MENATAP BINTANG di LANGIT LUWUK – Bagian 9

Posted: January 26, 2014 in Menatap Bintang di Langit Luwuk

Luwuk-99Cerita Sebelumnya: Setelah Putra dikecewakan oleh Dewo, sahabat baik yang diam-diam dicintai olehnya, Putra menerima tawaran Nemanja, pria asing yang baru saja dikenalnya di kota Palu, untuk menemaninya ke kota Luwuk. Dewo yang menyesal berusaha mengejar Putra namun terlambat. Akankah Dewo menyusul Putra? sementara itu Nemanja tampaknya tak akan menyia-nyiakan kesempatan romantis bersama Putra di kota yang indah itu.

PESAWAT akan segera mendarat di Bandar Udara Syukuran Aminuddin Amin di Luwuk sebentar lagi. Baik Putra maupun Nemanja keduanya sudah menegakkan sandaran kursinya kembali. Nemanja tertawa kecil saat Putra mengambil biskuit Oreo kemasan mini miliknya dan milik Nemanja serta memasukkannya ke dalam tas.

“You’ll find plenty of that kalau kita sampai..” kata Nemanja sambil terkekeh.

“Ah, enggak kok.. saya memang suka simpan makanan dari pesawat kalau memang enggak termakan,” sahut Putra malu.

Putra memang agak aneh dengan maskapai penerbangan lokal ini. Waktu tempuh ke Luwuk memang tidak terlalu lama, tetapi mereka tetap memberikan komplimen berupa air mineral, roti kecil, dan sebungkus Oreo mini. Dan Oreo yang tidak sempat dimakan oleh Nemanja dan dirinya, dia simpan baik-baik ke dalam tas.

Bandara di kota Luwuk itu letaknya tak jauh dari pusat kota. Seperti halnya kebanyakan bentang alam di Pulau Sulawesi, letak geografis Luwuk pun hampir sama dengan Palu, yaitu wilayah perbukitan yang langsung berbatasan dengan laut. Putra agak ngeri saat menyadari bahwa lokasi landasan bandara berada sangat dekat dengan tebing yang cukup tinggi dan lebar serta jalur pendaratan dan lepas landas yang relatif pendek. Putra membayangkan jika saja ada angin kencang atau cuaca buruk, mungkin pesawat akan terhempas ke dinding tebing hingga hancur atau meledak. Tapi sepertinya mungkin itu berlebihan, pastilah pilot-pilot pesawat handal sudah terbiasa dengan landasan seperti ini.

Nemanja hanya bisa tertawa melihat Putra yang terheran-heran dengan kesahajaan dan kesederhanaan Bandara di Luwuk ini. Tak ada ban berjalan yang biasa digunakan untuk mengedarkan barang bawaan penumpang yang disimpan dalam garasi. Sebagai penggantinya, bagasi penumpang digelosorkan pada sebuah papan yang posisinya menurun dari sebuah pintu di atasnya.

“Jangan underestimate dulu gara-gara bandaranya, ya?” kata Nemanja sambil menepuk bahu Putra yang baru saja ‘menangkap’ kopornya yang menggelosor bebas dan cepat setelah menunggu sekitar sepuluh menit.

Nemanja mengajak Putra untuk ikut dengannya keluar bandara. Rupanya Nemanja telah ditunggu seorang pria dengan kendaraan minibusnya. Pria itu berumur sekitar dua puluhan, kulitnya gelap dan memiliki mata jernih dan senyum yang bagus. Kontras sekali dengan rahangnya yang kuat.

“Sore Pak, saya Rahmat, sopir perusahaan yang ditugaskan jemput bapak. Mari pak, saya antar ke Hotel,” ujarnya ramah sambil membuka pintu belakang mobilnya agar Putra dan Nemanja dapat meletakkan kopor mereka di situ.

Dan memang, perjalanan dari Bandara menuju hotel tempat mereka menginap tidak terlalu lama. Tapi semuanya terasa begitu lambat dan menyenangkan karena hampir sepanjang perjalanan Putra disuguhi pemandangan pantai dengan air laut yang memantulkan cahaya matahari sore. Putra sampai merasa harus menurunkan kaca jendela mobil karena dia ingin melihat pemandangan di luar tanpa dibatasi kaca jendela.

“Bagusnya…” desah Putra. Nemanja dan Rahmat si supir hanya tertawa mendengar pujian tulus Putra.

Putra agak tak rela perjalanan mereka berakhir di sebuah hotel. Rasanya dia masih ingin menikmati pantai dan laut di kota Luwuk. Seandainya dia memaksa, rasanya ingin sekali keluar dari mobil dan berlari menuju pantai dan bermain air. Bermain, tidak berenang. Karena Putra tidak bisa berenang.

Mereka tiba di sebuah hotel. Dari luar bangunan ini tampak tidak begitu istimewa. Tidak seperti hotel berbintang yang menawarkan segala fasilitas dan kemewahan. Tapi begitu Putra menuju bagian belakang hotel, pemandangan indah laut telah menantinya. Pantas saja dia tadi saat di lobby menemani Nemanja yang sedang check-in mendengar suara deburan ombak. Ada sebuah dermaga kecil terbuat dari kayu yang sengaja dibangun oleh pihak hotel agar tamunya bisa langsung berjalan ke agak ke tengah laut dari restoran. Air lautnya terlihat jernih kehijauan hingga dasarnya yang terdiri dari pasir putih dapat jelas terlihat. Rasanya tak sabar ingin menikmati suasana pagi di sini sambil menikmati sarapan.

“Put… Ayo!” panggil Nemanja.

“Hotelnya bagus betul! langsung di pinggir pantai begini!” sahut Putra antusias.

“Yup. Dan kita akan jalan-jalan sore ini untuk hibur kamu, um… enggak keberatan kan kalau kita tinggal satu kamar? Tadi resepsionis bilang fully booked,” tanya Nemanja ragu.

“Enggak apa-apa kok,” kata Putra sambil tersenyum.

“Oke, setengah jam lagi kita jalan ya? mandi dan beres-beres dulu. Sayang kalau sore cerah kayak gini, kita enggak ke mana-mana,” usul Nemanja sambil mengangkat ransel traveling nya yang berukuran besar.

****

Setelah selesai berpakaian, Putra dan Nemanja turun kembali ke lobi. Rupanya Rahmat masih menunggu mereka. Tak membuang waktu, mereka bertiga menuju mobil. Rupanya Nemanja kali ini tak ingin duduk di depan. Dia mengikuti Putra duduk di sebelahnya di bangku belakang. Lagi-lagi pemandangan laut sore hari membuat Putra takjub. Dia tak melepas pandangannya ke arah laut hingga mengabaikan Nemanja di sebelahnya.

Nemanja mendadak meraih tangan Putra dan menggenggamnya. Putra terkejut karena tak menyangka Nemanja akan melakukan itu sehingga dia menoleh ke arahnya. Sejurus kemudian Putra menjadi salah tingkah menyadari bahwa kelakuan mereka bisa saja terlihat oleh Rahmat yang sedang mengemudi di depan, tapi rupanya dia tidak terganggu. Badan Putra mendadak kaku dan dirinya merasakan wajahnya memanas, namun dirinya membiarkan Nemanja terus menggenggam tangannya.

Keduanya tiba di salah satu sudut teluk bernama Lalong. Teluk ini tepat di pusat kota. Saat itu jam menunjukkan pukul setengah enam sore. Teluk Lalong adalah salah satu pusat keramaian di Luwuk. Dengan air laut yang tenang, tidak bising, banyak orang menghabiskan waktu sore hingga malam di teluk ini untuk sekedar nongkrong dan menikmati pemandangan dan semilir angin teluk. Sepanjang jalannya terdapat kios-kios penjual makanan seperti roti bakar, pisang epe, dan minuman Saraba. Orang yang datang bisa duduk di pinggir teluk sepanjang trotoar dengan meja-meja yang sudah disiapkan berjejer memanjang sepanjang kios yang ada. Karena belum terlalu larut dan belum banyak orang datang, meja-meja itu masih dalam keadaan tersandar tak terpakai. Nemanja memilih salah satu meja dan langsung dihampiri oleh penjual roti bakar dan menawarkan menu makanan.

Rupanya Rahmat tak ingin bergabung untuk duduk di pinggir teluk. Dia kemudian berpamitan karena tugasnya telah selesai dan menyerahkan kunci mobil kepada Nemanja.

“Are you sure? makan dulu di sini,” tawar Nemanja.

“Terima kasih, pak. Saya pamit dulu. Motor saya kebetulan tak jauh dari sini saya parkir,” tolak Rahmat sopan. Kemudian dia berpamitan sekali lagi dan menyalami Nemanja dan Putra.

“I Hope you are not hungry enough. Kita makan ringan saja di sini, nanti kita makan di tempat favorit saya,’ kata Nemanja sambil melihat-lihat menu.

“Di mana?” tanya Putra penasaran.

“Kejutan..” jawab Nemanja kalem.

Keduanya kemudian terdiam.

“Thanks by the way…” ujar Nemanja.

“Untuk apa?” tanya Putra.

“Karena kamu tidak bolak-balik ngecek HP kamu selama bersama saya,” jawab Nemanja.

Putra tersenyum. Ya. Dia kini sedang mencoba melupakan sejenak tentang sahabatnya. Dia ingin menikmati liburan untuknya sendiri, demi kesenangannya sendiri, tanpa harus memikirkan Dewo. Itulah sebabnya, dia menahan diri untuk tidak mengaktifkan ponselnya sejak tiba di kota ini.

Nemanja memesan susu coklat dan roti bakar serta seporsi pisang goreng untuk mereka berdua nikmati. Sebelum teluk Lalong ramai didatangi orang, Putra menikmati ketenangan alam ini sebaik-baiknya hingga ketegangan dan stress yang dirasanya mulai menguap.

***

Jam tujuh malam, Nemanja dan Putra melanjutkan perjalanan. Putra tak tahu Nemanja akan membawanya ke mana. Mobil mereka memilih jalan yang semakin lama semakin mendaki dan gelap menuju area perbukitan.

Sesekali Putra terlonjak dari tempat duduknya ketika mobil melewati jalanan yang agak rusak. Putra tak banyak bertanya. Dia membiarkan Nemanja membawa ke tempat yang diketahuinya.

Setelah berkendara cukup lama, Nemanja menghentikan mobil tak jauh dari sebuah restoran. Untuk menuju restoran itu, mereka harus menaiki anak tangga setapak. Nama hotel itu adalah Bukit Inspirasi. Sepertinya sesuai dengan namanya, orang yang datang berkunjung ke sini mungkin akan mudah mendapat inspirasi jika pemandangannya sebagus itu. Dari meja restoran, pengunjung bisa melihat pemandangan kota Luwuk dan teluk Lalong di kegelapan malam. Laut yang tenang, lampu-lampu kota sepanjang teluk, serta kapal-kapal yang santai bersandar menunggu keberangkatan sangat indah terlihat dari atas bukit.

Putra sampai berdiri lama tak bergerak tak bosan-bosan memandangi hamparan kelip lampu kota Luwuk di malam hari.

“Beautiful isn’t it?” tanya Nemanja yang kini berdiri di sebelah Putra.

Putra mengangguk setuju.

“Come on, kita makan dulu. Di sini mereka sediakan ikan terbaik dan paling segar menurut saya,” ajak Nemanja sambil merangkul bahu Putra.

Sambil makan keduanya terlibat percakapan seru. Sebenarnya ada rasa penasaran dalam diri Putra mengapa Nemanja begitu mempercayainya dan mengajaknya liburan kepada seorang yang baru saja dia kenal.

“Kenapa kamu bisa begitu mudah mengajak saya? padahal kita baru saja kenal,” tanya Putra sambil mengacak perlahan sisa nasi pada piringnya dengan sendok.

“Saya mau jujur ke kamu Put. Terus terang, Umm.. kamu mengingatkan saya pada… pada kekasih lama saya…”

“Benarkah?” tanya Putra.

Nemanja mengangguk. “Iya, dia orang Indonesia juga. Kita bertemu di Jakarta. Kita berpacaran selama setahun sebelum.. sebelum dia meninggal karena sakit…”

Putra terperanjat. “Oh, saya turut berduka..” kata Putra bersimpati.

“Thanks,” ujar Nemanja sambil tersenyum.

“Apa dia, um.. sangat mirip dengan saya?” tanya Putra hati-hati.

“Ya, kamu punya banyak kemiripan dengan dia. Tapi, ada hal tentang kamu yang sangat mengingatkan saya tentang dia,” jawab Nemanja.

“Apa itu?”

“Tatapan mata yang penuh kasih sayang. Dulu saya selalu melihat itu dalam matanya dia. Tatapan yang begitu teduh, menenangkan, sekaligus berkata dengan berani bahwa dia mencintai seseorang. Ketika melihat kamu, saya melihat lagi tatapan seperti itu, walaupun… saya tahu, itu ditujukan untuk orang lain…”

Putra terdiam.

“Kemudian saya berpikir, orang yang tulus mencintai orang lain sampai-sampai terlihat jelas di matanya itu harus didapatkan. Itulah sebabnya, saya berusaha untuk dekat dengan kamu. Berharap.. tatapan mata kamu akhirnya bisa ditujukan kepada saya…” kata Nemanja sambil mencondongkan tubuhnya ke arah Putra dan menatapnya dengan lembut.

“Ehm…” Putra menjadi salah tingkah. Nemanja pun tertawa.

“Sudahlah.. ayo kita pulang ke hotel. Kamu kelihatan capek sekali,” ajak Nemanja.

Malam sudah larut. Di dalam kamar baik Nemanja maupun Putra sama sekali tak bisa tidur. Terus terang, perkataan Nemanja mengenai kekasih lamanya sedikit mengganggu pikiran Putra. Tadinya dia berharap, bertemu dengan orang baru bisa membuatnya memulai kisah yang baru pula. Dan dia menemukan itu pada sosok Nemanja yang tenang dan dewasa. Tapi kenyataan bahwa dirinya pun masih terikat oleh bayang masa lalu membuat Putra merasa sedikit kecewa.

Nemanja pun tampaknya demikian. Dia sedikit lebih diam setelah pembicaraan tersebut. Kini dia kembali berpikir ulang, apakah mengatakan kisah masa lalunya pada Putra adalah pilihan yang tepat? Mereka berdua tahu bahwa satu sama lain belum tertidur dengan pikiran yang masih berkecamuk dalam otak masing-masing.

***

Keesokan harinya, Putra akhirnya bisa menikmati sarapan di tempat yang diincarnya sejak kemarin sore. Laut pagi itu sangat terlihat jernih dengan matahari yang cukup terik.

Putra berusaha tak membahas ucapan Nemanja kemarin. Dia kini fokus pada usahanya membantu Nemanja dalam pekerjaannya. Rupanya Nemanja harus berkeliling bertemu dengan beberapa tokoh masyarakat yang ada di kota Luwuk dan mewawancarai mereka. Entah untuk apa, tapi Putra membantu Nemanja untuk membawa kamera dan memotret pemandangan dan objek-objek yang Nemanja perlukan untuk surveynya. Putra sangat bersemangat. Selain dia bisa berkeliling menikmati pemandangan, sejenak dia bisa melupakan kesedihannya, dan melupakan tentang Dewo.

Sayangnya, kegiatan Nemanja masih berlanjut hingga malam hari. Setelah makan malam, Putra yang kelelahan memilih untuk kembali ke hotel sementara Nemanja masih harus menemui beberapa orang lagi.

Setelah Putra menyegarkan diri dengan mandi dan berganti pakaian, dia menghabiskan waktu menonton televisi. Dia tidak berusaha melihat ponselnya dan juga laptopnya. Pokoknya dia tidak mau tahu mengenai Dewo, ataupun pekerjaan kantornya. Walau demikian, Putra tetap sedikit penasaran akan keberadaan Dewo dan sedikit berharap mengetahui keadaannya.

Cukup lama Putra menonton televisi, tiba-tiba lampu padam. Kamar hotel mendadak hanya diterangi oleh lampu darurat. Putra menghela nafas. Entah mengapa, rupanya listrik di hotel ini tidak mendadak langsung berganti daya menggunakan generator diesel. Karena udara di dalam kamar semakin pengap, Putra memutuskan untuk ke lobi dan bertanya pada resepsionisnya.

“Masih lama ya mbak?” tanya Putra.

“Iya pak. Kami mohon maaf, ada masalah dengan dieselnya, kemungkinan setengah jam lagi baru normal,” ujar resepsionis itu menyesal.

Putra menghela nafas. saat dia hendak kembali ke kamarnya, langkahnya terhenti oleh suara debur ombak. Dari lorong tempat kamarnya berada, dia bisa melihat di ujung lorong ada teras terbuka yang langsung bisa memandang ke laut lepas. Sambil menunggu listrik menyala kembali, lebih baik dirinya menunggu di situ, mendengarkan suara laut, pikirnya.

Kota Luwuk benar-benar gelap. Tak ada cahaya yang tampak saat seluruh penjuru kota mengalami pemadaman listrik. Malam itu juga cukup cerah dan tak ada bulan bersinar. Alangkah terpesonanya Putra saat dia memandang laut dari teras lantai dua, dia melihat dengan jelas puluhan ribu bintang bersinar terang seolah berebut berkelap-kelip di angkasa. Belum pernah Putra melihat langit seindah itu. Kota-kota besar dengan lampunya yang kuat serta polusi berlebihan membuat banyak orang tak bisa lagi melihat keindahan langit angkasa di malam hari yang bertabur bintang.

“Woooow…” ujar Putra tanpa sadar. Dia terpaku berdiri di teras menikmati pemandangan taburan bintang, angin malam, kesunyian, serta suara ombak lirih menyentuh pantai.

Cukup lama Putra menikmati kesendiriannya hingga tiba-tiba seseorang merangkul pinggangnya dari belakang dan membuatnya terkejut.

***

Advertisements
Comments
  1. ilyas says:

    Woowwh, seru. Makin penasaran..
    Updatenya jgn kelamaan lah, gregetan nih ..
    Hahah

  2. farhad says:

    uwoooo keren banget, jadi penasaran lanjutan nya :3

  3. cepetan lanjutnya bang

  4. lima says:

    Yaahh.. Cepet amat abisnya min? Cuma sampe bagian 10?? Uda prosesnya lama banggett lagi!! Huaahh kirain bakal panjang kaya Merantau! Padahal keren bgt ni.. *kecewa

  5. gabourey sidibe in the man form says:

    terimakasih untuk lanjutannya …abang remy ….akan gak sabar menunggu untuk season finale (halah) dan karya karya selanjutnya …..

  6. Mayer says:

    LANJUTTTTTTTTTTTTT

  7. arif says:

    nemanja tuh yg meluk..

  8. kirai says:

    Paling dewo yg nyusul

  9. NoName says:

    Yg di fto atas itu putra & nemaja bukan sih? 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s