PERJAKA YANG TERKOYAK – 5

Posted: March 2, 2014 in Perjaka Yang Terkoyak 1-7 (Tamat)

Perjaka-5ACerita sebelumnya: Deni, yang biasa dipanggil Asep, diajak tinggal di rumah Teh Lina, kakak sepupunya. Tak disangka, diam-diam Kang Ibra, suami Teh Lina merayu Asep hingga mereka melakukan perselingkuhan. Keanehan mulai dirasakan Asep saat dia curiga ada sosok Kang Ibra lain yang juga mengajaknya bercinta. Bukan itu saja, dirinya pun selalu dihantui bayangan hitam mengerikan. Dan malam itu, setelah Asep bercinta dengan Kang Ibra, sosok hitam itu muncul di kamarnya.

MATAKU membelalak saat sosok hitam di sebelah Kang Ibra mulai nampak jelas. Besar, berbulu, dengan wajah bengis mengerikan, sama seperti yang kulihat sebelum kedatangan Kang Ibra ke kamarku. Giginya besar-besar hingga barisan atasnya terlihat menyembul keluar. Dua gigi yang sepertinya taring, mencuat lebih panjang dibanding yang lain. Kudengar hembusan udara dari mahluk itu yang seolah sedang bernafas. Dingin, bengis, penuh nafsu.

Badanku gemetar, pergelangan tanganku terasa kebas sehingga luka memar berdarah yang ditimbulkan akibat berusaha melepaskan ikatan tanganku tak terasa. Aku berteriak sejadi-jadinya. Tubuh itu tampak besar dibandingnkan dengan Kang Ibra yang berdiri tenang sambil melihatku puas.

“Kaaaaangg!! jangaaaan!!! jangaaaan!!” jeritku sekuat tenaga. Kakiku meronta-ronta seakan bisa mengusir mahluk itu pergi.

“Tenang aja sep.. kenapa? takut? kemarin kamu main sama mahluk ini pasrah aja nikmatin?” ujar Kang Ibra sambil mengusap rambutku.

“A…apa?” tanyaku tak percaya.

“Hahaha.. kamu teh bener-bener terpesona ya sama akang? apa sama mahluk ini? tapi emang sih dia teh mainnya di ranjang hebat euy… sampe kamu ketagihan..”

“Kang? jadi…?”

“Iya Sep. Sekarang kamu udah tau kan? nah… mudah-mudahan kamu masih kuat ngelayanin temen akang ini. Mmm… tapi biar kamu enggak takut, akang minta dia berubah dulu ya jadi mirip akang?” tanya kang Ibra.

“Enggak, kang! jangan!! asep gak mau..!!” raungku.

Tiba-tiba mahluk hitam berbulu itu mendadak mengecil. Tubuhnya berangsur-angsur berubah menyerupai manusia. Tak lama, dia pun menjelma menjadi manusia seperti Kang Ibra. Bedanya… bedanya hanya kalung itu! Kang Ibra yang merupakan jelmaan dari mahluk hitam itu memakai kalung rantai tua berliontin batu merah delima. Aku bergidik ketakutan melihatnya mendekat. Walau dia mirip dengan Kang Ibra, aku sudah lebih dulu tahu sosok aslinya.

“Jangan kang.. jangan..” aku memohon pada Kang Ibra yang berusaha menenangkanku dengan cara mengusap kepalaku.

“Ssst.. ssst.. tenang aja Sep, kamu pasti ketagihan.. Akang juga mau ikutan…” kata Kang Ibra.

Kemudian Kang Ibra asli mulai menciumiku lagi. Aku berusaha menolak dengan memberontak. Tapi itu membuat pergelangan tanganku semakin terasa pedih. Aku terkesiap saat Kang Ibra jelmaan mahluk itu menggenggam kedua telapak kakiku dan membukanya. Anehnya, perasaan ngeri mendadak berangsur hilang. Benar kata Kang Ibra. Mahluk ini seperti memiliki daya magis hipnotis yang membuatku merasa rileks. Ada energi aneh mengalir dari telapak tangannya ke tubuhku hingga membuatku merasa nyaman sekaligus menjadi mudah terangsang. Nafasku kembali mulai teratur. Mungkin sensasi yang kualami ini seperti seorang pemakai narkoba yang sedang mabuk. Aku tiba-tiba menjadi pasrah oleh cumbuan Kang Ibra asli yang beringsut di sebelahku.

Kang Ibra yang asli menyelipkan telapak tangannya ke bawah punggungku dan mengangkatnya sehingga dia leluasa menyelusup masuk ke bawah badanku hingga posisi tubuhku berbaring di atas tubuhnya yang kekar. Aku bisa merasakan puting kang Ibra menusuk bagian punggungku. Tangannya dia lingkarkan memeluk tubuhku dan meremas-remas dadaku dan memainkan putingnya dengan ujung jarinya.

“Hhh…uhh…” desahku. Kang Ibra asli kemudian menciumi leher dan menjilati telingaku sambil tangannya terus memainkan puting dadaku.

Mahluk yang menyerupai kang Ibra itu juga mulai beraksi. Dia membuka kakiku lebar-lebar dan hidungnya mulai mendengus-dengus seakan membaui betisku sementara tangannya yang sama kekarnya dengan Kang Ibra asli memegangi kakiku yang satunya. Entah mengapa, walau berwujud Kang Ibra, mahluk itu tak kuasa menyembunyikan sifat kebinatangannya. Cara mengendus dan menciumnya tak seperti manusia, tapi setiap kali dia menyentuh kulitku, perasaan nikmat yang magis menggelenyar kembali ke seluruh tubuhku.

Aku bergidik sedikit saat Kang Ibra jejadian menjilat pahaku. Bukan karena jilatannya yang bernafsu saja, tapi juga karena aku bisa melihat lidahnya yang terjulur terlihat lebih panjang dan abnormal dibandingkan rata-rata panjang lidah manusia. Aku menggigil saat dia melakukan itu, ditambah dengan Kang Ibra asli yang terus menerus menstimulasi area dadaku dari bawah tubuhku. Kang Ibra asli menghentikan gerakannya. Tangannya bergeser meraba dengan pelan ke bawah tubuhku. Kemudian dia mencengkeram kedua pahaku sehingga membuatnya terbuka lebar dan aku bisa merasakan kontolnya menekan garis belahan pantatku. Aku mengerang ingin berontak namun serasa tak berdaya.

Kang Ibra jadi-jadian semakin ganas mendengus-dengus. Aku kembali menggigil saat lidahnya yang abnormal panjangnya itu dengan rakus menjilati lubang anusku dan kedua biji pelirku bergantian hingga terasa hangat dan basah.

“Hhh… akh..” aku memekik tertahan saat mulut kang Ibra jadi-jadian melumat kontolku. Dengan rakus dia menyedot kontolku tanpa ampun dan tanpa jeda sedetikpun seolah dirinya tak bernafas. Aku menggeliat keenakan, lidahnya dengan liar dan gerakan memilin, memutar, mengulum berintensitas tinggi tak memberikan kesempatan pada diriku untuk kuasa menahan birahi yang memuncak.

Punggungku melengkung, otot-otot di seluruh tubuhku mengejang. Kurasakan telapak tangan Kang Ibra mencengkeram pahaku lebih keras saat aku hendak mencapai orgasme. “Aaaah…..” teriakku saat aku melepaskan cairan sperma berkali-kali dari kontolku yang sudah sangat tegang dan basah itu. Dengan rakus, Kang Ibra jadi-jadian melahap seluruh cairan kental itu dan menelannya hingga aku kembali bergidik ngeri.

Tak berapa lama, kudengar Kang Ibra asli mengerang pelan. Aku tak tahu apa yang terjadi, tapi segera kusadari mahluk berwujud kembaran Kang Ibra itu kini sedang mengoral kontolnya. Kang Ibra menggeliat-geliat di bawah tubuhku sementara tangannya tetap memegangi pahaku dan membiarkannya tetap terbuka lebar.

“Nggh.. hh.. hh..” desah Kang Ibra. Sesaat kemudian giliran aku yang kembali mengerang saat mahluk itu membasahi kembali lubang anusku hingga berdenyut-denyut.

Kang Ibra jadi-jadian bangkit dan berlutut. Perlahan tangannya menggenggam kontol Kang Ibra yang sudah sangat keras itu dan mengarahkan kepalanya pada lubang anusku. Dengan dorongan yang kuat, Kang Ibra jadi-jadian mencoba memasukkan kontol Kang Ibra asli ke dalam anusku. Aku memekik karena sedikit kesakitan, sementara kurasakan tubuh Kang Ibra asli menggelinjang sedikit sambil memekik pelan seiring dengan kontolnya yang dipaksa masuk oleh mahluk itu ke dalam anusku.

Kudengan Kang Ibra jadi-jadian mendengus dan menggeram aneh. Sepertinya dia menikmati pemandangan di depannya saat kontol Kang Ibra asli dengan bantuannya menusuk anusku. Setelah kontol itu dengan mantap menancap anusku, Kang Ibra mulai menggenjotnya. Tubuhku kembali berkeringat saat Kang Ibra asli dengan ganas menyetubuhiku. Aku tak kuasa menolak keduanya.

“Hmmmff…” aku menahan nafas sekaligus menahan eranganku saat kontol Kang Ibra dengan gagahnya menyumpal lubang anusku dan merojoknya berkali-kali. Awalnya Kang Ibra jadi-jadian hanya menyaksikan saja. Namun tiba-tiba dia beringsut mendekatiku, dan….

“AAAAAAAAAKKHH!!” aku memekik keras saat kurasakan batang kedua mencoba memaksa masuk ke dalam anusku.

“Unnghh….” aku memprotes dengan gumaman kepada Kang Ibra jadi-jadian yang seolah iri melihat aksi kontol Kang Ibra asli yang merojok anusku berkali-kali dengan nikmat dan memutuskan untuk bergabung. Apa daya, tanganku yang diikat tak memungkinkan aku untuk menolak. Aku hanya bisa pasrah saat kontol Kang Ibra jadi-jadian yang ukurannya sangat identik itu ikut mencoba memasuki lubang anusku.

Kang Ibra asli menghentikan gerakannya. Tangannya yang mencengkeram pahaku berusaha menyesuaikan agar kontol mahluk itu bisa leluasa ikut masuk ke dalam pantatku.

“Nggghh….” aku mengerang tertahan. Anusku berdenyut-denyut liar seolah protes karena harus dimasuki dua kontol besar berurat milik dua orang yang seperti kembar itu. Kini pantatku terasa sangat penuh, sesak, dan tak leluasa bergerak tersumpal oleh dua kontol. Kang Ibra berusaha mengatur nafasnya, sementara Kang Ibra jadi-jadian menggenggam pergelangan kakiku dan mengangkatnya tinggi-tinggi.

Lalu persetubuhan ganjil itu dimulai. Kedua Kang Ibra itu mulai menggoyang pinggulnya dengan irama yang saling melengkapi. Secara bergantian kontolnya melesak maju sementara kontol yang lain bergeser keluar. Aku mengerang kencang antara kesakitan dan nikmat luar biasa ketika kedua kontol itu saling berebutan merojok anusku seolah berkompetisi siapakah yang paling jawara menyetubuhiku. Kedua Kang Ibra itu saling bersahutan menggeram dan mengerang keras seirama dengan gerakan pinggul mereka.

Permainan kami semakin panas ketika Kang Ibra jadi-jadian memutuskan untuk melingkarkan kakiku pada punggungnya dan dia menunduk mulai melumat dada dan putingku hingga aku berada di antara dua sosok kembar itu, terhimpit, tak kuasa melawan.

“Aaaah… hhhh… hhhhh….” tubuhku terlonjak-lonjak menikmati permainan aneh ini yang seolah tiada henti. Aku merasa letih, kelelahan, tapi energi mistis ini membuatku seperti ketagihan dan tak ingin berakhir. Kang Ibra asli bergetar dan mengerang panjang saat dia menjadi yang pertama memuntahkan lahar cairan kental di dalam anusku dan menuntaskan birahinya. Berselang lima menit kemudian yang terasa sangat panjang, Kang Ibra jadi-jadian kembali bangkit sambil memegangi kakiku. Punggungnya melengkung, kepalanya dia lempar ke belakang hingga wajahnya menghadap langit-langit. Dia melolong kencang dan gilirannya memuntahkan cairan hangat bercampur dengan milik Kang Ibra asli. Kurasakan anusku terasa sangat basah dengan kontol-kontol yang juga terasa licin berlumur sperma.

Baru saja aku mencoba bernafas lega, Kang Ibra jad-jadian tiba-tiba mulai membesar. Kulitnya menghitam dan dia mulai kembali ke wujud asalnya. Aku berteriak ketakutan saat tangannya yang besar berbulu hitam itu dia angkat tinggi-tinggi sehingga menunjukkan kuku-kuku cakarnya yang tajam.

Aku menjerit kuat sambil membelakak saat tangan mahluk itu menghujamkan kukunya pada perutku dan mengoyaknya hingga kulihat keluar darah dari perutku. Aku menjerit sambil meronta namun Kang Ibra menahan tubuhku. Tangan mahluk itu sudah berada di dalam perutku yang terkoyak dan meremas-remas isinya hingga aku melolong kesakitan dan akhirnya tak sadarkan diri…

***

Advertisements
Comments
  1. *tutup mata
    sereemm

  2. arif says:

    super hot! as i expected.

    tapi endingnya serem..

  3. sandy says:

    Seremm tapi enak juga 2 kontol masuk, gimn yah rasanya…

  4. mark says:

    Mati deh…….ceritanya Tamat donk

  5. exiters30 says:

    Wihhh threesomenya anti mainstream ini mah :’v

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s