MENATAP BINTANG di LANGIT LUWUK – Bagian 4

Posted: December 1, 2013 in Menatap Bintang di Langit Luwuk

MBDLL - 4WAKTU sudah menunjukkan pukul sembilan malam lewat duapuluh menit. Dewo memutar-mutar arlojinya untuk menyesuaikan dengan waktu Palu yang satu jam lebih awal daripada waktu Jakarta. Putra dan Dewo sedang menunggu kopor mereka muncul di tempat klaim bagasi pesawat. Putra mencari-cari sosok Nemanja, tapi sepertinya dia tidak membawa barang yang di simpan dalam bagasi sehingga dia dapat langsung pergi keluar dari Bandara Mutiara. Tadinya sempat terpikir oleh Putra bahwa dia bisa sedikit saja memanfaatkan Nemanja untuk membuat Dewo cemburu. Hah! tapi kau sendiri tidak tahu kan Put kalau dia gay? kecam Putra pada diri sendiri.

“Dijemput?” tanya sebuah suara dengan logat asing yang sudah dikenal Putra. Suara Nemanja. Tanpa disadari Putra, rupanya orang itu sudah berdiri dibelakangnya

“Hah? Oh-eh.. iya. Kita dijemput.” Jawab Putra gugup tak menyangka kalau orang yang dicarinya mendadak sudah ada di sebelahnya.

“Good. OK. have a nice holiday. both of you!” katanya sambil melihat ke arah Dewo yang sedang mencoba menghubungi seseorang dengan ponselnya. Dewo tersenyum pada Nemanja dan melambaikan tangan. “I’ll call you.” lanjutnya pada Putra.

Putra memberikan senyuman termanisnya melepas Nemanja Pergi.

Rupanya Putra dan Dewo harus menunggu sekitar limabelas menit lagi untuk menunggu James dan mobilnya datang. Begitu James bertemu kedua tamunya (padahal James sendiri bukan dari Palu), dia langsung menyambut dengan senyuman ramah. Jeans belel dengan sobekan di bagian lutut dan t-shirt putih bersih dan sandal gunung tidak membuat ketampanan James yang berwajah oriental dan berkulit putih bersih itu berkurang. Malahan kesan bad-boy keren dan cuek makin terlihat. Benar kata Dewo, badan James lebih keren dibandingkan dengan yang Putra lihat di foto. Dan Putra kini setengah mati menahan ekspresi wajahnya agar ketidaksukaannya pada cowok itu tidak terlampau terlihat.

“Hi bro! gimana penerbangannya? lancar?” tanya James sambil menghampiri Dewo, menyalaminya dan memeluknya.

“Lancar..lancar..” Dewo menjawab dan merangkul pundak James seperti kawan lama yang sudah lama tidak berjumpa. “Oh iya.. James, kenalin temen gue.. Putra.”

“Wow… halo bro! teman Dewo? wah..wah..wah.. elo kok gak ngenalin ke aku sih waktu ketemu di Jakarta? gak rela ya? takut aku embat?” tanya James melihat Putra seksama dengan senyuman nakal.

Ingin rasanya Putra menonjok wajah James karena sebal, tapi dia menahan diri dan bersusah payah untuk tersenyum dan terlihat tulus. sangat tulus!

“Hey.. iya. Dewo bilang dia enggak mau kesaing sama gue. Putra” kata Putra sambil menyalami James dan mencoba mengimbangi candaannya.

“Well brothers… selamat datang di Palu. Kita akan bersenang-senang di sini,oke?” sahut James mengambil posisi di antara Dewo dan Putra dan masing-masing lengannya merangkul keduanya. James menoleh ke arah Putra dan tersenyum sengingga membuat Putra salah tingkah, kemudian menoleh ke arah Dewo dan membisikkan sesuatu di telinganya. Pelan, tapi cukup keras untuk didengar Putra “Wo.. I smell a virgin here…”

Dewo terbahak sedangkan Putra membelalakkan matanya kesal dan melepaskan rangkulan James.

****

Perlu waktu sekitar duapuluh menit untuk mencapai hotel. James membawa Toyota Rush putih untuk menjemput Dewo dan Putra. “Milik keluarga,” katanya. James bilang dia telah memesan kamar di salah satu hotel waralaba yang cukup bagus di kota Palu. Letak gedung utamanya bersebelahan langsung dengan Teluk Talise, teluk utama di kota Palu. Sayang, Putra tidak bisa menikmati pemandangan di luar kendaraan karena sudah malam dan langit juga mendung.

James cukup ramah dan pandai memancing topik pembicaraan (walau Putra menghitung, sekitar dua pertiga obrolannya seputar daerah selangkangan pria). Putra memerhatikan Dewo yang duduk di sebelah James yang sedang menyetir terlihat sangat bahagia. Mau tak mau Putra tak bisa terlalu membenci James. Orang ini sangat supel dan ramah. Mungkin itu kelebihan yang dia miliki: orang susah menemukan alasan untuk tidak menyukainya.

Hotel yang James pilihkan ternyata bukan di gedung utamanya, melainkan beberapa deret villa yang manajemennya telah diambilalih oleh hotel tersebut. Villa itu seperti miniatur perwakilan kota Palu: terletak di antara bukit, lembah, dan laut. Bagian belakang villa terdapat pemandangan bukit hijau dengan awan-awan yang bergelayutan, sedangkan di bagian depannya langsung terlihat hamparan air laut teluk Talise dengan ombaknya yang tenang. (Putra baru menyadari keindahan lokasi hotel ini keesokan paginya)

James mengantar Dewo dan Putra sampai ke depan pintu kamar salah satu villa. Setelah yakin tak ada orang, dia mengecup bibir Dewo sekilas, (Putra memalingkan wajahnya ke arah lain) tetapi bukan untuk berpamitan.

“Nanti aku jemput satu setengah jam lagi ya?” kata James.

“Eh, kenapa ga nunggu di sini aja?” tanya Dewo. Putra yang sedang mengeluarkan isi kopornya mendadak menghentikan kegiatannya itu dan menunggu jawaban James.

“Hmm… tawaran yang menggoda. Tapi aku gak melakukan threesome di malam pertama aku ketemu orang baru.” Jawab James sambil tersenyum. James mengedipkan mata pada Putra yang kedapatan diam-diam melirik ke arahnya. Buru-buru Putra melanjutkan kesibukannya.

“Aku ada urusan lain sebentar, oke? istirahat aja dulu. Nanti kita pergi sama-sama. Ada klub yang harus kalian berdua datengin.” lanjut James lagi sambil berlalu.

***

Tubuhnya yang letih sebenarnya membuat Putra sangat tergoda untuk langsung menikmati ranjang dan bantal yang empuk di kamar hotel ini. Hal itu sudah diutarakan Putra kepada Dewo kalau dia tidak mau ikut dan mengganggu ‘kencan’nya dengan James. Tetapi Dewo tetap memaksa Putra untuk ikut.

“Gue perlu pendapat elo Put. Sebagai sahabat.” Kata Dewo menaik-naikkan alisnya. “Eh! menurut elo gimana tadi? lucu kan orangnya?” Dewo bertanya sambil membanting tubuhnya sendiri ke ranjang. Tangannya sibuk memencet-mencet tombol remote mencari channel televisi yang menarik.

“Lucu sih. Cakep. Keren. Supel. Gue bisa lihat kenapa elo tertarik sama dia.” Putra tak percaya pada dirinya sendiri bisa mengatakan kalimat seperti itu. Sedetik kemudian Putra sedang berkutat susah payah mengeluarkan notebooknya dari dalam tas.

“Heh? bawa laptop? ngapain? kerja?” tanya Dewo tak percaya.

“Iya! gue gak mau pusing nyari komputer kalau ada kerjaan mendadak.” jelas Putra.

Dewo tak berkomentar dan hanya menggeleng heran melihat kelakuan Putra.

“Mandi duluan gih!” perintah Dewo.”gue mau nonton film ini dulu. Atau… kita mandi berdua yuk?” ajak Dewo genit.

UCapan Dewo dibalas dengan timpukkan bantal oleh Putra. Namun tak urung Putra berniat menuruti perintah Dewo karena dia sendiri memang sudah membutuhkan siraman air hangat untuk menyegarkan tubuhnya. Sebelum masuk ke kamar mandi, Putra bertanya pada Dewo.

“Elo bener-bener serius ya Wo? udah usaha ngejar sejauh ini… berarti elo suka banget sama dia kan?”

Agak lama Dewo menatap Putra. Rupanya dia agak terkesima tak menyangka ditanya seserius itu oleh Putra. Kemudian Dewo mengangguk mantap.

“Iya Put. Gue suka sama James. Dan gue berharap setelah pertemuan ini gue bisa bilang sama dia kalau gue suka dan dia mau jadi pacar gue.”

Putra menghela nafas dan mengangguk. Niat Dewo sepertinya sudah bulat. Kemudian dengan rasa sakit yang mendadak terasa di dadanya, Putra masuk ke kamar mandi menghindari pandangan Dewo agar tidak melihat matanya yang mulai terasa panas.

Untunglah, guyuran air panas di shower membatalkan keinginan Putra untuk menangis. Setelah merasa cukup, Putra mengambil handuk dan melilitkannya di pinggang. Oh tidak. Rupanya dia lupa membawa baju ganti ke kamar mandi. Selama ini, Putra yang pemalu memang jarang sekali membiarkan tubuhnya yang setengah telanjang terlihat oleh Dewo. Tidak seperti Dewo yang percaya diri (dan diam-diam Putra menikmati) dan nyaman-nyaman saja apabila harus tidak berpakaian atau keluar dari kamar mandi hanya dengan handuk.

Putra melihat ke arah cermin. Dirinya sudah lebih berubah sekarang. Wajah tampannya tak lagi dia tutupi. Badannya pun kini sudah terbentuk dan lebih atletis akibat latihan rutin di pusat kebugaran. Tak sedikit yang memuji perubahan Putra sekarang, dan dia banyak didekati oleh banyak Pria ketika sisi kerennya tersingkap. Tapi di depan Dewo, Putra tetaplah Putra yang dulu: Si kurus pemalu, tidak percaya diri apabila berhadapan dengan Dewo. Itulah sebabnya dia sengaja memakai sweater longgar diatas kaus bertumpuk sehingga Dewo tidak menyadari perubahan pada tubuhnya. Atau memang sebenarnya Dewo memang tidak pernah memerhatikan Putra? Tidak pernah memandang Putra dengan cara yang lain dan hanya memandangnya sebagai pria pemalu yang juga temannya.

Putra kemudian memberanikan diri keluar kamar mandi. Dengan canggung dia berjalan menuju lemari. Melewati Dewo yang sedang asyik menonton televisi. Dewo yang sedang asyik melihat sebuah video klip musik mau tak mau teralihkan perhatiannya ketika Putra melintas menghalangi pandangannya sesaat. Semula Dewo kaget dan bingung. Siapa gerangan pria keren dengan torso sempurna dan lekukan otot yang sangat pas melekat ditubuhnya serta mengilap oleh titik-titik air dan rambut basah yang menutupi seraut wajah tampan? Apa ada orang lain di kamar mereka selain dirinya dan Putra? Mulut Dewo ternganga sementara matanya mengikuti tubuh Putra yang berjalan ke arah lemari.

“Pu.. Putra?” tanya Dewo tak yakin.

“Iya Wo? ada apa?” Putra balik bertanya.

Dewo tak menjawab. Mendadak jantungnya berdebar.

Putra kebingungan. “Kenapa Wo? kok ngeliatin gue kayak begitu?”

“Heh! sejak kapan lo ngelatih badan elo sampe kayak gitu?” tanya Dewo takjub.

“Udah hampir setahun. Kan gue homo, Wo! olahraga homo ya ke tempat fitness… selain shopping.” jelas Putra asal-asalan.

“Udah sana mandi! masa mau kencan sama si Pria idaman bau keringet?” Ujar Putra sambil melempar Dewo dengan sebuah kaus.

Dewo terkesiap dari rasa takjubnya akan perubahan Putra yang baru dia sadari sekarang. Dan tanpa banyak protes, dia langsung menuju kamar mandi. Kejadian itu tak urung membuat Putra tersenyum senang. Setelah berpakaian dan hendak menunggu Dewo yang selesai mandi, tiba-tiba ponselnya berbunyi. Ada pesan teks masuk. Dari bossnya.

“Putra, saya harap tidak mengganggu. Kalau kamu sempat, tolong buka email yang saya kirim. Kasih pandangan buat saya, kirim balik dan saya minta jawaban secepatnya. Tq”

Agak heran dengan pesan teks mendadak yang dikirim selarut itu, Putra kemudian membuka notebooknya. Syukurlah, Putra yang kelupaan membawa modem mendapati bahwa jaringan internet nirkabel di hotel ini cukup baik. Beberapa saat kemudian, Putra mengikuti perintah atasannya. Ketika selesai membaca email yang ditujukan padanya, Putra hanya bisa menunduk pasrah.

****

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s