PERJAKA YANG TERKOYAK – 3

Posted: February 19, 2014 in Perjaka Yang Terkoyak 1-7 (Tamat)

Perjaka -3SEPERTINYA aku tertidur lama sekali. Tiba-tiba aku terbangun sambil terbatuk-batuk. Keringat dingin membasahi tubuhku seolah aku kehabisan nafas. Ketika melihat jam di dinding, aku menjadi bingung. Ternyata sudah hampir setengah tiga pagi. Padahal setahuku, setelah aku bercinta dengan Kang Ibra, aku langsung terlelap dan merasa tidur lama. Aku memeriksa diriku sendiri yang sudah berpakaian dan spreiku yang agak berantakan. Apa mungkin dengan ‘tidak sopannya’ aku langsung tertidur setelah puas bercinta lalu Kang Ibra memakaikan kembali pakaianku sebelum dia kembali?

Saat aku hendak bangkit menuju kamar mandi, aku merasakan badanku pegal luar biasa. Aku meringis sambil memegangi pergelangan tanganku yang sedikit membiru. Dahsyat betul permainan Kang Ibra sampai-sampai aku merasa sakit sekujur tubuhku.

Aku keluar kamar menuju kamar mandi yang letaknya dekat dengan dapur. Kubuka bajuku, tapi tak ada tanda-tanda cairan apapun seperti keringat atau bekas liur dari Kang Ibra yang sempat rakus mencumbuku dengan bibir dan lidahnya. Kuperiksa kontolku. Barulah ada jejak bahwa aku sempat mengeluarkan sperma saat bercinta. Pantatku terasa sedikit sakit. Aku kemudian berjongkok di WC berniat membersihkan saluran pembuanganku dari sisa-sisa sperma Kang Ibra. Namun aneh, walau kutunggu lama, rupanya tak ada bekasnya sama sekali seperti tak ada yang menumpahkan sperma di dalamnya.

Setelah bersih-bersih, aku keluar dari kamar mandi. Betapa kagetnya saat Teh Lina sudah berdiri di depan kamar mandi.

“Masya Allah, Teh! Ngagetin aja…” ujarku sambil menepuk dada.

“Kamu belum tidur, Sep? apa kebangun?” tanya Teh Lina. Dari keremangan cahaya dapur aku bisa melihatnya memakai daster berwarna coklat dengan rambut sebahunya yang digelung ke atas. Tangannya memegang cangkir dan alasnya dengan isi yang telah kosong.

“Kebelet, Teh. Jadi kebangun,” jawabku bohong.”Teteh juga kebangun?”

Teh Lina berjalan ke arah wastafel dan meletakkan cangkir kosong itu di dalamnya. “Enggak, Sep. Dari jam 12 tadi Teteh enggak bisa tidur, terus jadinya nonton TV,” ujar Teh Lina santai.

“Apa?” tanyaku terkejut. Kalau Teh Lina dari tadi ada di ruang tengah menonton TV, apakah dia tak sadar suaminya pergi dan bercinta denganku? Jantungku mendadak berdebar.

“Kenapa, Sep? kok bengong begitu?” tanya Teh Lina.

“Oh, enggak.. enggak apa-apa, Teh..” jawabku gugup.

“Yaudah. Kalau kamu enggak ada niat mau tahajud, mending tidur lagi aja kamu Sep. Teteh juga mau balik ke kamar,” usul Teh Lina.

“Muhun, Teh. Asep balik ke kamar dulu,” pamitku.

Aku merebahkan diri ke atas ranjang sambil menatap langit-langit tak bisa tidur. Aku tarik tirai jendela kamar. Ternyata memang di luar sedang terang bulan. Berarti tadi aku tidak mimpi. Tapi apa yang terjadi? masa iya aku pingsan setelah digarap kang Ibra? dalam kebingungan aku mencoba untuk tertidur.

***

Sejak kejadian itu aku tidak bisa melupakan Kang Ibra. Sepertinya ada rasa ketagihan melanda otakku untuk bercinta dengan Kang Ibra. Aku sulit konsentrasi dan selalu berpikir hal-hal mesum dengan suami sepupuku itu. Tapi tampaknya Kang Ibra bersikap sebaliknya. Entah dia jaga image atau apa, dia seolah tak memedulikanku. Kadang aku sengaja menatap matanya mencari tahu apa yang di dalam pikirannya. Tapi Kang Ibra tidak menanggapinya.

Giliran aku yang setiap malam merindukan Kang Ibra. Cumbuannya seolah tak mau lepas dari bayanganku dan menjejak di seluruh tubuh. Aku tahu, Kang Ibra tidak akan bisa datang tiap malam seperti harapanku. Itulah sebabnya, aku hanya bisa merangsang diriku sendiri hingga keluar sambil membayangkan Kang Ibra. Ciumannya, Dekapan tubuhnya yang liat berotot, hentakannya, goyangannya, erangannya, semuanya tak mau enyah dari dalam otak.

Jumat itu aku lagi-lagi kecewa. Sampai Kang Ibra berangkat ke kantor, aku tak dipedulikannya. Padahal aku berharap bisa bermesraan dengannya setelah Teh Lina berangkat kerja lebih dulu. Aku menonton TV sambil melamun saat terdengar ketukan pintu di depan. Aku bergegas menuju pintu depan dan membukanya. Ternyata ada Pak Aswadi, ketua RT di perumahan itu. Usianya sudah nyaris enam puluh tahun, dan seorang pensiunan TNI.

“Assalamualaikum ,” sapa Pak Aswadi.

“Waalaikumsalam pak RT,” jawabku sambil mencium tangannya.

“Ayo masuk pak, maaf, tapi Kang Ibra sama Teh Lina udah berangkat kerja,” kataku ramah mempersilakan pria itu masuk.

“Enggak apa-apa, Sep. Saya mau minta fotocopy KTP Kamu. Nama kamu teh siapa? Deni ya?”

“Iya pak, nama saya Deni. Sebentar saya ambilkan,” sahutku sambil menuju ke kamar.

Teh Lina memang sudah mengenalkanku pada Pak Aswadi dan memberitahukannya bahwa diriku akan tinggal di rumahnya untuk jangka waktu lama. Itu sebabnya, Teh Lina sekaligus mengurus surat kepindahanku dan akan memasukkan aku ke daftar kartu keluarganya.

Saat aku kembali ke ruang tamu, aku mendapati Pak Aswadi berdiri tegak. Matanya memandang tajam ke arah pintu dapur dengan ekspresi galak. Tangannya terkepal sedikit gemetar.

“Pa.. pak? ada apa?” tanyaku bingung.

Pak Aswadi tak menjawab. Dia masih memandang ke arah dapur seolah sedang mengawasi seseorang di situ. Tak lama dia menarik nafas panjang dan mulutnya komat-kamit seperti mengucapkan sesuatu. Dia kemudian menutup matanya dan kembali duduk.

“Pak? ada apaan pak? ada sesuatu di dapur?” tanyaku khawatir. Terus terang, aku sedikit takut karena seharian selalu ditinggal sendiri di rumah. Dan jika ternyata pak Aswadi melihat suatu mahluk gaib ada di rumah ini, pastinya akan menjadi pikiranku terus-menerus.

“Enggak, Sep.. enggak ada apa-apa,” ujar pak Aswadi sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Kalau begitu, fotocopy KTP kamu saya ambil untuk urus KK, dan.. tolong bilang sama pak Ibrahim, ingatkan lagi ada rapat RT hari Minggu. Soal tetangga yang bandel mau pasang pagar.”

Setelah menyanggupi pesannya, Pak Aswadi pun pamit. Aku yang kembali sendirian di rumah, berjalan menuju dapur. Aku berdiri diam dan memandang sekeliling ruangan dapur. Tak ada apapun yang mencurigakan dan membuatku merinding…

***

Hari Sabtu. Teh Lina dan Kang Ibra hendak jalan-jalan. Sepertinya Teh Lina ada acara reuni teman kampusnya. Dia sempat mengajakku untuk ikut, namun karena ini bukan jalan-jalan biasa, aku menolaknya.

“Yakin, Sep? ulah cicing di imah wae atuh..” kata Teh Lina.

“Makasih Teh, tapi Asep di rumah aja, nanti aja kalau akang sama teteh mau jalan-jalan ke mana gitu, enggak ketemu temen-temen teteh, Asep mau ikut,” ucapku.

“Ya udah kalau mau kamu begitu. Oh, iya. Teteh mau pergi dulu ambil kue pesenan buat reunian, tolong bilang ke Kang Ibra ya, Teteh pergi dulu sebentar,” kata Teh Lina.

“Iya Teh,”

Kang Ibra memang saat itu tidak ada di rumah. Dia sejak pagi ada pergi ke rumah tetangga untuk ngobrol atau apa.

Sepuluh menit kemudian Kang Ibra muncul.

“Teteh kamu ke mana?” tanyanya.

“Anu kang, tadi bilang mau ambil kue buat acara reunian sebentar,” sahutku sambil membereskan tumpukan koran di atas meja.

“Ooh..” ujar Kang Ibra. Kemudian dia terdiam sambil memandangiku.

“Ke Kamar, Sep,” ujarnya sambil menutup pintu.

Aku menjadi gelagapan. Eh? yakin? sekarang? walau aku mau tapi tetap saja khawatir Teh Lina sewaktu-waktu akan datang.

“Kang…? tapi..” ujarku ragu.

“Sebentar aja, Sep.. isep punya akang…” pintanya.

Walau sedikit takut, aku bangkit dari lantai dan meletakkan tumpukan koran itu. Tanpa bisa kukendalikan, kurasakan kontolku sendiri mulai mengeras.

Ketika kami sudah di kamarku, dengan sedikit tergesa, Kang Ibra yang sudah berpakaian rapi membuka celananya dan menurunkannya hingga paha. Kang Ibra memerintahkan aku untuk berlutut di depannya. Aku menurut.

Kontol Kang Ibra memang sudah mengeras. Batang itu menyembur bebas saat kuturunkan celana dalamnya. Kuhirup aroma kelelakiannya bercampur wangi segar sabun mandi sambil menatap matanya.

Kang Ibra mengangguk seolah menyuruhku segera mengulum batang kontolnya itu. “Ayo di ise… AAAAAH…” desahnya ketika aku mulai memasukkan batang berurat milik Kang Ibra ke dalam mulutku. Sensasi lembabnya rongga mulut dan liukan lidahku membuat Kang Ibra mendesis desis sambil menggeliatkan badannya keenakan.

“Terus Sep.. terus..” gumamnya. Tangan Kang Ibra meremas-remas rambutku dan mengusap pipiku seakan memberi semangat diriku agar tak lelah menservis kontolnya.

“Mmm.. mmm..” gumamku sambil terus berusaha memasukkan seluruh kontol Kang Ibra ke dalam mulutku. Sejenak kuhentikan gerakanku untuk melepas kausku. Sementara tanganku yang satu menggenggam kontol Kang Ibra, tanganku yang lain kugunakan untuk mengurut kontolku sendiri.

“Terus Sep.. aaah.. pinter kamu teh…” puji Kang Ibra sambul menahan kepalaku dan mulai bergerak mendorong kontolnya keluar masuk mulutku.

“Hmmpph… hmmph..” erangku sambil berusaha mengatur nafas ketika kontol kang Ibra menyumbat jalan nafasku dan bergerak semakin cepat. Aku berada di antara rasa nikmat dengan mengocok kontol sendiri dan kesulitan bernafas akibat sumpalan kontol Kang Ibra di mulutku.

“Ssh. aaah.. aaah…” racau Kang Ibra sambil memejamkan mata. Dia sepertinya mulai tak tahan. Kedua telapak tangannya mencengkeram kepalaku kuat-kuat agar tak bergerak. Didorongnya pinggulnya hingga seluruh batang kontolnya masuk ke dalam mulutku. Aku memberontak sambil mencengkeram kaki Kang Ibra. Tak lama kemudian, kontol Kang Ibra mulai memuntahkan isinya. Kurasakan cairan hangat yang rasanya aneh mengalir kental di rongga mulutku bergerak hingga kerongkonganku. Aku berusaha menelannya walau rasanya sedikit amis dan membuatku mual.

Kang Ibra kemudian menarik batang kontolnya yang telah basah dengan ludah bercampur sperma miliknya. Diangkatnya tubuhku dan dibaringkannya di atas ranjang. Aku mengusap bibirku yang basah oleh liur dan sperma Kang Ibra, lalu berbaring mengikuti perintahnya.

Kang Ibra berlutut di atas ranjang tepat di sampingku. Celana pendekku yang telah kuturunkan membuat Kang Ibra leluasa menggenggam kontolku.

“Akang bantuin kamu keluar…” gumamnya.

“Aaah.. akang…” erangku saat kang Ibra mulai mengurut kontolku yang sedari tadi sudah menegang. Sementara itu mulutnya menjilati puting dadaku dan sensasi nikmat persentuhan antara kulitku dengan brewok tipisnya membuatku semakin menggila.

Punggungku melengkung. Tanpa sadar kedua pahaku membuka lebar-lebar. Kang Ibra terus mengurut kontolku dengan genggaman solid dan gerakan teratur yang tidak membuatku kesakitan. Mulut kang Ibra makin rakus dan liar. Dia tanpa ampun terus mengisap putingku bergantian. Aku mencoba mengusap kepalanya, namun ditepisnya tanganku hingga aku menyerah.

“Akaaang…” ringisku. AKu tak tahan lagi. Kombinasi rangsangan pada kontolku dan jilatan maut pada putingku membuatku hilang kendali. Tubuhku menegang dan gemetar. Srrrtttt….. giliranku memuntahkan isi kontolku hingga berceceran di perut dan dadaku. Aku menggeliat beberapa saat mencoba meredakan ketegangan di sekujur tubuhku yang serasa tersengat aliran kenikmatan. Nyaris saja tumpahan spermaku mengenai wajah Kang Ibra, dan dia ternyata tak keberatan.

Kang Ibra bangkit dari lantai dan memperbaiki pakaiannya. Kemudian dia keluar dari kamarku sambil tersenyum.

Lima menit kemudian aku menyusul keluar setelah selesai berpakaian. Kang Ibra sudah ada di ruang tamu sedang membaca koran. Aku bingung harus bersikap apa. Terus terang, aku sebenarnya khawatir kejadian barusan cuma mimpi dan Kang Ibra menghilang begitu saja.

“Kang…” sapaku.

Kang Ibra menoleh ke arahku dan matanya kemudian melihat ke arah selangkanganku. Ah, rupanya Kang Ibra masih sama dengan yang tadi.

“Sep, itu kamu lemesin dulu, nanti Teteh kamu pulang ngeliat itu gimana?” kata Kang Ibra sambil terkekeh.

Aku tersipu malu dan kemudian pamit menuju kamar mandi. Setelah dari kamar mandi, Teh Lina rupanya sudah datang. Tanpa menaruh curiga pada kami berdua, keduanya pamit berangkat. Aku kemudian menutup pintu lega.

***

Tak lama kemudian, aku mendengar seseorang mengetuk pintu. Kupikir Pak RT yang datang ke rumahku untuk meminta data kembali. Tapi aku terkejut ketika ternyata Kang Ibra sudah berdiri di depan pintu.

“Eh, Kang? kenapa pulang lagi? ada yang ketinggalan?” tanyaku bingung sambil melihat ke pekarangan mencoba mencari mobil mereka berdua.

Kang Ibra tak menjawab. Dia malah mendorongku masuk kembali ke dalam rumah dan mulai menciumiku. Entah mengapa aku seperti terhipnotis. Aura Kang Ibra membuatku mabuk kepayang dan pasrah oleh cumbuannya. Kang Ibra membimbingku ke dalam kamar dan menghimpitku pada dinding. Aku pasrah saat kang Ibra mulai mencumbu leherku. Dengan cekatan dia melepas kausku. Aku benar-benar tidak berpikir bahwa ini adalah sebuah keanehan. Bukankah tadi Kang Ibra baru saja melepas syahwatnya? apakah mungkin dia kembali lagi tanpa ragu meninggalkan Teh Lina entah di mana dan meminta kembali jatah padaku? kuat sekali dia? pikirku.

Tapi rupanya semua itu tak kupikirkan. Pikiranku serasa kosong dan hanya tertuju untuk memuaskan nafsu Kang Ibra. Aku mendesah dan mengerang sambil menggenggam rambutnya sementara Kang Ibra dengan rakusnya menciumi leher, pundak dan dadaku.

Kemudian Kang Ibra melepas bajunya. Satu-satunya hal yang kusadari, Kang Ibra mengenakan kalung itu lagi. Padahal aku tak ingat dia tadi memakainya atau tidak.

“Akh.. Akang…” desahku lagi. AKu benar-benar menikmati himpitan dadanya yang bidang dan liat. Kedua putingnya yang keras terasa menusuk kulitku dan aku menikmatinya. Tangan kokohnya dia lingkarkan pada tubuhku hingga aku hanya bisa pasrah dan lemas.

Tiba-tiba Kang Ibra membalik badanku. Tanpa rasa sakit, tanpa melawan, seperti seorang yang sedang mabuk dan terbius, aku pasrah saat Kang Ibra mulai menghujamkan kontolnya ke dalam pantatku. Aku menggigit bibir. Tak ada rasa sakit. Yang ada hanya rasa nikmat menjalar ke sekujur tubuh saat tanpa ampun kontolnya yang besar itu melesak keluar masuk semakin dalam di dalam lubang anusku.

Aku bertumpu pada dinding sambil mendesah-desah. Kurasakan tangan Kang Ibra mencengkeram pinggangku seolah menahan tubuhku agar tak limbung dan lemas. Akibatnya, berkali-kali tubuhku terlonjak seiring dengan hantaman demi hantaman kontolnya itu.

“Terus kang.. lagi kang…” racauku seolah tak pernah akan merasakan puas dari perbuatannya. Aku benar-benar pasrah terhipnotis oleh pesona kejantanan Kang Ibra yang entah mengapa berbeda dengan yang kurasakan tak lebih dari sejam lalu.

Tak cukup sampai di situ, Kang Ibra membalik badanku dan mencengkeram pantatku hingga aku yang bertumpu pada dinding dengan leluasa digendongnya. Aku bukanlah pria yang berukuran terlalu kurus. Itu sebabnya, aku kagum dengan kehebatan Kang Ibra yang ternyata kuat mengangkat tubuhku. Kurangkul bahu Kang Ibra dan membalas ciuman ganasnya. Kang Ibra tak berkata apa-apa. Hanya lenguhan, desahan, erangan saja yang keluar dari mulutnya.

“Hummmf…” gumamku mengimbangi ciumannya. Kuremas lengan atasnya yang kekar dan tak lama Kang Ibra kembali menusukkan kontolnya ke dalam anusku tanpa ampun.

“Aaaaaaaaaakkkh…” erangku. Aku memeluk Kang Ibra sambil terus menikmati kontolnya yang liar terus menerus melesak seolah hendak merobek dinding anusku. Reaksi alamiku membuat otot-otot di sekeliling anusku berkontraksi berusaha mengimbangi benda asing liar yang terus menerus merojoknya.

Stamina Kang Ibra benar-benar luar biasa. Aku terus mendesah memohon Kang Ibra tak menghentikan gerakannya. Rangsangan itu telah sampai pada ubun-ubunku dan membuat kontolku yang bergesekan dengan perut rata kang Ibra dan bulu-bulu halus di sekitarnya tak kuasa menahan lagi untuk mengeluarkan isinya. Aku sendiri takjub karena sperma yang keluar masih cukup banyak, padahal tak lama tadi sudah kukeluarkan.

“Errrggh…” Kang Ibra menggeram. Tubuhnya gemetar hebat dan kurasakan dia menyemburkan kembali spermanya. Kali ini di dalam ususku hingga perutku serasa dikocok-kocok oleh aliran spermanya yang terasa menyebar ke seluruh rongga perutku. Banyak sekali dan hangat.

Aku terengah-engah keletihan. Tubuhku lemas luar biasa. Kang Ibra membaringkan aku di atas ranjang dengan hati-hati dan mengusap rambutku sambil tersenyum. Tiba-tiba dia memungut pakaiannya dan keluar dari kamar. Aku berusaha memanggilnya namun badanku terasa lelah luar biasa. Dengan sisa tenaga yang ada, susah payah aku bangkit dan menyambar handukku mencoba menyusul Kang Ibra.

Ketika keluar kamar, aku tak melihat Kang Ibra lagi. Padahal tak terdengar suara pintu terbuka. Mungkinkah dia pergi secepat itu? Tiba-tiba ponselku berdering. Teh Lina. Apakah dia menanyakan kabar Kang Ibra yang mungkin minta izin untuk kembali ke rumah namun gelisah karena lama kembali? Aku tak bisa berpikir jernih.

“Halo teh?” sapaku.

“Sep, teteh mau bilang, tadi charger teteh masih nempel di colokan listrik di kamar, tolong cabutin ya? Teteh baru inget barusan pas teteh sama Kang Ibra udah masuk tol, nih…” ujarnya.

“Hah? teteh ada di jalan sama Kang Ibra?” tanyaku bingung.

“Iya. Kenapa Sep?”

Jantungku tiba-tiba berdebar kencang. Kepalaku terasa pusing. “Eng.. enggak teh… tadi kirain.. kirain…”

Pandanganku mendadak gelap dan aku pun jatuh pingsan.

***

BACA JUGA:

PERJAKA YANG TERKOYAK – 1

PERJAKA YANG TERKOYAK –  2

Advertisements
Comments
  1. arif says:

    hm.. hm..

  2. rifqi says:

    Ini horooooor, dan sukses bikin aku gabisa tidur nih…itu hantu apa sih sosoknya seremm…aku sebell skr ketakutan. :’-(

  3. lima says:

    Ga mau baca ogah!!!!

  4. ilyas says:

    Nah lho! Siapa tuh!

  5. Vrans says:

    Sereeemmm eiiii,
    siapa si yg menjelma jdi kang Ibra,? Bkin pnsran dechh,
    lanjutttt;)

  6. farhad says:

    Njir, horor. Tapi bagus, keep writing!!!

  7. mark says:

    Cerita yang lain dari sebelumnya….sukses bikin semua bulu merinding…..lanjut bung,ditunggu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s