184215_1288890877731_878656_nCerita sebelumnya: Herlan tertarik pada Bhayu, remaja SMA pacar anak gadisnya sendiri. Suatu hari, dia berhasil menjebak Bhayu agar melakukan aksi masturbasi di depan kamera laptop dan merekamnya. Herlan berencana memanfaatkan hal tersebut untuk mendapatkan Bhayu.

SEJAK berhasil menyimpan video Bhayu sedang bermasturbasi, Herlan merasa di atas angin. Obsesi Herlan untuk mendapatkan Bhayu, setidaknya tubuhnya, membuat Herlan banyak meluangkan waktu memantau kegiatan Bhayu. Termasuk menjemput anaknya sendiri saat pulang sekolah.

“Bentar, Bhay.” Imel membatalkan diri naik ke atas motor milik Bhayu setelah mendengar ponselnya berbunyi.

“Halo? Papa?” tanya Imel.

“Apa? Papa di mana?” Imel mengedarkan pandangannya ke sekeliling luar pagar sekolahnya.

Imel mendengus sedikit kesal. Kemudian dia mengembalikan helmnya pada Bhayu dan berjalan menuju gerbang meninggalkan Bhayu yang kebingungan.

“Loh? Loh? Mel? Kenapa?” tanya Bhayu. Diapun ikut meletakkan kembali helmnya dan mematikan motornya serta meninggalkannya di parkiran sekolah untuk menyusul Imel.

“Aku dijemput Papa, say!” kata Imel.

“Loh, kok? tumben? bukannya harusnya Papa kamu di kantor ya?” tanya Bhayu sambil menjajarkan langkahnya dengan Imel yang berjalan cepat.

“Gak tau tuh!” ujar Imel ketus. Mulutnya langsung memberengut.

Keduanya berjalan keluar gerbang sekolah dan menuju sebuah mobil jenis minibus berwarna silver yang terparkir di seberang jalan. Bhayu sudah beberapa kali melihat mobil milik ayah Imel dan dia sudah hapal jenis dan nomor platnya.

Imel melangkah tak sabar menuju mobil Herlan. Begitu Imel mendekat, Herlan menurunkan kaca mobilnya.

“Pah? kok tumben enggak di kantor?” tanya Imel heran.

“Papa pulang cepat Mel, tadi ada meeting di luar, papa enggak balik ke kantor lagi, jadinya sekalian jemput kamu,” jelas Herlan tenang. Matanya sekilas melirik ke arah Bhayu yang berdiri di sebelah Imel.

“Sore, Oom..” sapa Bhayu ramah.

“Hmm,” balas Herlan sekedarnya, kemudian matanya tertuju pada Imel kembali.

“Ayo naik!” perintah Herlan pada putrinya.

“Tapi Pah..” Protes Imel sambil bolak-balik memandang Bhayu dan Herlan.

“Oom, Imel dan saya mau ke toko buku dulu sebentar. Kalau oom mengizinkan, saya pergi sama Imel baru nanti saya antar pulang oom…” ujar Bhayu sopan.

Herlan merespon dengan menatap Bhayu galak hingga Bhayu merasa ayah dari pacarnya itu masih marah gara-gara kejadian tempo hari saat dia mengantar Imel pulang dini hari.

Merasa tak bisa lagi menentang keinginan Herlan, Imelpun mengalah dan masuk ke dalam mobil milik ayahnya.

“Sori Say, aku pulang duluan ya? kamu aja yang cari kado di toko buku,” ujar Imel pasrah.

Bhayu mengangguk. “Gapapa Mel. Hati-hati di jalan ya?”

Imel menutup pintu mobil dan Herlan langsung menjalankan mobilnya tanpa menoleh kembali pada Bhayu. Tapi diam-diam dia mengawasi pemuda jangkung berseragam SMA itu dari kaca spionnya.

“Papa apa-apaan sih?” protes Imel sambil melempar tas sekolahnya ke jok belakang.

“Kamu belum putus juga sama anak itu? Kan Papa udah bilang, sejak dia sembrono antar kamu lewat tengah malam, Papa udah enggak suka sama anak itu!” ujar Herlan.

“Ih! Itu kan salah Imel juga Pah! Bhayu kan enggak tahu kalau Imel harus pulang sebelum jam satu!” bela Imel.

“Enggak usah dibela, Mel! pokoknya Papa minta kamu jauhin anak itu! ngerti!” kata Herlan.

Sesungguhnya kekhawatiran Herlan adalah bahwa Bhayu akan mengkonfirmasikan mengenai kejadian malam itu pada Imel. Ya, saat itu Herlan berpura-pura menjadi Imel dan meminta Bhayu lewat chat dan video call untuk melakukan masturbasi dan Herlan diam-diam merekamnya. Itulah sebabnya, dia ingin Imel segera menjauh dari Bhayu.

Herlan sepertinya memang tak terburu-buru ingin langsung mendekati Bhayu. Dia masih menikmati masa-masa menguntit Bhayu, mengincarnya, mengetahui gerak-geriknya bila perlu. Sayang, kesibukan Herlan di kantor membatasi niat gilanya mengawasi remaja tampan itu sehingga dia hanya bisa bergerak leluasa di hari Minggu. Itupun dengan berbagai alasan yang dibuat-buat pada keluarganya. Herlan seolah tak peduli dengan keluarga kecilnya yang bahagia dan harmonis. Nafsunya untuk mendekati Bhayu membuatnya seperti bocah tanggung yang sedang naksir teman sebayanya.

Seperti hari Minggu itu. Dengan alasan ingin main golf dengan rekan bisnisnya, Herlan memutar kendaraannya menuju rumah Bhayu. Dia tahu alamat rumah Bhayu karena pernah meminta Imel memberikan alamat Bhayu sebagai syarat diperbolehkannya Bhayu menjemput Imel kencan. Diam-diam Herlan memarkir mobilnya dari tempat yang bisa membuatnya leluasa mengawasi rumah Bhayu. Dan… anak itupun keluar dari rumahnya menggunakan motor. Herlan buru-buru menyalakan mobilnya berusaha mengejar motor Bhayu yang dikemudikannya dengan cepat.

Dengan susah payah, Herlan pun berhasil mengikuti Bhayu yang ternyata sedang menjemput remaja sebayanya di sebuah rumah. Sial! maki Herlan. Ternyata Bhayu kembali lagi ke rumahnya. Seharusnya dia tak perlu mengikuti Bhayu sampai menembus hujan segala kalau tahu anak itu akan kembali ke rumahnya.

Herlan menunggu lama di dalam mobilnya. Dia menduga-duga apa yang dilakukan Bhayu bersama temannya di dalam rumah. Apalagi barusan dia melihat wanita yang sepertinya ibunya Bhayu pergi dari rumah. Mendadak Herlan menjadi sangat marah. Dia mendengus kesal. Dibukanya kembali ponselnya yang berisi video Bhayu sedang bermasturbasi dan dalam kemarahan dia menyimpan beberapa hasil tangkapan gambar dari video tersebut. Dia memilah-milah mana yang akan dia kirimkan pada anak itu suatu saat nanti.

Kecemburuan Herlan makin menjadi. Dia melihat Bhayu membonceng temannya yang sudah berganti pakaian dan sepertinya habis mandi. Bruk!! Herlan meninju jok bangku sebelahnya dengan kesal. Nafasnya mulai tak beraturan. Pasti anak itu sudah melakukannya dengan temannya! sialan! sialan! sialan! ini tak bisa dibiarkan! pikir Herlan dalam hati. Rasa cemburu buta menguasai pikiran Herlan dan mengalahkan logikanya. Herlan seperti anak kecil yang mainannya direbut oleh anak lain.

Kali ini dia tak membuntuti Bhayu. Herlan tetap di tempatnya, bersabar menunggu kedatangan anak itu. Benar saja, tak sampai setengah jam Bhayu sudah kembali ke rumahnya. Herlan kemudian segera mengirimkan MMS bertautkan salah satu foto Bhayu yang sedang bermasturbasi. Dengan tatapan licik, Herlan mengawasi reaksi Bhayu dari kejauhan. Dia pun menghubungi Bhayu lewat telepon dan merasa senang melihat reaksinya yang panik dan ketakutan.

“Halo??!! Halo???!! siapa ini???!!” teriak Bhayu.

Herlan tak menjawab. Sengaja dia biarkan Bhayu mendengarkan hembusan nafasnya. Dia ingin Bhayu tahu, dirinya sedang diawasi olehnya. Menunggu saat itu tiba…

****

Sejak dikirimi foto dirinya yang sedang dalam posisi tak senonoh, Bhayu mendadak menjadi pendiam di kelas. Hanif dan Diaz berkali-kali bertanya pada Bhayu mencoba mencari tahu penyebab perubahan sikap Bhayu.

“Elo kenapa sih Bhay? padahal bentar lagi ada turnamen antar sekolah, tapi tadi latihan basket, elo mainnya sampai ditegur sama pelatih gitu?” tanya Hanif prihatin.

“Iya Bhay, elo main kayak lagi ketempelan hantu gitu. Enggak konsen sama pertandingan, kayak orang bengong,” lanjut Diaz.

“Udah-udah-udah!” hardik Bhayu sambil bangkit dari tempat duduknya di kantin. Dia meninggalkan mangkuk bakso yang masih berisi setengah dan nyaris tumpah saat Bhayu bangun dan meninggalkan pula dua temannya, Hanif dan Diaz.

Bhayu memang stress. Dia berpikir keras siapakah yang telah mengirimkannya foto itu? setahu dia, Bhayu baru melakukan itu (bermasturbasi di depan kamera) saat diminta Imel pacarnya. Apakah Imel yang diam-diam merekamnya dan mengirimkannya? Bhayu pun menjadi tidak yakin saat mendengar Imel tak sengaja memberitahukannya bahwa dia ternyata datang ke sebuah pesta malam itu dijemput Siska.

“Gue bandel ya, Say? padahal lagi dihukum bokap, tapi nekad kabur diam-diam dijemput Siska, Hihihi.. enggak ketahuan lagi!” kata Imel sambil memain-mainkan sedotan minuman jusnya.

Bhayu hampir tersedak minuman mendengar penjelasan Imel.

“Kamu.. kamu pergi say?” tanya Bhayu tak percaya.

“Iya. Kenapa emangnya?”

“Terus, yang waktu malam itu…” Bhayu tak meneruskan kalimatnya.

“Malam itu kenapa?” tanya Imel keheranan.

“Ah.. enggak.. enggak apa-apa…” kata Bhayu.

Dari situlah Bhayu sadar. Malam itu yang memintanya melakukan aksi masturbasi di depan kamera bukanlah Imel. Lalu siapa? kakaknya? Imel anak tunggal. Atau mungkin salah satu sepupunya yang iseng yang saat itu menginap di rumahnya?  Bhayu bergidik ketika memikirkan kemungkinan yang melakukan itu adalah salah satu dari orangtua Imel.

Bhayu bingung. Entah harus mengadu pada siapa mengenai masalah ini. Semuanya dilematis baginya. Mengadu pada guru, sama saja mengundang masalah. Mengadu pada orangtuanya, setali tiga uang. Semua orang pasti akan menyalahkan dirinya. Itulah sebabnya, dia tak lagi konsen belajar dan bermain basket. Apapun resikonya, dia lebih suka berhadapan langsung dengan orang yang telah mengiriminya MMS berkali-kali.

Waktu itu pun tiba. Si pengirim foto misterius, mengundang Bhayu untuk menemuinya sepulang sekolah.

“Kamu tahu tempatnya?” tanya orang itu lewat SMS.

“Tahu! dan siapapun anda, saya minta hentikan semuanya!” ancam Bhayu lewat balasannya.

Tak ada balasan. Bhayu pun bersiap untuk pulang dan menuju lokasi yang ditunjuk oleh pria misterius itu.

***

Herlan mengawasi Bhayu yang datang dengan motornya. Dirinya nyaris tertawa ketika melihat ekspresi Bhayu yang mengenali mobilnya.

“Oom?” tanya Bhayu tak percaya saat dia menghampiri mobil itu dan Herlan membuka kaca mobilnya.

“Masuk!” perintah Herlan.

Bhayu menuruti keinginan Herlan. Dia sedikit lega sekaligus takut. Pikir Bhayu, Herlan hanya kesal karena tertangkap basah sedang merayu anaknya.

“Oom.. Maafin aku Oom, waktu itu saya emang nakal udah ngegoda anak Oom, tapi sungguh Oom! saya cuma main-main aja…”

Herlan mendelik tajam pada Bhayu.

“Tapi saya enggak main-main sama kamu,” kata Herlan sambil menyeringai.

“Maksud Oom?”

“Kamu tahu akibatnya kalau video itu sampai diketahui guru atau orangtua kamu?” tanya Herlan. Ada sedikit ancaman dari nada bicaranya.

Bhayu tak menjawab. Nampaknya pria ini serius ingin mengancamnya.

“Oom mau menyebarkan video saya??” lengking Bhayu.

“Itu tergantung kamu,” kata Herlan dingin. Tangannya tiba-tiba bergeser pada paha Bhayu dan meremasnya.

“Apa-apaan sih, Oom?” hardik Bhayu sambil menepis tangan Herlan.

Bhayu tak mau lama-lama berada di situasi tersebut dan berniat untuk keluar dari mobil Herlan.

Tangan Herlan rupanya lebih gesit. Dia menarik lengan Bhayu dan mengunci pintu mobilnya. “Jangan keluar!” bentak Herlan.

Bhayu tertegun ketakutan dengan ancaman Herlan.

“Bagaimana kalau.. bagaimana kalau.. enggak cuma guru kamu yang lihat video ini, tapi juga tersebar di internet. Situs homo misalnya? hmm?” kata Herlan lagi. Wajahnya dia dekatkan pada wajah Bhayu dan seperti hewan kelaparan Herlan mengendus leher Bhayu.

Rasa hormat Bhayu selama ini kepada Herlan yang merupakan ayah dari pacarnya mendadak sirna. Semua itu kini berganti dengan rasa jijik.

“Saya enggak takut Oom!” ujar Bhayu.

Ucapan Bhayu membuat Herlan semakin marah. Dia menampar wajah Bhayu cukup keras dan menarik kerah kemeja seragamnya hingga wajahnya sangat dekat dengan wajah Herlan. Tamparan Herlan pada wajahnya membuat Bhayu mengaduh dan berkunang-kunang. Tapi itu membuatnya sadar, dirinya tidak sedang berhadapan dengan pemeras biasa. Bhayu sadar Herlan sudah gelap mata dan tak segan-segan menggunakan kekerasan.

“Dengar ya, bocah! kamu bukan cuma saya bikin malu dengan video ini, tapi kalau kamu berani lapor siapa saja, saya enggak akan ragu habisin kamu!” ancam Herlan. Dia rupanya sudah hilang akal dan gelap mata ingin mendapatkan Bhayu.

Bhayu bergidik ngeri saat Herlan mengeluarkan sebilah pisau belati bergagang kuat dari dalam laci mobilnya. Dia menatap Herlan mencoba meyakinkan dirinya sendiri bahwa pria dewasa ini tidak main-main.

“Sekarang diam ya ganteng…” gumam Herlan. Dia mulai membuka kancing seragam Bhayu satu persatu.

Bhayu mengutuk sejadi-jadinya dalam hati perbuatan Herlan. Tempat yang dipilih oleh ayah Imel itu memang benar-benar sepi. Tak ada seorangpun yang lewat. Selain itu, kaca hitam mobil Herlan benar-benar menguntungkan dirinya untuk bebas melakukan apa saja di dalam kendaraan tanpa terlihat orang lain.

Bhayu gemetar ketakutan saat telapak tangan Herlan mulai menyelusup masuk meraba tubuhnya. Sesekali Herlan mendekatkan hidungnya pada leher Bhayu seperti predator yang ingin menikmati rasa takut mangsanya terlebih dahulu sebelum menelannya. Jijik, ngeri, takut, bercampur sakit dirasakan Bhayu saat tangan Herlan terus bergeriliya di dalam tubuhnya. Nafas Herlan terdengar semakin tak beraturan. Dia menciumi leher Bhayu hingga pemuda itu meringis ngeri namun tak berani melawan. Sesekali Herlan meremas dada Bhayu kasar dan memilin putingnya cukup keras hingga Bhayu terlonjak kesakitan.

“Oom.. jangan Oom..” pinta Bhayu, namun Herlan mengabaikan.
Dia makin merangsek maju mendorong tubuh Bhayu yang kemeja putihnya kini telah terbuka. Herlan memegangi tubuh Bhayu yang secara reflek masih meronta mencoba menghindari cumbuan Bhayu. Sesekali penolakan Bhayu yang cukup kuat membuat Herlan terpaksa menampar kembali wajah Bhayu. Bhayu mulai menangis berusaha terus meronta melepaskan diri dari cumbuan Herlan yang bernafsu.

“Aaah.. kamu ganteng sekali… Oom suka sama kamu…” gumam Herlan.

Tiba-tiba Herlan menghentikan gerakannya. Dia bangkit dan kembali pada posisi duduknya. Dengan cekatan dia membuka kaitan celana dan risletingnya hingga penisnya terlihat. Dia melakukan itu sambil menatap nanar wajah Bhayu. Bhayu bergidik melihat penis Herlan. Dia sepertinya tahu apa yang diinginkan pria itu.

“Isap!” perintah Herlan.

Bhayu menggeleng jijik. Tubuhnya menjauh dari Herlan. Dan sekali lagi tamparan cukup keras menerpa wajah Bhayu.

“Isap!” ujar Herlan parau sambil menarik rambut Bhayu agar kepalanya mendekat ke arah selangkangannya. Bhayu mencoba memberontak namun tekanan tangan Herlan yang cukup kuat membuat wajahnya menekan penis Herlan.

Bhayu mulai terisak. Air matanya meleleh.

“Buka mulutnya.. ayo buka mulut kamu…” kata Herlan gemas sambil menjambak rambut Bhayu hingga remaja itu mengaduh kesakitan. Tak ada pilihan lain bagi Bhayu selain menurut. Dia membuka mulutnya, berusaha memasukkan penis Herlan ke dalam mulutnya. Susah payah dia melakukan itu. Teringat kembali dirinya pernah mendapat servis oral dari Harrel dan tampaknya dia menikmatinya. Tapi Bhayu merasa dirinya bukan homo seperti Harrel. Dia belum pernah tertarik mengisap penis pria lain seumur hidupnya. Mungkin Harrel melakukannya karena dia memang menyukai aktivitas itu. Tapi dalam paksaan dan tekanan seperti ini, apalagi Bhayu baru melakukannya kali ini, harus mengisap penis orang sungguh suatu siksaan bagi Bhayu. Diam-diam dia mengutuk orang-orang seperti Herlan, orang-orang seperti Harrel, yang dianggapnya selalu mencari cara untuk memanfaatkan tubuhnya.

“Isap yang benar…!! Gak usah nangis!” hardik Herlan saat dirasanya Bhayu ragu-ragu mengisap penisnya. Dengan penuh keterpaksaan Bhayu menuruti kehendak Herlan. Susah payah dia mencoba membiarkan penis Herlan berada di dalam mulutnya. Gemas karena Bhayu tak bisa membuatnya merasa enak, Herlan menekan kepala Bhayu dan memeganginya sementara pinggangnya dia gerak-gerakan hingga penisnya keluar masuk mulut Bhayu. Wajah Bhayu memerah kehabisan nafas tersedak oleh gerakan Herlan yang memaksanya melahap habis penisnya. Setelah beberapa lama dan menyadari Bhayu hampir tak bernafas, Herlan menarik rambut Bhayu dan membiarkannya menghirup oksigen sambil terbatuk-batuk dan terengah-engah. Ada senyum kepuasan Herlan melihat wajah Bhayu yang merah dan basah oleh air mata dibuat tak berdaya olehnya.

Tak berapa lama, setelah dirasakan Herlan bahwa Bhayu cukup menghirup nafas, Herlan mendorong kembali kepala Bhayu. Kali ini terdengar pekikan tertahan Bhayu sambil tangannya meronta-ronta meraih apapun termasuk memukul-mukul tubuh Herlan saat mulutnya kembali dijejali penis Herlan hingga kesulitan bernafas. Namun Herlan tak memedulikan Bhayu yang meronta-ronta. Dia ingin dipuaskan, penisnya yang sudah tegang siap memuntahkan isinya ke dalam mulut remaja tampan itu. Herlan memejamkan mata, mengabaikan tangan Bhayu yang memukul-mukul dadanya. Sekuat tenaga dia menahan kepala Bhayu di atas pahanya, menekan wajah pemuda itu kuat-kuat. Tubuh Herlan gemetar, pahanya terbuka semakin lebar. Punggungnya melengkung dan seiring dengan erangan tertahan penuh kenikmatan, penis Herlan memuntahkan cairan hangat ke dalam mulut Bhayu. Bhayu yang semakin panik antara kehabisan nafas dan tak ingin menelan sperma milik Herlan, mencoba melawan. Tangannya akhirnya berhasil mencakar wajah Herlan. Usahanya itu makin membuat Herlan marah. Dia kembali menekan wajah Bhayu hingga dia nyaris pingsan.

Penantian Herlan selama berhari-hari, seluruh fantasi seksualnya kepada anak itu yang terus menerus dia bayangkan sejak bertemu, akhirnya terlaksana. Herlan kemudian bermurah hati melepaskan kepala Bhayu menyebabkan dirinya berusaha memuntahkan sperma Herlan yang telanjur masuk ke dalam kerongkongannya. Bhayu tersengal-sengal, wajahnya merah dan basah oleh keringat dan air mata. Dia terbatuk-batuk mengerikan dan akhirnya muntah di dalam mobil Herlan.

“Bocah kurang ajar! muntah sembarangan!” raung Herlan. Dia memukul kasar bahu Bhayu hingga anak itu mengaduh kesakitan dan meringkuk di jok mobil sebelah Herlan sambil menangis. Kemudian Herlan membuka kunci mobil dan menarik tuas pintu mobil pada sisi Bhayu dan menyuruhnya keluar.

“Keluar! ingat ya! jangan bilang siapa-siapa! dan ini bukan yang terakhir! anggap saja ini pemanasan!” ancam Herlan lalu tertawa puas mengejek.

Perlahan Bhayu keluar dari mobil Herlan sambil memungut kemejanya yang kusut. Herlan yang tak sabaran mendorong Bhayu keluar dan melemparkan ransel Bhayu ke tanah sebelum menutup pintu mobilnya kembali. Herlan memeriksa wajahnya yang sedikit luka oleh cakaran Bhayu sambil mendecak kesal. Kemudian dia memacu mobilnya meninggalkan Bhayu yang terduduk sambil terisak di dekat pohon tak jauh dari mobil Herlan tadi terparkir.

****

Advertisements
Comments
  1. arif says:

    menunggu adegan bondage.

  2. andrew says:

    Terlalu singkat sih. Agak dipercepat postingan nya. Geram sama Herlan.. Agak jijik

  3. bink says:

    lebih setuju bila d ekspose cerita antara bhayu dan harrel sja..

  4. Fry Ha says:

    Utk cerita yg ini kliatannya gk dapet deh bg Remmy..Yaa mngkn bagian dri variasi,tpi pas baca,yg ada mlh gk pengen baca smpe abis..hehee..*aku jga skip bag merantau yg Ruslan dipaksa Alfin

  5. santos says:

    4👍 deh.. bgs banget.. ditunggu lanjutannya ya 😊

  6. anda says:

    Dibikin orgy nya ya herlan, bhayu, mas bima, harrel…

  7. lima says:

    Ga suka sama cerita kali ini, si bapaknya imel ini ga jelas wataknya.. Di kiki farel dia ga sadist tp disini kok sadist? Kasian juga bhayu-nya.. Alangkah bagusnya kalo cerita bhayu lebi cocok dia sama harrel. Misalnya Harrel berhasil bengkokin si gayindeniled nya si Bhayu..

  8. delvyn says:

    Huuuuaaahhhh kenapa ga ngelawan herlan??? Ga setuju bayu diginiin

  9. Nando sama ruslan di ekspose juga boleh kk . Walaupun mereka sodara kandung tapi kan nando belum tahu bahwa ruslan saudara kandungnya

  10. aNcis stm ende says:

    ini nmax pemerkosa’an npa nda d lprn ma imelx ja spy bokapx tau rsa’…..,…….
    Memang dsr homo ya mwx sex sejns mulu —-
    bru pkai pks’an lg…..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s