SELIR BRONDONG SANG KAISAR [Bagian 5]

Posted: April 6, 2014 in Selir Brondong Sang Kaisar

Emperor_gunting5Cerita sebelumnya: Dongxian (17 tahun) dipilih menjadi selir kaisar. Selama di istana, dirinya menjadi dekat dengan Ajudan Zheng, mantan panglima perang istana yang menjadi mentornya. Suatu hari, terbongkarnya skandal perselingkuhan Qian Qi (penyair) dengan Liao Juwei, salah satu selir kaisar, malah membuat semakin besar kesempatan Dongxian terpilih menemani kaisar di ranjang. Di lain pihak, Dongxian diam-diam menyukai Ajudan Zheng.

HARI dimana aku meninggalkan Ajudan Zheng di pinggir sungai adalah hari terakhir aku melihatnya. Keesokan harinya, Kasim Li sudah memerintahkan agar aku dan selir pria lainnya dipingit. Dalam masa menunggu keputusan Kaisar, aku berusaha tidak mengingat-ingat terus sosok Ajudan Zheng. Walau aku kecewa karena dirinya seolah membantu ‘menjerumuskanku’ ke pelukan Kaisar, tetap saja ada perasaan ingin bertemu dengannya kembali.

Peraturan di istana adalah, ketika Kaisar telah memilih siapa yang akan menemaninya pada malam ketiga purnama, maka Permaisuri sendiri yang akan mendatangi selir tersebut untuk memintanya secara pribadi. Ini dilakukan untuk menekankan status Permaisuri sebagai istri sah Kaisar dan bahwa dirinyalah yang memegang kekuasaan.

Dua hari kemudian, aku dikejutkan oleh pengumuman kedatangan Permaisuri ke bungalow kami para selir Pria. Terus terang, aku berlum pernah melihat kaisar dan istrinya seumur hidupku. Bahkan sejak tinggal di istana, tak ada satupun momen yang membuatku bisa melihat wajah kaisar selain juga dikarenakan peraturan yang ketat.

“Tuan, segera rapikan pakaian anda, mungkin saja Yang Mulia Permaisuri akan mengunjungi kamar anda!” desis seorang pelayan yang wajahnya terlihat cemas dan membetulkan pakaian dan jubahku di dalam kamar.

“Permaisuri tiba!” teriak seorang pengawal ketika pintu utama istana selir terbuka lebar.

Pelayan itu menyuruhku bersujud ke hadapan pintu kamar yang tertutup bersamanya. Suasana mendadak hening. Mungkin selir-selir yang lain melakukan hal yang sama denganku.

Walaupun wajahku mencium lantai, aku bisa mendengar beberapa langkah kaki berjalan di lorong. Dengan penuh antisipasi aku mendengarkan. Jantungku serasa berhenti berdetak ketika langkah-langkah kaki itu terdengar berhenti di depan pintu kamarku. Aku meneguk ludah beberapa kali. Saat pintu terbuka aku terkesiap. Dua atau tiga orang masuk ke kamarku. Kucium aroma wangi seperti gabungan bermacam bunga yang tercampur sempurna dan terbawa embusan angin di sebuah padang rumput. Aku menduga, seseorang yang aroma tubuhnya seperti ini pastilah orang yang amat penting.

Aku tak berani mengangkat tubuhku sebelum mendengar perintah lebih lanjut. Suara seorang wanita yang lembut namun tegas terdengar menyuruh keluar orang-orang yang berada di kamar.

“Keluarlah,” kata suara wanita itu lagi. Dan pelayan yang tadi bersujud bersamaku, bangkit lalu tergesa-gesa keluar.

“Bangun,” titahnya.

Aku tak ingin dianggap membantah olehnya sehingga perlahan aku bangkit dari sujudku. Aku hanya berani melihat sekilas. Di depanku telah berdiri seorang wanita anggun berjubah sangat bagus lengkap dengan mahkotanya. Wajahnya cantik, tubuhnya menguarkan aroma sama yang kucium beberapa saat yang lalu. Kemudian wanita itu berjalan menuju kursi bundar berlapis beludru merah indah yang ada di tengah ruanganku. Sejak aku memakai kamar ini, aku selalu bertanya-tanya untuk apa kursi tanpa sandaran yang bagus itu diletakkan? aku sendiri tidak pernah berani duduk di atasnya, karena entah mengapa aku selalu berpikir bahwa kursi itu hanya untuk orang tertentu saja yang boleh mendudukinya. Kasim Li pun saat berkunjung ke kamarku tidak pernah duduk di kursi itu. Sekarang aku tahu alasannya.

“Aku ke sini karena Yang Mulia kaisar telah memutuskan untuk memilihmu sebagai selir yang akan menemani beliau. Dengan ini, aku, Permaisuri memintamu secara pribadi untuk bersedia menemani beliau,” katanya.

“Terima kasih Yang Mulia Permaisuri,” jawabku sambil membungkuk penuh hormat. Aku sudah diberitahu tentang protokoler permintaan resmi Permaisuri jikalau sewaktu-waktu terpilih, dan bagaimana caranya aku harus menjawabnya.

Kemudian aku merasakan Permaisuri memperhatikanku. Aku menjadi sangat gugup. Kubayangkan dirinya yang anggun, memiliki kekuasaan, namun demi ‘tradisi’ dia merelakan dirinya menjalani aturan istana yang mengharuskannya berkunjung dari kamar selir satu ke kamar lainnya untuk meminta secara resmi mereka yang akan berbagi ranjang dengan suaminya.

“Aku sudah melhat dan membaca lukisan yang ditulis Qian Qi tentangmu. Aku berkeras untuk melihatnya karena insiden yang terjadi kemarin… membuatku harus memastikan bahwa apa yang ditulisnya tidak ada yang dilebih-lebihkan atau dikurangi,” lanjutnya merujuk peristiwa skandal antara Qian Qi dengan Liao Juwei yang berujung pada konspirasi usaha mereka meloloskan Juwei sebagai selir pilihan Kaisar.

“Bahwa dirimu digambarkan seperti ‘keindahan Yunyang, gagah seperti bukit yang menjulang namun dihiasi keindahan lembah yang paling hijau di seluruh negeri’ menurutku Qian Qi tidak melebih-lebihkan dalam hal ini,” kata Permaisuri lagi.

“Terima kasih Yang Mulia,” aku merespon penuh hormat pada pujiannya.

“Pesanku padamu, Yang Mulia Kaisar memiliki tanggung jawab sangat besar kepada negara. Aku bisa merasakan Yang Mulia akan sangat tertarik padamu, jika itu benar-
” Permaisuri menarik nafas, kemudian melanjutkan, “aku minta agar kau jangan membuatnya sampai malas bangun untuk melakukan tugas kenegaraan beliau. Aku pamit dulu,” katanya sambil bangkit dari tempat duduk.

“Terima kasih sarannya, Permaisuri,” kataku sambil kembali bersujud.

Setelah beliau pergi, barulah aku merasa sedih.

***

Sejak menjadi selir yang terpilih untuk menemani Kaisar, Kasim Li mendadak sering datang ke kamarku. Dia bercerita tentang kebiasaan seksual Kaisar. Selama ini Permaisuri memang satu-satunya istri resmi beliau yang diperbolehkan bermalam di kamar Kaisar hingga pagi hari. Selain Permaisuri, Kaisar harus menyudahi permainan ranjangnya pada tengah malam. Saat itu, Kasim yang berjaga di luar akan mengingatkan bahwa waktunya sudah habis. Jika dalam tiga kali Kaisar tak merespon, maka Kasim berhak masuk ke dalam kamar Kaisar dan memboyong selirnya keluar. Ini dilakukan agar tak mengganggu tugas negara kaisar keesokan harinya.

Seperti yang pernah Kasim Li ceritakan, selir yang terpilih harus masuk ke dalam kamar Kaisar dalam keadaan telanjang demi alasan keamanan (menyembunyikan senjata tajam misalnya). Dibantu dua orang kasim bertubuh kuat, Selir terpilih akan digendong pada pundak kasim tersebut hingga ke atas ranjang. Kasim akan memberikan jubah pada selir dan tetap di kamar sampai kaisar tiba.

Birahi Kaisar pun sulit ditebak. Kasim Li berkata, Kaisar memiliki ramuan tersendiri selain makanan khusus untuk menjaga staminanya. Umumnya Kaisar selalu dalam keadaan berstamina walau kadang-kadang jika melihat selirnya sangat menggugah selera, dia langsung menyetubuhi selir itu di atas punggung kasim yang harus dengan segera membungkuk dalam keadaan telanjang dengan empat kaki dan tangan di lantai seperti anjing.

Malam purnama ketiga telah tiba. Sejak sore hari, aku sudah diboyong ke istana utama tempat kaisar beristirahat. Aku ditempatkan pada sebuah kamar yang letaknya tak jauh dari kamar tidur Kaisar. Kasim Li berulangkali memperingatkanku agar aku tak membuat kesalahan atau melakukan hal-hal yang membuat Kaisar marah, atau seluruh pencapaian untuk ‘mendapatkan kemuliaan tertinggi’ akan sia-sia.

“Biasanya selir lain dengan senang hati melayani Yang Mulia Kaisar, penuh kebahagiaan. Itulah sebabnya, jangan sampai kau menunjukkan penolakan atau Kaisar bisa sangat marah,” kata Kasim Li.

Aku hanya diam mendengarkan penjelasannya.

“Sebagai mentor, sudah sepantasnya Ajudan Zheng ikut melihat pencapaian muridnya hari ini,” kata Kasim Li sambil tersenyum senang. Dadanya dia busungkan tinggi-tinggi.

“Pelayan, tolong panggil Ajudan Zheng,” perintahnya.

Baru saja pelayan itu hendak pergi, tiba-tiba pintu kamar terbuka. “Tak perlu! aku sudah di sini,” kata sebuah suara yang kukenal: Ajudan Zheng.

Aku terkesiap. Ingin rasanya diriku menoleh ke belakangku untuk menatap wajahnya menuruti rasa rinduku yang membuncah. Tapi aku menahan diri.

“Nah! akan sangat baik bila salah satu kasim yang mengantar Selir Dongxian ke kamar baginda digantikan oleh anda, Ajudan Zheng,” kata Kasim Li sambil menyeringai.

Aku terkejut. Apa maksudnya? Kemudian aku berbalik dan langsung bertatapan dengan Ajudan Zheng yang ekspresinya sama terkejutnya denganku.

“Tuan! apa maksud anda?” protes Ajudan Zheng keras sambil berjalan menuju Kasim Li berdiri.

“Kalian pikir aku tidak tahu yang kalian lakukan? Aku mengagumi dirimu ‘Panglima’ Zheng, tapi kelancanganmu mendekati selir baginda sebelum waktunya tiba membuatku marah,” kecam Kasim Li.

Mendengar perbuatan kami ternyata telah diketahui oleh Kasim Li, aku menunduk malu. Kulihat Ajudan Zheng salah tingkah sambil mengepalkan tinjunya.

“Aku tidak bisa menghentikan perasaan dua ekor burung walet yang sedang memadu kasih bukan? untunglah, aku masih memaafkan kalian karena tindakan kalian belum terlalu jauh. Dongxian masih perjaka… aku tahu itu. Dan aku melihat potensi dari anak itu yang mungkin akan berguna bagi Kaisar nanti,” lanjut Kasim Li.

“Sebagai hukumannya, dan sebagai penegasan bahwa kau akan merelakan Dongxian menjadi milik Kaisar seutuhnya, kuputuskan bahwa kau yang akan mengantarnya malam ini!”

BRUK! aku langsung berlutut di depan Kasim Li.

“Tuan! hukum aku tuan! batalkan rencana malam ini.. beritahukan pada Yang Mulia Kaisar bahwa aku telah membuat skandal. Hamba rela mati!” ujarku sambil bersujud di depan Kasim Li.

“Aku siap melaksanakan perintah Tuan Li,” kata Ajudan Zheng sambil membungkuk.

Aku bangkit dan menatap mata Ajudan Zheng tak percaya.

“Tuan Zheng! Kasim Li sudah tahu! buat apa kita berpura-pura lagi? Jangan lakukan ini!” pintaku.

“Aku akan membuktikan bahwa perkataan Kasim Li tidak benar. Aku tak pernah berniat untuk mengambil apa yang menjadi hak milik Yang Mulia. Aku akan melaksanakan tugas itu…” kata Ajudan Zheng.

Kasim Li tersenyum puas. Kemudian dia memerintahkan agar aku melepas pakaianku untuk diganti dengan jubah merah khusus.

Aku melihat Ajudan Zheng melepas pakaiannya membelakangiku. Akupun melakukan hal yang sama. Kemudian Kasim yang akan mengantarku ke kamar Kaisar memakaikan semacam gelang emas pada lengan atasku dan cincin batu merah pada jari tangan kiriku. Saat dia hendak menyampirkan jubah merah dengan hiasan benang emas padaku, Ajudan Zheng mengambil alih jubah itu dari tangannya dan memakaikannya padaku.

“Aku lebih rela dihukum mati daripada harus menjalani ini. Sekali lagi aku salah terlalu berharap bahwa yang kita lakukan bersama itu adalah sesuatu yang istimewa,” kataku pelan.

Ajudan Zheng tak menjawab. Dia dengan telaten memakaikan jubah itu memastikannya agar terpakai sempurna pada tubuhku.

“Tidak memilikimu karena Yang Mulia dan Tidak bisa memilikimu sama sekali karena kau mati adalah dua perkara yang berbeda,” kata Ajudan Zheng kemudian.

Aku diam saja.

“Kumohon tetaplah hidup. Jika nyawa tak lagi bersatu dengan raga, tak akan ada lagi yang bisa dilakukan untuk mengubah nasib…” bisik Ajudan Zheng pada telingaku.

Tak lama kemudian, aku telah siap. Ajudan Zheng dan kasim yang sama kekarnya lalu membopongku di atas bahu mereka. Aku serasa tak bersemangat. Memikirkan bahwa Ajudan Zheng sendirilah yang akan menyerahkanku pada Kaisar untuk malam pertama membuatku sedih. Aku berpegangan pada leher Ajudan Zheng dan Kasim satunya di atas pundak mereka yang berjalan menuju kamar Kaisar. Aku ingin sekali melihat wajah Ajudan Zheng saat itu dan mencari tahu apa yang dipikirkannya.

“Selir telah tiba!” sahut pengawal penjaga kamar Kaisar ketika kami telah sampai di muka pintu.

Kemudian Ajudan Zheng dan kasim berlutut di depan pintu agar memudahkan pengawal istana membuka jubahku dan memastikan bahwa kami semua tak menyimpan senjata tajam di tubuh kami.

Setelah pemeriksaan selesai, pengawal itu menyerahkan jubahku pada Ajudan Zheng. Dalam keadaan telanjang, kami bertiga masuk ke dalam Kamar Kaisar.

Kamar itu sungguh luas dan indah. Ada ranjang besar di sudut ruangan dengan hiasan dan ornamen yang tampak diatur sedemikian rupa dengan simbolisasi bermacam elemen yang menyatu dalam harmoni Feng Shui yang sempurna.

Saat itulah aku melihatnya. Kaisar Ai berdiri di samping ranjangnya. Mengenakan jubah emas terindah yang belum pernah kulihat. Tinggi dan berwibawa. Kaisar Ai dinobatkan saat usia 20 menggantikan kaisar terdahulu yang juga adalah pamannya. Karena kaisar sebelumnya saat mangkat tak memiliki keturunan, Kaisar Ai kemudian menggantikan kedudukannya 15 tahun lalu. Wajah Kaisar Ai tampan dan penuh wibawa. Bila dihitung sejak saat penobatan, Kaisar barulah berusia 35 tahun. Namun sepertinya masalah negara membuat garis wajahnya terlihat lebih serius. Ada keangkuhan di situ. Ada simbol kekuasaan pada dirinya yang membuatnya terlihat kharismatik seperti yang dikabarkan orang-orang mengenai Kaisar negeri kami.

Tanpa berbicara, Ajudan Zheng dan kasim itu membimbingku ke ranjang. Ajudan Zheng kemudian memakaikan kembali jubah itu pada tubuhku. Kaisar berdiri di situ. Mengamati kami. Mengamatiku yang tertunduk malu. Saat keduanya hendak meninggalkan ruangan, tiba-tiba Kaisar dengan suaranya yang menggelegar berseru, “Panglima Zheng Jiageng! benarkah?”

Ajudan Zheng yang baru saja hendak menyusul kasim satunya yang lebih dulu keluar, menghentikan langkahnya. Kemudian dia berbalik dan berlutut, “Hamba, Yang Mulia,” katanya.

“Jiageng! mengapa kau yang mengantarkan selir ke kamar ini? bukankah tugasmu hanyalah melatih mereka?” tanya Kaisar.

“Ampun Baginda, Kasim Li memberi kehormatan padaku agar mengantar murid terbaikku sendiri ke hadapan Yang Mulia..” jawab Ajudan Zheng.

Kaisar mengangguk-angguk. Kemudian dia berjalan ke arahku yang membuatku semakin merunduk malu. “Qian Qi memang tidak melebih-lebihkan menggambarkan pemuda ini. Dia memang seorang remaja tampan dan gagah,” kata Kaisar sambil mengusap wajahku dengan telapak tangannya. Wajahku bersemu merah.

“Pilihan Kasim Li sepertinya sangat baik. Pantas saja jika dia merasa kau harus menyerahkan muridmu sendiri padaku,” Kata Kaisar sambil menarik lenganku hingga berdiri.

Tak lama kemudian Kaisar mulai menciumiku. Aku bisa menghirup aroma tubuhnya yang memakai wewangian rempah. Aku tak kuasa menolak walaupun aku berharap agar Ajudan Zheng pergi dari kamar ini. Entah mengapa Kaisar tak menyuruhnya pergi. Kulihat Ajudan Zheng masih berlutut dan menununduk diam tak berani pergi sebelum diperintahkan oleh Kaisar.

Tak sabar, Kaisar membuka jubahku dan jubahnya sendiri. Aku merasakan kumis dan janggutnya menggesek kulit leherku saat Kaisar menciumiku. Lengannya yang kokoh menarik pinggangku hingga tubuhku merapat pada tubuhnya. Kudengar Kaisar menggumam. Dia lalu merebahkanku di atas ranjang. Kaisar membuka tutup sebuah wadah logam dan mencelupkan jemarinya pada wadah yang tampaknya berisi semacam cairan. Setelah itu, Kaisar meneteskan cairan berbau harum itu pada dadaku. Kuhirup aroma harum yang membuatku merasa santai. Kaisar Ai kemudian menggosok-gosok cairan itu pada kulitku sehingga aromanya semakin semerbak dan aku seakan menjadi terbuai dan terangsang oleh sentuhannya.

Kaisar kemudian menunduk. Dia lalu menciumi kembali tubuhku. Tanpa sadar aku mengeluarkan desahan dari mulutku ketika Kaisar memulai sesi percintaannya denganku. Tangan Kaisar sangat terampil menelusuri setiap bagian tubuhku hingga membuatku merasa pasrah padanya.

“Ung…” gumamku saat Kaisar meletakkan telapak tangannya tepat di atas penisku dan menekannya lembut. Kemudian diangkatnya pahaku dan dirapatkannya hingga menjepit telapak tangannya di antara kedua belah pahaku. Lalu Kaisar mulai menggosokkan telapak tangannya yang terjepit pahaku hingga aku menggelinjang. Aku ingat pesan Kasim Li. Dalam hal bercinta, biarkan Kaisar mendominasi permainan dan tugasku hanyalah pasrah mengikuti kemauannya.

“Akh.. Yang Mulia…” erangku saat Kaisar terus menerus merangsang penisku dengan telapak tangannya. Kemudian Kaisar menghentikan gerakannya. Dia membalik tubuhku. Kulihat Ajudan Zheng masih berlutut sambil menunduk di dekat pintu. Walau matanya tak melihat perbuatan kami, telinganya pastilah bisa menangkap jelas suara-suara yang kami timbulkan.

Aku kemudian menunggu. Rupanya Kaisar sudah tak sabar. Dia lalu menciumi punggungku dan menindihku penuh nafsu. Tak lama dia bangkit. Sepertinya dia membuka wadah lainnya dan… Aku terlonjak saat jemari Kaisar yang telah berlumur cairan kental dingin dan sejuk mengurut lubang anusku. Tubuhku mulai menggeliat. Kaisar kembali menindihku dan menciumi leherku. Sesekali dijilatnya telingaku sambil menggumam.

Aku menggigit bibirku. Tubuhku menegang menahan sakit sementara kuremas sprei di atas ranjang Kaisar ketika penisnya yang sudah dilumuri cairan sejuk yang sama berusaha memasuki lubang anusku.

“Akkh..” protesku kesakitan. Setelah beberapa kali berusaha walaupun Kaisar telah memegangi pinggangku, usahanya menembus pertahanan lubang anusku belum membuahkan hasil. Berkali-kali penisnya terpeleset keluar karena tubuhku selalu meronta. Kaisar tampak gusar. Kemudian dia berseru, “Panglima Zheng! pegangi dia!” perintahnya.

Aku terkejut. Sudah cukup membuatku menderita mengetahui bahwa Ajudan Zheng ada di kamar ini saat aku bersama kaisar, kini dia diminta untuk memegangiku?

Ajudan Zheng menurut. Segera dia berjalan ke sisi sebelah ranjang Kaisar dan kembali berlutut. Diraihnya tanganku dan dgenggamnya. Aku menatap wajahnya tak kuasa menahan air mata yang menetes.

Kembali aku memekik saat Kaisar kembali menghujamkan penisnya pada anusku. Aku menggenggam telapak tangan Ajudan Zheng dan meremasnya kuat-kuat seolah sedang mencari kekuatan darinya. Kali ini usaha Kaisar berhasil. Dia lalu naik ke atas ranjang dan mulai menyetubuhiku. Aku menatap mata Ajudan Zheng yang sayu tanpa ekpresi menatap mataku dengan tatapan kosong. Aku memekik kesakitan, mengeluh, mengerang sambil tubuhku terlonjak-lonjak saat Kaisar Ai berusaha mendapatkan keperjakaanku.

Tatapan kosong Ajudan Zheng rupanya tak mampu membuatnya tegar. Kulihat air mengalir dari sebelah matanya sambil menatapku sedih.

Aku terkulai lemas ketika Kaisar menyudahi permainannya. Dia menyuruh Ajudan Zheng keluar sambil memerintahkan agar tak membawaku keluar kamar dan membiarkanku menemaninya hingga pagi hari. Ajudan Zheng mengamini perintah Kaisar dan pamit keluar kamar. Kaisar kemudian naik ke atas ranjang dan menciumku lembut. Aku berusaha menyembunyikan air mata dari pandangannya. Tak lama kemudian Kaisar tertidur pulas. Aku tak bisa memejamkan mata. Dibalik sikapnya yang dingin bagai gunung es dan penghormatannya pada Kaisar, akhirnya aku bisa merasakan kepedihan Ajudan Zheng saat kulihat linangan air matanya.

***

Pagi harinya, aku terkejut karena matahari telah tinggi. Kaisar belum bangun dari tidurnya, padahal aku sudah diberitahukan bahwa Kaisar tak boleh terlambat bangun untuk melakukan aktivitas kenegaraannya.

“Maaf Yang Mulia, anda harus segera bangun,” kataku lembut sambil menyentuh bahunya sungkan.

Kaisar tidak bereaksi. Dia malah menggumam sambil lalu.

Aku kemudian terdiam sesaat. Lalu aku turun dari atas ranjang, membuka jubahku dan melepaskan cincin dan mencopot gelang emas dari lengan atasku dan berlutut di depannya.

“Mohon untuk menghukum saya, Yang Mulia! Ini adalah salah saya karena menyebabkan Yang Mulia terlambat pergi kerja,” ujarku lantang.

Kaisar kemudian membuka matanya dan bangkit dari ranjang. Dia lalu mengangkat tubuhku.

“Baiklah, aku akan bersiap-siap… Kau sungguh selir yang berbakti telah mengingatkanku,” katanya.

“Terima kasih Yang Mulia,” kataku sambil kembali berlutut.

Kaisar kemudian memakai jubahnya. Dia lalu berkata, “Mulai hari ini, aku akan memerintahkan Kasim Li untuk memindahkanmu ke Istana Weiyang dan menyuruhnya memulangkan selir pria yang lain,”

Aku terkejut dengan perkataan Kaisar.

“Dongxian. Kau akan kujadikan selir pria utamaku,” lanjutnya lagi.

Aku tak bisa berkata apa-apa. Pikiranku berkecamuk membayangkan semua hal yang akan kuhadapi nanti.

-bersambung-

(Abang Remy Linguini)

Suka cerita ini? klik http://wp.me/p2Jz37-5I untuk cara pemesanan Novel berjudul HEART STATION karya penulis yang sama di nulisbuku.com

Advertisements
Comments
  1. Schultz says:

    Seru.. Like it

  2. ferrylogic says:

    Pantesan djadiin selir pria utama..Dapet yg rapet bin perjaka sie kaisarnya..Yg sblm2nya mngkn udh diicipin dlu sm qian qi
    sklian aja bg Remy,donqxian jdi selir utama wanita & pria stlh permaisuri.. :p Biar ajudan zheng makin trmehek2 😀

  3. tanpa nama says:

    Numpang komen yak. Gue ini butchy, dalam dunia homosexual, butchy itu cewe tomboy.
    Gue dari dulu sering baca crita2 ttg binan. Ga menjijikan kok. Beda ama yg belok.
    Dan gue akhir2 ini sedang mengikuti crita selir brondong. Komen gue, keren bgt. 🙂
    Udah, gitu aja… 🙂

  4. fitra says:

    Kapan ni lanjutan nya? Lama bgt min gasabar udah

  5. HermawanAdityaS says:

    Keren bangetttt

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s