KARTU MEMORI 5 (TAMAT – BAGIAN 2)

Posted: January 19, 2014 in Kartu Memory - The Series I

1484725_191977011006754_22082003_nCerita Sebelumnya: Bhayu akhirnya berhasil lolos dari pemerasan yang dilakukan Herlan dengan bantuan Harrel. Tanpa mereka sangka, Herlan melakukan aksi bunuh diri di depan mereka dan putrinya sendiri. Bagaimana akhir kisah Kartu Memori ini?

PAGI itu baru saja Bima selesai berpakaian dan mengenakan jaketnya. Mulai hari ini perwira polisi itu bertugas sebagai reserse di bagian kriminal setelah pendidikannya dinyatakan lulus.

Dari tadi dia sudah memerhatikan Tika istrinya yang sedang mengobrol di telepon dengan Findra sepupunya. Bima masih teringat perselingkuhannya dengan pemuda itu saat dia bertugas di kota yang sama dengan Findra.

“Mas.. Mas Bima..” panggilan Tika membuyarkan lamunan Bima.

“Ya?” ujar Bima gelagapan.

“Findra mau bicara nih… aku lihat Kenzo dulu ya.. kayaknya popoknya harus diganti,” ujar Tika sambil menyerahkan telepon pada suaminya.

“Halo?” sapa Bima.

“Halo mas Bima.. apa kabar?” sahut Findra riang. Tidak biasanya nada bicara anak itu terdengar senang. Biasanya pelan dan malu-malu, pikir Bima.

“Hei Fin.. gimana? apa kabarnya?”

“Baik mas. Moga-moga Mas di sana baik-baik juga ya?”

“Kuliah kamu lancar?” tanya Bima.

“Alhamdulillah lancar Mas. Sebentar lagi ujian.”

“Syukur deh. Kalo libur kuliah, mampir sini ya?” ajak Bima.

“Hehehe.. iya Mas. Aku juga udah kangen kok ditilang polisi berseragam..” goda Findra.

“Hahahah.. kamu ini. Mas kan enggak pernah nilang orang. Apalagi sekarang udah resmi enggak wajib pake seragam,” jelas Bima.

“Wah?! Mas udah gabung di Bareskrim? Tangkap aku Mas! borgol aku pak polisi..! hahahah…” gelak Findra.

“Hus! Kamu ini bisa aja,” ujar Bima.

“Hehe.. kalau gitu udah dulu deh Mas. Sampai ketemu liburan nanti ya? aku mau berangkat kuliah dulu. Salam sama Mbak Tika..” kata Findra menutup percakapan.

“Oke Fin.. baik-baik kamu di sana ya?” balas Bima sebelum menutup teleponnya.

***

Bima baru saja memarkir motornya di kantor polisi sore itu. Dia agak heran melihat ada beberapa murid SMA yang berkerumun di situ sore hari. Salah satu siswi berseragam SMA menangis histeris dan tersedu-sedu. Di sebelahnya seorang wanita paruh baya ikut menangis dan menenangkan siswi itu dengan memeluknya.

Bima melewati kerumunan itu dan bertanya pada rekan kerjanya. “Selamat sore! Ada kasus apa?” tanya Bima pada seorang petugas polisi.

“Sore pak! tampaknya kasus bunuh diri pak. Ada pria yang sengaja membiarkan diri tertabrak truk di tengah jalan sampai tewas.” jawabnya.

“Kejadiannya di mana?” tanya Bima.

“Di SMA BBB. Kelihatannya korban itu ayah dari siswa putri yang sedang menangis itu. Ibunya juga sudah datang dan dimintai keterangan.”

SMA BBB? sepertinya Bima pernah melihat dan mendengar nama itu sebelumnya.

“Maksudnya, orang itu sengaja bunuh diri di depan anak gadisnya? tragis sekali,” ujar Bima.

“Benar pak.”

Bima mengangkat bahu sambil menggeleng-gelengkan kepala. Ada-ada saja kasusnya. Dan dia rupanya harus bersiap untuk menghadapi kasus-kasus yang mungkin lebih parah di kemudian hari.

***

Bima membuka pintu pagar rumahnya pagi itu dan keluar bersama motornya. Tampaknya Harrel tetangganya sedang berdiri menunggu seseorang.

“Eeeh.. mas Ganteng, berangkat sekolah?” tanya Bima ramah.

“Eh, Mas Bima bisa aja, iyo Mas.. nunggu temen jemput,” jawab Harrel.

“Ooh, padahal kalau mau, bareng Mas aja, ta’ anterin,” tawar Bima simpatik.

“Hehe.. makasih Mas, besok-besok deh kalau jemputannya enggak dateng.” kata Harrel terkekeh.

Bima kemudian membaca nama sekolah yang ada pada seragam Harrel. “Kamu.. sekolah di SMA BBB?” tanya Bima.

“Iya Mas. Kenapa?”

“Tiga hari lalu mas dengar ada orang bunuh diri di dekat sekolah kamu, betul itu?” selidik Bima.

“Oh, iya Mas. Itu ayahnya temen aku Imel. Aku juga ada di sana pas kejadian,” jelas Harrel.

Bima memandang Harrel heran. Rupanya Bima sedikit heran mendengar penjelasan Harrel yang datar tanpa emosi dan tanpa ekspresi duka sama sekali. Reaksi yang sedikit tidak wajar mengingat kejadian tragis itu dia lihat sendiri dan menimpa teman sekolahnya sendiri pula.

“Loh, kenapa mas?” tanya Harrel.

“Eng.. enggak…” sahut Bima.

Percakapan mereka dibuyarkan oleh teriakan Nico, adik Harrel.

“Mas Bimaaaaaaa… mau berangkat ya? Nico ikut bonceng yaaa??” teriak Nico.

Harrel mendelik kurang suka pada tingkah adiknya itu.

“Iya Mas ganteng, ayok bareng?” tawar Bima.

“Asiiik.. aku duluan ya kak Harrel!” kata Nico genit sambil melompat ke jok belakang motor besar Mas Bima.

“Duluan yo mas,” pamit Bima.

“Iya Mas! hati-hati di jalan ya? itu kalau yang di belakang mas nyusahin, buang aja di tengah jalan,” ujar Harrel sadis sambil menatap galak Nico adiknya.

“Kamu ini… ada-ada aja…” kata Bima sambil tertawa. Sementara itu Nico menjulurkan lidahnya sambil cemberut.

Tak lama kemudian Bhayu dan motornya tiba di depan rumah Harrel dan keduanya pun berangkat ke sekolah.

***

“Rel…” panggil Bhayu sambil mengaduk isi gelas berisi minuman dingin.

Saat itu Bhayu dan Harrel sedang ‘kencan’ berdua diam-diam di sebuah bioskop yang agak jauh dari mall tempat mereka biasa main. Mereka melakukan itu untuk berkencan dan menghindari kemungkinan dipergoki teman-teman sekolah mereka.

“Ya, Bhay?” tanya Harrel.

“Gue enggak nyangka Oom Herlan bakalan senekat itu. Kasihan Imel..” ujar Bhayu murung.

“Gue juga enggak nyangka Bhay. Mudah-mudahan enggak ada hubungannya dengan kita. Gue khawatir juga sih, tapi seharusnya kalau dianggap murni bunuh diri, kita enggak akan keseret kan?”

“Itu dia Rel. Gue takut mereka nemu sesuatu yang bisa ngehubungin video gue sama kematian si Oom Herlan.”

Harrel menghela nafas.

“Udah Bhay, enggak usah dipikirin. Umm.. by the way makasih ya? udah ngajak gue kencan.” kata Harrel mengalihkan pembicaraan.

“Iya Rel. Gue juga seneng kita bisa kencan berdua. Eh, kencan? kayak pacaran aja. Heheh..” ujar Bhayu salah tingkah.

“Emang elo enggak mau pacaran sama gue?” goda Harrel.

“Um.. umm…” Bhayu semakin gugup.

“Hahaha.. yaudah gapapa Bhay. Gue bisa deket sama elo juga udah seneng. Yang penting gue tau, elo deket dan sayang sama gue…” lanjut Harrel.

Senyum mengembang di wajah Bhayu.

“Eh, tuh! studionya udah di buka. Cabut yuk?” ajak Harrel.

***

“Pagi pak!” sapa seorang petugas polisi ketika Bima tiba di kantornya.

“Selamat pagi. Oh iya, ada perkembangan apa?” tanya Bima.

“Masih soal bunuh diri kemarin Pak. Petugas sudah mengumpulkan hasil penyisiran TKP terutama di dekat mobil korban dan mereka menemukan ini,” katanya sambil menyerahkan sebuah benda terbungkus plastik.

Di dalam plastik itu terdapat kertas yang sudah kusut namun gambar yang tercetak pada kertas itu masih terlihat jelas. Seorang pria telanjang sedang bermasturbasi namun bagian wajahnya tak nampak karena tersobek.

“Ini…?” tanya Bima heran. Dia baru kali ini melihat barang bukti seperti itu. Gambar porno.

“Jelas-jelas bukan korban. Kita masih menunggu hasil pengecekan sidik jari apakah ada sangkut pautnya dengan kematian korban atau hanya sisa iseng perbuatan anak-anak sekolah, Itu sebabnya kita belum informasikan kepada keluarga korban,” jelas petugas itu.

Bima terdiam sambil mengamati gambar itu. Sepertinya pemilik tubuh itu masih muda. Mungkin masih remaja.

“Pak..? ehm..” kata petugas polisi itu berdeham. Rupanya dia heran melihat Bima yang melihat foto itu secara seksama. Apalagi yang dipandangnya adalah foto pria telanjang.

“Eh, coba lihat yang digantung di dinding belakang orang ini,” kata Bima sambil menunjuk sesuatu pada gambar.

Petugas polisi itu mengamati bagian yang ditunjuk Bima.

“Ini, kayak seragam sekolah ya? coba lihat logonya. Logo SMA.” ujar Bima.

“Kelihatannya sih begitu pak,” kata petugas polisi itu ikut memicingkan matanya. Tapi keduanya langsung salah tingkah ketika seorang polwan cantik lewat dan meledek mereka berdua.

“Serius amat lihatnya? kayak enggak punya aja,” godanya sambil berlalu.

“Eh, ehm..” Bima langsung menyerahkan foto itu kembali kepada si petugas polisi dengan malu-malu.

“Tapi memang benar… belum bisa dibuktikan apakah ada kaitannya dengan korban yang bunuh diri. Bisa saja anak sekolah iseng.” ujar Bima.

“Kalau hasil pemeriksaan sidik jari keluar, tolong info saya,” perintah Bima.

“Baik pak!”

****

Malamnya Bima mendapat pesan singkat pada ponselnya.

“Selamat malam pak. Mengenai gambar kemarin, hasilnya sudah keluar. Sidik jari cocok dengan korban. Tks..”

Bima melirik sudut layar ponselnya. Sudah jam sebelas malam. Entah mengapa beberapa hal yang dia ketahui enggan menyingkir dari otaknya. Bunuh diri seorang bapak di hadapan putrinya sendiri, reaksi Harrel yang datar, dan sekarang, gambar misterius seorang remaja SMA yang jelas-jelas dipegang oleh pria tersebut sesaat sebelum kematiannya. Apakah semua ini berkaitan?

Lamunan Bima teralihkan oleh suara motor yang berhenti tak jauh dari rumahnya. Dia berdiri di dekat jendela mengawasi siapa yang datang. Rupanya Harrel pulang ke rumah bersama teman yang biasa menjemputnya pagi-pagi. Dari lantai dua kamar rumahnya, Bima leluasa melihat pekarangan rumah Harrel sekaligus jendela kamarnya yang saling berhadapan.

Kedua remaja itu tertawa gembira saling bercanda dan mendorong sesaat sebelum masuk ke dalam rumah. Beberapa lama kemudian kamar Harrel di lantai dua mendadak terang. Bima bisa melihat keduanya masih tertawa-tawa bercanda di dalam kamar. Yang membuat Bima tertegun adalah saat melihat keduanya berhenti bercanda dan berangkulan. Mata Bima membelalak ketika Harrel dan temannya berciuman.

Tiba-tiba Harrel melihat ke arah jendela dan membuat Bima kaget dan buru-buru menyembunyikan tubuhnya di balik dinding. Harrel berjalan menuju jendela kamarnya lalu menutupnya dengan tirai tebal hingga keduanya tak lagi terlihat.

Melihat pemandangan itu, Bima berpikir semakin keras…

-TAMAT-
^^ Terima kasih udah mengikuti cerita ini dari awal. Sampai jumpa di season 2 tahun depan.

SUKA CERITA INI?

KAMU PASTI SUKA NOVEL KARYA PENULIS BLOG INI. KLIK DI SINI UNTUK CARA PEMESANAN

 

Advertisements
Comments
  1. tahun depan? serius? lama banget!

  2. peci says:

    “Sampai jumpa di season 2 tahun depan.”

    What?? Taun 2015? ._.

  3. Fry Ha says:

    hihihi..gni aja tho bang closingnya?? hmm..findra siap2 dtinggal ni sma bima
    dtunggu bang Remmy

  4. lima says:

    Endingnya agak ngaur, secara logis ya kalo si Bima curiga begitu aja sama Harrel dan Bhayu ga masuk akal cuma krn jawaban harrel ke dia datar ttg kasus bunuh dirinya si harlan… Perlu di revisi deh ni min! Ga usah bawa2 si bima.. Haha, mending bahas Harrel sama si Bhayu aja..

  5. maulana says:

    lama banget,ada yang baru gak

  6. arif says:

    suka ending gantung.
    tapi ini gantungnya agak aneh bang. dan terlalu tanggung.
    tahun depan? sumpe lo?

    btw….
    semua ini….
    gara2 Kiki Farrel..

  7. Mayer says:

    LAMA KALI TAHUN DEPAN BOSSSSSS>>>>> Berubah nih rambut ucok nunggunya….. TAHUN DEPAN??? ini juga masih awal tahun bossssssss

  8. Andde Andde Lummut Komentator Abal2 dan Bowo juga Dufei Komentator Ecek2 says:

    Tahun depan= TAHUN BARU CHINA=IMLEK???

  9. pass says:

    Yah, gini doang? #dihajarbangremy :))))

    Kalo gitu saya nungguin Langit Uwuk lagi deh πŸ™‚

    Keep writing, bangremy!

  10. rigel says:

    Ending’a ngegantung
    harus d’lanjut lagi jgn tamat
    Klo genre horor sih cocok tp ini gk cocok

  11. abi awan says:

    Jangan lama-lama lah bang..
    Tahun depan kan lama sekali. ( ˘˘̯)

  12. Angga says:

    lanjut dong ka .. nanti ada findra mas bima dan harel cinta segitiga.. nahh abis itu mereka saling ribut dehh perebutin mas bima nah disisi lain bhayu suka sama findra

  13. qiqi says:

    Deeuuhhh kasian nih kayanya bayu bakalan keseret masalah lagi…..r u sure next year????? Lama dong….akuh nunggunya…

  14. Ini lg promo apa mau kenalan ama mimin?

  15. rangga says:

    Sweet…;-)

  16. lee_andrew says:

    Okehh ini endingny greget. Tingkat pnasaran level dewa.

    Kyakny bhayu bkal mnerima msalah baru deh… Hahahhaa

  17. matoki says:

    Lama bgt bang harus nunggu taun depan -.- sebelum season 2 buatin season ramadhan dulu gitu kek ihihi

  18. ridzy freezy says:

    Oh GOD,, bikin dag dig dug baca ny?! πŸ˜€
    What!? Taun depan?! Lama bgt 😦

  19. Erza says:

    ceritanya seru bangetbang .
    mau dibuat sampe berapa episode ?
    xixixixxiix

  20. WAK says:

    skrng dah bln september brarti tnggl nunggu 4bln lg. awas aja ya bang klo abng hanya PHP!!!
    *mengancam
    *sambil nodong pistol.
    DOORRR!!!

  21. yashin says:

    nih blog ceritany beda beda tp hampir semua tokoh wara wiri itu itu aja..
    hmmm Nico adik harel itu nico teman steve ya di my dad is love..memang ya si nico ini bitchy bgt..pak polisi Bima punya diembat..

  22. Lorenzo Alfredo says:

    Kapan sih sequelnya keluar?
    bang remy gk bisa dipercepat apa sequelnya?bosen tau nunggunya *pasang muka sedih*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s