KARTU MEMORI (Cerpen)

Posted: December 12, 2013 in Kartu Memory - The Series I

luk conde (2)KETIKA aku melihat Bhayu, teman sekelasku di kelas 12 datang dari arah berlawanan, diikuti oleh dua ‘dayangnya’: Hanif dan Diaz, aku sudah bersiap minggir karena dia pasti akan cari perkara denganku. Benar saja, walau sudah nyaris menempel di dinding lorong sekolah, Bhayu tetap sengaja menyerempet bahuku hingga aku terdorong dan membentur dinding.

“Bencong!” desisnya.

Hanif dan Diaz tertawa mengikik dengan senyum licik mendukung rajanya menghinaku.

Sebenarnya aku bukan anak yang sering dibully. Aku memang tak jago olahraga. Tapi wajahku cukup manis (menurut teman-teman) dan termasuk siswa cerdas di kelas. Beberapa teman menyarankanku melaporkan tindakan bullying yang dilakukan Bhayu pada guru-guru, tapi aku enggan melakukannya karena.. ehm.. ada kesalahanku juga di situ sebenarnya.

Namaku Harrel. Aku selalu sekelas dengan Bhayu sejak kelas 10. Awalnya kami tak pernah ada masalah. Namun aku sejak lama memang mengaguminya. Pertama, Bhayu tumbuh sebagai remaja yang atletis karena menjadi pemain tim basket sekolah. Selain itu, orangnya cukup populer karena ketampanannya dan otaknya lumayan encer. Buktinya, kami sama-sama sekelas di kelas 12 Ipa-1 yang isinya siswa unggulan. Kesalahanku, yah, waktu kami kelas 11, pada pelajaran renang, aku secara tak sadar berlebihan memerhatikan dirinya yang bertelanjang dada. Merasa risih, Bhayu langsung melabrakku di ruang ganti dengan bertanya padaku “Elo Maho ya? dasar bencong!”. Aku tak mencoba melawannya dengan argumenku dan itu membuatku seolah-olah mengiyakan pernyataannya bahwa aku benar-benar seorang bencong dan maho. Sejak saat itu, jika kelakuannya kumat, Bhayu tak segan-segan menyenggolku atau menabrakku sambil mengataiku bencong. Hmm… menderita bukan? tapi aku biasa saja. Bhayu itu sebenarnya anak yang baik. suatu saat aku pasti bisa mendekatinya. Itu janjiku.

Hari Senin siang, aku melewati ruang guru menuju kelas karena istirahat kedua sudah hampir usai. Secara tak sengaja aku mendengar percakapan dua guruku mengenai rencana razia dadakan gadget dan ponsel milik siswa untuk memeriksa konten porno. Peraturan di sekolah kami tak main-main, jika tertangkap basah menyimpan materi pornografi di ponsel,  orang tua kami akan dipanggil dan hukuman terberat adalah dikeluarkan dari sekolah.

Aku tak pernah sebodoh itu menyimpan konten porno di ponsel, laptop, atau tablet yang selalu kubawa. Tapi aku ingat, kulihat Bhayu pernah memamerkan video porno di ponselnya pada teman-teman segengnya sewaktu di kelas. Dasar bodoh! apakah dia tidak tahu resikonya? Cepat-cepat aku menyelinap agar tak diketahui oleh kedua guruku itu dan kembali ke kelas.

Sesampainya di kelas, teman-teman belum kembali seluruhnya. Masih kosong malah. Kulirik meja Bhayu yang letaknya di sebelah mejaku. Kebiasaan buruk anak itu adalah meninggalkan ponselnya sembarangan di meja. Terlalu cuek. Aku pun diam-diam meraih ponselnya dan dengan cepat mengeluarkan kartu memori micro SD yang tertanam pada bagian sisi ponselnya, lalu kukantungi dalam saku seragamku. Kukembalikan ponsel milik Bhayu ke posisi semula, dan aku kembali ke mejaku.

Benar saja. Tak lama setelah seluruh siswa kembali ke kelas mendadak guru BP yang terkenal galak ditemani dua guru pria lainnya muncul di dalam kelas.

“Semua berdiri dan maju ke depan sekarang! tinggalkan tas dan handphone kalian di meja…” perintah guru BP dengan suara menggelegar.

Sontak keadaan kelas menjadi ribut. Tak siap dengan razia mendadak itu, beberapa siswi berteriak histeris dan banyak siswa mendadak ribut salah tingkah. Aku melirik Bhayu. Kulihat wajahnya terlihat pucat dan berkeringat. Dia menatap dua dayangnya, Hanif dan Diaz dan mulutnya bergerak seperti menyebutkan kata ‘gawat’. Hanif dan Diaz ikut melongo ketakutan. Bhayu terlihat panik namun tak berkata apa-apa.

Dengan perasaan cemas, seluruh siswa menyaksikan razia yang dilakukan oleh ketiga guru itu. Kulihat beberapa murid dengan gemetar membantu guru-guru membuka password ataupun kunci ponsel lainnya ketika giliran mereka diperiksa.

Aku melihat Bhayu yang menggigit bibirnya panik saat guru BP itu sendiri meraih ponselnya. Aku nyaris tak bisa menahan tawa melihat ekspresinya.

“Ini punya siapa?” tanya guru BP.

Dengan ragu, Bhayu mengangkat tangannya.

Guru BP pun menghampiri Bhayu dan berkata, “Tolong buka kuncinya,”

Kulihat jari Bhayu gemetar saat menuliskan pola pembuka kunci pada layar ponselnya yang besar.

Setelah terbuka, guru BP mengklik, membuka folder, memeriksa file ponsel milik Bhayu dengan seksama sementara Bhayu makin terlihat panik. Setelah beberapa lama rupanya guru BP tak menemukan apapun yang dianggap sebagai materi porno pada ponsel Bhayu. Dia melirik Bhayu dengan curiga lalu memeriksa salah satu sisi ponsel Bhayu. Guru BP bergumam saat melihat tempat menancapnya kartu memori Micro SD ternyata telah kosong.

“Hmmm… kamu sengaja cabut atau memang tak ada?” tanya guru BP pada Bhayu sambil menunjukkan soket kosong kartu memori dan didekatkan pada wajah Bhayu.

Merasa takjub dan heran sekaligus lega bahwa kartu memorinya telah hilang, Bhayu buru-buru menguasai dirinya “Eh, eng.. memang enggak ada pak!” ujarnya mantap.

Guru BP masih melirik Bhayu dengan tatapan tak percaya. Tapi akhirnya dia menyerahkan ponsel itu pada pemiliknya.

“Saya enggak percaya kamu, tapi hari ini kamu beruntung…” gumam guru BP.

“I.. iya pak! makasih…” ujar Bhayu gugup sambil mengantungi ponselnya. Hanif dan Diaz sang dayang ikut-ikutan bernafas lega.

Rupanya razia hari itu tak membuahkan hasil. Tak ada yang tertangkap basah memiliki konten pornografi dalam gadget siswa. Jam pelajaran pun kembali normal.

Kulirik Bhayu. Dia masih tampak bingung dengan kartu memori ponselnya yang mendadak hilang. Aku tahu, pasti dia menyimpan hal-hal berbau porno di situ.

“Ssst!” panggilku pada Bhayu.

Bhayu yang alergi padaku, melirikku dengan tatapan tak suka karena telah kupanggil.

“Apa?” tanyanya galak.

Aku membuka telapak tanganku dan menunjukkan kartu memori miliknya sambil tersenyum. Bhayu membelalakkan matanya tak percaya. Setelah kutunjukkan padanya, kartu memori itu kusimpan kembali ke dalam kantung kemejaku.

*****

Semua siswa beranjak dari duduknya bersiap hendak pulang saat jam perlajaran terakhir telah usai. Aku masih memasukkan beberapa buku terakhir ke dalam tas saat Bhayu menghampiriku.

“Ehm.. Rel.. thanks ya…” kata Bhayu setengah hati.

Aku terus merapikan tasku tanpa memedulikannya.

“Rel.. boleh gue minta lagi kartunya?” tanya Bhayu terpaksa berramah-tamah padaku sambil mengulurkan tangannya. Aku baru menyadari, dua dayangnya tak berada di belakangnya.

“Temuin gue di gang belakang sekolah sepuluh menit lagi… sendirian,” ujarku sambil menyampirkan ranselku dan meninggalkan Bhayu yang berdiri di samping meja.

****

Gang belakang sekolah dulunya adalah tempat beberapa siswa nakal yang membolos sambil merokok di situ. Letaknya cukup terlindung dan berbatasan dengan dinding rumah warga. Tapi sejak beberapa kali guru-guru secara berkala mendatangi gang itu, tak ada lagi yang berani membolos dan nongkrong di tempat itu sehingga gang belakang sekolahku menjadi terlupakan. Aku yakin, tak ada lagi siswa yang pernah datang ke situ. Selain karena takut tertangkap basah, gosipnya ada hantu wanita berbaju merah terlihat beberapa kali di situ sambil menangis. Entahlah, mungkin rumor hantu itu yang membuat seluruh siswa enggan mendatangi gang tersebut.

Sekarang, aku duduk sendirian di gang itu, di atas tumpukan batu-bata lama bekas pemugaran sekolah tahun lalu. Menunggu Bhayu datang.

Tak lama, Bhayu muncul. Terlambat dua menit dari batas waktu sepuluh menit yang kuberikan. Dia menghampiriku sambil tersandung sekali oleh tumpukan batu-bata yang berserakan. Gang itu tak begitu lebar. Ujungnya buntu, dan hanya selebar bahu dua orang dewasa dengan tembok bangunan sekolah yang menjulang tinggi meneduhinya dari sinar matahari.

“Halo…” sapaku merasa di atas angin.

Bhayu berdiri sambil memegangi ranselnya dan menatapku penuh curiga.

“Ehm.. thanks udah ambil kartu memori gue. Sekarang boleh gue minta balik?” tanyanya ketus.

Aku tak menjawab, lalu berdiri berhadapan dengan Bhayu. “Elo berhutang budi sama gue. Tau enggak? elo bisa dikeluarin kalau ketahuan nyimpen gambar atau video porno,” ancamku.

Bhayu menatapku tak suka sambil meneguk ludah.

“Jadi mau lo apa?” tanya Bhayu gusar.

“Pertama… gue minta elo berhenti gangguin gue. Apalagi ngatain gue bencong,” kataku.

Bhayu terdiam sesaat. Permintaan yang mudah itu sih, mungkin begitu pikirnya. “Oke.” katanya.

“Kedua…” lanjutku.

“Kok masih ada?” protes Bhayu.

Aku mengabaikan protesnya, “Kedua… gue mau elo ngelatih gue main basket.”

Bhayu terdiam cukup lama. “OKE! tapi gue enggak mau temen-temen lain tahu!” sahutnya.

“Terakhir…” ujarku.

“BANYAK AMAT??” raung Bhayu kesal.

“Terakhir…. gue pengen nyepong kontol elo. Di sini… sekarang…” ujarku dingin sambil menatapnya tajam.

“Gila! maho! setan! ENGGAK!” sahut Bhayu kalap di wajahku.

Aku menunduk. Bhayu kemudian menghentikan umpatannya dan menatapku gusar.

Aku mengangkat kepalaku dan menatap Bhayu sambil tersenyum. Kutarik pergelangan tangan Bhayu dan menjejalkan kartu memori miliknya di telapak tangannya.

“Sori Bhay… enggak seharusnya gue maksa and ngancam elo… Gue cuma berharap kita bisa berteman,” kataku lembut sambil menepuk tangannya. Aku membalik badan hendak meninggalkannya. Sementara itu Bhayu masih berdiri terdiam di belakangku.

“Harrel…” panggilnya saat aku mulai melangkah jauh.

Aku berhenti dan menoleh padanya. Kulihat Bhayu memalingkan wajahnya yang bersemu merah dan cemberut. “Oke…” ujarnya.

Aku tersenyum gembira. Kemudian aku menghampiri Bhayu dan berdiri di hadapannya.

“Tenang Bhay… elo enggak akan jadi homo hanya karena disepong sama cowok. Elo tutup mata aja bayangin kalo elo diisep sama cewek,” kataku sambil meletakkan ransel pada lantai semen gang itu.

Bhayu tak menjawab. Wajahnya masih bersemu merah dan tak mau menatapku.

“Udah pernah disepong?” tanyaku sambil berlutut. Bhayu berdiri amat kaku sambil bersender pada dinding.

Bhayu mengangguk.

“Rasanya?” tanyaku penasaran.

Bhayu mengangkat bahunya. Aku bisa membayangkan, servis blowjob pertamanya dilakukan oleh ceweknya yang terpaksa melakukan itu. Pasti rasanya tidak enak disepong oleh cewek yang mulutnya seperti vacuum cleaner. Asal sedot dan hisap asal si cowok muncrat. Berbeda dengan pria, mereka akan memperlakukan penis pasangannya dengan penuh hormat. Menelusuri seluruh bagiannya karena tahu, bagian manakah yang bila dirangsang dan disentuh akan mendatangkan kenikmatan. Aku terkekeh.

Bhayu yang terlihat kurang rela dan seperti selalu hendak kabur membiarkan diriku berlutut dan membuka ikat pinggangnya serta melepaskan kaitan celana dan menurunkan risletingnya.

Aku menarik celana dalam Bhayu hingga penisnya menyembul keluar. Masih lemas, namun sudah terlihat panjang dengan diameter wah untuk ukuran remaja. Bulu-bulu kemaluannya terpotong rapi pada pangkalnya. Aku tak menyangka kalau Bhayu menata rapi rambut pada pubisnya, karena kupikir dia anak yang cuek. Berkali-kali Bhayu berusaha menghindar ketika aku mencoba meraih penisnya dengan tanganku. Pada usahanya yang keempat, Bhayu pun pasrah membiarkan aku mengocok penisnya dengan perlahan. Kulihat Bhayu menggigit bibirnya sambil menutup matanya. Tampangnya masih tak rela.

“Sabar Bro… bayangin aja lagi dimainin cewek elo,” kataku mencoba menghiburnya.

Bhayu tak menjawab. Tapi aku tahu, dia mulai tak kuat menahan gengsinya untuk tidak terangsang. Buktinya, penisnya makin menegang di genggamanku. Aku mencium cium kepala penisnya. Bau khas pria yang maskulin pada daerah itu membuatku terangsang.

“Shit!” pekiknya ketika aku menggunakan lidahku mengusap zakarnya dan bergerak hingga kepala penisnya.

Kugunakan lidahku untuk menelusuri seluruh bagian penis Bhayu, pemuda yang kukagumi sejak lama, hingga basah dan mengilap oleh liurku.

“Hhhh..” Bhayu mendesah ketika kumasukkan kepala penisnya pada mulutku dan memain-mainkannya dengan lidahku hingga terasa hangat. Kali ini dia tak lagi menahan diri. Penisnya telah tegang sempurna. Bhayu masih memejamkan mata sambil kedua tangannya bergerak-gerak tak tentu arah mencoba mencari pegangan atas reaksi rangsangan pada penisnya yang membuatnya keenakan. Sebenarnya aku tak keberatan bila Bhayu bertumpu pada bahu atau kepalaku, namun Bhayu sepertinya masih gengsi menyentuh tubuhku.

Jantungku berdegup kencang, aku merasakan kegembiraan luar biasa hingga telingaku terasa berdenging. Remaja yang biasa membully aku, kini aku berhasil mengulum penisnya!

“AAAAH.. Bangke…” Desisnya keenakan ketika aku tiba-tiba mengulum penisnya hingga nyaris masuk semua ke dalam mulutku. Tak membuang kesempatan, kuberikan isapan dan permainan lidah terbaik yang bisa kuberikan agar Bhayu bisa membandingkan, permainan oral siapakah yang paling hebat? aku ataukah cewek yang pernah mengoralnya? tentu saja aku! ujarku bangga dalam hati.

Mungkin Bhayu juga tak menyangka, temannya sendiri, seorang pria malah! bisa membuatnya terangsan oleh servis oral yang diberikan. Aku menatap wajah Bhayu. Rupanya dia tak lagi menutup wajahnya. Tubuh jangkung atletisnya kini terlihat lebih santai dan lebih pasrah menikmati blowjob dariku.

“Aah…” desah Bhayu sambil terengah. Tangannya kini memegangi celana abu-abunya agar aku lebih leluasa mengoralnya.

Aku mempercepat gerakan kepalaku. Aku membuka celana dan meraih penisku sendiri dan mengocoknya.

“Hmmmf.. hmmmf..” gumamku sambil terus berusaha mempertahankan penis Bhayu yang cukup besar itu tetap berada dimulutku. Aku terkejut saat Bhayu mulai ikut menggoyangkan pinggangnya. Rupanya anak ini mulai menikmati permainan seks yang kuberikan. Aku mengocok penisku makin cepat. Kukerahkan upaya terbaikku agar Bhayu mencapai klimaks. Penisnya makin mengeras dan aku tahu sebentar lagi dia keluar.

“Nggg…..” erang Bhayu. Seluruh otot di tubuhnya menegang. Dia mencengkeram bahuku dan kurasakan pahanya mengeras. Tak berapa lama kurasakan aliran sperma hangat dan segar dari remaja 17 tahun itu mengalir di mulutku. Akupun mengocok penisku lebih cepat dan ikut mencapai klimaks tak lama kemudian. Kulihat Bhayu masih terengah-engah. Dia kemudian jatuh terduduk di tumpukan tinggi batu-bata bekas. Aku mengeluarkan handuk dan membersihkan mulutku. Dia menatapku dengan pandangan yang tak kumengerti. Entah itu takjub, heran, ataukah kesal karena rupanya dia berhasil ejakulasi dengan bantuan seorang pria sehingga dia merasa menjadi homo? entahlah.

Aku merapikan pakaianku dan berniat hendak pergi dari situ. “Thanks Bhay..” ujarku.

Aku melihat Bhayu yang masih mencoba mengatur nafasnya ikut membetulkan posisi seragamnya. Dia tiba-tiba mendahuluiku tanpa berkata apa-apa. Aku hanya bisa menatapnya dari belakang saat dia menghilang keluar dari gang.

Beberapa hari kemudian Bhayu tak menegurku atau bahkan menggangguku. Sepertinya dia menghindar. Akupun tak berusaha menyapanya dan membiarkan sikapnya. Aku tak peduli. Aku sudah berhasil mendapatkan apa yang kuinginkan dari cowok tampan itu.

***

Jumat pagi, saat aku berjalan di lorong, aku kembali berpapasan dengan Bhayu dan dua dayangnya. Seperti sudah menjadi gerakan refleks, aku minggir merapat ke tembok. Jantungku berdegup ketika Bhayu menghampiriku dengan tampang galak. Apakah dia akan mendorongku lagi? atau bahkan lebih parah?

“Harrel!” sahutnya ketika dia berhenti di depanku.

Aku diam mengantisipasi apa yang akan dia lakukan.

“Latihan basket sama gue besok sore jam empat! awas kalau elo enggak dateng dan bikin gue buang waktu. Gue hajar lo!” ucapnya galak yang hanya bisa didengar kami berempat.

“Oke Bhay.. gue pasti datang!” jawabku sambil tersenyum.

Bhayu tak menjawab. Dia kemudian beranjak pergi. Tapi tak lama kemudian dia kembali dan berbisik padaku.

“Setelah latihan, kita ke gang belakang…” bisik Bhayu sambil meremas bahuku. Aku terkejut dan meneguk ludah tak menyangka dia berkata begitu. Dan aku bersumpah! saat melihatnya pergi dia menoleh padaku sambil tersenyum dan mengedipkan matanya!

(TAMAT)

Advertisements
Comments
  1. aryaaaa says:

    Mas yang di foto itu mau dong gue sedot putingnya sama kejantanannya, entotin gue dong mass

  2. coc111094 says:

    br engeh pas d bkin prtama,ini mao d jdiin onecrotyak(lsg tamat)? inspirasi nhlanjutinny karna pa yak?untung lanjut :3

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s