SELIR BRONDONG SANG KAISAR [Bagian 4]

Posted: April 4, 2014 in Selir Brondong Sang Kaisar

Emperor_gunting4Cerita sebelumnya: Setelah Dongxian (17 tahun) dipilih dan dibawa ke istana oleh Kasim Li untuk dijadikan selir Kaisar, Dongxian terlibat hubungan yang dekat dengan Ajudan Zheng, mantan panglima perang yang tampan. Sementara itu dirinya berkenalan dengan Liao Juwei, selir yang sangat menginginkan untuk dipilih oleh Kaisar untuk menemaninya. Bagaimanakah nasib Dongxian? akankah dia rela bila terpilih oleh Kaisar sedangkan di hatinya mulai tertanam nama Ajudan Zheng?

TIBALAH jadwalku untuk dilukis oleh Qian Qi. Aku dipanggil pelayan untuk menuju sebuah pondok yang agak jauh dari istana bagian barat. Sebuah kereta kuda membawaku dan menurunkanku tepat di pintu aula.

“Selamat pagi,” sapaku sopan.

Studio itu cukup luas. Dinding-dindingnya dihiasi kaligrafi lukisan lansekap dan manusia serta puisi yang menyertainya. Pertama-tama kulihat tiga orang pemuda berpakaian abu-abu duduk dengan serius menggoreskan kuas bertinta hitam pada selembar kertas besar di depannya. Seorang pria berusia duapuluhan duduk di depan mereka sambil menggoreskan kuasnya pula pada sebuah kertas.

“Masuklah anak muda…” perintahnya tanpa menoleh ke arahku.

Aku kemudian masuk dan duduk sambil membungkuk memberi hormat. Kupikir pasti inilah penyair sekaligus pelukis muda berbakat kerajaan yang benama Qian Qi.

“Tunggulah sebentar, murid-muridku sebentar lagi selesai,” katanya.

Aku mengangguk paham. Kemudian dengan sabar aku menunggu hingga lima menit sampai tiba waktunya Qian Qi membubarkan kelasnya.

Ketika murid terakhirnya keluar, dia menutup pintu hingga tinggallah aku berdua dengan Qian Qi di dalam studio.

“Kau tahu mengapa kau di suruh ke sini?” tanya penyair itu lembut.

“Maaf Tuan, saya belum paham…” kataku berbohong.

“Aku di sini untuk membantu Kaisar… menggambarkan keindahan pria yang akan dipilihnya untuk malam purnama ke-tiga…” Qian Qi berjalan mengelilingiku.

Aku tidak bereaksi. Mataku mengawasi pergerakan tubuh Qian Qi.

“Dari mana asalmu?” tanyanya.

“Dari Yunyang, tuan..” jawabku.

“Aaah.. aku tahu tempat itu. Daerah yang memiliki pemandangan lembah yang indah. Belum pernah kulihat hijaunya rimba sehijau di Yunyang. Keindahan yang membungkus pegunungan yang terpancang kuat… seperti pemuda-pemudanya…” ujar Qian Qi sambil meraba lenganku.

Perlahan kucoba menghindar dari sentuhan tangannya. Penolakanku membuat Qian Qi sedikit gusar.

“Kau tahu apa yang akan kau dapatkan jika mendapat kemuliaan dari Yang Mulia Kaisar jika kau terpilih?” sahutnya sambil mengacungkan telunjuknya.

“Saya tahu tuan, harta yang berlimpah untuk keluarga saya…”

“Bukan cuma itu! mungkin kau akan ditempatkan pada posisi penting, menjadi penasehat Kaisar, atau pejabat. Menggiurkan bukan?” potong Qian Qi.

Aku tak menjawab.

Qian Qi kemudian mendekatiku lagi. Dia mendekatkan wajahnya padaku hingga aku bisa merasakan hembusan nafasnya. “Kau tahu? aku bisa mempermudahnya jika kau mau.. hm?” ujarnya sambil meraba lenganku lagi.

“Maaf, Tuan! saya tidak tertarik dengan semua itu. Tugas saya hanyalah untuk melayani Kaisar. Jika saya tidak dipilih oleh Yang Mulia, maka itu adalah kehendak langit yang ditetapkan untuk saya!” kataku sambil membungkuk dalam-dalam.

Kurasakan Qian Qi tak bergerak sambil menatapku. Tak lama diapun berujar.

“Bangunlah! lepas pakaianmu dan duduklah di kursi itu!” dengusnya kesal.

Aku menurut. Rupanya Qian Qi telah menyiapkan selembar kain untuk menutupi bagian sensitifku. Disuruhnya aku berpose dan selama beberapa waktu aku diam dalam posisi tersebut menunggu Qian Qi selesai melukisku.

“Aku sudah selesai. Kembalilah ke tempatmu. Aku sedang tidak berminat membuat puisi, jadi kubiarkan seperti ini dulu…” kata Qian Qi.

Aku mengangguk paham. Kemudian aku berpakaian dan pamit untuk keluar. Sama sekali tidak ingin tahu bagaimana hasil lukisan Qian Qi.

***

Malamnya, aku terbangun karena mendengar suara seperti langkah kaki di lorong. Biasanya aku tak memedulikan suara-suara aneh yang ada di sekitarku. Tapi kali ini, aku tergoda untuk melihatnya.

Kugeser pintu kamarku. Benar saja. Sesosok bayangan hitam berjalan terburu-buru di kegelapan. Gerakannya lincah dan anggun namun tergesa-gesa. Dia memakai jubah hitam dan berusaha tak mengeluarkan suara saat berjalan. Saat wajahnya terkena cahaya, aku bisa melihat jelas wajah Liao Juwei dibalik tutup jubahnya.

Penasaran, aku akhirnya memutuskan untuk mengikutinya. Hanya mengenakan baju tidur, aku berjalan menembus dinginnya malam mengikuti Juwei yang menyelinap di balik kegelapan menghindari patroli penjaga istana. Sepertinya dia sudah terlatih bersembunyi di tempat-tempat yang tak terlihat. Akupun mengikuti langkahnya. Dari arahnya aku tahu jalan ini menuju ke mana: studio milik Qian Qi.

Kulihat Juwei menengok ke kiri dan ke kanan, lalu menyelinap ke samping studio. Ternyata di sisi kanan studio terdapat sebuah pintu kecil. Dia mengetuknya pelan dan tak berapa lama pintu itu terbuka dan Juwei pun masuk.

Karena tak bisa melihat, aku menyelinap mencari sebuah jendela. Aku merangkak berusaha menghindar dari jangkauan mata orang yang berada didalam. Saat kuintip, di dalam ternyata Juwei sedang bersama dengan Qian Qi. Aku tak bisa mendengar jelas percakapan mereka. Namun tak lama, Juwei membuka jubahnya dan Qian Qi mulai merangkulnya.

Aku menekap mulutku tak percaya. Qian Qi dengan bernafsu membuka pakaian Juwei. Juwei pun pasrah. Qian Qi membaringkan Juwei di atas lantai dalam keadaan telanjang. Dengan dibantu cahaya lentera, aku melihat keduanya bercumbu di atas lantai. Qian Qi melepas pakaiannya sendiri dan menghimpit Juwei yang mendesah-desah sambil menggeliat. Diciuminya tubuh pemuda itu dan Juwei membalasnya dengan cumbuan pada leher Qian Qi. Mereka melakukan itu cukup lama sampai kemudian kulihat Juwei mengangkat kakinya dan melingkarkannya pada pinggang Qian Qi.

Kudengar Juwei memekik sambil meremas kain jubahnya ketika Qian Qi menarik tubuhnya. Pantat Qian Qi kulihat bergerak-gerak seakan mencoba menyelidiki kedalaman di antara kedua belah pantat Juwei. Juwei melengkungkan punggungnya. Erangannya semakin jelas terdengar. Qian Qi mengeluarkan desahan dan lenguhan sementara tubuhnya berkeringat. Tangannya meraih tubuh Juwei dan meremas dadanya. Keduanya bergerak-gerak seirama dalam hubungan persertubuhan sesama pria yang baru kali ini kulihat.

Juwei kemudian merangkul tubuh Qian Qi lebih rapat. Kulihat tubuh Qian Qi menegang. Wajahnya meringis dan dari mulutnya terdengar erangan panjang. Kedua tubuh itu sama-sama bergetar sesaat lalu keduanya ambruk di atas lantai. Qian Qi bergulir ke samping Juwei yang seolah kehabisan nafas. Tubuh mereka berdua yang berkeringat terlihat mengilap oleh pantulan cahaya lentera.

Aku sendiri harus mengatur nafasku melihat adegan itu. Sayang, karena terlalu berfokus pada perbuatan mereka, aku tak sadar seseorang telah berada di belakangku. Nyaris saja aku teriak ketika orang itu membekap mulutku.

“Hmmmpphh!!” protesku.

“Ssssh… ssstt… ini Aku.. menunduklah! jangan sampai terlihat,” kata sebuah suara berbisik yang kukenali milik Ajudan Zheng.

Aku menoleh memastikan bahwa orang yang membekapku adalah Ajudan Zheng. Saat aku yakin memang benar dia orangnya, aku menjadi tenang.

“Kasim Li dan beberapa pengawal sedang menuju ke mari, kau tidak boleh terlihat. Kembalilah ke tempatmu…”

“A… apa yang terjadi?” tanyaku.

Ajudan Zheng memberi isyarat padaku untuk diam. Rupanya Qian Qi dan Juwei menyadari ada orang yang mengintip perbuatan mereka. Qian Qi dengan ragu dan takut berjalan menuju tempat kami sambil berteriak.

“Siapa?!! Siapa di situ?”

Ajudan Zheng kemudian berdiri. Disuruhnya aku bersembunyi agak jauh. “Aku! Ajudan Zheng Jiageng! baru saja menyaksikan perbuatan tak terpuji kalian berdua!” Sahutnya lantang.

Melihat Ajudan Zheng berdiri dengan gagah menantang mereka, Qian Qi mendadak gemetar. Juweipun dengan panik buru-buru mengambil pakaiannya.

“Kau! Kau..! Untuk apa kemari?” teriak Qian Qi sambil menunjuk-nunjuk Ajudan Zheng dan bergerak mundur berusaha menutupi tubuhnya dengan pakaiannya.

BRAK! Tiba-tiba pintu kayu studio Qian Qi menjeblak keras. Beberapa orang rupanya telah mendobraknya dan Kasim Li terlihat masuk dengan wajah tak senang. Aku ingat perintah Ajudan Zheng agar aku segera pergi. Tapi sebelum benar-benar menjauh, aku bisa melihat beberapa pengawal menangkap Juwei dan Qian Qi dan terjadi keributan di sana.

Bagaikan angin aku melesat kembali ke kamarku. Tak peduli apakah ada orang lain yang melihat ataukah tidak. Kututup rapat-rapat pintu kamarku. Kubenamkan tubuhku ke balik selimut dan mataku tetap tak bisa terpejam membayangkan apa yang terjadi di sana.

***

Keesokan harinya, setelah seorang pelayan membantuku berpakaian. Aku kembali diantar ke tempat Kasim Li. Hari itu tanggal tiga bulan ke delapan. Dengan perasaan was-was aku menghadap Kasim Li, bertanya-tanya apakah dia mengetahui keberadaanku juga di studio Qian Qi tadi malam.

“Kau tahu mengapa kupanggil kemari?” tanyanya.

Seperti biasa. Pertanyaan yang aku tidak tahu jawabannya tetapi tetap dipertanyakan juga.

Aku menggelang. “Tidak tahu, Tuan…”

“Sebentar lagi, Yang Mulia kaisar akan memilih seorang selir Pria untuk menemaninya bulan ini. Awalnya aku belum mau mencalonkanmu karena kau baru saja dilatih oleh Ajudan Zheng. Tetapi dikarenakan insiden semalam…”

Aku terkesiap, namun aku buru-buru mengendalikan reaksiku agar Kasim Li tak curiga.

“…ternyata ada persekongkolan antara Qian Qi dan Liao Juwei dalam usaha mereka mempengaruhi keputusan Kaisar, maka kau akan ikut kucalonkan,” kata Kasim Li.

Mendadak tubuhku lemas dan cemas. Aku sangat berharap agar Kaisar tak memilihku. Seharusnya aku tak perlu secemas itu mengingat masih ada kandidat selir lain yang dicalonkan bersama diriku. Tapi bayangan Ajudan Zheng membuatku khawatir.

“Saya mengerti, Tuan…” kataku sambil membungkuk.

“Baiklah. Persiapkan dirimu. Hari ini kau masih memiliki jadwal berlatih dengan Ajudan Zheng sebelum kami pingit. Manfaatkanlah waktumu sebaik-baiknya,” kata Kasim Li.

Aku mengangguk tanda mengerti. Kemudian aku memberi hormat dan bersama Ajudan Zheng aku meninggalkan kediaman Kasim Li.

***

Hari itu aku menjadi sangat murung. Aku tak berminat berinteraksi dengan Ajudan Zheng. Setiap pelajaran yang diberikan hanya kuberikan respon alakadarnya. Ajudan Zheng pun menyadari hal itu. Ketika sore tiba, seperti biasa kami berdua kembali ke tepian sungai itu.

“Mengapa kau bersikap dingin hari ini?” tanya Ajudan Zheng.

Aku tak menjawab. Aku kemudian berjongkok dan membasuh wajahku dengan air sungai.

“Jawab aku!” kata Ajudan Zheng sambil mengangkat lenganku.

Mendapat perlakuan itu, aku menatap marah Ajudan Zheng.

“Kenapa Tuan pikir saya harus bersikap senang?” tanyaku.

“Kalau kau mau tahu, akulah yang mengetahui kecurangan yang dilakukan Qian Qi dan Juwei. Juwei memberikan tubuhnya pada Qian Qi sebagai balasan dari lukisan dan puisi indah yang menggambarkan dirinya untuk menarik hati Kaisar,” jelas Ajudan Zheng.

“Lalu kenapa tak kau biarkan mereka?” kataku.

“Maksudmu? bukankah ini yang kau inginkan? Kau bilang Ibumu sudah mempersiapkanmu untuk ‘meraih kemuliaan tertinggi’ dari Kaisar?” katanya sambil menambahkan nada ejekan pada kalimat meraih kemuliaan tertinggi.

Aku mengatupkan rahangku rapat-rapat hingga kedua baris gigiku beradu keras.

“Tuan tahu? sejak aku masuk tembok istana ini, tak ada yang kuharapkan selain kembali ke rumah keluargaku dan tak terpilih oleh Kaisar sebagai selir…” jelasku

“Dan keinginanku itu semakin kuat saat aku mengenal dirimu. Aku semakin mantap berdoa agar bisa melalui satu tahun ini tanpa harus bertemu Kaisar. Tapi rupanya saya salah, Tadinya saya pikir Tuan menginginkan hal yang sama…” ujarku pedih.

Aku kemudian naik kudaku dan memacunya kencang kembali ke istana meninggalkan Ajudan Zheng yang berdiri mematung.. Mataku terasa panas.

-bersambung-

(Abang Remy Linguini)

Advertisements
Comments
  1. Mayer says:

    bang Remy… lanjutkan terus donggg… jangan lama2… Ayo bangggg

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s