KARTU MEMORI – CHAPTER 3A

Posted: December 24, 2013 in Kartu Memory - The Series I

483466_304249626359216_161554516_nCerita sebelumnya: Harrel menyelamatkan Bhayu, si bintang basket tampan di sekolahnya itu, dengan mengamankan kartu memori ponselnya yang berisi materi pornografi. Untuk membalas budi, Bhayu melatih Harrel bermain basket dan juga merelakan dirinya dioral oleh Harrel. Hubungan mereka berlanjut saat Bhayu meminta Harrel mengajarinya Fisika di rumahnya.

***

KALAU ada nomor yang tidak aku kenal menelepon ponselku, biasanya akan kuabaikan. Sangat kuabaikan. Karena pikirku itu pasti pekerjaan orang iseng. Jika memang pemilik nomor adalah orang yang aku kenal, pastilah dia akan sedikit bersopan santun menyapa dulu lewat sms, atau mungkin lewat whatsapp. Makanya, ketika Minggu pagi itu ada nomor tak kukenal menelepon, kuabaikan hingga berhenti berdering. Tetapi, saat orang itu menelepon lagi, mau tak mau aku harus mengangkatnya. Takutnya ada hal penting.

“Halo?” sapaku.

“KENAPA LAMA BANGET SIH JAWABNYA?!” Bentak seseorang di seberang sana. Aku bahkan harus menjauhkan ponselku dari telinga.

“Si-siapa ini? elo, Bhay?” tanyaku memastikan. Suara yang kudengar dan bentakannya memang terdengar mirip Bhayu. Aku yang sedang bersantai sambil bermain game di tablet androidku sampai terlonjak dari ranjang.

“Iya. Gue. Lo Minggu gini ada acara?” tanya Bhayu. Suaranya mulai melunak.

“Enggak ada Bhay. Kan elo tau sendiri, jomblo kan enggak ada jadwal pacaran,” sindirku. Jantungku berdebar gembira. Entah ada angin apa Bhayu bisa tahu nomor teleponku dan menghubungiku. Saking takutnya pembicaraan terganggu atau terputus tiba-tiba karena sinyal telepon hilang, aku beranjak ke jendela kamarku di lantai dua ini.

“Bagus deh,” ujar Bhayu singkat.

“Kenapa, Bhay? mau ngajakin gue kencan ya?” aku menggodanya sambil berusaha menahan tawa.

“Bangke! emangnya gue homo kayak elu?!” bentak Bhayu. “Siang nanti elo bisa dateng ke rumah gue enggak? ajarin gue tugas soal-soal ujian Fisika tahun-tahun lalu? bener-bener enggak ngerti, nih!”

Guru Fisika kami memang memberikan tugas soal latihan untuk dikerjakan di rumah dan dibahas bersama di kelas. Dan biasanya, Guru kami memanggil satu persatu muridnya secara acak untuk mengerjakan soal yang jumlahnya sekitar seratusan. Soal-soal itu akan mulai dibahas mulai minggu depan. Aku sih sudah selesai mengerjakannya, jadi tenang-tenang saja. Entah kalau yang lain.

“Belum ngerjain semua??” tanyaku takjub.

“Sembarangan! ada sepuluh soal lagi yang gue bener-bener enggak ngerti… Jadi, bisa enggak?” desak Bhayu.

“Aduuh.. gue males banget keluar rumah, Bhay!” Bohong. Aku sebenarnya mau sekali ke rumahnya.

“Apalagi gue enggak tahu rumah elu,” Bohong lagi, aku tahu persis di mana rumahnya.

“Ck! ya udah gue jemput! dari pertigaan yang kemaren gue anterin elu itu jauh enggak?” tanya Bhayu tak sabar.

“Hmm.. enggak kok. Sekitar seratus meteran ke dalem,” kataku.

“Oke. Kalau gitu gue jalan sekarang. Awas kalau gue udah nyampe, elo belum siap-siap!” ancam Bhayu. Kemudian dia menutup teleponnya.

“Iiiiiiiiiii!!!!” aku memekik kegirangan seperti tikus mencicit. Takut lupa atau terhapus, buru-buru kusimpan nomor ponsel Bhayu. Dengan semangat tinggi aku menyambar handuk dan meloncat ke kamar mandi.

****

“Maaaaa! aku jalan dulu, ya?” sahutku. Lima belas menit kemudian aku sudah rapi dan menggendong ranselku yang berisi buku-buku pelajaran Fisika.

“Mau ke mana?” tanya Mama. Beliau muncul dari dapur sambil membawa empat kotak yang kuduga berisi kue pesanan. Harum soalnya.

“Harrel mau dijemput sama Bhayu, Ma. Mau bantuin dia kerjain soal Fisika,” kataku.

“Kamu udah beres?” tanya Mama. Dia memang tidak pernah bertanya macam-macam kalau aku pergi. Apalagi curiga akan berbuat nakal jika tidak ada di rumah. Toh, prestasiku di kelas juga selalu membanggakan.

“Udah, Ma,” jawabku Mantap.

“Ya sudah. Jangan kemaleman ya? Oiya, adik kamu itu juga bilang mau keluar main. Mama baru kehilangan kunci serep dan harus pergi antar kue buat arisan. Jadi kunci rumah mau mama bawa. Kalau kamu mau pulang, telepon dulu ya? takutnya kamu enggak bisa masuk,” kata Mama.

“Papa ke mana mah?” tanyaku.

“Ke rumah Oom kamu dari pagi. Katanya tante kamu sakit, pulang malam kayaknya,” jawab Mama.

“Ooo…” ujarku sambil mengangguk-angguk.

Ponselku berbunyi. Ada SMS dari Bhayu. “Gue udah mau sampe, tungguin di depan!”

Aku pun beranjak untuk keluar rumah. Tapi sebelumnya aku mengetuk pintu kamar adikku yang letaknya di lantai bawah dekat ruang tamu.

“Deeek! Adeeek! kamu mau pergi juga?”

“Iyaaaa! bentar lagi…” teriak adikku dari dalam kamarnya.

Aku tak merespon dan berjalan menuju pagar rumahku.

Saat aku sedang berdiri menunggu Bhayu datang, pintu pagar rumah Mbak Tika terbuka. Seorang pria berseragam Polisi tampak mendorong motornya keluar kemudian menutup pintu pagarnya kembali.

Melihatku berdiri di depan pagar, dia menyapaku.

“Eeee.. Mau ke mana, Mas?” tanyanya ramah sekali. Walaupun aku lebih muda darinya, sapaan ‘Mas’ digunakannya untuk bersopan-santun karena mungkin dia tidak tahu siapa namaku.

Aku membalasnya sambil tersenyum. Sungguh! jika saja duniaku tak teralihkan oleh misiku untuk lebih dekat dengan Bhayu, tentunya pak polisi satu ini akan tampak sangat tampan dan membuatku berdebar-debar saat melihatnya.

“Iya, mas. Mau ke rumah teman. Panggil Harrel aja, mas!” kataku sambil mengulurkan tangan untuk bersalaman.

“Bima,” ujarnya sambil membalas uluran tanganku.

“Minggu kok pake seragam, Mas? tugas?” tanyaku berbasa-basi. Dia sudah menghidupkan mesin motornya.

“Iya nih, sebenernya mau sekalian urus dokumen. Tapi kabarnya ada tamu dari Mabes, jadi kita disuruh berseragam rapi buat penyambutan,” jelasnya.

Aku meneguk ludah melihat lekukan otot-otot lengan dan dada Mas Bima yang tampak menonjol kesusahan dan memprotes karena dibungkus oleh seragam yang ketat.

“Ooo gitu ya?” ujarku sambil berusaha mengalihkan pandangan ku dari tubuh kekarnya.

“Iya. Kamu mau ikut bareng?” tawar Mas Bima.

Sial! padahal sepertinya dibonceng oleh Mas Bima enak sekali, tapi aku sudah berjanji untuk menunggu Bhayu.

“Makasih mas, tapi temen sebentar lagi datang mau jemput,” tolakku sambil menyesal.

“AKU PERGI YA MAAA!” tiba-tiba terdengar suara adikku dari dalam rumah dan dia terlihat keluar menghampiriku di pagar. Pakaiannya terlihat rapi sekali.

“Loh, Kak? belom pergi?” tanya adikku.

“Belum. Nunggu temen datang.” ujarku kalem.

Perhatian adikku terlihat tak sungguh-sungguh mendengar penjelasanku dan dia kemudian beralih pada Mas Bima.

“Mau pergi Mas?” tanya adikku sumringah.

“Iya nih. Mau bareng? kamu adiknya Harrel?” tanya Mas Bima.

“Boleh Mas! aku bareng ya? Iya.. aku adiknya kak Harrel, namaku Nico mas,” kata adikku sambil melompat pada bangku belakang motor besar Mas Bima tanpa ragu-ragu.

“Oh, jadi kakaknya namanya Harrel, adiknya Nico.. oke.. mudah-mudahan enggak lupa, ya? hehehe.. yuk berangkat! Duluan Rell!” kata Mas Bima sambil memutar gasnya.

“Duluan ya, Kak!” kata Nico sambil melambai padaku seperti lambaian ejekan penuh kemenangan. Dia dengan santai merangkul pinggang ramping mas Bima.

Aku mendengus kesal melihat kegenitan adikku. Entah mengapa aku punya perasaan Nico juga gay sepertiku. Apalagi dari dandanannya dan agresivitasnya mendekati pria. Aku mengawasi motor mereka menghilang di tikungan.

Suara klakson motor Bhayu membuyarkan lamunanku.

“Ayo berangkat! ngeliatin apa sih?” tanya Bhayu. Dia di atas motornya sudah berada di sebelahku.

“Enggak kok.. enggak ada apa-apa.. yuk, berangkat!” kataku.

Kemudian aku duduk di belakang Bhayu sambil berpegangan pada motornya. Aku masih ingat ancaman Bhayu kalau sampai aku memeluk pinggangnya saat dibonceng. Jadi aku tidak berani coba-coba.

***

Sepuluh menit kemudian tiba-tiba langit menjadi gelap. Tak lama kemudian kami berdua diterpa hujan rintik-rintik.

“Gak usah neduh aja ya Rell? tanggung hujan segini sih? Gue enggak bawa mantel!” teriak Bhayu.

“Iya Bhay! terus aja,” kataku. Sebenarnya aku tak yakin. Karena kupikir hari ini panas, aku tidak membawa jaket. Itulah sebabnya, terpaan rintik hujan dan angin membuatku langsung kedinginan.

BRUK!! tiba-tiba hujan deras turun seperti dijatuhkan begitu saja dari langit. Dengan sigap Bhayu meminggirkan motornya dan berteduh pada sebuah kios tutup.

“Waduh! ujannya kok tiba-tiba gede begini sih?” kata Bhayu sambil membuka helm dan jaketnya. Dia mengibas-kibaskan jaketnya yang tahan air itu agar tetesan hujan. Aku langsung berdiri di pojokkan dan terdiam karena kedinginan,
Baju dan celanaku basah kuyup. Untunglah ranselku sudah kututupi dengan pelapis anti air sehingga aku yakin buku-buku di dalamnya aman terkena air.

“Kenapa lo, Rell?” tanya Bhayu.

Aku menggeleng. “Enggak apa-apa, Bhay…” kataku sambil berusaha menutupi rasa menggigilku. Kedua tanganku dikatupkan sambil kugosok-gosok beberapa kali.

“Gila! elo basah banget, Rell!” sahut Bhayu. Dia tiba-tiba meraih tanganku dan memegang telapaknya.

“Tangan elo juga dingin banget. Kalau kelamaan di sini yang ada elo makin masuk angin!” kata Bhayu tetap dengan kebiasaannya memakai nada tinggi seperti orang yang sedang marah-marah. Tapi ada desir kebahagiaan yang menghangatkan tubuhku sedikit saat Bhayu perhatian dan khawatir padaku.

“Mau gue anter pulang?” tanya Bhayu.

Aku baru ingat. Tadi Mama berpesan dia akan pergi dan membawa kunci. Aku khawatir bila pulang ke rumah dan tidak ada siapa-siapa maka aku harus menunggu lama dalam keadaan basah kuyup di luar rumah.

“Jangan Bhay… di rumah enggak ada siapa-siapa. Kunci dibawa nyokap… nanti gue kejebak enggak bisa masuk..” jelasku sambil menggigil.

“Oh, gitu. Nah! hujannya udah mulai reda. Mending kita jalan sekarang, nanti elo ganti baju di rumah gue aja!” sahut Bhayu.

Aku mengangguk sambil gemetar. Dari rambutku masih menetes-netes air hujan. Perlahan aku naik kembali ke motor Bhayu dan duduk di belakangnya. Aku kemudian berpegangan kembali pada pinggiran motornya. Bhayu menoleh ke belakang dan melihat tanganku yang pucat karena kedinginan.

“Masukkin ke kantong jaket gue, aja Rell! biar angetan dikit!” sahut Bhayu.

Aku ragu dan takjub dengan tawarannya sehingga aku hanya bisa diam saja. Bhayu kemudian berdecak tak sabar dan menarik tanganku dan menyelipkan telapak tanganku pada kantung jaketnya yang kering.

Hangat… ujarku dalam hati. Rasa hangat itu tidak hanya datang dari jaket Bhayu. Tapi juga dari ucapan dan perhatiannya. Aku memberanikan diri menyandarkan kepalaku pada punggung Bhayu selama kami berkendara menembus hujan rintik-rintik. Dan diapun tampaknya tak keberatan.

Ada perasaan aneh. Awalnya aku hanya tertarik dan penasaran  oleh Bhayu karena nafsu ingin merasakan tubuhnya. Tapi sekarang? sekarang sepertinya aku benar-benar menyukainya. Aku tak bisa menahan diri untuk tak tersenyum di belakang Bhayu. Dalam hati aku berkata: Aku suka kamu, Bhay…

****

Note: Hi.. sori ya, bagian ini agak pendek dan enggak ada adegan esek-eseknya. Mimin lagi berbunga-bunga, makanya pengen bikin paragraf yang agak romantis. Segera bersambung ke bagian B nya ya.. danke…

-Abang Remy-

Advertisements
Comments
  1. hans says:

    wih ko jd agak aneh gni ya ceritanya min ? cerita love dad, mas bima, gara gara vidio jd satu. nanti jgn jgn cerita merantau masuk juga…

    et dah jd agak aneh. tapi penasaran jg

    • Yup. Mereka semua tinggal di kompleks perumahan Binan. Lol. Becanda. Tapi yah memang sengaja gue bikin ada keterkaitan, walau fokus tokoh utama tetap Harrel – Bhayu dan Harland. Yang lain sebagai pemandu sorak aja.

  2. shappire says:

    ho ho ho ho, kog baru nyadar ya, klo di sini namanya harrel klo di sebelah namanya ariel…

    bang remy, janji loh ya bikin trisum harrel, bhayu ma herlan 😀 #maksa

    • Penggatian nama dikarenakan adanya keberatan beberapa pihak di Boyzforum. 😀 tapi untuk blog dan fanpage, nama tidak diubah. Makasih yaaa udah baca.. trisum? kita liat kombinasi mana yang paling hot.. 😀

  3. farhad says:

    bagus banget 😀
    tapi kapan MBdLL nya lanjut T.T

  4. gabourey sidibe in the man form says:

    eciyeeeeee berbunga bunga si abang ….ditunggu mbdllnya ya bang ….penasaran …:D

  5. delvyn says:

    Mas bima nya jangan dimasukin dong… Ga rela mas bima kalo dijadiin sama harel atau nico.

  6. delvyn says:

    Ngefans banget sama cerita2nya.

    Tapi ga rela kalo mas bima dijadiin apalagi ML sama harell.

  7. devan says:

    Bule gila. Gegara ini cerita aku rela menghabiskan waktuku sekian jam hanya untuk membacanya. Anehnya sama kayak drama korea selalu bikin penasaran dan gak mau berehenti sampai di akhir. Anw. Gak lagi deh buka2 ini situs. Wkwkwkwk

  8. ambon seram says:

    br nemu blog ini,n bc ceritax,btw miminx orang ambon ya?

  9. beenimnida says:

    bang remy, sebenernya pengin bilang: “gpp esek2nya dikit juga yg penting ceritanya tetep memancing imajinasi (yg liar). toh imajinasi itu rasanya lebih hot dari kalo disuguhin mateng2.” sayang ceritanya udah tamat, jadi ngomongin harapan sama aja sia2 deh. hehe.

    tp idenya boljug, bang, bikin cerita2nya saling terkait.

  10. Ryu says:

    Gapapa bang. Justru gue lebih suka yg co cuit gitu haha

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s