KARTU MEMORI – Chapter 2

Posted: December 15, 2013 in Kartu Memory - The Series I
Tags: , , ,

431895_388686687915509_951678107_nSABTU jam setengah empat aku sudah berada di dekat lapangan basket. Mungkin karena terlalu bersemangat juga dengan kesanggupan Bhayu yang akan melatihku permainan Basket. Bhayu dan anggota tim basket lain masih berlatih di lapangan. Sesekali aku mendengar teriakan mereka bersahut-sahutan. Sengaja aku duduk agak terlindung dari lapangan agar tak menarik perhatian siswa lain yang asik menonton tapi tetap aku bisa menonton dengan leluasa Bhayu yang penuh semangat berlari, mengoper bola, dan menembak. Beberapa siswi berdiri di pinggir lapangan menjerit-jerit memberi semangat, padahal yang bertanding sama-sama satu tim.

Aku menggelengkan kepala dan menarik sebuah buku dari tas dan mulai membaca. Biasanya aku memang diam-diam menjadi pengamat yang sangat serius ketika Bhayu bermain basket. Si jangkung itu tampak semakin memesona saat di lapangan. Belum lagi, seragam basket tim sekolah yang tanpa lengan dengan leluasa mengekspos lekukan otot bisep dan trisep Bhayu yang mengilap karena keringat. Tapi itu dulu. Sejak aku berhasil melihat bagian privat Bhayu dan mengerjainya, semua itu tadi tak berarti lagi. Dengan sabar aku menunggu latihan selesai. Kuperbaiki letak earphoneku dan terus membaca buku di bawah pohon tua rindang agak jauh dari lapangan.

Saat aku asyik membaca, tiba-tiba seseorang menarik buku yang kupegang. “Eeeh…” sahutku kaget. Aku melepaskan earphoneku dan mencoba mencari tahu siapa yang menarik bukuku.

“Bangun! ayo latihan!” hardik sebuah suara yang kukenal. Aku memicingkan mataku karena silau. Tampak olehku tiga sosok tubuh berdiri di dekatku: Bhayu dan dua dayangnya, Diaz dan Hanif.

“Ngapain sih lu Bhay, ngajarin dia latihan?” protes Diaz jijik.

“Gue juga enggak mau! tapi gue udah janji soalnya dia udah nyelamatin gue pas ada razia kemarin, enggak kayak kalian!” semprot Bhayu.

Walaupun nadanya tetap galak, ada perasaan bahagia saat Bhayu membelaku. Diaz dan Hanif menunduk malu.

“Kalian berdua duluan aja, temani Imel sama Siska ke mall. Tolong bilang sama Siska, gue tetep datang ke surprise party di rumah dia nanti malam, oke?” perintah King Bhayu pada dayangnya.

Setelah keduanya pergi, tampang Bhayu yang tadinya galak berangsur-angsur normal. Sedari tadi aku tidak ikut berkomentar apa-apa dan hanya memerhatikan mereka bertiga.

“Yok! ke lapangan,” ajak Bhayu sambil berjalan di depanku. Aku berdiri dan menjejalkan semua barangku ke dalam tas dan berlari kecil mengikuti Bhayu.

“Kok tahu gue ada di situ tadi, Bhay? lagian ini belum jam empat,” kataku.

“Gue mau cepet-cepet! Gue mau malam mingguan sama Imel. Emangnya elo? homo enggak punya pacar, malam minggu kayak malam lain aja, hahahaha…” ejek Bhayu.

Grrr… geramku dalam hati mendengar ejekan Bhayu. Tapi entah mengapa aku merasakan sedikit beda dari nada bicaranya. Tadi itu aku merasa seperti candaan biasa, bukan bully-an menohok yang biasanya dia ucapkan untuk menghinaku.

“Oke. Gue lihat elo udah siap.” Bhayu melihatku yang sudah siap dengan setelan olahraga lengkap dengan sepatunya.

“Gue pernah lihat cara elo main basket, dan itu bikin gue mau ketawa! ngerti?! biar elo homo tapi untungnya enggak main basket kayak cewek! makanya hari ini, gue mau kasih teknik dasar dulu, bener-bener dari awal.”

Aku cemberut mendengar penjelasannya.

“Gue juga setuju ngelatih elo supaya kita punya cadangan pemain kalau ada pertandingan antar kelas. Jadi enggak usah ge-er,” lanjutnya.

Aku senyum-senyum saja mendengar ocehannya.

“Tangkap!!” teriak Bhayu sambil melempar bola basket secara tiba-tiba dan keras. Aku yang tak siap menerima lemparan bola sekeras itu langsung kehilangan keseimbangan dan jatuh terjengkang. Bhayu tertawa keras saat melihatku jatuh. Saat aku menjadi marah dan ingin membalasnya, tiba-tiba Bhayu mengulurkan tangannya sambil tersenyum dan membantuku berdiri. Kemarahanku pun reda.

“Kita mulai!” sahutnya.

****

Latihan berlangsung sekitar empat puluh menit. Aku benar-benar menikmati sesi latihan bersama Bhayu. Entahlah, dia sepertinya sungguh-sungguh ingin melatihku padahal latihan basket dia dan anggota tim lain sebelumnya sepertinya sudah cukup melelahkan. Bhayu juga instruktur yang baik, walau galak dan sering berteriak, dia bisa mengajariku cara bermain yang benar.

Bhayu duduk di atas bangku. Tubuhnya sangat berkeringat. Nafasnya masih tersengal-sengal. Aku yang jarang berolahraga lebih parah. Nafasku seakan mau habis dan leherku tercekik karena kekurangan oksigen hingga terbatuk-batuk. Aku duduk di bangku panjang yang sama dengan Bhayu sambil membungkukkan punggungku keletihan.

“Latihan hari ini cukup dulu. Kayaknya elo udah mau mati,” sahut Bhayu asal-asalan.

“Tapi gerakan elo udah mulai bagus. Enggak nyangka juga elo bisa cepet ngikutin pas gue ajarin,” puji Bhayu.

“Trims Bhay,” balasku.

“Oke. Gue mau mandi dulu. Elo mau mandi dulu apa mau langsung balik?” tanya Bhayu dengan suara galaknya.

“Ngg.. gue mau mandi dulu aja kayaknya. Gue bawa baju ganti kok,” kataku.

“Alaah.. ngapain sih elo mandi segala? kalo gue sih emang mau langsung cabut ke mall, man! malam mingguan, biar wangi… lah elo? homo…” ejek Bhayu lagi.

“Homo juga bisa punya pacar kali, Bhay…” ujarku sambil menarik ranselku dari bangku.

Bhayu tertegun dan terdiam. Balasanku rupanya cukup telak.

****

Kami berdua berjalan menuju kamar mandi. Terima kasih kepada yayasan dan kepala sekolah kami yang memang sangat peduli pada olahraga (tim olahraga di sekolah kami sering mendapat prestasi gemilang pada tiap kompetisi), jadi pihak sekolah pun tak sungkan mengucurkan dana untuk membangun sarana olaharaga yang mumpuni di sekolah. Termasuk membangun kamar mandi yang bagus lengkap dengan shower air hangatnya. Tapi khusus untuk pria, tempat mandinya terbuka jadi bisa saling melihat. Menyadari hali itu, Bhayu tertegun sejenak.

“Gue duluan mandi!” hardik Bhayu. “Gue enggak mau dilihatin homo pas mandi,” lanjutnya.

Aku menggerutu tapi akhirnya mengalah untuk mandi setelah Bhayu selesai. Lagipula, malu juga kalau sampai aku ngaceng di sebelah Bhayu saat mandi karena melihat dia telanjang misalnya, bisa-bisa Bhayu tidak berhenti meledek aku.

Saat itu sudah lewat dari jam lima sore. Sekolah sangat sepi. Seluruh latihan ekstrakurikuler dan olahraga sudah selesai. Maklum, baik yang sudah punya pacar ataupun jomblo ngenes, tak ada yang ingin terlihat menghabiskan waktu malam mingguan di sekolah dan terlihat seolah tak ada pacar. Hanya aku dan Bhayu sepertinya yang masih belum pulang.

Dengan sabar aku menunggu di luar. Saat Bhayu selesai dan menyuruhku mandi, aku beranjak masuk sambil melirik dirinya yang hanya terbalut handuk. Aku memakan waktu cukup lama untuk mandi. Kupikir Bhayu sudah pulang lebih dulu karena dia sudah ada janji. Oleh karena itu aku terkejut saat Bhayu, yang sudah rapi dengan kaus biru dan jeansnya, memarahiku. “Lama amat mandinya kayak putri solo??” raungnya kesal.

“Lah? gue pikir elo udah pulang Bhay? katanya ada janji?” tanyaku heran sambil menggulung lengan kaus panjangku saat keluar dari ruang ganti.

Wajah Bhayu mendadak bersemu merah. Dia berdeham lalu berkata tanpa mau menatapku. “Latihan itu di mana-mana enggak gratis!” sahutnya ketus.

Aku tersenyum. Rupanya Bhayu hendak menagih permintannya untuk ke gang belakang sekolah setelah latihan. Tapi aku berniat mempermainkannya.

“Traktir maksudnya? sip..sip.. mau di mana? cafe depan?” godaku.

“Tau ah!” sahut Bhayu kesal. Dia pun membalik badannya hendak pergi.

Aku berusaha keras menahan tawa. Lalu aku tarik lengan Bhayu dan mengajaknya ke gang belakang sekolah. Bhayu yang masih bersemu merah, bertingkah seperti kerbau dicocok hidungnya mengikutiku dari belakang.

Gang belakang sekolah sudah cukup gelap walau baru jam setengah enam. Itu karena tembok tinggi menjulang benar-benar menghalangi sisa sinar matahari sore terakhir.

“Langsung aja ya Bhay? elo kan mau berangkat,” tawarku.

Bhayu tak menjawab. Dia mengangguk sedikit lalu bersandar di tembok. Aku pun berlutut dan mulai membuka celana jeans Bhayu. Aroma segar tubuhnya yang baru selesai mandi membuatku terangsang. Kuturunkan celana Bhayu hingga pahanya dan voila! rupanya Bhayu sudah sangat tegang.

“Mmm…” gumamku sambil tersenyum dan mengocok penis Bhayu. Bhayu mengangkat kausnya dan mengaitkannya di leher sehingga dadanya yang bidang untuk remaja seusianya, dan perutnya yang rata terlihat jelas. Rupanya dia ingin melihatku menservis miliknya.

“Ayo.. cepet isep..” desis Bhayu. Tampaknya dia sudah tak sabar. Aku pun menuruti keinginannya dan langsung melahap penis Bhayu.

“Aaah.. shit…” desah Bhayu. Dia kini lebih proaktif mendorong-dorong pinggangnya hingga penisnya keluar masuk mulutku.

“Terus Rel..” gumamnya lagi. Kedua pahanya kini melebar. Tubuhnya mulai bergerak sedikit tak beraturan. Aku mengerahkan kemampuan terbaikku untuk membuat Bhayu keenakan. Selain karena aku menyukainya, ini juga sebagai tanda terima kasihku karena telah dilatihnya barusan.

Aku terkesiap saat Bhayu meraba-raba putingnya sendiri sambil terus mendorong penisnya keluar masuk mulutku. Aku kemudian mengulurkan lenganku dan menggantikan tangan Bhayu memuntir-muntir putingnya dengan jemariku yang basah.

“Aaaaaah…” Desah Bhayu saat aku melakukan itu.

Tak lama, Bhayu berpindah posisi. Dia memaksaku untuk bersandar di tembok masih dalam keadaan berlutut. Lalu Bhayu membalik badannya dan bertumpu pada dinding sambil melakukan gerakan mengentot mulutku.

“Hmmmmf.. hmmff… hmmff!” erangku yang berusaha menerima sodokan penis Bhayu yang bertubi-tubi pada mulutku. Sebisa mungkin aku tak melukai kulit penisnya dengan gigiku.

“Aaah.. shit.. mulut lo enak banget Rel.. bikin gue pengen ngecrot…” kata Bhayu sambil memegangi kepalaku dan terus-menerus menyumpal mulutku dengan penisnya.

“Apa mulut homo emang jago ya? Aaah….” cerocos Bhayu. Aku memeluk kakinya berusaha untuk menyeimbangkan tubuhnya.

“Enak? enak? suka banget ama kontol ya?” kata Bhayu lagi sambil merenggut rambutku dan memaksaku mengulum penisnya hingga pangkal. Aku kesulitan bernafas namun merasa senang diperlakukan seperti itu oleh Bhayu.

“Nih, terima hadiah dari gue,” ujar Bhayu sambil memasukkan penisnya dalam-dalam ke mulutku hingga rambut kemaluannya menggelitik hidungku.

Tubuh Bhayu gemetar, aku bisa merasakan dengan lidahku penis Bhayu berdenyut-denyut bersiap memuntahkan lahar spermanya, dan…

“Aaaaah.. shiiit..!!” pekik Bhayu. Aku meronta berusaha mengendalikan diri saat berpuluh mililiter cairan sprema Bhayu mengalir pada mulut dan kerongkonganku dan memaksaku menelannya dengan cara menahan kepalaku.

“Hmmmmfff….” erangku. Aku bisa merasakan wajahku memanas dan berkeringat. Bhayu terengah-engah sebelum akhirnya mundur dan membiarkan penisnya yang sudah basah oleh liur bercampur spermanya sendiri keluar dari mulutku. Dia mencoba mengatur nafas dengan bersandar di tembok.

Aku mengusap mulutku yang basah dengan punggung tanganku. Kemudian aku bangkit dan mengeluarkan handuk dari ranselku dan mengusap wajahku. Aku melihat Bhayu melakukan hal yang sama, mengeluarkan handuk dari tasnya dan membersihkan penisnya yang basah dan menurukan kembali kausnya.

“Ah, sialan.. mudah-mudahan sampe mall udah gak tegang lagi nih!” gerutunya sambil berusaha memasukkan penisnya kembali ke dalam celana dengan susah payah. Saat dia menutup risleting jeansnya, bagian selangkangannya masih terlihat menonjol dan dengan susah payah berusaha ditutupinya dengan kaus. Akupun tertawa sedikit.

“Klotak!!” tiba tiba terdengar suara dari tumpukan batu-bata lama di pojokan. Aku dan Bhayu menoleh dengan perasaan takut.

Di sudut kegelapan, di atas tumpukan bata itu, tampak sosok berbaju panjang merah gelap sedang duduk. Rambutnya panjang tak beraturan terjuntai ke bawah menutupi wajahnya. Anehnya, tangan dan kakinya seolah tak menempel dengan sempurna pada tubuhnya sehingga bentuknya terlihat aneh. Sosok itu bergerak sangat pelan dan menoleh pada kami berdua.

Aku dan Bhayu membelalak ketakutan, tubuh kami terasa kaku tak bergerak.

“Haaa…??? Setaaaaaaaaaaaann!!” teriak kami bersamaan. Lalu dengan mengumpulkan sisa tenaga yang tersisa, kami kabur dari tempat itu. Aku sempat tersandung beberapa kali dan terjatuh lalu cepat-cepat berdiri dan tak mau lagi menoleh ke belakang. Bhayu lari tunggang langgang di depanku. Karena dia atlit basket, larinya jauh lebih cepat dan aku yang tertinggal di belakang tersengal-sengal kehabisan nafas.

Sesampainya kami di tempat parkir, aku berusaha mengatur nafasku yang hampir habis dan berjongkok. Bhayu terbatuk-batuk dan ikut berjongkok juga. Nafasnya juga masih tak beraturan.

“APAAN ITU TADI??!” raung Bhayu.

“Mana gue tahu, Bhay?? mungkin itu hantu baju merah yang sering disebut anak-anak!” balasku sengit.

“Sialan tuh setan! bikin gue ngeri aja. Gue mau cabut!”

Aku sebenarnya sudah hampir tak punya tenaga. Ingin rasanya menumpang pada motor Bhayu namun tampaknya itu mustahil.

Dengan susah payah aku berdiri kelelahan, entah masih sanggup berjalan atau tidak setelah melihat hantu itu. Tapi aku juga ingin pergi dari sini secepatnya. Hari sudah semakin gelap.

Kulihat Bhayu sudah menstarter motornya cepat-cepat dan memakai helm serta jaketnya. Saat motor itu menjauh, tiba-tiba dia menghentikan motornya.

“HEI! ELO MAU DITINGGAL SENDIRIAN DI SINI SAMA TU SETAN?!! CEPAT NAIK!!” teriaknya.

Aku memaksakan kakiku yang lemas untuk berjalan menghampiri Bhayu dan naik ke motornya.

“Awas kalo peluk-peluk gue!” ancam Bhayu. Lalu diapun menjalankan motornya kembali dan kami melesat cepat meninggalkan sekolah.

****

“Di sini aja?” tanya Bhayu saat aku turun dari motornya di sebuah pertigaan.

Aku mengangguk. “Iya Bhay, gapapa. Thanks buat latihannya sama tumpangannya,” kataku.

“Ih, apa itu tadi ya? seumur-umur gue belum pernah ngeliat setan…” kata Bhayu bergidik.

“Mungkin dia keganggu karena ada yang berbuat mesum di tempatnya, kali?” kataku sambil terbahak.

Bhayu meninjuku cukup keras. “Aduh!” aku mengaduh sambil mengusap lenganku.

“Yaudah, thanks sekali lagi ya?” kataku sambil berbalik badan.

“Rel!” panggil Bhayu.

Aku pun menoleh kembali, “Ya, Bhay?”

“Sebentar lagi kan ujian, lo kan jago fisika. Kapan-kapan kita belajar di rumah gue. Gue butuh latihan ngerjain soal,” kata Bhayu malu-malu.

“Oke Bhay, tapi gue masih penasaran isi kartu memori hape elo. Gue boleh lihat yak? masa temen lo doang yang liat?” kataku.

“Ck! dasar. Isinya bokep. Cowok ama cewek, elo kan pasti gak suka! hahahaha…” Katanya sambil menyalakan kembali mesin motornya dan melesat pergi.

Aku menggerutu kesal dengan candaan Bhayu. Tapi saat aku membalik badan, aku merasa bahagia. Aku diundang ke rumah Bhayu? langkahku mendadak menjadi ringan. Peristiwa menakutkan tadi di sekolah seolah lenyap dari ingatanku. Dan aku pun berlari sambil melompat kegirangan sampai rumah.

***

“Reel!!” teriak Mama dari lantai bawah. Aku yang sedang membaca buku buru-buru melempar bukuku ke ranjang dan keluar kamar.

“Ada apaan Mah?” tanyaku.

“Tolong bantu Mama, antar ini ke tetangga baru sebelah. Kasihan, perempuan masih muda, punya anak tinggal sendiri.” Kata Mama sambil menyodorkan piring berisi kue-kue padaku.

“Loh, kenapa enggak Mama aja yang antar? mana udah malam,” protesku malas.

“Sekalian kenalan, Rel.. Tadi kan Mama udah ke sana. Mama lagi nunggu kue di oven ini, takut gosong. Udah, sana, cepat!” usir Mama.

Aku mengambil piring itu dengan malas. Lalu aku menuju rumah sebelah yang memang kedatangan penghuni baru, dan mengetuk pintunya.

Seorang wanita muda cantik membuka pintu sambil menggendong bayi yang tampaknya masih berusia beberapa bulan.

“Eh, siapa ya?” tanyanya ramah.

“Saya Harrel, Mbak. Tinggal di sebelah, tadi Mama minta saya antar ini buat Mbak,” jawabku.

“Aduh.. ngerepotin aja, ayo masuk dulu… bantuin Mbak taro boleh? mbak lagi gendong si kecil, rewel soalnya…” pinta wanita itu.

Aku pun mengangguk dan masuk ke dalam rumahnya.

“Namaku Tika, aku baru pindah ke sini, soalnya kontrakkan kami kekecilan kalau ada bayi,” jelasnya.

“Ayahnya si bayi kemana, Mbak?” tanyaku sambil menggoda anak Mbak Tika  yang tertawa melihatku.

“Itu dia Rel, suami Mbak kan polisi, dia ditugasin di lain kota. Mbak enggak bisa ikut dulu soalnya udah mau melahirkan,” jelasnya sambil menimang-nimang anaknya.

“Oooo…” ujarku sambil mengangguk-angguk.

“Kamu kelas berapa? kayaknya kamu seumur sama adik sepupu Mbak, namanya Findra, ah.. Mbak kangen sama anak itu…” katanya.

“Kelas XII mbak, oh iya mbak, kalau ada perlu, panggil kita aja ya? gak usah sungkan. Kalau begitu aku pamit dulu,” kataku.

“Loh, cepet-cepet amat? enggak minum dulu?” sesal Mbak Tika.

“Enggak usah, mbak. Makasih. Besok ada ulangan soalnya,” kataku sambil tersenyum.

“Kalau gitu makasih banyak ya, Rel? kapan-kapan main ke sini. Kayaknya Kenzo suka banget sama kamu, dari tadi ketawa terus,” kata Mbak Tika.

“Iya, Mbak. Aku pulang dulu ya?” kataku sambil berjalan ke teras.

“Bilang makasih sama Mama kamu, ya? main-main kemari!” sahut Mbak Tika.

Aku mengangguk. Saat menuju pintu aku melirik sebuah foto di dinding. Mbak Tika bersanding dengan seorang pria berseragam polisi sedang tersenyum. Tampan dan gagah sekali. Aku mendengus sambil berpikir nakal, enak juga kali ya “main” dengan polisi segagah itu? hehehe.

Saat aku hendak membuka pintu pagar rumahku, sebuah mobil taksi berhenti tepat di depan pagar rumah Mbak Tika. Aku memerhatikan mobil itu untuk melihat siapa yang datang. Saat pintu mobil terbuka, sesosok pria yang tak terlihat jelas karena gelap, turun sambil membawa tas. Dia berhenti sejenak dan menoleh kepadaku. Sepertinya pria gagah itu berseragam polisi tapi aku tak bisa melihatnya dengan jelas. Aku mengangguk ramah padanya, lalu dia membalas dengan anggukannya juga.

Tak lama saat aku menutup pagar, aku mendengar Mbak Tika memekik, “Mas Bima! kok enggak bilang-bilang mau datang?!”

Aku menggeleng-geleng sambil tersenyum membayangkan kebahagiaan mereka bertiga sekeluarga yang berkumpul kembali.

****

“Aduuh… Bhay.. gawat ini… Siska sih pake kelamaan acara nyanyi-nyanyi segala!” keluh seorang gadis yang duduk membonceng di sebuah motor yang berjalan pelan. Sesekali Pengemudi motor itu harus menahan tubuhnya dari goncangan setiap kali melewati polisi tidur berkali-kali yang lumayan tinggi. Mereka juga harus berjalan pelan karena sudah hampir jam tiga pagi, dan akan sangat mengganggu penghuni perumahan tempat gadis itu tinggal jika mengemudikan motor cepat-cepat.

“Gue enggak ngerti! kenapa enggak bilang elo harus pulang jam satu sih, Mel? kalau begini, nanti gue yang kena semprot bokap elo!” keluh Bhayu.

“Maaf, Bhay… mana hape gue lowbatt, terus salah kasih nomor telepon rumah Siska ke bokap. Haduuuuh… bisa enggak boleh keluar setahun gue..” rengek Imel.

Di rumah, Herlan sudah cukup menahan emosi dan marah. Baru jam setengah tiga tadi nomor ponsel anak gadisnya bisa dihubungi. Lewat jam satu sesuai perjanjian anaknya untuk pulang ke rumah, Herlan menjadi uring-uringan khawatir karena nomor anaknya tak bisa dihubungi. Satu-satunya nomor telepon rumah temannya ternyata tak bisa dihubungi. Barusan dia sudah menyuruh istrinya tidur lebih dulu dan sempat diperingatkan istrinya agar tak terlalu keras pada Imel. Herlan menyanggupi walau masih geram. Barusan dia sudah mendapat kepastian anak gadisnya diantar oleh Bhayu, teman dekat Imel.

Herlan mengempaskan tubuhnya pada sofa. Dia merasa bersalah karena pertahanannya untuk tidak lagi berhubungan dengan pria telah jebol. Dia telah mendrobak pantangannya dengan bermain seks dengan seorang selebritis di mall tadi. Ini seperti candu. Sekali lagi kau mengkonsumsinya, maka ketagihan itu akan datang. Untung saja, tadi dia menolak permintaan Kiki (pria yang mengajaknya bercinta di toilet mall) untuk melanjutkan sesi panas bercinta hingga pagi mengingat dirinya ingin memastikan anak gadisnya pulang ke rumah.

Herlan terlonjak saat pintu rumahnya terbuka. Tampaklah Imel anaknya, masuk dengan ketakutan. Dia tahu ayahnya sedang murka.

“Pah.. Maafin Imel…” rengeknya.

“Dari mana kalian bisa sampai selarut ini?” tanya Herlan sambil memandangi dua remaja itu,

“Maaf Oom, kami enggak sadar waktu,” kata Bhayu.

Dan tatkala Herlan melihat Bhayu, remaja yang tampan itu, mendadak rasa kecanduannya kembali muncul…

*****

Advertisements
Comments
  1. Unc-chu says:

    Wuah. . . Kayaknya semua cerpen bakal dikumpul jd satu. Jd kampung Gay gakgakgak gua suka bgt euy.

  2. lima says:

    Lanjutiinn dong please this is awesome!!!! OMG

  3. lima says:

    Min yg cerita kakak ipar uda ga lanjut ya?? Pdhal nungguin terus tau.. Cerita2 lu keren semua min

  4. lima says:

    Sorry min, kurang suka kalo kelanjutanya si bhayu di bikin main sama bapaknya si imel.. Geli gt.. Haha, just opinion min..

  5. bannybaladewa says:

    Mantap..sebuah cerita yg diramu
    sangat komplit..gabungan dari cerita mas bima sang polisi dan juga cerita herlan dengan sang artis..mantap..pengin nunggu cerita farel ml sang mas bima..hujuhuji

  6. bian says:

    kayaknya bakalan keren bgt nih ceritanya..
    smuanya kmpul jadi sartu..

    monggo dilanjutin, gk sabar pngen baca kelanjutannya..

  7. Andde Andde Lummut Komentator Abal2 dan Bowo juga Dufei Komentator Ecek2 says:

    Herlan kecanduan Konthol

  8. achmad nuryakin says:

    gw ska bng crta ea yg nih!

  9. Minta pin BB foto yg di atas dong bg , foto yg pake baju merah itu , minta pin BB nya dong bg ?
    Boleh ya bg , d tggu bg , krm aja lwat email
    Hardianramzi@yahoo.com

  10. Maaf bg salah bkin email , yg bner nya

    Ramzihardian@yahoo.com

    Jgn lupa bg krm in pin BB nya bhayu dan harrel ya bg ?
    Pngen knalan , 😉

  11. hedgehog says:

    itu foto siapa min? Tw namanya? Ato dpt d google?

  12. hedgehog says:

    ayo dong min bales.. 😥 itu foto siapa?

  13. hedgehog says:

    😥 yaudah min, makasih.

  14. radit says:

    Ceritanya keren tapi koreksi yaaa min: gk singkron ama cerita sebelumnya, dicerita sebelumnya kan om Herlan yg meminta kiki buat pulang pas pagi hari, disini kok kiki yg minta herlan gk pulang namun herlan menolak krna ingat dengan anaknya.

    Trus sbgai saran min, ceritanya udah bagus tp hrusnya jangan tiba” ngomongin herlan

  15. setyawan says:

    i like this story friend ^^…
    .bleh q mnta’ numb. buat pngarangnya.., q mau txk” dlu sblum q pesan novelx ?” 🙂

  16. TrueLove___ says:

    Pertanyaan gw!! . knpa “main” nya hruz di gang bklng sekolah sih . lagian kan pernyataan di atas mngatakan “Saat itu sudah lewat dari jam lima sore. Sekolah sangat sepi. Seluruh latihan ekstrakurikuler dan olahraga sudah selesai.” mndenger pernyataan seperti itu kan udah jelas jelas ad kesempatan. Ngapain malah main di gang !! Aneh . main di kamar mandi tadi kan lebih enak dan nyaman . gmna sih . yg bodoh siapa coba , wkwkwkwkwkwk😦😱😂😂hadehh

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s