MENATAP BINTANG di LANGIT LUWUK – Bagian 2

Posted: November 15, 2013 in Menatap Bintang di Langit Luwuk

MBDLL - 2SEBENARNYA tak ada niat pula dari Putra untuk menjauhi Dewo. Dia berharap tetap intens berkomunikasi dengan sahabatnya. Tapi mungkin secara psikis, Putra sepertinya mulai menutup diri dari Dewo. Awalnya mereka masih sering makan bareng, janjian nonton film di bioskop bersama, ataupun saling menelepon. Lama-lama Putra sering beralasan banyak acara, atau Dewo yang mendadak membatalkan janji mereka karena harus bertemu dengan seseorang. Ingin rasanya Putra kembali bertugas sebagai penyelamat kencan-malapetaka Dewo sekaligus berharap semua kencan Dewo adalah kencan malapetaka. Tapi Dewo tak pernah lagi meminta bantuannya. Diam-diam Putra sedih karena mungkin saja Dewo mendapatkan jodohnya dan dimiliki oleh orang lain. Putra pun mulai berkencan. Dia mulai mengenal beberapa pria dan berusaha untuk berkencan dengan mereka. Tak hanya itu. Putra kini mulai memperhatikan penampilan. Selain dituntut oleh bosnya untuk selalu berpenampilan terbaik karena pekerjaannya berhubungan dengan banyak klien, Putra juga berharap bisa membuatnya mengalihkan pikirannya dari Dewo. Itu sebabnya dia kini tercatat sebagai member sebuah pusat kebugaran. Rutin melatih tubuhnya walau dia masih ingat kata-kata Dewo bahwa Gym hanya untuk homo. Memang tidak salah kan? aku memang homo! ujar Putra. Akhirnya, tiga bulan ternyata cukup untuk membuat mereka berjauhan.

Tiga bulan adalah waktu yang bisa dipakai Putra untuk menikmati apartemen baru miliknya. Bosnya menugaskan dia untuk pindah ke kantor cabang selama setahun karena melihat prestasi kerja Putra yang sangat baik. Di sana dia ditempatkan dengan harapan bisa mengembangkan perusahaan dengan iming-iming kenaikan jabatan sekembalinya ke kota. Praktis komunikasi antara Putra dan Dewo menjadi terbatas. Hanya dengan situs jejaring sosial, telepon ataupun messenger. Itu tak menjamin keduanya rutin berkomunikasi. Jarak telah melunturkan intensnya persahabatan mereka. Di kota baru Putra mulai berkencan dan bertemu dengan beberapa pria. Tetapi kebanyakan dari mereka memang tak ada yang serius. Kebanyakan hanya berharap bisa melakukan hubungan seks dengan Putra. Suatu hal yang sangat Putra hindari. Ya! diam-diam Putra masih berharap bahwa saat dia melakukannya pertama kali, dia akan melakukannya dengan Dewo. Penuh hasrat dan cinta! pikirnya. Dan dia pasti akan menjadi pria yang paling bahagia di muka bumi. Pernah dia berhubungan cukup serius dengan seorang pria yang usianya sepuluh tahun lebih tua. Dewasa, mapan, tampan, dan baik hati. Tapi sepertinya dia frustasi ketika Putra tak kunjung juga memberinya kesempatan untuk bercinta dengannya. Hubungan itu akhirnya kandas setelah sang pria memutuskan untuk pergi dari kehidupan Putra.

Sempat terpikir oleh Putra untuk tidak hidup selibat tanpa seks. Buat apa dia melakukan itu? seks itu enak, enak, dan enak! buat apa dia menahan diri untuk tidak melakukannya demi menyimpannya untuk Dewo  dan berharap suatu saat Dewo lah yang menjadi orang pertama baginya? tapi Putra tetap tidak punya keberanian. Dia lebih suka diperbudak dan berharap demi cinta. Dia bisa sangat penasaran dengan Dewo. Apakah dia sedang dekat dengan seseorang? itulah sebabnya dia kadang menjadi penguntit Dewo di situs jejaring sosial Facebook. Istilahnya stalker! tapi Putra juga frustasi. Dia tahu, Dewo tak akan mengumbar sisi gay-nya di situs jejaring sosial itu karena akun pribadi miliknya adalah resmi. Ada keluarga dan teman kantornya di situ, dan dia belum berniat mempublikasikan kondisinya kepada orang lain.

Di messenger pun tidak membantu. Kadang bisa sampai bermenit-menit Putra menghabiskan waktu menatap avatar Yahoo Messenger milik Dewo yang kuning pertanda dia sedang online. Tapi dia enggan untuk menyapa. Putra hanya berharap bisa mendapatkan sesuatu informasi dari status-status yang dia pasang. Tapi kebanyakan tidak berarti apa-apa dan hanya iseng belaka. Sampai suatu hari, Dewo kembali menghubunginya. Meminta bantuan pada Putra.

Dewo_tampan : “lo harus bantuin gue! temenin gue!”

Putra_thea : “Ih.. apaan sih ni orang? udah lama gak nyapa, say hello dulu kek? nanya kabar kek?”

Dewo_tampan : “gak ada waktuuuuuuuuu… pentiiiiiiiiiiiingg!!”

Putra_thea : “soal apa?”

Dewo_tampan : “there was this guy…”

Putra_thea : “cowok mana lagi?”

Dewo_tampan : “hadooooh… denger dulu kek???”

Dewo_tampan : “gue kenal dia di friendster. anak makassar. cakep! hot! dia Chinese makassar!” ntar gw kasih link fs dia deh!”

Putra_thea : “gue kok gak tau kalo lo punya friendster?”

Dewo_tampan : “Hadooooooh.. bukan itu inti permasalahannya. gini-gini..gue kontak-kontakkan ama dia dan udah saling tuker nomor hape. trus  gue udah ketemu dia waktu dia ke Jakarta sebulan lalu. gue udah nonton show nya dia..”

Putra_thea : “show?” :-/

Dewo_tampan : “iya! kan gw tadi dah bilang kalo dia stripper..”

Putra_thea : “hah? kapan ya lo bilang soal stripper?”

Dewo_tampan : “iiih… pokoknya gini, dia ngundang gw nonton shownya dan kita ngobrol-ngobrol. Anaknya asik! dan yeah.. sempet ML satu kali juga sih.. :”> tapi dia terus balik ke makassar..

Putra mendengus kesal.

Putra_thea : “trus?”

Dewo_tampan : “gue gak bisa ngelupain diaaaaaaaaaaaaa.. :(( gue suka sama diaa… :(( gue pengen dia jadi pacar gue….. :(( T__T”

Putra_thea : “then ask him!”

Dewo_tampan : “gak berani.. :”> gak pede..:”>”

Putra_thea : “-_______-; trus mau lo sekarang apaaaaaaaaaaa???”

Dewo_tampan : “dia ngajakin gw pergi ke sulawesi! dia bilang dia pengen liburan ke Palu dan minta gue nemenin diaaaaaaaaaaaaa.. huwaaaaaaaaaaaaaaa…… gimana gue gak ge-eeeeeeeeeeeeerrr???”

Putra_thea : “yaudaaaaaaaaaaaaaaaaahhh pergi ajaaaaaaaaaaaaaa….”

Dewo_tampan : “gak mau sendiri.. :p pengennya ada yang nemenin.. :p”

Putra_thea : “ih manja! minta digaplok!”

Dewo_tampan : “biarin! yang penting tampan :p gimana? mau yah? yah? yah? semingguuuuuuuuu ajah?”

Putra_thea : “ogah! berarti musti ngambil cuti dong?”

Dewo_tampan : “Putra ja-at! :(( :(( :((”

Putra_thea : “-____-;”

Dewo_tampan : “:(( :(( :((”

Dewo_tampan : “:(( :(( :((”

Dewo_tampan : “:(( :(( :(( :(( :(( :(( :((”

BUZZ!!

BUZZ!!

Putra_thea : “heh! pengen gue panggang yah?”

Dewo_tampan : “:'( temenin gue Put…. please..?”

Putra_thea : “yaudah! gue usahain! tapi gak janji yah!”

Dewo_tampan : “T_T makasih put… lo emang sahabat gw paling baik…..”

Putra_thea : “au ah!”

SAMBIL sesekali memperhatikan sekitarnya, Putra diam-diam membuka jendela browser untuk melihat akun friendster. Dia kadang mengutuk ruangan kerjanya yang seperti akuarium. Ruang kerja Putra terdapat dua buah pemisah berupa kaca besar tanpa tirai. Tata letak mejanya diatur sedemikian rupa hingga punggungnya membelakangi dinding kaca bersebelahan langsung dengan lorong tempat para pegawai berlalu-lalang. Dia sudah berusaha memindahkan mejanya agar layar laptopnya tak terekspos begitu kentara. Bukan karena Putra suka melihat situs yang ‘aneh-aneh’ karena dia bisa melakukannya di rumah, tetapi kadangkala dia tidak suka apa yang dia kerjakan terlihat oleh orang lain. Tapi begitu usulan itu dia kemukakan, beberapa orang langsung meledeknya. “Kenapa sih pak Putra…? gak enak yah kalo liat situs porno?” begitu sindir rekan-rekan kerjanya. Oh! seandainya dia bisa bekerja di salah satu kubikal yang ada di ruangan sebelah!

Dewo_tampan: “lo liat sekarang jugaaa!!”

Putra_thea: “entar aja napa! lagi di kantor nih!”

Dewo_tampan: “gak bisa! lo liat sekarang n kasih pendapat! nih gw kasih linknya!”

Putra sudah memprotes Dewo yang memaksanya melihat profil cowok idamannya itu di friendster. Tapi Dewo sedang tidak mau dibantah. Kemudian Putra membuka tautan yang dikirimkan oleh Dewo dan melihat profil dan foto-foto cowok chinese-makassar itu. Namanya di friendster adalah James Chow. Tampan, berkulit putih mulus dengan rahang kuat. Sepertinya akun miliknya itu didedikasikan untuk para gay yang dia ajak bersahabat. Dan dia juga cukup murah hati membiarkan tubuhnya yang atletis berotot bagus itu untuk dinikmati dan dikomentari orang lain. Terutama cowok-cowok!

Dewo_tampan: “gimana? gimana? cakep kan? :”>”

Putra_thea: “iya. lumayan lah…”

Dewo_tampan: “segitu badannya belum ‘jadi’ kek sekarang..! pas ketemu gue.. uuuh… gak nahan… :”>”

Putra_thea: “zzzz.. -____-!”

Dewo_tampan: “udah ngomong sama bos lo belom?”

Putra_thea: “blom”

Dewo_tampan: “Heh! cepeeeeeeeeeeeeeeeettt!!! kita berangkat seminggu lagiiiiiii!”

Putra_thea: “haduh! kan gw bilang gak janji!”

Dewo_tampan: “Anjrit! pengen dibakar ini anak! tiketnya udah gue beliiiiiiiiiiii!!”

Putra_thea: “siapa suruh?”

Dewo_tampan: “T___T”

Putra_thea: “ck! iya! iya! ntar siang gue nanya”

Dan itulah janji Putra kepada Dewo tiga hari yang lalu. Kini dia sedang memandangi form permohonan cuti yang telah dia isi hanya tinggal menunggu persetujuan dari atasannya saja. Semoga tidak dikabulkan… desahnya. Situasi ini sangat dilematis bagi Putra. Di satu pihak dia ingin sekali kembali bertemu dengan Dewo. Di sisi lain, dia tak ingin melukai hatinya dengan melihat kemesraan antara Dewo dengan si cowok Makassar itu. Tapi bukan Putra namanya kalau tidak pernah menuruti kemauan temannya. Setelah istirahat makan, Putra mendatangi atasannya yaitu direktur cabang untuk mengutarakan maksudnya. Entah mengapa sang Boss malah merasa khawatir.

“Mengundurkan diri?” tanya si boss was-was.

“Saya tidak bilang seperti itu pak, hanya minta cuti satu minggu…” jelas Putra bingung.

“Kamu akan kembali lagi kan? terus terang, saya tidak mau buat kamu besar kepala, tapi saya benar-benar membutuhkan kamu di sini. Saya tidak mau kamu keluar setidaknya sekarang!”

“Saya tidak berniat keluar pak… saya cuma mau ambil cuti…” Putra semakin bingung.

“Cuti? cuti tujuh hari? itu waktu yang diperlukan untuk wawancara dan ikut serangkaian tes di tempat kerja baru… kamu tahu kan? kalau sebentar lagi tugasmu di kantor cabang ini mungkin segera berakhir dan seperti yang boss besar janjikan, akan ada peluang promosi untuk kamu…”

“Saya jamin bukan seperti itu pak! ada masalah penting.. yah.. sebenarnya tak terlalu penting juga, saya ingin berlibur…”

“Kenapa gak bilang dari tadi??? berlibur ya? oke! oke! saya tahu kamu butuh penyegaran. Dan setelah pencapaian kamu yang luar biasa tahun kemarin, saya rasa kamu layak untuk mendapatkan liburan. Mana? mana form yang harus saya tandatangani?” ujar si Boss bersemangat.

Putra hanya tertegun melihat tingkah laku atasannya. Kemudian dia segera menyerahkan formulir pengajuan cuti yang dia pegang dan tugasnya setelah ini adalah memberitahukan kabar baik ini pada Dewo dan siap-siap untuk berangkat.
*****

Advertisements
Comments
  1. fandy says:

    Bro ini ceritanya keren banget!! Ada dibuku atau emang fresh story ni?

  2. yubdi says:

    wah kereeen lanjutannya d tunggu ya >_<

  3. love the way you write. pengen sharing2 soal nulis deh ama kamu. hehe

  4. bannybaladewa says:

    Aaaaaahhhjhhj gak seruuuuuu
    Cikitttt banget..pengin bakar aja si admin hahahaha
    Awas min kalau lama.lama sambunhanya gak di posging…gue bakar lo.

  5. charlansyah says:

    Setelah series Merantau ada series baru yg keren juga. Wohoooo I love this blog !!!
    Cant wait for the next chapter .. 😀

  6. lima says:

    Ya ampun min, ni update lagi ga ceritanya? Uda 2 minggu ditungguin ni!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s