MENATAP BINTANG di LANGIT LUWUK – Bagian 3

Posted: December 1, 2013 in Menatap Bintang di Langit Luwuk

MBDLL - 3SUDAH setengah jam lebih Dewo menunggu Putra di Bandara. Dia memain-mainkan kopernya di pelataran terminal 1-B Bandara Soekarno-Hatta. Sesekali dia memanjangkan lehernya menatap ke jalan berharap taxi yang ditumpangi Putra muncul. Udara sore itu cukup panas. Sebenarnya Dewo sudah sangat ingin buru-buru check in dan menunggu di ruang tunggu yang berpendingin udara. Namun Putra sudah mengkonfirmasikan bahwa ada kemungkinan dia akan terlambat dari jadwal yang sudah disepakati karena mendadak terjebak macet.

“Adik mau ke mana? Makassar juga seperti saya?” tanya seorang ibu gemuk berkerudung dengan ramah.

“Eh? oh.. saya mau ke Palu bu..” jawab Dewo. Dewo melihat di depan si Ibu itu ada dua buah troli dengan beberapa tas kopor dan kardus-kardus besar.

“Palu ya? saudara ibu juga banyak di sana.”

“Banyak banget bawaannya bu? oleh-oleh?” tanya Dewo penasaran.

“Bukan dik.. Ibu mau jualan di sana. Isinya baju-baju.” jawab si Ibu.

Dewo mengangguk-ngangguk paham. Mendadak perutnya minta diisi makanan. Kemudian dia berpamitan pada si Ibu berkerudung untuk mencari makanan diantara gera-gerai cepat saji di pelataran bandara. Dia memilih untuk membeli roti yang dijual satuan. Dengan sabar dia menunggu seorang Pria kaukasia menyelesaikan transaksinya dengan si penjual roti.

“Terima kasih…” ucapnya sambil tersenyum dengan logat ‘bule’ nya yang kentara kepada si gadis kasir penjual roti. Saat dia berbalik dia mengangguk sambil tersenyum pada Dewo dan berlalu.

Kerika menerima pesanannya, dua roti bun dan segelas kopi, dirasakan oleh Dewo ponselnya bergetar. Buru-buru dia meletakkan bawaannya dan membuka pesan teks yang masuk. Dari James.

“Hallow say.. masih udah brangkat? =)”

Dewo membalas. “Belum. Lagi nunggu teman. Eh, beneran gak apa-apa nih gue ajak temen?”

“gak papa say. kita bisa senang-senang kalo rame. bisa threesome kan? hahaha =))”

“hahaha. dasar!”

Dewo tersenyum membaca candaan James di pesan teks. Teringat kembali olehnya perkenalan dengan James. Diam-diam Dewo memiliki akun friendster khusus untuk berkenalan dengan sesama Gay yang dia temui di dunia maya. Tak ada yang tahu. Bahkan dia tidak memberitahukan akun tidak resminya itu pada Putra. Bukankah akan lebih mudah bila kita memiliki akun di jejaring sosial khusus laki-laki penyuka laki-laki juga? bisa kita taruh foto bahkan yang paling pribadi sekalipun. Oh! tapi Dewo tidak senekat itu membiarkan foto telanjang tubuhnya diumbar di situs jejaring sosial tersebut. Hanya wajah saja dan itu pun tak terlalu banyak. Dewo khawatir foto-fotonya akan disalahgunakan oleh orang lain untuk membuat profil palsu. Ketika dia melihat siapa yang melihat profilnya, terpampanglah akun milik James. Saling tertarik dengan profil masing-masing, mereka kemudian bertukar pesan, berkenalan, chatting, dan berlanjut dengan saling bertukar nomor ponsel. Dari situ Dewo tahu kalau James adalah anak tunggal dari seorang pengusaha keturunan Tionghoa di Makassar. Kenekatannya untuk tidak ikut dengan keluarganya dikarenakan seluruh keluarganya tidak menyetujui pilihannya untuk terbuka sebagai Gay. Membuka usaha dan memiliki beberapa gerai penjualan ponsel dan elektronik menjadi pilihannya untuk menyambung hidup.

James yang tampan, bertutur kata sopan, dengan senyumannya yang maut mampu meluluhkan hati Dewo. Dewo sadar betul, dengan profil berani yang dimilik James (dia memamerkan foto-foto telanjangnya), Dewo berprasangka bahwa James berprofesi pula sebagai pria bayaran. Pengakuan ini muncul dari ucapannya sendiri bahwa dia pernah dipakai oleh artis pria yang sudah beristri mantan atlit softball yang selama bertahun-tahun dikontrak oleh sebuah merek minuman energi, dan James pernah bercerita bahwa pengguna “jasa” nya yang lain adalah salah seorang anggota grup vokal parodi asal Bandung yang juga telah beristri. Dewo tidak pernah mencari tahu apakah pengakuan James itu benar ataukah hanya sekedar omong kosong belaka. Tapi yang pasti, dari James pulalah Dewo tahu pekerjaan sampingannya adalah sebagai stripper. Tetapi James tidak pernah mau menjalankan profesi bayarannya di Makassar, dia bilang dia hanya melakukannya untuk have fun. Kalaupun ada yang membayarnya, dia bilang anggap saja sebagai bonus untuk mentraktir karyawannya. Itulah sebabnya James hanya mau melakukan show di Jakarta atau Bali sesuai permintaan.

“Dibayar? biasanya kalau ada yang gue suka, gue gak pernah minta bayaran. Dan gue jadi stripper cuma untuk menyalurkan jiwa seni gue aja.” ucap James suatu ketika.

Ketika tiba waktunya James berkunjung ke Jakarta, Dewo tidak menyia-nyiakan kesempatan itu untuk bertemu dengannya. James pun tidak menolak saat Dewo berkata ingin menemuinya. James malah mengundang Dewo sebagai tamu khusus saat sebuah perkumpulan eksekutif muda memintanya menghibur salah satu anggota mereka yang berulangtahun di sebuah apartemen. Dengan mengenalkan Dewo sebagai asistennya, James leluasa mengajak Dewo ikut masuk dan menonton pertunjukan tari telanjangnya. Pertunjukkan yang membuat nafas Dewo tak beraturan. James yang bertubuh sempurna, menyuguhkan pemandangan yang membuat nafsu pria-pria penyuka sesama jenis bergejolak. Setelah pertunjukan usai, James menolak beberapa orang yang ingin berlanjut berkenalan dengannya ke atas ranjang dan memilih untuk berjalan-jalan bersama Dewo dan Kawasaki hitamnya berkeliling kota Jakarta. Tak butuh waktu lama buat James dan Dewo terlibat percakapan asyik saat mereka makan malam. Dan tak perlu ada ucapan lisan pula bahwa mereka sangat menginginkan untuk saling merasakan tubuh satu sama lain setelah sekian lama keinginan itu terpendam. Malam yang sangat indah bagi Dewo. Karena dia melakukannya dengan hati! itulah kesalahan terbesar Dewo. Memakai hati saat bercinta dengan orang yang hanya singgah sementara di kota dan hatinya. Dewo sendri tidak pernah berani menanyakan pada James apakah pertemuan pertama mereka itu berarti sesuatu ataukah tidak. Hubungan mereka berlanjut seperti semula saat James kembali ke Makassar. Dan kesempatan untuk Dewo menanyakan kemungkinan ke arah yang lebih serius itu tiba saat James mengajaknya berlibur.
****

Putra mengamati voucher taxi yang sedang dipegangnya. Sungguh beruntung! sang atasan bukan saja memberikan persetujuan permohonan cuti Putra saja, tetapi dia juga mengatakan sesuatu di luar dugaan.

“Selamat berlibur. Kalau kamu kembali, saya akan mempertimbangkan untuk menaikkan gajimu diluar kenaikan reguler sebesar sepuluh persen. Tapi ingat! hanya kalau kamu kembali bekerja di sini.” kata sang atasan.

Rupanya kekhawatiran atasannya akan kehilangan karyawan sebaik Putra membuatnya berupaya dengan berbagai cara memastikan kepulangannya ke perusahaan. Termasuk memberikan beberapa voucher taxi untuk digunakannya. Lumayan! bisa menghemat pengeluaran beberapa ratus ribu.

“Terminal berapa pak?” tanya supir taxi membuyarkan lamunan Putra.
“Satu B pak!” jawab Putra.

Putra turun dari Taxi. Tubuhnya menggigil mencoba menyesuaikan diri dengan udara luar yang panas. Sangat kontras dengan Taxi yang berpendingin udara. Setelah menyerahkan voucher Taxinya yang tertera seluruh jumlah pengeluaran termasuk ongkos tol, Putra menyeret tangkai kopornya menuju pelataran terminal bandara mencari-cari sosok Dewo.

Kemudian Putra mengeluarkan ponselnya dan mencoba menghubungi nomor Dewo. Tak mengamati jalan karena konsentrasinya terpecah saat mencari-cari nomor Dewo, Putra menabrak seorang pria kaukasia yang baru saja mengambil kopi dari mesin penjual otomatis di dekat toilet hingga isi gelas yang dipegangnya tumpah dan bungkusan berisi roti bun yang dibawanya juga ikut terjatuh.

“Ya ampun! A.. I’m sorry…” ujar Putra penuh penyesalan. Dia berusaha membantu dengan mengambil bungkusan roti harum yang terjatuh tetapi karena pembungkusnya tak sempurna, roti itu menjadi kotor karena terkena debu di lantai.

“It’s Okay… tak mengapa…!” ujarnya berusaha menenangkan Putra yang tampak khawatir.

“Lemme buy you another okay?. Please. I insist..” ucap Putra ketika melihat semua makanan yang dipegang si pria kaukasia itu tampak tak lagi bisa dimakan.

“Hey.. tidak perlu.. Tidak apa-apa…” ujar si Pria jangkung itu mencoba mencegah Putra.

Tapi putra tidak bisa dicegah. Dia kemudian mencari-cari selembar uang limaribuan dan memasukkannya ke mesin penjual kopi otomatis. saat hendak menekan tombolnya, dia menoleh dan bertanya pada si Pria kaukasia.

“Black coffee? or with cream?” tanya Putra sedikit memaksa.

“With cream please.” si Bule akhirnya menyerah. Begitu pula saat Putra buru-buru membelikan roti yang sama dan menyerahkan pada si pria bule itu.

“Thanks… anda sebenarnya tak perlu repot-repot…” kata si Bule itu berterima kasih.

“No. It was my fault…” kata Putra.

“Oke. Nice to see you. Terima kasih untuk makanannya”. Lalu si Pria bule tampan yang memakai kaus polo biru gelap dan celana khaki serta sepatu kets putih itu berlalu sambil mengangkat makanannya dan tersenyum pada Putra.

Putra mengangguk dan bernafas lega. Alamak! baru saja datang sudah dapat kecelakaan. Keluhnya dalam hati. Kemudian dia kembali mencari ponselnya untuk menghubungi Dewo. Tapi terlambat. Dewo sudah lebih dulu meneleponnya.

“Dimana lo Put?”

“Udah di bandara. Deket mesin jual kopi. Elu di mana Wo?”

“Deket ATM. elu kesini dong! kita harus cepet-cepet check in!” paksa Dewo.

Kemudian Putra kembali menyeret kopernya dan mencari-cari Dewo yang berkata sedang menunggunya di dekat ATM. Dan itu dia! berdiri di sana. Di mata Putra, Dewo adalah pria yang paling tampan di dunia. Padahal dia hanya memakai kaus putih berjaket kulit dan bercelana jeans, tapi bagi Putra penampilan Dewo seperti itu sudah membuatnya tampak rupawan. Dengan bersemangat Putra mendekati Dewo.

“Heyy… akhirnya… udah lama gak ketemu. Pakabar?” Ujar Dewo sambil menaruh ranselnya di atas bangku panjang dan berdiri menyambut Putra untuk memeluknya.

“Baik Wo. Lu kelihatan makin hebat sekarang.” Kata Putra tulus sambil balas memeluk Dewo dan mengusap-usap punggungnya.

“Kok cuma peluk sih? kan udah lama gak ketemu. Cium dong?” Canda Dewo sambil memonyongkan bibirnya.

Dengan reflek Putra mendorong wajah Dewo dengan telapak tangannya. “Heh! lo mabok ya?” protesnya. Seorang ibu menatap kejadian itu heran sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Dewo terbahak-bahak.

“Eh, Put? lo sekarang gak pake kacamata? weits.. tambah ganteng nih temen gue yang satu!” Dewo mengamati Putra sambil mengelilingi tubuhnya dan memandang dari atas ke bawah dengan teliti.
“Baru sadar lo?” tanya Putra.

“Udah dari dulu sih, tapi gapapa kan kalo gue bilang sekarang? hehehe” ujar Dewo sambil mengacak-ngacak rambut Putra yang kini berpotongan spike.

“Katanya mau buru-buru check in?” kata Putra mengingatkan Dewo.

“Hah? check-in? ke hotel?” tanya Dewo bingung.

“Dasar otak mesum!! check-in pesawat lah! heran, bego ga ilang-ilang!”

“Hahaha.. becanda Put! yuk ah! tadi gue sempet liat petugas check in nya lumayan ganteng.” Ujar Dewo sambil menarik tangan Putra.

“Hahaha.. ya ampun Wo! mata lo enggak pernah berhenti jelalatan ya dari dulu?!” kata Putra sambil terkekeh mengikuti langkah Dewo.

Mereka berdua tak perlu menunggu lama di ruang tunggu karena pengumuman petugas menyuruh penumpang segera naik ke pesawat. Entah karena mereka berdua tak meminta secara khusus tempat duduk atau dianggap sebagai dua anak muda yang sehat, Putra dan Dewo ditempatkan pada bangku dekat dengan pintu darurat. Mereka tidak keberatan, tetapi rupanya seorang Ibu yang duduk dekat jendela terlihat cukup khawatir.

“Pertama kali naik pesawat bu?” tanya Putra khawatir melihat kecemasan di wajah si Ibu. Dia duduk di tengah sementara Dewo di pinggir sedang asyik membaca majalah. Si Ibu hanya mengangguk. Beberapa menit kemudian seorang pramugari menghampiri mereka bertiga.

“Permisi ibu, bapak-bapak, saya ingin menerangkan sejenak tentang tata cara membuka pintu pesawat apabila dalam keadaan darurat karena anda bertiga duduk dekat dengan pintu darurat. Tata caranya silakan anda baca pada kartu petunjuk ini, kecuali kalau anda keberatan duduk di sini?” jelas si Pramugari ramah.

“Sa…saya keberatan! saya minta pindah!” ujar si Ibu di dekat jendela ketakutan. Rupanya si Ibu ketakutan mendengar kata-kata “pesawat dalam keadaan darurat” padahal dia baru saja pertama kali naik pesawat. Si Pramugari terlihat sedikit kesal. Mungkin dia kesal karena petugas check-in sepertinya tidak memiliki pilihan lain untuk menempatkan orang lain di sisi jendela dekat pintu darurat. Si Pramugari berusaha mencari-cari siapa kira-kira yang bisa menggantikan ibu tersebut dan rela bertukar tempat dengannya.

“I’ll do it!” sahut sebuah suara.

Dewo dan Putra sama-sama menoleh ke asal suara yang berasal dari deretan bangku tepat di belakang mereka. Ternyata suara itu berasal dari seorang pria kaukasia tampan berusia dua puluhan berkaus polo biru gelap yang dengan sigap langsung berdiri meminta jalan. Pramugari itu tersenyum lega dan buru-buru si Ibu yang ketakutan tadi melepas sabuk pengamannya dan pindah ke deretan belakang.

“Thank u sir.” ujar si Pramugari tersenyum pada si bule yang sudah duduk di sebelah Putra. Si bule mengangguk sambil tersenyum manis. Saat dia menoleh ke arah Putra, matanya langsung berbinar karena merasa kenal.

“Hey.. you’re that coffee guy!” ujarnya memastikan.

“Yes I am…” kata Putra sambil mengulurkan tangannya kepada si Bule.

“Putra… Putra Wicaksana.” kata Putra mengenalkan diri.

“Nama saya Nemanja… Nemanja Jovanovich. I’m from Serbia..” ujarnya ramah menyambut uluran tangan Putra.

“So… kamu ke Palu juga?” tanya Nemanja dengan bahasa Indonesia berlogat bule.

“Iya. Saya dengan kawan saya mau liburan ke Palu.” Kata Putra sambil menunjuk Dewo. Dewo melambaikan tangannya sambil tersenyum pada Nemanja.

“Hi! Dewabrata.. but you can call me Dewo..” ujar Dewo sambil menjabat tangan Nemanja.

“Ada rencana apa ke Palu? jalan-jalan?” tanya Putra penasaran.

“Memangnya saya terlihat seperti tourist kah? hahaha.” tanya Nemanja. “Bukan.. saya sedang survey lokasi untuk usaha pertokoan dan shopping center…” lanjutnya.

“Bahasa Indonesia anda bagus juga… sudah lama di Indonesia?” tanya Putra.

“Uh-huh. Sudah lima tahun.” Jawab Nemanja sambil mengangguk semangat.

“Wow!” ujar Putra kagum.

“Hey, look.. karena kita sama-sama di Palu, can I call you sometime? here’s kartu nama saya…” kata Nemanja sambil merogoh ranselnya dan mengeluarkan kartu nama.

“Oh.. of course. Here’s my cellphone number.”

Putra kemudian mengambil bolpoin untuk menulis nomor ponselnya karena ponselnya sudah dia matikan dan di taruh di dalam tas yang ia masukkan ke dalam tempat penyimpanan barang kabin, dan menyerahkannya pada Nemanja.

“Thanks…” ujar Nemanja.

Kemudian Dewo mencolek lengan Putra.

“Apa?” tanya Putra sambil berbisik.

“Dia kok gak nanya nomor hape gue?” protes Dewo sambil ikut berbisik.

“Hehehe.. dia lebih tertarik sama gue kali?” ujar Putra sambil menyeringai.

“Masa sih?” tanya Dewo penasaran mencoba melihat Nemanja yang asyik melihat ke luar pesawat lewat jendela. Tapi sepertinya dia tidak tertarik untuk berbicara lebih jauh pada Dewo.

Menarik nafas panjang, Putra kemudian menyandarkan tubuhnya dengan santai ke kursi pesawat. Pikirannya menerawang dan membuat dia tersenyum sendiri.

“Ah… mungkin perjalanan ke Sulawesi ini tidak akan terlalu buruk.” ujarnya dalam hati.

****

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s