PERJAKA YANG TERKOYAK – 7 (TAMAT)

Posted: March 10, 2014 in Perjaka Yang Terkoyak 1-7 (Tamat)

Perjaka-7Cerita sebelumnya: Deni, yang biasa dipanggil Asep, diajak tinggal di rumah Teh Lina, kakak sepupunya. Asep harus menghadapi keanehan Kang Ibra, suami dari kakak sepupunya yang seringkali mengajaknya bersetubuh. Tak disangka, Kang Ibra rupanya bersekongkol dengan mahluk gaib yang menyamar menjadi dirinya dan ikut menikmati tubuh Asep. Asep yang terlambat menyadari hal itu keburu disekap oleh Kang Ibra di sebuah rumah tua. Asep yang mencoba melarikan diri, justru dihalangi oleh Teh Lina sendiri.

“BANGUN! Ayo bangun!” hardik sebuah suara perempuan yang kukenali sebagai suara Teh Lina.

BYURR! aku megap-megap kesulitan bernafas saat wajahku mendadak tersiram oleh air dingin. Saat aku benar-benar telah siuman, aku bisa melihat jelas Teh Lina sudah berada di dekatku. Rambut panjangnya yang biasa terikat rapi kini terurai berantakan. Kurasakan ada sakit menyengat pada daerah tengkuk hingga aku sadar bahwa itulah penyebabku tak sadarkan diri. Saat aku mencoba bergerak, aku baru sadar jika kedua tangan dan kakiku terikat pada sebuah dipan kayu keras dan lembab. Aku mencoba menarik lenganku

“Teh..?” tanyaku tak percaya. Tak lama kemudian aku bisa melihat Kang Ibra sedang berdiri beberapa langkah dari tempat Teh Lina berdiri. Wajahnya terlihat gugup. Dia menunduk seperti takut/

“Jadi? Jadi akang sama teteh kerja sama?” tanyaku dengan suara tinggi.

“Iya! teteh harus cari tumbal supaya keinginan teteh tercapai..” kata Teh Lina sambil menarik rambutku. Aku tidak lagi mengenal Teh Lina yang dulu lembut dan keibuan.

“Kenapa teh? teteh bikin pesugihan buat apa…?” ratapku.

Teh Lina menggeram. Dia menghampiriku lagi sambil melotot. Dia Kembali menarik rambutku. Aku memekik kesakitan.

“Aw! sakit teh..”

“Tapi kamu enggak ngerasa kesakitan kan, ngewe sama suami teteh? hah? gimana, Sep? enak?” raung Teh Lina.

Aku terdiam. Rupanya Teh Lina sudah tahu perbuatanku dengan Kang Ibra. Walau aku merasa sedikit bersalah, tapi aku tak selayaknya diperlakukan seperti ini.

“Kamu mau tahu, Sep?” ujar Teh Lina. Dia melepaskan cengkeraman jari tangannya pada rambutku.

“Waktu Teh Lina pengen kaya raya, teteh sama akang pergi ke dukun. Mereka bilang, teteh harus rela kasih tumbal buat genderuwo dengan cara ngelahirin anaknya…”

Aku menyimak penjelasan Teh Lina sambil melirik Kang Ibra. Pria itu terus menerus menunduk seperti sedang malu.

“Pastilah Teh Lina enggak mau ngelahirin anak genderuwo! Rupanya, dukun itu tahu sesuatu kalau….” Teh Lina tidak meneruskan kalimatnya. Dia tiba-tiba berjalan ke arah Kang Ibra dan mulai memukuli punggungnya.

“Kalau suami teteh ini banci yang sukanya sama laki-laki juga! hih!!!” jeritnya sambil terus memukuli suaminya.

Kang Ibra tidak berusaha melawan. Dia pasrah menerima pukulan bertubi-tubi istrinya yang tampak sangat menyakitkan itu.

Teh Lina terengah-engah. Dia menghentikan pukulannya dan mengusap wajahnya dengan telapak tangan dan merapikan beberapa helai rambutnya yang terurai ke depan saat dia memukuli Kang Ibra.

“Teteh sampe kesel waktu dia ngetawain teteh karena udah ketipu sama suami sendiri. Awalnya, dukun itu minta tumbal buat genderuwo anak yang dilahirin sama gadis muda dan disukain sama Kang Ibra. Tapi rupanya suami teteh anu banci ieu… lebih suka sama lelaki yang diam-diam dia taksir dari dulu. Orang itu kamu, Sep…” lanjut Teh Lina.

“Tapi Teh, masa iya Asep bisa hamil? Asep kan laki-laki..”

Teh Lina tertawa panjang dan miris. “Teteh juga enggak ngerti. Tapi dukun itu bilang, kalau genderuwo yang dikasih ikut buat Teteh juga sukanya sama laki-laki. Aneh! enggak manusia, enggak setan! ada bancinya semua!”

Baru saja aku selesai berbicara, perutku kembali terasa sakit melilit. Aku kembali bergidik ngeri saat mahluk yang ada di dalam perutku kembali meronta ingin keluar. Sekilas aku mendengar suara jeritan kecil dari dalam tubuhku. Suara itu terdengar mengerikan seperti erangan hewan kecil yang seperti tak suka dengan lingkungan sekitarnya.

“Waktu akang Ibra pertama kali ngerayu kamu, teteh sedikit berharap kamu nolak terus pulang ke kampung… enggak tahunya kamu malah nikmatin ewe-an kang Ibra juga.. dasar jelema enggak tau diri kamu, Sep!!” kata Teh Lina sambil melotot. Dia menarik rambutku dan membenturkan kepalaku ke kayu dipan yang keras hingga bagian belakang kepalaku terasa sakit.

“Teh.. udah Teh.. jangan diterusin lagi… Maafin Asep…” rengekku.

“Semuanya jadi lebih gampang. Kamu yang suka juga sama suami teteh, jadi enggak bisa bedain waktu genderuwo itu nyamar jadi Kang Ibra terus naro benih di perut kamu Sep…” kata teh Lina.

“Tobat teh… udah.. jangan bersekutu sama setan… hidup teteh udah enak, enggak susah kayak yang lain di kampung…” kataku masih berusaha menyadarkan Teh Lina.

“Udah tanggung! kamu tahu, Sep? di dalam rumah ini.. ada emas yang disimpan si genderuwo. Kalau itu bisa teteh dapetin, teteh bakalan kaya raya.. hihihi.. enggak peduli punya suami banci kayak akang Ibra…” ujar Teh Lina.

Tiba-tiba Teh Lina berbalik ke arah Kang Ibra. Dia kemudian menghardik Kang Ibra. “Ayo kang! selesaikan biar cepet!”

Kang Ibra menuruti perintah Teh Lina. sambil menunduk dia menghampiriku. Tiba-tiba dia memungut sebilah pisau yang rupanya sejak tadi tergeletak di lantai dekat dengan dipan kayu tempatku terikat.

“Ayo kang… ambil anak setan itu dari perut si Asep, kasihkan, lalu kita pergi dari sini…” gumam Teh Lina.

Kang Ibra manatapku tajam. Matanya dipenuhi kemarahan. Aku yang melihat pisau yang tergenggam di tangan Kang Ibra langsung meronta ketakutan.

“Kang! jangan Kang! Eling Kang!! akang jangan mau diperintah setan!” jeritku.

Kang Ibra menghentikan langkahnya. Matanya terlihat ragu. Tiba-tiba udara dingin dan angin muncul entah dari mana. Ruangan itu penuh dengan deru suara angin dan mendadak sosok bayangan hitam muncul dengan suara raungan yang memekakkan telinga. Mahluk jejadian itu kini mewujud di sebelah Teh Lina dan melayang-layang. Wajahnya yang seram menatapku dengan mata merahnya.

“Kang!! Asep sayang sama akang! waktu Asep nyerahin tubuh Asep buat akang, Asep bener-bener suka sama akang…” teriakku lagi.

Kang Ibra yang perlahan mengangkat pisaunya tinggi-tinggi, menghentikan gerakannya. Sekilas kulihat keraguan mulai timbul di matanya.

“ULAH DIDENGEKEUN SI ASEP MAH, KANG! CEPETAN BIAR CEPET SELESAI!” teriak Teh Lina dari sudut kamar. Angin kencang membuat rambutnya acak-acakan. Mahluk hitam itu masih melayang-layang di dekat Teh Lina sambil terus menatap kami.

“Kang… Asep sayang akang.. jangan jadi begini…” pintaku lirih. Tak terasa kulelehkan air mata mengiba pada pria yang tadinya kukagumi itu.

Melihat gelagat keraguan dari suaminya, Teh Lina semakin gemas. Dia berteriak-teriak kembali menghardik Kang Ibra.

“Dasar suami banci! motong perut si Asep aja enggak berani! dasar laki-laki banci kamu mah!!” jerit Teh Lina.

“HEAAAAAAAA..!!” Tiba-tiba Kang Ibra mendadak marah. Dia mengangkat pisau itu dan berlari ke arah Teh Lina. Teh Lina yang tak menyangka tidak bisa menghindar ketika pisau yang digenggam Kang Ibra melesak masuk ke dalam perutnya berkali-kali.

“PEREMPUAN IBLIS KAMU!! UDAH CUKUP KAMU NGATAIN SUAMI KAMU SENDIRI! DASAR SUNDAL!! MAMPUS KAMU! MAMPUS!!” raung kang Ibra sambil terus menusuk istrinya dengan pisau hingga tangannya berlumur darah merah. Mata Teh Lina membelalak lebar. Dari mulutnya yang menganga keluarlah darah segar. Tak lama dirinya pun ambruk ke lantai.

Perbuatan Kang Ibra membuat mahluk hitam itu meraung marah. Dia menciptakan angin yang sangat besar dan membuat Kang Ibra terhuyung-huyung saat kembali ke arahku. Dia kemudian berusaha melepaskan tali pengikat yang menahan tubuhku di ranjang.

“Maafin akang Sep.. maafin…” isaknya. Dia kemudian berhasil melepaskan ikatan tubuhku dengan tangannya yang merah berlumur darah.

“Ayo Kang, kita kabur dari sini..” Ajakku.

Tetapi Kang Ibra menggeleng. “Akang udah punya perjanjian… kalau akang melanggar, konsekuensinya nyawa akang yang jadi tumbal.. ayo Sep.. kamu cepat pergi… biar akang yang hadapi genderuwo itu…”

Baru saja Kang Ibra menyelesaikan kalimatnya, Tiba-tiba dia terjerembab ke lantai. Sesuatu yang tak terlihat seperti menarik kakinya menuju mahluk hitam itu yang berdiri marah di sudut ruangan.

Kang Ibra berteriak ketakutan. Tapi dirinya tak kuasa melawan. Aku berusaha meraih tangannya namun tarikan mahluk itu lebih kuat.

“Akang!!” teriakku saat kulihat Kang Ibra terangkat ke langit-langit dan seperti ada kekuatan sangat besar, tubuh Kang Ibra terhempas dengan keras ke lantai. Kulihat Kang Ibra tak berdaya, namun tubuhnya kembali terangkat dan kembali terhempas keras di atas lantai hingga menimbulkan suara berdebam keras dan suara seperti tulang-tulang yang patah. Kulihat Kang Ibra bergerak sebentar seperti sedang meregang nyawa dan akhirnya tak bergerak.

“Kang Ibraaa..” jeritku. Aku berusaha menghampirinya. Tapi mahluk itu kini mengincarku. Aku memegangi perutku yang semakin sakit karena mahluk di dalamnya meronta-ronta ingin keluar. Aku tak kuasa berdiri. Seketika itu pula, kulihat benda seperti kuku runcing dengan jemari panjang dan kurus keluar merobek kulit perutku. Aku menjerit ketakutan. Darah segar mengucur dari luka yang dibuat oleh mahluk yang berada dalam perutku. Aku menangis pasrah. Rasa sakit itu semakin menjalar ketika sobekan perutku semakin lebar. Darah segar mengalir di lantai. Dan ketika aku melihat wajah mahluk yang keluar dari dalam perutku, aku tak sadarkan diri…

***

Suara burung berkicau membangunkan tidurku. Kurasakan panas sinar matahari menerpa wajahku hingga aku terbangun. Aku terlonjak. Rupanya aku sedang terbaring di tanah berumput dalam sebuah hutan. Aku langsung memeriksa perutku. Anehnya, tak ada bekas luka sama sekali akibat terkoyak oleh mahluk mengerikan yang bersarang di perutku itu. Pakaianku compang-camping. Anehnya, aku merasa banyak ingatanku yang hilang.

Aku mencoba mengingat-ingat siapa diriku. Ah.. Asep.. namaku Asep.. tapi.. siapa itu Teh Lina dan Kang Ibra? kenapa nama itu ada dalam pikiranku?

“Nak? Kamu enggak apa-apa?”

Sebuah suara mengagetkanku. Seorang pria tua dengan pakaian hitam dan memegang cangklong sudah berada di dekatku.

“Eng.. Kek? saya.. saya… enggak tahu ini di mana..” jawabku.

“Hmm… kalau begitu, ayo ke rumah kakek. Kita istirahat dulu di sana. Kalau kamu udah sehat, dan bisa ingat keluarga kamu, nanti kakek antar ya?” ujarnya.

Entah mengapa aku menurut ajakan orangtua yang baru saja kukenal ini. Mungkin karena aku tak ingat siapa-siapa lagi sehingga pilihan ini menurutku adalah yang terbaik. Rumah kakek itu sangat sederhana. Aku disuruhnya tinggal di sebuah kamar yang terpisah dari rumah utama si kakek.

Aku tak keberatan. Setiap hari aku membantu si kakek membersihkan rumah, mencari kayu bakar, bahkan memasak. Aku lupa tujuan utamaku untuk mencari keluargaku. Malahan aku seperti kerasan tinggal di sini.

Setelah cukup lama, aku merasa aneh. Nafsu seksualku seperti tak bisa kukendalikan. Anehnya, aku malah tertarik dengan para pria yang tinggal di desa agak jauh dari rumah si kakek.

Seringkali aku diam-diam mengintip para pemuda itu mandi di sungai. Aku tak pernah berinteraksi dengan mereka. Ingin rasanya menculik mereka untuk menjadi pelampiasan nafsuku. Jika sudah begitu, aku seperti hilang kendali. Biasanya Kakek berhasil menenangkanku dengan bacaan-bacaan yang dirapalnya dan itu membuatku tak ingin pergi dari rumah kakek.

Suatu hari, aku melihat sepasang pria dan wanita. Pakaiannya bagus dan tampaknya bukan dari desa sebelah. Mereka datang menggunakan mobil. Aku tak menyapa mereka. Mereka datang langsung menemui kakek di rumahnya dan tampak ketakutan.

Aku kemudian kembali ke kamarku. Tiba-tiba kakek memanggilku untuk keluar.

“Sep.. ada yang mau ketemu sama kamu. Ayo… ikut kakek. Tapi kamu sembunyi dulu di sebelah kamar kakek ya?”

Aku bingung. Namun mengiyakan ajakan kakek untuk ikut ke rumahnya dan menunggunya di kamar sebelah sambil mendengarkan percakapan mereka. Ah.. apakah mereka adalah keluargaku yang selama ini mencariku karena hilang? tapi aku sudah kerasan di sini. Aku tidak ingin pulang. Lalu aku diam dan mendengarkan mereka bicara.

“Maksud mbah apa?” tanya suara si wanita.

“Suami kamu.. enggak suka perempuan, ngerti! gimana bisa kasih tumbal gadis, ngerayu aja dia susah!” teriak kakek.

“Bener kamu itu enggak suka sama perempuan? dasar penipu! kamu nikahin aku buat apa? pura-pura aja gitu?” pekik si wanita itu kesal.

“Udah bu. udah… sekarang gimana? mau diterusin apa enggak? tapi tumbalnya sekarang harus laki-laki… baru saya kasih ikut genderuwo piaraan saya…”

Aku tercekat. Genderuwo? sejak kapan kakek memelihara genderuwo? Aku tidak tahu kalau kakek berhubungan dengan mahluk gaib? pikirku dalam hati.

“Ya sudah! mau gimana lagi! saya bersedia.. mana genderuwonya yang harus saya kawinin sama suami saya?” tanya suara si wanita.

Lama tak ada suara. Tiba-tiba kakek memanggil namaku.

“Sep.. Asep.. ayo keluar. Ada yang mau ketemu…”

Aku menurut dan keluar dari kamar sebelah. Kulihat pasangan suami istri itu menatapku ketakutan. Keduanya bergidik dan beringsut menjauh.

“Tenang.. kalau dikasih kalung, wujudnya seperti manusia… ” gumam kakek.

Apa maksudnya ini? mengapa setelah membicarakan genderuwo kakek malah memanggilku. Kenapa pula kedua orang itu ketakutan melihatku. Ketika aku menunduk, aku melihat tanganku berubah menghitam. Bulu-bulu lebat mulai bermunculan. Nafasku memburu. Jadi.. yang dimaksud kakek dengan genderuwo adalah.. adalah…

Aku meraung keras dan panjang meminta pertolongan. Tapi yang terdengar di telingaku adalah suara lolongan mengerikan seperti hewan buas yang kelaparan…

-TAMAT-

NB: No esek-esek

Advertisements
Comments
  1. gsitmf says:

    Ngebayangin si teteh lagi marah2 pasti cempreng ganggu gitu suaranya… Overall nice story…. Ditunggu karya selanjutnya abang re…. Keep up the good work 🙂

  2. Wah, twist ending! Cool!

  3. Andde Andde Lummut Komentator Abal2 dan Bowo juga Dufei Komentator Ecek2 says:

    ending yg mengejutkan.. Tapi saya baca kok. Ok. Lumayan

  4. mahesa says:

    mantap mas…..
    di tunggu crita slanjutny
    ending yg mdebarkan…
    salut for you..

    laptop bg farid part 2 mana mas…….?

  5. andre says:

    bingung maksud ceritanya,
    hahaha
    ada yang bisa jelasin gak ya?

  6. tri angga irma putra says:

    Endingnya mungkin sedikit terinspirasi dr salah satu cerita dr film phobia 2

  7. achmad n'y says:

    mantap?

  8. KayKeyi says:

    Yah, tebakanku salah oAo
    Tapi endingnya keren kok 🙂

  9. hud hsb says:

    Ditunggu yg ke 8. Endingnya buat bingung.

    #begomodeonini

  10. rifqi says:

    Speechless…..kasiaaaan si asep nu kasep jadi mahluk aneh…ngapa tiba tiba dia jadi genderuwo gituuuuu…??

  11. Asep Setiadi says:

    aih ^_^ endingnya / epilognya keren atuh maaf saya ga bisa komentar banyak banyak maklum saya masih bocah kelas 2 SMP

  12. Bigman says:

    Bringing nasib yg. Asep Lima IBRA gmn kok ga jelas

  13. Ibe says:

    Ckckck.. Okay, you get 9 from 10.

  14. Lukman-A dicky says:

    oo nu jadi genderuwo teh si asepna keneh??

  15. ferry says:

    Endingnya membingungkan

  16. yashin says:

    si author imaginasi nya keren yaa..
    ini horor indonesia bgt plus love story
    hmmm klu cerita straight bisa difilmkan tanpa adegan sex sih…trus yg main jupe atau depe pasti hits..hahaha

  17. cinghe says:

    ending nya gak asik lah…., ngerusak cerita >_<

  18. dennis says:

    Bang remi kayanya terinspirasi film twilight nih,,,kya bella swan abis kawin ama edward cullen trs berubah jd bangsa vampire jg.. Over all cerita2 bang remy selalu berhasil buat sya terhanyut dlam cerita 😉

  19. Yuzalby says:

    Ihhhhh serem endingnya asttagaaaaaaa….
    Tp bgus sih ª∂a̲̅ hororrrr Ñýά
    ☀̤̣̈̇в̲̮̲̅͡υ̲̮̲̅͡ɑ̲̮̲̅͡τ̲̮̲̅͡☀̤̣̈̇ sang pnulis makasih n selamat anda tlah mmbuat ku ktakutannnnnnn…

  20. exiters30 says:

    Aku binggung sama endingnya. Kasih ekstra part dong kak

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s