BANG ZAKY SATPAM MALL Bagian 1

Posted: March 16, 2014 in Bang Zaky Satpam Mall (1-4 Tamat)
Tags: , , ,

BangZakyKATA Orang, tinggal di Jakarta itu susah. Apalagi buat orang yang pendidikannya pas-pasan, atau modal uangnya tidak cukup. Seperti aku ini. Terpaksa meninggalkan istri dan anak yang masih balita demi menjalani profesi baru sebagai petugas keamanan di sebuah perusahaan penyalur tenaga keamanan (outsourcing). Gajinya memang lumayan, tapi belum cukup banyak untuk bisa kutabung dan menyewa kontrakan yang lebih layak agar anak dan istriku bisa dekat bersamaku di sini.

Untunglah, aku bisa sedikit berhemat. Selain menyediakan mess yang cukup layak ditinggali (setiap orang mendapat satu kamar), untuk urusan menjaga kebugaran juga sudah disediakan oleh perusahaan sasana gym dan jadwal futsal rutin atau badminton setiap minggunya.

Godaan lain adalah justru datang dari pengunjung mall. Aku sekarang ditugaskan di sebuah mall yang cukup prestisius di Jakarta. Orang sering bilang, agar aku sesekali ikut casting untuk menjadi artis sinetron. Saran yang konyol menurutku! karena walau mereka bilang badanku tinggi tegap dan wajahku lumayan tampan, aku tak memiliki bakat akting sama sekali. Kuanggap itu sebagai pujian. Tapi akibatnya, banyak yang nekad coba-coba berkenalan denganku. Tante-tante atau gadis muda mungkin bisa kumaklumi. Tapi penduduk kota besar yang terbuka seperti ini juga membuat beberapa kaum gay tak segan-segan mencoba mendekatiku. Aku yang masih menjaga diri menolak semua godaan itu.

“Padahal ente bisa dapet uang tambahan, Zak!” kata Abdul rekan seprofesiku saat kami berdua istirahat makan di sebuah kedai soto sambil merokok.

“Jual diri? nyambi jadi gigolo? ente udah gila bro..” balasku sambil menggeleng-gelengkan kepala.

“Biaya idup tinggi bro.. apalagi kalo elo mau jadi simpenannya homo.. ahahahaha..” ledek Abdul. Aku meninju lengannya.

Itulah sebabnya. Walau tidak sesuai dengan etika profesi yang mengharuskan diriku tampil ramah, kadang aku harus memasang tampang galak untuk menghalau orang-orang yang mencoba menggodaku, terutama sampai taraf memegang-megang badanku. Hal itu bukan mengada-ada, pernah terjadi seorang instruktur fitnes pribadi yang bekerja di salah satu pusat kebugaran di mall itu mengajakku berkenalan. Dia kagum dengan bagaimana diriku tetap berhasil memahat otot tubuhku tanpa harus menjadi pelanggan pusat kebugaran mahal. Awalnya kuterima ajakannya mengobrol karena aku bisa mendapat tips seputar kebugaran dari dia yang lebih berpengalaman. Lagipula, tak ada kecurigaan sama sekali kalau dia ternyata gay. Sampai suatu hari, dia tak tahan lagi dan mencoba meremas selangkanganku. Ckckck.. tanpa ampun kuperingatkan orang itu agar tak mendekatiku lagi.

Sejak kejadian itu, aku lebih waspada. Seringkali aku pasang tampang sangar sambil berkeliling mall. Termasuk malam itu. Hari itu aku kebagian tugas malam hingga pagi hari. Mall sudah tutup sejak jam sepuluh, namun karyawan beberapa toko masih terlihat untuk membereskan barang-barang mereka.

“Mukanya ditekuk aja bang! entar mall ini jadi sepi loh.. hehehe..” kata sebuah suara.

Aku menoleh. Seorang pemuda berperawakan langsing, berkulit bersih dengan hidung yang mencuat sedang tertawa terkekeh melihatku. Tangannya menggenggam kantung plastik berisi sebuah kotak yang bertuliskan merek Hoka-Hoka Bento. Aku mengenalnya sebagai Fendi. Dia adalah salah satu karyawan sebuah toko tas dan sepatu wanita. Sehari-harinya dia memakai seragam formal lengkap dengan dasi. Namun jika pulang, seperti kebanyakan karyawan toko lainnya, dia mengganti pakaiannya dengan kaus dan celana jeans saja.

“Pulang Fen?” tanyaku basa-basi.

“Iya, Bang.. Oh iya, kemarin belum sempet bilang terima kasih udah nemuin handphone saya yang kegeletak di deket bangku. Untung aja abang temuin. Heheh..” katanya.

“Iya Fen, untung belom ada yang ambil,” kataku.

“Nah, abang Zaky kan tugas malam sekarang… Nih! ambil buat abang!” katanya seraya menyerahkan bungkusan kotak Hokben itu padaku.

“Eh, enggak usah Fen! buat kamu aja..” tolakku.

“Ambil aja bang.. saya enggak biasa makan malam, lagian ini tadi si bos ulang tahun, jadi dia traktir beli makanan. Ambillah bang..” ujar Fendi sedikit memaksa.

Akhirnya aku mengalah dan mengambil kantung plastik itu. Lumayan juga untuk mengganjal perutku yang suka tiba-tiba lapar lewat dini hari.

“Makasih ya Fen..”

Pemuda 19 tahun itu tersenyum. “Yuk, bang! met jaga malam ya! salam sama cewek rambut panjang baju merah yang suka nongkrong di toilet cewek… hahaha..” ujarnya jahil.

Aku tersenyum kecut.

Kalau kata Abdul, banyak karyawan toko yang homo. Kalau aku lihat, beberapa orang memang demikian jika berpatokan dari bagaimana gestur tubuh mereka. Tapi kalau Fendi? aku tak begitu tahu dan peduli. Tampaknya dia normal-normal saja. Kalaupun dia agak alay sedikit, yah.. namanya juga baru melewati masa remaja.

***

Salah satu godaan terberat lagi jauh dari istri adalah kebutuhan biologis. Rasanya aneh saja jika aku harus melepas syahwat hanya dengan bantuan tangan sementara aku sudah memiliki istri. Sedangkan aku tak mau berurusan dengan PSK karena selain beresiko terkena penyakit, tentu ‘jajan’ seperti itu membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Usulan Abdul malah lebih gila. Dia mendorongku untuk menjadi gigolo pemuas nafsu wanita. Selain bisa melepas ketegangan kontol, aku juga bisa dapat uang. Tapi harga diri dan kelelakianku mau ditaruh di mana jika aku melakukan hal itu?

“Atau sama waria aja bro… disodorin kontol juga langsung mangap. Apalagi satpam ganteng kayak elo… Hahahahaha…” usul Abdul.

Gila! Aku tak serendah itu memperlakukan orang lain demik kepuasan pribadi. Tapi yah, memang serba salah. Akhirnya aku hanya bisa puas menggoda istriku lewat telepon sambil mengocok kontol sendiri membayangkan sedang bersetubuh dengan dia.

“Malam bang! enggak jaga ya?”

Fendi malam itu SMS. Kebetulan hari ini aku off dan seharian berada di kamar. Aku membalas sms nya.

“Enggak. Lagi off.”

“Oh, pantes. Tadi nyari abang mau kasih makanan lagi. Kirain jaga. Hehehe.”

“Hehehe.”

“Bang.. abang tinggal sendiri ya? enggak kesepian?” SMS Fendi.

“Kesepian lah. Kok tumben tanya-tanya?”

“Hehehe.. enggak bang. Repot dong ya jauh dari istri? Ntar kalau lagi kepengen susah..”

“Kepengen apa maksudnya? heheh..”

“Ah, Abang! pura-pura polos.”

“Anak kecil udah ngomongin gituan! kuliah sana! jangan kerja terus!”

“Ih. abang galak. Maksud Fendi kan, kalau butuh bantuan, Fendi juga bisa. Ya… minimal ngisep-ngisep lah.. Hahaha..”

Deg! Aku terperanjat dengan SMS terakhir dari Fendi. Rupanya anak ini homo juga. Aku menjadi kesal dan tak membalas SMS nya.

“Bang? abang? marah ya bang? maaf bang.. Fendi cuma becanda.. huhu..”

Aku tak membalas

“Bang… bales smsnya bang…”

“Fen. Abang gak masalah kalau kamu homo. Tapi gak suka kalau digodain gitu. Maaf Fen. Udah dulu ya.” pungkasku.

Anak itu tak lagi membalas.

Aku merebahkan diri ke atas ranjang. Gila! lama-lama aku bisa tidak tahan juga dengan semua godaan para homo itu. Huffhh.. susah.. susah.. keluhku dalam hati.

***

Beberapa hari kemudian aku kembali ditugaskan jaga malam. Sengaja aku menghindar dari pintu belakang mall khusus karyawan agar tak bertemu dengan Fendi. Tapi rupanya aku juga merasa bersalah. Sebenarnya Fendi anak yang menyenangkan. Dia sudah kuanggap seperti adik laki-lakiku sendiri. Jadi setelah beberapa hari menghindar, rupanya aku kangen juga. Tapi aku gengsi untuk menyapanya terlebih dahulu. Lagipula anak itu juga seperti ketakutan dan menghindariku.

Saat aku melewati counter ATM yang sudah gelap, kulihat seseorang berada di sana menghadap sebuah mesin ATM. Fendi. Akupun terpaksa menegurnya.

“Kenapa Fen?” tanyaku sambil menyorotkan lampu senter ke arahnya.

Fendi yang agak terkejut, menjawab pertanyaanku.

“Eh, abang.. enggak bang.. tadi barusan kartu ATM-ku jatuh habis ambil uang. Ini gelap betul…” keluhnya.

“Oh. Sini abang bantu cari.” kataku sambil menghampirinya.

“Makasih bang.. oh iya bang. Maafin Fendi ya kemarin? SMS nya jangan dianggap serius..” katanya sambil tertunduk malu.

“Iya gapapa Fen. Lupain aja,” kataku.

Lalu aku membantu Fendi menyoroti lantai yang gelap itu mencoba memberi bantuan penerangan padanya yang merangkak di lantai mencoba mencari kartu ATM.

“Apa enggak besok aja Fen? atau bilang aja ke bank kalau kartunya hilang, biar diganti..” usulku.

“Enggak ah bang, repot ngurusnya. NAH! KETEMU!” ujarnya sambil mengambil kartu ATM yang ternyata letaknya tak jauh dari kakiku. Saat bangkit, Fendi melihat selangkanganku yang entah mengapa tidak bisa menyembunyikan keadaan diriku yang memang sedang horny malam itu.

Fendi tersenyum-senyum geli melihatku salah tingkah tertangkap basah dengan tonjolan pada selangkanganku yang sulit disembunyikan.

“Abang bener-bener kurang belaian istri ya.. hehehe..”

Aku menatap Fendi. Entah setan mana yang masuk ke kepalaku, aku langsung menyeretnya pergi dari ATM Counter.

“Eh, Bang? mau ke mana?” protesnya. Tapi Fendi menurutiku yang masih meraih lengannya menuju sebuah toilet dan membuka pintunya..

“Bang?” tanya Fendi heran saat kami berdua sudah berada dalam toilet.

Nafsuku sudah di ubun-ubun. Buru-buru aku menurunkan risleting celana seragam satpamku dan mengeluarkan kontolku yang sudah tegang itu.

“Kamu bilang kemarin mau isep? ayo sekarang bantuin abang…” desisku.

Fendi awalnya bingung. Namun akhirnya dia menyeringai dan berlutut di depanku. Jemarinya yang langsing mulai menggenggam batang kontolku. Awalnya aku masih sempat risih kemaluanku dipegang oleh seorang remaja pria. Tapi anak ini memang menginginkannya kan? jadi lebih baik kuberikan saja apa yang dia mau.

“Wah.. gede juga ya bang?” pujinya.

“Sssh.. ayo cepet isep..” perintahku lagi.

Aku memejamkan mata saat kulihat Fendi membuka mulutnya. Lidahnya yang berwarna pink menjulur dari antara bibir tipisnya yang terasa selembut es krim itu.

Aku terkesiap saat ujung lidahnya yang hangat mulai menjilati kepala kontolku. Perlahan dan penuh perasaan. Tangan Fendi tetap berada di pangkal kontolku, menggengamnya mantap seolah tak membiarkan kontolku pergi dari hadapannya.

Lidahnya kembali bergerak lebih liar. Diusapnya kepala kontolku berkali-kali dengan lidahnya. Terus terang, ini bukanlah servis oral pertamaku. Biasanya istriku melakukannya karena aku memintanya. Tapi aku merasa itu hanyalah sebatas kewajibannya melayani suami. Tapi Fendi? dia seolah benar-benar menikmati proses blowjob itu. Mengagumi setiap bagian kontolku, menikmatinya, benar-benar menginginkan batang itu sampai aku mendengar gumamannya saat dia berusaha memasukkan kepala kontolku ke dalam mulutnya yang hangat dan lembab itu.

“Hhhh…” desahku. Aku terpaksa menyandarkan tubuhku ke dinding sambil membuka sedikit kakiku.

“Mm… bang.. kontol abang enak banget…”

Fendi semakin bersemangat. Dia mengulum kontolku dengan sukacita. Kepalanya bergerak liar membuat kontolku tanpa ampun dilumatnya di dalam mulutnya. Aku sampai harus menahan bahunya agar tak terlalu bersemangat mengoral batang kontolku.

Kudengar nafas Fendi memburu. Dia melepaskan kontolku dari mulutnya dan mulai mengocoknya. Dia menatapku penuh nafsu sementara bibir dan daerah sekitar mulutnya basah oleh liurnya sendiri.

“Engg…engg…” aku berusaha menahan diri dari kenikmatan kocokan tangan Fendi pada kontolku. Selain jago hisap, anak ini juga jago mengocok. Kugigit bibirku agar mulutku tak mengeluarkan suara mencurigakan.

Fendi kembali mengulum kontolku. Kali ini dengan isapan dan sedotan yang makin intens dan dalam. Aku sampai harus melengkungkan punggungku karena sensasi yang kuterima dari perlakuannya. Aku tak tahan. Kuraih rambut remaja itu dan menahan kepalanya. Tanpa ampun aku mulai menggerakkan pinggangku dengan gerakan maju mundur dan mulai menyetubuhi mulut Fendi.

“Uung.. unngg.. unng…” erang Fendi tertahan saat aku terus merojok mulutnya dengan kontolku. Nikmat sekali. Nafsuku sudah memuncak hingga dengan tega aku menyiksa Fendi. Namun sepertinya anak itu tak keberatan. Malahan dia sengaja mengatupkan bibirnya agar aku merasakan sensasi lebih nikmat jepitan bibirnya saat kontolku keluar masuk di antara bibirnya itu.

“OOh.. oooh.. oooooh….” erangku. Kulihat bagian sekitar seleting celana seragamku ikut basah oleh liur Fendi. Tapi aku tak peduli. Pokoknya malam ini aku harus terpuaskan.

Kurasakan kontolku berkedut-kedut berontak ingin memuntahkan seluruh isinya. Tanpa ampun aku memegangi kepala Fendi dan dengan gerakan terakhir, kutekan dalam-dalam kontolku di dalam mulutnya. Aku mengerang panjang. Tubuhku bergetar sementara telapak tanganku mencengkeram sisi kepala Fendi kuat-kuat. Aku ingin anak ini menelan seluruh spermaku.

“Akhh!!” aku memekik saat seluruh isi kontolku tumpah ruah di dalam mulut Fendi dan langsung mengalir ke dalam tenggorokannya. Fendi menggeliat sambil memberontak berusaha menelan seluruh cairan kental yang kukeluarkan. Kedua lengannya mencengkeram pahaku dan berusaha melepaskan diri dari sumpalan kontolku di mulutnya yang membuatnya tak bisa bernafas.

Setelah semprotan terakhir, aku membebaskan Fendi. Dia terbatuk-batuk dan beberapa tetes sperma meleleh dari ujung bibirnya. Matanya berair dan wajahnya memerah. Anehnya, dia tampak puas walau sudah kusiksa sedemikian rupa dengan kontolnya.

“Bang.. banyak banget bang..” ujarnya sambil terkekeh dan terengah-engah.

Aku membantunya berdiri. Kuambil beberapa lembar tisu dan membersihkan batang kontolku. Memang harus kucuci lagi, tapi setidaknya sisa-sisa lengketnya bisa kusingkirkan. Fendi menuju wastafel dan mencuci wajahnya. Aku tak berani menatap wajahnya saat kubenahi seragamku.

“Makasih ya bang..” ujarnya sambil tersenyum. Aku tak menjawab.

Fendi kemudian keluar dari toilet meninggalkanku sendirian di dalam.

Ya Tuhan! apa yang telah kulakukan?

****

Advertisements
Comments
  1. Andde Andde Lummut Komentator Abal2 dan Bowo juga Dufei Komentator Ecek2 says:

    Emang enak banget kalo diisep. Rasanya berkuasa kalo udah nyuruh bottom minum air mani gue πŸ˜€

  2. bannybaladewa says:

    Mantap..jadi ingat tahun kemarin waktu ketemu anak yg unyu unyu di sebuah train di luar negeri..dia main mata dengan saya. Dan ketika turun dari train di mengikuti saya.
    Saya sengaja singgah di sebuah toilet umum dan langsung masuk toilet paling ujung dan tidak mengunci pintu.
    Tiba tiba saja anak itu langsung masuk sambil meletakkan jari telunjuk dibibirnya.
    Sontak aja aku agak kaget..dia lihatin aku lagi kecing..dan tanpa babibu dia langsung jongkok dan menadahkan mulutnya untuk menampung air kencingku.
    Hingga sampailah dia menghisap kontolku sampai mucrat. Dan yg paling bikin gue kaget adalah ketika dia mau keluar di menyelipkan beberapa lembar duit dikantong bajuku…
    Udah enak dapat lagi pesangon hahhaha
    Memang kalau udah rejeki gak akan lari kemana.
    Lanjut gan ceritanya..aku suka cerita kayak gini.

  3. ilyas says:

    Dasyat, enaklah jadi sifendi. Mau bgt

  4. hud hsb says:

    Ada yg lagi nulis diary diatas. πŸ˜€ hahahaha

  5. reyhan says:

    waw,,,
    gue suka broo,,,

  6. muhan says:

    hahaha
    ak suka crita nx
    ak jd pgn jdi s fendi
    jdi org yg brntung dapet isep kontol satpam ganteng πŸ˜›

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s