Selain itu, dia tidak lagi harus repot-repot mengurus selir-selir pria yang lain setelah Kaisar memerintahkan Kasim Li untuk memulangkan mereka. Intinya, belum pernah kulihat wajah Kasim Li begitu bersinar bahagia seperti sekarang ini.

Posisi selir utama setara dengan posisi Ratu kedua atau tepat di bawah permaisuri. Posisi Ratu kedua setahuku dari pelajaran yang diberikan oleh Kasim Li, mendapat perlakuan dan hak yang sama dengan Perdana Menteri walau tak memiliki hak untuk mengambil keputusan soal negara. Oleh karena itu, jumlah pelayan dan staf yang melayaniku juga semakin bertambah. Sepertinya tak henti-hentinya Kasim Li datang ke Istana Weiyang membawa segala macam barang seperti perabotan ataupun pakaian dan ssesorisnya yang entah kapan bisa kugunakan.

Walaupun sepertinya dia bangga dengan keberhasilannya membawaku ke posisi selir utama mengingat diriku adalah hasil temuan dan didikannya, tapi ketegangan itu masih ada di antara kami. Meski Kasim Li tak pernah mengungkit-ungkit masalah hubungan perselingkuhanku dengan Ajudan Zheng, tapi aku tahu dia masih mengingat betul hal itu. Itulah sebabnya, dia menugaskan Ajudan Wang yang jelas tampak setengah hati dengan tugas barunya mengajariku segala macam teknik militer dan strategi pertahanan kerajaan agar menjauhkan aku dari Ajudan Zheng yang entah berada di mana sekarang. Untuk apa aku mempelajari hal itu? aku sendiri tidak mengerti. Kupikir tugas seorang Selir hanyalah bagaimana harus bersikap bila tamu-tamu kerajaan datang, dan melayani Kaisar sebaik-baiknya di atas ranjang.

“Jangan lupa persiapkan dirimu untuk menemui Permaisuri Fu sore ini. Walau beliau tidak mengundangmu, tapi kewajibanmulah untuk datang ke kediaman beliau untuk menyampaikan hormat sebagai selir baru,” kata Kasim Li sambil melihat sebuah gulungan catatan yang dipegangnya.

Siang itu aku baru saja selesai belajar mengenai taktik perlindungan di perbatasan bekerja sama dengan para Hou (gelar kebangsaan setingkat Markuis yang diberikan Kaisar kepada pemilik tanah di perbatasan).

“Baik Tuan,” jawabku.

Kasim Li menghela nafas. “Sebenarnya aku malas mengingatkan hal ini, tapi kuharap kau sudah paham mengenai keputusanku mengganti Ajudan Zheng dengan Ajudan Wang sebagai pembimbingmu,” katanya.

Aku diam saja. Terus terang, aku ingin tahu keberadaan Ajudan Zheng. Apakah Kasim Li sudah membuatnya keluar dari istana atau bahkan menghukumnya? Aku tak berani bertanya pada Ajudan Wang. Dia adalah tipikal orang yang tak ingin ditanya-tanya selain masalah pelajaran. Kasim Li? dia sudah tahu bahwa antara diriku dan Ajudan Zheng telah terjadi sesuatu sebelum aku dipilih oleh Kaisar. Aku tak ingin membuatnya gusar, tapi aku memilih untuk nekad bertanya.

“Tuan… kemana Ajudan Zheng?” tanyaku.

Kasim Li mendadak tak bergerak. Dia menoleh ke arahku. Tatapannya menyelidik.

“Kalau kau mau tahu, dia masih hidup. Setelah perbuatan kalian, dia sungguh beruntung masih kubiarkan hidup. Aku tidak tahu sedalam apa perasaanmu kepadanya, Tapi jika dia mati, aku tak mau menanggung resiko kau juga akan menyusulnya. Kalau begitu, tamatlah aku!” sahut Kasim Li.

Mendengar penjelasannya, aku sedikit lega. Aku kemudian membungkuk berterima kasih pada Kasim Li. “Terima kasih Tuan,” kataku.

Kasim Li mendengus pelan. Dia lalu memerintahkan aku agar bersiap-siap karena sepertinya Permaisuri Fu memajukan jadwal pertemuan kami setelah seorang utusannya datang ke Istana Weiyang tak lama setelah pembicaraan kami selesai.

Kediaman Permaisuri Fu sungguh indah. Terakhir kali bertemu dengan Permaisuri adalah ketika beliau mendatangiku untuk memintaku secara resmi melayani suaminya. Kedatanganku disambut oleh beberapa pelayan wanita yang mengantarku ke ruang pertemuan beliau.

Aku masuk ketika Permaisuri menyuruhku untuk duduk di hadapannya.

“Dongxian memberi hormat kepada permaisuri,” kataku sambil membungkuk dalam-dalam.

“Bangunlah,” perintahnya.

Aku mengikuti perintah Permaisuri Fu. Walaupun aku sudah menegakkan tubuhku, aku tak berani memandang wajahnya. Sekilas aku bisa melihatnya berpakaian sangat indah. Wangi khas padang rumput dengan campuran berbagai macam bunga tercium dari tubuhnya.

“Aku pribadi mengucapkan selamat atas diangkatnya kau menjadi selir utama,” kata Permaisuri.

“Terima kasih Yang Mulia,” balasku penuh hormat.

“Aku harap kau bisa menyesuaikan diri dengan kehidupan istana mengingat asal-usulmu… yang terbiasa bebas. Mungkin lebih mudah bagi pria untuk bisa menyesuaikan diri karena kemungkinan besar Baginda Yang Mulia akan sering-sering mengajakmu mengikuti kegiatannya, sesuatu yang tidak biasa dilakukan oleh selir wanita,” jelasnya.

“Hamba mengerti Yang Mulia,” kataku.

“Bagaimana pelajaranmu? Kasim Li membuatmu repot?” tanya Permaisuri Fu sambil mengambil cangkir berisi teh dari atas nampan.

“Tidak Yang Mulia. Kasim Li sangat membantuku dengan segala macam urusan, termasuk masalah pendidikan yang dipegang oleh Ajudan Wang. Hanya saja…” kataku.

“Ada apa?” tanya Permaisuri.

“Maaf kelancangan hamba, Yang Mulia. Hanya saja.. hamba telah terbiasa dengan pendidikan yang diberikan oleh Tuan Zheng. Tuan Wang berdedikasi tinggi, namun saya merasa segala macam pelajaran dapat hamba serap lebih baik apabila diajarkan oleh Tuan Zheng,” kataku nekad.

“Baru kali ini aku mendengar seorang murid meminta secara khusus pengajarnya kepadaku,” ujar Permaisuri Fu.

“Maafkan kelancangan hamba Yang Mulia, tapi hamba mohon apabila Yang Mulia Permaisuri bisa melakukan sesuatu..” kataku sambil membungkuk dalam-dalam.

“Lalu mengapa aku harus membantumu…?”

Permaisuri Fu menghentikan kalimatnya saat aku mendongak memberanikan diri menatap matanya. Dia menangkap kilatan penuh permohonan yang muncul di mataku. Kilatan itu yang membuatku tak perlu menjelaskan semuanya pada Permaisuri Fu yang agung.

Memiliki kedudukan tinggi, Permaisuri Fu yang berasal dari keluarga bangsawan sudah sadar bahwa takdirnya adalah menjadi istri sah seorang Kaisar yang memiliki kekuasaan di negeri ini. Dia juga sadar kelak dirinya harus berbagi dengan puluhan bahkan mungkin ribuan wanita lainnya yang menjadi selir suaminya. Walaupun demikian, hatinya tetaplah hati seorang perempuan. Berbagi dengan wanita lain saja mungkin sudah menyakitkan walau semuanya tak dia tunjukkan dengan jelas, apalagi bila suaminya ternyata juga mengambil selir seorang pria.

Oleh karena itu, tatapan itu tak ragu lagi menjelaskan segalanya. Mengapa aku meminta agar Ajudan Zheng kembali menjadi mentorku padanya. Dalam hati Permaisuri Fu tahu, bahwa aku, yang membungkuk di hadapannya, tak menginginkan hati Kaisar menjadi miliknya. Hatiku sudah kuserahkan kepada orang lain dan itu membuatnya sedikit lega.

“Baiklah. Kalau itu memang bisa mempercepat daya serapmu mengikuti pendidikan, mungkin akan kuusahakan…” jelas Permaisuri Fu dengan tenang.

“Terima kasih Yang Mulia! terima kasih!” kataku sambil ber-kowtow tiga kali di hadapannya.

“Kuperingatkan padamu mengenai Istana Weiyang, Selir Dong. Sejak aku masuk Istana ini aku pernah mendengar bahwa tembok di istana itu memiliki telinga. Kau harus tahu itu,” ujarnya sambil meneguk kembali tehnya.

“Hamba mengerti Yang Mulia,” kataku lagi.

***

Aku kembali ke Istana Weiyang dengan perasaan bahagia. Bahagia namun sekaligus khawatir dengan reaksi Kasim Li jika Permaisuri benar-benar akan mengintervensi keputusannya dengan mengembalikan Ajudan Zheng menjadi mentorku.

Tak butuh waktu lama. Tiga hari kemudian Kasim Li datang ke Istana dengan wajah masam. Dia lalu memerintahkan pelayannya keluar dari kamarku hingga tinggallah kami berdua saja.

“Apa yang telah kau katakan pada Permaisuri, hah?” semburnya.

Aku mencoba tetap bersikap tenang. “Hamba hanya memberi masukan kepada Yang Mulia Permaisuri bahwa hamba merasa lebih bisa menerima pelajaran dari Ajudan Zheng,” kataku.

“Sembarangan meminta perlakuan khusus padahal kau baru saja diangkat menjadi selir!” kata Kasim Li marah.

“Jika Tuan Li keberatan, anda bisa menceritakan segalanya kepada Baginda Kaisar ataupun Permaisuri mengenai hal-hal yang anda tahu mengenai aku dan Ajudan Zheng,” kataku sambil membungkuk hormat.

“Hati-hati dengan keinginanmu Dongxian! aku bisa membuangmu dan Panglima Zheng ke tempat yang lebih hina daripada penjara!” ancam Kasim Li.

“Ajudan Zheng pernah bilang, semangatnya telah hilang bersama arwah istrinya. Hamba pun tak punya keinginan hidup lagi sejak diriku terpenjara di istana ini. Tapi hamba yakin, kau masih membutuhkanku di sini. Entah untuk apa, jadi hamba mohon… kabulkanlah keinginan hamba yang satu ini,” ujarku tenang sambil membungkuk dalam-dalam kepada Kasim Li.

“Kau ini..!” cetus Kasim Li geram sambil menunjuk wajahku dengan jarinya.

Tetapi firasatku benar. Kasim Li juga tak ingin terseret masalah jika hal yang diketahuinya ternyata sampai ke telinga Kaisar. Tentunya diapun akan dipertanyakan mengapa tak memberitahukan kepada Kaisar apa yang telah diketahuinya sejak lama. Dia mendengus kesal dan keluar dari kamarku.

***

“Selamat pagi Tuan Dongxian! Aku Ajudan Zheng Jiageng siap membimbing anda menggantikan Panglima Wang,” kata Ajudan Zheng sambil membungkuk padaku. Protokoler istana yang telah mengangkat kedudukanku setara dengan perdana menteri membuat Ajudan Zheng harus memberikan hormat padaku.

“Selamat pagi Tuan Zheng! terima kasih atas kesediaannya untuk mengajariku mulai hari ini,” kataku membalas penghormatannya. Terus terang, aku tak bisa menyembunyikan senyumku hingga membuat Kasim Li yang melihatnya terlihat kesal.

Tapi tentu saja aku tidak bisa bebas mengekspresikan kerinduanku pada Ajudan Zheng hari itu. Sesekali di tengah penjelasannya dalam pelajaran, Ajudan Zheng terlihat mengembangkan senyum bahagianya. Dia tampak lebih kurus sejak terakhir kali aku melihatnya. Rupanya Kasim Li menempatkan dirinya untuk mengurus administrasi persediaan senjata. Ajudan Zheng yang merupakan ‘orang lapangan’ tentu merasa tertekan diberikan tugas di belakang meja seperti itu.

Ketika pelajaran selesai, aku dan Ajudan Zheng kembali ke Istana. Setelah beberapa obrolan formal, Ajudan Zheng berpamitan ingin kembali ke tempatnya.

“Tinggallah sebentar, Tuan Zheng,” pintaku.

Ajudan Zheng menoleh padaku. Di kamar itu tinggallah kami berdua.

“Tuan Dongxian, aku harus kembali…” kata Ajudan Zheng ragu.

“Permaisuri bilang, Istana ini memiliki telinga. Aku harap mereka tidak bosan mendengar ungkapan kerinduanku padamu,” kataku sambil menghampirinya.

Ajudan Zheng diam mematung. Dia menatap mataku sayu. Pembawaannya yang kaku membuatnya kesulitan mengungkapkan perasaannya. Tapi aku bisa melihat kerinduan yang sama di matanya.

“Ini salah, Tuan..! salah…!” protesnya. Tapi Ajudan Zheng tak beranjak dari tempatnya dan membiarkanku mencium bibirnya.

Dia menarik nafas panjang. Dipejamkannya matanya sambil membalas ciumanku. Aku meletakkan telapak tanganku pada wajahnya dan menatapnya penuh kesedihan.

“Masih maukah kau bersamaku bahkan setelah aku menyerahkan diriku pada Kaisar?” tanyaku lirih.

Ajudan Zheng tak menjawab. Lama dia menatapku dengan pandangan sedih. Kemudian tanpa menjawab dia mulai mendekapku. Dipeluknya tubuhku erat-erat sambil mencium bibirku dengan penuh semangat. Aku menjadi luruh seperti es yang mencair saat musim semi tiba dalam pelukannya. Kurangkul Ajudan Zheng dan membimbingnya menuju ranjangku. Dia membantuku melepaskan jubahku dan seluruh pakaianku. Dengan lembut aku membimbingnya melepas seluruh pakaiannya. Membuat kulit kami bersatu menghapus kerinduan.

Saat Ajudan Zheng melakukan penyatuan dengan tubuhku. Aku tak tahan mengalirkan air mata. Bukan karena sakit, tapi aku teringat lagi malam itu saat aku menyerahkan diriku pada Kaisar di depan matanya. Kecewa, pedih, karena tak bisa kuserahkan jiwa ragaku pertama kalinya kepada pria yang telah mengambil hatiku.

Dengan lembut Ajudan Zheng mengusap air mataku paham dengan kekhawatiranku. Dibenamkannya wajahnya pada leherku seolah ingin menunjukkan padaku bahwa dia masih menginginkanku walau apa yang terjadi. Akupun tenggelam dalam pelukannya.

***

Beberapa hari kemudian, Kasim Li datang dengan membawa pembalasan dendamnya padaku. Dipanggilnya aku dan Ajudan Zheng setelah sesi pelajaran menggunakan senjata selesai hari itu.

“Dengan ini aku memberitahukan bahwa Yang Mulia Kaisar akan melakukan kunjungan ke daerah-daerah perbatasan untuk mengeratkan kembali hubungan dengan para Hou (Markuis) untuk menindaklanjuti adanya bahaya serangan pemberontak yang bersembunyi di negeri tetangga,” katanya pongah sambil membawa gulungan kertas dan bertingkah seolah-olah dirinyalah Kaisar yang membaca langsung keputusan itu.

“Dan oleh karena itu, Kaisar memtuskan akan mengajak serta Selir Dongxian agar mengetahui kondisi di perbatasan secara langsung,” pungkas Kasim Li sambil menggulung kembali kertas pengumuman itu.

“Selir Dongxian, dengan senang hati kuberitahukan bahwa anda, akan mendapat kehormatan menemani Baginda selama kurang lebih tiga bulan,” kata Kasim Li sambil tersenyum sinis. Matanya sekilas menatap Ajudan Zheng, haus untuk melihat reaksinya.

Tiga bulan? aku dan Ajudan Zheng saling bertatapan.

-bersambung-

(Abang Remy Linguini)

Suka cerita ini? klik http://wp.me/p2Jz37-5I untuk cara pemesanan Novel berjudul HEART STATION karya penulis yang sama di nulisbuku.com

Advertisements
Comments
  1. fitra says:

    Kapan yg ke7?min gbnyk sex2 nya episod ini yah

  2. certain fan from a certain universe says:

    Love the details….glad you’re slowing down the sex pedal…keep up the good work monsieur remy! šŸ˜‰

  3. arif says:

    . . . .

    *aku masih setia baca lho bang

  4. pastapass says:

    Bung Remy!
    Saya jatuh cinta pada cerita ini! Bukan hanya alur ceritanya, tapi juga pemilihan kata-kata dan pendalaman karakter tokoh-tokoh di sini. Seperti membaca cerita literatur Tiongkok. šŸ™‚
    Keep up the superb work šŸ™‚

  5. Luvosjiro says:

    So damn cool.. Keren banget nih di episode yg ini..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s