PERJAKA YANG TERKOYAK – 1

Posted: February 11, 2014 in Perjaka Yang Terkoyak 1-7 (Tamat)

996781_1392138864370466_557703377_nNANTI kamu bantu-bantu Teteh di rumah, ya Sep?” kata Teh Lina, sepupu jauhku yang tinggal di Bogor. Kami sedang berada di mobilnya ditambah seorang supir yang duduk di belakang kemudi dalam perjalanan dari Garut menuju Bogor.

“Iya Teh…” jawabku.

Namaku Deni. Karena aku anak lelaki satu-satunya di keluarga, orangtuaku lebih suka memanggilku dengan sebutan Asep. Dan itu menyebar hingga seluruh kerabatku hingga kadang mereka lupa nama asliku sebenarnya.

Aku baru saja lulus SMA. Teh Lina, saudara jauhku mengajakku untuk tinggal di rumahnya. Karena orangtuaku hidup pas-pasan, maka tawaran Teh Lina untuk membiayai kuliahku kuterima dengan suka cita. Sungguh. Aku tak keberatan bila harus membantu Teh Lina mengerjakan urusan rumah tangganya. Toh, aku sudah terbiasa membantu orangtuaku di rumah seperti mengepel, mencuci, merawat kebun, dan lain-lain.

“Kalau kamu rajin, teteh juga bakal kursusin kamu nyetir, tapi Teteh belum tahu, kamu teh rajin apa enggak, jadi lihat ntar.” lanjut Teh Lina.

“Selama tinggal sama Teteh, kamu jangan genit ya sama anak gadis orang, apalagi sampe ngehamilin. Ih, amit-amit..”

“Ah, Teteh ma sok kitu.. siapa yang mau naksir sama anak kampung kayak saya?” ujarku merendah.

“Jangan bohong. Mamah kamu cerita kamu teh playboy nya? seeur kabogohna di kampung…” kata Teh Lina.

“Hahaha.. si Teteh bisa aja.. Bohong itu mah.”

Aku memang tidak bisa dibilang jelek. Kata orang, posturku lumayan oke dibanding remaja seusiaku di kampung. Senyumku menurut mereka manis, dan ditambah kulit yang bersih, bisa dibilang aku cukup populer di kampung. Beberapa gadis memang sempat kupacari, tapi tidak serius.

Teh Lina berusia 35 Tahun. Dia sudah menikah dengan seorang arsitek sekaligus dosen bernama Ibrahim. Walau sudah 10 tahun menikah, sejak anak pertama mereka meninggal, mereka belum lagi dikaruniai anak.

Saat aku tiba di rumah Teh Lina, aku bertemu dengan Kang Ibra, suaminya. Wajahnya serius seperti yang pernah kulihat dalam acara keluarga setahun lalu. Tampan, dengan berewok tipis yang menghiasi bagian bawah wajahnya. Aku mencium tangannya sebagai tanda hormat. Ada yang aneh dengan Kang Ibra. Pria berusia nyaris 40 tahun ini menatapku dengan pandangan menyelidik hingga aku merasa tak nyaman.

“Mudah-mudahan kamu betah di sini ya Sep,” katanya sambil menepuk bahuku.

“Iya kang.. mudah-mudahan..” ucapku.

Karena perkuliahan belum dimulai. Aku membiasakan diri untuk mengurus rumah Teh Lina dan Kang Ibrahim. Jam setengah lima pagi, aku sudah bangun untuk salat subuh. Setelah itu, aku memasak air (Teh Lina tidak suka dengan air panas dari dispenser air galonan) untuk menyeduh kopi dan teh panas. Setelah itu, aku akan keluar rumah menuju depan komplek perumahan dengan sepeda untuk membeli kue-kue dan jajanan untuk sarapan.

Teh Lina dan Kang Ibra sama-sama berangkat kerja pagi hari. Setelah mereka pergi, barulah aku bisa membereskan rumah, menyapu, mengepel lantai, dan berkebun. Kadangkala, jika pekerjaan di rumah sudah selesai, aku akan berjalan-jalan dengan sepeda keliling komplek atau ke sekitaran kampus yang tak jauh dari rumah mereka.

Awalnya semua berjalan biasa saja. Teh Lina yang kerja di Jakarta berangkat lebih dulu diantar oleh seorang supir yang sepertinya hanya dibayar untuk mengantar Teh Lina ke stasiun Bogor dengan mobil, lalu mobil itu diantar kembali ke rumah untuk dipakai oleh Kang Ibra menuju kampus.

Kang Ibra tidak banyak bicara padaku. Tapi setiap kali aku berada di rumah hanya berduaan dengan dia saja, ada perasaan deg-degan dan khawatir karena Kang Ibra selalu menatapku dengan tatapan aneh.

Pernah suatu hari, saat aku selesai mandi pagi, Teh Lina sudah berangkat lebih dulu, aku terkejut saat membuka pintu kamar mandi, Kang Ibra sudah berada di depan pintu kamar mandi. Dia menatapku yang hanya mengenakan handuk dari ujung kepala hingga kaki, lalu berlalu begitu saja tanpa berkata apapun. Sejak saat itu, aku selalu mandi pagi subuh-subuh, atau setelah Kang Ibra pergi berangkat kerja.

Kang Ibra biasanya tiba di rumah sebelum Magrib. Sedangkan Teh Lina, tiba di rumah lewat dari jam tujuh malam. Saat itulah aku merasa khawatir juga karena kembali aku berduaan saja dengan Kang Ibra. Syukurlah, kadang kang Ibra ikut pertandingan futsal, badminton, dan fitness dalam seminggu sehingga tak setiap hari dia tiba di rumah lebih dulu dari Teh Lina. Anehnya, saat akhir pekan, tingkah laku Kang Ibra biasa saja dan sangat santai jika berada dengan istrinya. Hingga malam itu tiba…

Jam lima sore, Kang Ibra sudah ada di rumah. Padahal setahuku hari itu jadwalnya dia berada di pusat kebugaran. Kang Ibra tampaknya sangat menjaga postur tubuhnya, hingga tak heran, di usianya yang menjelang kepala empat, postur tubuhnya tetap terjaga, atletis dan kekar.

“Sep…!” panggilnya.

Aku yang berada di dapur sambil bermain laptop milik Teh Lina yang dipinjamkan padaku, segera menghampirinya yang sedang duduk di ruang tamu. Sengaja aku tinggal di dapur untuk menghindari dari seruangan berdua dengan Kang Ibra.

“Iya Kang?” tanyaku.

“Tolong bikinkan kopi, Sep. Ada makanan kecil nggak?”

“Oh, ada Kang. Sebentar ya, Asep bikinin…” kataku.

Lima menit kemudian aku muncul di ruang tamu dengan membawa nampan berisi kopi dan setoples cemilan dan menyuguhkannya untuk Kang Ibra. Mata kang Ibra mengamatiku seolah sedang menelanjangiku hingga aku tak berani menatapnya.

“Diminum Kang..” kataku lalu berniat kembali ke dapur.

“Mau kemana, Sep? sini atuh temenin akang nonton! di dapur wae siga beurit!” ujar kang Ibra.

Dengan gugup aku meletakkan nampan dan duduk di sebelah Kang Ibra. Dia asyik mengunyah kue kecil yang di ambilnya dari toples sambil menatap layar tv.

Tiba-tiba kang Ibra menepuk-nepuk pahaku. Awalnya kuanggap perlakuannya itu biasa saja seperti kakak yang menepuk bagian tubuh adiknya sebagai rasa sayang. Tapi Kang Ibra mulai meremas pahaku dan mengusap-usapnya.

Aku yang merasa tak nyaman mulai menghindar, namun Kang Ibra menahan kakiku untuk tak beranjak hingga aku terpaksa membiarkannya.

“Kang.. jangan..” desisku. Aku sudah pernah dengar soal pria-pria yang memiliki kecenderungan homoseksual dan tak segan-segan melakukan pelecehan kepada pria lain. Tapi aku tak menyangka bahwa Kang Ibra yang gagah ini juga demikian.

Kang Ibra tak menggubris protesku. Dia terus mengelus-elus pahaku. Beberapa lama kemudian, dia mulai berani menyelusupkan tangannya ke dalam celana pendek yang kukenakan. Aku terlonjak kaget saat Kang Ibra tanpa ragu meremas kontolku.

“Kang..!” protesku. Tapi entah setan apa yang ada di ruangan itu. Aku malah membiarkan kang Ibra melakukan itu padaku. Aku menggigit bibir saat tangan kang Ibra yang nakal dan lihai itu mengurut batang kontolku perlahan hingga aku merasa keenakan.

“Ngg… Nng…” erangku sambil menikmati gosokan telapak tangan Kang Ibra yang sedikit kasar karena terbiasa berolah raga. Namun hal itu justru menambah rasa

Badan kang Ibra mulai mendekat, dia mengendus-endus leherku hingga berewoknya menggelitik kulitku.

“Ah.. sudah lama akang suka sama kamu Sep… akhirnya akang punya kesempatan buat ngerasain tubuh kamu, ganteng…” bisik Kang Ibra.

“Hmmmf..” aku mengerang saat kang Ibra dengan sedikit gemas meremas kontolku. Anehnya, walau aku sedikit memprotes perlakuannya, justru kontolku semakin tegang. Aku bahkan harus melengkungkan punggungku karena merasakan sensasi nikmat dan enak terus menerus dari stimulasi tangan Kang Ibra yang tanpa henti mengocok kontolku.

“Kaang…” erangku. Aku mencengkeram pinggiran kursi. Kurasakan pahaku menegang seperti kram, dan…

Srrrttt!! srrrrtt!!! spermaku memancar berkali-kali dan tubuhku gemetar. Kudengar diriku sendiri mengeluarkan desahan panjang ketika Kang Ibra berhasil membuatku orgasme dengan kocokan tangannya.

Sambil tersenyum puas melihatku tersipu malu menikmati perbuatannya, Kang Ibra lalu melepas kausku dan mulai menciumi wajahku. Aku menolak saat Kang Ibra hendak mencium bibirku. Sedikit kecewa dia bergerak ke leher, bergeser ke bawah dan mulai mengisap putingku.

Aku menggeliat sambil memegangi kepala kang Ibra yang bergerak liar di atas dadaku. Beberapa lama kemudian, dia bangkit dari kursi dan Kang Ibra melepas seluruh pakaianku. Dia menyuruhku membelakanginya sambil bertumpu pada tanganku di sandaran sofa. Aku deg-degan karena kupikir kang Ibra bakalan langsung menyodomiku. Tapi rupanya aku salah.

Kang Ibra melepas semua pakaiannya. Aku menoleh ke belakang melihat tubuhnya yang kekar sudah bersiap di belakangku. Kang Ibra meremas pantatku beberapa kali dan menepuknya mesra. Kemudian dia berlutut dan…

“AAAh…” aku mengerang saat tiba-tiba, tanpa rasa jijik sedikitpun, kang Ibra membenamkan wajahnya pada belahan pantatku dan mulai menjilatinya. Sensasi menggelitik dan nikmat bercampur saat lidahnya menekan-nekan bagian luar lubang pantatku dan berewoknya yang tajam menggesek-gesek kulit di sekitarnya.

“Mmm…. kang…” desahku sambil memejamkan mata. Kuremas sofa agar tubuh ini tak limbung karena lemas merasakan sensasi nikmat dari cumbuan mautnya.

Dengan penuh semangat Kang Ibra terus melumat pantatku hingga terasa hangat dan basah. Lalu dia berdiri sambil mengocok kontolnya yang… ternyata besar dan panjang hingga aku menatapnya ngeri.

“Asep nggak mau kang.. sakit…” rengekku saat mengetahui niat Kang Ibra menggunakan kontolnya.

“Tenang sep… tahan sedikit, nanti juga enak… Kamu hisap dulu,” hiburnya sambil menciumi punggungku.

Aku menurut saat Kang Ibra menyuruhku mengulum kontolnya. Memikirkan bahwa benda sebesar itu akan bersarang di pantatku, aku mengeluarkan seluruh kemampuanku untuk melumuri batang kontol itu dengan air liur sebanyak-banyaknya.

“Aah.. Sep… kamu jago ngisep juga…” desah Kang Ibra sambil memejamkan matanya.

Setelah cukup lama aku mengoral kontolnya, Kang Ibra membalik badanku. Dia membuka kakiku lebar-lebar hingga aku merasa ngeri atas apa yang akan dia lakukan.

Untunglah, cumbuan pada bagian pantatku membuat daerah itu agak mati rasa dan rileks, sehingga saat kang Ibra mulai mendorong kepala kontolnya masuk, aku bisa menahannya.

“Sss.. kang.. pelan-pelan…” pintaku. Kang Ibra menatapku sayu. Dia mencoba mengatur nafasnya yang memburu karena nafsu.

“Hmmmmffff!!!” aku memekik tertahan saat Kang Ibra terus memaksa kontolnya masuk lebih dalam ke dalam terowongan anusku.

“Wooh… sempit.. lobang perawan memang enak…” gumam Kang Ibra sambil meracau dan mendesah.

“Kang…” air mataku mulai meleleh. Terus terang, aku agak kewalahan meladeni nafsu besar Kang Ibra. Apalagi dia sepertinya sudah menahan diri untuk saat seperti ini. Dengan kasar dia memegang bahuku sehingga aku terpaksa mencengkeram lengannya yang kekar berotot itu untuk mengimbangi nafsunya.

“Kaaaaaaangg!!!” erangku kesakitan saat Kang Ibra mulai menggenjot pantatku. Badanku terlonjak-lonjak di atas sofa sementara aku mencengkeram lengannya kuat-kuat.

Kudengar Kang Ibra menggeram seperti kesetanan. Rupanya nafsu sudah menguasainya. Dia terus menerus menghujamkan kontolnya ke dalam pantatku tanpa ampun. Aku meringis pedih, namun lama kelamaan saat aku mencoba rileks, hantaman demi hantaman kontol Kang Ibra berubah menjadi terasa nikmat.

Mataku membelalak tak percaya menatap Kang Ibra. Kang Ibra tersenyum licik mengetahui bahwa diriku kini sudah menikmati entotannya. Dia kemudian menciumi leherku dan menggosok kulitku dengan brewoknya hingga aku mendesah keenakan. Aku merangkul leher Kang Ibra seolah ketagihan dengan rojokan kontolnya yang terus menerus menghujam pantatku.

“Kang…” desahku. Kali ini tak ada nada protes melainkan suara memohon agar Kang Ibra melakukannya lebih keras, lebih dalam, dan lebih cepat.

“Ngggg…..” raung kang Ibra. Dia mempercepat gerakannya dan seperti mesin lokomotif, kontolnya semakin bergerak maju mundur semakin cepat dan semakin cepat hingga aku merasa mual karena batang kontol itu seolah mengoyak usus dan isi perutku. Tubuhku berkeringat dan terlonjak-lonjak semakin cepat.

Wajah kang Ibra memerah padam, keringatnya bercucuran, otot-ototnya semakin liat menegang dan…

“Aaakkh…” aku berteriak saat kurasakan semprotan sperma kang Ibra menghangat memenuhi lubang pantatku. Kulihat Kang Ibra melenguh menahan desahan panjang. Sesekali tubuhnya gemetar seolah terkena aliran listrik. Dia pun limbung dan menjatuhkan tubuhnya di atas badanku. Kami sama-sama berkeringat. Kepanasan. Terengah-engah oleh sisa nafsu yang mencapai puncaknya.

Aku mengusap wajah Kang Ibra dengan rasa sayang. Dan kukecup bibirnya lembut. Aku tahu ini tak boleh. Aku tahu ini salah, apalagi Kang Ibra adalah suami Teh Lina sepupuku yang baik hati. Tapi rupanya aku sudah jatuh hati pada kejantanan Kang Ibra. Aku tak kuasa menolak pesonanya. Dan dalam hati aku tahu, ini bukanlah pertama sekaligus terakhir kami memadu nafsu….

-MasMesum-

BACA JUGA: PERJAKA YANG TERKOYAK – 2

Advertisements
Comments
  1. blackshappire says:

    versi lain dr mas bima ya bang….
    tp gpp dink, ane sukaaaaa 😀

  2. adi says:

    kang remy…. ahh.
    lemes dah.

  3. ilyas says:

    Seru, asik, bikin ngiri. Gudlah.

  4. vince says:

    Nice story… love it…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s