KARTU MEMORI – CHAPTER 3B

Posted: December 25, 2013 in Kartu Memory - The Series I

1458601_470306706420173_2124493907_nPADAHAL hanya sepuluh menit lamanya perjalanan antara tempat kami berteduh dari hujan tadi ke rumah Bhayu. Tetapi, rasa kegembiraan karena perhatian Bhayu dan diperbolehkannya aku menyelipkan tangan ke dalam jaketnya agar lebih hangat, membuat perjalanan di atas motor itu terasa sangat lama.

“Ayo cepet masuk!” perintah Bhayu sesaat setelah dia menghentikan motornya di depan teras rumah.

Aku buru-buru mencabut tanganku dari dalam saku jaketnya dan turun dari motor. Telapak tanganku tak lagi terasa terlalu kedinginan.

“Langsung ke kamar gue aja di atas!” ajak Bhayu lagi.

Aku mengangguk dan mengikuti Bhayu yang berjalan di depanku.

“Siapa, Bhay? teman kamu? kok basah kuyup begitu?” tanya seorang wanita jangkung cantik sambil menghampiri kami di ruang tamu.

“Temen sekelas Ma! Kita mau kerjain tugas sekolah sama-sama, tapi malah kehujanan,” jelas Bhayu.

Aku menghampiri wanita yang ternyata Mamanya Bhayu itu dan mencium tangannya. Ah, calon mama mertua, pikirku dalam hati sambil tertawa.

“Aduuuh… nanti kamu sakit, lagi. Cepat Bhay, suruh dia ganti baju, Mama siapin dulu minuman hangat buat teman kamu,” kata Mama Bhayu sambil buru-buru menghilang ke dapur.

Aku dan Bhayu naik ke lantai dua. Akhirnya aku bisa melihat kamar Bhayu. Kamarnya sangat terkesan sporty. Beberapa penghargaan di bidang olah raga menghiasi meja belajar dan dindingnya. Poster beberapa band terkenal juga menghiasi dinding kamarnya. Tapi yang membuat aku gemas adalah foto Bhayu ketika masih SD. Terlihat chubby dan menggemaskan.

PLUK! sebuah handuk mendarat tepat di kepalaku yang sedang berdiri memandangi foto-foto Bhayu di dinding. Aku menoleh sebentar pada Bhayu dan mulai menggosok-gosok rambutku yang basah hingga daerah leher.

Bhayu datang lagi. Dia kemudian menyerahkan lagi kaus biru dan celana pendek padaku. Aku menerimanya dan meletakkannya di atas sebuah kursi.

“Cepet ganti baju!” perintah Bhayu.

Aku terkesiap saat Bhayu membuka kausnya yang juga basah walau tak sekuyup pakaianku. Dia cuek saja bertelanjang dada memunggungiku. Saat dia hendak mengganti celananya, Bhayu menyadari diriku memerhatikannya. Aku takut setengah mati saat dia berbalik dan menatapku. Kukira dia akan membentak aku seperti biasanya dengan ucapan “Homo!” atau sejenisnya. Tapi kali ini Bhayu tak bereaksi. Dia hanya melihatku sebentar, lalu meneruskan berganti pakaian. Aku pun cepat-cepat mengganti pakaianku dan membelakanginya. Ah, Sial! celana dalamku juga basah. Bhayu tidak memberikan celana dalam padaku dan kaus dan celana pendek yang dia pinjamkan agak kebesaran dan sepertinya akan kesulitan menyembunyikan penisku apabila tiba-tiba menegang.

“Eh, Ehm..” Aku berdeham untuk mengurai kegugupan.

“Gimana? masih kedinginan? itu baju basah elo taro aja di keranjang. Pulang bungkus plastik,” kata Bhayu saat melihatku masih memegang pakaian basah milikku.

“Oh.. Oh, iya..” Segera aku letakkan baju itu di keranjang yang ditunjuk Bhayu.

Aku menghirup wangi kaus yang diberikan Bhayu. Enak. Walaupun wanginya seperti wangi pelembut pakaian biasa, entah aku yang berkhayal atau memang kenyataan, kalau aku bisa mencium aroma Bhayu masih menempel di kaus itu. Dan aku seperti dipeluk olehnya. Ihiy!

“Ayo mulai!” kata Bhayu.

“Mu.. mulai apa ya?” tanyaku bingung. Pikiranku sedang mesum melihat Bhayu memakai kaus tanpa lengan dan celana pendek sehingga berpikir dia menyuruhku untuk memberikan servis oral padanya.

“Belajarnya lah! dasar Homo otak mesum! pasti elo suka ya ngeliatin gue telanjang!” bentak Bhayu.

Mulai lagi deh caciannya, aku membatin.

“Iya lah Bhay. Lagian udah tau ada homo di kamar elo, kok cuek aja ganti baju?” ujarku santai sambil mengeluarkan buku-buku Fisika dari dalam tasku.

Bhayu terdiam.

“Udah! enggak usah banyak omong!” hardiknya.

Aku diam-diam menahan tawa melihat wajahnya yang bersemu merah karena tak bisa membalas sindiranku.

“Bhay… Bhayu…” suara Mama Bhayu terdengar dari luar kamar.

Bhayu beranjak menuju pintu kamar dan membukanya. Mama Bhayu sudah berdiri membawa nampan berisi dua cangkir minuman panas, dan hmm… chicken wings goreng buat camilan.

“Bhay, mama pergi belanja dulu ya? mumpung hujan udah reda. Kamu enggak ke mana-mana kan?” tanya Mama Bhayu sambil menyerahkan nampan itu pada anaknya.

“Enggak Mam, kita di sini aja,” ujar Bhayu.

“Kalau begitu, mama tinggal dulu ya? Oh iya.. itu temannya Bhayu, diminum ya teh nya biar enggak kedinginan. Tante tinggal dulu,” ujar Mama Bhayu padaku.

“Iya Tante! makasih…” balasku ramah.

Bhayu menutup pintu kamarnya dan meletakkan nampan itu di meja kecil yang disiapkan oleh Bhayu di atas karpet tebal tempat kami belajar.

“Minum dulu Rel!” perintah Bhayu.

Aku pun meneguk beberapa kali teh hangat buatan Mama Bhayu dan membuat badanku terasa jauh lebih enak. Bhayu rupanya sangat serius ingin belajar. Dia bersikeras tidak ingin mencontek jawaban soal yang tidak bisa dia kerjakan dariku. Padahal aku tak keberatan dia mencontek hasil pekerjaanku. Bhayu lebih suka mendengarkan penjelasanku bagaimana caranya mengerjakan soal itu dan menunjukkan rumusnya di buku, lalu dia mengerjakannya sendiri. Lumayan. Setelah hampir satu jam dia berkutat mengerjakan sepuluh soal yang belum dia kerjakan dan bolak-balik membuka buku pelajaran Fisikanya, dia berhasil mengerjakan delapan soal dengan benar.

“Lumayan, Bhay. Yang dua lagi juga sebenernya enggak salah banget. Ada rumus yang enggak elo pake buat hitungan awalnya,” kataku sambil melingkari jawaban dia.

“Yakin?? pede banget lo kalau jawaban elo betul semua?” sindir Bhayu sambil terkekeh.

“Mau taruhan?” tantangku.

Bhayu langsung menggeleng dan tertawa sambil mengangkat tangannya, “Ampun.. gue enggak berani. Hahaha..”

Aku ikut terkekeh. Kemudian aku membereskan buku-buku pelajaranku dan hendak kumasukkan ke dalam tas kembali. Tapi tak lama kemudian aku tersadar. Bhayu ternyata lama terdiam dan kudapati sedang memerhatikanku.

“Kenapa Bhay?” tanyaku gugup.

“Bibir kamu kayak cewek ya? pantesan aja jadi homo…” gumam Bhayu pelan. Tapi tak ada sama sekali nada cemoohan dari ucapannya.

Aku meraih sebuah bantal kecil berbentuk hati yang kuduga pemberian Imel pacarnya karena tertulis nama mereka berdua di situ. Kemudian aku meletakkan bantal itu sedemikian rupa pada wajahku hingga yang terlihat hanyalah bagian mulutku saja. Aku tak bisa melihat Bhayu saat bantal itu menutup mataku.

“Berarti kalau cuma bibir aja yang kelihatan, misalnya ada cowok yang nyium gue enggak akan bisa bedain dong, bibir cewek apa co…”

Kalimatku terhenti ketika tiba-tiba kurasakan hembusan nafas dan benda lembut menekan bibirku. Tubuhku seperti tersengat aliran listrik dan membuat tanganku yang memegang bantal kecil itu mendadak lemas dan menjatuhkannya. Jantungku bergemuruh kencang seperti sorak-sorai penonton di sebuah stadion yang sedang menonton pertandingan sepak bola ketika akhirnya bantal itu terjatuh dan membuka wajahku. Kulihat wajah Bhayu sangat dekat di depan wajahku. Dia memejamkan matanya, dan membiarkan bibirnya menekan bibirku lama sekali…

Bhayu membuka matanya dan langsung terlonjak. Sadar apa yang baru saja dia lakukan, Bhayu langsung merasa salah tingkah dan berdiri dengan gugup.

“Eh, ehm.. itu.. Rel.. MAKAN DONG CHICKEN WINGSNYA! UDAH CAPEK-CAPEK NYOKAP GUE MASAKKIN!!!” bentak Bhayu tiba-tiba. Aku tahu, dia mencoba mengalihkan kenyataan bahwa dirinya sudah menciumku tadi.

“Bhay…” panggilku lembut.

“APA??!” hardik Bhayu.

“Ngajarin itu enggak gratis loh.. katanya mau tunjukin koleksi bokep elo yang ada di kartu memori..”

Bhayu sejenak salah tingkah. Dia kemudian menggaruk-garuk kepalanya dan mencari ponselnya di atas meja. Setelah ketemu, dia duduk bersila di sebelahku dan mulai mencari-cari folder tempat dia menyimpan koleksi video porno.

Aku sedikit cemburu melihat wallpaper ponsel Bhayu yang memajang kemesraan Bhayu dan Imel di situ. Tapi aku berusaha bersikap tenang.

“Emang elo suka? kan bokepnya cowok ama cewek!” sindir Bhayu lagi.

“Kan ada cowoknya Bhay…” ujarku kalem.

Bhayu tak menjawab. Dia kemudian memilihkan salah satu video dan memutarnya.

“Gue suka yang ini. Toket ceweknya gede…” kata Bhayu sambil terkekeh.

“Punya cowoknya juga gede,” kataku.

“Hih… homo…” kata Bhayu sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

Kemudian kami sama-sama terdiam dan menonton video porno itu.

Sungguh! pemain bokep pria itu memang membuatku terangsang.Β  Aku melihat penisku menegang dan celana pendek pinjaman dari Bhayu tak bisa menyembunyikannya.

Bhayu melirik ke arah selangkanganku dan menahan tawa. “Buseet.. elo ngaceng, Rel??” tanya Bhayu.

“Kayak elo enggak ngaceng aja,” sindirku sambil menunjuk selangkangannya. Bhayu terdiam.

Aku tak tahan. Walau ada Bhayu di situ, aku menurunkan celana pendekku lalu mengeluarkan penis dan mulai mengocoknya.

“Heh! heh! ngocok sembarangan di kamar orang!” protes Bhayu.

“Mending dikeluarin kalo udah ngaceng gini. Elo keluarin juga gih!” ujarku sambil mengocok penis tegangku perlahan-lahan.

Bhayu berpikir sejenak. Lalu dia meletakan ponselnya di meja dan membuatnya berdiri sehingga kami bisa melihatnya tanpa harus memegangi ponsel tersebut.

Aku melirik Bhayu saat dia menurunkan celana pendeknya juga dan mengeluarkan penisnya. Penis yang sudah dua kali mengeluarkan spermanya oleh servis oralku di gang belakang sekolah. Bhayu awalnya sedikit ragu. Namun akhirnya dia mengikutiku bermasturbasi sambil menonton film porno.

Aku mengalihkan pandanganku pada Bhayu yang asyik mengocok penisnya. Wajahnya yang menahan kenikmatan terlihat sangat tampan buatku. Lalu aku menawarkan diri untuk mengganti tangannya dengan mulutku dengan cara menundukkan badanku dan mendekatkan wajahku pada selangkangannya.

Mengerti niatku, Bhayu melepaskan penisnya yang berdiri tegak itu dari siksaan telapak tangannya dan membiarkan mulutku yang terbuka memasukkan sedikit demi sedikit batang penisnya.

“Aaaahhh…..” desah Bhayu saat seluruh batang penisnya berhasil masuk dan kukulum dalam mulutku.

Bhayu tak peduli lagi pada film porno yang sedang berlangsung. Dia merebahkan punggungnya di atas karpet dan mulai menikmati cumbuan mulutku pada penisnya.

“Hhh… hhh… hhh…” erangnya.

Tiba-tiba Bhayu menghentikan gerakannya. Aku sedikit kecewa karena kupikir Bhayu tak menyukai servisku. Tapi ternyata Bhayu menginginkan hal lain. Dia bangun lalu mendorong tubuhku hingga telentang di atas karpet.

“Bhay?” tanyaku bingung.

Bhayu tak menjawab. Dia malahan memposisikan tubuhnya di atasku. Kedua kakinya memaksa pahaku untuk membuka. Dia melepas kausnya lalu mulai menggunakan penisnya untuk menekan penisku.

“Rel… pura-puranya elo jadi cewek, ya?” pintanya.

Aku tak mengerti keingingan Bhayu tapi mengiyakannya dengan anggukan setuju.

Bhayu melepas kausku. Jantungku berdegup semakin kencang melihat tubuh atletis Bhayu berada di atasku. Kedua puting indah miliknya benar-benar dekat denganku namun aku tak berani untuk meraihnya.

Bhayu kemudian menindihku. Kedua tangannya memegangi pergelangan tanganku dan penis tegangnya yang menekan penisku mulai bergerak-gerak menekan, menggesek penisku seiring dengan goyangan pinggulnya.

“Bhay….” desisku keenakan. Bhayu tak merespon. Dia memejamkan matanya dan terus menggoyangkan pinggulnya seolah sedang melakukan penetrasi pada vagina namun yang terjadi adalah dia sedang menekan-nekan nikmat penisnya pada penisku berulang-ulang.

“Bhaaaay… enak…” aku merintih. Tubuhku terasa ingin memberontak. Aku ingin juga ikut serta dalam permainan Bhayu dengan cara mengisap putingnya, meraba tubuhnya, menjilat ketiaknya yang seksi, apapun! tapi Bhayu tak mengizinkanku. Dia menguasai permainan ini dengan menahan lenganku kuat-kuat hingga aku tak berdaya. Kulihat Bhayu menggigit bibirnya dan mempercepat gerakan pinggulnya hingga kurasakan perutnya yang rata menggosok perutku serta rambut kemaluannya terasa makin menggelitik kulit di daerah selangkanganku.

Kudengar Bhayu mulai mendesah. Nafasnya terdengar berat. Gerakan pinggulnya semakin cepat. Aku melebarkan pahaku agar Bhayu lebih leluasa bergerak seolah sedang memperkosaku di ranjang. Berkali-kali aku hanya sanggup memanggil namanya dan terus mengerang ditindih oleh Bhayu hingga aku merasa tak tahan lagi. Seluruh sperma pada penisku yang beradu dengan penis Bhayu sudah terasa ingin dimuntahkan. Aku khawatir. Takut apabila aku keluar lebih dulu, lelehan spermaku yang akan mengenai dirinya membuat Bhayu menjadi gusar dan menghentikan permainan. Tapi aku tak kuat lagi untuk menahannya.

“Bhay… gue mau keluar…” erangku sambil melengkungkan punggungku dan masih berusaha melepaskan cengkeraman tangan Bhayu pada pergelangan tanganku.

Bhayu tak menjawab. Dia semakin cepat menggoyang pinggangnya untuk membuat penisnya makin kuat menekan penisku.

“Akkkh…” aku mengerang saat penisku memuntahkan isinya. Cairan putih itu membasahi perut hingga dadaku, dan terus saja meleleh pula mengenai penis Bhayu. Tubuhku gemetar dan lemas, namun sekuat tenaga masih kuladeni nafsu Bhayu yang masih asyik menindih tubuhku.

Bhayu tak bereaksi, dia sendiri semakin cepat dan ganas bergerak. Kudengar dia memekik pelan dan dengan tiga hujaman terakhir, Bhayu menyusul memuntahkan cairan spermanya hingga bercampur dengan spermaku dan makin membasahi tubuh kami berdua hingga lengket.

“Ooouuuhh…” keluh Bhayu. Tubuhnya gemetar dan akhirnya menjatuhkan dirinya pada tubuhku sambil terengah-engah. Wajahnya dia palingkan dan tak mau melihatku seperti tadi saat menindihku.

Bhayu kemudian bangkit dan berjalan menuju toilet tanpa menoleh kepadaku. Aku duduk dan memegangi lenganku yang sakit akibat dicengkeram oleh Bhayu. Dengan tubuh kelelahan, perlahan kuambil tissue dari dalam tasku dan berusaha membersihkan spermaku yang bercampur dengan sperma Bhayu pada perut dan dadaku sebelum aku membersihkannya lebih lanjut di kamar mandi setelah Bhayu selesai.

Saat kami selesai berpakaian, tak satu patah katapun komentar keluar dari mulut kami berdua. Bhayu seolah enggan membahasnya lebih lanjut. Dia kemudian merapikan bukunya dan bertanya padaku. “Udah mau pulang kan? gue anter ya?”

“Ehm, enggak usah Bhay, biar gue pulang sendiri,” kataku merasa tak enak.

“Gue anter aja. Kasihan elo repot bawa tas sama baju basah gitu,” ujar Bhayu memutuskan.

“Oke Bhay, makasih ya..” kataku sambil tersenyum.

Kulihat Bhayu tersenyum sekilas namun masih tak berani lama-lama menatap mataku.

***

Sesampainya di depan rumah, Bhayu berpamitan. Syukurlah Mama sudah pulang sehingga aku tak terjebak di luar tak bisa masuk.

“Yakin enggak mau mampir?” tawarku pada Bhayu yang sedang duduk di motornya.

“Kapan-kapan aja Rel, udah sore, makasih ya buat bantuannya,” kata Bhayu.

“Sama-sama, Bhay. Nanti gue balikin bajunya.”

“Santai aja men… gue cabut dulu ya, Rel!” Bhayu kemudian menggas motornya dan pergi dari depan rumahku.

Aku langsung memekik kegirangan dan melompat-lompat bahagia menuju kamarku. Kujatuhkan tubuhku ke atas ranjang dan memeluk guling. Aku tak mau melepas baju ini! pikirku. Aku mau tidur malam ini memakai baju milik Bhayu dan membayangkan sedang dipeluk olehnya semalaman.

****

Saat Bhayu tiba di rumahnya kembali, dia memeriksa ponselnya. Tadi sepertinya ponselnya bergetar saat dirinya sedang naik motor. Ada pesan singkat multimedia (MMS) yang masuk. Ketika Bhayu membukanya, betapa terkejut dirinya melihat foto kiriman dari nomor yang tak dia kenal. Foto itu adalah hasil tangkapan gambar dari video yang memperlihatkan seorang pria sedang mengocok penisnya sendiri. Mata Bhayu membelalak melihat wajah pada foto itu. Foto itu jelas-jelas dirinya. Sedang telanjang, dan bermasturbasi. Bhayu terlonjak saat ponselnya berbunyi dan pengirim foto itu menelponnya.

Dengan gusar Bhayu menjawab.

“Halo??!! Halo???!! siapa ini???!!” teriak Bhayu.

Tak ada jawaban. Bhayu hanya mendengar hembusan nafas si penelepon di seberang sana…

****

Advertisements
Comments
  1. gua kok ya semacam ga rela kalau Harland bakal ngapa2in si Harrel. Tidaak, Harrel ama Bhayu aja deh. πŸ˜†

  2. eh kebalik. maksudnya Harland bakal ngapa2in Bhayu :mrgreen:

  3. shappire says:

    giliran bhayu dah romantis romantisan ma harrel eh ada badai cetar membahana ulala #halah
    #banjir_ni_malem2

  4. Andde Andde Lummut Komentator Abal2 dan Bowo juga Dufei Komentator Ecek2 says:

    Om Herlan (o__O)\(>o<)

  5. imnu says:

    cba ja cerita.a di bikin cinta segi tiga antara harrel,bhayu, dan mas bima kyak.a seru

  6. Kao says:

    Lanjutannya dong? Hampir sama kenyataan hidup gw πŸ˜€

  7. bian says:

    ajiiieeb..
    ceritanya sangat menarik.., sangat bikin penasaran..
    jadi ga sabar baca cerita selanjutnya..

    jadi keingat masa2 dlu, mlae dari umur 4 thn ampe skrang..

  8. delvyn says:

    Harlan ga boleh nyentuh bhayu. Dan harell ga boleh nyentuh mas bima… Udah pas punya pasangan2 sendiri2. Jangan ngelayap kesana kesini wkwkwkkwkwkwk ko kita jadi masuk ke ceritanya, berasa asli sih.

  9. arif says:

    ceritanya seru bngd brow.. tpi lanjutannya mana nie?

  10. nando says:

    Emm. Critanya bgs bgt. Klo bisa fotonya ad tulisan nama nya. Penasaran sama fotonya si rel 😊

  11. nando says:

    O ya. Sama crita selanjutnya ya. Di tunggu πŸ‘ŒπŸ‘

  12. Ari Setiawan says:

    Keren, , lanjutannya mana

  13. Ari Setiawan says:

    Keren

  14. nazman says:

    jgn kelamaan dong lanjut nya..nt bisa lupa ceritanya….keren n bagus sekali

  15. ganz says:

    dasar herland, gua ampe ga tahan pengen ngehajar herlan.. f*ck you herlan:o_O

  16. rian says:

    cerita memory card dikumpulin jd satu dong spt merantau gitu soalnya terpisah pisah….

  17. zipkhan says:

    pusing bulak blik nyarikelanjutannya gak nyusun…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s