VIDEO CALL (Gara-gara Video Kiki… chapter 2)

Posted: December 17, 2013 in Kartu Memory - The Series I
Tags: , , ,

1_0002587146_11001Cerita Sebelumnya: Herlan yang sudah lama menahan hasratnya untuk bercinta sesama pria sejak menikah, bertemu seorang artis bernama Kiki Farrel yang dikenalnya lewat video mesum gay. Herlan yang terkurung dalam toilet mall bersama Kiki akhirnya bercinta dengannya. Sementara itu, anak gadisnya yang bernama Imel datang telat diantar oleh pacarnya yang bernama Bhayu. Melihat ketampanan Bhayu, iman Herlan kembali tergoda.

SETELAH kejadian Minggu dini hari itu, saat Imel, anak gadis Herlan terlambat pulang dari jam yang ditentukan, Imel dihukum selama seminggu tidak boleh keluar dari rumah setelah pulang sekolah. Tampaknya Imel tidak keberatan dan protes. Buktinya, setahu Herlan anaknya itu asyik berkomunikasi dengan teman-temannya menggunakan internet. Herlan tak melarang asalkan Imel tidak keluar rumah.

Tapi malam itu, Herlan merasa curiga. Kamar Imel dirasanya terlalu hening. Apakah dia tidur? Mungkin. Tapi entah mengapa perasaan seorang ayah tak bisa dibohongi. Herlan pun mendatangi kamar Imel dan mengetuknya.

“Mel..? Imel…? kamu udah tidur, nak?” sahut Herlan sambil mengetuk-ngetuk kamar anaknya.

Tak ada jawaban.

Ternyata pintu kamar Imel tak terkunci. Tanpa sengaja Herlan mendorong daun pintunya dan mendapati kamar anaknya dalam keadaan gelap dan kosong.

“Mel?” panggil Herlan.

Herlan menyalakan saklar lampu utama dan melihat ke sekeliling kamar. Tak ada tanda-tanda Imel berada di situ dan dia melihat baju tidur anaknya tergeletak di lantai serta jendela kamar yang terbuka.

Herlan menghela nafas geram. Dia ingin memberitahukan istrinya mengenai kaburnya Imel, tetapi istrinya sedang pergi ke sebuah undangan malam itu. Herlan mengambil ponselnya dan berusaha menghubungi nomor Imel.

“Drrrrtt… drrrrrt… drrrrrrt…”

Terdengar suara getaran terpendam dan Herlan mencari asal suara itu. Rupanya Imel sengaja meninggalkan ponselnya di laci mejanya. Herlan mendengus marah.

“Kemana dia?” tanya Herlan dalam hati.

Baru saja Herlan hendak keluar kamar, dia melihat laptop anaknya tergeletak di ranjang dalam keadaan nyaris tertutup. Berusaha mencari petunjuk di mana anaknya berada, Herlan membuka layarnya dan melihat ada beberapa jendela percakapan yang terbuka.

Yang menarik perhatiannya adalah riwayat percakapan Imel dengan Siska, temannya.

Imel  : “Gue lagi dihukum bokap! gak boleh keluar!”

Siska : “Yaelah Mel! udah kabur aja. Acaranya gak lama kok, sejam dua jam aja paling. Lo balik lagi ke kamar juga enggak bakalan ada yang tau!”

Imel  : “Terus? gue kabur lewat jendela, gitu?”

Siska  : “Menurut loooooo?”

Imel  : “Yaudah. Gue siap-siap ya?”

Siska : “Sip, gue jemput lo pake mobil, kalo udh deket rumah lo, gue telepon.”

Imel : “oke”

Herlan memukul ranjang Imel dengan kesal. Anaknya ini bandel sekali? pikirnya. Herlan bangkit dari ranjang hendak menelpon istrinya mengenai kaburnya Imel. Tapi bunyi dari laptop imel mengejutkannya.

Herlan melihat layar. Rupanya Bhayu menghubunginya untuk percakapan melalui video. Sejenak Herlan bingung hendak berbuat apa. Tapi dia penasaran ingin melihat anak itu. Herlan melihat sekeliling dan menemukan plester luka milik Imel di atas meja. Diapun membuka satu untuk menutup kamera  web pada laptop Imel sebelum menjawabnya.

“Mel? Mel?” panggil Bhayu.

Herlan meneguk ludah ketika layar laptop Imel menampilkan gambar Bhayu yang bertelanjang dada di kamarnya. Sepertinya anak itu baru saja mandi. Bhayu menggosok-gosokkan handuk pada kepalanya untuk mengeringkan rambutnya.

“Mel? kok gelap sih?” tanya Bhayu yang terdengar dari speaker.

“Gue close ya?” lanjutnya.

Herlan terkejut. Dia masih ingin melihat Bhayu. Dengan gemetar dia mengetikkan sesuatu pada jendela percakapan.

“Jangan…”

“Kenapa Mel?” tanya Bhayu. Tampangnya kebingungan sambil mendekatkan wajahnya pada kamera laptopnya.

“Sori Bhay… webcam gue ngadat.. gak kedengeran juga…”

Dari layar tampak Bhayu menunduk dan mengetikkan sesuatu pada keyboardnya.

Bhayu: “Hmm………”

Herlan: “Knp?”

Bhayu: “Tumben manggil nama sama pake ‘gue’…”

Dengan panik Herlan mengklik riwayat percakapan anaknya dengan Bhayu. Dia tersenyum begitu tahu cara anaknya mengetikkan pesan.

Herlan: “Eaaaa chaiiank… soalnya td aq kesel webcamku ngadat..”

Mengetik kalimat seperti itu membuat Herlan serasa ingin membunuh dirinya sendiri.

Bhayu: “Kok masih di rumah? katanya Sisca mau ngajak kamu pergi party?”

Herlan: “Aq enggak berani kabur, takut ketahuan bokap”

Bhayu: “Terus sekarang lagi ngapain?”

Herlan: “Dengerin musik aja..”

Bhayu: “Sambil mikirin aku ya? hehehe..”

*emoticon ge-er*

Herlan pun semakin berani menggoda Bhayu.

Herlan: “Iya chaiiank…. oiy. Kamu keren juga ya kalau enggak pake baju?”

Bhayu: “Km bisa aja sayang. Kalau keren, kenapa selalu nolak isep punya aku? katanya sayang..”

Sial! ternyata anak ini sudah berani mengajak anaknya mesum! Geram Herlan. Dia menatap kesal tampang Bhayu yang tampan tapi tersenyum mesum menganggap dirinya sedang berusaha menggoda anaknya. Herlan pun berusaha menguasai diri.

Herlan: “takut ah…”

Bhayu: “Takut kenapa sayang?? kan kamu enggak bakal hamil kalau ngisep aja…”

Herlan: “Belum pernah lihat punya km chaiiannk…”

Herlan meneguk ludah menunggu reaksi Bhayu. Dari layar laptop Bhayu mengerutkan dahi kebingungan.

Bhayu: “Terus, kamu mau aku kasih liat sekarang?”

Herlan: “Eaaa chaiiank… aq mau tau dulu punya km bisa segede apa, sama keluarnya segimana.. biar aq gak kaget…”

Herlan menunggu jawaban Bhayu dengan berdebar. Matanya menatap Bhayu di layar yang sedang berpikir keras.

Bhayu: “Oke sayang.. kamu liat yaa…”

Herlan meneguk ludah. Cepat-cepat dia menemukan fasilitas perekam percakapan video dan mulai merekam saat Bhayu menurunkan celana pendeknya.

Mata Herlan menatap nanar layar laptop anaknya ketika Bhayu mengeluarkan penisnya yang masih setengah tegang dan mulai mengocoknya. Melihat adegan itu, Herlan mundur dan bersandar di dinding sambil membuka celananya sendiri.

Dengan irama yang konstan, Bhayu mengocok-ngocok penisnya sendiri selama beberapa lama. Sesekali dia terlihat menikmatinya sambil memejamkan mata dan menggigit bibirnya.

“Hmmmm…” Gumam Bhayu. Tubuh atletisnya meliuk-liuk sementara telapak tangannya terus menerus mengocok penisnya sendiri yang sudah sangat tegang.

“Ah.. shit…” desis Bhayu. Kini dia mengocoknya perlahan tapi dengan tekanan yang lebih kuat. Tangannya yang satu memelintir dan mencubit-cubit putingnya sendiri.

Pertunjukan yang dilakoni Bhayu itu membuat Herlan sangat terangsang. Diapun mengocok-ngocok penisnya sendiri sambil menatap Bhayu di layar tanpa berkedip. Tubuh telanjang remaja itu benar-benar membuat Bhayu hilang kendali membayangkan dirinya bercinta dengan anak itu.

“Ouuuuh…” erang Bhayu. Kocokannya semakin cepat. Sesekali dia menghembuskan nafasnya sambil tubuhnya bergerak tak tentu arah.

Herlan menghentikan gerakannya lalu mengetik pada keyboard.

Herlan: “Km seksi banget chaiiank.. terusin…”

Herlan melihat Bhayu berhenti sejenak dan tersenyum melihat layar monitor. Kemudian dia melanjutkan aksinya. Dibukanya pahanya lebar-lebar dan mengocok penisnya semakin cepat.

“Oooooooh…Oooooooooooooohh…..” erang Bhayu. Kepalanya dia tengadahkan dan kocokannya semakin cepat menyiksa penisnya. Memaksa kejantanannya untuk mengeluarkan isinya.

“Hmmmffhht!” terdengar teriakan tertahan Bhayu saat penisnya yang berdiri tegak dan masih digenggamnya itu memancarkan cairan semen berkali-kali hingga sperma putih itu mengenai dada dan perutnya serta membasahi telapak tangannya. Bhayu menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang hingga yang terlihat di layar laptop hanyalah penisnya yang berdiri tegak dan masih basah oleh lelehan sperma dan pahanya yang membuka lebar.

“Akh..” Herlan memekik kecil saat dirinya pun mencapai klimaks dan mengeluarkan spermanya. Dia mengatur nafasnya sebentar. Lalu dengan susah payah membetulkan celananya dan keluar dari kamar Imel untuk mengambil sesuatu.

Ketika kembali, Herlan melihat Bhayu menatap kamera dengan tampang bingung. Dia sudah memakai pakaiannya. Di layar laptop dia melihat panggilan Bhayu.

Bhayu: “Mel? Mel? masih di situ?”

Buru-buru Herlan mematikan koneksi internet dan mengeluarkan kabel data ponselnya dari saku. Dengan gemetar Herlan menyambungkan kabel itu dari laptop anaknya ke ponsel miliknya. Tangannya masih bergetar saat mencari file rekaman masturbasi Bhayu pada laptop itu dan cepat-cepat dia pindahkan ke dalam kartu memori ponselnya.

Tak lama Herlan mendengar ponsel anaknya bergetar. Di layarnya terlihat nama penelepon: Bhayu Chaiiank. Herlan me-reject panggilan itu dan mengetikkan pesan untuk membalas Bhayu.

“Maaf chaiiank, papa tiba-tiba muncul. Aku matiin dulu ya? yang tadi gak usah dibahas dulu ya? aq masih shock. Makacih ya chaiiank..”

Tak lama Bhayu membalas. “Oke sayang… gak masalah..”

Herlan tersenyum licik. Dia kemudian menghapus dua pesan itu dan menyimpan nomor telepon Bhayu. Herlan merasa di atas angin dengan memiliki rekaman video Bhayu. Mungkin.. mungkin sebentar lagi dia bisa memanfaatkannya…

*****

Advertisements
Comments
  1. farhad says:

    ini kayanya cerita untuk pemenuh hawa nafsu ya, Haha =)) tapi lagi cerita yang nekanin cinta sih, tapi overall bagus kok (y)

  2. Andde Andde Lummut Komentator Abal2 dan Bowo juga Dufei Komentator Ecek2 says:

    hebad. Jenius authirnya. Bikin cerita spin off dari Kartu Memori.

  3. kiki indah says:

    ceritanya, tidak berurutan.
    Pusing saya membacanya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s