BANG ZAKY SATPAM MALL Bagian 4 (TAMAT)

Posted: March 23, 2014 in Bang Zaky Satpam Mall (1-4 Tamat)
Tags: , ,

Bangzaky4ABDUL menyerahkan selembar kertas berisi wajah orang yang diduga sebagai pelaku penguras rekening bank memakai ATM palsu. Gambarnya tidak terlalu terang memang. Tapi wajah yang tercetak cukup bisa untuk memberikan ciri-ciri spesifik bila bertemu dengan orang yang dicurigai sebagai pelaku.

“Sudah ada tiga laporan. Semua rekening yang dikuras diambil di ATM mall ini. Ini tandanya kemungkinan ada orang dalam mall atau pekerja yang terlibat. Mungkin juga karena pengawasan kita di anjungan ATM kurang karena areanya gelap, dan tidak buka 24 jam, sehingga pelaku leluasa menguras isi ATM saat keadaan sudah sepi,” kata Pak Hario, pimpinan satuan kami saat kami memberikan briefing harian dan menyebarkan kertas bergambar wajah itu.

“Jadi, ada kemungkinan pelaku akan beraksi kembali. Tolong kerjasamanya untuk lebih ketat mengawasi pengunjung terutama orang yang memiliki ciri-ciri fisik tersebut. Demikian,” pungkas Pak Hario.

Kamipun bubar barisan.

“Semoga kita bisa nangkap orangnya, bro. Geregetan gue..” kata Abdul.

Aku mengangguk.

***

Rupanya mengawasi mall hari itu sungguh sulit. Aku sendiri sedang menghindari Fendi karena merasa bersalah. Tapi aku juga tak berani untuk meminta maaf lebih dulu atas tuduhanku padanya kemarin. Pengunjung Mall semakin ramai. Selain hari ini adalah hari terakhir gelar diskon besar-besaran, ada acara panggung juga yang dimeriahkan oleh penampilan artis-artis terkenal hingga semakin malam, pengunjung mall seakan tak berkurang.

Dalam kewaspadaan tinggi, aku mencari-cari sosok yang mungkin mirip dengan foto tersangka pembobol ATM yang fotonya kupegang. Bodoh! buat apa dia mengambil uang di tempat ATM yang sama? kenapa tidak mengambilnya di tempat lain? gerutuku dalam hati.

Berkali-kali aku melewati kawasan ATM mengawasi orang-orang yang ada di sana. Tapi sungguh! ramai sekali mall ini! aku sendiri ragu kalau pelaku akan bertindak lagi malam ini.

Jam sepuluh malam. Acara panggung telah selesai. Kebanyakan karyawan toko bekerja lebih larut untuk stok opname hari terakhir program diskon. Aku kembali berkeliling. Lebih mudah mengawasi pengunjung yang tersisa setelah banyak dari mereka yang sudah pulang. Hari ini aku agak kewalahan. Abdul sudah pulang sore itu, sementara hanya ada dua orang satpam lagi yang mengawasi mall tiga lantai ini. Aku kembali ke lobi utama setelah hampir setengah sebelas. Jam sepuluh tadi aku membubarkan beberapa anak remaja yang berlari-lari sambil berteriak mengejar seorang artis dan memastikan bahwa mereka sudah keluar dari mall.

“Maaf pak! mall sudah mau tutup, sebaiknya bapak segera kembali ke pintu utama,” sapaku ramah kepada dua orang pria. Yang satu tampan dan wajahnya seperti tak asing dan sering kulihat di televisi, sementara satunya lagi lebih pendek dan agak kemayu.

“Maaf mas, ini.. barusan temen saya kekunci di WC gara-gara dikejar fans gilak! huh!” kata si pria kemayu sambil menggandeng pria satunya.

“Iya Mas, maaf, baru dibukain sama cleaning service tadi,” kata si ganteng tersipu.

Aku mengangguk memaklumi. Kemudian aku berkeliling sekali lagi. Mall kini benar-benar sudah sepi. Namun perasaanku malam ini tak enak. Aku kemudian berkeliling. Saat itulah, aku melihat dua orang pria keluar dari gudang alat kebersihan. Wajahnya tak dapat kulihat jelas. Namun gerak-gerik mereka mencurigakan.

Sial! handy-talkie milikku tertinggal di pos jaga. Barusan sebenarnya aku ingin mengambilnya. Tak ingin mereka lolos, aku mengikuti mereka. Keduanya mengendap berjalan menuju anjungan ATM yang terletak di pojok mall.

Dengan berhati-hati aku melangkah mendekati anjungan ATM yang gelap. Penerangan di ruangan itu hanyalah cahaya yang berasal dari layar-layar beberapa mesin ATM. Jantungku berdegup kencang. Tak ada-tanda-tanda kedua orang itu.

Sret! sekelebat bayangan hitam berlari cepat menghalangi cahaya dari salah satu mesin ATM. Aku bereaksi dengan mencabut lampu senterku dan menyalakannya.

Ketika kuedarkan cahaya ke sekeliling ruangan, aku berhenti ketika menyoroti sesosok manusia yang sedang berdiri di pojokan. Fendi.

“Fen.. Fendi? ngapain kamu di situ?” teriakku.

Fendi diam saja. Dia menatapku aneh. Aku merasakan gelagat yang tak enak. Benar saja, tiba-tiba dari kedua arah sampingku dua orang menyergapku ketika aku sedang lengah. Berkat sedikit keterampilan bela diriku, aku berhasil menghajar wajah seorang pria dengan tahi lalat di hidungnya. Tapi apa daya, pria satu lagi dengan cekatan mencabut pentungan yang tergantung pada ikat pinggangku dan memukul telak pada tengkukku hingga aku roboh.

***

Saat aku tersadar, aku sudah berada di toilet dalam keadaan terikat dan mulutku tertutup lakban.  Setelah mengumpulkan ingatanku, aku menyadari bahwa pria yang sempat kuhantam tadi sangat mirip wajahnya dengan tersangka pembobol ATM. Lantas, apa yang dilakukan Fendi di situ? Ke mana dia sekarang?

Tak lama seseorang masuk. Fendi. Dia menghampiriku dengan berhati-hati. Aku mencoba berteriak dan memberontak melihatnya datang. Ternyata memang Fendi terlibat.

“Sssst.. bang.. sabar ya..” katanya sambil mendekati wajahku dan membuka lakban yang menutup mulutku.

“Uh.. Kamu! kamu sekongkol sama mereka?!” teriakku.

“Ih, Abang! dibilang jangan ribut!” dengan kasar Fendi menutup lagi mulutku dengan lakban.

Dia menghela nafas lalu bangkit.

“Maaf ya bang… tapi Fendi emang enggak berniat ngelibatin abang. Setelah hari ini selesai Fendi mau menghilang…” katanya.

“Uuuungg!! uuunng!!” aku berusaha bersuara dengan mulutku yang tertutup lakban.

“Apaan bang? Fendi enggak ngerti. Oh, kalau saya buka, abang janji ya, enggak teriak?” tanya Fendi.

Aku diam sambil menatapnya galak. Namun tak lama ditariknya lagi lakban yang menempel pada mulutku.

“Kenapa, Fen?” tanyaku.

“Kenapa? gampang bang.. uang… Fendi butuh uang, enggak enak rasanya kalau enggak punya uang,” kata Fendi.

“Tapi enggak begini caranya! enggak takut masuk penjara, kamu?!” sahutku.

Fendi menghela nafas.

“Udahlah bang… enggak usah ceramah!” ujarnya.

“Kamu tau nggak? abang udah mulai sayang sama kamu. Waktu abang pikir udah salah tuduh, abang ngerasa bakal kehilangan kamu, Fen..” kataku.

Fendi menoleh dan menatapku beberapa lama.

“Fendi juga sayang sama abang. Jauh sebelum abang mulai deket sama Fendi. Akhirnya bisa ML sama abang juga udah Fendi harapkan dari dulu… tapi..”

“Ayolah Fen, jangan terusin.. tolongin abang, bantu tangkap dua temen kamu itu,” rayuku.

Fendi menggeleng. Dia kemudian menjauhiku sambil menyelipkan kedua lengannya pada jaket yang dia kenakan.

“Fendi pergi dulu, bang. Maafin Fendi ya? Fendi sayang abang juga…” katanya.

Tak lama dia menghampiriku dan mengecup pipiku dan aku tak menolaknya. Kemudian Fendi memadamkan lampu dan menghilang meninggalkanku di dalam toilet yang gelap ini.

Aku menghela nafas. Percuma saja berteriak bila tak ada yang mendengarnya. Aku menduga pasti dua rekanku telah dilumpuhkan oleh mereka juga.

Lima menit kemudian, pintu toilet terbuka. Cahaya terang dari luar masuk dari celah pintu dan kulihat sepasang sepatu mengendap masuk.

Aku terkejut dan hampir berteriak. Tapi saat orang itu menyalakan lampu, kulihat jelas bahwa orang itu adalah Abdul.

“Abdul!” sahutku lega.

Abdul menempelkan telunjuk pada bibirnya memberi isyarat agar aku tenang. Kemudian dia membantu melepas ikatan tanganku. “Gue curiga, bro. HP ente enggak aktif. Dua orang itu juga enggak angkat telepon,” kata Abdul merujuk dua rekanku sesama satpam yang berjaga malam itu.

“Jadinya gue kemari. Gue kaget lihat mereka berdua pingsan ketiduran. Kayak dibius. Akhirnya gue keliling Mall cari elu. Pas gue lihat si karyawan toko itu keluar toilet, gue pikir mungkin elu ada di sini… Gue udah telepon polisi,” jelas Abdul.

Aku menarik tali yang masih mengikatku hingga lepas seutuhnya. “Ayo bro, jangan sampai mereka kabur. Kayaknya hari ini hari terakhir mereka panen besar sebelum kabur!” kataku.

“Oke! ayo!” ajak Abdul sambil menggenggam pentungannya.

***

Kami berdua mengendap-endap ke anjungan ATM. Ada cahaya lampu senter berkelap-kelip di situ. Rupanya mereka belum selesai beroperasi.

Dalam gelap kulihat Fendi berdiri tak jauh dari salah satu pria berbadan besar itu mengamati salah satu mesin ATM sementara pria satunya berdiri di depan mesin ATM yang agak jauh dari mereka.

“HEAAAAAA!!!” teriak Abdul.

Rupanya dia tak memberi aba-aba atau kode untuk menyerang dan langsung menyerbu ke arah pria yang sendirian di depan ATM dan menubruknya. Tak menyangka ditubruk Abdul, pria itu kemudian terjengkang dan roboh. Saat dia berusaha melawan, Abdul menyarangkan tinjunya berkali-kali pada wajahnya hingga dia pingsan.

“AAAAARGG!” teriak Abdul kalap.

Fendi dan pria satunya kaget mendapati kawannya diserang sehingga mereka memutuskan untuk kabur.

“JANGAN LARI KALIAN!” raungku.

“Kejar bro! biar gue tanganin yang ini dulu!” seru Abdul.

Fendi dan Pria itu terkejut melihatku menghambur ke arah mereka. Kemudian mereka menuju tangga eskalator yang sedang tak beroperasi dan berusaha menaikinya.

Saat mereka sudah di lantai atas, aku berhasil menyusul mereka dan menarik jaket Fendi keras-keras dan melempar tubuhnya ke arah tumpukan styrofoam hiasan berbentuk kastil hingga kastil bohongan itu porak poranda.
Kudengar Fendi mengaduh kesakitan. Sadar bahwa hanya dia yang bisa melarikan diri, pria bertahi lalat di hidung itu mencoba melawanku lebih dulu. Dia berteriak sambil berusaha memukul wajahku. Aku berhasil menendang kakinya sebelum dia berhasil menyentuhku hingga dia terjerembab ke dekat eskalator.

Pria itu berusaha bangkit. Rupanya dia mengeluarkan sebilah pisau dan menggenggamnya kuat-kuat sambil melihatku. Aku terkejut dengan kenekadannya.

“Awas, Bang! jangan!” teriak seseorang. Rupanya Fendi yang sudah bangkit menghambur ke arah kawannya sendiri dan mendorongnya hingga pisau itu terlepas.

Marah karena diserang oleh kawanannya sendiri, si pria besar itu memukul wajah Fendi mencoba melepaskan diri.
Malang, keduanya kehilangan keseimbangan dan jatuh terguling-guling di eskalator hingga membentur lantai bawah. Kudengar bunyi berdebam keras dan suara orang mengaduh.

“Fendi!” teriakku. Kulihat tubuhnya tergeletak di bawah bersama pria itu.

Tiba-tiba seluruh ruangan di mall menjadi terang benderang. Kudengar derap langkah kaki mendekat dan akhirnya bisa kulihat beberapa orang polisi berdatangan mengerumuni tubuh Fendi dan orang itu.

Aku mendadak lemas. Kakiku tak kuat menopang badanku hingga aku terduduk di lantai. Tak lama seorang polisi menghampiriku dan memeriksa kondisiku. “Pak! anda tidak apa-apa?! jawab saya!” sahutnya. Tapi aku tak menjawab dan memandang kosong ke depan.

***

Akhirnya komplotan pembobol rekening pemalsu kartu ATM itu diringkus oleh polisi. Aku memegangi bahuku yang baru saja diobati oleh petugas medis dari ambulan yang datang karena Fendi dan kawannya terluka hingga patah kaki dan harus dibawa ke rumah sakit.

Rupanya Fendi menjadi kaki tangan kedua penjahat itu. Fendi bertugas menempelkan semacam alat pendeteksi pada mesin gesek EDC kartu untuk merekam data kartu ATM korban. Fendi juga bertugas mencari tahu nomor pin yang ditekan oleh pemilik kartu dan mencatatnya diam-diam. Setelah aman, Fendi berjaga di ATM saat temannya menguras rekening korban dan dia kemudian mengalihkan perhatianku yang sudah dikenalnya.

Selesai meminta keterangan dari kami semua, aku meminta izin pimpinan Polisi untuk berbicara pada Fendi.

“Pak. Izinkan saya bicara sama anak itu,” pintaku.

Awalnya dia ragu tapi akhirnya dia membolehkan. “Oke. Jangan lama-lama. Dia harus dibawa ke rumah sakit.”

Aku mengangguk.

Kuhampiri Fendi yang duduk tak berdaya berbaring pada ranjang dorong. Kakinya kanannya terbalut perban dan penyangga sementara di hidungnya terdapat memar yang melebar hingga bawah matanya.  Dia memalingkan wajahnya tak mau menatapku.

“Fen…” sapaku.

“Maafin abang ya, abang enggak bisa ngebiarin kamu..” kataku.

Fendi terdiam.

“Iya bang. Ini nasib Fendi. Fendi ternyata sayang banget sama abang sampai enggak rela abang dalam bahaya…” ujarnya.

“Makasih ya, Fen…” kataku.

“Gapapa bang. Abang juga enggak usah khawatir. Fendi nggak akan cerita soal.. ng.. kedekatan kita… kasihan anak istri abang kalau sampai tahu pas abang jadi saksi di pengadilan…” katanya.

Aku mengatupkan bibirku sambil menghela nafas. Kutepuk tangan Fendi lalu meninggalkannya.

***

Sejak kejadian itu aku kembali murung dan kesepian. Beberapa orang bertanya padaku penyebabnya, namun aku tak mau menjawabnya.

“Bro…” panggil sebuah suara di luar kamarku.

Hari itu aku sedang off dan memilih untuk berdiam diri di kamar. Aku bangkit dari ranjang dan membuka pintu. Abdul sudah ada di situ.

“Elu kenapa sih, Bro? kayak orang stress gitu? ada yang elo kangenin ya?” tembak Abdul.

“Ah! enggak kok..” kilahku.

“Lo kangen Fendi ya?” tanya Abdul pelan.

Aku terkejut. Kutatap mata Abdul namun tak menjawab pertanyaannya.

“Gue curiga elo ada apa-apa sama bocah itu, bro..” katanya.

Aku menghela nafas dan menutup wajahku malu. Malu karena rahasiaku terbongkar oleh Abdul. Entah apa pendapatnya mengetahui perselingkuhan homoku itu.

Abdul merangkul pundakku. “Udah bro.. lupain aja.. lagian, ngapain sih musti jauh-jauh?” kata Abdul.

Aku menatapnya bingung. Abdul balas melihatku sambil tersenyum. “Gue suka sama elo, bro! ah! tapi gue nggak berani lah deketin elo!” sahut pria kekar ini lugas sambil merangkul pundakku.

Kemudian wajah Abdul mendekat padaku.

***

Aku baru saja membetulkan seragam kerjaku dan memperbaiki letak gespernya saat Abdul memanggilku.

“Ayo, bro! briefing mau mulai!”

Aku mengangguk dan kemudian menyusulnya menuju lapangan parkir.

Briefing hari itu sangat istimewa. Ada pimpinan pengelola mall dan perwakilan dari beberapa bank ikut hadir. Termasuk pimpinan polisi yang waktu itu ikut menangkap komplotan Fendi dan kawan-kawan. Hari itu, aku dan Abdul dianugerahi penghargaan karena telah berhasil membantu menggagalkan usaha pembobolan rekening.

Aku melangkah tegap saat Pak Hario pimpinan satuan kami memanggil namaku dan menyerahkan sebuah map padaku dan menjabat tanganku. Abdul pun demikian. Disebutkan selain penghargaan, aku mendapat imbalan jasa dalam bentuk uang yang jumlahnya cukup banyak. Semua hadirin bertepuk tangan.

Aku terharu. Dengan uang ini, aku bisa mendapatkan kontrakkan rumah yang lebih layak dan bisa memboyong anak istriku. Aku menoleh pada Abdul. Abdul mengedipkan matanya dan tersenyum sambil mengacungkan jempolnya padaku…

BANG ZAKY SATPAM MALL – TAMAT

Advertisements
Comments
  1. nurcahyobudi says:

    kesian si fendi bang…
    gpp lah, namanya juga idup
    semoga dia ketemu sipir ganteng di penjara
    😀

  2. nurcahyobudi says:

    kesian fendi…
    tp gpplah, namanya juga idup
    moga ketemu sipir ganteng ya fen di dalem sonoo 😀

  3. ilyas says:

    Endingnya suprise bgt,. Gak nyangka. Tp pengen juga difuck. Haha

  4. menurut aku Abdul yang ternyata gay kebetulan yang terlalu dibuat-buat. Fiksi, seimajinatif apapun tetap harus masuk di akal. seharusnya diberi sedikit clue sebelumnya kalau Abdul jg beda 🙂

  5. Sandi Liawi says:

    wah ceritanya di sensor disini….

  6. mansur says:

    bang zaky gk setia sama fendy,
    udah pnya pnghrgaan dan uang bnyak fendi dilupakan,
    tp law fendi yg pnya uang bnyak gk lupa ma baang zaky, gk seru akhir ceritanya.

  7. rasyid says:

    good ceritanya yg ini ane suka bang…tetap berkarya…salam dari serawak ya…

  8. restu says:

    gue suka sih awalnya pada akhirnya gue gk suka

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s