BANG ZAKY SATPAM MALL Bagian 3

Posted: March 19, 2014 in Bang Zaky Satpam Mall (1-4 Tamat)
Tags: , , ,

Bangzaky3Cerita Sebelumnya: Zaky, seorang satpam yang bertugas di mall berkenalan dengan Fendi, pemuda 19 tahun karyawan sebuah toko. Zaky yang kesepian karena jauh dari istri dan anaknya, memanfaatkan Fendi untuk memuaskan syahwatnya. Sementara itu, karena sesuatu hal, kasus rekening orang yang terkuras di ATM mall membuat Zaky mencurigai Fendi.

KALAU saja kasus yang terjadi di mall ini adalah bobolnya ATM secara paksa, pastilah seluruh orang yang bertugas sebagai keamanan di gedung ini akan diperiksa satu persatu atau bahkan dipersalahkan karena kelalaian. Masalahnya, kasus tersebut adalah pembobolan rekening pribadi perorangan dengan teknik penggandaan kartu ATM. Dan pelaku bisa saja berbuat hal itu saat ramai hingga tidak mencurigakan. Itulah sebabnya, satuan keamanan hanya diperingatkan untuk lebih waspada sampai hasil rekaman dari CCTV keluar.

“Kenapa lu sepanjang briefing tadi ngelamun?” tanya Abdul sambil menepuk bahuku.

“Ah, masa sih?” kataku menyangkal.

“Iya. Apa ada orang yang elu curigain, bro?” selidik Abdul.

Aku menggeleng. “Enggak.. enggak.. cuma mikir aja. Lihay betul penjahatnya nyamar jadi pengunjung pura-pura ambil uang di ATM..”

Walaupun aku berkata demikian, tetap saja pikiranku tak bisa lepas dari bayangan Fendi.

Saat aku keliling, kulihat Fendi sedang sibuk melayani pembeli. Hari itu sudah nyaris akhir bulan. Pengunjung biasanya bertambah ramai. Ditambah lagi, di mall sedang ada program diskon besar-besaran. Makin ramailah pengunjung yang datang.

Aku menatap Fendi cukup lama berharap dia menyadari aku ada di sini memerhatikannya dan menyapaku walau cuma sekilas senyuman. Tapi dia terlalu sibuk. Wajahnya yang ramah membuatku berpikir, kenapa sampai aku mencurigainya? hanya karena aku pernah mendapati dirinya sedang berada di ATM malam hari. Tapi mungkin saja memang dia terlalu sibuk hingga tak ada waktu untuk meninggalkan pos nya hanya sekedar untuk mengambil uang di ATM.

***

Sore itu tugasku telah selesai. Aku mengambil jaket baru hadiah dari Fendi dari gantungan dan bersiap hendak pulang.

“Bro.. itu ada titipan dari anak toko atas. Katanya elo pesen sepatu diskonan,” kata Abdul sambil menunjuk sebuak kotak terbungkus kantung plastik hitam dengan merek sepatu yang cukup terkenal.

“Hah? titipan?” tanyaku bingung. Saat aku membuka kantungnya, ada sebuah kertas post-it menempel dengan catatan yang terbubuh di situ. “Ini titipan abang. Sori, enggak sempet ketemu. Thanks. Fendi”

Aku menghela nafas. Kubuka kotak itu. Ternyata ada sepasang sepatu kulit hitam bertali yang bentuknya kekar dan bagus. Tak lama ponselku berbunyi. Ada SMS masuk dari Fendi.

“Bang, sori. Tadi Fen titip sepatu buat Abang. Enggak tahan buat enggak beli. Murah banget 80%. Tapi biar temen abang gak curiga, Fendi bilang itu titipan abang. Tq”

Aku membaca SMS itu sekali lagi sambil mengerutkan dahi. Anak ini! ngapain sih beli-beliin barang segala?! pikirku.

“Bilang-bilang dong bro kalau mau titip beli sepatu diskonan. Ah, ente…” keluh Abdul sambil menatap iri sepatu yang kupegang.

Aku yakin, sebesar apapun diskonnya, harga sepatu ini tetaplah mahal untuk ukuran gaji satpam sepertiku. Atau gaji pegawai toko macam Fendi… dan itu semakin membuatku curiga.

***

Dua hari kemudian, aku sengaja menunggu Fendi pulang kerja malam hari. Padahal hari itu aku sedang off. Kulihat Fendi keluar dari pintu mall khusus staff dan karyawan sendirian. Segera kupanggil dia.

“Hoy! Fen!”

Fendi tampaknya terkejut melihatku. Dia kemudian menghampiriku yang sedang berdiri di samping motor. Sejak Fendi membelikanku sepatu, aku belum sempat menemuinya. Niatku adalah mengembalikan sepatu itu padanya sekaligus menyelidiki dari mana dia bisa mendapatkan uang banyak untuk belanja.

“Loh? Abang bukannya libur ya?” tanya Fendi.

“Iya Fen, barusan abang habis jalan-jalan aja. Sekalian balik ke sini mau nanya sesuatu,” kataku.

“Apa tuh, bang?” tanya Fendi polos.

“Kenapa tiba-tiba beliin abang sepatu? kamu enggak sayang buang-buang uang?” tanyaku menyelidik.

“Ah, enggak bang.. itu beneran jadi murah banget! abang tahu sendiri kan? di mall lagi pesta diskon. Makanya pas Fendi lihat sepatu itu, Fendi langsung minta temen yang beli, soalnya karyawan dibatasi buat beli barang diskonan…” jelas Fendi panjang lebar.

“Tapi Fen, biar udah didiskon juga tetep mahal kayaknya! lagian abang jadi enggak enak nih!” sahutku.

“Fendi baru dapet rezeki bang, gak ada salahnya kan bagi-bagi? Heheh..”

Memaksa anak ini cerita sepertinya akan sia-sia. Aku pikir dia pasti akan terus berkilah. Itulah sebabnya, aku memutuskan untuk menahan diri untuk mencari tahu. Lebih baik mengajaknya santai mengobrol.

“Kamu mau langsung pulang, Fen? sebagai gantinya mau abang traktir?” tawarku.

“Wah! mau banget bang! Fendi nggak apa-apa kok pulang lebih malem. Bawa kunci,” jelasnya.

“Oke. Ayo naik!” perintahku. Kuberikan sebuah helm padanya untuk dipakai.

Saat Fendi sudah duduk di belakangku, tiba-tiba dia terdiam dan urung memakai helmnya.

“Kenapa, Fen?” tanyaku.

“Bang… traktirannya di kamar abang aja…” ujarnya pelan.

Aku meneguk ludah. Entah mengapa kata-kata Fendi membuat kontolku langsung menegang. Aku tak menjawab. Kunyalakan motorku dan kupacu cepat menuju mess. Kubiarkan Fendi memeluk pinggang dan mendekapku.

Kami buru-buru turun dari motor dan segera masuk kamar. Untunglah, rupanya malam itu tak ada teman-teman yang nongkrong di halaman muka mess sehingga aku bisa leluasa menyelundupkan Fendi ke dalam kamar.

Setelah mengunci pintu. Fendi langsung merangkulku dan membantuku melepas jaket serta kausku. Dengan penuh nafsu Fendi mengendus leherku sambil memejamkan mata dan terus bergeser hingga dadaku. Kubiarkan tangannya menggerayangiku.

“Bang Zaky.. Fendi sayang abang…” desahnya. Kemudian dia memeluk tubuhku.

“Akhirnya Fendi bisa meluk abang juga…” gumamnya. Suaranya seperti ingin menangis. Aku pun merasa iba dan luluh mendengar pengakuannya.

Fendi kemudian membuka kausnya. Tubuhnya yang langsing terlihat jelas. Kulitnya terang dan bersih dengan puting dada yang berwarna coklat muda. Kuusap kulit Fendi dengan tanganku mulai dari bahu hingga pergelangan tangannya. Mulus sekali. Seperti kulit wanita. Aku suka tak habis pikir ada pria yang bisa seperti Fendi. Tidak bertingkah kemayu, namun tubuhnya bersih terawat. Dia menunduk malu sambil mencoba menutupi tubuhnya saat kutatap lama dari wajah hingga pusarnya.

“Fendi malu bang, badan Fendi enggak kekar kayak abang..” ujarnya.

Aku tak berkomentar. Malam itu aku menginginkan sesuatu yang lebih dari sekadar oral. Aku penasaran. Benar-benar penasaran dengan anak ini. Maka saat Fendi berlutut dan mulai mengoral kontolku lagi, tak kubiarkan dia berlama-lama melakukannya. Kuangkat tubuhnya hingga wajahnya menatap wajahku bingung.

“Bang? kenapa?” tanyanya.

Mungkin Fendi merasa bahwa servisnya malam itu tidak memuaskanku hingga dia bertanya-tanya mengapa aku menghentikan perbuatannya. Tapi sesaat kemudian Fendi mengerti saat aku membalik tubuhnya menghadap ranjang. Sunggingan senyum terhias di wajahnya. Ya! walau belum pernah mencobanya, tapi aku ingin mencicipi tubuh Fendi lebih lanjut. Kupikir rasanya akan sama saja dengan ketika aku menggauli istriku.

Kuturunkan celana Fendi hingga pantatnya yang putih mulus itu terekspos jelas. Aku tak tahan melihat pantat yang seksi itu hingga aku menamparnya dengan gemas. Fendi mengaduh manja. Tubuhnya menggeliat-geliat dalam rasa ketidaksabaran menunggu tindakanku selanjutnya.

Kubuka lebar-lebar kedua belah pantat Fendi. Di bagian tengahnya ada bukaan yang terlihat kemerahan dan mungil. Sesekali lubang itu berkedut seolah ketakutan dan khawatir menantikan adanya benda asing yang akan memasukinya. Aku sendiri jadi ragu apakah kontolku bisa masuk ke dalam lubang sesempit itu? Tapi instingku mengatakan aku harus mencobanya. Mengambil langkah berani untuk mencoba sesuatu yang baru dan belum pernah kulakukan selama ini.

Aku pernah melihat lubang pantat istriku yang juga sama-sama ranum dan memerah. Pernah kubayangkan bagaimana rasanya bila aku mencoba menyelusupkan batang kontolku ke dalam lubang itu, namun hal tersebut tak pernah benar-benar kulakukan. Pikiran itu hanyalah semacam fantasi saja yang kubiarkan terus tetap menjadi sebuah fantasi. Sampai malam ini…

Aku kemudian berimprovisasi. Batang kontolku yang masih basah itu kugesek-gesekkan pada kulit di antara kedua belah pantat Fendi dan kujepit dengan pantatnya sambil kugosok naik turun. Rasanya enak. Dan Fendi menjadi hilang kendali. Dia menggeliat-geliat sambil mendesah-desah keenakan.

Aku melakukan itu cukup lama hingga kontolku mengering. Kuhentikan gerakanku untuk melangkah pada tindakan selanjutnya.

“Bang… basahin dulu ya biar Fendi gak sakit…” pinta Fendi sambil berbalik menatapku.

Aku mengangguk. Kuproduksi air liurku banyak-banyak dan kuoleskan pada batang kontolku dengan tangan. Jantungku berdebar kencang. Perlahan kugenggam kontolku dan mengarahkan kepalanya tepat pada lubang anus Fendi yang terlihat makin sering berkedut-kedut.

“Akh… pelan-pelan ya bang?” erang Fendi ketika kepala kontolku mulai memaksa masuk anusnya. Aku menurut. Kuhentikan gerakanku. Dinding anus Fendi terasa memberontak berdenyut-denyut seolah memaksa kontolku keluar dari lubang sempit itu. Tapi hal itu malah menimbulkan sensasi nikmat pada batang kontolku. Terasa olehku jepitan yang mantap dan kuat meremas batang kontolku. “Aaah…” tanpa sadar aku mendesah.

“Terusin bang..” Fendi mengizinkan aku mendorong kontolku lebih dalam setelah beberapa saat tadi kubiarkan kepalanya di dalam anusnya agar dia terbiasa.

“Akkh…!” pekik Fendi. Badannya menegang. Kulihat wajahnya meringis seperti menahan sakit.

“Kontol abang gede banget sih…” keluhnya. Namun keluhan itu terdengar seperti pujian bagiku. Aku tak menghiraukan ringisannya dan terus memasukkan seluruh batang kontolku ke dalam lubang anusnya semakin dalam. Kulihat Fendi masih menggeliat mencoba membiasakan benda panjang dan keras itu bersarang di dalam pantatnya. Tangannya meremas-remas sprei di atas ranjang sambil menggigit bibirnya.

“Oooouuuh…” Fendi melenguh ketika akhirnya seluruh batang kontolku masuk ke dalam pantatnya. Kurasakan dia mengatur nafasnya sedemikian rupa. Pantatnya masih berkedut-kedut tak rela dimasuki batang kontolku. Aku terdiam sambil menikmati sensasi pijatan itu.

“Genjot bang…” ujar Fendi lirih. Ucapannya seperti memberikan lampu hijau agar aku mulai bergerak menyetubuhinya. Tanpa pikir panjang, kuhajar lobang pantat Fendi dengan gerakan pinggulku yang ganas dan cepat. Fendi mulai mendesah-desah dan mengerang tak karuan.

Salah satu keahlianku adalah kekuatan pinggulku yang bisa menggenjot dengan kontolku dengan kecepatan luar biasa dan ganas. Aku teringat istriku yang seringkali tak berdaya namun puas saat aku dengan gerakan pinggulku menggenjot memeknya berkal-kali dengan tempo cepat dan lama. Ganas.

“OOuuuh… OOOuuh.. terus bang… enak.. enak…” erang Fendi. Tangannya mengacak-acak sprei sementara badannya terlonjak-lonjak seiring genjotan pinggulku yang menghujamkan kontolku berkali-kali dengan sangat cepat.

Aku menggeram. Keringat mulai membasahi tubuhku. Kuraih bahu Fendi dan menahan tubuhnya agar kontolku bisa melesak semakin dalam pada anusnya.

“AAAKKKHH!!” erang Fendi saat dirinya tak kuasa menolak sodokan batang kontolku dalam-dalam. Nafasnya mulai tersengal-sengal.

Cukup lama aku menggenjotnya dalam posisi ini. Lalu aku membalik tubuh Fendi dan menyuruhnya berbaring di atas ranjang. Kuangkat kakinya tinggi-tinggi lalu tanpa peringatan kubenamkan lagi batang kontolku ke dalam pantatnya hingga Fendi memekik.

“Ah… abang!”

Kulanjutkan lagi genjotan ganasku. Kali ini aku bisa melihat ekspresi wajah Fendi antara kesakitan sekaligus nikmat. Tubuhnya sudah basah oleh keringat.

“Terus bang.. genjot.. ah.. enak.. enak…” racaunya lagi.

Tiba-tiba Fendi meraih tanganku. Diletakkannya telapak tanganku yang satu pada dadanya dan memintaku untuk meremasnya. Fendi semakin menggila saat kuturuti permintaannya. Dia lalu meraih tanganku yang satu lagi dan menggenggam jemariku dan mengulumnya.

“MMm…mmmm…” gumam Fendi sambil memejamkan mata dan menyedot jari tengah dan telunjukku seolah sedang mengulum sebatang kontol.

Kulihat kontol Fendi menegang. Kurasakan kontraksi jepitan anusnya semakin terasa. Dan tanpa disentuh, kontol Fendi memuncratkan spermanya hingga membasahi dada dan perutnya.

“Uuuuuungggg….” gumam Fendi panjang sambil terus mengulum jariku.

Akupun tak tahan. Kupercepat gerakanku agar aku bisa mencapai klimaks yang luar biasa. Aku menggeram sambil meremas dada Fendi kuat-kuat hingga anak itu menjerit kesakitan.

“Keluarin bang..! ayo keluarin di pantat Fendi!” pekiknya.

Tubuhnya makin liar terlonjak-lonjak hingga akhirnya kulengkungkan punggungku dan menahan tubuhnya saat kutumpahkan cairan pejuhku di dalam anusnya.

Fendi menggeliat dan bergetar sambil melenguh panjang. Mungkin dia merasakan sensasi aliran sperma hangatku di dalam pantatnya. Aku mengatur nafasku lalu perlahan kucabut kontol yang telah basah itu dari keluar dari pantat Fendi. Anak itu masih terengah-engah. Akupun membanting tubuhku yang kelelahan di sebelahnya.

“Makasih bang…” ujarnya sambil tersenyum.

Aku terdiam. Beberapa lama kemudian Fendi bangkit dan pamit hendak ke kamar mandi. Setelah dia menghilang dari kamar, aku menyambar handuk untuk menutupi bagian bawah tubuhku. Kemudian aku meraih tas milik Fendi dan memeriksa isinya.

Aku terkejut ketika melihat setumpuk uang ratusan ribu yang lumayan banyak di dalam tasnya serta beberapa struk ATM. Fendi harus memberikan penjelasan soal ini!

***

“Eh, bang? kok uang saya dikeluarin?” tanya Fendi ketika dia kembali dari kamar mandi. Dia tampak gusar ketika mengetahui aku baru saja menggeledah isi tasnya. Uang itu menumpuk di atas meja.

“Kamu tahu enggak? di mall ada kejadian.. pembobolan rekening bank dengan ATM ganda…” ujarku.

“Maksud abang?” tanya Fendi.

“Abang minta kamu ngaku, darimana uang kamu itu! apalagi sudah dua kali abang lihat kamu malam-malam di ATM sendirian! enggak mungkin gaji pegawai toko bisa sebanyak itu apalagi beliin abang barang…” kataku.

Fendi tak menjawab. Dia mengambil tasnya dengan marah lalu mengaduk isinya. Fendi kemudian mengeluarkan beberapa lembar kertas dan melemparnya padaku.

“Tuh! pegawai toko ini punya kerja sampingan bisnis online! Puji syukur bulan ini aku dapat bagian share yang lumayan besar hasil usaha satu tahun… kalau Fendi putusin untuk traktir abang, itu bukan kejahatan kan?” ujarnya tajam.

Aku memeriksa kertas yang dilempar Fendi. Di situ tertulis nama sebuah website dan surat terima kasih serta sejumlah uang yang diperoleh atas nama Fendi atas usahanya selama satu tahun.

“Makasih karena udah curiga sama Fendi, bang… Fendi pamit! Fendi pulang sendiri!” kata Fendi sambil memasukkan kembali uang itu pada tasnya dan keluar kamar sambil membanting pintu.

Aku tertegun tak bisa berbuat apa-apa. Tak lama ponselku berdering. Abdul yang menelepon.

“Sori bro, telepon malam-malam. Muka pelaku pengganda ATM itu udah ketahuan. Hasil rekamannya dicetak dan diprint buat kita awasi besok…” kata Abdul.

“Oh ya? ba.. bagaimana ciri-cirinya?” tanyaku was-was masih memikirkan kemungkinan Fendi sebagai pelakunya.

“Cowo bro.. tinggi gede berkumis. Ada tahi lalat di hidungnya…” jelas Abdul.

Aku pun mendadak lemas dan merasa bersalah.

****

Advertisements
Comments
  1. ilyas says:

    Jaah, mampus abis, salah kepo.
    Lanjuttkan,, seru. *berasa pengen digenjot juga* hahaa

  2. Andde Andde Lummut Komentator Abal2 dan Bowo juga Dufei Komentator Ecek2 says:

    Tampar si Zaki pake Konthol nya Abdul

  3. julianbougru says:

    Baca cerita ini serasa berkaca sm diri sendiri, kebetulan gw adalah seorang suami umur 25th dengan 1 orang anak, gw memang sengaja menikah diusia muda, cerita bang zaky ini serasa menceritakan pengalaman gw satu minggu yg lalu, kebetulan gw punya temen yg udah 3 taun ini gw kenal sekarang dia umur 22th, dan dari awal kenal dia memang udah bilang sm gw kl dia suka, tp gw gak pernah nanggapin n cuma anggap temen biasa aja. Gw terakhir ketemu dia taun lalu sampe akhirnya minggu lalu kita sengaja janjian buat liburan bareng ke singapore dan disana kejadian it terjadi, gak tau apa yg gw rasain smpe hal it bs terjadi sm gw. Skrang hub kita gak tau apa namanya tp komunikasi diantara kita jd semakin sering dan gw jg blm bs bilang kedepannya bakalan kaya gmn yg pasti gw menjalani dan membiarkan ini semua mengalir dengan sendirinya aja.

    Well, gw gak tau akhir cerita pengalaman gw nanti mau kaya gmn, yg pasti gw pengan tau akhir cerita dari bang zaky ini kaya gmn.. Thanxs ☺

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s