KARTU MEMORI 5 (TAMAT – BAGIAN 1)

Posted: January 19, 2014 in Kartu Memory - The Series I

969965_343101092482758_2046408574_nCerita Sebelumnya: Herlan, diam-diam menyukai Bhayu, pacar anak gadisnya sendiri yang masih SMA. Setelah berhasil memeras Bhayu dan memaksanya melakukan seks oral, Apakah Herlan akan bertindak semakin jauh? Sementara itu, Bhayu yang tertekan meminta tolong Harrel, teman sekelasnya yang diam-diam jatuh cinta padanya. Apakah mereka berdua bisa menghadapi ancaman Herlan?

HERLAN menggosok-gosok dagunya yang sudah mulai ditumbuhi rambut. Biasanya dia tak pernah lupa mencukur wajahnya dua hari sekali. Tampaknya dia sekarang sering mengabaikan ritual sederhana sekalipun yang bisa dia lakukan. Herlan menatap pantulan wajahnya pada cermin. Sejak dia berhasil memaksa Bhayu memuaskan hasrat seksualnya, obsesinya pada remaja itu belum juga pudar.

Di satu sisi, dia merasa gembira bukan main. Ada kenikmatan lain selain birahi yang terpuaskan. Entah mengapa, melihat anak itu lemah, tak berdaya dalam dominasinya menimbulkan sensasi lain yang tak kalah nikmat dalam otaknya. Herlan menyeringai. Dia sadar, dirinya telah bertransformasi menjadi sesosok monster menakutkan. Monster yang harus ditakuti oleh Bhayu jika dia mau selamat.

Obsesi tak sehat ini bukannya tidak mengundang reaksi. Linda, istri Herlan sekaligus ibunda dari Imel pun merasakan perubahan sikap suaminya. Tak peduli pada urusan bisnis, sering keluar rumah tak jelas, dan tak lagi peduli pada istrinya. Seperti sore itu misalnya. Linda, istri Herlan sedang menerima telepon saat Herlan terburu-buru hendak keluar rumah lagi.

“Iya Mas.. iya.. saya enggak tahu kenapa HP nya mas Herlan enggak bisa dihubungi.. ada.. ada… sebentar..”

Linda, wanita paruh baya yang masih tetap terlihat segar itu berusaha mencegah Herlan untuk pergi.

“Pah.. Ini Mas Suyoto cari Papa, katanya penting soal legalisir notaris…” kata Linda.

Herlan menoleh pada istrinya dengan perasaan tak suka.

“Aahh… aku ada urusan di luar. Suruh telepon nanti saja!” hardik Herlan.

“Pah! Mama bukan sekertaris Papa.. setiap hari ada saja yang telepon ke nomor Mama nanya-nanya Papa! kenapa sih, HP Papa enggak diaktifkan?” tanya istri Herlan mulai kesal.

Herlan hanya mendengus dan tetap berjalan keluar rumah.

“Apa Papa Selingkuh…?” tanya Linda.

Pertanyaan itu cukup membuat Herlan menghentikan langkahnya. Sebagai seorang istri, tentu saja gelagat berbeda dari biasanya yang ditunjukkan seorang suami akan membuatnya bertanya-tanya. Hal pertama yang terlintas pastilah kecurigaan akan adanya orang lain yang sudah mengalihkan perhatiannya. Bukannya tanpa alasan. Herlan sudah sering pergi dari rumah dengan keperluan yang tidak jelas.

“Mama ngomong apa sih? Enggak!” sahut Herlan ketus.

“Papa pergi dulu,” lanjutnya.

Linda tidak kuasa mencegah suaminya pergi. Dia salah tingkah ketika menyadari sambungan telepon dengan orang yang mencari suaminya itu belum terputus. Buru-buru Linda menyudahi percakapan dengan rekan kerja suaminya itu dan berharap tak ada percakapan antara dirinya dan Herlan yang didengar oleh orang itu.

Kekagetan Linda bertambah saat dia menoleh ke belakang, Imel putri mereka berdua rupanya sedari tadi menyaksikan pertengkaran kedua orangtuanya.

“Mel..?” tanya Linda gugup.

“Apa bener papa selingkuh, Ma?” tanya Imel. Wajahnya murung sekali.

“Mel… Papa kamu mungkin cuma lagi banyak masalah di kantornya…” kata Linda sambil menghampiri putrinya.

“Mama enggak usah pura-pura! tadi Mama sendiri tanya begitu kan sama Papa?” ujar Imel sambil berusaha menjauh dari mamanya.

“Imel!” bentak Linda.

“Enggak tau ah! Imel mau pergi dulu!” sahut Imel saat terdengar suara klakson mobil di luar.

“Kamu mau ke mana, Mel?” tanya Linda khawatir.

“Ke rumah Siska. Dia udah jemput!” sahut Imel ketus.

Linda lagi-lagi tak bisa berbuat apa-apa mencegah kepergian anggota keluarganya yang lain.

***

Di dalam mobilnya yang terparkir, Herlan menghabiskan sisa roti isinya yang dia beli di sebuah minimarket sejam lalu. Dia kemudian mengeluarkan secarik kertas dari dalam jaketnya. Karena Herlan menarik kertas itu cukup keras, sebuah sobekan cukup panjang menyebabkan bagian atas kertas itu terpotong.

Herlan mendengus kesal. Ujung sobekan kertas itu dia remas-remas dan dia buang keluar setelah jendela mobilnya dia buka. Herlan menatap gambar yang ada pada kertas itu cukup lama. Dia kemudian menghela nafas dan melipat kembali kertas itu.

Sudah hampir jam dua. Kemarin dia menelepon sebuah hotel yang letaknya beberapa puluh meter dari tempat dia parkir dan membooking kamar atas nama Bhayu. Sebagai orang yang terbiasa dengan standar pelayanan cukup tinggi, Herlan memilih hotel yang menurutnya berkelas. Toh dia tak ingin momen saat dia nanti memaksa Bhayu menyerahkan keperjakaannya dilakukan di sebuah hotel murahan dan tak nyaman. Walau begitu, Herlan berusaha untuk tak menarik perhatian orang lain. Tadi dia sudah datang dan membooking kamar sekaligus membayarnya penuh untuk satu malam dengan cara tunai. Untunglah di hotel ini peraturan kepada tamu yang menginap tidak terlalu ketat. Herlan tidak dimintai kartu identitas apapun.

Herlan berpesan agar petugas hotel menyerahkan kunci kepada anak yang berama Bhayu jika dia telah datang. Setelah berkata demikian, Herlan kembali ke mobilnya dan menunggu pemilik nama itu datang.

Seingatnya pesan yang dia berikan pada remaja itu sudah jelas. Datang sendiri ke hotel yang telah Herlan tunjuk via sms, minta kunci pada resepsionis, dan tunggu Herlan datang setelah dia masuk kamar. Dia menekan-nekan tombol ponsel murahan yang dia beli khusus untuk menyimpan foto dan video Bhayu dan untuk meneror anak itu dengan nomor yang dia registrasi secara asal-asalan.

“Sudah datang belum? kamu mau saya nekat?” ancam Herlan.

“OTW” balas Bhayu singkat via sms.

Herlan memicingkan mata. Dari dalam mobilnya dia akhirnya melihat sosok Bhayu yang datang sendiri dan memarkir motornya di parkiran depan hotel. Setelah yakin bahwa pemuda yang datang itu Bhayu, Herlan menyeringai senang. Dengan perasaan tak sabar, dia buru-buru mengambil tas tangannya dan merapikan isinya sebelum dia keluar dari mobil.

Setelah memastikan bahwa Bhayu telah menunggunya di kamar, Herlan masuk kembali ke dalam hotel. Dia sudah tahu kamar mana yang akan dia tuju. Saat melewati meja resepsionis, Herlan sedikit salah tingkah. Resepsionis itu sepertinya tahu akan keberadaan Herlan, namun pria muda itu menunduk dan pura-pura tak melihat walau sesekali ekor matanya melirik ke arah Herlan.

Herlan berdeham sedikit mengatasi rasa salah tingkahnya. Kemudian dengan langkah terburu-buru dia menuju kamar 107, yang terletak di koridor paling ujung, masih satu lantai dengan meja resepsionis.

Herlan terdiam agak lama di depan pintu kamar. Dia melihat sesuatu mengganjal pintu kamar yang dikunci dengan kunci kartu otomatis tersebut hingga siapapun dari luar bisa masuk. Persis instruksi Herlan pada Bhayu  lewat sms. Perlahan pria berusia empat puluhan itu mendorong pintu kamar. Dia merasa gembira karena akhirnya bisa menikmati tubuh remaja pria itu seutuhnya di tempat yang layak. Tidak seperti dua kali sebelumnya yang dia lakukan di mobil dengan menyuruh Bhayu menservis oral dirinya.

Herlan mencopot sepatunya. Dia berdeham sedikit memberitahukan kehadirannya. Herlan melihat di atas ranjang sesosok tubuh terbalut selimut membelakanginya. Di keremangan kamar, Herlan bisa melihat bahunya yang terbuka seolah menyatakan bahwa dirinya tak berpakaian.

Seringai senang menghiasi wajah Herlan. Dia melepas jaketnya, lalu membuka kemejanya, dan naik ke atas ranjang. Tangan Herlan meraih bahu yang telanjang itu dan membalik tubuhnya.

Betapa terkejutnya Herlan ketika didapatinya bahwa orang yang berada di balik selimut itu ternyata bukan Bhayu pemuda incarannya.

“Hah?? Kamu siapa??!!” raung Herlan.

Pria remaja yang berada di atas ranjang itu melihat Herlan ketakutan. Rupanya dia adalah Harrel. Herlan yang kesal karena ada orang lain yang menggantikan Bhayu mencengkeram tangan Harrel.

“Kamu siapa??!! mana anak itu?? mana si Bhayu??!” hardik Herlan sambil mengguncang-guncang tubuh Harrel sambil melihat ke sekeliling kamar.

“Ampun Oom.. sakit..!” protes Harrel. Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Harrel dan membuatnya mengaduh kesakitan saat rasa perih menjalar di kulitnya.

“Kalian mau permainkan saya ya?” geram Herlan sambil mencekik leher Harrel yang tak berdaya karena tubuhnya dihimpit oleh kaki kokoh Herlan. Harrel meronta-ronta karena kesulitan bernafas. Herlan melepas sebelah tangannya dan mengeluarkan ponsel dari saku belakang celananya. Dengan satu tangan dia menahan tubuh Harrel yang tak berpakaian dan satunya lagi memegang ponsel dan mencoba mengaktifkan kameranya.

Harrel masih meronta sambil mengerang tertahan saat wajahnya dipaksa Herlan untuk menghadap ke kamera ponsel miliknya. Pikiran busuk Herlan timbul. Dia akan memanfaatkan gambar telanjang anak ini untuk memberinya pelajaran. Setelah berhasil mendapatkan beberapa foto wajah Harrel dan sebagian tubuhnya yang tak berpakaian, Herlan meletakkan ponselnya dan membuka celananya. Direnggutnya rambut Harrel dan didekatkannya wajah anak itu pada selangkannya yang sudah memamerkan penisnya.

“Ayo isap!” perintah Herlan.

Harrel menggeleng, namun penolakannya membuat Herlan makin gelap mata. Ditariknya keras-keras rambut Harrel hingga remaja itu kembali mengerang kesakitan. Harrel pun menurut. Dengan berat hati dia memasukkan penis Herlan ke dalam mulutnya. Herlan tak menyia-nyiakan kesempatan ini. Diambilnya kembali ponselnya dan kemudian mengambil foto-foto wajah Harrel yang sedang melakukan aksi oral dengan jelas.

“Sekarang kamu turuti perintah Oom, ya anak manis… foto kamu sudah oom simpan…” kata Herlan sambil menyeringai.

Baru saja Herlan hendak menunduk dan berniat melumat bibir Harrel, tiba-tiba sebuah suara yang memanggil di belakannya, membuat Herlan terkejut.

“Hei Oom Tua Bangka!”

Herlan berbalik. Saat dia hendak mencari tahu pemilik suara itu, matanya mendadak silau oleh kilatan lampu blitz berkali-kali yang menerpa wajahnya.

Saat Herlan menyadari bahwa orang yang memotret wajahnya adalah Bhayu, dia langsung bangkit dari ranjang berusaha mengejar pemuda itu.

“Kamuuuuuu….” raungnya. Tangannya berusaha meraih Bhayu yang berlari menghindarinya. Ketika telapak tangannya nyaris mencengkeram bahu Bhayu, sebuah pukulan mendarat di tengkuknya dan menyebabkan Herlan tersungkur ke lantai.

Herlan berusaha bangkit walau kepalanya masih pening. Dia melihat Harrel yang ada di sebelahnya. Rupanya Harrel menggunakan sikunya untuk memukul Herlan. Herlan tak menyangka, bocah remaja ini kuat juga.

“Cukup Oom!!” teriak Bhayu. Dia kemudian mengeluarkan kartu memori pada kamera sakunya dan mengamankannya.

“Permainan Oom sudah selesai. Saya punya foto Oom yang kalau sampai keluarga oom tahu, mereka pasti…” tiba-tiba Bhayu teringat Imel, remaja putri yang pernah dipacarinya sekaligus anak dari Herlan.

“Kecewa…” lanjut Bhayu.

Herlan masih terengah-engah kesal. Dia memegangi tengkuknya yang masih terasa berdenyut-denyut nyeri. Herlan tambah kesal ketika melihat ponselnya sudah ditangan Harrel.

“Nah, sekarang saya hapus… semua… foto-fotonya…” gumam Harrel gemas sambil menekan-nekan ponsel milik Herlan dan menghapus semua file foto dan video yang ada di dalamnya.

Bukan cuma itu, Harrel juga mencabut kartu memori dan kartu sim pada ponsel Herlan dan menaruhnya di saku celana.

Herlan mendengus kesal saat Harrel melempar ponsel khusus meneror miliknya yang sudah bersih dari segala macam konten multimedia di dalamnya.

“Saya enggak tahu apakah Oom masih menyimpan foto atau video saya di tempat lain. Tapi kalau sampai tersebar, Oom juga harus siap-siap dipermalukan…” ancam Bhayu.

Harrel kemudian memakai kembali kausnya dan bersama Bhayu keduanya keluar kamar hotel dan meninggalkan Herlan yang dalam keadaan setengah telanjang di kamar.

****

Setengah berlari, Harrel dan Bhayu menuju parkiran motor dengan perasaan gembira. Harrel kemudian membonceng di atas motor Bhayu dan keduanya melesat pergi sambil tertawa-tawa.

“Ke rumah gue dulu ya?” tawar Bhayu.

“Oke Bhay..” jawab Harrel sambil memeluk pinggang Bhayu.

Keduanya masih tak bisa menghentikan tawa mereka saat tiba di kamar Bhayu. Bhayu menghempaskan tubuhnya ke atas ranjang dan Harrel mengikutinya. Bhayu dan Harrel baru bisa berhenti tertawa saat menyadari kedua wajah mereka berada dalam jarak yang cukup dekat.

“Eh, ehm.. thanks ya Rel…” kata Bhayu.

“Sama-sama Bhay. Gue lega semuanya berakhir…” balas Harrel.

“Masih sakit?” tanya Bhayu sambil berusaha menyentuh pipi Harrel yang tampak sedikit memar oleh tamparan Herlan.

“Ng.. enggak kok Bhay..” ucap Harrel tersipu.

“Tapi tadi elo hebat juga ya? belajar dari mana mukul kayak gitu? elo ikut kursus beladiri?” puji Bhayu kagum.

“Oh.. itu.. ehm, dulu gue pernah belajar trik beladiri menghadapi penjahat sama buaya darat dari Oom gue..” jawab Harrel sambil terkekeh.

“Wah… kalo pas elo gue pukulin kemaren terus elo keluarin jurus itu, gue juga bisa KO kayaknya..” gelak Bhayu.

Harrel ikut tergelak.

“Rel..” tanya Bhayu. Wajahnya menjadi serius.

“Kenapa Bhay?”

“Enggak.. cuma penasaran aja. Kenapa Oom Herlan itu penasaran banget buat sodomi gue…” ucap Bhayu ragu-ragu.

“Wah, kalau itu sih gue enggak tahu. Mungkin ketagihan kali?” jawab Harrel sekenanya.

“Memang.. memangnya enggak sakit? kamu.. pernah disodomi Rel?”

Harrel terdiam. Lalu dia mengangguk.

“Sakit enggak?” tanya Bhayu penasaran.

“Dulu gue rela karena gue penasaran.. tapi rupanya masih terasa sakit. Intinya… Semua yang dilakukan secara terpaksa pasti sakit Bhay… apalagi kalau punya niat memperkosa kayak si Oom Herlan. Tapi kalau sama orang yang kita sayang, kerelaan membuat orang yang kita sayang bahagia, rasa sakit itu enggak akan ada…” jelas Harrel.

“Jadi maksud elo… elo enggak sembarangan biarin setiap orang… eh, ehm.. sodomi elo gitu?” tanya Bhayu. Wajahnya kini bersemu merah.

Harrel menggeleng. “Enggak lah Bhay… cuma buat orang yang gue sayang aja..”

Bhayu terdiam. Kemudian dia kembali bertanya.

“Um.. terus.. sekarang elo udah ada orang yang elosayang?” pancing Bhayu.

“Ada. Dan dia.. di deket gue sekarang ini…” ujar Harrel sambil tersenyum. “Dan gue akan sangat bahagia jika orang yang gue sayang, ternyata sayang sama gue juga…” lanjut Harrel.

Bhayu terdiam. Kemudian dia mendekatkan wajahnya pada wajah Harrel. Diciumnya pipi Harrel yang memerah karena pukulan Herlan hingga Harrel tertunduk malu.

Keduanya lalu saling berciuman. Bhayu melepas kaus Harrel dan menindihnya. Harrel membantu Bhayu melepas kausnya juga dan membiarkan dirinya menikmati otot-otot pemuda pujaannya itu saat merangkulnya. Keduanya kemudian melepas celana mereka masing-masing.

“Ajarin gue Rel…” bisik Bhayu pada telinga Harrel.

Harrel mengangguk. Kemudian dia mencium lagi bibir Bhayu sambil melenguh. Kedua telapak tangan Harrel mencengkeram lengan atas Bhayu sambil melengkungkan punggungnya seakan tak ingin sedikitpun melewatkan tekanan yang diberikan oleh dada bidang Bhayu.

Harrel kemudian beringsut menurunkan badannya di bawah tubuh Bhayu. Bhayu tetap pada posisinya bertumpu pada kedua lengannya. Kini wajah Harrel tepat berada di bawah penis Bhayu yang mulai menegang. Dikulumnya penis itu bukan dengan tujuan membuatnya nikmat melainkan berusaha semaksimal mungkin melumurinya dengan liur yang dapat berguna sebagai pelicin.

Walau demikian, tetap saja tindakan Harrel itu membuat Bhayu mendesah keenakan. “Hhh..hhh..” erang Bhayu sambil memejamkan matanya.

Setelah dirasanya cukup, Harrel kembali beringsut. Dia menciumi leher Bhayu dan berbisik lirih, “Gue siap Bhay…”

Kedua kaki Harrel kemudian diangkatnya tinggi-tinggi dan dilingkarkannya pada pinggang ramping Bhayu. Jemari Harrel mencoba meraih penis Bhayu dan menggenggamnya. Perlahan dituntunnya batang penis yang telah basah itu ke arah lubang pantatnya. Semula Bhayu kelihatannya ragu. Namun tatapan Harrel yang teduh menenangkan dirinya dan membiarkan pemuda itu melakukan apapun yang dia kehendaki.

“Hmmmf…” gumam Harrel saat dia mendorong penis Bhayu hingga kepalanya mulai melesak dalam lubang anusnya. Harrel memejamkan matanya dan menggigit bibirnya. Ekspresinya itu membuat Bhayu menjadi khawatir.

“Sakit Rel?” tanya Bhayu sambil menahan dirinya untuk bergerak lebih jauh.

Harrel menggeleng sambil tersenyum. “Enggak Bhay.. gue terusin ya?”

“Ouuh..” desah Harrel saat tangannya kembali mendorong penis Bhayu semakin dalam. Sensasi penuh mengganjal sekaligus nikmat kini dia rasakan saat penis Bhayu yang lumayan besar itu melesak hampir separuhnya ke dalam anus.

“Uuuh…” erang Bhayu. Di saat yang besamaan, Bhayu juga merasakan sensasi aneh namun nikmat. Jadi inikah rasanya ngentotin seorang cowok? Bhayu merasa aneh, namun membiarkan perasaan itu lewat begitu saja dan lebih memilih untuk menikmatinya.

Ketika akhirnya seluruh batang penis Bhayu tenggelam, keduanya saling bertatapan dan membelalak tak percaya dengan sensasi hebat yang mereka rasakan masing-masing. Harrel merangkul leher Bhayu. Keduanya berciuman dan mulai bernafas tak beraturan.

“Bhay.. gue enggak nyangka.. enak banget..” puji Harrel.

“Pantat elo juga enak Rel.. enggak nyangka juga gue…” ujar Bhayu. Matanya masih membelalak tak percaya menatap Harrel.

“Bhay…” gumam Harrel lirih sambil menciumnya. “Genjot Bhay…” Harrel memohon.

Bhayu menuruti perintah Harrel dan mulai menggoyang pinggulnya sehingga penisnya kini perlahan mulai keluar dan masuk dari pantat Harrel.

“Ouuh.. Bhay….” desah Harrel keenakan.

Sensasi pijatan dinding anus Harrel juga rupanya membuat Bhayu serasa terbang ke langit kenikmatan. Digoyangnya pinggulnya semakin cepat dan semakin cepat hingga gesekan penisnya semakin mengumpulkan efek kenikmatan yang menjalar di tubuhnya.

“Rel.. ah…” gumam Bhayu. Punggungnya dia lengkungkan sementara Harrel memeluknya seolah memberikan semangat padanya untuk terus menggenjotnya.

“Terus Bhay.. ooh.. enak…” racau Harrel. Tanpa sadar pahanya semakin erat menghimpit pinggang Bhayu. Dengan rakus Harrel menjilati leher kokoh pemuda itu dan menciumi bahunya seolah sedang mabuk kenikmatan yang berasal dari genjotan Bhayu.

Gerakan Bhayu semakin cepat. Tubuhnya mulai dibasahi peluh. Dirinya sudah tak mampu lagi menahan orgasmenya. Digenjotnya semakin cepat dan semakin cepat lagi hingga tubuh Harrel terlonjak-lonjak di atas ranjang sambil menahan kenikmatan.

“Akh.. gue mau keluar…” racau Bhayu.

“Keluarin Bhay… Keluarin di dalem…” pinta Harrel.

“Aaaaakkh….” Bhayu mengerang panjang bersamaan dengan memancarnya cairan hangat di dalam pantat Harrel.

Tak berapa lama, Harrel pun memuncratkan spermanya, padahal tanpa bantuan tangan sama sekali. “Ouuuh…” lenguhnya.

Bhayu menjatuhkan tubuhnya di atas tubuh Harrel sambil terengah-engah. Dia menatap Harrel mesra. Tak perlu ada kata-kata yang harus diucapkan. Bhayu dan Harrel yang saling bertatapan seolah mengerti satu sama lain apa yang ada di pikiran mereka masing-masing tanpa harus dikomunikasikan.

Bhayu kemudian mencium Harrel lembut dan keduanya tetap berpelukan sampai beberapa lama.

****

Imel sangat khawatir. Sudah dua hari papanya tidak pulang ke rumah dan menghilang tanpa kabar. Ibunya sudah berusaha mencari Herlan kemana-mana namun tanpa hasil. Rupanya semakin banyak orang yang mencari Herlan karena dia mengabaikan beberapa kontrak bisnis dan pekerjaan begitu saja hingga menimbulkan banyak kerugian bagi rekan bisnisnya.

Sementara itu Harrel dan Bhayu semakin akrab. Mereka tidak ragu lagi menunujukkan ‘persahabatan’ mereka di sekolah. Bhayu bahkan sudah mengajak Harrel pulang bersama dan mengabaikan dua dayangnya, Hanif dan Diaz yang kini tampak merana tak dipedulikan sang raja.

Kabar menghilangnya Herlan juga sampai pada telinga Bhayu dan Harrel. Namun mereka juga tak bisa menduga-duga penyebab hilangnya papa Imel sejak pertemuan terakhir mereka di hotel, apalagi untuk ikut campur dengan masalah itu.

Yang mereka semua tidak tahu, Herlan hari itu menunggu di seberang gerbang sekolah di dalam mobilnya. Penampilannya sangat kusut. Dengan gemetar dia melihat kembali kertas yang bergambar foto Bhayu sedang telanjang namun bagian kepalanya telah sobek dan hilang. Satu-satunya yang tersisa dari Bhayu. Semua orang mencarinya. Belum lagi hutang-hutang uang dan pekerjaannya yang terbengkalai akibat membiarkan obsesi tak sehatnya terhadap Bhayu semakin liar.

Herlan memberstikan hidung saat dilihatnya gerombolan siswa di sekolah putrinya mulai keluar dari gerbang satu persatu karena jam sekolah telah usai. Saat dilihatnya Imel keluar bersama temannya, dia meremas kertas itu dan membuangnya keluar dari jendela mobil.

“Rel! ayo naik!” tawar Bhayu saat keluar dari pintu gerbang sekolah dengan motornya.

“Oke….” jawaban Harrel tertahan saat dia melihat ke arah seberang sekolah.

“Kenapa Rel?” tanya Bhayu bingung.

“I.. itu.. Itu kan papanya Imel..” tunjuk Harrel gugup.

Bhayu langsung menoleh ke arah yang ditunjuk Harrel. Herlan yang bertampang kusut berjalan gontai menuju gerbang sekolah. Semua siswa yang ada di situ melihatnya heran. Harrel dan Bhayu terpaku diam dan khawatir.

“Pah…? Papa…??” sahut Imel.

Herlan terus berjalan. Matanya sayu seperti orang yang sedang mabuk. Ketika dia tiba di tengah jalan, Herlan menghentikan langkahnya dan menatap Imel sambil tersenyum getir.

“Pah?? PAPA!!!!!” jerit Imel ketakukan ketika disadarinya sebuah truk besar melaju cepat di tengah jalan dan membunyikan klakson berkali-kali.

Herlan tak bergerak dan BRAK!! tubuhnya terpental saat truk itu menabrak dirinya yang masih berdiri diam di tengah jalan hingga beberapa meter. Setelah terguling-guling sesaat, akhirnya tubuh Herlan yang sudah bersimbah darah itu tak bergerak.

Imel melolong histeris hendak berlari menuju tubuh ayahnya yang terkapar namun ditahan oleh teman-temannya. Harrel dan Bhayu langsung melesat menghampiri Herlan yang tergeletak di tengah jalan.

“Oom!! OOm Herlan!! Tolooong!! Toloooong!!!” teriak Bhayu.

Suasana sekolah sore itu pun mendadak gempar.

(BERSAMBUNG KE BAGIAN 2 – NANTI MALAM)

****

Advertisements
Comments
  1. ferrylogic says:

    waduhhh..Ada surprise apa nii bang di bag 2?? Hrsnya masalahnya kn dh beres dgn ketabraknya Herlan.. 🙂
    *Mantengin buat premire ntr malem :p

  2. blackshappire says:

    nah koit lu herlaaaan hahahaa
    *ketawa setan

    semoga endingnya BhaRel bersatu 🙂

  3. Abhyy says:

    Sureprise delayed… heheheee

    Semoga Happy Ending….!!!

  4. maulana says:

    ya ampun,kasian imel,haha moga moga harrel dan bayu semakin dekat

  5. Yg d atas foto nya harrel dan bhayu ya , minta pin bb nya donk , aku ngefans bnget sama mreka , mreka ganteng bnget ? Piiis

    Krm aja k email ku ya
    Hardianramzi@yahoo.com

  6. Minta ya pin bb nya atau nmr hp nya harrel dan bhayu ?

  7. baru liat dan baca nih.
    maklum anak baru.

    seru ampe deg dekan dan keringatan bacanya.

  8. Aiman putra says:

    kasian imel dah gak punya bapak

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s