PERJAKA YANG TERKOYAK – 2

Posted: February 17, 2014 in Perjaka Yang Terkoyak 1-7 (Tamat)

Perjaka-1SEPERTINYA Kang Ibra berusaha berpura-pura tidak terjadi apa-apa antara kami berdua sejak peristiwa terenggutnya keperjakaanku. Mungkin Kang Ibra tipikal pria brengsek yang setelah berhasil mendapatkan keinginannya, lalu dia kembali pada pernikahaannya yang bahagia. Terus terang, hal itu membuatku sedikit kecewa. Aku memang merasa tak enak dengan Teh Lina, tapi di sisi lain aku merindukan sentuhannya. Aku berusaha tak menunjukkan perasaanku sebenarnya walau setiap kali ada kesempatan aku berdua dengan Kang Ibra. Rupanya dia seperti sudah kehilangan minat terhadapku, dia pergi berangkat kerja dan pulang seperti biasa tanpa pernah menatapku buas seperti waktu itu.

Suatu malam, saat kami semua selesai makan malam, aku sedang berada di dapur sedang mencuci piring. Tiba-tiba Kang Ibra menghampiriku membawa beberapa buah gelas kotor.

“Eh, Kang… biar nanti Asep yang beresin,” ujarku sungkan.

Kang Ibra tidak menjawab. Dia meletakkan gelas kotor itu di wastafel sambil berbicara pelan. “Nanti malam kamar kamu jangan dikunci…” kemudian dia kembali ke ruang tengah.

Aku meneguk ludah. Apakah.. apakah Kang Ibra akan menyatroni kamarnya nanti malam? tapi bagaimana mungkin? Teh Lina kan ada di rumah? Apakah mungkin Kang Ibra bisa bertindak senekad itu? pikiranku berkecamuk.

Jam sebelas malam. Aku tak bisa tidur. Sesuai pesan Kang Ibra, aku tidak mengunci pintu kamarku. Tapi akibatnya, berkali-kali aku menoleh ke arah pintu kamar merasa tak tenang. Aku membolak-balik badanku dan menarik selimut hingga dadaku namun aku tak kuasa memejamkan mata. Lampu kamar sengaja kubuat temaram. Jantungku kudengar berdebar-debar hingga terpaksa aku berkali-kali menghirup nafas dalam-dalam untuk menenangkannya.

Sudah hampir jam satu dini hari. Aku menghadapkan wajahku ke arah dinding membelakangi pintu. Rasa kantuk mulai menyerang ketika kudengar suara klik pintu kamarku terbuka dan terdorong. Aku memejamkan mata, tak berani menoleh. Terdengar suara pintu mengayun dan menutup pelan. Kupasang telinga namun tak terdengar suara apapun. Kudengarkan lagi baik-baik. Tak ada suara langkah kaki, namun kurasakan seseorang semakin mendekati ranjangku. Nafasnya terdengar jelas. Aku terkesiap saat jemari tangan seseorang menyentuh pundakku. Aku menghela nafas lega dan berbalik hendak menyambut Kang Ibra.

“Kang… HUAAAAAAAAAAAA!!!!”

Aku menjerit ketakutan. Mataku membelalak saat menoleh pada seseorang yang berdiri di pinggir ranjang. Yang ada di kamarku bukanlah Kang Ibra melainkan sosok mahluk hitam tinggi besar dan berbulu. Wajahnya ditutupi bulu lebat hingga yang terlihat hanya matanya yang merah dan mulutnya yang menyeringai memamerkan deretan taringnya.

“JANGAN!!! PERGI!!!” aku memberontak saat lengan kuat mahluk itu mencengkeram lenganku sambil menggeram kuat.

Dan aku terbangun sambil terengah-engah. Mimpi buruk sialan! aku menoleh jam dinding. Jam satu dinihari. Kurebahkan lagi tubuhku sambil berdoa dan menenangkan nafas. Dan, suara klik pintu terbuka pun terdengar kembali. Buru-buru aku menyembunyikan wajahku di balik bantal ketakutan. Pintu kamarku menutup kembali.

“Sep…” bisik seseorang sambil menyentuh punggungku. Nafasku naik turun tak beraturan. Kuberanikan diri menoleh, dan ternyata kali ini bykan mimpi. Kang Ibra sudah ada di kamarku.

“Kang…” ujarku lirih dengan lega.

“Kunaon kamu, Sep?” tanya Kang Ibra.

“Mimpi buruk kang…” jawabku.

“Oh… buka baju kamu, Sep..” perintah Kang Ibra. Dia datang hanya mengenakan kaus singlet putih dan celana pendek.

“Kang.. Asep takut Teh Lina bangun, kang…” protesku khawatir.

“Tenang Sep. Teteh kamu abis minum obat flu. Jadinya tidur pulas…” kata Kang Ibra sambil mengusap-usap bahu dan lenganku.

Aku mengingat-ingat lagi tadi siang. Iya. Teh Lina memang sore tadi pergi ke klinik. Agak flu katanya. Aku pun merasa sedikit lebih tenang.

“Ayo atuh, Sep.. buka baju kamu.. Akang udah kepengen nih…” pinta Kang Ibra.

Aku menuruti perintah Kang Ibra. Kang Ibra kemudian membuka kausnya. Pemandangan indah tubuhnya membuat ku menelan ludah.

“Apa itu kang?” tanyaku saat melihat kalung yang dikenakan oleh Kang Ibra. Rantainya seperti terbuat dari perak namun terlihat tua, dan sebuah liontin terbuat dari batu berwarna merah tua tergantung di tengahnya. Aku belum pernah melihat Kang Ibra memakai kalung itu sebelumnya.

“Ini? Ini jimat Sep.. udah.. gak usah banyak tanya…” ujarnya.

Aku tak meneruskan pertanyaanku.

“Geser dikit…” perintahnya. Aku menurut dan membiarkan Kang Ibra naik ke atas ranjangku. Dengan lembut dia mendorong punggungku hingga aku menghadap dinding kembali.

Perlahan dikecupnya bahuku sambil tangannya mengusap-usap lenganku. Aku memejamkan mata menikmati sentuhan Kang Ibra. Bibir Kang Ibra yang dihiasi brewok yang tajam-tajam itu menciumi punggungku hingga aku mendesis-desis keenakan.

Kang Ibra perlahan mengangkat lenganku dan kepalanya bergeser ke depan menciumi bagian bawah ketiakku hingga aku menggeliat. Dengan lidahnya dia menyapu kulitku hingga bagian putingku dan dengan gerakan mengisap, bibirnya meyedot putingku hingga aku berhenti bernafas untuk beberapa saat.

“Ahh.. akang…” desahku.

Kang Ibra terus melanjutkan aksinya. Aku harus menarik nafas berkali-kali sambil menggeliat setiap kali Kang Ibra menyedot putingku dengan penuh kelembutan. Kang Ibra kemudian membuat badanku telentang. Dia naik ke atasku dan melanjutkan aksinya. Bibirnya bergantian melumat putingku. Aku memejamkan mata sambil menggigit bibir tak ingin membuat keributan di kamar itu dengan desahanku.

“Akaang..” erangku sambil memeluk kepalanya tak tahan oleh cumbuannya. Aku benar-benar iri dengan Teh Lina. Dia bisa menikmati cumbuan pria ini yang bak kuda liar tak kehabisan energi.

Lidah kang Ibra dengan nakal menjilati pusarku dan menekan-nekan lubang pusarku dengan ujung lidahnya. Perlakuannya membuat tubuhku menggeliat semakin liar. Terlebih saat dia menarik celana pendekku hingga aku benar-benar telanjang.

Hap! Kang Ibra melumat kontolku ke dalam mulutnya. “Uuuuh…..” aku mendengar diriku mengeluarkan lenguhan panjang. Kubuka pahaku lebar-lebar agar Kang Ibra makin leluasa menjelajahi setiap bagian kontolku. Tak hanya itu, diapun kembali menggarap daerah di antara kedua belah pantatku dan menggosok-gosoknya dengan brewoknya yang menggelitik.

“Ohhh.. Akang.. enak….” racauku sambil mengangkat pahaku tinggi-tinggi.

Dikulumnya dua jari tangannya sehingga basah oleh air liur. Perlahan Kang Ibra memasukkan jarinya ke dalam lubang pantatku. Aku meringis karena merasakan sedikit pedih, namun demi Kang Ibra aku menahannya. Aku yakin, dia tak berniat menyakitiku. Setelah hampir seluruh buku jarinya masuk, Kang Ibra mengeluarkannya lalu memasukkan kembali dengan dua jarinya. Cukup lama dia membiarkan jarinya di dalam pantatku lalu dia mulai menggerak-gerakkannya. Untuk mengurangi rasa kurang nyaman, aku membuka pahaku lebar-lebar sambil mengocok kontolku dan mencoba rileks.

Ujung jari Kang Ibra memijat-mijat dinding anusku hingga menyentuh sebuah bagian yang membuatku merasa panas dingin keenakan. Aku mengerang, menggeliat, sambil terus mengocok kontolku. “Kang…..” aku memanggilnya. Maksudku ingin berkata, ganti jari itu dengan kontolnya, namun aku tak melanjutkan kalimatku.

Kang Ibra menyeringai. Sepertinya dia mengerti keinginanku. “Nyender…” perintahnya. Akupun beringsut bangun dan menyandarkan punggungku ke dinding.

Kang Ibra bangkit dan mendekati wajahku sambil berlutut. Dibukanya kakinya hingga kontolnya yang sudah tegak berdiri itu berada tepat di depan wajahku. Kang Ibra ingin aku mengoral kontolnya. Dan aku menyanggupinya. Kubuka mulutku hingga Kang Ibra leluasa menyelusupkan batang kontolnya ke dalam rongga mulutku. Tanganku bergerak liar meraba perutnya yang rata dan memain-mainkan puting dadanya. Kudengar Kang Ibra mendesah panjang. Digerakannya pantatnya hingga wajahku terbenam di selangkangannya sementara mulutku bekerja keras mengulum kontolnya.

Tiba-tiba Kang Ibra membuka tirai jendela. Rupanya di luar sedang terang bulan purnama. Cahayanya masuk menimpa tubuh kami berdua. Kulit Kang Ibra terlihat pucat terang terkena cahaya bulan dan… kalung itu kulihat berpendar terang beberapa saat. Namun karena aku sibuk dengan kontol Kang Ibra, aku mengabaikan hal itu.

Kemudian Kang Ibra menghentikan gerakannya. Dia membalik badanku dengan kasar. Dipukulnya pantatku beberapa kali dengan mesra dan diremas-remasnya hingga aku mengerang. Setelah itu, Kang Ibra membuka pantatku lebar-lebar dan bless.. kontolnya langsung menerobos masuk anusku tanpa peringatan apapun. Aku memekik panjang. Namun tak seperti dugaanku, entah mengapa kurasakan ada sebuah energi meliputi kami berdua seolah-olah persetubuhan kami sedang dilindungi seseorang.

“Terus kang…” desahku sambil menikmati sodokan kontolnya. Aku pasrah menikmati setiap gerakan Kang Ibra melakukan penetrasi ke dalam anusku berkali-kali.

Kudengar Kang Ibra mengerang keenakan. Aku sendiri heran, sepertinya Kang Ibra melakukan ini dengan totalitas hingga aku merasa seperti istrinya sendiri. Tangan Kang Ibra memegangi pinggangku. Kontolnya semakin liar meleasak masuk semakin dalam hingga aku terengah-engah. Anehnya, tanpa kusentuh, kontolku berdiri tegak dan hendak mengeluarkan cairan spermanya.

“Kang…?” desahku keheranan. Tak lama, Srrrt…. aku mengerang sambil memuncratkan cairan sperma di atas kain sprei sambil mendesah panjang.

Kang Ibra terus menghujamkan kontolnya berkali-kali. Kudengar dia mengerang dan dengan hentakan terakhir yang sangat kuat, tubuhnya kembali menggigil. Disemburkannya isi kontolnya yang berupa cairan putih hangat itu ke dalam anusku. Aku memekik kecil menikmati semburan demi semburan hangat yang melapisi dinding anusku hingga gemetar. Aku tak ingat apa-apa lagi, tiba-tiba pandanganku gelap dan rasa kantuk luar biasa menjalariku hingga aku tertidur pulas….

****

LANJUT KE : PERJAKA YANG TERKOYAK – 3

Advertisements
Comments
  1. nah lo nah loo
    siapakah sebenarnya kang ibra ini?
    jangan2 dia itu penjelmaan mahkluk berbulu itu..hyiihh sereem
    ato mungkin kang ibra ini sedang dalam ritual pesugihan?hooo
    cerita yg sangat menarik dan tdk biasa

    *lanjut bang

  2. Vransiskus says:

    Lanjutttt,bang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s