Archive for December, 2013

1458601_470306706420173_2124493907_nPADAHAL hanya sepuluh menit lamanya perjalanan antara tempat kami berteduh dari hujan tadi ke rumah Bhayu. Tetapi, rasa kegembiraan karena perhatian Bhayu dan diperbolehkannya aku menyelipkan tangan ke dalam jaketnya agar lebih hangat, membuat perjalanan di atas motor itu terasa sangat lama.

“Ayo cepet masuk!” perintah Bhayu sesaat setelah dia menghentikan motornya di depan teras rumah.

Aku buru-buru mencabut tanganku dari dalam saku jaketnya dan turun dari motor. Telapak tanganku tak lagi terasa terlalu kedinginan.

“Langsung ke kamar gue aja di atas!” ajak Bhayu lagi.

Aku mengangguk dan mengikuti Bhayu yang berjalan di depanku.

“Siapa, Bhay? teman kamu? kok basah kuyup begitu?” tanya seorang wanita jangkung cantik sambil menghampiri kami di ruang tamu. (more…)

Advertisements

483466_304249626359216_161554516_nCerita sebelumnya: Harrel menyelamatkan Bhayu, si bintang basket tampan di sekolahnya itu, dengan mengamankan kartu memori ponselnya yang berisi materi pornografi. Untuk membalas budi, Bhayu melatih Harrel bermain basket dan juga merelakan dirinya dioral oleh Harrel. Hubungan mereka berlanjut saat Bhayu meminta Harrel mengajarinya Fisika di rumahnya.

***

KALAU ada nomor yang tidak aku kenal menelepon ponselku, biasanya akan kuabaikan. Sangat kuabaikan. Karena pikirku itu pasti pekerjaan orang iseng. Jika memang pemilik nomor adalah orang yang aku kenal, pastilah dia akan sedikit bersopan santun menyapa dulu lewat sms, atau mungkin lewat whatsapp. Makanya, ketika Minggu pagi itu ada nomor tak kukenal menelepon, kuabaikan hingga berhenti berdering. Tetapi, saat orang itu menelepon lagi, mau tak mau aku harus mengangkatnya. Takutnya ada hal penting.

“Halo?” sapaku.

“KENAPA LAMA BANGET SIH JAWABNYA?!” Bentak seseorang di seberang sana. Aku bahkan harus menjauhkan ponselku dari telinga.

“Si-siapa ini? elo, Bhay?” tanyaku memastikan. Suara yang kudengar dan bentakannya memang terdengar mirip Bhayu. Aku yang sedang bersantai sambil bermain game di tablet androidku sampai terlonjak dari ranjang. (more…)

1_0002587146_11001Cerita Sebelumnya: Herlan yang sudah lama menahan hasratnya untuk bercinta sesama pria sejak menikah, bertemu seorang artis bernama Kiki Farrel yang dikenalnya lewat video mesum gay. Herlan yang terkurung dalam toilet mall bersama Kiki akhirnya bercinta dengannya. Sementara itu, anak gadisnya yang bernama Imel datang telat diantar oleh pacarnya yang bernama Bhayu. Melihat ketampanan Bhayu, iman Herlan kembali tergoda.

SETELAH kejadian Minggu dini hari itu, saat Imel, anak gadis Herlan terlambat pulang dari jam yang ditentukan, Imel dihukum selama seminggu tidak boleh keluar dari rumah setelah pulang sekolah. Tampaknya Imel tidak keberatan dan protes. Buktinya, setahu Herlan anaknya itu asyik berkomunikasi dengan teman-temannya menggunakan internet. Herlan tak melarang asalkan Imel tidak keluar rumah.

Tapi malam itu, Herlan merasa curiga. Kamar Imel dirasanya terlalu hening. Apakah dia tidur? Mungkin. Tapi entah mengapa perasaan seorang ayah tak bisa dibohongi. Herlan pun mendatangi kamar Imel dan mengetuknya.

“Mel..? Imel…? kamu udah tidur, nak?” sahut Herlan sambil mengetuk-ngetuk kamar anaknya.

Tak ada jawaban. (more…)

431895_388686687915509_951678107_nSABTU jam setengah empat aku sudah berada di dekat lapangan basket. Mungkin karena terlalu bersemangat juga dengan kesanggupan Bhayu yang akan melatihku permainan Basket. Bhayu dan anggota tim basket lain masih berlatih di lapangan. Sesekali aku mendengar teriakan mereka bersahut-sahutan. Sengaja aku duduk agak terlindung dari lapangan agar tak menarik perhatian siswa lain yang asik menonton tapi tetap aku bisa menonton dengan leluasa Bhayu yang penuh semangat berlari, mengoper bola, dan menembak. Beberapa siswi berdiri di pinggir lapangan menjerit-jerit memberi semangat, padahal yang bertanding sama-sama satu tim.

Aku menggelengkan kepala dan menarik sebuah buku dari tas dan mulai membaca. Biasanya aku memang diam-diam menjadi pengamat yang sangat serius ketika Bhayu bermain basket. Si jangkung itu tampak semakin memesona saat di lapangan. Belum lagi, seragam basket tim sekolah yang tanpa lengan dengan leluasa mengekspos lekukan otot bisep dan trisep Bhayu yang mengilap karena keringat. Tapi itu dulu. Sejak aku berhasil melihat bagian privat Bhayu dan mengerjainya, semua itu tadi tak berarti lagi. Dengan sabar aku menunggu latihan selesai. Kuperbaiki letak earphoneku dan terus membaca buku di bawah pohon tua rindang agak jauh dari lapangan. (more…)

damniloveindonesia003JAM sudah menunjukkan pukul setengah sepuluh malam tetapi acara panggung di mall itu belum juga selesai. Acara menyanyi, tarian, serta jumpa fans yang berlangsung dari sore seakan tidak selesai-selesai hingga Herlan, seorang pria berumur 41 tahun, merasa lelah dan bosan menunggu anak gadisnya yang masih remaja menonton di tengah-tengah kerumunan. Padahal Herlan sudah capek berdiri di pinggiran menghindari keramaian, tapi dari tadi dia melihat Imel, anaknya itu seolah tak kehabisan energi: melompat, ikut menyanyi, ikut berteriak setiap kali artis idolanya muncul. Untunglah Herlan membawa ponsel pintarnya, jadi dia tak terlalu memedulikan siapa saja yang tampil dan sibuk membaca berita online.

“Paaah!!” panggil sebuah suara perempuan. Imel bersama dua gadis remaja seusianya datang menghampiri Herlan.

“Udah selesai? pulang sekarang?” tanya Herlan tak sabar.

“Pah, aku ikut sama Siska ya? ada surprise party buat temenku yang ulang tahun, sebentaaaaar aja.. nanti Siska antar aku pulang.” kata Imel manja meminta izin ayahnya.

Salah satu gadis yang bersama Imel tampak takut-takut tapi tersenyum ikut membujuk Herlan. Sepertinya anak ini yang bernama Siska.

“Mau sampai jam berapa?” tanya Herlan gusar.

“Acaranya jam 12 malam paah… di rumah Siska. Boleh ya pah? boleh ya? abis tiup lilin kita langsung pulang kok,” bujuk Imel. (more…)

KARTU MEMORI (Cerpen)

Posted: December 12, 2013 in Kartu Memory - The Series I

luk conde (2)KETIKA aku melihat Bhayu, teman sekelasku di kelas 12 datang dari arah berlawanan, diikuti oleh dua ‘dayangnya’: Hanif dan Diaz, aku sudah bersiap minggir karena dia pasti akan cari perkara denganku. Benar saja, walau sudah nyaris menempel di dinding lorong sekolah, Bhayu tetap sengaja menyerempet bahuku hingga aku terdorong dan membentur dinding.

“Bencong!” desisnya.

Hanif dan Diaz tertawa mengikik dengan senyum licik mendukung rajanya menghinaku.

Sebenarnya aku bukan anak yang sering dibully. Aku memang tak jago olahraga. Tapi wajahku cukup manis (menurut teman-teman) dan termasuk siswa cerdas di kelas. Beberapa teman menyarankanku melaporkan tindakan bullying yang dilakukan Bhayu pada guru-guru, tapi aku enggan melakukannya karena.. ehm.. ada kesalahanku juga di situ sebenarnya. (more…)

1479417_475010889283088_301489638_nAKU masih menunggu Mas Bima menjelaskan soal kabar kurang bagus yang hendak dia ceritakan.

“Kabar apaan sih, Mas?” tanyaku lagi.

“Mas mau… ehm, Mas ada rencana ditugasin untuk pendidikan selama setahun di kota lain…” ujar Mas Bima pelan.

“Apa? bukannya Mas Bima baru ditugasin di sini ya?”

“Secara teknis, Mas masih ditugasin di sini. Tapi Mas ditunjuk untuk ikut pendidikan, otomatis Mas enggak tugas di sini sementara, tapi tinggal di mess selama pendidikan.”

“Jadi, Mas mau pergi gitu?” tanyaku hampir menangis.

“Iya, Fin…” jawab Mas Bima lemah. (more…)