damniloveindonesia003JAM sudah menunjukkan pukul setengah sepuluh malam tetapi acara panggung di mall itu belum juga selesai. Acara menyanyi, tarian, serta jumpa fans yang berlangsung dari sore seakan tidak selesai-selesai hingga Herlan, seorang pria berumur 41 tahun, merasa lelah dan bosan menunggu anak gadisnya yang masih remaja menonton di tengah-tengah kerumunan. Padahal Herlan sudah capek berdiri di pinggiran menghindari keramaian, tapi dari tadi dia melihat Imel, anaknya itu seolah tak kehabisan energi: melompat, ikut menyanyi, ikut berteriak setiap kali artis idolanya muncul. Untunglah Herlan membawa ponsel pintarnya, jadi dia tak terlalu memedulikan siapa saja yang tampil dan sibuk membaca berita online.

“Paaah!!” panggil sebuah suara perempuan. Imel bersama dua gadis remaja seusianya datang menghampiri Herlan.

“Udah selesai? pulang sekarang?” tanya Herlan tak sabar.

“Pah, aku ikut sama Siska ya? ada surprise party buat temenku yang ulang tahun, sebentaaaaar aja.. nanti Siska antar aku pulang.” kata Imel manja meminta izin ayahnya.

Salah satu gadis yang bersama Imel tampak takut-takut tapi tersenyum ikut membujuk Herlan. Sepertinya anak ini yang bernama Siska.

“Mau sampai jam berapa?” tanya Herlan gusar.

“Acaranya jam 12 malam paah… di rumah Siska. Boleh ya pah? boleh ya? abis tiup lilin kita langsung pulang kok,” bujuk Imel.

Herlan menghela nafas. “Yaudah. Tapi jangan lewat dari jam satu, jangan matikan handphone, atau kamu papa hukum. Papa juga minta nomor orang tua atau rumah Siska kalau-kalau kalian berdua bandel matiin HP!”

Imel dan Siska menyanggupi persyaratan yang diberikan Herlan. Ketiganya langsung pamit. Herlan merasa kesal juga, sudah capek menunggu, anak gadisnya malahan pergi begitu saja.

“Makacih ya Paah,” sahut Imel sambil melompat dan mengecup pipi ayahnya.

“Mari Oom…” sahut dua gadis lainnya.

Herlan menghela nafas. Tiba-tiba dia merasa perlu ke toilet. Dia tahu jam operasional toilet Mall itu hanya sampai jam sepuluh malam. Jadi sebelum dia kembali ke tempat parkir, Herlan berpikir untuk menyelesaikan urusannya dulu.

Ketika menemukan toilet di sudut mal, seorang petugas kebersihan mengingatkan Herlan agar cepat-cepat karena toilet hendak dikunci.

“Maaf pak, jam sepuluh kita mau kunci pintu,” kata petugas itu ramah.

“Oke,” kata Herlan sambil mengacungkan ibu jarinya dan masuk ke dalam toilet.

Lega rasanya ketika Herlan mengosongkan isi kantung kemihnya. Saat dia sedang mencuci tangan tiba-tiba pintu toilet menjeblak lebar hingga membuatnya terkaget-kaget. Seorang pria tampan berkulit putih berambut spike dengan wajah panik melihat sekeliling toilet dan langsung menyerbu ke arah Herlan.

“Pak! eh, Oom! tolong saya!” katanya memohon.

“Eh, Kamu siapa?!” sahut Herlan bingung. Dia seperti mengenali wajah pria itu tapi entah di mana.

“Please, Oom, kalau enggak saya bisa ancur!” katanya sambil menarik kerah kaus polo Herlan.

Tiba-tiba terdengar suara derap langkah kaki dan suara banyak wanita menjerit-jerit mendekati toilet ini. Herlan menatap wajah tampan yang tampak ketakutan itu dan akhirnya menyanggupi permintaannya. Dia menyuruh masuk pemuda itu ke dalam salah satu bilik toilet dan ikut bersamanya di dalam dan menguncinya. Herlan memberikan isyarat agar pemuda yang masih terengah-engah itu untuk naik ke atas dudukan toilet dan meletakkan telunjuk pada bibirnya sebagai isyarat untuk diam.

Tak lama pintu toilet menjeblak lagi. Suara ribut banyak orang terdengar masuk ke dalam dan menyebar ke seluruh ruangan.

“Eh! eh! yang ini di kunci! ini di kunci! pasti Kiki di dalam!” jerit seorang gadis yang suaranya terdengar nyaring tepat di luar pintu bilik tempat Herlan dan pemuda itu bersembunyi. “Kikiiii! Kikiiii!!” jerit gadis itu sambil menggedor-gedor pintu bilik toilet.

Herlan mengerutkan dahi heran. Apakah pemuda ini artis? apakah yang di luar itu fans orang ini? pantas saja dia merasa familiar. Bukan hanya di TV, tapi di tempat lain Herlan pernah melihatnya, namun dia sama sekali tak ingat.

Kemudian Herlan melongok keluar dari bilik sambil menghardik gadis itu.

“HEH! Kalian siapa??! ganggu orang aja!”

Gadis itu terkejut dan langsung merasa malu. Kemudia dia memberi isyarat pada teman-temannya untuk keluar.

“Gak ada di sini. Kiki kayaknya udah kabur. Yuk, kita keluar…” ujarnya.

Herlan dan pemuda yang disebut bernama Kiki itu kemudian menunggu hingga toilet itu benar-benar sepi. Baru saja mereka hendak keluar, tiba-tiba pintu menjeblak lagi. Mereka pun mengurungkan niat.

“Dasar fans edan! ngejar-ngejar sampai toilet,” kata sebuah suara yang dikenali Herlan sebagai suara petugas kebersihan yang dia temui tadi. Tiba-tiba lampu dipadamkan dan terdengar suara pintu terkunci.

Herlan pun panik.

“Waduh! kita kekunci!” sahut Herlan. Dia pun hendak menggedor pintu berupaya memanggil petugas kebersihan tapi tangan Kiki menahannya.

“Oom.. nanti dulu Oom.. takut masih ramai di luar…”

“Tapi kita kekunci di sini!” bentak Herlan.

“Tenang Oom.. manajer aku masih ada di luar, nanti saya telepon dia kok, tolong Oom… 10 menit aja.” pinta Kiki.

Herlan menghela nafas. Sebagai pria yang pernah berkecimpung di dunia gay sebelum memutuskan berhenti saat menikah, dia memang masih lemah jika berhadapan dengan pria tampan. Herlan kemudian menyalakan kembali lampu ruangan toilet. Dia baru menyadari, pria itu memang terlihat seperti selebritis. Rapi, kulit bersih dan terawat, tampan, tubuh atletis yang selalu dilatih di pusat kebugaran. Kemeja putih ketatnya terlihat sempurna menempel pada tubuhnya. Herlan meneguk ludah. Bertahun-tahun pernikahannya dia menahan diri sekuat tenaga agar tak tergoda sosok pria-pria tampan yang ditemuinya. Tapi sekarang? berduaan saja di ruang sepi seperti ini?

“Mereka tadi siapa?” tanya Herlan.

Kiki menghela nafas. “Mereka itu fans, tapi tidak tergabung di fansclub saya. Mereka itu liar, menakutkan, gak segan-segan cakar, cubit atau tarik-tarik baju saya. Makanya, tadi saya terpisah sama manajer dan tim saya, akhirnya lari ke toilet,” ujarnya panjang lebar.

Kiki bersandar pada dinding sambil bernafas lega. Kemudian dia menatap Herlan sambil tersenyum. “Makasih Oom atas bantuannya, kenalin, saya Kiki.. Kiki Farrel..” ujarnya sambil mengulurkan tangannya.

“Herlan,” balas ayah Imel sambil menjabat tangannya.

Kiki Farrel? entah mengapa dia seperti familiar dengan nama itu. Tiba-tiba Herlan teringat. Beberapa bulan lalu, dirinya pernah dikirimi video porno adegan seks sesama pria berdurasi 3 menit yang katanya salah satunya diperankan oleh Kiki Farrel. Pengirimnya adalah sobat lamanya yang mengetahui Herlan seorang biseksual.

“Siapa itu Kiki Farrel?” tanya Herlan waktu menerima video itu.

“Elo jarang nonton tv ya?” tanya teman Herlan.

“Enggak. Tapi ini anak oke juga, badannya bagus,” komentar Herlan waktu itu.

Setelah otaknya dapat mengingat kembali nama itu, Herlan langsung berkomentar.

“Yang di Video itu?”

“Aduh Oom.. itu aib banget sampe beredar,” keluh Kiki.

“Jadi itu benaran kamu?” tanya Herlan lagi.

Kiki mengangguk sambil tersenyum “Tapi Oom, jangan bilang siapa-siapa ya?”

Herlan menggeleng-gelengkan kepala. “Anak muda jaman sekarang, hobi sekali bikin video mesum,” katanya.

Herlan berjalan menuju wastafel untuk mencuci tangan dan membasuh wajahnya. Tiba-tiba dia melihat bayangan Kiki sudah berada di belakangnya sambil tersenyum.

“Kamu mau apa?” tanya Herlan saat Kiki merangkul pinggangnya dari belakang.

“Mau ngucapin terima kasih,” kata Kiki.

Kemudian Kiki melanjutkan, “Oom ganteng juga ya? badannya juga bagus, mmm…” puji Kiki sambil mengelus lengan kokoh Herlan. Mendapat perlakuan seperti itu, Herlan tak bisa menahan penisnya untuk tegang.

“Suka gak Oom sama video saya?” goda Kiki nakal.

“Ng…” Herlan menjadi salah tingkah menghadapi selebritis pujaan banyak remaja ini.

“Oom…” Kiki rupanya memang tertarik pada Herlan. Tanpa membuang waktu menunggu reaksi pria itu, Kiki meloloskan kaus polo Herlan. Matanya berbinar melihat tubuh Herlan yang kekar dan terlatih itu. Herlan berdiri berhadapan dengan Kiki dengan perasaan gugup.

“Puting oom seksi banget, dadanya juga ada bulunya,” puji Kiki. Tanpa meminta persetujuan Herlan, Kiki langsung membenamkan wajahnya pada dada bidang Herlan dan mengulum putingnya.

Rasanya sudah berabad-abad sejak terakhir kali Herlan merasakan cumbuan oleh pria lain. “Mmm…” gumam Herlan saat Kiki dengan bernafsu memain-mainkan putingnya dengan lidahnya. Kiki kemudian melepas satu persatu kancing kemejanya hingga tubuh atletisnya terksepos jelas. Herlan yang sudah lama tak bersentuhan dengan pria, mengusap punggung mulus dan terawat Kiki sambil terus menikmati isapan pada putingnya.

“Uuuh…” lenguh Herlan saat Kiki memuntir-muntir putingnya dan mengusap dengan lidahnya dengan gerakan melingkar. Tak tahan, Herlan mengusap rambut Kiki yang kaku karena wax dan gel.

Cumbuan Kiki bergeser ke bawah. Dia mengusapkan lidahnya pada garis tengah perut sixpack Herlan yang ditumbuhi bulu halus, bergeser hingga bawah pusarnya dan Kiki kemudian melepas celana jeans Herlan dan mengeluarkan isinya.

“Oom…” sahut Kiki takjub saat melihat ukuran batang penis Herlan yang diatas rata-rata. Matanya kembali berbinar.

Kiki langsung berpikir, siapa saja cowok yang beruntung sudah merasakan ditusuk benda sebesar ini? beruntung sekaligus menderita, pikirnya.

“Kamu suka?” tanya Herlan.

“Suka Oom…” desah Kiki sambil mengocok-ngocok penis Herlan dengan penuh perasaan.

“Ayo.. hisap sayang…” desis Herlan.

Kiki menuruti kemauan Herlan dan mulai mengulum penis Herlan yang sudah tegang itu.

“Mmmmumm…” gumam Kiki yang tampaknya agak kesulitan menangangi penis sebesar milik Herlan.

“Aw.. Shit….” desah Herlan keenakan. Dia kemudian menekan kepala Kiki dan memaksanya agar seluruh batang penisnya melesak masuk ke dalam mulutnya.

Kiki terbatuk-batuk namun tersenyum senang saat berkali-kali Herlan memaksanya mengulum penisnya hingga pangkal. Setelah cukup lama, Herlan yang bernafsu langsung mengangkat Kiki dan memepetnya pada dinding.

Herlan yang sudah lama tak mencumbu pria dengan penuh nafsu menghirup dan menikmati tubuh pemuda ranum itu. Cumbuan demi cumbuan dia hujamkan pada leher dan wajah Kiki. Sekali waktu dia mencium dengan keras bibir Kiki dan menyusupkan lidahnya pada mulut Kiki hingga pemuda itu menggelinjang keenakan. Herlan mengangkat kedua lengan Kiki dan menguncinya di dinding dengan tangannya hingga Kiki merasa tak berdaya.

Dihirupnya ketiak Kiki yang berbulu halus itu dan diusapnya dengan lidah. Wangi parfum mahal bercampur aroma asli tubuh Kiki membuat nafsu Herlan makin membuncah. Dia kemudian gantian melumat puting Kiki tanpa ampun dan sedikit kasar hingga Kiki mengeluarkan erangan kenikmatan dari mulutnya. Herlan kemudian berlutut dan memaksa membuka celana panjang Kiki dan mengeluarkan penisnya. Herlan yang sudah berpengalaman bagaimana menghadapi seorang brondong, berhasil membuat Kiki gila dengan hisapan mulutnya pada penis Kiki. Kiki melenguh, meronta, seolah minta ampun, namun tak kuasa menolak karena dirinya pun merasa enak.

“Oouh.. Ampun Oom.. Oom hebat banget sih? Oooouuhh…” racaunya  berulang-ulang.

Herlan kemudian meraih kedua pantat Kiki yang mulus dan meremasnya sambil mendorongnya agar penis Kiki keluar masuk mulutnya.

“Ow… Shit.. shit.. shit…” desis Kiki berulang-ulang karena keenakan.

“Masukin aku Oom…” bisik Kiki sambil membalik badannya.

“Hmm.. rupanya kamu bisa depan belakang ya? di video itu kamu yang nusuk kan?” tanya Herlan sambil bangkit dan menciumi bahu Kiki dan punggungnya.

Kiki mengangguk, “Iya Oom.. kalau sama Oom, aku pasrah…”

Herlan tak menjawab. Dia kemudian membasahi penisnya dengan liurnya. Lalu perlahan-lahan, dia mulai memasukkan batang penisnya yang di atas rata-rata itu pada pantat mulus Kiki.

“Aw.. Shit.. sakit Oom..” erang Kiki yang masih terhimpit di dinding oleh Herlan.

“Sabar…” kata Herlan membesarkan hati Kiki. Dia kemudian menahan bahu kiki dengan telapak tangannya yang kuat dan menekan pinggulnya agar penisnya melesak masuk ke dalam pantat Kiki.

“Ahhk..” protes Kiki. Lengannya berusaha mencengkeram dinding. Tubuhnya menegang karena lubangnya ternyata masih cukup sempit untuk dimasuki penis Herlan.

“OOm….” desah Kiki. Dia tak menyangka akan sepedih ini dimasuki oleh penis Herlan. Tapi kesabaran Herlan untuk membiarkan penisnya masuk perlahan sehingga Kiki bisa beradaptasi membuat Kiki membiarkannya.

“Ouww.. shit.. astaga…” desah Kiki sambil menggigit bibirnya ketika akhirnya penis Herlan berhasil masuk seluruhnya ke dalam pantatnya.

Herlan memberikan pujian atas kesabaran Kiki dengan menciumi punggung dan bahunya kembali sambil mengusap-usap tangannya pada putingnya dan meremas dadanya.

Kiki merasakan pantatnya berdenyut-denyut memprotes batang besar yang bersarang di situ. “Sudah siap?” tanya Herlan.

Kiki mengangguk. Dan dimulailah penderitaan sekaligus kenikmatan bagi Kiki saat Herlan menggoyang pinggangnya dan membuat penisnya keluar masuk pantatnya.

“Akkh…” Kiki memekik sambil mencengkeram lengan Herlan yang melingkari tubuhnya.

“Umm.. uummm…” gumam Kiki berusaha menikmati setiap goyangan penis Herlan sambil menoleh ke belakang melihat ekspresi wajah Herlan yang keenakan.

“Enak Oom?” tanya Kiki.

“Enak banget sayang… Oom udah lama enggak ngentotin pantat cowok apalagi cowok secakep kamu…” geram Herlan tanpa henti merojok anus Kiki.

“Terus Oom.. Terus…” perintah Kiki sambil badannya terlonjak-lonjak setiap kali Herlan menghujamkan penisnya kuat-kuat. Rupanya Kiki sudah bisa menikmati permainan Herlan.

“Lebih kenceng Oom.. kenceng…” gumamnya.

Herlan menuruti keinginan Kiki. Dengan kasar dia merenggut rambut Kiki dan menariknya ke belakang sementara tusukan penisnya semakin cepat dan kasar. Herlan menggeram saat dia semakin cepat menusuk pantat Kiki.

“Ah! ah! Ah!” teriak Kiki sambil terus berpegangan pada satu lengan Herlan. Kemudian dia bertumpu pada dinding sambil terus menikmati entotan penis Herlan yang bertubi-tubi hingga dia merasa akan keluar.

“Ouuwww.. Oom jago banget… sampe bikin aku mau ke-lu-aaakkhhh…” erangnya saat Kiki memuncratkan spermanya dan mengenai tembok di depannya berkali-kali.

“Hhh… hhh… hhh… ” desah Herlan saat penisnya terasa diremas-remas di dalam pantat Kiki. Kemudian dia meremas pantat Kiki dan makin cepat menusukkan penisnya.

“Ooooooooouuuuuu….” erang Herlan. Seluruh otot di tubuhnya menegang. Tubuhnya sudah basah oleh keringat. Dan… Dengan tusukkan terakhir, Herlan mengeluarkan peluru cairnya di dalam pantat Kiki berkali-kali.

Tubuh Kiki merinding merasakan aliran lahar sperma hangat Herlan pada terowongan anusnya. Nafasnya tersengal-sengal dan tubuhnya juga berkeringat. Kiki membiarkan cukup lama hingga penis Herlan melunak dan keluar dengan sendirinya dari anusnya. Setelah penis Herlan keluar, Kiki membalik tubuhnya dan merangkul Herlan sambil mencium bibirnya penuh nafsu.

“Oom hebat banget sih? coba kenal oom dari dulu…” gumam Kiki gemas. Setelah itu Kiki memungut pakaiannya dan masuk ke dalam salah satu bilik untuk membersihkan diri. Herlan yang masih berusaha mengatur nafas, tak menyangka dirinya bisa tergoda kembali, kembali berpakaian. Sebisa mungkin segala lendir yang menempel pada tubuhnya dia bersihkan.

Sepuluh menit kemudian Kiki keluar dari bilik toilet. Sudah rapi kembali. Dia tersenyum pada Herlan yang juga sudah rapi berpakaian. “Aku telepon manajerku ya, Oom? biar kita bisa keluar,” kata Kiki.

Herlan terdiam. Tapi kemudian dia meraih ponsel Kiki dan mematikannya. “Teleponnya pagi saja,” kata Herlan sambil tersenyum penuh arti.

Kiki melirik selangkangan Herlan dan melihat isi di baliknya sudah tegang kembali. Lalu dia merangkul Herlan dan menciumnya.

(TAMAT)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s