KARTU MEMORI – Chapter 4B

Posted: January 12, 2014 in Kartu Memory - The Series I

399670_351758971507797_100000210921560_1692949_1968733551_nCerita sebelumnya: Harrel, siswa SMA yang biasa dibully oleh Bhayu teman sekelasnya, berhasil mengakrabkan diri dengan si tampan jago basket itu. Tapi mendadak Bhayu berubah sikap dan lebih kejam padanya, terutama sejak kandasnya hubungan Bhayu dengan kekasihnya, Imel. Puncaknya adalah saat Bhayu memukuli Harrel hingga keduanya dihukum.

SUDAH hampir seminggu Bhayu tidak masuk kelas. Terakhir aku melihatnya saat kami berdua sama-sama dihukum di lapangan. Aku benar-benar tak tahu penyebab perubahan sikap Bhayu belakangan ini. Padahal Bhayu sempat mencium bibirku dan itu tak akan pernah bisa kulupakan.

Aku mencoba mencari tahu dari pembicaraan dua dayangnya: Hanif dan Diaz, tapi nampaknya merekapun tak tahu alasan Bhayu tak menampakkan diri di sekolah. Bagaimana dengan Imel? mantan kekasih Bhayu itu memang masih tampak terguncang dan kadang bertingkah seperti ratu drama yang sedang galau dan berkali-kali harus selalu dihibur oleh teman-teman dekatnya. Rasanya lebih tidak mungkin lagi mengetahui kondisi Bhayu dari Imel. Ingin rasanya menelepon HP Bhayu dan menanyakan kabarnya. Tapi sejak peristiwa Bhayu memukuliku, menanyakan kabar melalui pesan SMS/chat saja aku segan.

Hari ketujuh Bhayu absen, aku melihat sosok cantik dan jangkung yang kukenali berjalan di koridor sekolah: Mama Bhayu. Sekilas dia melihat ke arahku dan tersenyum. Aku mengangguk dan balas tersenyum padanya. Perasaanku timbul, sepertinya ini cuma masalah waktu sebelum aku ikut dipanggil ke ruang guru BP.

Benar saja, saat istirahat aku dipanggil ke ruangan guru BP. Sebenarnya aku malas melihat guru galak berkumis tebal itu, tapi rupanya Mama Bhayu pun ada di dalam kantor dan sedang duduk di hadapan pak guru.

“Duduk!” perintah guru BP.

Aku menurut.

Kuanggukan kepalaku saat bertatapan dengan Mama Bhayu sambil tersenyum. Mama Bhayu balas tersenyum walau senyumannya terlihat lemah.

“Kamu tahu kenapa teman kamu Bhayu tidak masuk sekolah?” tanya guru BP.

Aku menggeleng.

Guru BP menghela nafas. Kemudian dia menatap pada Mama Bhayu dan mengangguk sedikit seperti memberi kode. Tak lama Mama Bhayu memutar kursinya dan menghadapku.

“Harrel.. nama kamu Harrel kan?” tanyanya.

Aku mengangguk.

“Tante ingat, waktu itu kamu pernah datang ke rumah tante buat belajar bersama kan? jadi menurut tante, kamu berteman dekat dengan Bhayu,”

Bohong! itu baru pertama kalinya sikap Bhayu melunak padaku.

“Eh, anu Tante… saya dan Bhayu akrabnya baru-baru ini aja kok..” kataku mengelak.

“Memang Bhayu kenapa, Tante?” tanyaku

“Dia sakit Rel, entah kenapa, sepertinya ada masalah di sekolah. Bhayu enggak mau makan, mukanya murung, tidak mau keluar kamar, dan kadang-kadang mengamuk di kamarnya. Tante… baru tahu, kalau kemarin juga Bhayu sempat berbuat kasar sama kamu. Kira-kira tahu kenapa?” ujar Mama Bhayu lembut.

“Saya bener-bener enggak tahu, Tante… Saya kemarin cuma mau bantu Bhayu untuk belajar latihan soal ujian, tapi enggak nyangka Bhayu bakal marah…”

Mama Bhayu menghela nafas. Aku merasakan kekhawatiran Mama Bhayu. Sekolah ini terkenal dengan disiplinnya. Jika ada murid yang absen terlalu lama, otomatis akan sangat mempengaruhi nilai-nilainya, bahkan bisa dikeluarkan.

“Bagaimana, bu?” tanya guru BP.

“Saya enggak tahu lagi harus gimana, pak… Mungkin saya harus bawa anak saya ke psikiater supaya tahu penyebabnya. Bhayu sama sekali tidak mau bicara,” keluh Mama Bhayu.

Apa? Psikiater? apakah orangtua Bhayu sudah sedemikian putus asa? ah, memangnya kenapa kalau bertemu psikiater? biasa aja. Ujarku dalam hati.

Kemudian guru BP menyuruhku keluar. Tampaknya Mama Bhayu pulang tak lama setelah aku keluar dari kantor guru BP. Sebenarnya aku khawatir dengan keadaan Bhayu. Kalau saja aku bisa mengunjunginya… tapi buat apa? toh Bhayu juga mungkin akan menolakku mentah-mentah bertemu dengannya. Jadi buat apa memperpanjang masalah? buat apa mempermalukan diri sendiri lagi di depan anak itu? terus terang, ada sedikit sakit hati pada Bhayu gara-gara peristiwa pemukulanku olehnya.

****

Aku berjalan gontai setelah jam pelajaran terakhir selesai. Hari itu udara sangat panas. Aku ingin buru-buru pulang ke rumah dan bersantai di kamarku sambil menikmati dinginnya AC. Tapi rupanya rencanaku itu gagal.

Aku menoleh sebentar saat kusadari ada dua orang membuntutiku. Saat aku menoleh, Hanif dan Diaz ada di belakangku. Ikut-ikutan menghentikan langkahnya.

Malas rasanya menghadapi kelakuan dua dayang setia Bhayu ini. Aku melengos sambil menggelengkan kepala, namun rupanya Hanif dan Diaz sepertinya memang sengaja membuntutiku.

Kupercepat langkahku menuju pintu gerbang sekolah. Sayang, langkah kedua pengikut Bhayu itu lebih cepat. Mereka merangkul pundakku dan mengapit kedua sisi tubuhku serta memaksaku menuju tempat parkiran motor.

“Eh, eh! kalian ini apa-apaan sih?” protesku pada mereka. Sesampainya di tempat parkir, barulah tubuh jangkung Hanif dan Diaz melepaskan genggaman mereka.

“Ada apaan nih?” seruku defensif.

Hanif menoleh sebentar kepada Diaz. Kemudian dia menghela nafas seolah-olah sedang mengerjakan sesuatu pekerjaan yang amat dibencinya.

“Bhayu suruh kita jemput kamu pergi ke rumahnya!” cetus Hanif.

“Ngapain?” tanyaku.

“Mana gue tahu! ayo naik motor!” perintah Diaz.

“Ogah!” sahutku bandel. Aku kemudian beranjak meninggalkan mereka.

Tiba-tiba Hanif merebut ranselku, “Eh! apa-apaan, sih?!” aku memprotes kesal.

“Ayo ikut! Yaz! gue pegangin tas si Harrel, elo boncengin dia!” seru Hanif sambil menguasai tasku dan mencegahnya direbut kembali olehku.

Aku masih mencoba melawan dengan tidak menuruti perintah dua anak itu.

“Kalo elo enggak mau ikut, tas ini gue buang di tengah jalan!” sahut Hanif sambil mengangkat ranselku tingg-tinggi.

Menghadapi ancaman Hanif yang sepertinya tak main-main, aku akhirnya mengalah. Aku kemudian meraih helm yang disodorkan oleh Diaz dan naik ke motornya.

“Kalian ini, hobi sekali maksa-maksa orang..” keluhku sambil memandang kesal kepada mereka berdua. Diaz dan Hanif tak merespon.

***

Duapuluh menit kemudian kami bertiga tiba di rumah Bhayu. Aku merebut kembali ranselku dari Hanif setelah turun dari motor.

“Kok tumben? Mamanya Bhayu emangnya enggak ada?” tanyaku lagi pada Hanif dan Diaz.

“Enggak ada!” seru Diaz.

“Lah! terus kalo si Bhayu mukulin gue lagi kayak kemarin, gimana?” tanyaku ngeri.

“Itu derita elo!” seru Hanif.

Sungguh. Walaupun aku berkata bahwa diriku khawatir Bhayu akan memperlakukanku seperti saat dia memukuliku kemarin, tetapi perasaanku berkata sebaliknya. Ada sedikit rindu bertemu dengan Bhayu sehingga aku mengabaikan segala resiko yang ada.

Aku sebal dengan kelakuan Hanif dan Diaz yang bertingkah seolah mereka sedang berada di rumah mereka sendiri. Seenaknya masuk rumah Bhayu begitu saja tanpa permisi.

“Elo ke kamarnya sendirian! kita tunggu di sini!” perintah Diaz sambil mendorongku ke arah tangga.

Aku mendecak kesal. Karena aku pernah ke sini sebelumnya, aku tahu di mana letak kamar Bhayu berada.

Kuketuk pintu kamar Bhayu beberapa kali dan memanggilnya. “Bhay..?”

Tak ada jawaban. Kuputuskan untuk membuka pintu kamarnya. Perlahan kudorong pintu itu dan melihat ke dalam kamar.

Kamar Bhayu tidak begitu terang. Walau di luar masih siang terang benderang, Bhayu menutup jendela kamarnya dengan tirai dan membiarkan lampu kamarnya menyala. Aku melihat Bhayu duduk di ranjang membelakangiku. Aku memberanikan diri untuk memanggilnya.

“Bhay?”

Aku menutup pintu dan berdiri jauh dari Bhayu tak tahu harus berbuat apa.

“Rel…” gumam Bhayu.

“Ya, Bhay?”

“Apa semua homo itu sama?” gumamnya tak jelas.

“A..apa, Bhay?” Aku meminta Bhayu mengulang pertanyaannya.

“Gue nanya! Apa semua homo itu sama?!” teriak Bhayu. Kali ini dia menoleh ke arahku hingga aku bisa melihat ekspresi kemarahan di wajahnya. Muka Bhayu tampak kusut. Aku tak pernah melihat Bhayu menumbuhkan kumis atau janggut di wajahnya, namun kali ini aku bisa melihatnya tumbuh di atas bibirnya. Wajahnya agak pucat dan lebih tirus dari biasanya. Bayangan hitam menghiasi kantung matanya. Walau begitu, bagiku Bhayu masih terlihat tampan.

“Gue.. gue enggak ngerti pertanyaan elo, Bhay..” kataku sambil hati-hati mendekat kepadanya.

Bhayu menjatuhkan tubuhnya ke atas ranjang. Dia menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Bhayu saat itu hanya memakai kaus oblong dan celana pendek.

“Bhay.. elo kenapa sih? kenapa enggak masuk berhari-hari? elo sakit atau kenapa?” tanyaku.

Bhayu tak menjawab.

“Elo marah sama gue? elo benci sama gue? Kalau emang gue ada salah, dan… kayaknya emang gue yang salah, gue minta maaf ya, Bhay…”

Bhayu tak bereaksi. Aku mendekatinya dan duduk di pinggir ranjang.

“Rel…” Bhayu akhirnya berbicara.

“Kenapa, Bhay?”

“Gak tau.. kenapa gue malah manggil elo kemari. Tapi masalah gue ini… saat gue pengen cerita, malah elo orang pertama yang gue inget…” ujar Bhayu. Dia tidur sambil menutup wajahnya dengan bantal tak mau menatapku.

“Umm… Kalau emang elo mau cerita sesuatu, cerita aja Bhay. Gue pasti dengerin…”

Bhayu tak menjawab. Dia kemudian membuka bantal yang menutupi wajahnya lalu memandangku cukup lama. Bhayu beringsut duduk. Aku baru memerhatikan, ada dua buah piring berisi nasi dan lauknya di meja, yang sepertinya adalah makan siang Bhayu namun sama sekali belum dia sentuh.

Aku masih menunggu Bhayu bercerita. Tapi rupanya dia lebih memilih untuk menjelaskannya tanpa rangkaian kalimat. Bhayu membuka laci meja di sebelah ranjangnya dan mengeluarkan ponselnya. Ponsel yang sama yang pernah secara diam-diam kartu memorinya kukeluarkan hingga menyelamatkan Bhayu dari razia pornografi di sekolah.

Bhayu menyalakan ponselnya.

“Sekarang gue ketakutan setiap kali hape gue bunyi, Rel…” kata Bhayu.

“Loh..ke-kenapa? ada yang neror elo, Bhay?”

Bhayu tak menjawab. Dia kemudian menunjukkan beberapa pesan singkat dan MMS berisi ancaman serta salah satu foto-tangkapan-layar yang menampilkan Bhayu sedang bermasturbasi.

Mulutku menganga tak percaya. Apalagi membaca pesan-pesan ancaman serta kalimat rayuan vulgar yang ditujukan pada Bhayu.

“Siapa ini, Bhay? siapa yang ngancam elo kayak gini?” sahutku tak sabar.

“Itu… Papanya Imel…” jawab Bhayu lirih.

Aku menekap mulutku tak percaya. Kemudian meluncurlah cerita dari mulut Bhayu dari awal ketika dirinya dijebak untuk melakukan aksi onani di depan kamera sehingga Herlan, atau Papanya Imel bisa merekamnya, serta akhirnya Bhayu terpaksa menuruti keinginan Herlan dan melecehkannya secara seksual.

“Berapa kali, Bhay??!” Tanyaku. Terus terang aku menjadi sangat marah mendengar cerita Bhayu. Bhayu yang aku suka menjadi korban Herlan dan diperlakukan semena-mena. Aku memang pernah memaksa Bhayu untuk membiarkanku memberikan servis oral padanya dengan cara memerasnya juga, namun apa yang dilakukan papa Imel sudah keterlaluan.

“Dua kali Rel.. terakhir kali, dia bilang… dia mau sodomi gue… dan itu yang bikin gue bener-bener takut…”

“Elo harus laporin Bhay! laporin ke polisi! ini bukan main-main!” jeritku kesal.

“Gue takut efeknya, Rel… Mungkin Papanya Imel bakal dipenjara. Tapi gue juga khawatir dampaknya ke Imel, keluarganya, bahkan gue sendiri! Semua orang bisa tahu!”

“Terus gimana? ngebiarin tua bangka itu terus-terusan ngelecehin elo? hah?”

“Rel.. please.. bantu gue.. jangan suruh gue cerita sama siapapun…” pinta Bhayu.

Aku menghela nafas. Ucapan Bhayu ada benarnya juga. Masalah seperti ini kadangkala menjadi buah simalakama bagi korbannya juga. Betapa malunya Bhayu atau keluarganya jika aib seperti ini tersebar. Istilahnya, biarpun penjahatnya kalah, sang korban juga tetap harus menanggung beban malu seumur hidup.

“Oke, Bhay. Mulai sekarang kita cari cara gimana menghadapi Oom Herlan. Kalau dia ngehubungin lagi, jangan ragu bilang ke gue.” kataku mantap. Kugenggam tangan Bhayu untuk menyemangatinya.

Entah semangat apa yang berhasil kutularkan pada Bhayu. Mungkin karena lega telah menceritakan permasalahannya ataukah karena kesiapan diriku membantunya, akhirnya Bhayu tersenyum. Aku sangat bahagia melihat sedikit semangat menyala di matanya.

“Besok, elo masuk sekolah lagi ya, Bhay? enggak enak loh ketinggalan pelajaran,” kataku.

Bhayu mengangguk mantap.

“Sekarang makan dulu Bhay… ngomong-ngomong, nyokap elo ke mana?” tanyaku sambil mengambil piring dari atas meja Bhayu dan menyerahkan itu padanya.

“Bokap nyokap pergi ke rumah saudara. Ada saudara gue meninggal, kayaknya sampe malam. Tadinya mereka enggak mau ninggalin gue, tapi gue bilang gue enggak akan sampai bunuh diri kok,” ujar Bhayu. Kemudian dia menyuapkan makanan ke dalam mulutnya.

“Yaudah, gue temenin elo di sini sampe sore ya?” tawarku.

Bhayu mengangguk setuju. Kemudian dia menyelesaikan makan siangnya. Aku mengamatinya yang sedang lahap makan itu sambil tersenyum. Tak lama Bhayu bangkit dari ranjang.

“Gue mau suruh itu anak dua pulang.. sebentar ya?” kata Bhayu.

Aku menunggu beberapa lama di kamar. Sebelum Bhayu kembali ke kamar, kudengar suara motor dihidupkan dan kemudian menjauh. Sepertinya Hanif dan Diaz sudah diusir pulang oleh Bhayu.

Bhayu masuk ke kamar dan menutup pintu. Dengan canggung dia duduk di sebelahku sambil menunduk. Aku pun merasa gugup sehingga tak berani menatap wajahnya dan hanya sanggung memandangi lengannya saja.

“Rel.. makasih, ya?” kata Bhayu.

“Sama-sama Bha..” ucapanku terhenti. Bhayu menciumku lagi. Tak seperti ciuman pertamanya waktu itu yang masih terselip keraguan dari tekanannya yang kurasakan, kali ini Bhayu mencium bibirku dengan penuh kemesraan. Telapak tangannya dia letakkan pada pipiku sementara bibirnya memagut bibirku atas dan bawah bergantian.

Tubuhku serasa meleleh kembali hingga tangannku tergantung lemas. Cukup lama Bhayu menciumku dan akhirnya dia melepaskan bibirnya dan memandangku sambil tersenyum.

Bhayu menghela nafas. Tak ada rasa canggung atau penyesalan setelah dia menciumku. Dia kemudian bangkit dari duduknya dan meraih handuk dari kursi.

“Gue mandi dulu, ya! dari kemarin belum mandi..” ujarnya sambil terkekeh.

“Uh.. pantesan…” kataku bercanda sambil mengibaskan tanganku di depan hidung.

“Sialan! hahaha..” kata Bhayu sambil memecutku dengan handuk yang dipegangnya.

Kemudian Bhayu menghilang ke balik kamar mandi. Aku tetap mengawasi pintu kamar mandi sampai akhirnya Bhayu muncul kembali tak lama kemudian.

“Kok bengong? bantuin gue mandi sini!!” ujar Bhayu galak. Nada suaranya sudah kembali meninggi seperti biasanya.

Aku terbahak lalu berlari kecil menuju kamar mandi.

Di dalam kamar mandi kami berdua berdiri berhadapan. Bhayu membantuku melepas kancing seragamku dan meloloskan kaus dalamku. Bhayu kemudian melepas kaus oblongnya dan menurunkan celana pendeknya hingga telanjang bulat. Aku menggigit bibirku gembira melihat pemandangan itu. Bhayu tersenyum melihat ekspresi wajahku dan menyuruhku membuka sisa pakaianku hingga kami berdua sama-sama telanjang.

Aku terlonjak sedikit saat aliran air dari shower meluncur ke atas tubuhku. Kami berdua masih berdiri saling berhadapan dan saling memandangi tubuh satu sama lain. Tubuhku yang tak sesempurna fisik Bhayu membuatku sedikit minder dan berusaha kututupi dengan lenganku.

Bhayu kemudian meraih sabun cair dan mulai menggosok-gosokkan busanya pada tubuh atasnya yang sudah basah. Aku masih terdiam memandanginya tak tahu harus berbuat apa. Bhayu lalu berbalik memunggungiku.

“Sabunin punggung gue, Rel..” perintahnya.

Aku menuruti keinginan Bhayu dan meraih botol sabun cair serta menuangkannya pada telapak tanganku. Sedikit canggung dan ragu aku mulai menyabuni punggung kekar Bhayu sehingga membuat penisku tanpa sadar menegang. Aku meneguk ludah beberapa kali saat menyabuni punggung Bhayu cukup lama.

Kemudian Bhayu berbalik menghadapku kembali setelah dirasakannya punggungnya telah cukup disabuni. Dia melirik ke arah penisku dan terbahak.

“Kok kontol elo tegang, Rel? hahaha..” ejeknya.

Aku merasakan wajahku bersemu merah. Aku menunduk malu. Entah kenapa, aku yang dulu begitu berani memaksanya untuk melakukan seks oral kini berubah menjadi lemah pada Bhayu. Inikah efek suka? atau.. jatuh cinta? Sepertinya nafsu kepada tubuh Bhayu seperti yang sering kukhayalkan sudah lenyap. Ya, aku masih ingin bersama Bhayu, tapi tak hanya sekedar merasakan tubuhnya. Aku tak ingin Bhayu membiarkanku mengisap penisnya karena terpaksa. Aku ingin dia menginginkanya juga tak hanya karena nafsu. Ah, Rel… kamu rupanya memang telah jatuh hati kepada pemuda ini.

Sadar bahwa diriku canggung membuat Bhayu berhenti meledekku. Kemudian dia meraih botol sabun cairnya dan menuangkannya ke telapak tangan. Tanpa berkata apapun dia mulai menyabuni tubuhku. Rasanya enak sekali disentuh oleh tangan Bhayu. Tubuh jangkungnya terpaksa harus sedikit menunduk saat dia melakukan itu. Tiba-tiba Bhayu memelukku. Ketika kulit kami bersentuhan, tubuh kami yang licin terasa saling menggelincir. Bhayu kemudian mendorong tubuhku hingga bersandar ke dinding.

Bhayu memegang bahuku dan membungkuk untuk menciumku. Ada rasa seperti terkena sengatan listrik saat Bhayu melakukan itu.

“Gue bantuin, Rel…” ujarnya setelah menciumku.

“Bantuin apa?” tanyaku.

Bhayu tak menjawab. Dia menurunkan lengan kirinya dan meletakkannya pada penisku. Perlahan dia meremas penisku dalam genggamannya hingga aku menggeliat dan mendesah.

“Bhay…” desisku.

Bhayu tetap diam. Perlahan dia mulai mengocok penisku yang licin oleh sabun dengan gerakan stabil dan mantap.

Aku menahan nafas tak menyangka bahwa Bhayu akan melakukan itu padaku. Yang keluar dari mulutku hanyalah desahan desahan kenikmtan. “Hhh.. Engh… Engh..” erangku.

Bhayu merapatkan tubuhnya sambil terus mengocok penisku. Aku mencengkeram lengan Bhayu sambil terus menikmati kocokan tangannya. “Bhay…” ujarku saat kocokan tangan Bhayu semakin cepat. Melihatku sangat menikmati perbuatanya, membuat Bhayu semakin bersemangat. Aku menggeliat-geliat pada posisiku yang bersandar di dinding. Kepalaku yang sejajar dengan bahunya membuatku tak tahan hingga kusandarkan pada bahunya sambil terus merintih dan mendesah nikmat.

“Nggh.. Bhay… Bhayu…” bisikku. Bhayu seperti sebuah robot yang hanya bertugas mengantarkanku hingga klimaks. Setelah beberapa lama, aku menggelinjang. Tubuhku gemetar karena kurasakan penisku siap menyemburkan isinya akibat perlakuan Bhayu.

“Ngghh…..” erangku panjang ketika akhirnya penisku memancarkan cairan hangat saat aku mencapai puncak kenikmatan. Bhayu memperlambat gerakannya memerah penisku sampai tetesan terakhir. Dengan lembut Bhayu kembali mencium bibirku. Rupanya dia kali ini hanya ingin mengerjaiku. Dia memutar kembali keran shower hingga maksimal sampai airnya membilas bersih tubuh kami berdua.

****

Setelah aku selesai mandi, Bhayu yang hanya melilitkan handuk pada pinggangnya yang ramping berjalan menuju lemari pakaiannya. Aku yang sudah mengenakan kembali celanaku dan sedang mengeringkan rambutku dengan handuk memandanginya dari belakang.

“Bhay…”

“Ya?” tanya Bhayu sambil membalik badannya.

Aku menghambur dan memeluknya. “Yang sabar ya Bhay… gue bantu elo ngehadapin ini semua…”

Bhayu perlahan balas memelukku. “Thanks ya Rel, besok gue akan karang sesuatu ke guru BP alasan gue enggak masuk.”

Aku mengangguk. Tak lama kulepaskan pelukanku saat kurasakan ada benda keras menekan bagian bawah tubuhku. saat aku menunduk, aku melihat penis Bhayu sudah tegak membentuk tenda pada handuknya.

“Bhay? Kok kontol elo tegang?” godaku. Wajah Bhayu bersemu merah.

Aku pun lalu tertawa dan melepaskan handuk Bhayu kemudian berlutut di depannya.

“Rel..” protes Bhayu, namun dia tak berusaha menghentikan perbuatanku saat aku mulai mengulum penisnya.

****

Harus kuakui, aktingku dan Bhayu cukup hebat. Keesokan harinya, kami menghadap guru BP ditemani oleh mama Bhayu. Bhayu beralasan dirinya stress karena tekanan ujian dan musim pertandingan basket hingga merasa tak fokus pada keduanya dan melampiaskannya padaku. Mama Bhayu tersenyum lega saat melihat kami berdua berpelukan sebagai ‘tanda damai’, padahal sebenarnya masalah di antara kami berdua sudah tidak ada.

Bhayu memutuskan untuk tidak berpartisipasi dalam musim kompetisi pertandingan basket antar sekolah dan memilih fokus belajar menghadapi ujian. Keputusan yang amat disayangkan sebenarnya, mengingat Bhayu merupakan pemain basket yang hebat. Namun itu juga merupakan hukuman karena Bhayu tak bermain maksimal dan melawan pelatih tempo hari.

Di sekolah, aku dan Bhayu sepakat untuk tetap menjaga jarak. Tapi jika ada kesempatan, kami berdua akan saling melempar senyum. Aku senang melihat emosi Bhayu sudah kembali stabil. Bahkan dia sepertinya sudah tak peduli lagi dengan kandasnya hubungan dirinya dengan Imel. Hingga beberapa hari kemudian…

“Rel…” panggil Bhayu. Saat itu aku sedang berada di taman sekolah sedang membaca buku ketika jam istirahat.

Aku menoleh pada Bhayu. Wajahnya pucat dan tampak ketakutan.

“Kenapa Bhay?” tanyaku.

“Papanya Imel SMS lagi…” desis Bhayu.

“Mana? boleh gue lihat?” tanyaku cemas.

Bhayu menyerahkan ponselnya. Aku membaca tulisan pesan yang tampak pada layar ponsel Bhayu.

“Saatnya sudah tiba, ganteng… Oom akan kabari waktu dan tempatnya. Oom udah enggak sabar merawanin kamu sayang…”

Aku memandang Bhayu setelah selesai membacanya. Ini tidak bisa dibiarkan. Aku harus memutar otak mencari cara membantu Bhayu menghentikan kegilaan Oom Herlan. Dan saatnya itu kini telah tiba…

****

Advertisements
Comments
  1. lima says:

    Omg, this is freaking amazing! I love the plot.. I hope this is not the easy-guess story at all.. I do hope imel father will suffer and die at the end!!

  2. pass says:

    ah damn! BhaRel’s interrelationship is just too good to be true…

  3. ferrylogic says:

    Udh nebak2 kmrn klo Bhayu bakal ngubungin Harrel..Romantis ni bg Remmy alurnya šŸ™‚ Bakal ada rasa2 detekifnya ni.. šŸ™‚

  4. ginanjar says:

    keren aku ngefans sama kisah bayu dan Harel. saran lebih diekplor lagi moment bersama harel dan bayu entah liburan atau bersama nonton. pokokek ekplorya

  5. arif says:

    hm.. kayaknya aku bisa nebak kira2 gimana cara Harrel membantu Bhayu.

    boleh kuungkapkan di sini tak?

  6. Aries hermawan says:

    Kenapa cerita nya gak ada yg selesai,jd gantung nich… :@

  7. delvyn says:

    Seminggu nunggu2 akhirnya ada… Tiap hari nongkrongin site nya

  8. maulana says:

    haduh,mau nunggu cerita selanjutnya lagi…..

  9. blackshappire says:

    yang di atas fotonya sapa bang?klo ftonya herland, sini biar ane yg ngadepin #lohh
    šŸ˜€

  10. Vransiskus says:

    Keren ceritanya,,
    jngn lama-lama ya lanjutan nya,,

  11. Andro says:

    Gak sabar baca cerita slnjtnya :). Bagus banget, keren!

  12. Abhyy says:

    Yuhuuu akhirny lnjutanny nongol…
    Alurny bagus gk gmpng ketebak.. truss tap problem yg sesuai lbh mmbuat ceritny menarik…!!! Dtggu lnjutnnya

  13. andi says:

    kpn K chapter selanjutnya di post?

  14. kevin says:

    PENGARANG CERITANY CEMERLANG BANGET……

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s