bangzaki-2SEJAK kejadian malam itu, saat aku memaksa Fendi mengoral kontolku di toilet, aku jadi sering melamun. Entah kulakukan secara naluri atau tidak, aku seperti mencoba menjauh dari pemuda itu sehingga sulit sekali bertemu dengannya. Padahal aku sering melewati butik tas tempat dia bekerja, namun saat aku mencoba mencarinya, sosok Fendi tak pernah kulihat. Mungkin juga dia yang menjauhiku setelah trauma dengan kejadian malam itu. Trauma? tapi anak itu bilang terima kasih! terima kasih karena sudah kupaksa menelan pejuh? yang benar saja! pasti dia cuma basa-basi. Aku langsung membayangkan Fendi yang keluar dari toilet langsung berlari sambil menangis tersedu-sedu.

“Bro…? bro… dumbelnya dipake nggak?” pertanyaan Abdul membuyarkan lamunanku.

“Oh? eh? enggak. Gue udah selesai,” jawabku sambil bangkit dan mengusap keringatku dengan handuk.

Abdul menatapku keheranan. Sambil mulai mengangkat dumbel sepuluh kilo di atas bangku dia langsung melempar pertanyaan yang menohok.

“Tampang lu bingung gitu, bro! kayak abis selingkuh..” tembaknya.

Aku langsung gelagapan. “Ah! sembarangan lu bro! main nuduh aja..”

“Iya juga gapapa, bro. Santai aja ama gua mah, HEAAA!” kata Abdul sambil mengerahkan tenaganya untuk mengangkat beban berat itu.

Tentu saja aku tak bisa berterus terang pada Abdul tentang kejadian itu dengan Fendi. Mungkin kalau soal selingkuh Abdul tidak akan banyak komentar. Tapi apa yang bakal dia bilang kalau aku ternyata berselingkuh dengan lelaki?

Tapi terus terang. Aku sedikit berharap Fendi menghubungiku pertama kali. Bukan apa-apa, hanya sekedar memberi kabar kalau dia baik-baik saja dan tak ada masalah denganku. Di atas ranjang, bolak-balik kulihat layar ponsel mencoba untuk mengirim sms, tapi berkali-kali pula kuurungkan niatku. Saat aku menyentuh kontolku yang tegang, aku langsung teringat Fendi dan bagaimana cara dia menikmati kontolku dengan penuh perasaan.

***

Keesokan harinya, aku kembali mendapat tugas jaga malam. Lampu mall baru saja dimatikan. Ketika melewati anjungan ATM yang sudah gelap, aku kembali teringat pada Fendi. Baru saja aku hendak beranjak dari tempat itu, dari kegelapan sosok pria menabrak tubuhku. Aku langsung sigap dan mencekal lengan pria itu dan membawanya ke tempat terang.

“Fendi?” tanyaku saat kulihat wajah pemuda yang baru menabrakku tadi.

“Eh.. Abang? maaf bang? tadi enggak lihat jalan pas keluar..” kata Fendi.

“Abis ambil uang?” tanyaku sambil menatap beberapa lembar uang yang digenggamnya.

“Iya bang, Om saya lagi sakit. Enggak enak kalau enggak bantu. Selama ini saya kan numpang tinggal di tempatnya,” kata Fendi.

“Oh…” ujarku.

Keadaan kembali menjadi canggung. Aku sedikit salah tingkah. Kulihat Fendi memasukkan lembaran uang itu ke dalam tas slempangnya.

“Bang.. Maafin Fendi ya soal kemarin, Fendi ngerti kalau abang enggak mau lagi ketemu Fendi setelah tahu kalau Fendi ini… ngg… makanya Fendi takut ketemu abang. Jadinya Fendi ngehindar…” ujarnya.

Jadi dia yang menghindar gara-gara takut kalau identitasnya sebagai gay terbongkar. Pikirku. Aneh, harusnya aku yang malu karena telah memaksanya melakukan seks oral.

“Um.. enggak apa-apa, Fen. Abang rasa enggak apa-apa kalau kita tetep temenan,” kataku.

“Beneran, bang? Makasih ya, bang! Abang Zaky baik banget, Fendi udah nganggap abang kayak kakak sendiri. Fendi kan anak tunggal,” ujarnya sumringah.

Aku terseyum simpul.

“Mm… kalau gitu Fendi pulang dulu ya, bang? met tugas malam..” katanya riang sambil menepuk lenganku dan pergi dari tempat itu.

“Ya.. semoga om kamu cepat sembuh, ya!” sahutku.

***

Hari-hari selanjutnya, kami berdua bersikap biasa saja. Saat aku melewati toko tempat Fendi bekerja, dia menoleh sambil nyengir ke arahku. Akupun membalasnya dengan senyuman.

Sore itu, ketika aku melewati counter ATM, aku melihat Abdul sedang dikerumuni oleh beberapa orang. Di depannya ada seorang ibu yang sedang marah-marah.

Setelah berargumen dengan Abdul, ibu itu akhirnya mengalah dan pergi dengan tampang kurang puas.

“Ada apa sama ibu tadi?” tanyaku pada Abdul.

“Ibu tadi, dia bilang saldo tabungannya berkurang banyak pas di cek di ATM. Lalu enggak terima jadi menghambat antrian,” jelas Abdul.

“Ooo..”

“Gue bilang, kalau masalah saldo lebih baik telepon bank bersangkutan. Masa saldo kurang nyalahin ATM?” gerutu Abdul.

Aku manggut-manggut.

“Hmm.. Kalau gitu gue cabut dulu bro!” kataku.

“Seneng betul kalau pulang sore, hehe..” kata Abdul sambil menepuk lenganku.

Aku nyengir.

***

Aku mengemudikan motorku perlahan menuju pintu keluar parkir mall. Saat aku melewati pinggir mall, aku melihat Fendi sedang berdiri di situ. Kupinggirkan motorku ke dekatnya.

“Woy! Fen! kok tumben? enggak kerja sampe malam?” tegurku sambil membuka helm.

“Wah! Bang Zaky! kebetulan. Ng.. anu Mas, hari ini Fendi memang pulang cepet, tadi sempet cari abang, tapi katanya udah pulang,” ujarnya.

“Hah? kenapa emangnya cari abang?” tanyaku.

“Ini Bang, Fendi mau kasih jaket buat abang,” katanya sambil menyodorkan sebuah kantung belanja terbuat dari kertas berwarna merah.

Aku menerimanya dengan ragu. Saat kukeluarkan isinya, ternyata itu adalah sebuah jaket kulit hitam dengan kualitas dan bentuk yang bagus. Dari materialnya saja aku bisa menebak kalau jaket ini harganya mahal.

“Waduh, Fen? abang enggak mau ah! ini kayaknya barang mahal,” tolakku sambil memasukkan lagi jaket itu ke dalam kantung belanja dan menyodorkannya lagi pada Fendi.

“Tenang aja bang, ini sebenernya jaket keluaran dua tahun lalu. Kalau namanya jaket cowok, enggak begitu kelihatan udah lewat trendnya. Makanya, tadi saya dapat voucher buat cuci gudang khusus karyawan, lumayan diskon sampai 80 persen, jadi saya beli deh..” jelas Fendi.

“Tapi Fen, jangan buang-buang duit ah! apalagi pake ngasih segala ke abang,” kataku.

“Yah, abang. Malu dong ganteng gagah gitu, tapi jaketnya…” Fendi tidak meneruskan kalimatnya, tapi dia menatap aneh pada jaket kulit lusuhku yang sudah agak kumal namun masih enak dipakai itu.

Terus terang, jaket kulit yang dibawa Fendi membuatku ngiler. Apalagi sudah lama aku ingin mengganti jaket ini dengan yang lebih baru. Tapi aku tetap menolaknya.

“Udah bang, terima aja. Sama aku juga enggak mungkin kepake. Ukurannya ke-gede-an,” kata Fendi memaksa.

“Ng.. makasih Fen, abang jadi nggak enak nih,” kataku sambil ragu menerima jaket itu kembali.

“Lagian, abang bisa ganti pake traktiran aja. Heheh..” kata Fendi nyengir.

“Kalau traktiran sih, oke. Mau sekarang?” tanyaku. Aku merasa tak enak sudah diberi barang oleh Fendi.

“Siap!” sahut pemuda berkulit terang itu riang.

“Tapi abang balik dulu ya? enggak betah nih, mau mandi dulu,” kataku.

“Kalau gitu, Fendi ikut abang aja. Nanti sekalian dari tempat abang berangkatnya,” usulnya.

Aku agak ragu sesaat, namun kusetujui juga usulannya.

“Ayo naik!” perintahku. Fendi pun ikut membonceng motorku.

Sepanjang perjalanan rupanya Fendi tidak berbuat macam-macam seperti yang kukhawatirkan. Rupanya dia memang menjaga agar tidak kusangka sedang berbuat macam-macam. Duduknya saja agak jauh dan tidak sengaja menempelkan diri pada tubuhku. Tangannya berpegangan pada jok motor dan tampak berhati-hati sekali agar tak melakukan kontak fisik dengan tubuhku. Mungkin tidak semua gay itu genit dan cari-cari kesempatan setiap kali melihat cowok normal.(*)

Sesampainya di mess, aku mengajak Fendi masuk. Kuletakkan tas berisi jaket pemberiannya di atas ranjang.

“Abang mandi dulu sebentar, ya? kamu nonton tv aja dulu,” kataku sambil mengambil handuk yang tergantung di balik pintu.

Fendi mengangguk. Dia mengambil remote TV dan tanpa memedulikanku lagi yang keluar kamar hendak menuju kamar mandi, dia mulai menonton.

Sekitar limabelas menit kemudian aku kembali dari ke kamar. Aku hanya mengenakan handuk saja yang melilit pinggangku. Rupanya Fendi masih menonton TV, namun sweaternya telah dibuka sehingga dia hanya memakai kaus lengan pendek putih tipis saja.

“Gerah, Fen? maklum ya, mess gini mana ada AC nya? heheh…” kataku.

“Iya, Bang. Gapapa..” sahut Fendi.

“Bentar ya, abang ganti baju dulu,” kataku. Duh! Sial! mengapa di saat seperti ini kontolku malah menegang? aku buru-buru membalik badan menyembunyikan selangkanganku dari tatapan Fendi.

“Bang…” ujar Fendi.

“Ya, Fen?”

“Enggak usah pergi bang, Fendi mau di sini aja…” ujarnya pelan. Kemudian Fendi turun dari atas ranjang dan dengan berjalan dengan kedua lututnya, dia kini sudah berlutut tepat di depanku.

Aku meneguk ludah. Kulihat Fendi menengadah menatapku sendu. Tatapannya seperti memohon agar aku mengizinkannya bermain-main kembali dengan kontolku. Aku tahu dia ketagihan dan menginginkannya kembali. Akupun demikian.

Tanpa menunggu isyarat dariku, Fendi melepas ikatan pada handuk yang kupakai dan membiarkannya jatuh ke lantai. Aku kembali meneguk ludah. Jantungku berdebar. Kusandarkan punggungku pada dinding.

“Uh…” keluhku saat Fendi dengan sigap menggenggam kontolku yang sudah tegang itu.

Dijilatnya perlahan kepala kontolku sambil memejamkan mata. Fendi kelihatan betul sangat menikmatinya. Dan itu yang membuatku semakin bergairah. Jantungku berdegup kencang. Ujung lidah Fendi seakan tak rela melewatkan sedikit saja bagian dari kepala kontolku. Diusapnya perlahan, terkadang diberikannya tekanan pada kulitnya hingga aku merasakan gelenyar seperti tersengat listrik namun enak pada tubuhku.

“Ah.. Fen..” gumamku.

Ketika lelehan cairan bening mulai keluar beberapa tetes, bibir Fendi mencucupnya dan dengan sigap dicicipinya cairan itu hingga bersih. Itu membuat otakku semakin menggila.

“Mmm…..” gumam Fendi. Kali ini dia mengangkat batang kontolku dan mengusap bagian bawahnya dengan lidahnya. Tak lupa dia juga memberikan perlakuan istimewa pada kedua buah zakarku. Dikulumnya lembut secara bergantian, dan ditariknya perlahan sehingga menimbulkan sensasi enak yang belum pernah kurasakan.

“Shh… hhh…” desahku keenakan. Keringat mulai menetes dari bahu dan leherku.

Fendi semakin semangat mengoral kontolku. Kurasakan seluruh batang kontolku telah basah oleh liurnya. Ini yang dilakukan Fendi kemudian: dia mengatupkan bibirnya dan menempelkan bibirnya pada kulit kontolku. Kemudian dia bergumam panjang sehingga bibirnya bergetar dan digerakkannya di atas kontolku sehingga getaran itu kurasakan merangsang syaraf-syaraf pada batang itu.

“Hnngg…” aku mengerang saat Fendi melakukan itu. Kurasakan tubuhku menegang dan punggungku menahan tubuhku pada dinding. Aku sudah tak tahan lagi. Di saat seperti ini, aku teringat memek istriku. Ingin rasanya kontol ini menghajar memek itu sampai aku muncrat melepas syahwat di dalamnya. Tapi yang ada di sini hanya Fendi. Dan dia seorang lelaki.

Tiba-tiba Fendi menghentikan gerakannya. Dia naik ke atas ranjang dan menyandarkan punggungnya pada dinding. Dia tersenyum dan memanggilku dengan isyarat. Walau sudah tegang seperti ini, aku masih belum terpikir untuk menyodomi anak itu. Gila! aku masih ingat istri dan anak! pikirku.

Dan sepertinya Fendi juga tidak berharap demikian. Aku tahu. Dia hanya sudah bersiap untuk kuhajar mulutnya dengan kontolku. Kemudian aku naik. Kubuka pahaku dan menghimpit pinggangnya hingga selangkanganku tepat berada di depan mukanya. Fendi meringis saat pundaknya terhimpit ke dinding oleh tekanan pahaku. Tapi dia kemudian membuka mulutnya, dan kusuapkan kontol tegangku ke dalam mulutnya yang membuka itu.

“Hoooh…” erangku saat mulai menyumpal kontolku ke mulutnya. Kulihat Fendi memberontak sambil memekik tertahan. Posisinya sangat tidak menguntungkan. Bersandar di dinding dengan kepalanya yang ikut tertekan ke dinding dan terpaksa harus menerima bekapan selangkanganku. Tangannya meronta mencoba meraih pegangan. Ketika dia mencoba meraih pantatku, aku menepisnya galak. Fendi menurut. Tapi tangannya tetap butuh pegangan. Aku yang kasihan melihatnya disiksa oleh sodokan kontolku membiarkan jemarinya merayap pada perut dan dadaku dan meremasnya.

“Hhmmm….” gumam Fendi. Rupanya dia menyukai dada bidangku dan mempermainkannya walau dia kesulitan bernafas. Aku terus menghujamkan kontolku ke mulutnya sambil mendesah-desah.

“Ah… Fen… Isep terus Fen.. isep kontol abang…” kataku meracau.

“Nng… ngg..” yang terdengar dari mulut Fendi hanyalah gumaman dan erangant tertahan.

Fendi kemudian menurunkan tangannya dan perlahan menyusupkannya ke dalam celana jeansnya. Dibukanya kancing celana jeans dan risletingnya sehingga dia leluasa mengocok kontolnya sendiri. Pahanya terbuka lebar saat dia mulai menstimulasi batang kontolnya sambil terus mengulum kontolku.

Pantatku terus maju mundur seiring batang kontolku yang keluar masuk mulutnya. Walau servis oral Fendi enak, kontolku sudah terbiasa dijepit oleh memek istriku yang lebih sempit dari rongga mulut. Karena itu, tanpa ampun aku memegangi kedua pipi Fendi dan menekannya ke tengah agar rongga mulutnya terasa lebih sempit.

“AAaaaah…” saat kurasakan jepitan pada kontolku semakin ketat, kupejamkan mata sambil membayangkan sedang merojok memek istriku. Kupercepat gerakanku hingga semakin ganas mengentot mulut Fendi.

“Hunggg… uungg…” jerit Fendi tertahan. Entah kesakitan atau keenakan, aku tak peduli. Dia mengocok kontolnya semakin cepat. Kulihat punggunnya melengkung dari dinding. Tubuhnya menggeliat-geliut liar. Akupun hampir mencapai klimaks. Tubuhku bergetar hebat. Kutahan kepala Fendi dan sekali lagi memaksanya untuk menerima semburan pejuhku di dalam mulutnya.

“Arrrgh…” aku menggeram sambil mengatupkan gigi. Tak lama kontolku meledak di dalam mulutnya menumpahkan cairan sperma yang rasanya seperti berliter-liter keluar dari lubang kencing itu. Fendi meronta-ronta seperti kehabisan nafas. Dia menggumam panjang dalam suara erangan tertahan, dan dia pun memuncratkan sperma dari kontolnya berkali-kali hingga membasahi kausnya. Nafasnya terengah-engah. Wajahnya memerah dan berkeringat.

Saat aku yakin kontolku tak lagi mengeluarkan pejuh, perlahan kutarik batang itu keluar dari mulutnya. Fendi terbatuk-batuk. Matanya mengeluarkan air. Tapi tak ada setetespun cairan sperma keluar dari mulutnya. Fendi benar-benar berhasil menelannya semua dan itu membuatku merasa sangat puas.

Fendi kemudian duduk di pinggir ranjang sambil mengatur nafasnya. Dia tak menatap wajahku. Kemudian dia berkata, “Bang.. pinjam handuk…”

Tanpa bicara apapun, aku bangkit dan mengambil handuk dari lemari dan menyerahkan handuk itu padanya. Fendi menyambar sweaternya dan keluar kamar.

Setelah beberapa lama, Fendi sudah kembali dan berpakaian rapi. Dia tersenyum padaku. Aku yang tak mandi, hanya mengeringkan tubuhku dan membersihkan kontolku dengan handuk yang ada. Aku sudah berpakaian memakai kaus dan celana jeans panjang.

“Bang, makasih ya..” katanya.

“Eh, i.. iya Fen,” kataku salah tingkah.

“Mau berangkat sekarang?” tanyaku.

Fendi menggeleng. “Kalau boleh, antar Fendi pulang aja bang, Fendi udah kenyang… hehehe..”

Kurasakan wajahku memanas.

“Ayo, abang antar pulang. Lain kali tetep abang traktir,” kataku.

“Tapi pake dulu jaketnya bang. Sini…” kata Fendi sambil menyerahkan jaket itu dan membantuku merapikannya sesaat setelah kukenakan.

“Nah, bener kan cocok? abang makin gagah kelihatannya,” pujinya tulus.

Aku tersenyum simpul.

Saat Fendi hendak berbalik, entah mengapa secara reflek aku menarik lengannya hingga dia terkejut. Lalu dengan spontan kukecup pipinya.

Fendi menatapku kaget. Akupun terkejut dengan perbuatanku sendiri. Buru-buru aku mengajaknya keluar kamar.

Sepanjang perjalanan mengantar Fendi, kami berdua terdiam. Namun aku membiarkan anak itu memeluk pinggangku.

***

Keesokan harinya, Abdul menceritakan berita mengejutkan.

“Bro.. inget ibu-ibu kemarin? yang katanya saldo di rekeningnya berkurang?” ujar Abdul misterius.

“Iya? kenapa?” tanyaku.

“Katanya, ada yang membobol rekeningnya dengan kartu ATM ganda. Dan setelah ditelusuri, katanya diambil di ATM dalam mall ini!” jelas Abdul.

“Hah! kok bisa? lantas udah ketahuan siapa orangnya? kan bisa dicek dari CCTV bro? sesuai jam transaksi,” kataku.

“Itu dia! rekamannya lagi diselidiki. Butuh waktu tapinya.. ah! bangke! penjahat banyak akalnya ya sekarang?” keluh Abdul.

Aku terdiam. Entah mengapa, wajah Fendi langsung melintas di benakku.

***

(*) penggunaan kata ‘normal’ hanya merupakan sudut pandang kebanyakan straight yang jarang menggunakan istilah straight

Advertisements
Comments
  1. ferrylogic says:

    Hmhhh..Bang Remmy mau bikin abang satpam kita galau nii..Pilih profesionalisme krja apa nikmatnya oralan Fendi..hehehe 😀

  2. ilyas says:

    Seru, bikin tegang, enak tuh sifendi. Jadi ngiri. Haha .. *lanjuttt*

  3. Andde Andde Lummut Komentator Abal2 dan Bowo juga Dufei Komentator Ecek2 says:

    Tolong dijawab: dapet foto2 hot darimana?

  4. gsitmf says:

    “Saat Fendi hendak berbalik, entah mengapa secara reflek aku menarik lengannya hingga dia terkejut. Lalu dengan spontan kukecup pipinya.”

    bisa diabetes gue kalo dikasih chemistry2 manis kayak gini bang….you really got at it #menggila

    Keep up the good work

  5. eka says:

    Keren jg cerita nya..ini cuma fiktif kan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s