Archive for April, 2014

Emperor_gunting-10Cerita sebelumnya: Dongxian (18 tahun) diangkat menjadi selir pria utama Kaisar Ai. Walaupun menjadi milik Kaisar, hatinya telah tertambat pada Ajudan Zheng, panglima kerajaan yang menjadi mentornya. Setelah diangkat menjadi bangsawan, Dongxian diserang oleh orang-orang tak dikenal hingga terluka. Hal ini membuat Permaisuri Fu memutuskan untuk menyelidiki dalam di balik peristiwa itu.

RUPANYA kabar penyerangan terhadap rombonganku membuat Kaisar mempercepat jadwal kunjungannya dan segera kembali ke istana. Kebersamaanku dengan Ajudan Zheng selama ini di istana Weiyang akan segera berakhir.

Aku tahu. Seharusnya aku lebih bijaksana dalam bertindak. Peringatan Permaisuri Fu bahwa Istana Weiyang memiliki telinga, kini kuabaikan. Hampir tiap malam Ajudan Zheng mengunjungi kamarku. Entahlah, mungkin aku terlalu gegabah dan menuruti keinginanku untuk selalu dekat dengan Ajudan Zheng sehingga aku tak memedulikan pandangan orang-orang di sekitarku.

Seharusnya mereka curiga bahwa ada kedekatan khusus antara aku dan Ajudan Zheng, akan tetapi mereka diam-diam saja. Bahkan ibuku yang cerewetpun sepertinya tidak pernah mencoba mencari tahu apakah aku dan Ajudan Zheng memiliki hubungan spesial. Padahal, seorang ibu biasanya memiliki naluri yang kuat.

Ajudan Zheng mengecup pundakku ketika kami berdua sedang di ranjang.

“Aku pamit dulu,” ujarnya. (more…)

Advertisements

Emperor_gunting9Cerita sebelumnya: Dongxian (18 tahun) diangkat menjadi selir pria utama Kaisar Ai. Walaupun menjadi milik Kaisar, hatinya telah tertambat pada Ajudan Zheng, panglima kerajaan yang menjadi mentornya. Dalam perjalan bersama Kaisar ke pelosok negeri, Dongxian diangkat menjadi seorang bangsawan sekaligus pemimpin feodal provinsi Gao’an. Sayangnya, ketika kembali ke Istana, Dongxian dan rombongannya diserang penunggang kuda tak dikenal.

SUARA derap kuda dua orang penunggang yang mengejarku sudah semakin dekat. Aku hanya memikirkan untuk dapat segera tiba di benteng istana meninggalkan para pengejar itu. Salah satu penunggang kuda itu berhasil menjajarkan kudanya denganku. Aku menoleh mencoba mengenali penunggang kuda yang kini berada dekat denganku. Wajah yang kepalanya tertutup helm itu sama sekali tak kukenali. Tapi aku tahu dia mengincarku. Matanya jelas terlihat bernafsu menjalankan tugas: membunuhku.

Aku terkejut saat penunggang kuda itu mencabut pedangnya dan tanpa ragu mengayunkannya ke arahku. Aku berteriak sambil berusaha menghindar. Untungnya kuda yang kutunggangi berhasil kubuat menghindar darinya lebih jauh. Otakku langsung berpikir. Kawan-kawannya yang lain menggunakan pegangan pedang untuk melumpuhkan rombonganku, setidaknya membuat mereka terjatuh. Tapi orang ini memakai pedangnya berusaha untuk menebasku. Akulah yang menjadi sasaran mereka! (more…)

Emperor_gunting8Cerita sebelumnya: Dongxian (17 tahun) dipilih dari sekian banyak pemuda di Negeri Han untuk dijadikan selir Kaisar. Setelah diangkat menjadi selir utama, Dongxian harus berpisah oleh Ajudan Zheng yang dicintainya, Panglima yang menjadi mentornya selama di istana. Hal itu membuat Dongxian hendak berbuat nekad untuk mencoba menghabisi Kaisar di perjalanan. Sayangnya, aksi Dongxian menyembunyikan pisau diketahui Kaisar setelah mereka bercinta.

SELURUH rombongan kerajaan meninggalkan Chenchiang pagi -pagi sekali. Tujuan kami adalah ke arah barat menuju Provinsi Gao’an. Kaisar tak pernah lagi membahas kejadian di kamar ketika dia menemukan pisau belati yang kusembunyikan. Pikiran buruk dan kecemasan melandaku selama berhari-hari perjalanan. Apalagi Kaisar sepertinya menjaga jarak denganku. Beliau yang biasanya bertanya ini dan itu mengenai ketatanegaraan dan ilmu pertahanan untuk sekedar mengujiku, dalam perjalanan kali ini dirinya lebih banyak diam.

Pikiran jelekku sangat beralasan. Aku ingat betul bahwa kecuali pengawal, tak seorangpun di istana diperbolehkan membawa senjata tajam di tubuhnya. Bila tertangkap, maka stempel sebagai pemberontak atau mata-mata akan melekat pada pelakunya. Apabila alasannya membawa senjata dianggap kurang kuat, orang tersebut bisa dipenjara atau dihukum mati. Padahal aku sendiri tahu mengenai ritual hubungan intim Kaisar yang mengharuskan pasangannya masuk ke kamar dalam keadaan telanjang. Tapi Kaisar sempat bilang bahwa kita harus sejenak melupakan protokoler istana dalam perjalanan ini. Apakah menyembunyikan senjata tajam termasuk perbuatan yang bisa dimaklumi? (more…)

Emperor_gunting7Cerita sebelumnya: Dongxian (17 tahun) dipilih dari sekian banyak pemuda di Negeri Han untuk dijadikan selir Kaisar. Walau dirinya telah diangkat menjadi selir utama, perasaanya yang lebih kuat terhadap Ajudan Zheng tak bisa disembunyikan. Sayangnya, hubungan terlarang mereka diketahui oleh Kasim Li sehingga mereka tak bisa berbuat banyak. Belakangan Dongxian ditugaskan menemani Kaisar dalam perjalanan jauhnya sehingga dirinya harus berpisah cukup lama dengan Ajudan Zheng.

KEBERSAMAAN aku dan Ajudan Zheng hanya tinggal hitungan hari sebelum aku pergi menemani Kaisar dalam tugasnya mengelilingi Negeri. Sejak pertemuan terakhir malam itu di kamar Kaisar, aku belum pernah bertemu kembali dengannya. Seandainya aku memiliki kekuasaan untuk memprotes keputusan Kaisar, pasti sudah kulakukan dan kudatangi kediaman Kaisar sekarang juga.

Ajudan Zheng lain lagi. Dia yang biasanya sangat pintar menyembunyikan emosinya sehingga terlihat tenang, semakin hari semakin nampak gelisah. Perubahan sikapnya itu membuatku sedikit senang. Dibalik kekakuan wajahnya, ternyata dirinya cemas juga memikirkan akan berpisah denganku. Beberapa kali dia tampak tak bersemangat menjelaskan hal-hal mengenai pertahanan di perbatasan dan supply senjata dari Istana.

Bagaimana dengan Kasim Li? Diapun tampak sibuk mempersiapkan segala sesuatunya yang harus aku bawa. Menurutnya, aku akan didampingi oleh beberapa asisten dan juga membawa kereta kuda sendiri.

“Tugasmu tak hanya menemani Yang Mulia Kaisar, tapi juga harus mengamati semua hal yang beliau kerjakan dan memberikan pendapat,” kata Kasim Li.

“Saya mengerti. Panglima Zheng sudah memberitahuku semua rincian tugas yang harus kulakukan,” ujarku. (more…)

Emperor_gunting6Cerita sebelumnya: Dongxian (17 tahun) dipilih dari sekian banyak pemuda di Negeri Han untuk dijadikan selir Kaisar. Beberapa peristiwa menyebabkan dirinya terpilih oleh Kaisar untuk menemaninya. Sementara itu, kedekatan Dongxian dengan Ajudan Zheng membuatnya merasa serba salah ketika Kaisar memutuskan dirinya menjadi Selir Pria utama.

KEPUTUSAN Kaisar untuk memindahkanku ke Istana Weiyang membuat orang-orang yang berada di sekelilingku ikut sibuk. Kasim Li terlihat bersemangat untuk mengatur kompleks Istana yang tidak pernah ditempati oleh siapapun itu agar bersih dan tertata rapi. Aneh, menurutku seharusnya Kasim Li bersedih karena dia kehilangan mandat Kaisar untuk mencari selir pria ke seluruh negeri. Tapi mungkin juga dia merasa lega. Usianya sudah cukup tua untuk melakukan perjalanan jauh berkeliling dari desa ke desa. Selain itu, dia tidak lagi harus repot-repot mengurus selir-selir pria yang lain setelah Kaisar memerintahkan Kasim Li untuk memulangkan mereka. Intinya, belum pernah kulihat wajah Kasim Li begitu bersinar bahagia seperti sekarang ini.

Posisi selir utama setara dengan posisi Ratu kedua atau tepat di bawah permaisuri. Posisi Ratu kedua setahuku dari pelajaran yang diberikan oleh Kasim Li, mendapat perlakuan dan hak yang sama dengan Perdana Menteri walau tak memiliki hak untuk mengambil keputusan soal negara. Oleh karena itu, jumlah pelayan dan staf yang melayaniku juga semakin bertambah. Sepertinya tak henti-hentinya Kasim Li datang ke Istana Weiyang membawa segala macam barang seperti perabotan ataupun pakaian dan ssesorisnya yang entah kapan bisa kugunakan. (more…)

Emperor_gunting5Cerita sebelumnya: Dongxian (17 tahun) dipilih menjadi selir kaisar. Selama di istana, dirinya menjadi dekat dengan Ajudan Zheng, mantan panglima perang istana yang menjadi mentornya. Suatu hari, terbongkarnya skandal perselingkuhan Qian Qi (penyair) dengan Liao Juwei, salah satu selir kaisar, malah membuat semakin besar kesempatan Dongxian terpilih menemani kaisar di ranjang. Di lain pihak, Dongxian diam-diam menyukai Ajudan Zheng.

HARI dimana aku meninggalkan Ajudan Zheng di pinggir sungai adalah hari terakhir aku melihatnya. Keesokan harinya, Kasim Li sudah memerintahkan agar aku dan selir pria lainnya dipingit. Dalam masa menunggu keputusan Kaisar, aku berusaha tidak mengingat-ingat terus sosok Ajudan Zheng. Walau aku kecewa karena dirinya seolah membantu ‘menjerumuskanku’ ke pelukan Kaisar, tetap saja ada perasaan ingin bertemu dengannya kembali.

Peraturan di istana adalah, ketika Kaisar telah memilih siapa yang akan menemaninya pada malam ketiga purnama, maka Permaisuri sendiri yang akan mendatangi selir tersebut untuk memintanya secara pribadi. Ini dilakukan untuk menekankan status Permaisuri sebagai istri sah Kaisar dan bahwa dirinyalah yang memegang kekuasaan.

Dua hari kemudian, aku dikejutkan oleh pengumuman kedatangan Permaisuri ke bungalow kami para selir Pria. Terus terang, aku berlum pernah melihat kaisar dan istrinya seumur hidupku. Bahkan sejak tinggal di istana, tak ada satupun momen yang membuatku bisa melihat wajah kaisar selain juga dikarenakan peraturan yang ketat.

“Tuan, segera rapikan pakaian anda, mungkin saja Yang Mulia Permaisuri akan mengunjungi kamar anda!” desis seorang pelayan yang wajahnya terlihat cemas dan membetulkan pakaian dan jubahku di dalam kamar.

“Permaisuri tiba!” teriak seorang pengawal ketika pintu utama istana selir terbuka lebar. (more…)

Emperor_gunting4Cerita sebelumnya: Setelah Dongxian (17 tahun) dipilih dan dibawa ke istana oleh Kasim Li untuk dijadikan selir Kaisar, Dongxian terlibat hubungan yang dekat dengan Ajudan Zheng, mantan panglima perang yang tampan. Sementara itu dirinya berkenalan dengan Liao Juwei, selir yang sangat menginginkan untuk dipilih oleh Kaisar untuk menemaninya. Bagaimanakah nasib Dongxian? akankah dia rela bila terpilih oleh Kaisar sedangkan di hatinya mulai tertanam nama Ajudan Zheng?

TIBALAH jadwalku untuk dilukis oleh Qian Qi. Aku dipanggil pelayan untuk menuju sebuah pondok yang agak jauh dari istana bagian barat. Sebuah kereta kuda membawaku dan menurunkanku tepat di pintu aula.

“Selamat pagi,” sapaku sopan.

Studio itu cukup luas. Dinding-dindingnya dihiasi kaligrafi lukisan lansekap dan manusia serta puisi yang menyertainya. Pertama-tama kulihat tiga orang pemuda berpakaian abu-abu duduk dengan serius menggoreskan kuas bertinta hitam pada selembar kertas besar di depannya. Seorang pria berusia duapuluhan duduk di depan mereka sambil menggoreskan kuasnya pula pada sebuah kertas.

“Masuklah anak muda…” perintahnya tanpa menoleh ke arahku.

Aku kemudian masuk dan duduk sambil membungkuk memberi hormat. Kupikir pasti inilah penyair sekaligus pelukis muda berbakat kerajaan yang benama Qian Qi.

“Tunggulah sebentar, murid-muridku sebentar lagi selesai,” katanya.

Aku mengangguk paham. Kemudian dengan sabar aku menunggu hingga lima menit sampai tiba waktunya Qian Qi membubarkan kelasnya.

Ketika murid terakhirnya keluar, dia menutup pintu hingga tinggallah aku berdua dengan Qian Qi di dalam studio.

“Kau tahu mengapa kau di suruh ke sini?” tanya penyair itu lembut.

“Maaf Tuan, saya belum paham…” kataku berbohong.

“Aku di sini untuk membantu Kaisar… menggambarkan keindahan pria yang akan dipilihnya untuk malam purnama ke-tiga…” Qian Qi berjalan mengelilingiku.

Aku tidak bereaksi. Mataku mengawasi pergerakan tubuh Qian Qi.

“Dari mana asalmu?” tanyanya.

“Dari Yunyang, tuan..” jawabku.

“Aaah.. aku tahu tempat itu. Daerah yang memiliki pemandangan lembah yang indah. Belum pernah kulihat hijaunya rimba sehijau di Yunyang. Keindahan yang membungkus pegunungan yang terpancang kuat… seperti pemuda-pemudanya…” ujar Qian Qi sambil meraba lenganku.

Perlahan kucoba menghindar dari sentuhan tangannya. Penolakanku membuat Qian Qi sedikit gusar. (more…)