MENATAP BINTANG di LANGIT LUWUK – Bagian 7 & 8

Posted: January 22, 2014 in Menatap Bintang di Langit Luwuk

Luwuk-8Cerita sebelumnya: Putra bersahabat dengan Dewo cukup lama. Diam-diam Putra mencintai sahabatnya sendiri namun tak berani mengutarakan perasaannya hingga dia memilih mundur. Suatu hari, Dewo mengajak Putra menemaninya ke Palu untuk mengejar pria idaman Dewo yang bernama James. Dalam perjalanan, seorang pria asing bernama Nemanja jatuh hati pada Putra. Sayangnya, Dewo menjebak Putra dalam permainan James yang melibatkan mereka pada permainan bertiga. Putra yang menolak, memilih meninggalkan Dewo.

AIR MATA Putra yang meleleh membuat Nemanja menghentikan cumbuannya.

“Maaf.. saya enggak bisa,” kata Nemanja sambil bangkit dari ranjang.

“Why?”

“Saya enggak bisa melakukan ini sementara dalam bayangan kamu, you are with someone else…” jelas Nemanja.

Putra mengusap airmatanya. Dia merasa bersalah karena memang itulah yang dia lakukan: memanfaatkan Nemanja untuk menghibur sisi hatinya yang kosong, yang terluka karena perlakuan Dewo padanya.

“Maaf.. kalau begitu saya pergi saja…” kata Putra sambil ikut bangkit hendak mengambil kopernya.

“No..no..no… tinggal di sini. Please!” larang Nemanja.

“Besok saya mau pulang ke Jakarta.” kata Putra.

“Oke.. oke.. tapi kamu butuh istirahat. Lebih baik tidur dulu dan besok kita pikirkan lagi baiknya gimana, ya?” usul Nemanja.

Putra mengiyakan. Dirinya memang sangat letih. Dia pun menurut pada saran Nemanja dan membaringkan tubuhnya di ranjang.

“It’s okay if you want to give me a hug, lagi butuh pelukan,” kata Putra.

Nemanja tersenyum. Dia ikut merebahkan diri di samping Putra dan memeluknya.

“Are you sure mau kembali ke Jakarta?” tanya Nemanja.

“Kenapa memangnya?” Putra bertanya balik.

“Kamu masih ada waktu libur?” tanya Nemanja.

Sebenarnya memang belum waktunya bagi Putra untuk kembali ke Jakarta mengingat waktu liburan yang masih panjang yang sudah dia anggarkan untuk menemani Dewo. Tapi setelah kejadian itu semuanya sia-sia. Rasanya Putra ingin mempercepat liburannya dan kembali ke rutinitas kerjanya semula sambil berusaha melupakan Dewo yang jelas-jelas hanya memanfaatkan dirinya saja.

“Umm… rasanya saya mau kembali ke Jakarta,” ujar Putra yakin.

“Ikut dengan saya…” ajak Nemanja.

“Ke mana?”

“Luwuk.” jawab Nemanja sambil tersenyum.

“Lu..Luwuk? di mana itu?” terus terang Putra baru sekali ini mendengar nama Luwuk.

“Oh, kotanya masih di Sulawesi Tengah juga, cuma perjalanan darat akan memakan banyak waktu. So, kita harus naik pesawat kalau mau ke sana,” jelas Nemanja.

“Um…” Putra masih ragu.

“Come on! you’re gonna love it. Besok kita berangkat!” ujar Nemanja antusias.

Putra tak kuasa menolak.

Walaupun suasana hati Putra masih kacau, berada di dekat Nemanja membuatnya jauh lebih tenang. Sisa malam yang tinggal dua jam lagi berganti fajar dimanfaatkan Putra untuk tertidur lelap.

***

Jam sepuluh lewat lima belas menit. Mata Putra terpaksa terbuka ketika sinar matahari menyilaukan kelopak matanya.

“Bangun, sleepy head,” kata Nemanja sambil terkekeh. Dia sudah mandi dan berganti pakaian dan sedang sibuk membereskan barang-barangnya.

“Sudah siap-siap?” tanya Putra. Dia mengerjap-ngerjapkan matanya sambil membetulkan kaus yang dipakainya.

“Pesawat kita jam dua. Kita masih harus sarapan.. umm.. makan siang lebih tepat, mau mandi dulu?” tawar Nemanja.

Putra mengangguk. Dia mencari-cari ponselnya. Dalam hatinya dia masih berharap Dewo mencari dan menyusulnya ke sini. Tapi segera dia tepis pikiran itu dan mengabaikan ponsel yang berada di meja sebelah ranjang dan beranjak ke kamar mandi.

“There’s a clean towel inside!” sahut Nemanja.

“Oke, thanks…” balas Putra.

Rasanya segar sekali ketika guyuran air hangat mengaliri tubuh Putra. Segala kepenatan dan kesedihan seolah lenyap dari dirinya. Kini dia tahu, Dewo sahabatnya bukan lagi Dewo yang dia kenal dulu. Rasanya sia-sia jika masih ingin melanjutkan persahabatan dengannya. Terus terang, Putra masih merasa sakit hati. Dia tahu Dewo memang terbuka mengenai masalah seks. Tapi dia tak menyangka dirinya serendah itu membiarkan James mengendalikannya, menuruti keinginannya, serta berujung memanfaatkannya. Tak tahukah kau Dewo? selama beberapa saat, dirinya tersanjung ketika akhirnya kau mau bercinta denganku? pikir Putra. Putra kira akhirnya Dewo menyadari bahwa selama ini sahabatnya tulus mencintainya.

Ah, sudahlah! tidak perlu lagi memikirkan Dewo. Putra bergegas menyelesaikan urusannya di kamar mandi. Dia keluar kamar dan berganti pakaian. Sesekali dia melirik ke arah ponselnya. Tapi sekuat tenaga dia berusaha tidak peduli apakah Dewo mencoba menghubunginya atau tidak.

***

Dewo masih terbaring lemah. Kepalanya terkulai di pinggir ranjang. Matanya tidak bisa terpejam sejak kejadian tadi malam. Betapa terpukulnya Dewo saat mengingat tatapan Putra yang memancarkan kekecewaan. Dewo pikir hal itu adalah sesuatu yang biasa saja. Kita masih sama-sama muda, kan? melakukan sesuatu untuk bersenang-senang sepertinya sah-sah saja. Tapi entah mengapa Putra tampak begitu terpukul. Tatapan kecewa dan… jijik dia berikan pada Dewo.

Dari tadi ingin rasanya Dewo menghubungi Putra. Tapi dia terlalu takut melakukannya, karena dia tak tahan apabila Putra mengabaikannya.

“Wo..” ujar sebuah suara.

Dewo mengerutkan dahi. Mendadak dirinya merasa marah mendengar suara itu.

“NGAPAIN MASIH DI SINI?” bentak Dewo kasar saat menyadari James masih ada di kamarnya entah sejak kapan.

“Loh.. kenapa kamu marah-marah sih?” ujar James santai. Dia menyulut sebatang rokok sambil tetap duduk bersandar di sofa.

“KELUAR!” usir Dewo.

Tapi James cuek.

“Clearly, ada yang diam-diam suka sama kamu, Wo…” kata James.

“Siapa?” ujar Dewo. Dia menoleh malas pada James.

“Teman kamu yang polos itu. Siapa lagi?”

“Enggak.. enggak… Putra itu udah kayak saudara gue sendiri. Mana mungkin.. mana mungkin…” gumam Dewo.

“Jangan pura-pura bego, lah… jelas-jelas anak itu enggak berpikiran kayak kamu,” ujar James.

Dewo langsung berpikir. Mungkinkah kekecewaan Putra padanya karena dia menganggap dirinya membalas rasa sukanya? tapi… rasanya tidak masuk akal. Putra sudah seperti saudara kandungnya sendiri. Lagipula, kalau memang suka, mengapa Putra tak pernah berterus terang. Apalagi sekarang mereka tinggal jauh terpisah.

“Mau nyusul dia?” tawar James.

“Mungkin dia sudah pulang ke Jakarta…” gumam Dewo pasrah.

“Atau belum… bukannya kamu bilang dia ada kenalan bule di sini?” ucap James mengingatkan.

Dewo terlonjak. Benar juga! mungkin Putra akan menghubungi orang itu.

“Anter gue!” kata Dewo sambil menarik James dari sofa.

“Ke mana? aku malas ikut-ikutan…” tolak James.

“Elo yang bikin kekacauan ini semua, dan sekarang elo harus bantu gue beresin masalah ini semua. Ngerti?” ancam Dewo.

James pun tak bisa menolak.

****

“Suka jeruk nipis, ya?” tanya Nemanja sambil memerhatikan Putra yang sedang memeras beberapa potongan besar jeruk nipis pada sup Kaledo panas di hadapannya.

Putra mengangguk. Kemudian dia menuangkan dua sendok sambal pedas pada mangkuk supnya dan mengaduknya.

Nemanja mengajak Putra makan siang di sebuah restoran Kaledo, atau sup sum-sum tulang sapi yang terkenal di Palu. Putra bereterima kasih pada Nemanja karena telah mengajaknya mencicipi salah satu kuliner khas Palu.

“Sudah lebih enak perasaannya?” tanya Nemanja hati-hati.

Putra mengangguk sambil melahap nasi dan supnya. “Perut kenyang, hati jadi senang…”

Nemanja terbahak.

“Orang yang bernama Dewo itu… kamu enggak hubungi dia? aku tahu berkali-kali you were checking your cellphone…”

Putra menghela nafas. “Dia.. dia enggak pantas lagi jadi sahabat saya..”

Nemanja terdiam. Dia tidak ingin mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi antara Putra dan Dewo. Tapi dia senang, Putra mengiyakan ajakannya pergi ke Luwuk.

“Oke. Ayo kita habiskan makanan kita lalu kembali ke hotel. Kita harus segera ke bandara,” usul Nemanja. Dia pun melahap porsi makanannya sendiri.

****

Putra mengangkat kopornya dari bagasi mobil. Terus terang, dia sendiri bertanya-tanya dengan kenekatannya menerima ajakan Nemanja, pria kaukasia yang baru saja dikenalnya itu, untuk pergi ke sebuah kota yang bahkan belum pernah dia dengar.

Bandara kota Palu. Putra dan Nemanja langsung menuju tempat check-in. Mereka menuju kota Luwuk dengan pesawat kecil jenis twin otter yang daya jelajahnya tidak terlalu tinggi.

Setelah selesai dengan urusan check-in, keduanya duduk di ruang tunggu. Tak lama ponsel Putra berdering. Putra bisa menebak siapa yang menghubunginya… Dewo.

Bagian 8

CUKUP lama Putra memandangi layar ponselnya menimbang-nimbang apakah dia harus mengangkat telepon dari Dewo ataukah tidak.

“Are you going to answer that?” tanya Nemanja yang nadanya seperti sedikit terganggu karena Putra terus membiarkan ponselnya berdering lama.

Putra menoleh pada Nemanja tanpa berkata apa-apa. Dan diapun lalu menutup teleponnya dan mematikannya. Nemanja menyaksikan perbuatan Putra namun tak berkomentar.

****

“Sialan! ditutup!” umpat Dewo. Dia sedang berusaha menelepon Putra di dalam mobil milik James.

“Apa mungkin dia udah balik ke Jakarta?” tanya James tanpa berusaha menyembunyikan ketidakantusiasannya.

Dewo menggeleng. “Perasaan gue dia belum kembali ke Jakarta.”

“Jadi kita harus keliling Palu buat nyari dia yang sekarang gak tau ada di mana, gitu bro?” sungut James kesal.

Dewo terdiam. Jika perasaannya benar Putra belum kembali ke Jakarta, di mana dia tinggal?

“Oh! gue tahu! pasti dia ketemu bule itu!” sahut Dewo bersemangat.

“Bule siapa?” tanya James.

“Mmm.. namanya siapa ya? Ne.. Nenek..? bukan.. bukan.. Nemanja! ya! Nemanja!” teriak Dewo.

“Dan bagaimana caranya kita cari bule ini? keliling Palu juga?” sindir James lagi.

“Kalau perlu! kita datangi semua hotel di sini!” balas Dewo ketus.

Pluk! Dewo dikagetkan oleh sebuah benda yang terjatuh di pangkuannya. Sebuah ponsel.

“Pakai hape aku. Ada beberapa nomor telepon hotel terkenal di situ. Kecuali dia bule yang sangat miskin, rasanya enggak mungkin enggak dia nginap di salah satu hotel itu,” kata James.

Dewo memungut ponsel James. “Nomor telepon hotel? buat apa nyimpen nomor telepon hotel banyak-ba…” Mendadak Dewo tak perlu meneruskan kalimat tanyanya saat melihat James mendelik ke arahnya. Pekerjaan dia sebagai escort ya tentu saja harus sigap dengan infromasi mengenai hotel.

Dewo menghela nafas. Dia menekan-nekan tombol ponsel milik James sambil bergumam “Hotel.. hotel..”

Menemukan nomor hotel pertama, Dewo langsung bertanya apakah ada tamu bernama Nemanja. Biasanya informasi mengenai tamu yang sedang menginap cukup sulit diketahui karena penerapan kebijakan beberapa hotel. Tetapi rupanya James sudah cukup dikenal oleh banyak resepsionis sehingga membantu Dewo menanyakan mengenai daftar tamu melalui referensinya.

Rupanya usaha Dewo mencari di mana Nemanja menginap cukup sulit. Sudah hampir sepuluh hotel dia telepon namun tak ada informasi orang asing bernama Nemanja menginap di manapun. Kecuali satu,

“Ya.. ya.. kalau tamu kita yang bernama Nemanja memang pernah menginap di sini…” kata si Resepsionis.

Dewo terlonjak kaget namun senang perburuannya berhasil.

“Terus? dia masih stay di sana?” tanya Dewo antusias.

“Oh, sudah cek out pak beberapa jam lalu..”

Dewo mendadak lemas kembali.

“Iya. Kalau memang ini penting buat pak James, beliau cek out bersama temannya menuju bandara dengan taksi yang kami pesan,” ujarnya riang.

Antusiasme kembali menjalar di tubuh Dewo. Tak salah lagi! kemungkinan Putra adalah yang dimaksud sebagai teman si bule itu.

“Ba…Bandara? kira-kira mbak tahu mereka mau ke mana? Jakarta?” tanya Dewo tak sabar.

“Kayaknya bukan ke Jakarta ya Mas? setahu saya penerbangan ke Jakarta itu sore.. sebentar… kayaknya mereka menyebut Luwuk..” lanjut si resepsionis.

“Luwuk?” tanya Dewo bingung. Dia belum pernah mendengar nama kota itu sebelumnya. Dia melihat ke arah James.

James yang sudah lama tinggal di Palu tentu pernah mendengar nama kota Luwuk. Dia pun mengangguk tanda paham kepada Dewo.

“Oh.. Oke.. oke.. terima kasih informasinya ya, mbak,” kata Dewo.

“Baik pak, sama-sama… tolong titip pesan untuk Pak James kalau dia perlu kamar jangan seg…”

Resepsionis itu tak sempat menyelesaikan kalimatnya karena Dewo keburu memutuskan sambungan telepon dan melempar ponsel James pada pemiliknya.

“Bule itu sama Putra ke Luwuk! elo tahu Luwuk itu di mana?” tanya Dewo.

“Tahu. Dan ke sana itu musti pakai pesawat. Jalan darat bisa belasan jam…” jelas James.

“Hah? ayo James, ke Bandara SEKARANG!” tukas Dewo.

Sambil menghela nafas malas James membalik arah mobilnya menuju bandara.

****

“Cepetan, James!” seru Dewo ketika keduanya tiba di Bandara.

“Aku parkir dulu ya…” ujar James ketika melihat Dewo langsung menghambur keluar dari mobilnya dan tak memedulikan dirinya yang masih di belakang setir.

Dewo berlari tergesa menuju pintu masuk bandara. Dia kemudian dicegat oleh seorang petugas keamanan yang menanyakan tiket pesawat kepada Dewo.

“Maaf Pak, tiketnya..” pinta petugas keamananan itu sopan.

“Eng.. Maaf pak, mau tanya, penerbangan ke Luwuk sudah take-off ya?” tanya Dewo.

“Sudah, pak. Lima belas menit lalu,” jawab petugas keamanan itu.

Kaki Dewo mendadak lemas. Sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal, Dewo menjadi salah tingkah dan bingung sekaligus menyesal tak menyusul sahabatnya lebih cepat. Dia berjalan lemah menuruni tangga Bandara Mutiara. Ah, Putra… mengapa sekarang kau mudah menghilang seperti ini? biasanya setiap kali aku membutuhkanmu, kau pasti hadir, pikir Dewo.

Dewo mengistirahatkan tubuhnya pada sebuah anak tangga. Dia menghela nafas. James kemudian datang menghampirinya dan duduk di sebelahnya.

“Sudah take off?” tanya James sambil menyulut sebatang rokok.

Dewo mengangguk. James menyodorkan bungkus rokoknya pada Dewo dan Dewo mengambilnya sebatang.

“Gue besok mau nyusul dia ke Luwuk…” gumam Dewo.

James tak bereaksi. Dia terus mengisap rokoknya dan memandang ke kejauhan.

“Aku temani… aku penasaran bagaimana akhir dari sinetron kejar-kejaran ini,” sindir James.

“Maksudnya?” tanya Dewo.

“Ya. Aku penasaran aja. Kamu ngejar temanmu itu, mau  pergi ke Luwuk segala, karena apa? Kamu baru sadar kalau kamu suka dia atau cuma karena perasaan bersalah aja?”

“Dia temen baik gue!” tukas Dewo.

“Itu bukan jawaban, bro… bukan… kamu harus pilih salah satu alasan kuat mengapa kamu harus kejar dia…” sahut James sambil mengembuskan asap rokok dari mulutnya.

“Gue enggak bisa hidup tanpa dia, dia seperti penyeimbang diri gue,” ujar Dewo pedih.

“Cangkang kerang udah telanjur terbuka, Wo. Kamu enggak bisa pergi begitu aja nyusul dia, lalu bilang… ‘Put, kita masih berteman kan?’ Konyol. Kamu pikir bagaimana perasaan dia?” tanya James.

Dewo memandang heran pada James. Sejak kapan orang ini berpihak pada Putra? pikirnya.

“Kenapa sekarang elo kayak penasihat cinta begitu sih? elo kan…” Dewo menghentikan kalimatnya.

“Aku apa? pelacur? mengumbar tubuh ke mana-mana? Jadi enggak tahu soal percintaan karena enggak punya hati, gitu?” cerocos James lugas.

“Elo kan enggak kenal Putra… itu yang mau gue bilang..” kata Dewo.

Walau tak yakin dengan sanggahan Dewo akan apa yang sebenarnya dia ingin katakan, James tak membahasnya lebih lanjut.

“Sekarang kamu yakinin aku. Kenapa kamu mau kejar Putra? kalau jawaban kamu memuaskan, aku akan bantu kamu merebut temen kamu kembali dari tangan si bule. Kalau enggak, aku tendang kamu kembali ke Jakarta…” kata James. Dia berdiri dari duduknya dan menyentil batang rokoknya ke arah tempat sampah dan meninggalkan Dewo yang masih terduduk lesu di tangga.

****

Advertisements
Comments
  1. ilyas says:

    Lebih diupdate secepatnya 😀
    Makin seru dan bikin penasaran ..

  2. Mayer says:

    @bangremy ayoklah kerja rodi…. tulis terusss bang, penasaran dgn Luwuk yang ke-9

  3. gabourey sidibe in the man form says:

    YEAY LANJOOOT …ini si james kenapa jadi slutty fairy godmother… brother…. whatever gitu ya…? wakakakaka still love it anyway ….ditunggu lanjutannya …..

  4. cemungutd says:

    bgus bangetttttttt, kapan lanjut??/////

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s