SELIR BRONDONG SANG KAISAR [Bagian 3]

Posted: March 30, 2014 in Selir Brondong Sang Kaisar

Emperor_gunting3Cerita sebelumnya: Dongxian (17 tahun) dari desa Yunyang terpilih menjadi selir Kaisar oleh utusan bernama Kasim Li. Dalam perjalanan menuju istana, Dongxian mengenal ajudan Zheng yang tampan dan ‘mengajarinya’ petunjuk yang akan dilakukan kaisar saat malam pertama mereka nanti. Apakah yang akan dialami Dongxian di istana kelak?

SEORANG pelayan penginapan memanggilku keluar untuk makan malam bersama. Saat itu aku sudah berpakaian rapi setelah selesai mandi. Aku mengikuti pelayan muda itu menuju sebuah ruangan. Ternyata Kasim Li serta Ajudan Wang dan Ajudan Zheng sudah berada di dalam dan telah makan lebih dulu. Ajudan Wang makan dengan lahap seolah tak memedulikan orang lain di ruangan itu. Kasim Li makan dengan sangat anggun, mungkin sesuai dengan etiket dan protokoler istana yang serba kaku.

“Selamat malam, tuan-tuan,” sapaku sambil sedikit membungkuk.

Kasim Li memberikan isyarat agar aku duduk di depannya. Pelayan menuangkan teh panas pada cangkir di depanku. Aku melirik Ajudan Zheng. Dia telah berganti pakaian seperti yang lain dan makan dengan tenang tanpa mau melihatku sama sekali.

“Tak lama lagi kita akan tiba di istana. Nah, malam ini kita semua jangan terlalu formal. Aku akan memberi kesempatan padamu untuk bertanya,” ujar Kasim Li padaku.

“Terima kasih, tuan.” Aku merespon dengan sedikit membungkuk.

“Dongxiang, setelah kau masuk istana, kau tak bisa lagi bertingkah sembarangan. Kau harus ikut segala macam peraturan istana, mengerti?” jelas Kasim Li.

Aku mengangguk.

“Maaf tuan, saya ingin bertanya, sampai kapan aku berada di Istana?” tanyaku hati-hati.

Kasim Li meletakkan cangkirnya. Setelah beberapa lama terdiam, dia kemudian menjawab pertanyaanku.

“Anugerah kaisar telah diberikan kepadamu yang terpilih. Permaisuri sendiri dengan lapang hati dan bijaksana mengizinkan kaisar untuk mengangkat selir pria. Tentu saja semuanya tergantung dari yang mulia kaisar. Kau bisa saja langsung menyelesaikan kewajibanmu dan kembali ke keluargamu, atau tidak sama sekali. Jika hal itu terjadi, setelah 12 bulan kau akan dipulangkan…” jelas Kasim Li.

“Maksud tuan, ada kemungkinan aku tak terpilih oleh Yang Mulia?” tanyaku. Entah mengapa aku melirik Ajudan Zheng saat bertanya seperti itu.

“Dan bagaimana mungkin kau terlihat bahagia dengan kemungkinan tak terpilih oleh Yang Mulia Kaisar?” tukas Kasim Li.

Aku buru-buru menunduk.

Tampaknya sesuatu yang disebut sebagai sesi tanya jawab oleh Kasim Li tidak berlangsung seimbang. Aku masih saja tak bisa membayangkan apa yang akan kuhadapi nanti.

Selesai makan malam, kami kembali ke kamar masing-masing. Aku tak bisa memejamkan mata saat berbaring. Terutama karena masih teringat oleh Ajudan Zheng. Pelajarannya di kamar mandi itu masih terasa membekas di pikiranku.

***

Kami berempat sudah sampai di istana. Sejak di penginapan aku belum pernah lagi memiliki kesempatan untuk berbicara dengan Ajudan Zheng. Sepertinya dia sendiri menjaga jarak padaku dan Kasim Li. Entah sungkan, atau entah merasa bersalah telah mendahului kaisar menyentuh tubuhku. Mendadak aku berpikir, apakah dia selalu melakukan ini pada setiap pemuda yang diboyongnya ke istana? Pikiran itu berhasil membuatku gusar.

Para selir pria ditempatkan pada bagian barat kompleks istana. Kasim Li menyuruh beberapa pelayan istana mengantarku ke sebuah kamar. Dari penjelasan Kasim Li, saat itu ada sekitar sepuluh pemuda yang dikumpulkan dari seluruh negeri. Selir pria ditugaskan untuk melayani Kaisar pada malam ketiga setelah bulan purnama. Purnama pertama Kaisar akan berhubungan intim dengan permaisuri. Malam kedua, Kaisar akan memilih ratu tingkat pertama untuk menemaninya malam itu.

“Hanya permaisuri yang diperbolehkan untuk menemani Yang Mulia Kaisar hingga pagi hari. Selain Permaisuri, semua harus sudah keluar sebelum fajar,” jelas Kasim Li.

“Jika terpilih, maka dua orang kasim akan mengantarmu masuk dan kalian semua harus dalam keadaan telanjang bulat,” lanjutnya.

Aku tak bertanya, namun reaksi keherananku tampak jelas di wajah dan membuat Kasim Li melanjutkan penjelasannya.

“Protokoler keamanan istana harus memastikan tak ada pengkhianat yang diam-diam menyembunyikan senjata di tubuhnya.”

Akupun mengangguk mengerti.

Kemudian kami tiba di depan sebuah kamar. Kasim Li menyuruhku masuk sementara dua pelayan yang berjalan di belakangnya tetap berada di belakangnya tak mengikutiku masuk.

“Ini tempatmu istirahat, anak muda. Kau dijadwalkan akan bertemu dulu dengan penyair Qian Qi. Pelayan akan memastikan dirimu selalu dalam kondisi sehat dan segar. Saya permisi dulu,” kata Kasim Li dengan gayanya yang sombong namun tetap anggun.

Aku menutup pintu. Sepertinya keadaan di sini akan sangat membosankan. Kasim Li sudah menjelaskan sederet aturan istana yang hanya sebagian kecil kuingat. Aku seperti terkurung di sini oleh banyak larangan dengan masing-masing sanksi yang berbeda. Intinya adalah, jangan lakukan hal-hal yang melanggar peraturan, atau kau akan dihukum mati. Jadi mulai saat itu, aku akan sangat berhati-hati dengan tindakanku.

Aku sudah beristirahat dan tertidur siang, kemudian saat bangun membaca buku karangan puisi-puisi sastrawan termashyur negeri ini sambil mengisi waktu. Tiba-tiba ada panggilan suara di depan kamarku.

“Psst! psst! cepat! izinkan aku masuk!” desisnya.

Aku bangkit dan beranjak menuju pintu. saat kugeser pintunya, seorang pemuda menghambur masuk. Dia memakai pakaian sutera halus yang membungkus tubuhnya. Badannya langsing dengan rambut yang terikat ke atas. Kulit wajahnya bersih dengan mata yang berbinar selaras dengan bibir tipisnya yang tersenyum. Kalau ditilik dari penampilannya, pemuda ini sepertinya seumur denganku, namun berasal dari keluarga kaya raya dan bukan petani sepertiku.

“Selamat siang! Namaku Liao Juwei!” katanya mengenalkan diri.

“Oh, aku Dongxian, baru saja tiba hari ini,” kataku sopan sambil sedikit membungkuk.

“Berapa tahun usiamu?” selidik Juwei.

“Tiga bulan lalu aku berulangtahun ke tujuhbelas,” jawabku.

“Oh, berarti aku lebih tua darimu. Kalau begitu kau harus memanggilku Kakak!” katanya sambil tersenyum ramah yang sangat terlatih.

Aku mengangguk.

“Hmmm… bagaimana keadaanmu?” tanya Juwei sambil berjalan mengitari kamar sementara matanya memeriksa seluruh isi kamarku.

“Eh, aku baik-baik saja, Kak… Agak kangen dengan rumah sebenarnya, tapi aku coba untuk membiasakan diri…” jawabku.

“Tentu saja harus! kau pasti tak tahu berapa banyak yang Kaisar berikan kepada keluarga kita sebagai pengganti?” tanya Juwei. Dia kemudian menghampiriku.

“Banyak! sangat banyak! aku bahkan bisa mendengar ibuku menangis bahagia saat Kaisar memberikan harta pengganti itu kepadanya,” ujarnya tanpa beban.

“Memang kakak tidak rindu dengan keluarga?” tanyaku.

Juwei berbalik dan kembali tersenyum.

“Sebagai anak yang berbakti, aku tahu bahwa suatu saat aku akan mendapatkan kemuliaan seperti ini. Keluargaku mendukungku sampai-sampai mereka membayar keluarga pesaingku untuk menyembunyikan anak laki-laki mereka saat Kasim Li datang,” umbarnya.

Aku terbelalak tak percaya. Ada yang lebih terobsesi pada hal ini selain ibuku sendiri.

“Jika Kaisar menyukaimu, mungkin saja dia akan mempertahankanmu di istana dan itu artinya… emas yang lebih banyak!” katanya dengan mata berbinar.

“Nah, ada yang mau kau tanyakan? aku sudah di sini sejak tiga bulan lalu. Bisa dibilang aku cukup tahu gosip di istana ini, hahaha.. tapi jangan tanya soal peraturan ya? aku tak peduli dengan detailnya,” jelasnya sambil duduk anggun di ranjangku.

“Ng.. Kasim Li berkata aku dijadwalkan akan bertemu dengan penyair bernama Qian Qi. Siapa dia?” tanyaku.

Juwei bangkit dari duduknya. “Hmm.. sepertinya kau memang belum tahu banyak ya bagaimana cara Kaisar memilih kita?” tanyanya.

Aku menggeleng.

“Dengan ratusan bahkan hampir ribuan selir serta sibuk dengan pekerjaan mengurus negara ini yang menguras waktu, kau pikir Yang Mulia Kaisar memiliki waktu untuk datang ke sini dan memilih sendiri?” tanya Juwei.

Tentu saja tidak! pikirku. Mana mungkin Kaisar berlaku seperti itu.

“Penyair Qian Qi adalah penyair hebat sekaligus pelukis berbakat. Setiap kali Kaisar dijadwalkan untuk tidur dengan selir pria, Kasim Li akan membawakan lukisan para selir dalam keadaan telanjang, dengan puisi yang menggambarkan keelokan dan kepribadian mereka.”

Aku menyimak.

“Semua lukisan dan puisi itu dibuat oleh Qian Qi. Tentu saja, Kasim Li juga akan merekomendasikan bahwa pemuda yang ini dan yang itu dalam kondisi sehat dan bergairah, atau mengeleminasi pemuda lainnya yang menurut Kasim Li tidak akan bisa memuaskan Kaisar malam itu. Pendapat Kasim Li sangat didengar oleh Yang Mulia,” jelas Juwei lagi.

Kini aku paham oleh penjelasan Juwei mengenai siapa itu Qian Qi. Tak lama, Juwei pun berpamitan.

“Baiklah. Aku harap kita bisa menjadi teman baik, aku kembali dulu ke kamar…” kata Juwei sambil menepuk bahuku.

“Iya kak..” kataku. Kemudian Juwei menghilang di balik pintu.

****

Pagi hari aku terbangun oleh pelayan yang berkeliling lorong istana yang memukul bunyi-bunyian sambil bersahut-sahutan membangunkan seluruh penghuni istana. Mereka bersahut meneriakkan syair mengenai kebaikan bangun pagi.

Seorang pelayan membantuku berpakaian setelah mandi dan mengajakku ke bagian istana tempat Kasim Li tinggal.

Saat aku masuk, tak cuma Kasim Li yang ada di situ. Tak kusangka Ajudan Zheng juga bersamanya. Jantungku berdebar penuh semangat dan rasa bahagia yang tak bisa kujelaskan saat melihat dirinya lagi.

“Kau tahu mengapa kau dipanggil kemari?” tanya Kasim Li.

Aku menggeleng. “Tidak, tuan…”

“Walau kau hanya selir. Tidak menutup kemungkinan bahwa Yang Mulia mungkin akan tertarik denganmu untuk menemaninya. Entah untuk berburu, atau saat beliau berkunjung bertemu pejabat di daerah. Itulah sebabnya, kau harus dibekali dengan berbagai kemampuan agar tidak memalukan Kaisar.” kata Kasim Li.

“Itulah sebabnya, kutugaskan Ajudan Zheng untuk mengajarimu dan mempersiapkan dirimu dengan tradisi militer Istana… apakah kau bisa berkuda?” tanyanya.

Aku mengangguk, “Bisa, Tuan.”

Kasim Li mengangguk senang. “Bagus, berarti tugas Ajudan Zheng akan lebih ringan untuk melatihmu. Kau bisa mulai hari ini. Ajudan Zheng, mohon bantuanmu untuk melatih anak muda ini..” kata Kasim Li sopan.

“Baik Tuan,” balas Ajudan Zheng penuh hormat.

***

Hari itu Ajudan Zheng mengajakku berkuda. Dengan tegas dan terperinci, dia menjelaskan bagaimana caranya berburu, membidik sasaran menggunakan panah, dan mencari jejak hewan liar. Ada perasaan bahagia bisa berdua saja dengannya. Namun Ajudan Zheng bersikap dingin dan profesional seperti seorang guru terhadap muridnya. Terus terang, pikiran bahwa dia sudah merayu setiap pemuda yang diantarnya ke istana masih menggangguku.

Ketika hari menjelang sore, Ajudan Zheng mengajakku beristirahat di pinggir sebuah sungai di dalam hutan. Cuaca sore itu sangat cerah dan hening. Ajudan Zheng turun dari kudanya dan membiarkannya minum air segar sepuasnya sementara dirinya membasuh wajahnya dengan air sungai yang jernih.

Akupun mengikuti perbuatannya dan mengisi botol minumanku dengan air sungai.

“Kau berbakat anak muda! belum pernah aku melihat orang yang bakat memanahnya langsung terlihat padahal baru saja melihat busur dan anak panah hari ini juga,” puji Ajudan Zheng.

“Terima kasih, Tuan,” ujarku.

Ajudan Zheng kemudian duduk bersandar pada sebuah pohon besar dan menghela nafas. Aku masih terdiam, namun akhirnya kuputuskan untuk bertanya padanya.

“Maaf Tuan Zheng… aku boleh bertanya?” kataku.

“Silakan.”

“Begini Tuan, sepertinya anda adalah panglima perang yang gagah berani. Mengapa anda mau melaksanakan tugas Kaisar seperti ini? maafkan atas kelancangan saya…” tanyaku pelan.

Ajudan Zheng menatapku tajam selama beberapa saat. Kemudian dia menghela nafas dan mulai bercerita.

“Dulu aku memiliki seorang Istri. Sebelum kami menikah, aku dan dia sudah saling mengenal dan mencintai. Kami tinggal di provinsi Wei. Ketika ada pemberontakan di Gunung Utara. Aku yang menjadi salah satu panglima kerajaan diutus untuk memimpin pasukanku ke sana. Sayangnya, ketika pemberontakan itu berhasil kami tumpas, kelompok mereka menyerang desa tempat tinggal istriku dan saat aku tiba, istriku telah terbunuh…” jelas Ajudan Zheng getir.

“Oh Tuhanku..” kataku.

“Sejak saat itu, aku seperti kehilangan semangat. Yang Mulia Kaisar pernah berkata padaku. Api semangat yang ada di mataku telah pergi bersama arwah istriku. Jika aku memimpin pasukan, Kaisar yakin itu akan kugunakan sebagai ajang bunuh diri. Beliau bilang tak ingin melihatku mati sia-sia dan tak mewariskan bakat melatih prajuritku…”

“Maafkan aku, Tuan…” kataku sambil bersujud. Merasa tak enak telah mengungkit kenangan pahitnya.

Ajudan Zheng mengangkat tubuhku. Kemudian dia mendekatkan wajahnya padaku seolah hendak menciumku. Aku kemudian menepiskan tangannya dan mendorongnya. Setelah itu aku kemudian kembali bersujud.

“Ampuni hamba, Tuan… hamba tak berani!”

“Kenapa? bukankah kau menerimaku saat di penginapan itu?” tanya Ajudan Zheng.

“Maafkan hamba… hamba hanya merasa… kalau Tuan juga memperlakukan pria bawaan tuan yang lain seperti tuan memperlakukan saya…” jelasku lugas.

Ajudan Zheng dengan gusar menarik lenganku hingga aku kembali berdiri.

“Dengar! lancang sekali kau menuduhku telah menyentuh seluruh selir Yang Mulia sebelum melayani beliau!” geramnya.

Aku tak menjawab. Kali itu aku menatapnya. Menantang matanya meminta penjelasan.

Perlahan Ajudan Zheng mengendurkan cengkeraman tangannya. Dia kemudian berbalik memunggungiku.

“Aku juga tidak tahu mengapa. Tapi saat melihatmu, aku merasakan hal lain yang tak bisa kujelaskan. Ada rasa ingin melindungimu, dan pikiran bahwa kau adalah milik Kaisar entah mengapa sangat menggangguku… aku bersumpah, yang kulakukan denganmu itu adalah kesalahan pertamaku. Tapi aku tak menyesalinya..” katanya.

Aku terdiam. Tak lama aku mendekatinya dan memeluk Ajudan Zheng dari belakang.

Dia kemudian berbalik dan menatapku. Diusapnya pipiku lalu dikecupnya bibirku penuh perasaan. Aku membalas ciumannya hingga tubuhku terasa meleleh. Ajudan Zheng membimbingku berbaring di atas rumput. Dibukanya jubahku dan pakaianku. Akupun ikut membantu melepas pakaiannya.

Saat kami tak lagi mengenakan atasan, Ajudan Zheng kemudian menindihku. Aku memeluk tubuhnya penuh kerinduan. Kami berciuman sangat lama sambil terus berangkulan.

Ajudan Zheng kemudian menciumi leherku dan terus bergeser ke bawah. Aku mendesah sambil memejamkan mata menikmati cumbuannya yang penuh gairah. Kurasakan telapak tangannya menyelusup ke balik celanaku dan meremas penisku yang sudah menegang yang berada di dalamnya.

“Akh.. Tuan…” desahku keenakan saat dia melakukan itu.

Nafasku mulai tak beraturan ketika Ajudan Zheng bertubi-tubi mencumbu tubuhku dan kedua putingku. Kumis dan janggutnya terasa menambah rangsang ketika bergesekan dengan kulitku. Telapak tangannya yang kasar dengan telaten terus merangsang penisku tanpa henti. Aku menggeliat di atas rumput sambil memegangi pundaknya.

“Nggh.. ngg… Tuan… Tuan Zheng… Akhh..” erangku.

Ajudan Zheng terus meremas dan mengocok penisku hingga aku tak tahan lagi. Dalam genggaman tangannya, aku memuntahkan cairan spermaku sambil menekan lengannya dengan jari-jariku. Aku mencoba mengatur nafasku.

Kemudian aku berinisiatif membantu Ajudan Zheng mencapai klimaks. Kurebahkan tubuhnya lalu kuselipkan tangannku ke dalam celananya. Ketika penisnya berhasil kutemukan, dengan gerakan alami aku mulai mengocoknya. Kujilat perut Ajudan Zheng yang rata itu itu dan mengulum putingnya serta merangsangnya dengan lidahku.

Ajudan Zheng menggeram beberapa kali sambil melenguh. Dia memegangi leherku saat kuisap putingnya dengan rakus. Kurasakan kedua pahanya menegang dan dengan erangan panjang, giliran Ajudan Zheng memuncratkan cairan hangatnya dalam telapak tanganku. Aku menciumnya lembut berkali-kali sementara wajahnya basah oleh peluh dan nafasnya terengah-engah.

Aku mengecup bahu Ajudan Zheng dan meletakkan kepalaku pada pundaknya. “Aku juga tak menyesal, Tuan…” gumamku sambil tersenyum.

-bersambung-

(Abang Remy Linguini)

Suka cerita ini? klik http://wp.me/p2Jz37-5I untuk cara pemesanan Novel berjudul HEART STATION karya penulis yang sama di nulisbuku.com

Advertisements
Comments
  1. Andde Andde Lummut Komentator Abal2 dan Bowo juga Dufei Komentator Ecek2 says:

    Empress Dongxian 😀

  2. Nakashima says:

    Cetarrrrrrrrrrrrr, kapan lnjutttttttt?? sumpah ini cerita terbagus yang pernah aku baca semoga ajudan Zheng bisa bersama dan menikah bahkan bisa berhubungan intim dan memiliki Dongxian seutuhnya.. amin… 🙂

  3. pissces says:

    Sumpah keren banget ne cerita kapan lanjut udah  sabar mau baca kelanjutanya yang cepat Ÿªaãª

  4. Anton says:

    Ini cerita filmnya ko????klau ada bgi linknya,,,,,,mksih

  5. Anton says:

    Ceritanya bagus banget nget nget,,,,,jadi kepengen ada di ini cerita,,,jadi apa aja yang penting bsa dekat dengan ajudan zheng,,,aplagi bsa ngelakuin kya dongxian hhhhh enaknya,,,,,salut buat penulisnya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s