KARTU MEMORI – CHAPTER 4A

Posted: January 4, 2014 in Kartu Memory - The Series I

1526111_1821087324696854_1935686276_nCerita sebelumnya: Harrel berusaha mendekati Bhayu, siswa tampan dan jago olahraga di sekolahnya. Setelah berhasil mendekati Bhayu sebagai teman, dan Bhayu membiarkan Harrel melakukan seks oral padanya, Bhayu menghadapi masalah baru: Diancam oleh seseorang yang memilik foto telanjangnya. Akankah hal ini berimbas pada hubungan Harrel dan Bhayu yang sudah makin dekat?

ADA gosip baru di sekolah! Yah, walaupun sebenarnya aku bukanlah termasuk orang yang selalu ingin tahu mengenai masalah orang lain, kali ini gosip yang beredar mengenai hubungan Bhayu dan Imel. Mau tak mau, aku tertarik untuk mengetahuinya. Rumor yang beredar sih, katanya Bhayu mulai menjauhi Imel. Pasangan paling diidolakan di sekolah ini (yang cowok tampan, yang cewek cantik luar biasa) kini dikabarkan sedang renggang. Tak pernah lagi terlihat Bhayu dan Imel pulang bersama-sama. Keduanya malahan terlihat sering berjalan sendiri-sendiri di sekolah.

Entah ada hubungannya atau tidak, sepertinya kerenggangan hubungan asmara Bhayu dan Imel memengaruhi sikap Bhayu belakangan ini. Sejak belajar bersama di rumahnya, Bhayu belum pernah lagi menyapaku. Memang sih, mungkin dia gengsi karena dulu Bhayu terkenal suka sekali membully aku di sekolah. Kalau tiba-tiba dia terlihat akrab denganku, mungkin reputasinya akan jatuh dan dirinya menjadi bahan tertawaan teman-teman ‘keren’ nya. Tapi ini lain. Bhayu bahkan sepertinya enggan menatap mataku bila berpapasan. Seringkali aku mencoba memancingnya di kelas dengan cara meliriknya saat pelajaran, namun Bhayu nampak sekuat tenaga berusaha tak merespon balik untuk menatapku.

Pernah juga aku mencoba menarik perhatiannya, (sebenarnya aku kangen dengan marah-marahnya Bhayu. Buatku, dia tetap tampan walau matanya melotot-lotot dan suaranya meninggi) dengan cara melempar pensil ke arahnya yang sedang asyik menulis. Tapi dia tak membalas. Malahan Diaz dan Hanif yang membantu ‘raja’ mereka balas menimpuk aku dengan lima bolpoin sekaligus.

Bukan cuma itu. Sepertinya masalah mereka berdua berimbas pada permainan basket Bhayu. Kelihatan sekali di lapangan dia tidak fokus dan bermain sangat buruk sehingga dia didamprat langsung di tengah-tengah permainan oleh pelatih. Bukannya menerima teguran dengan lapang dada, Bhayu malah meninggalkan lapangan begitu saja. Sontak seluruh penonton berteriak riuh mengejek Bhayu. Untung saja saat itu hanya pertandingan pemanasan sebelum musim kompetisi dimulai. Tapi tetap saja tingkah Bhayu membuat kecewa banyak pengagumnya. Berbagai spekulasi merebak di kalangan siswa penikmat gosip. Apakah ini akibat hubungan Bhayu bermasalah dengan Imel? Apakah si jago basket mulai kehilangan kemampuannya?

Aku bahkan sempat menghardik dua siswi adik kelasku yang juga ikut bergosip mengenai Bhayu dan Imel serta mulai menduga-duga penyebab rengangnya hubungan mereka.

“Kenapa ya Kak Bhayu sama Kak Imel? apa mungkin gara-gara mereka mau putus makanya Kak Bhayu enggak jago lagi di lapangan basket?” kata siswi rambut panjang kepada temannya si siswi berambut ikal. Mereka berdua mengabaikan aku yang sedang duduk membaca di bangku taman sekolah tak jauh dari mereka.

“Padahal Kak Bhayu sama Kak Imel itu pasangan yang so sweet banget! kemana-mana berdua. So sweeeeeeeeet!” kata siswi berambut ikal itu dengan nada gemas.

“Kira-kira kenapa ya? apa mungkin Kak Bhayu ketahuan selingkuh sama Kak Imel, terus Kak Bhayu mau diputusin?” kata si rambut lurus mulai menduga-duga.

BRAK! aku menutup buku yang sedang kubaca dengan keras hingga kedua siswa itu terkejut dan menatapku. Terus terang aku merasa tersinggung karena secara teknis Bhayu memang terlah berselingkuh denganku.

“Hei kalian! ngegosip aja kerjaannya! sana masuk ke kelas!” aku berkata galak pada mereka.

Kedua siswi itu buru-buru bangun dan pamit. “I..iya kak! maaf kak..”

Aku menghela nafas.

****

Gosip makin santer terdengar saat seseorang bersumpah telah melihat Imel menampar Bhayu di luar sekolah. Dari berita yang beredar, justru Bhayulah yang memutuskan Imel terlebih dahulu. Setelah menampar Bhayu, Imel menangis hingga harus ditenangkan oleh sahabat-sahabatnya. Remaja zaman sekarang sepertinya kebanyakan nonton FTV! aku mengeluh dalam hati.

Imbas peristiwa itu, mungkin, berpengaruh pada konsentrasi belajar Bhayu di kelas. Aku perhatikan Bhayu seperti hilang semangat untuk belajar. Dirinya lebih suka mencoret-coret buku catatannya. Padahal ini tidak main-main! Ada Ujian Nasional yang harus kami hadapi sebagai penentu lulus tidaknya kami dari sekolah. Apalagi pada pelajaran Fisika. Bhayu seperti mayat hidup saja tingkahnya. Aku tahu, dia lemah di  pelajaran Fisika. Masalah yang menimpanya memperparah konsentrasi belajarnya pada pelajaran tersebut. Ini tak  bisa dibiarkan! aku peduli pada Bhayu. Akan kubantu dia semampuku.

Kebetulan aku memilik banyak soal-soal ujian tahun-tahun lalu yang sudah kukerjakan. Aku berbaik hati mengkopinya untuk kuserahkan pada Bhayu sebagai bahan belajar. Setelah kurapikan lembaran-lembaran kertas kopian soal yang hendak kuserahkan pada Bhayu, aku memberanikan diri menghampirinya yang sedang duduk di depan kelas saat istirahat. Di dekatnya, seperti biasa ada dua dayang setianya, Hanif dan Diaz.

“Bhay, gue ada soal-soal ujian Fisika tahun-tahun kemarin. Gue copy-in buat elo, sekalian jawabannya. Lumayan kan buat belajar?” aku berkata sambil berdiri di hadapan Bhayu dan menyerahkan tumpukan kertas soal-soal latihan itu kepadanya.

Bhayu tak menjawab. Dia menatap mataku sambil menerima tumpukan kertas itu dari tanganku. Bhayu lalu bergantian menatap dua sahabatnya yang ikut terdiam. Tiba-tiba Bhayu bangkit dari duduknya. Wajahnya berubah garang. Dengan gemas dia menggulung kertas yang dipegangnnya lalu mulai menggunakannya untuk memukuliku.

“DASAR BANCI! HOMO! MASIH BERANI ELO NGEDEKETIN GUE, HAH?!” teriaknya.

Aku mengaduh kesakitan saat tubuhku tak bersiap diri menghadapi serangan Bhayu yang tiba-tiba. Penuh amarah Bhayu memukuliku dengan gulungan kertas itu pada kepalaku keras-keras. Bukan itu saja, bagian tubuhku yang lainpun terkena pukulannya bertubi-tubi. Rasa perih kurasakan di sekujur tubuhku yang terkena pukulan Bhayu. Pipiku pun tak luput dari serangannya hingga terasa pedih.

“Ampun Bhay! Ampun!” teriakku sambil berusaha melindungi wajahku dari pukulan Bhayu dan membuatku terhuyung ke belakang nyaris jatuh.

Hanif dan Diaz awalnya menertawaiku yang tak berdaya disiksa oleh Bhayu. Tapi Bhayu sepertinya benar-benar kalap dan gelap mata tak seperti biasanya. Dia terus berteriak menyumpahiku hingga siswa lain berkerumun di dekat kami semua dan memandang ngeri perbuatan Bhayu.

“Dasar homo! jauh-jauh luh! JAUH-JAUH!” raung Bhayu sambil terus memukuliku yang sudah meringkuk di lantai sekolah sambil tetap melindungi kepalaku. Kertas yang dipegang Bhayu bertebaran. Melihat gelagat kurang baik, Hanif dan Diaz menarik lengan Bhayu mencoba menjauhi dirinya dariku.

“Udah Bhay.. udah… nanti elo dikeluarin dari sekolah..” ujar Diaz khawatir sambil memegangi lengan Bhayu.

Dengan umpatan dan lemparan terakhir, Bhayu membuang gulungan kertas itu ke wajahku sambil terus berteriak. Aku gemetar sambil menangis di antara sebaran kertas kusut yang dilempar Bhayu. Aku tak berani mengangkat kepalaku yang sedang berjongkok di lantai. Air mataku meleleh. Sakit yang kurasakan di badan tak sebanding dengan sakit di dalam hati ini karena hinaan Bhayu.

****

Buntut peristiwa itu adalah kami berdua dipanggil ke ruang guru BP. Di depan guru BP yang terkenal galak dengan kumisnya yang tebal itu, aku dan Bhayu sama-sama menunduk.

“Jadi tidak ada yang mau cerita kenapa kalian sampai berkelahi, hah?” tanya guru BP sambil memandangi kami berdua bergantian.

Kulihat Bhayu terdiam. Wajahnya masih menahan kekesalan walau entah mengapa matanya seperti kosong dan tenggelam dalam kesedihan. Mukanya memerah dan nafasnya masih berupa dengusan-dengusan pendek kekesalan.

“Bhayu! perbuatan kamu itu bisa dikategorikan sebagai bullying! kamu tahu sendiri kan? sekolah tidak mentolerir tindakan penganiayaan macam apapun di sini!” raung guru BP sambil memelototi Bhayu.

Bhayu tak merespon.

“Kamu juga! apa yang kamu bikin sampai Bhayu kalap begitu, hah?!” hardik guru BP gantian memelototiku.

Aku tak menjawab. Terus terang akupun tak mengerti mengapa Bhayu bersikap demikian. Padahal kukira hubungan kami sudah berangsur membaik dan Bhayu sepertinya menerimaku menjadi temannya. Ada kesedihan tak dapat kubendung menjalar di dadaku. Tak menyangka Bhayu setega itu menghinaku. Bahkan ini Lebih parah dari pada saat sebelum pertemanan kami menjadi akrab.

Guru BP menghela nafas. Dia bersandar pada kursinya dan berbicara dengan nada yang mulai melunak.

“Baik.. kalau kalian tidak mau bicara. Bhayu, kamu adalah siswa dengan prestasi gemilang dalam bidang olahraga. Prestasi akademis kamu juga bagus. Harrel! saya bangga dengan kamu yang selalu memenangkan medali emas pada perlombaan Fisika… Terus terang, kalian adalah siswa kebanggaan sekolah ini dan diharapkan menjadi contoh teladan untuk murid-murid lain, mengerti?! Bapak kecewa… kalau kalian tidak dihukum, maka sekolah akan dianggap pilih kasih,” kata guru BP. Kemudian dia terdiam agak lama.

“Setelah jam pelajaran usai, kalian bapak hukum BERDIRI DI LAPANGAN SELAMA DUA JAM! MENGERTI?!” ujar guru BP galak.

Aku dan Bhayu mengangguk pasrah.

“Kembali ke kelas!” perintah guru BP kesal sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

****

Sialnya, matahari jam tiga sore ternyata masih bersinar dengan terik. Aku berdiri menahan panas bersama Bhayu di tengah lapangan. Siswa lain yang sedang berjalan pulang menonton kami berdua yang sedang dihukum. Beberapa dari mereka mengolok-olok kami sambil tertawa. Ekspresi Bhayu masih tetap sama. Penuh amarah, tanpa mau menatapku. Wajahnya memerah berkeringat kepanasan, begitu pula denganku.

Aku menunduk. Kuberanikan diriku untuk bertanya pada Bhayu.

“Elo kenapa sih, Bhay? gue pikir kita udah berteman…” ucapku lirih.

Bhayu tak menjawab. Dia melengos membuang muka.

“Bhay…” panggilku pelan.

“Diem lu homo! Lebih bagus kalau homo kayak elu mati!” balas Bhayu dingin. Nadanya penuh dengan kebencian.

Aku sudah putus asa menghadapi sikap Bhayu yang sedingin balok es. Andai saja aku tak mulai menyukaimu Bhay, mungkin rasa pedih yang kurasakan sekarang tak akan terasa sesakit ini. Perlahan kuusap air yang meleleh dari sebelah mataku.

****












NOTE: Bagian ini enggak ada esek-eseknya :-*

Advertisements
Comments
  1. anda says:

    yaudah deh, esek-esek sendiri :-*

  2. arif says:

    aiih.. kentang. kurang panjang..

  3. farhad says:

    aih nanggung banget, jadi makin penasaran :’3

  4. Fry Ha says:

    yup..gpp gk ada esek@nya..tpi intriknya lbh dapet drpd m.m.s
    yaa mski klo gk ada m.m.s,crita ini gk akan ada 🙂

  5. abi awan says:

    Cerita nya makin keren, bagus. (Y) (Y) (Y)

    Jangan lama2 ya min updatan nya. :*

  6. delvyn says:

    Kereeennnnnnn……… Jangan lama-lama ya bang remy lanjutannya gpp g ada esek2 juga yang penting akhirnya bahagia

  7. Arnold says:

    Gak terima kalo bhayu sama om harrel 😐 =D

  8. Rifqi says:

    Ya ampuuuun…aku merana
    tulisan bersambungnya gak ada
    bikin hatiku tiba tiba hampa
    karna cerita ini abis sambungannya…kkkk~

    Pendeeeek…. hiks hiks….

  9. Andde Andde Lummut Komentator Abal2 dan Bowo juga Dufei Komentator Ecek2 says:

    what? Mau yg panjang…

  10. arif says:

    om Harrel?

    yg ada Harrel dan om Herlan.

    om Harrel itu semacam fusion mereka berdua kali ya?

  11. dick_dick says:

    hmmm…. Ada drama-drama nya… tambah seru… Ditunggu….

  12. Mayer says:

    Nulisnya tiap hari donk!!!!! brave

  13. iyan says:

    makin keren aja ceritanya, di tunggu kelanjutannya……..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s