MENATAP BINTANG di LANGIT LUWUK – Bagian 5

Posted: December 1, 2013 in Menatap Bintang di Langit Luwuk

MBDLL - 5JAMES benar-benar datang menjemput satu setengah jam dari waktu yang dia janjikan. Dewo kelihatan sekali sangat bersemangat.

“Mau ke mana kita?” tanya Dewo antusias ketika mereka bertiga naik ke dalam mobil.

“Lihat aja nanti. Bakal ada pertunjukan seru,” kata James nyengir.

“Gay bar?” tanya Putra.

“Hmm… sebenarnya bukan. Cuma memang hari-hari tertentu, orang kayak kita yang datang jauh lebih banyak. Lama-lama yang lain tersingkir dengan sendirinya,” jelas James sambil terkekeh.

Dewo tak menyangka bahwa komunitas gay sudah tersebar cukup luas di seluruh Indonesia. Tak terkecuali di kota Palu ini. Kemudian James memarkir mobilnya di dekat salah satu bangunan dengan hiasan lampu neon warna-warni. Dari papan namanya, tempat ini adalah sebuah gabungan antara tempat bilyar di lantai dasar, dan tempat hiburan berupa bar sekaligus restoran (Putra yakin, tak ada yang benar-benar berniat untuk makan malam di tempat ini). Walaupun tempat hiburan ini jauh dari kesan desain interior yang modern, tetapi hal ini malah membuatnya terlihat klasik dan elegan. Ornamen dan perabot dari kayu-kayu eboni klasik khas daerah Sulawesi berpadu manis dengan lampu-lampu hiasan. Dewo terkesima dengan suasana bar yang sudah ramai itu. Mereka bertiga mengikuti James menuju sebuah sofa panjang yang masih kosong kemudian memesan minuman sambil menikmati musik menghentak.

Dunia Dewo kini hanya terkonsentrasi pada James. Dan itu membuat Putra merasa terasing. Dia mencoba menyibukkan diri dengan mengirim sms atau sekadar chatting menggunakan ponselnya, sementara Dewo dan James seperti sudah direkatkan oleh lem sagu lengket (begtupun otak mereka) sehingga tidak lagi memedulikan Putra. Berada bertiga dengan mereka tentu saja membuat Putra terlihat seperti seekor kelinci yang tersesat dan siap untuk dimangsa oleh para serigala jahat. Beberapa pria mulai mendekatinya dengan cara duduk disebelahnya dan tangannya mulai nakal menyentuh-nyentuh bagian tubuh Putra.

“Belum ada yang nemenin nih? boleh dong aku temenin?” ujar seorang cowok tiga puluhan hitam manis dengan gigi super-putih yang dia pamerkan pada Putra.

“Euh, enggak perlu.. enggak perlu…” kata Putra sambil bergeser menjauh dari cowok itu.

“Masa kamu tak ngiri sama mereka?” cowok itu mendekati Putra kembali sambil matanya menunjuk pada kemesraan Dewo dan James.

Sebelum Putra sempat menjawab, dua orang cowok lagi malah datang dan mengisi tempat kosong di sofa.

“Hey… kayaknya asik nih? boleh gabung? siapa dia Syah?” Kata salah seorang cowok yang jangkung bertanya pada si hitam manis. Rahangnya yang tirus dan wajahnya yang pucat dan terkena sinar lampu kuning membuatnya terlihat seperti vampir.

“Orang baru. Kayaknya dari Jakarta.” Kata si cowok hitam-manis sok tahu.

“Oya? ganteng juga. kenalan dong? nama gue Hendri.” kata si cowok yang lebih pendek mendahului si cowok vampir mengajak Putra berkenalan.

Putra semakin salah tingkah. Mendadak musik berganti dengan lagu bertempo cepat yang tampaknya sedang populer dan disukai banyak orang. Saat intro terdengar, banyak cowok berteriak riuh sambil bertepuk tangan dan bersiap untuk berdansa. Tak terkecuali James. Dia berseru huu.. sambil berdiri dan mengangkat tangan. Kelakuannya membuat perhatian ketiga orang yang tadinya mendekati Putra menjadi teralihkan. James berdiri dan mulai menggerakkan badannya. Tanpa diduga James melompat ke atas meja di depan sofa dan mulai menari. Pinggulnya dia liuk-liukkan dan, ya Tuhan! dia mulai membuka kancing kemejanya satu persatu sambil terus menari. Sontak saja kumpulan pria yang ada di dekat Putra menjadi histeris dan berteriak menyemangati James. Sedangkan Dewo, walau tak berteriak, tetapi dia tetap duduk di sofa menatap James tanpa berkedip. sangat terpesona. Meja dimana James mengadakan ‘pertunjukan’ dadakan mulai ramai didatangi pria-pria lain. Diam-diam Putra menyelinap pergi. Dia tak tahan lagi ingin mencari udara segar.

Kemudian ponsel Putra bergetar. Ada pesan teks dari nomor ponsel yang baru dia masukkan. Nomor Nemanja.

“Help. ASAP. Lima watt”

Putra kebingungan membaca SMS dari Nemanja. “Apa maksudnya?” tanyanya dalam hati.

“Why? kamu kenapa?” balas Putra.

Tapi Nemanja tak juga membalas setelah hampir dua menit. Dan ketika Putra meneleponnya, ponsel Nemanja tak kunjung diangkat. Putra merasa khawatir dan segera keluar dari bar menuju beberapa orang di dekat jalanan dengan deretan motor. Sepertinya mereka sekumpulan tukang ojek.

“Eng.. Pak? tahu lima watt?” tanya Putra ragu. Dia bertanya pada seorang pengojek muda yang memakai jaket biru menggelembung.

“Ayo naik.” si pengojek bangkit menuju motornya dan menyerahkan helm cadangan kepada Putra.

“Hah?” tanya Putra tak mengerti. Dia tak menyangka malah akan diajak naik ojek motornya.

“Ke lima watt kan? ayo saya antar.” ujar si tukang ojek sambil bersiap membawa motornya. Walaupun masih ragu dan tak menyangka ada tempat bernama lima watt, akhirnya Putra bersedia mematuhi tukang ojek itu dan naik ke motor.

Selama perjalanan mengendarai motor, Putra masih memikirkan apa yang terjadi pada Nemanja. Lamunannya diganggu oleh pertanyaan si tukang ojek.

“Kok ke lima watt bang? emangnya tadi salah tempat ya?”

“Apa? apa maksudnya?”

Si tukang ojek bukannya menjawab malahan terkekeh, dia kemudian berkata dengan nada ejekan. “Rangkul pinggang juga gak apa-apa pak.. saya gak keberatan.”

Putra mendadak kesal. Dia menahan marah atas ejekan ‘homo’ si tukang ojek walaupun dia masih belum mengerti tentang ucapannya mengenai lima watt. Tapi Putra hanya bisa diam saja karena dia membutuhkan orang menyebalkan ini dalam satu-satunya kesempatan untuk menemukan Nemanja.

Sepuluh menit kemudian Putra mengenali jalan yang dia lalui. Ini adalah jalanan sepanjang pinggir teluk Talise menuju ke arah hotel tempat dia menginap. Ternyata di malam hari, sepanjang pantai pinggiran teluk sangat ramai. Banyak tenda-tenda menjajakan makanan dan minuman khas daerah setempat maupun Makassar dengan bentuk rumah makan sederhana maupun cafe-cafe. Suara hingar bingar musik dari pemutar DVD yang disambungkan ke pengeras suara terdengar sahut-sahutan. Banyak orang makan di cafe tersebut, namun banyak juga yang duduk-duduk di tembok pembatas pantai dengan teman maupun pasangannya sambil menikmati angin laut. Kemudian si tukang ojek memperlambat motornya dan menurunkan Putra di sisi jalanan pinggir pantai.

“Ini lima watt bang?” tanya Putra.

“Bukan. Lima watt di sana lagi. sepanjang jalur itu sampai sana namanya lima watt. Saya tidak mau mengantar sampai sana.” Jelas si tukang Ojek tak sabaran. Sepertinya dia ingin cepat-cepat dibayar.

Cepat-cepat Putra mengeluarkan dompetnya dan menyerahkan selembaran uang untuk si tukang ojek. Jumlahnya ternyata lumayan besar bagi si tukang ojek sehingga mendadak dia menjadi sangat ramah dan melunak.”Hey, pak! mau ditunggu?” tawarnya. Tapi Putra menggeleng dan mulai berjalan.

Rupanya semakin jauh Putra melangkah, cafe-cafe tenda yang tadinya rapat dan ramai semakin jarang. Putra melihat pemandangan malam di Teluk Talise. Indah, namun menakutkan. Lampu-lampu sepanjang jalan sangat kontras berlatar belakang laut yang sebenarnya dangkal dan berombak tenang, namun karena gelap jadi terlihat dalam dan menakutkan. Siluet barisan gunung yang berjajar seperti benteng terlihat kokoh dan dingin melindungi kota. Angin berhembus cukup kencang, namun udara tetap terasa panas. Melihat permukaan laut yang gelap, Putra bergidik ngeri. Tanpa sadar dia membiarkan dirinya berjalan agak jauh dari pantai. Akhirnya deretan cafe tenda itu benar-benar berakhir dan digantikan oleh bangunan baru. Pondok-pondok bambu kecil dengan penerangan temaram berjejer sampai kira-kira dua ratus meter ke depan. Pondok-pondok bambu seperti rumah panggung kecil itu berdinding anyaman bambu yang membuatnya tidak benar-benar tertutup alias orang yang lewat bisa melihat dalamnya. Lampu-lampu biru dan merah redup dipasang di beberapa sudut sehingga manusia-manusia yang ada disekitarnya hanya tampak sebagai siluet. Di ujung salah satu atapnya digantung sebuah benda serupa lampion, diisi dengan lampu temaram juga. Putra bisa melihat kalau di dalamnya hanya terdapat satu layar televisi yang tampak menampilkan video klip lengkap dengan liriknya. Karaoke set pasti. Setiap pondok memutar lagu yang berbeda sehingga suaranya saling menggangu. Beberapa orang yang sedang duduk di pojokan yang lebih gelap disebelah motor yang terparkir tak terlihat wajahnya. Tapi Putra sadar kalau mereka sedang mengawasinya. Putra mempercepat langkahnya.

Ketika melewati sebuah pondok, seorang wanita berbadan sintal menegur Putra. “Bang, mampir dulu bang. Minum-minum dulu.” tawarnya. Putra tidak menjawab dan terus berjalan. Perhatiannya teralihkan pada sebuah suara dari sebuah pondok. Ada orang bernyanyi dengan logat aneh dan tak biasa. Putra penasaran dan melongok ke dalam. Orang itu duduk bersila sambil bernyanyi sementara dua orang wanita menemaninya di samping kanan dan kiri. Tak salah lagi. Itu Nemanja! dan dia berusaha keras bernyanyi lagu dangdut!

“Permisi.” Ucap Putra kepada seorang wanita yang berdiri di teras sambil hendak masuk. Si wanita mengangguk dan tersenyum membiarkan Putra masuk. Dandanan wanita itu terlalu tebal dan menor seperti topeng. Bedaknya memantulkan cahaya biru dari lampu satu lampu redup dan membuatnya terlihat seperti kulit boneka pajangan.

“Nemanja?” tanya Putra sambil menyentuh bahu si cowok bule yang sedang berkaraoke. Nemanja menghentikan nyanyiannya dan menoleh pada Putra. Ekspresinya kelihatan lega.

“Ah, baby.. akhirnya datang juga. Maaf Nona-nona, pacar saya sudah datang. Saya tertangkap basah.” kata Nemanja tiba-tiba sambil berdiri. Dia berkata kepada dua orang gadis yang sedari tadi menemaninya sambil merangkul Putra dan tersenyum. Putra tak mengerti tapi dia tetap diam dan membiarkan Nemanja.

“Sorry babe, aku nakal malam ini, pergi enggak bilang sama kamu.” Setelah mengakhiri kalimatnya, Nemanja mengecup pipi Putra. Putra membelalak kaget dan tak percaya.

“Yuk, pergi?” ajak Nemanja pada Putra sambil tetap merangkulnya. Kemudian dia mengangsurkan selembar uang seratusribuan kepada kedua gadis itu.

Dua gadis itu terlihat sebal. Salah satunya berbisik kesal. “Pantes dari tadi dirayu buat transaksi gak mau. ternyata homo…”

Setelah mereka berada di luar, Nemanja terbahak-bahak. Putra akhirnya bertanya juga,

“Ada apa sih? SMS kamu bikin khawatir aja.”

“Masa? ooh.. aku jadi terharu.” ujar Nemanja sambil tersenyum.

“Bisa jelasin. Kamu lagi ngapain di sini? lagian, tempat apa ini? terus, kenapa pake cium pipi segala?!” Putra bertanya tidak sabar seperti seorang yang terkena amnesia dan mendadak berada di tempat yang tidak diingatnya sama sekali.

“Ini namanya daerah lima watt. Prostitusi terselubung ada di sini. lampunya redup dan ada lampionnya. Sebenarnya ini hanya tempat buat transaksi.” Nemanja menjelaskan dengan lancar seperti penyuluh kesehatan menerangkan bahaya Penyakit Seksual Menular kepada supir-supir truk Pantura.

“Mungkin seperti red-light-district? I dunno.. tapi yang pasti, waktu saya bilang hanya ingin berkaraoke, mereka tidak percaya. Dan waktu saya bilang that I’m gay, mereka juga tidak percaya. Makanya saya perlu bantuan kamu. Banyak pelindung mereka, you know? preman-preman penjaga keamanan gadis-gadis itu? mereka pasti akan memukuli saya kalau dianggapnya mempermainkan mereka.”  lanjut Nemanja.

Putra teringat pria-pria yang mengawasinya dari kegelapan tadi di daerah lima watt. Dia baru ngeh kata-kata yang Nemanja ucapkan soal orientasi seksualnya.

“Nemanja. Are you gay?” tanya Putra.

“Uh-huh, dan aku juga tahu kalau kamu gay. Kukira kamu sudah tahu dari awal.” kata Nemanja.

“Euh, saya tidak punya gay-dar sehebat itu. Or atau memang saya kelihatan ya?” tanya Putra.

Nemanja tertawa. “Kalian itu di Indonesia terlalu meributkan kelihatan atau tidaknya ya? aku tahu karena aku tahu. Itu saja.”

“Ayo! mumpung kita ke sini, kita jalan ke jembatan. Mobil saya diparkir di sana, nanti aku antar kamu back to your hotel setelah ke jembatan.”

“Jembatan?” tanya Putra bingung.

“Iya. Jembatan. Jembatan lengkung di Palu? oh Tuhan! aku kira kamu setidaknya sudah googling dulu apa saja yang ada di Palu sebelum ke mari.”

Putra tersipu malu. Rupanya yang disebut jembatan oleh Nemanja adalah jembatan lengkung kuning yang menghubungkan dua kecamatan yang terpisah oleh Teluk Talise. Ini adalah konstruksi jembatan lengkung ketiga di dunia setelah Amerika dan Jepang. Kalau malam terlihat sangat indah dan menjadi kebanggaan kota Palu karena terlihat terang oleh lampu-lampunya. Bahkan di bawah puncak lengkungannya disediakan tempat semacam balkon untuk melihat keindahan alam gabungan gunung-lembah-laut daerah perkotaan atau melihat langsung pemandangan laut lepas. Dan setelah berjalan beberapa lama, Putra dan Nemanja berada di salah satu balkonnya. Angin terasa makin kuat di atas sini. Nemanja menopang tubuhnya dengan kedua lengannya yang berpegangan pada besi pembatas. Wajahnya berseri-seri melihat pemandangan indah dan ujung-ujung rambutnya bergerak-gerak diterpa angin.

“Kamu sadar gak? kalau kita ada tepat di bawah puncak lengkung jembatan yang seperti busur?” Tanya Nemanja.

“Memang kenapa?”

“we’re like… two arrows.. you know? anak panah yang siap dilontarkan…. dengan sasaran yang sama… ” kata Nemanja lagi. Dia tidak meneruskan kalimatnya.

“Oya? Apa itu?” Tanya Putra bingung.

“Asmara.” Jawab Nemanja. Senyumnya mengembang sangat indah dan matanya menatap mesra Putra.

Putra tertawa mendengar rayuan Nemanja. Kepalanya menggeleng-geleng dan matanya menerawang ke arah laut lepas.

“I like you Put…” kata Nemanja. Wajahnya mendadak serius dan matanya menjadi sayu.

Mendengar pernyataan mendadak seperti itu, jantung Putra berdetak semakin cepat.

*****

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s