PERJAKA YANG TERKOYAK – 4

Posted: February 24, 2014 in Perjaka Yang Terkoyak 1-7 (Tamat)

Per-4anHAMPIR enam jam aku tak sadarkan diri. Rupanya Kang Ibra dan Teh Lina curiga ketika sambungan telepon kami terputus dan memutuskan untuk kembali ke rumah. Mereka menemukanku tidur di atas sofa dan sudah berpakaian. Aneh, padahal setahuku aku pingsan di dapur dan hanya mengenakan handuk. Awalnya aku tak ingin bertanya bagaimana keadaanku saat ditemukan, karena aku malu bila mereka tahu aku terlihat baru saja ‘melakukan sesuatu’ dengan badanku sendiri. Tapi akhirnya aku tak tahan.

“Teteh kamu mau pergi dulu ada urusan, jadi kalau ada apa-apa kamu panggil akang ya, sep?” kata Kang Ibra sambil meletakkan segelas air putih di samping ranjangku dan berniat keluar kamar.

“Kang…” panggilku.

“Kenapa, Sep?”

“Tadi saya pingsan di mana, kang?” tanyaku.

Kang Ibra terdiam. Dia melangkah mendekatiku.

“Pas kita datang, kamu ada di sofa pegang handphone, Sep,”

“Sofa? Tapi Kang…” sahutku bingung.

“Kenapa, Sep?”

Aku melanjutkan “Kang… sebelum akang pergi kan kita di dapur..”

Wajah Kang Ibra memerah. Dia berdeham.

“Terus Akang balik lagi, kan?” tanyaku memastikan.

Kang Ibra menoleh padaku kebingungan.

“Enggak.. akang langsung pergi sama teteh kamu, Sep..”

“Jadi… jadi saha eta teh anu balik deui, kang?”

“Kamu teh ngomong apa, Sep?”

“Kang.. jangan bikin saya bingung, atuh.. masa saya mimpi main sama akang? Asep pas pingsan teh cuma make handuk aja.. masa bisa ada di sofa?” tanyaku mencoba mencari penjelasan soal kebingunganku.

Kang Ibra menatapku bingung.

“Udah Sep, kamu istirahat aja… kayaknya kamu lagi sakit. Besok kita ke dokter,” katanya.

“Asep enggak bisa tenang. Entah kenapa Asep kepikiran terus sama akang… kayak orang kasmaran, Asep enggak ngerti…” sahutku mencoba bangkit.

“Sep.. akang juga suka sama kamu… nanti malam.. akang ke sini lagi ya? Teteh kamu kayaknya baru pulang besok…”

“Jangan nanti malam atuh kang… Asep takut.. kalau yang datang ke sini bukan akang beneran…”

“Kamu teh aneh, Sep.. masa iya ada akang bohong-bohongan? akang teh cuma ada satu,” sahut Kang Ibra terkekeh.

“Pokoknya temenin Asep, Kang.. jangan kemana-mana…” pintaku sambil memegangi lengan Kang Ibra.

“Kamu teh ada-ada aja.. Akang serasa punya istri muda.. manja… hahaha..” Kata Kang Ibra.

“Ih, beneran atuh kang, temenin…” ujarku memaksa.

“Tapi akang teh mau mandi dulu.. mau makan dulu.. ada kerjaan juga yang harus akang bikin, naha jadi borangan kieu?” hardik Kang Ibra. (kenapa jadi penakut begini)

Aku menghela nafas. “Jangan lama-lama ya kang?”

Kang Ibra tak menjawab. Aku merebahkan kembali tubuhku. Melihat Kang Ibra aku seperti terhipnotis. Aku tidak tahu yang namanya pelet, tapi mungkin ini yang kurasakan setiap kali memikirkan Kang Ibra. Seolah-olah energiku tersedot olehnya. Tidak nafsu makan, minum, dan setiap kali menutup mata yang kubayangkan hanya cumbuan Kang Ibra. Kalau sudah begitu, biasanya kontolku menegang dengan sendirinya dan pantatku berdenyut-denyut seperti protes ingin kembali disodok batang kontol Kang Ibra tanpa henti, dan tanpa rasa puas.

Padahal kukira aku hanya memejamkan mata sedetik. Tadi sebelum tidur aku sempat melirik jam dinding menunjukkan pukul tiga sore. Tapi ketika aku membuka mata, ternyata sudah jam tujuh malam. Astaga.. kenapa aku bisa tertidur selama itu? akhir-akhir ini aku memang merasa sangat letih hingga tidur lebih lama dari biasanya.

Aku melihat ke arah pintu kamarku yang terbuka. Aku mencoba mendengarkan suara di luar kamar. Kang Ibra mungkin masih di luar menonton televisi atau apa, tapi saat itu suasana terdengar sunyi sekali.

Tiba-tiba pintu kamarku menutup dan menimbulkan suara keras. Aku terlonjak karena terkejut dan berusaha mencari tahu apa penyebabnya.

“Kang?” panggilku.

Tak ada jawaban.

Ketika aku hendak bangkit, tiba-tiba telapak kakiku tak bisa bergerak. Kupaksakan diri untuk menggerakkan otot-otot jari kakiku namun tak berhasil. Rasa lumpuh itu menjalar semakin ke atas hingga aku tak bisa merasakan kedua kakiku.

Aku mulai panik.Kulihat sesosok bayangan hitam melangkah masuk ke kamarku. Aku buru-buru memejamkan mata karena takut. Rasanya aku ingin berteriak namun kerongkonganku tercekat dan bibirku terkunci rapat. Lumpuh yang melandaku semakin menjalar hingga aku hanya bisa merasakan bagian wajahku saja. Aku benar-benar ketakutan.

“Kang Ibraaa…!” teriakku dalam hati. Namun tentu saja panggilan itu tak keluar dari mulutku. Kurasakan mahluk itu mendekat. Langkahnya berat. Ukurannya yang besar menimbulkan bayangan di wajahku karena kupikir dia menutupi penerangan yang ada. Air mata mulai meleleh. Kudengar nafas-nafas berat semakin dekat berasal dari samping wajahku. Aku bisa merasakan sepasang mata besar, menatapku. Wajahnya terasa panas mendengus-denguskan nafas hingga menyentuh pipiku. Aku menggigit bibir. Menangis. Wajahku gemetar dan sulit bernafas.

Dengan satu helaan nafas panjang tiba-tiba aku terlepas dari lumpuh sementara yang biasa disebut sebagai ereup-ereup di daerahku. Aku menarik nafas berkali-kali. Kugerakkan jari-jari kaki dan tanganku hingga kurasakan aliran darah mengalir ke organ tubuhku tersebut. Tubuhku basah oleh keringat. Mataku liar memandang ke sekililing kamar yang kembali terang. Tak ada tanda-tanda mahluk itu dikamarku.

Baru saja aku bernafas lega, tiba-tiba lengan hitam berbulu lebat muncul dari bawah tubuhku dan mencengkeram dadaku erat-erat. Aku berteriak sekuat tenaga, ngeri dan takut, berusaha melepaskan diri. Ranjangku berderit-derit dan kudengar geraman mahluk itu di sebelah telingaku.

“AAAAAAAAAHHH!!!!!!!!” teriakku.

“Sep? Asep? Kunaon, Sep? Aya naon?” seru Kang Ibra sambil menepuk-nepuk pipiku. Melihat Kang Ibra yang sudah berada di sebelah ranjang, aku langsung waspada. AKu khawatir kalau sosok Kang Ibra yang ada di kamarku ini bukanlah Kang Ibra yang sesungguhnya. Oleh sebab itu aku langsung beringsut menjauhinya.

“Kang? Kang Ibra?” tanyaku khawatir. Kulihat dia duduk di pinggir ranjang mengenakan kemeja dan bersarung.

“Kamu mimpi, Sep?” tanya Kang Ibra lembut sambil menarik lenganku. Lengannya hangat. Kurasakan juga denyut nadi dari pergelangan¬† tangannya. Ini manusia.. Pasti Kang Ibra sesungguhnya.

“I.. iya kang.. tadi kayak ada mahluk hitam datang…”

“Kamu tuh lagi demam, Sep.. makanya mimpi macem-macem… ya udah, akang nonton bola dulu ya? nanti baru akang balik ke sini lagi..”

“Jangan Kang!” aku menarik tubuh Kang Ibra. Masih sedikit curiga, aku mencoba memastikan bahwa dirinya tak mengenakan kalung tua seperti halnya sosok Kang Ibra, oleh karena itu aku langsung menarik kemejanya hingga deretan kancingnya terlepas. Aku bernafas lega saat Kang Ibra tak memakai kalung itu.

“Kamu udah enggak sabar ya, Sep?” seringai Kang Ibra nakal melihat kemejanya telah terbuka dan menampakkan dada bidangnya.

“Eh.. anu Kang…” ujarku gelagapan.

Kalimatku terpotong saat Kang Ibra langsung membungkam mulutku dengan ciumannya. Tubuhnya menindih tubuhku dan meraihnya dalam lengannya yang kokoh. Dengan cekatan Kang Ibra melepas kausku dan melemparnya. Aku juga membantu melepaskan kemeja Kang Ibra dan dengan leluasa kuciumi leher dan dadanya.

“Mmm…mm…” Gumam Kang Ibra ketika aku melumat putingnya bergantian dengan lidahku. Tubuhnya bertumpu pada kedua lengannya sehingga aku bisa leluasa beringsut di bawahnya sambil menikmati otot-otot dadanya yang liat sambil meraba punggungnya.

Kemudian Kang Ibra bergeser, dia meraih kemejanya dan perlahan menggenggam pergelangan tanganku dan didekatkan kepada kayu ranjang di atas kepalaku.

“Mau apa Kang?” tanyaku khawatir.

“Kamu kan lagi capek, biar akang aja yah…” rayu Kang Ibra sambil tangannya perlahan mengikat pergelangan tanganku pada ranjang.

“Tapi.. tapi kang… Ahh…” protesku tak berlanjut saat Kang Ibra mencium pipi dan leherku. Dengan lidahnya dia menjilati putingku hingga aku menggeliat. Tanganku yang terikat terasa sakit karena secara reflek tubuhku memberontak dan berusaha melepaskan ikatan tanganku.

Kang Ibra lalu memasukkan tangannya ke dalam celanaku dan menyelipkan telapak tangannya di antara kedua pahaku hingga aku mendesis keenakan saat tangannya yang sedikit kasar itu meremas paha dan kontolku.

“Ssss.. akang… hmfff..” protesku lagi.

Kang Ibra rupanya benar-benar menikmati saat dia mengambil kendali permainan ini. Aku yang tak berdaya hanya bisa pasrah menanti apa yang akan dilakukan Kang Ibra. Perasaan berdebar itu membuatku semakin terangsang.

Kang Ibra lalu menjepit tubuhku dengan pahanya. Aku bisa melihat jelas tubuh kekarnya yang telanjang di atas tubuhku. Tangannya kemudian mengusap-usap dada dan perutku seperti gerakan memijat namun lembut. Sesekali diremasnya dadaku yang tak terlalu menonjol itu. Kang Ibra membungkuk. Dia kembali menciumku. Kali ini agak kasar karena dia merasa berkuasa atas tubuhku yang tak berdaya.

“Hummm…” gumamku mencoba mengimbangi cumbuannya. Tubuhku kembali meronta.

Tak lama Kang Ibra dengan bernafsu melumat putingku hingga aku memekik kencang. Walau aku sudah meronta-ronta merasakan rangsangan intensitas tinggi pada daerah putingku, Kang Ibra tak berniat menghentikannya. Dijentikkannya ujung lidahnya tepat di atas putingku dan ditekan-tekannya hingga aku terengah-engah antara geli dan nikmat.

“Huuufh.. ampun kang… udah kang… udah…” rengekku.

Rupanya Kang Ibra tak peduli dengan permohonanku. Lidah mautnya berpindah ke putingku satunya lagi. Dengan buas dia menjilatnya, mengisapnya, dan menekan-nekan kembali lidahnya hingga aku makin meronta. Kakiku bergerak liar punggungku melengkung mencoba melepaskan diri dari ikatan itu. Namun tenaga Kang Ibra lebih kuat. Dia menghimpit kakiku dan tanpa ampun terus menjilati putingku dan mengisapnya berganti-ganti.

“Aaaaa… aaampun kaaang.. ampuuun…” pintaku tak tahan. Pergelanganku sudah terasa sangat sakit.

Akhirnya Kang Ibra mengabulkan permohonanku. Cumbuannya bergeser semakin ke bawah. Diusapnya pusarku dengan lidahnya hingga aku mengerang. Lalu Saat mulutnya berada tak jauh dari kontolku yang sudah sangat tegang, Kang Ibra membuka mulutnya dan memasukkan kontolku ke dalam mulutnya.

Aku yang menyangka Kang Ibra tak akan melakukan itu, mendesah panjang melihat pemandangan itu. Aku menggumam, mengerang, mendesah, saat Kang Ibra membiarkan penisku keluar-masuk mulutnya. Cukup lama Kang Ibra melakukan itu hingga aku hampir saja keluar. Kemudian dia bangkit. Kang Ibra menaruh kaki kiriku ke atas pundaknya. Kulihat dia membasahi jarinya dengan ludahnya sendiri.

Aku memekik panjang saat Kang Ibra memasukkan dua jarinya ke dalam anusku. Kakiku yang terangkat menjadi tegang, namun Kang Ibra menahannya dengan lehernya yang kokoh.

“Mmm… sakit kang…” rengekku. Kang Ibra yang mendengar keluhanku memanfaatkan tangan satunya untuk mengocok kontolku. Sungguh, dengan keadaan terikat tak berdaya ini, aku merasa sedikit tak leluasa mengatur irama tubuhku agar tak merasa sakit ketika anusku diterobos oleh jari Kang Ibra.

Syukurlah, rasa sakit itu tak berlangsung lama. Jari Kang Ibra berhasil mendapat ‘jackpot’ titik prostatku dan mengurutnya. Tubuhku gemetar mendapatkan sensasi pijatan pada titik nikmat di dalam tubuhku itu dengan ujung jarinya sementara batang kontolku tak berhenti dikocoknya.

“Enak Sep?” tanya Kang Ibra sambil menyeringai puas.

Aku tahu dia tak butuh jawaban karena dia bisa melihat reaksi tubuhku pada perbuatannya. Tapi untuk membuatnya senang aku menjawabnya.

“Enak kang… Akkh…”

Gerakan tangan Kang Ibra semakin cepat. Dengan penuh semangat dihujamkannya jarinya ke dalam anusku dengan gerakan yang semakin cepat.

“Hmmm.. Enak kang….. Asep mau ke… Arrgh…” erangku saat kontolku memuntahkan isinya yang membasahi dada dan perutku. Aku mengatur nafas mencoba menenangkan tubuhku. Hanya saja Kang Ibra tidak mau menunggu. Dia kemudian membasahi kontolnya dengan liurnya dan dengan sekali hentak, dia menghujamkan batang kemaluannya itu pada anusku yang masih memar akibat dimainkan oleh jarinya.

“Akaang…” aku memekik sambil kembali meronta. Kedua kakiku mengejang karena tak mengantisipasi hujaman kontolnya yang begitu tiba-tiba menerobos liang anusku.

“Ooouuuh….” Lenguh Kang Ibra. Pergelangan tanganku terasa semakin pedih saat mencoba melepaskan ikatannya.

“Pelan-pelan kaaaang…” rengekku. Kurasakan punggungku melengkung sementara kedua kakiku tak berdaya dihimpit lengan Kang Ibra.

Kang Ibra semakin bernafsu. Tanpa ampun dia menghujamkan batang kontolnya berkali-kali seolah berkata inilah gilirannya terpuaskan. Dia membuka pahaku lebar-lebar dan menekuk kakiku hingga lututku menempel pada dadaku. Sambil memegangi kakiku, Kang Ibra menggenjot pinggulnya dan kontolnya tanpa bisa dihentikan terus menerus menusuk pantatku.

“AAAAhh.. aaaah…” erang Kang Ibra. Aku menggigit bibir mencoba menikmati setiap tusukan kontolnya walau tubuhku tak berdaya. Baru kali ini aku berharap Kang Ibra cepat menuntaskan permainannya.

Gerakan Kang Ibra semakin liar. Tubuhnya berkeringat dan memerah. Matanya terpejam setengah terlihat sangat menikmati permainan ini.

“Udah kang.. udah…” pintaku. Kakiku terasa keram, Pantatku terasa kebas dan mati rasa. Rasa nikmat itu sudah tak terasa lagi walau kepala kontol Kang Ibra memijat titik prostatku berkali-kali.

Kulihat Kang Ibra gemetar. Dia menggeram sambil menggigit bibirnya. Dan, rasa hangat cairan spermanya kurasakan memenuhi lubang anusku pada hentakkan terakhir kontolnya yang melesak dalam-dalam. Aku tersengal-sengal karena permainan seks ini akhirnya berkahir. Kang Ibra menjatuhkan tubuhnya yang basah ke atas tubuhku dan menciumiku dengan lembut. Tangannya mengusap rambutku.

Kang Ibra lalu bangkit dan membersihkan kontolnya dengan sarung yang tadi dikenakannya. Aku tak sabar ingin segera lepas dari ikatan ini di ranjang.

“Kang.. jangan pergi dulu, lepasin Asep dulu kang..” pintaku.

Anehnya Kang Ibra diam saja. Dia malah tersenyum sambil menatapku.

“Asep anu kasep, nanti dulu ya… ada lagi yang mau main sama kamu…” kata Kang Ibra mengerikan. Seringai licik muncul di wajahnya.

“Sa.. saha kang? akang jangan becanda ah!” sahutku panik berusaha melepaskan ikatanku.

Aku terkejut ketika tiba-tiba udara kamarku berubah dingin. Lampu kamar berkedap-kedip dan mendadak ada angin aneh berputar di dalam kamarku. Kang Ibra masih berdiri telanjang menatapku. Aku nyaris berteriak ketika di sebelah kang Ibra mendadak terkumpul bayangan hitam yang menjelma menjadi sosok mengerikan…

****

Advertisements
Comments
  1. daan sosok pak RT lah yg muncul LOL

    *serem pisan euy

  2. farhad says:

    Bagus bangeeetttt ::333 keep writing okeh bang. *aslinya serem banget* -___-

  3. mark says:

    Ini cerita,asli bikin merinding,tapi ngegemesin…..semakin penasaran dengan kelanjutannya…..

  4. arif says:

    kyaaaaaa!! akhirnya.. bondage!!
    :3

  5. rifqi says:

    Hiyyyssshhh ternyata kang Ibra teh cuma kura kura dalam perahu, pura pura tidak tahu pas asep nanya nanya karna bingung….ternyata dia cuma sok polos sok ga ngerti…ini aku masih belum jelas udah su’udzon aja ma kang Ibra hihi..

    eh tapi nih aku jdi inget pilem setan jaman doeloe banget tentang genderuwo(bener ga tulisannya gituu?),tapi aku juga ga terlalu inget sih,seingetku tuh… jadi ada perempuan punya suami,baru nikah kayaknya. Nah si em hantu serem itu sering nyamar jdi suami si perempuan, biasanya dateng klo si suami dah pergi kerja, awalnya si istri bingung, tapi pas di tanya si suami ga jawab apa2(mungkin dia ga pernah les bahasa manusia hihi), ditanya kan ga jawab tapi malah ngajak buat anak(aku sih dulu ga ngerti ya..^^), tapi ya ampun ternyata emang dari dulu filem hantu tuh udah begitu modelnya…
    Trus si istri mah karna dia seorang istri ya patuh ma suami gitu, sampe akhirnya dia hamil, trus lahirlah anaknya bayi genderuwo…hiiyyy serem deh bayinya aneh bin menakutkan itu menurutku dulu sekarang sih dah ga inget ma tampangnya…eh kok aku jadi panjang gini ya….biarin deh males backspace hihi…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s